4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 18, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

Sidang Pembaca yang budiman, coba tanya anak-anak kita hari ini. Mereka lebih kenal siapa, Norman Erikson Pasaribu atau Iben MA? Lebih ngerti isi novel Bumi Manusia atau alur drama Korea Love Scout? Lebih nyaman baca buku 30 halaman atau scroll TikTok tiga jam tanpa jeda?

Kira-kira apa jawabannya? Ya, sudahlah. Mari kita bersama diam sejenak dan menenggelamkan diri dalam renungan eksistensial bahwa kita sedang hidup di zaman di mana membaca dianggap kegiatan aneh. Bahkan kadang, membaca lebih dianggap sebagai hukuman daripada hiburan.

Padahal membaca itu suatu fondasi. Bukan cuma fondasi ilmu, tapi fondasi cara berpikir, cara hidup, bahkan cara kita menghadapi dunia yang makin kompleks ini. Tapi apa mau dikata, minat baca di negeri kita ini sedang dalam sakaratul maut. Dan parahnya, kita pura-pura tidak tahu. Bahkan cenderung tak mau tahu, dan berharap semua akan baik-baik saja. Kita membiarkan generasi muda tumbuh di tengah dunia yang hiperaktif, cepat, ramai, penuh notifikasi, tanpa dibekali keterampilan membaca yang kuat. Itu bukan sekadar kekurangan. Saya pikir itu adalah bom waktu.

Diam-Diam Merawat Budaya Anti-Baca

Para Pembaca yang budiman, mari kita buka data. Indonesia pernah menempati peringkat 60 dari 61 negara soal minat baca, itu menurut World’s Most Literate Nations. Bahkan dalam survei PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022, skor literasi anak-anak kita tetap stabil, di posisi bawah.

Banyak faktor yang bisa dituding, misal; budaya lisan yang dominan, pendidikan yang fokus pada hafalan, akses bacaan yang terbatas, hingga teknologi digital yang lebih menyenangkan daripada halaman-halaman buku. Tapi mari kita jujur saja, kita sendiri sebagai masyarakat, orang tua, guru, pembuat kebijakan, memang gagal membangun ekosistem membaca yang relevan dan menarik.

Faktor lain bisa jadi karena sejak kecil anak-anak kita lebih dididik untuk patuh daripada penasaran. Mereka lebih dibiasakan menghafal definisi daripada merenungi isi. Lebih sering disuruh belajar demi nilai ujian daripada belajar demi mengerti. Belum lagi buku-buku pelajaran kita yang, tebal, penyajian yang kaku, dan sering kali lebih bikin ngantuk daripada bikin paham.

Kita sering menyuruh anak membaca buku tebal yang membosankan, padahal mereka hidup di dunia visual, interaktif, dan serba cepat. Kita menilai buku dari “beratnya”, bukan dari kemampuannya membuat anak penasaran. Kita lupa bahwa kecintaan membaca bukan muncul dari kewajiban, tapi dari rasa ingin tahu yang dibangkitkan secara perlahan.

Celakanya, yang disalahkan adalah anak-anak kita. Dibilang malas, bodoh, tak punya semangat. Padahal sepertinya ini soal rancangan sistem pendidikannya. Sistem yang tak pernah memberi ruang untuk belajar dengan dasar rasa ingin tahu. Sudah jelas kan, siapa yang sejak awal mematikan gairah membaca itu sendiri?

Dunia Melesat, Kita Masih Ngelag

Sementara itu, dunia di luar sana sudah lari jungkir balik. AI menulis puisi, robot bisa mencuci baju, bahkan anak 12 tahun di luar negeri sudah bikin startup. Dunia kini berubah bukan per minggu, tapi bahkan per jam. Dan semua perubahan itu berawal dari satu hal, membaca dan kemampuan memahami informasi.

Tapi anak-anak dan generasi muda kita apa kabar? Kebanyakan dari mereka membuka internet bukan untuk belajar, tapi buat scroll gosip. Mereka bisa tahu semua fakta soal artis Korea, tapi gak mengerti kenapa harga cabai di saat-saat tertentu bisa naik. Mereka tahu semua lirik lagu terbaru, tapi gagal paham isi Pancasila sila ketiga. Kita mencetak generasi yang update soal tren, tapi blank soal makna yang lebih hakiki. Yang cepat baca caption, tapi susah mencerna esai. Yang bisa main HP 10 jam, tapi baca buku 10 menit sudah teriak bosan. Dan kita membiarkan itu terjadi, sambil nyeruput kopi di pagi hari.

Membaca Bukan Sekadar Aktivitas, Tapi Proses Menjadi Manusia

Filsuf-filsuf dunia sudah memberikan peringatan ratusan, bahkan ribuan tahun lalu. Plutarch berkata, “Pendidikan adalah menyalakan api, bukan mengisi bejana.” Kant mengajarkan pentingnya berpikir sendiri, “Sapere aude” atau “Beranilah menggunakan akalmu sendiri!”, dan itu cuma bisa dilakukan kalau otak dilatih untuk mencerna bacaan.

Paulo Freire lebih ekstrem lagi, dia mengatkan bahwa membaca itu senjata pembebasan dari penindasan. Literasi adalah alat pembebasan. Suatu bangsa, seperti bangsa kita ini, yang tak serta merta serius membangun budaya baca, pastinya sedang menyiapkan generasi yang tidak mampu membebaskan dirinya dari kebodohan, manipulasi, atau ketidakadilan.

Jika kita terus menoleransi rendahnya minat baca, maka bersiaplah menghadapi masa depan dengan generasi yang mudah terpapar hoaks, tapi malas memverifikasi. Anak-anak yang gagap menghadapi kompleksitas dunia kerja digital. Masyarakat yang pasif dan gampang diarahkan oleh narasi politik dangkal, dan itu sudah terjadi. Bangsa yang makin tertinggal dalam kompetisi global karena tak mampu mengolah dan menciptakan pengetahuan baru.

Kita akan menghasilkan lulusan sekolah yang sekadar hafal, bukan paham. Yang mudah lupa karena tak pernah membaca untuk mengerti, hanya membaca untuk nilai dan lulus.  Sekali kita kehilangan kemampuan membaca dengan mendalam, kita kehilangan kemampuan berpikir merdeka. Para pembaca yang budiman pasti ingat dengan ungkapan dalm bahasa Latin “Cogito ergo sum”yang berasal dari filsuf Prancis René Descartes. Aku berpikir, maka aku ada. Jika generasi penerus kita tidak mampu “berpikir”, maka kita bersiap bangsa ini untuk tidak mampu ”ada”. Itulah bom waktu kita.

 Tidak Klasik, Jangan Kaku

Meningkatkan minat baca tidak bisa hanya dengan membangun perpustakaan atau menyuruh anak membaca buku pelajaran. Harus ada perubahan pendekatan yang relevan dengan zaman, dan tetap setia pada tujuan budaya baca, yaitu membangun manusia yang berpikir. Solusi mengatasi krisis baca ini tidak bisa lagi pakai pendekatan Orde Baru atau bahkan Orde Lebih Baru: “ayo membaca!” atau “membaca itu penting!” Lah, para pembaca tahu anak-anak sekarang bukan robot. Mereka perlu alasan yang masuk akal. Mereka perlu konteks yang relevan.

Jangan remehkan komik atau webtoon karena dari situ anak-anak bisa diajak pelan-pelan ke literasi yang lebih berat. Meski perlu strategi khusus karena beresiko, bisa kita gunakan media sosial, bukan malah dilarang. Konten edukatif di TikTok atau YouTube bisa jadi pintu masuk, cuma memang harus selektif.

Kita juga harus membangun kebiasaan bertanya, bukan sekadar menjawab soal. Anak yang suka bertanya pasti akan cari jawaban, dan itu bisa jadi lewat membaca. Pemerintah bisa melibatkan influencer. Ajak seleb membaca buku dan cerita di IG Story-nya. Dengan demikian, dalam konteks modern ini membaca akan punya gengsi. Bisa juga dengan membuat membaca sebagai kegiatan seru. Agak susah ini, dan butuh effort memang. Misal, diskusi buku sambil ngemil, review bacaan lewat meme, atau apa pun yang bisa membuat kegiatan membaca jadi lebih hidup.

Dosa Kolektif Kita

Krisis baca ini bukan soal anak malas atau gerusan zaman yang makin canggih. Ini soal kita sendiri, yang tak pernah sungguh-sungguh mencintai membaca, lalu menurunkan ketidakcintaan itu ke generasi berikutnya. Kedengarannya seperti dosa turun-temurun ini. Dan kalau ini dibiarkan terus, kita sedang menyiapkan generasi yang kehilangan kekuatan dasarnya yaitu akalsehat.

Generasi yang bisa membaca tapi tak paham, bisa sekolah tapi tidak mengerti dunia, bisa bicara panjang tapi kosong makna. Generasi yang riuh di permukaan tapi kosong di dalam. Generasi yang akan tumbuh menjadi massa yang gampang diarahkan, dijadikan komoditas politik, atau bahkan tumbal pembangunan.

Mungkin memang anak-anak dan genersi muda kita tak suka membaca. Tapi lebih parah dari itu, mungkin kita semua sedang melupakan mengapa membaca itu penting. Jikaitu benar, maka itu bukan sekadar kelalaian. Maaf kata, itu sudah masuk kategori dosa kolektif kita. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Tag

Tags: Literasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulun Pangkung Menjadi Favorit: Penilaian Sensorik, Afektif, atau  Intelektual?

Next Post

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co