16 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 18, 2025
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

Sidang Pembaca yang budiman, coba tanya anak-anak kita hari ini. Mereka lebih kenal siapa, Norman Erikson Pasaribu atau Iben MA? Lebih ngerti isi novel Bumi Manusia atau alur drama Korea Love Scout? Lebih nyaman baca buku 30 halaman atau scroll TikTok tiga jam tanpa jeda?

Kira-kira apa jawabannya? Ya, sudahlah. Mari kita bersama diam sejenak dan menenggelamkan diri dalam renungan eksistensial bahwa kita sedang hidup di zaman di mana membaca dianggap kegiatan aneh. Bahkan kadang, membaca lebih dianggap sebagai hukuman daripada hiburan.

Padahal membaca itu suatu fondasi. Bukan cuma fondasi ilmu, tapi fondasi cara berpikir, cara hidup, bahkan cara kita menghadapi dunia yang makin kompleks ini. Tapi apa mau dikata, minat baca di negeri kita ini sedang dalam sakaratul maut. Dan parahnya, kita pura-pura tidak tahu. Bahkan cenderung tak mau tahu, dan berharap semua akan baik-baik saja. Kita membiarkan generasi muda tumbuh di tengah dunia yang hiperaktif, cepat, ramai, penuh notifikasi, tanpa dibekali keterampilan membaca yang kuat. Itu bukan sekadar kekurangan. Saya pikir itu adalah bom waktu.

Diam-Diam Merawat Budaya Anti-Baca

Para Pembaca yang budiman, mari kita buka data. Indonesia pernah menempati peringkat 60 dari 61 negara soal minat baca, itu menurut World’s Most Literate Nations. Bahkan dalam survei PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022, skor literasi anak-anak kita tetap stabil, di posisi bawah.

Banyak faktor yang bisa dituding, misal; budaya lisan yang dominan, pendidikan yang fokus pada hafalan, akses bacaan yang terbatas, hingga teknologi digital yang lebih menyenangkan daripada halaman-halaman buku. Tapi mari kita jujur saja, kita sendiri sebagai masyarakat, orang tua, guru, pembuat kebijakan, memang gagal membangun ekosistem membaca yang relevan dan menarik.

Faktor lain bisa jadi karena sejak kecil anak-anak kita lebih dididik untuk patuh daripada penasaran. Mereka lebih dibiasakan menghafal definisi daripada merenungi isi. Lebih sering disuruh belajar demi nilai ujian daripada belajar demi mengerti. Belum lagi buku-buku pelajaran kita yang, tebal, penyajian yang kaku, dan sering kali lebih bikin ngantuk daripada bikin paham.

Kita sering menyuruh anak membaca buku tebal yang membosankan, padahal mereka hidup di dunia visual, interaktif, dan serba cepat. Kita menilai buku dari “beratnya”, bukan dari kemampuannya membuat anak penasaran. Kita lupa bahwa kecintaan membaca bukan muncul dari kewajiban, tapi dari rasa ingin tahu yang dibangkitkan secara perlahan.

Celakanya, yang disalahkan adalah anak-anak kita. Dibilang malas, bodoh, tak punya semangat. Padahal sepertinya ini soal rancangan sistem pendidikannya. Sistem yang tak pernah memberi ruang untuk belajar dengan dasar rasa ingin tahu. Sudah jelas kan, siapa yang sejak awal mematikan gairah membaca itu sendiri?

Dunia Melesat, Kita Masih Ngelag

Sementara itu, dunia di luar sana sudah lari jungkir balik. AI menulis puisi, robot bisa mencuci baju, bahkan anak 12 tahun di luar negeri sudah bikin startup. Dunia kini berubah bukan per minggu, tapi bahkan per jam. Dan semua perubahan itu berawal dari satu hal, membaca dan kemampuan memahami informasi.

Tapi anak-anak dan generasi muda kita apa kabar? Kebanyakan dari mereka membuka internet bukan untuk belajar, tapi buat scroll gosip. Mereka bisa tahu semua fakta soal artis Korea, tapi gak mengerti kenapa harga cabai di saat-saat tertentu bisa naik. Mereka tahu semua lirik lagu terbaru, tapi gagal paham isi Pancasila sila ketiga. Kita mencetak generasi yang update soal tren, tapi blank soal makna yang lebih hakiki. Yang cepat baca caption, tapi susah mencerna esai. Yang bisa main HP 10 jam, tapi baca buku 10 menit sudah teriak bosan. Dan kita membiarkan itu terjadi, sambil nyeruput kopi di pagi hari.

Membaca Bukan Sekadar Aktivitas, Tapi Proses Menjadi Manusia

Filsuf-filsuf dunia sudah memberikan peringatan ratusan, bahkan ribuan tahun lalu. Plutarch berkata, “Pendidikan adalah menyalakan api, bukan mengisi bejana.” Kant mengajarkan pentingnya berpikir sendiri, “Sapere aude” atau “Beranilah menggunakan akalmu sendiri!”, dan itu cuma bisa dilakukan kalau otak dilatih untuk mencerna bacaan.

Paulo Freire lebih ekstrem lagi, dia mengatkan bahwa membaca itu senjata pembebasan dari penindasan. Literasi adalah alat pembebasan. Suatu bangsa, seperti bangsa kita ini, yang tak serta merta serius membangun budaya baca, pastinya sedang menyiapkan generasi yang tidak mampu membebaskan dirinya dari kebodohan, manipulasi, atau ketidakadilan.

Jika kita terus menoleransi rendahnya minat baca, maka bersiaplah menghadapi masa depan dengan generasi yang mudah terpapar hoaks, tapi malas memverifikasi. Anak-anak yang gagap menghadapi kompleksitas dunia kerja digital. Masyarakat yang pasif dan gampang diarahkan oleh narasi politik dangkal, dan itu sudah terjadi. Bangsa yang makin tertinggal dalam kompetisi global karena tak mampu mengolah dan menciptakan pengetahuan baru.

Kita akan menghasilkan lulusan sekolah yang sekadar hafal, bukan paham. Yang mudah lupa karena tak pernah membaca untuk mengerti, hanya membaca untuk nilai dan lulus.  Sekali kita kehilangan kemampuan membaca dengan mendalam, kita kehilangan kemampuan berpikir merdeka. Para pembaca yang budiman pasti ingat dengan ungkapan dalm bahasa Latin “Cogito ergo sum”yang berasal dari filsuf Prancis René Descartes. Aku berpikir, maka aku ada. Jika generasi penerus kita tidak mampu “berpikir”, maka kita bersiap bangsa ini untuk tidak mampu ”ada”. Itulah bom waktu kita.

 Tidak Klasik, Jangan Kaku

Meningkatkan minat baca tidak bisa hanya dengan membangun perpustakaan atau menyuruh anak membaca buku pelajaran. Harus ada perubahan pendekatan yang relevan dengan zaman, dan tetap setia pada tujuan budaya baca, yaitu membangun manusia yang berpikir. Solusi mengatasi krisis baca ini tidak bisa lagi pakai pendekatan Orde Baru atau bahkan Orde Lebih Baru: “ayo membaca!” atau “membaca itu penting!” Lah, para pembaca tahu anak-anak sekarang bukan robot. Mereka perlu alasan yang masuk akal. Mereka perlu konteks yang relevan.

Jangan remehkan komik atau webtoon karena dari situ anak-anak bisa diajak pelan-pelan ke literasi yang lebih berat. Meski perlu strategi khusus karena beresiko, bisa kita gunakan media sosial, bukan malah dilarang. Konten edukatif di TikTok atau YouTube bisa jadi pintu masuk, cuma memang harus selektif.

Kita juga harus membangun kebiasaan bertanya, bukan sekadar menjawab soal. Anak yang suka bertanya pasti akan cari jawaban, dan itu bisa jadi lewat membaca. Pemerintah bisa melibatkan influencer. Ajak seleb membaca buku dan cerita di IG Story-nya. Dengan demikian, dalam konteks modern ini membaca akan punya gengsi. Bisa juga dengan membuat membaca sebagai kegiatan seru. Agak susah ini, dan butuh effort memang. Misal, diskusi buku sambil ngemil, review bacaan lewat meme, atau apa pun yang bisa membuat kegiatan membaca jadi lebih hidup.

Dosa Kolektif Kita

Krisis baca ini bukan soal anak malas atau gerusan zaman yang makin canggih. Ini soal kita sendiri, yang tak pernah sungguh-sungguh mencintai membaca, lalu menurunkan ketidakcintaan itu ke generasi berikutnya. Kedengarannya seperti dosa turun-temurun ini. Dan kalau ini dibiarkan terus, kita sedang menyiapkan generasi yang kehilangan kekuatan dasarnya yaitu akalsehat.

Generasi yang bisa membaca tapi tak paham, bisa sekolah tapi tidak mengerti dunia, bisa bicara panjang tapi kosong makna. Generasi yang riuh di permukaan tapi kosong di dalam. Generasi yang akan tumbuh menjadi massa yang gampang diarahkan, dijadikan komoditas politik, atau bahkan tumbal pembangunan.

Mungkin memang anak-anak dan genersi muda kita tak suka membaca. Tapi lebih parah dari itu, mungkin kita semua sedang melupakan mengapa membaca itu penting. Jikaitu benar, maka itu bukan sekadar kelalaian. Maaf kata, itu sudah masuk kategori dosa kolektif kita. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Misteri Layar Lebar: Mengapa Film Horor Merajai Bioskop Indonesia?
Pembatasan Media Sosial Kebijakan Tepat, tetapi Bukan Satu-Satunya Solusi
“Brain Rot” pada Anak: Virus Era Digital
Merenungkan Musik; Sukatani, Perlawanan, dan Penguasa

Tag

Tags: Literasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ulun Pangkung Menjadi Favorit: Penilaian Sensorik, Afektif, atau  Intelektual?

Next Post

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co