14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Arix Wahyudhi Jana Putra by Arix Wahyudhi Jana Putra
April 18, 2025
in Panggung
Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Akustik Band The Days

“Sedikit cerita, coba saja dulu!”

Itulah kalimat yang selalu jadi inspirasi dari The Days, sebuah band lokal dengan anggota empat lelaki yang biasa nongkrong, banyak canda dan gurau saban malam.

Empat lelaki itu; Arix (ini saya yang menulis artikel ini), Sandra, Yogi, dan Dwika atau biasa dipanggil Wika. Kami biasa duduk melingkar tanpa tikar, menyeruput minuman hangat buatan Wika, seperti biasa kopi pahit dan teh cang yang saya suka.

The Days adalah band yang terbentuk secara mendadak. Meski mendadak, tapi kisahnya berliku-liku. Ada sedih, ada gembira, ada sakit, ada kemenangan.

Kami berempat berteman akrab. Sangat akrab. Kami semua adalah mahasiswa STAHN Mpu kuturan Singaraja, dan semuanya tergabung dalam UKM Musik. Di UKM-lah kami bertemu. Saya awalnya bertemu dua teman, Gede Sandra Hendleing Lesmana yang akrab dipanggil Sandra dan Nyoman Krishnanda Yogi Hanaya yang biasa dipanggil Yogi.

Kami kemudian bertemu dengan satu teman lagi, Ketut Dwi Kayana atau Wika, yang kini menjadi sosok penting dalam akustik band kami.

Seiring waktu, di UKM musik kami berempat saling sering menghabiskan waktu bersama. Namun, suasana kampus yang terkadang terlalu ramai membuat kami merasa perlu mencari tempat lain yang lebih nyaman untuk ngobrol dan bermusik.

Rumah Wika, yang terletak jauh dari keramaian, menjadi pilihan ideal. Di sanalah kami mulai berkumpul lebih intens, membentuk kebersamaan yang menjadi fondasi perjalanan musik kami hingga hari ini.

***

Kisahnya dimulai Selasa malam, 28 januari 2025.  Malam itu, di rumah Wika, di Desa Anturan, sebuah desa yang berada di antara kota Singaraja dan kawasan wisata Lovina, kami berkumpul. Rumah Wika memang kerap menjadi tempat pelarian kami—pelarian dari hiruk-pikuk dunia luar. Suara jangkrik dari kebun di belakang rumahnya seakan menjadi latar musik yang setia menemani.

“Eh, ada lomba musik dari Hindu Channel,” kata Wika tiba-tiba, suaranya memecah obrolan ringan kami kala itu. “Kita ikut, yuk!”

Saya memandangnya dengan dahi mengernyit, bertanya, “Lomba apa?”. Saya setengah tertarik setengah skeptis.

“Lomba bikin lagu rohani,” jawab Wika santai.

Rohani? Dalam benak berkata, sepertinya ini tidak masuk akal. Kami yang selalu mengisi waktu dengan candaan receh dan nyanyian sembarangan, kini harus membuat lagu rohani?

“Serius, Wik? Bikin lagu rohani?” Saya melempar ucapan itu setengah tak percaya. Wika hanya tersenyum.

“Coba saja dulu, Rik. Siapa tahu seru,” kata Wika.

Saya sedikit ragu dengan ajakan Wika, tapi tidak dengan Sandra. Jika hal berhubungan dengan musik, Sandra selalu berada pada garda terdepan.

Hari berganti, kami kembali berkumpul di tempat yang sama. Kali itu, dengan tujuan lebih serius, membuat lirik. Empat kepala mencoba merangkai kata demi kata yang cocok dengan tema.

“Tri Kaya Parisudha.” Itulah jawabannya, ajaran tentang kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Kami ingin membuat lagu dengan tema tentang kesucian pikiran, perkataan dan perbuata.

Tapi, yang terjadi malah kebuntuan. “Gimana sih bikin lirik rohani?” keluh Sandra sambil mengacak rambutnya.

Yogi ikut angkat bicara. “Kayaknya otak kita kurang bahan bakar, nih. Ada kopi lagi nggak?”

Tawa kecil pecah di antara kami, mencoba mencairkan suasana yang mulai menegang. Tapi, perlahan, entah dari mana, satu kalimat muncul, lalu kalimat lain menyusul. Tema besar Tri Kaya Parisudha mulai membentuk lirik-lirik yang sederhana tapi bermakna. Saya dan Yogi fokus pada penambahan beberapa lirik pendukung, sementara Wika mendominasi bagian aransemen, dan Sandra sibuk mengolah nada. Setiap kali ada ide baru, perdebatan kecil pun tak terhindarkan.

“Bagian ini harus lebih lembut,” kata Sandra sambil memainkan nada dengan gitarnya.

“Nggak, justru harus lebih kuat di sini!” Wika membantah, tangannya sibuk di senar.

Saya tertawa kecil melihat mereka. “Hei, kita bikin lagu rohani, bukan adu argumen.”

Akhirnya, setelah beberapa kali merombak, kami berhasil menyelesaikan lagu itu. Kini, giliran kami mencari judul yang tepat. Judul-judul aneh mulai muncul, apa sih yang diharapkan, apakah akan seperti itu saja, saya yang biasanya lebih memilih diam malah spontan nyeletuk, “Manawakya, gimana?”

“Apa tuh?” tanya Sandra penasaran.

“Singkatan dari Manacika, Wacika, Kayika. Itu kan inti dari Tri Kaya Parisudha,” jawabku.

Mereka semua terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju. Manawakya menjadi nama resmi lagu kami. Namun, masalah belum selesai.

Sandra tiba-tiba bertanya, “Kalau nama band kita apa?” Saya mengangkat bahu. “Pakai aja DAYS. Gabungan huruf depan nama kita: Dwika, Arix, Yogi, Sandra.”

 Mereka tertawa mendengar ide itu. “Klise banget,” canda Wika, tapi akhirnya kami semua setuju.

Rekaman lagu itu menjadi tantangan berikutnya. Empat hari dilalui penuh rintangan dan lagi-lagi perdebatan membosankan. Tukang rekam kami, Angga seorang sound engineer bermata empat sering sulit meluangkan waktu karena kesibukannya bekerja. Kami pun harus rela rekaman di malam hingga dini hari di kala orang-orang lainnya mungkin sudah menari-nari di pulau kapuk mereka.

Hari ke tiga rekaman, saya sempat absen karena harus menjalani operasi kelenjar getah bening di rumah sakit. Untungnya, sebelum operasi, rekaman bass sudah saya tuntaskan. Saat di rumah sakit, merasa terisolasi, terbaring lemah dengan selang obat menempel di tangan dan jahitan baru di leher kanan.

Setiap hari, teman-teman tidak pernah absen menghubungi. Sandra, Wika, dan Yogi bergantian menanyakan keadaanku, mengirim pesan semangat, dan bahkan mengabarkan perkembangan lagu kami. Mereka selalu berkata, “Cepat sembuh, Rik. Kami tunggu kamu pulang untuk menyelesaikan semua ini bersama.”

Menghabiskan empat hari berbaring di rumah sakit, saya akhirnya keluar dari rumah sakit, semangat terasa menyala kembali. Meski masih dengan bekas jahitan operasi yang jelas terlihat, saya merasa lebih kuat dari sebelumnya. Istirahat satu minggu saya cukupkan ketika mendengar kabar rekaman sudah selesai, giliran kami membuat video klip.

Ngurah Arya dan Prya Nata, teman yang setia, membantu dengan alat-alat pinjaman dari kampus. Seharian penuh kami habiskan merekam di berbagai lokasi. Mulai dari gundukan rumput luas, tengah hutan lewati sungai, hingga pura tempat Wika biasa sembahyang. Meski sulit dengan adanya bekas jahitan operasi, semangat saya tak berkurang sedikit pun.

Oh iya, dengan saput, udeng pinjaman, kami nampak selaras seolah menutup perbedaan persepsi yang kami debatkan waktu itu.

Video itu akhirnya selesai dengan editan sederhana nan penuh dedikasi. Kami kirim ke panitia lomba Hindu Channel, Minggu, 30 Maret 2025. Lalu, karya kami diunggah akun youtube Hindu Channel pada 7 April 2025. Dan kami mulai mengkampanyekan video kami untuk mendapat dukungan viewers.

Kompetisi ini diikuti oleh 19 band dari seluruh Indonesia kategori dewasa. “Hah dewasa?” kataku. “Bukannya kita masih remaja?”.

“Kamu lupa denganku yang sudah berumur 25 ini?” kata Sandra sedikit sinis.

Pesimis mulai menghantui lagi.

“Yakin aja, Rik. Lihat nanti hasilnya.”  Pundak yang kaku gagah ini ditepuk Sandra dengan hati yang khawatir akan penilaian orang mendengar lagu kami.

Hari pengumuman tiba. Itu Minggu 13 April 2025. Kami berkumpul di rumah Wika, seperti biasa. Kali ini, suasana lebih tegang dari biasanya. Kami menonton live streaming di YouTube Hindu Channel.

Sayangnya, sejam sebelum pengumuman, tepat setelah meme atau ibu dari Wika melambaikan tangan pada kami sepuluh menit lalu untuk pergi keluar rumah, Wika mendapat kabar buruk. Ibunya mengalami kecelakaan. Raut wajah yang nampak sedih itu terlihat sambil menyeka keringat di dahinya, dia harus pergi ke rumah sakit, meninggalkan kami bertiga di rumahnya.

Saat nama band kami disebut sebagai juara 2, kami langsung bersorak. Emosi campur aduk meluap, antara kebahagiaan dan keheranan.

Juara dua sudah membuat kami senang. Kami dikalahkan oleh peserta dari Nusa Tenggara Timur yang ditetapkan sebagai juara satu. Sementara juara tiga adalah peserta dari Yogyakarta.

“Gila! Kita menang!” teriak Yogi. Suaranya bak layak menggetarkan dinding ruang tamu, ditambah lagi lontaran kata kasar secara spontan keluar dari mulut Sandra. Dengan polosnya saya menggeleng tak percaya.

Namun, kegembiraan itu terasa kurang lengkap tanpa Wika. Kami segera menghubunginya untuk memberi kabar baik ini.

“Wik, kita juara dua!” teriak kami di telepon. Mendengar suaranya yang lelah tapi tetap berusaha terdengar ceria. “Syukurlah. Jaga rumahku dulu ya, aku masih di rumah sakit.”

Perasaan kami benar-benar campur aduk. Di satu sisi, kami bangga dengan pencapaian ini. Di sisi lain, kami turut merasakan luka Wika yang harus mendampingi orang tuanya di rumah sakit. Meski begitu, kemenangan ini menjadi bukti bahwa dari tongkrongan sederhana di sudut ruang tamu, kami bisa menciptakan sesuatu yang berarti.

Manawakya bukan sekadar lagu. Terlepas dari maknanya, lagu ini menjadi bagian dari diri kami akan perjuangan, persahabatan, dan keyakinan.

Kami mungkin bukan musisi profesional, tapi momen itu membuat kami belajar bahwa ketulusan dan kerja keras, bahkan selingan perdebatan bisa membawa hasil yang tak terduga.

Dan, yang terpenting, kami tetap menjadi diri kami, empat anak lelaki yang suka nongkrong, bercanda, dan sembari berkarya. [T]

Reporter/Penulis: Arix Wahyudhi Jana Putra
Editor; Adnyana Ole

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Gairah Kebanggaan pada Buleleng dalam Lagu-lagu HUT Kota Singaraja Ciptaan Angga Prasaja
Renggama, Kelompok Musik Anyar yang Tak Biasa-biasa Saja dari Bali Utara
Musik Eksperimental Kontemporer dari Dwarsa Sentosa—“Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”
Tags: hindumusikmusik akustik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ogah Baca, Nyalakan Bom Waktu

Next Post

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

Arix Wahyudhi Jana Putra

Arix Wahyudhi Jana Putra

Gede Arix Wahyudhi Jana Putra. Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
0
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

Read moreDetails

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
0
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

Read moreDetails

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
0
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails
Next Post
Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co