23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

I Made Argawa by I Made Argawa
April 18, 2025
in Esai
Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

Ilustrasi tatkala.co | Arix

“Gemah ripah alamnya harmonis
Begitu tertulis di brosur pariwisata
Ibu Darmi kembali meringis
Keluarga harmonis perlu tangisan Bu Darmi”

Oh ya, ini adalah potongan lirik lagu dari band folk Nosstress judulnya Bu Darmi. Waktu ini, saya iseng kembali melihat video klip lagu ini di kanal YouTube milik Nosstress. Saya terkejut karena terakhir kali saya mendengarkan lagu ini dan sempat mengunggah pesan di halaman komentar. Itu sudah tiga tahun yang lalu.

Emmmm,, sudah lama ya. Cukup lama banget bagi saya.

Tapi, saya mungkin juga kalian merasakan hal yang disampaikan lagu ini sesuai dengan kenyataan di Bali hari ini. Terutama orang Bali yang beragama Hindu.

Mungkin juga ini yang menjadikan lagu Bu Darmi terasa begitu dekat. Meski, lagunya sudah berusia tiga tahun lebih sejak diunggah di kanal YouTube.

Saya nilai lirik lagu ini sederhana. Ceritanya dari kesulitan seorang ibu rumah tangga bernama Bu Darmi.

Mungkin, bukan mungkin lagi sich. Itu sudah pasti, ibu-ibu di Bali mengalami apa yang dirasakan oleh Bu Darmi.

Media sosial sempat ramai dengan pembicaraan soal mahalnya harga buah kelapa yang digunakan untuk upacara ritual. Dari harga biasanya yang tidak lebih dari Rp 5 ribu per-butir, menjelang rerainan Purnama Kadasa pada 12 April 2025 harganya mencapai angka Rp 15 ribu-an.

Belum lagi soal persiapan hari Raya Galungan yang tiba sekitar sepekan setelahnya. Harga janur, peralatan upacara lain hingga daging babi akan mengalami kenaikan signifikan.

Ini sesuai dengan lagu Bu Darmi, Nosstress.

Selain itu, belakangan muncul kabar soal berkurangnya wisatawan yang menginap di hotel. Mereka, para turis lebih memilih menginap di kamar kost atau villa yang dikatakan “illegal”.

Saya pernah melihat postingan, lebih tepatnya keluhan soal hal ini di media sosial yang menyebutkan kondisi Bali tidak bisa seperti itu.

Karena pariwisata Bali adalah motor penggerak ekonomi. Ekonomi yang menjalankan “roda-roda” kegiatan ritual di Pulau Dewata. “Upacara abadi di Bali” secara langsung digerakkan oleh pariwisata. Serta terjadi timbal balik di antaranya. 

“Agar pulau seribu Pura Tak menjadi seribu pura-pura”

Lagu Bu Darmi juga menyinggung soal judi sabung ayam atau tajen. Entah kebetulan atau seperti apa, sepintas saya lihat trend di media sosial banyak yang mengunggah konten sedang berada di arena tajen.

Bahkan pelakunya, bukan hanya orang Bali atau lokal. Bule hingga keturunan bule juga ikut ambil bagian. Pokoknya gampang. Aluh san 

Soal tajen saya tidak bisa bahas banyak. Karena tidak ngerti soal tajen dan tidak pernah bermain tajen. Apakah itu sudah diperbolehkan atau bagaimana? Sing be ngerti

“Terlintas di benak Bu Darmi
Tuk tinggalkan semua ini
Tapi jadi janda atau mati
Bisa jadi, lebih seram dari ini”

Dari potongan lirik lagu di atas saya memiliki tafsir, jika Bu Darmi memiliki pikiran untuk bunuh diri. Tapi, pemikiran Bu Darmi itu sudah diwujudkan oleh banyak orang di Bali.

Salah satu kasus bunuh diri yang membuat gempar adalah seorang perempuan berusia 21 tahun nekat loncat dari Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung pada Kamis 3 April 2025.

Diduga, korban terlilit utang pinjaman online. Sehingga ia menceburkan diri dari jembatan setinggi 71 meter. Karena kejadian bunuh diri terjadi beberapa kali di sana, pemerintah daerah sampai memasang kawat pengaman di sisi jembatan. Ditambah dengan kamera pengawas. Agar hal serupa tidak terulang.

Informasi yang saya kutip dari CNN Indonesia, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20240702092451-255-1116545/tingkat-bunuh-diri-di-bali-paling-tinggi-se-indonesia-apa-sebabnya:

Data Pusat Informasi Kriminal Indonesia (Pusiknas) Polri menyebut laporan kasus bunuh diri di Bali sepanjang 2023 angkanya mencapai 3,07. Suicide rate atau tingkat bunuh diri dihitung berdasarkan jumlah kasus bunuh diri dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Angka tersebut jauh melampaui provinsi-provinsi lain di Tanah Air. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati peringkat kedua jumlah tingkat kasus bunuh diri, dengan angka suicide rate sebesar 1,58.

Sementara di peringkat ketiga di tempati Provinsi Bengkulu dengan angka suicide rate sebesar 1,53. Disusul Aceh yang menempati posisi buncit dari seluruh provinsi di Indonesia, angka suicide rate-nya hanya 0,02.

Berdasarkan data Pusiknas Polri, pada 2023 ada 135 kasus bunuh diri di Bali yang dilaporkan. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berkisar 4,3 juta jiwa, angka tersebut tergolong tinggi.

Dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP Prof Ngoerah, Anak Ayu Sri Wahyuni membeberkan penyebab tingkat bunuh diri di Bali paling tinggi di Indonesia. Dua penyebabnya, kata dia, yaitu meliputi faktor biologis dan psikososial.

Oh,,, Bu Darmi.

Saya secara pribadi tidak terkejut dengan laporan CNN Indonesia yang juga diterbitkan oleh beberapa media lain itu. Bukan kebetulan, ibu saya juga mengalami tanda-tanda tersebut. Entah seperi apa sejarahnya, cuman belakangan tanda-tanda gangguan terhadap emosional hingga psikologis terlihat jelas.

Saya berani menyatakan ini, karena beberapa faktor eksternal sudah saya hilangkan.

Memang menjadi perempuan Bali, diperlukan kemampuan ekstra untuk mengelola stres. Mulai dari kehidupan pribadi, sosial, ritual hingga tuntutan ekonomi hadir sekaligus.

Tapi, beruntungnya saya. Lebih tepatnya cerdas dalam memilih pasangan hidup. Istri saya hingga sekarang ini, tampaknya bisa mengelola hal itu. Meski, keluhan selalu ada. Saya hanya berusaha memberikan dukungan moral atau rasional.

Tanpa Klimaks

Saya tidak habis pikir, apakah setiap malam sebelum tidur Bu Darmi dan Pak Darma sempat mengobrol. Berbicara terkait masalah keuangan, soal menyama braya atau soal ayah-ayahan (kerja sosial) di banjar.

Jika iya, harusnya beban psikologis Bu Darmi bisa lebih terurai sehingga tidak terlalu membelenggu. Jika tidak, saya juga tidak tahu apa yang mereka lakukan menjelang tidur.

Karena pengalaman saya selama berumahtangga, momen malam hari sebelum tidur menjadi cukup penting antara suami dan istri.

Selain urusan birahi, saling berbicara terkait persoalan rumah tangga, pekerjaan atau gosip tipis-tipis soal tetangga bisa mengurangi beban mental masing-masing.

Termasuk soal kegiatan upacara ritual. Jika Bu Darmi dan Pak Darma sempat membicarakan hal itu, pasti Bu Darmi tidak akan kesulitan. “Uangnya sedikit tapi harus dapat banyak. Terpaksa berhutang walau malu sudah menumpuk”. Itu pasti tidak akan terjadi.

Jika uangnya sedikit, harusnya perlengkapan upakara bisa disesuaikan dengan budget dong! Kok, pergi ke tajen. Padahal anak dan istri sedang kekurangan uang. Mungkin, tujuannya untuk menambah uang. Tapi agak konyol ketika  “Bapak Darma mempercayakan nasib pada seekor ayam. Uangnya sedikit tapi pengen cepat banyak. Tak menambah uang Pak Darma menambah hutang”.

Ujung-ujungnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Bagi saya, ketika ada komunikasi intens antara Bu Darmi dan Pak Darma hal ini akan bisa dihindari. Ketika Pak Darma akan pergi ke tajen, Bu Darmi bisa mencegah.

Pak Darma yang dicegah untuk pergi ke tajen, juga jangan marah. Harusnya bersabar karena keuangan keluarga sedang morat-marit.

Clifford James Geertz atau Clifford Geertz antropolog asal Amerika sudah memotret situasi seperti yang dialami oleh Bu Darmi dan Pak Darma. Ia bersama istrinya pernah melakukan penelitian di Bali sekitar tahun 70-an. Penelitian itu dituangkan dalam buku dengan judul  Tafsir Kebudayaan atau The Interpretation of Cultures dan diterbitkan pada tahun 1973.

Geertz menilai tingkah laku sosial orang Bali tidak adanya klimaks. Ia menyebut, pertengkaran-pertengkaran muncul dan menghilang, terkadang malah terus berlangsung, tetapi diperlemah dan diperlunak dengan harapan bahwa hanya perkembangan keadaan – keadaan secara perlahan-lahan akan mengakhiri pertengkaran-pertengkaran itu, atau masih lebih baik lagi, bahwa pertengkaran-pertengkaran itu akan menguap begitu saja.

Mungkin, untuk menghidari konflik dan pertengkaran Bu Darmi memilih untuk diam dengan situasi yang dialaminya. Sehingga mengalami beban mental yang berkepanjangan.

Lantas pada siapa kita harus berharap? Pemerintah,,, saya rasa persoalan yang dialami Bu Darmi dan Pak Darma sangat mendasar di Bali. Kita sudah menganggapnya biasa.

“Kisah sedih yang jadi biasa
Karena kita menutup mata”

  • Catatan: Kalimat cetak miring dengan tanda kutip adalah potongan lirik lagu Bu Darmi dari Nosstress

Penulis: I Made Argawa
Editor; Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kelapa, Kepala, Warna dan Permainan Makelar
Slinat: Wajah Bali Kini Dalam Parodi “I ❤ Bali”
Kawasan Bali Selatan Kini Berkembang Menjadi Perkotaan Tanpa Pusat dan Aksis
Tags: baliBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Next Post

Perempuan dalam Catatan Sejarah: Merawat Kenangan, Menjaga Rasa Kebangsaan

I Made Argawa

I Made Argawa

Selalu berusaha santai di tengah dunia yang makin cepat

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Masa Silam: Tantangan Pembelajaran Sejarah bagi Generasi Muda

Perempuan dalam Catatan Sejarah: Merawat Kenangan, Menjaga Rasa Kebangsaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co