24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

I Made Argawa by I Made Argawa
April 18, 2025
in Esai
Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

Ilustrasi tatkala.co | Arix

“Gemah ripah alamnya harmonis
Begitu tertulis di brosur pariwisata
Ibu Darmi kembali meringis
Keluarga harmonis perlu tangisan Bu Darmi”

Oh ya, ini adalah potongan lirik lagu dari band folk Nosstress judulnya Bu Darmi. Waktu ini, saya iseng kembali melihat video klip lagu ini di kanal YouTube milik Nosstress. Saya terkejut karena terakhir kali saya mendengarkan lagu ini dan sempat mengunggah pesan di halaman komentar. Itu sudah tiga tahun yang lalu.

Emmmm,, sudah lama ya. Cukup lama banget bagi saya.

Tapi, saya mungkin juga kalian merasakan hal yang disampaikan lagu ini sesuai dengan kenyataan di Bali hari ini. Terutama orang Bali yang beragama Hindu.

Mungkin juga ini yang menjadikan lagu Bu Darmi terasa begitu dekat. Meski, lagunya sudah berusia tiga tahun lebih sejak diunggah di kanal YouTube.

Saya nilai lirik lagu ini sederhana. Ceritanya dari kesulitan seorang ibu rumah tangga bernama Bu Darmi.

Mungkin, bukan mungkin lagi sich. Itu sudah pasti, ibu-ibu di Bali mengalami apa yang dirasakan oleh Bu Darmi.

Media sosial sempat ramai dengan pembicaraan soal mahalnya harga buah kelapa yang digunakan untuk upacara ritual. Dari harga biasanya yang tidak lebih dari Rp 5 ribu per-butir, menjelang rerainan Purnama Kadasa pada 12 April 2025 harganya mencapai angka Rp 15 ribu-an.

Belum lagi soal persiapan hari Raya Galungan yang tiba sekitar sepekan setelahnya. Harga janur, peralatan upacara lain hingga daging babi akan mengalami kenaikan signifikan.

Ini sesuai dengan lagu Bu Darmi, Nosstress.

Selain itu, belakangan muncul kabar soal berkurangnya wisatawan yang menginap di hotel. Mereka, para turis lebih memilih menginap di kamar kost atau villa yang dikatakan “illegal”.

Saya pernah melihat postingan, lebih tepatnya keluhan soal hal ini di media sosial yang menyebutkan kondisi Bali tidak bisa seperti itu.

Karena pariwisata Bali adalah motor penggerak ekonomi. Ekonomi yang menjalankan “roda-roda” kegiatan ritual di Pulau Dewata. “Upacara abadi di Bali” secara langsung digerakkan oleh pariwisata. Serta terjadi timbal balik di antaranya. 

“Agar pulau seribu Pura Tak menjadi seribu pura-pura”

Lagu Bu Darmi juga menyinggung soal judi sabung ayam atau tajen. Entah kebetulan atau seperti apa, sepintas saya lihat trend di media sosial banyak yang mengunggah konten sedang berada di arena tajen.

Bahkan pelakunya, bukan hanya orang Bali atau lokal. Bule hingga keturunan bule juga ikut ambil bagian. Pokoknya gampang. Aluh san 

Soal tajen saya tidak bisa bahas banyak. Karena tidak ngerti soal tajen dan tidak pernah bermain tajen. Apakah itu sudah diperbolehkan atau bagaimana? Sing be ngerti

“Terlintas di benak Bu Darmi
Tuk tinggalkan semua ini
Tapi jadi janda atau mati
Bisa jadi, lebih seram dari ini”

Dari potongan lirik lagu di atas saya memiliki tafsir, jika Bu Darmi memiliki pikiran untuk bunuh diri. Tapi, pemikiran Bu Darmi itu sudah diwujudkan oleh banyak orang di Bali.

Salah satu kasus bunuh diri yang membuat gempar adalah seorang perempuan berusia 21 tahun nekat loncat dari Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung pada Kamis 3 April 2025.

Diduga, korban terlilit utang pinjaman online. Sehingga ia menceburkan diri dari jembatan setinggi 71 meter. Karena kejadian bunuh diri terjadi beberapa kali di sana, pemerintah daerah sampai memasang kawat pengaman di sisi jembatan. Ditambah dengan kamera pengawas. Agar hal serupa tidak terulang.

Informasi yang saya kutip dari CNN Indonesia, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20240702092451-255-1116545/tingkat-bunuh-diri-di-bali-paling-tinggi-se-indonesia-apa-sebabnya:

Data Pusat Informasi Kriminal Indonesia (Pusiknas) Polri menyebut laporan kasus bunuh diri di Bali sepanjang 2023 angkanya mencapai 3,07. Suicide rate atau tingkat bunuh diri dihitung berdasarkan jumlah kasus bunuh diri dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Angka tersebut jauh melampaui provinsi-provinsi lain di Tanah Air. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati peringkat kedua jumlah tingkat kasus bunuh diri, dengan angka suicide rate sebesar 1,58.

Sementara di peringkat ketiga di tempati Provinsi Bengkulu dengan angka suicide rate sebesar 1,53. Disusul Aceh yang menempati posisi buncit dari seluruh provinsi di Indonesia, angka suicide rate-nya hanya 0,02.

Berdasarkan data Pusiknas Polri, pada 2023 ada 135 kasus bunuh diri di Bali yang dilaporkan. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berkisar 4,3 juta jiwa, angka tersebut tergolong tinggi.

Dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP Prof Ngoerah, Anak Ayu Sri Wahyuni membeberkan penyebab tingkat bunuh diri di Bali paling tinggi di Indonesia. Dua penyebabnya, kata dia, yaitu meliputi faktor biologis dan psikososial.

Oh,,, Bu Darmi.

Saya secara pribadi tidak terkejut dengan laporan CNN Indonesia yang juga diterbitkan oleh beberapa media lain itu. Bukan kebetulan, ibu saya juga mengalami tanda-tanda tersebut. Entah seperi apa sejarahnya, cuman belakangan tanda-tanda gangguan terhadap emosional hingga psikologis terlihat jelas.

Saya berani menyatakan ini, karena beberapa faktor eksternal sudah saya hilangkan.

Memang menjadi perempuan Bali, diperlukan kemampuan ekstra untuk mengelola stres. Mulai dari kehidupan pribadi, sosial, ritual hingga tuntutan ekonomi hadir sekaligus.

Tapi, beruntungnya saya. Lebih tepatnya cerdas dalam memilih pasangan hidup. Istri saya hingga sekarang ini, tampaknya bisa mengelola hal itu. Meski, keluhan selalu ada. Saya hanya berusaha memberikan dukungan moral atau rasional.

Tanpa Klimaks

Saya tidak habis pikir, apakah setiap malam sebelum tidur Bu Darmi dan Pak Darma sempat mengobrol. Berbicara terkait masalah keuangan, soal menyama braya atau soal ayah-ayahan (kerja sosial) di banjar.

Jika iya, harusnya beban psikologis Bu Darmi bisa lebih terurai sehingga tidak terlalu membelenggu. Jika tidak, saya juga tidak tahu apa yang mereka lakukan menjelang tidur.

Karena pengalaman saya selama berumahtangga, momen malam hari sebelum tidur menjadi cukup penting antara suami dan istri.

Selain urusan birahi, saling berbicara terkait persoalan rumah tangga, pekerjaan atau gosip tipis-tipis soal tetangga bisa mengurangi beban mental masing-masing.

Termasuk soal kegiatan upacara ritual. Jika Bu Darmi dan Pak Darma sempat membicarakan hal itu, pasti Bu Darmi tidak akan kesulitan. “Uangnya sedikit tapi harus dapat banyak. Terpaksa berhutang walau malu sudah menumpuk”. Itu pasti tidak akan terjadi.

Jika uangnya sedikit, harusnya perlengkapan upakara bisa disesuaikan dengan budget dong! Kok, pergi ke tajen. Padahal anak dan istri sedang kekurangan uang. Mungkin, tujuannya untuk menambah uang. Tapi agak konyol ketika  “Bapak Darma mempercayakan nasib pada seekor ayam. Uangnya sedikit tapi pengen cepat banyak. Tak menambah uang Pak Darma menambah hutang”.

Ujung-ujungnya terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Bagi saya, ketika ada komunikasi intens antara Bu Darmi dan Pak Darma hal ini akan bisa dihindari. Ketika Pak Darma akan pergi ke tajen, Bu Darmi bisa mencegah.

Pak Darma yang dicegah untuk pergi ke tajen, juga jangan marah. Harusnya bersabar karena keuangan keluarga sedang morat-marit.

Clifford James Geertz atau Clifford Geertz antropolog asal Amerika sudah memotret situasi seperti yang dialami oleh Bu Darmi dan Pak Darma. Ia bersama istrinya pernah melakukan penelitian di Bali sekitar tahun 70-an. Penelitian itu dituangkan dalam buku dengan judul  Tafsir Kebudayaan atau The Interpretation of Cultures dan diterbitkan pada tahun 1973.

Geertz menilai tingkah laku sosial orang Bali tidak adanya klimaks. Ia menyebut, pertengkaran-pertengkaran muncul dan menghilang, terkadang malah terus berlangsung, tetapi diperlemah dan diperlunak dengan harapan bahwa hanya perkembangan keadaan – keadaan secara perlahan-lahan akan mengakhiri pertengkaran-pertengkaran itu, atau masih lebih baik lagi, bahwa pertengkaran-pertengkaran itu akan menguap begitu saja.

Mungkin, untuk menghidari konflik dan pertengkaran Bu Darmi memilih untuk diam dengan situasi yang dialaminya. Sehingga mengalami beban mental yang berkepanjangan.

Lantas pada siapa kita harus berharap? Pemerintah,,, saya rasa persoalan yang dialami Bu Darmi dan Pak Darma sangat mendasar di Bali. Kita sudah menganggapnya biasa.

“Kisah sedih yang jadi biasa
Karena kita menutup mata”

  • Catatan: Kalimat cetak miring dengan tanda kutip adalah potongan lirik lagu Bu Darmi dari Nosstress

Penulis: I Made Argawa
Editor; Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Kelapa, Kepala, Warna dan Permainan Makelar
Slinat: Wajah Bali Kini Dalam Parodi “I ❤ Bali”
Kawasan Bali Selatan Kini Berkembang Menjadi Perkotaan Tanpa Pusat dan Aksis
Tags: baliBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  

Next Post

Perempuan dalam Catatan Sejarah: Merawat Kenangan, Menjaga Rasa Kebangsaan

I Made Argawa

I Made Argawa

Selalu berusaha santai di tengah dunia yang makin cepat

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Mengemas Masa Silam: Tantangan Pembelajaran Sejarah bagi Generasi Muda

Perempuan dalam Catatan Sejarah: Merawat Kenangan, Menjaga Rasa Kebangsaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co