24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelapa, Kepala, Warna dan Permainan Makelar

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
April 13, 2025
in Esai
Kelapa, Kepala, Warna dan Permainan Makelar

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

MASYARAKAT Hindu di Bali yang bersifat komunal, sangat terikat dengan kebiasaan komunitasnya (keluarga, soroh, banjar, pamaksan, desa adat dll)

Keterikatan ini tidak saja terkait perbuatan, tetapi juga kata-kata dan pikiran. Keterikatan pikiran bagi masyarakat yang bersepakat   disebut juga keyakinan. Keyakinan yang disepakati oleh sebagian besar orang Bali disebut Agama Hindu (Hindu Dharma, Agama Tirta, Sanatana Dharma dll)

Keyakinan yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi, dengan kesepakatan-kesepakatan secara sadar dan tak sadar kemudian diwariskan secara secara turun temurun, dilakukan dalam keluarga inti, keluarga besar (paibon/kesatuan garis ibu).

Di Bali kesepakatan antara keluarga diwadahi dalam bajar/dusun/berbagai bentuk lainnya, yang diperluas dalam desa/desa adat/pakraman/ dan berbagai sebutan lainnya.

Kelapa, Kepala, Warna

Kelapa (Cocos nucifera) termasuk  genus Cocos dari suku aren-arenan atau Arecaceae.

Kelapa, coconut dalam bahasa Inggris berasal dari kata Portugis dan Spanyol abad ke-16, coco yang berarti “kepala” atau “tengkorak”

Kelapa yang dimaknai sebagai kepala oleh leluhur manusia, juga dimaknai sebagai pemimpin (yang mengepalai). Umat beragama/khususnya Indonesia menyakini bahwa kepala dari sebagai kehidupan, dunia hakerat adalah Tuhan, yang tercermin dari sila pertama dari Pancasila.

Dalam Negara Republik Indonesia, yang disepakati sebagai kepala adalah presiden, secara berurutan adalah gubernur, bupati/walikota, camat, kelapa desa, lurah, kelapa RT/Rw/banjar, kepala keluarga dan berbagai sebutannya.

Dalam kesepakatan bernegara terhimpun berbagai suku, ras, budaya, bahasa, adat istiadat, profesi    yang dikenal dengan istilah bhinneka tunggal ika.

Umat Hindu di Bali memuja kemahakuasaan Tuhan dalam manesfestaNYA sebagai yang maha kuasa, maha serpurna, yang disimbolkan dengan buah kelapa, yang bulat sempurna.

Persembahan kepada Tuhan sebagai pemilik segalanya dilakukan dengan keyakinan sebagai manusia yang berjiwa raga, melalui pikiran, kata-kata dan perbuatan.

Kekuataan keyakinan manusia pada kesempurnaan Tuhan berbeda-beda, sesuai dengan jiwa raga, kondisi dan situasinya seorang manusia. Leluhur Bali mengajarkan rasa syukur kehadapan Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai jalan: bakti (persembahan pala patra puspa toya biasanya dilakukan oleh pekerja pisik (petani,pengrajin),  jnana (persembahan berupa pengetahuan), raja persembahan berupa ketrampilan, keahlian, kebijaksanaan dalam mengelola sumber daya alam dan manusia, dyana/yoga persembahan dengan media jiwa-raga manusia itu sendiri.

Sekala-Niskala dan Makelar

Dalam perkembangan kehidupan manusia, ketika hubungan manusia dengan manusia lainnya mencangkup ruang yang lebih luas dan bersifat global. Sistem warna/pembagian tugas yang tercipta dari tata cara mengungkap rasa syukur, memerlukan perantara, yang memunculkan empat jenis warna: sudra, wesya, ksatria, dan brahmana. Untuk menjalankan kehidupan, makan, minim, rumah dll, umat Hindu mendapatkannya dengan bekerja sesuai darmanya,

Petani, pengrajin (produsen) mendapatkan hasil dari pembeli (kunsumen) barangnya secara langsung. Waisya (pedagang/perantara) mendapatkan hasil dari selisih harga produsen dan konsumen. Ksatria/pengelola mendapatkan hasil penyisihan pajak yang dibayarkan, dan inteleltual/brahmana mendapatkan hasil dari punia/sesari yang dihaturkan.

Hidup dan kehidupan tidak hanya masalah kecukupan makan minum, rumah dll. (material), juga menyangkut keamanan, kenyamanan, dan kebahagian (spiritual). Umat Hindu di Bali menyebutkan sekala-niskala yang disimbolkan dengan warna “poleng’ (hitam-putih),, sehingga harus dipimpin secara sekala-niskala, juga.

Kepala bertugas memimpin agar penerapan Pancasila berjalan lancar, aman, nyaman dan damai, sayangnya pemimpin dalam ranah negara hanya mengacu pada sektor material semata, sedang sektor spiritual terabaikan, dibiarkan berkembang liar tanpa batas.

Kepemimpin seorang gubernur, bupati/walikota dst. semestinya juga memperhatikan kesetimbangan aspek material dan spiritual, sayangnya di Bali, sektor ini terpisah benar-benar terpisah jauh.

Jika kemimpinan aspek material di Bali dibiayai, diawasi dan dikontrol oleh presiden dan lembaga yang berwenang, dalam aspek spiritual, tak dibiayai negara, sehingga tak diawasi dan tak terkontrol, sehingga berkembang liar, bebas dan nyaris tanpa batas.

Jaman dahulu, raja mengelola sektor material selalu didampingi para pendeta bijaksana yang di belakang layar memimpin sektor spiritual.

Akibatnya aspek spiritual yang didasari keyakinan pada kemahakuasaan Tuhan dengan mudah dipermainkan dimulai dari tingkatan individu, keluarga, soroh, dadia, paibon, banjar/dusun, desa/desa adat, pakraman, Bali dan Negara. Parisada dan MDA diharapkan bisa menggantikan kekosongan kehadiran Negara dalam aspek spitual menjadi hanya sekedar nama dan jabatan.

Contohnya adalah ketika krama Hindu Bali yang mengeluh tentang mahalnya   harga kelapa untuk daksina, para pemimin urusan niskala Parisada, MDA, pendeta, kelian, pengertian dan menawarkan solusi. Pengetahuan cerdas, suci dan hebat yang dimiliki tak mau, tak mampu, tak siap untuk memberikan penerang bahwa kelapa hanya simbol, hanyalah buah (benda) yang bisa dipakai sebagai sarana memuja keagungan Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri.

Buah kelapa memang kaya manfaat karena kandungan zat-zat pentingnya. Keluruhan bagian dari pohon kelapa dapat dimanfaatkan oleh manusia. Buah (daging dan airnya) dikomsumsi panggung maupun diolah menjadi minyak. Minyak kelapa mengandung 80-90 persen asam lemak jenuh (asam laurat  47 persen, asam miristat dan palmitat), bermanfaat untuk:

  • Mengurangi Risiko Perburukan Organ dan Jaringan Tubuh, Menurunkan Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah
  • Membunuh Bakteri
  • Mengurangi Rasa Lapar
  • Meningkatkan Kolesterol Baik
  • Menurunkan Kolesterol Jahat
  • Melembapkan Kulit
  • Mencegah Stretch Mark
  • Menyehatkan Kulit Kepala
  • Mengatasi Ketombe
  • Membantu Meredakan Gejala Alergi
  • Mengatasi Gigitan Serangga
  • Menyehatkan Rambut
  • Melindungi Kulit dari Sinar UV

So what? Kalau tak punya kelapa kita tak bisa memuja Tuhan, tanpa membuat daksina dari Tuhan akan marah?

Yang pertama dan paling marah adalah diri kita sendiri yang terlanjur melekat pada buah/benda yang bernama kelapa.

Mahal dan sulitnya mencari kelapa sebaiknya kita manfaatkan sebagai momentum untuk mawas diri, agar tak mudah dibohongi, dipermainkan oleh pedagang kelapa, para makelar yang mempermainkan harga barang, dan harga persembahan kita pada Tuhan.

Mari berusaha lepaskan kemelekatan pada kelapa, sebagai simbol Tuhan, ada banyak buah, benda, bahan yang bisa dipersembahan sebagai wujud rasa syukur kehadapan Tuhan.

Kemelekatan pada kelapa, semoga bisa mengantarkan kita untuk bisa secara perlahan melepaskan diri dari kemeletakan pada bentuk, warna, rupa yang bersifat material, sehingga memahami makna yang lebih esensi. Sehingga mau, mampu, dan bersemangat berkreaei untuk menciptakan beragam bersembahan yang berguna dan bermakna bagi mahluk dan alam semesta. [T]

Kesiman, Denpasar, Bali, Sabtu Wage Julungwangi, 12/4/2025

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Bali, Label dan Ogoh-ogoh
Kembang Rampe dan Kebodohan yang Dipelihara
Harmonisasi Material-Spiritual | Sebuah Renungan
Virus, Masker dan Minyak – [Sebuah Renungan]
Nyepi, Belajar pada Belalang “Makules”
Tags: hinduHindu Baliminyak kelapa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.

Next Post

Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Waspada “Cancel Culture” di Sektor Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co