13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan dalam Catatan Sejarah: Merawat Kenangan, Menjaga Rasa Kebangsaan

Pandu Adithama Wisnuputra by Pandu Adithama Wisnuputra
April 19, 2025
in Esai
Mengemas Masa Silam: Tantangan Pembelajaran Sejarah bagi Generasi Muda

Pandu Adithama Wisnuputra

BULAN April, identik dengan bulan yang mewartakan kisah dan perempuan di negeri ini. Salah satu tanggal di bulan ini, yakni  21 April tercatat sebagai tanggal penting yang dikenal dengan Hari Kartini.  Sosok perempuan asal Jepara pada tahun 1879 ini, dianggap sebagai simbol utama perjuangan kaum perempuan, tidak hanya untuk kaumnya sendiri,  melainkan juga untuk masyarakat pada umumnya.  Kiprahnya sungguh menginspirasi banyak pihak. Beliau tidak hanya terekam dalam catatan sejarah formal, melainkan juga telah hadir dalam karya seni budaya, seperti lagu dan film yang mengisahkan tentang kisah kehidupannya.

Namun demikian, sosok perempuan hebat di negeri ini tidak hanya berpusat pada RA Kartini. Ada banyak sekali tokoh perempuan luar biasa yang berkontribusi besar dalam memuliakan kehidupan masyarakat, tidak luput juga mengangkat senjata di medan laga. Mereka mengutamakan kepentingan masyarakat dan bangsa, bahkan melampaui keinginan pribadinya. Hal yang menjadikannya kita patut berbangga, karena mereka berada pada masa di mana perempuan belumlah memiliki ruang untuk berperan sebagaimana saat ini.

Sebut saja kendala sendiri dalam hal pendidikan di mana tak seperti pria, atau sering kali dianggap cukup berada di wilayah domestik dan tidak perlu berada di ruang publik. Hal tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para pejuang perempuan di masa lampau  untuk mengubah keadaan yang kaum mereka alami. Kali ini, kita akan ‘memperkenalkan’ atau lebih tepatnya ‘semakin memperkenalkan’ sejumlah perempuan yang tidak hanya hebat, tetapi juga ‘menghebatkan’ kaum dan bangsanya di masa silam. Mereka-mereka yang telah berkontribusi luar biasa dengan kisah dan kiprah nya yang luar biasa untuk negeri ini.

***

Dari bumi Priangan, ada sosok Raden Dewi Sartika yang merupakan tokoh yang masyarakat umum kenali dalam perjuangan kaum perempuan melalui jalur pendidikan. Beliau menyadari pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan setelah ibunya turut menemani ayahnya ke pengasingan di Ternate.

Raden Dewi Sartika berpikir bahwa kaum perempuan harus bisa  hidup dengan mandiri dengan memanfaatkan kemampuan yang mereka miliki. Hal itu merupakan sebuah tantangan besar melihat kondisi sosial yang tidak mendukung, baik dari pihak kolonial maupun adat setempat. Dengan bantuan bupati R.A.A Martanegara, ia mendirikan sekolah khusus kaum perempuan di kompleks Pendopo Kabupaten Bandung bernama Sakola Istri, yang nantinya diubah menjadi Sakola Kautamaan Istri pada tahun 1904, di mana kaum perempuan dapat mempelajari keterampilan seperti baca tulis, memasak, membatik, menyulam, tata krama dan lainnya.

Situasi yang sama juga dialami oleh Roehana Koeddoes di Sumatra Barat. Pendiri Sekolah Amai Setia di Koto Gadang tersebut juga mengalami hal serupa. Pada tahun 1911, beliau mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan bernama Kerajinan Amai Setia, yang dimana siswinya selain mempelajari baca tulis, juga diajarkan merakit berbagai kerajinan tangan yang juga menambah penghasilan mereka dan mendukung perekonomian Koto Gadang dari hasil kerajinan.

Selain melalui jalur sekolah, Roehana juga melakukan upaya pergerakannya melalui jalur jurnalistik di mana surat kabar Soenting Melajoe, yang didirikan tahun 1912, menjadi surat kabar pertama di Hindia Belanda yang dikelola sepenuhnya oleh kaum perempuan. Perjuangan Roehana Koeddoes, meskipun tidak seterkenal R.A Kartini maupun Dewi Sartika, tetap diabadikan dalam bentuk film biografi Soenting Melajoe yang ditayangkan di TVRI Sumatera Barat (2024) dan dalam salah satu karangan Iksaka Banu berjudul “Belenggu Emas”.

Tokoh wanita hebat dari Sulawesi Utara yang mungkin belum banyak  diketahui masyarakat adalah Maria Walanda Maramis, yang berasal dari Sulawesi Utara, yang selain memperjuangkan pendidikan, juga mendorong kaum perempuan untuk terlibat dalam politik. Ia pertama kali menyadari ada  perbedaan bagaimana ia mendapatkan pendidikan ketimbang dengan kakak laki-lakinya setelah mereka tinggal bersama paman pasca kematian orangtua mereka, yakni kakaknya dimasukan ke sekolah khusus anak pejabat pribumi yang akan menjadi pejabat di ranah pribumi.

Beliau mengkhawatirkan situasi sosial Minahasa pada saat itu di mana pendidikan layak untuk putrinya harus mengalami perjuangan panjang dan fakta kaum perempuan banyak yang melakukan pernikahan muda akibat dari sekolah yang tidak tinggi dan tidak punya kegiatan lain dalam hidup dibandingkan pria. Sehingga tahun 1917, ia mendirikan organisasi perempuan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT), wadah untuk memajukan kaum perempuan Minahasa yang menghasilkan dua proyek besar yakni majalah dan sekolah.

Proyek sekolah berhasil dalam bentuk Huishoudschool (Sekolah Rumah Tangga) di mana para perempuan yang telah tamat sekolah mengenyam pendidikan bagaimana mengurus rumah tangga secara berkualitas dengan menguasai kemampuan memasak, menyetrika, mengurus rumah hingga menghasilkan berbagai macam kerajinan untuk dijual kepada para anggota atau donatur. Beliau juga memperjuangkan kaum perempuan lewat jalur politik, di mana organisasi PIKAT digunakan untuk saling bertukar pikiran antar kaum perempuan, dan mengajukan agar perempuan bisa memilih dan dipilih untuk menjadi anggota dewan daerah yang disebut dengan Minahasa Raad.

***

Tidak saja berjuang melalui jalur pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, senyatanya di masa silam, bahkan ada yang angkat senjata terlibat langsung ke garis depan melawan para penjajah dengan mengangkat senjata.  Selain Kapitan Pattimura, ada tokoh perjuangan lain yang lebih kurang dikenal masyarakat umum Indonesia namun melekat kuat diantara memori kolektif orang-orang Maluku, yakni Martha Christina Tiahahu, yang harus meninggal pada usia yang sangat muda dimana beliau ikut serta dalam Perang Pattimura pada tahun 1817.

Martha Christina Tiahahu pada awalnya tidak diizinkan oleh ayahnya, Paulus Tiahahu, untuk ikut berperang mengingat usianya yang masih sangat muda dan statusnya sebagai perempuan akan sangat berbahaya bagi dirinya, namun setelah upaya untuk mendesak ayahnya beberapa kali, ayahnya setuju. Dia bertarung dengan berani selama Perang Pattimura sebagai pembawa senjata dan juga sebagai komandan pertempuran, dan bahkan merebut Benteng Duurstede, meski akhirnya dia dan pasukannya berhasil ditangkap oleh pasukan Belanda pada akhir 1817 dan selanjutnya dibuang ke Pulau Jawa untuk menjadi buruh kebun,  namun di pelayaran pembuangannya, tepatnya di kawasan Laut Banda dia meninggal dunia.

Sosok lain adalah Cut Nyak Meutia, yang terkadang ‘tertukar’ dengan tokoh yang lebih dikenal masyarakat, Cut Nyak Dhien. Sosok ini merupakan tokoh pejuang yang ikut berperang dalam Perang Aceh dan juga melakukan perjuangan melawan Belanda bersama suaminya. Cut Nyak Meutia, selain menjalankan kehidupan yang sangat dekat dengan agama Islam dan menjadi gadis ideal yang diidamkan banyak orang, ikut serta mendukung perlawanan ketika ia telah menginjak usia dewasa di mana Perang Aceh masih berlanjut dan berkat pengaruh orang tua yang sejak lama menentang kedatangan kekuatan Belanda. Ia berjuang melawan Belanda dengan jalan perang secara gerilya serta memimpin pasukan dan ikut serta dalam menyiapkan strategi untuk melawan Belanda.

Sosok Srikandi lainnya yang mungkin dikira berasal dari Banten namun ternyata tidak.  Nyi Ageng Serang, tokoh yang ikut berjuang dalam Perang Diponegoro. Berasal dari keluarga yang terlibat dalam perjuangan melawan ekspansi VOC melawan Kesultanan Mataram, Sosok perempuan bernama asli Kustiah Wulaningsih ini telah berjuang melawan kekuatan asing sejak berusia muda bahkan sebelum terjadinya Perang Diponegoro, di mana ia mengetahui perjuangan ayahnya, Panembahan Notoprojo.

Meskipun memahami bahwa adat pada masa itu tidak setuju jika perempuan ikut berjuang secara gamblang dan menggelegar, beliau tetap melakukan perjuangan dan bersama dengan rakyat dengan sifatnya yang amat gigih, lincah, pintar berstrategi, pantang menyerah, berjiwa spiritual dan berjiwa juang yang tinggi bahkan di usia yang tidak lagi muda. Kedekatannya dengan rakyat menambah jumlah para pejuang.

Dia ikut berjuang bersama cucunya Raden Papak ikut serta bersama sang pangeran sebagai komandan serta perancang strategi jitu yang dapat membuat tentara Belanda kewalahan. Salah satunya dengan menggunakan taktik perang gerilya secara sembunyi-sembunyi dan taktik menggunakan penyamaran kamuflase dan daun lumbu, dimana musuh akan sulit melihat lawan karena setiap kepala lawan ditutupi dengan daun lumbu, yang akan bermanfaat jika di daerah penuh tumbuhan. Perjuangan beliau dilakukan di berbagai daerah di Jawa Tengah selama Perang Diponegoro terjadi dan terus melakukan perlawanan yang berliku liku hingga ia wafat sebelum perang selesai pada 1828.

Sesungguhnya masih banyak lagi para perempuan hebat yang ada dalam lintasan sejarah perjuangan bangsa ini, namun belum banyak dinarasikan dalam dokumen riwayat sejarah formal. Sejumlah tokoh yang tersebut di atas adalah sebagian kecil saja yang lebih terdokumentasikan dalam kiprahnya.  Hampir bisa dipastikan, bila kita memiliki catatan atau arsip yang lebih rapi, kita akan lebih banyak menemukan kisah para perempuan  luar biasa di masa silam yang turut serta mewarnai perjalanan bangsa ini.

Tentu saja, ini akan memperkaya pengetahuan, wawasan, sekaligus rasa kecintaan terhadap tanah air. Serta yang tidak kalah pentingnya adalah, menjaga dengan sebaik-baik negeri yang diwariskan kepada anak cucunya agar selalu menjadi negeri yang dicita-citakan para pendiri bangsa. [T]

Penulis: Pandu Adithama Wisnuputra
Editor: Adnyana Ole

Merayakan Gagasan Perempuan di Panggung Teater | Catatan Pentas ”Karena Aku Perempuan” di Galeri Indonesia Kaya
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak
Arsitek Perempuan, ke Mana Perginya?
Tags: Perempuansejarah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali pada Persimpangan Budaya: Bunuh Diri hingga Mahalnya Harga Buah Kelapa

Next Post

Nikmat yang Sama  —  Ini Cerita Pawai Ogoh-ogoh Festival Jeron Beteng Yogyakarta

Pandu Adithama Wisnuputra

Pandu Adithama Wisnuputra

Mahasiswa Program Sarjana Ilmu Sejarah, Universitas Padjadjaran, Bandung

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Nikmat yang Sama  —  Ini Cerita Pawai Ogoh-ogoh Festival Jeron Beteng Yogyakarta

Nikmat yang Sama  --  Ini Cerita Pawai Ogoh-ogoh Festival Jeron Beteng Yogyakarta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co