6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arsitek Perempuan, ke Mana Perginya?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
October 1, 2024
in Esai
Arsitek Perempuan, ke Mana Perginya?

Arsitek perempuan yang melaksanakan pameran di Uma Seminyak | Foto: Gede Maha Putra

DUNIA arsitektur di Bali saat ini sangat semarak dengan banyaknya proyek berbagai skala dibangun. Di tepian pegunungan Kintamani, sepanjang alur sungai di Sidemen, di kawasan padat Ubud menyebar hingga pelosok, dan jangan ditanya kawasan tepian pantai. Bangunan besar dan kecil dengan desain-desain unik dan menarik bertebaran bak jamur di musim hujan. Siapa yang merancang? Ada berapa arsitek perempuan yang terlibat dalam proses perwujudannya?

Sebuah diskusi menarik tersaji di Uma Seminyak dalam acara MBloc Design Week dengan tema “Arsitek Perempuan”. Pembicaraan ini muncul ke permukaan setelah melihat data jumlah arsitek perempuan yang berpraktik ternyata jauh di bawah lawan jenisnya. Ini menjadi semakin menarik jika kita melihat jumlah mahasiswi arsitektur di beberapa perguruan tinggi justru lebih dominan dibandingkan dengan mahasiswa.

Fenomena meningkatnya proporsi mahasiswi ini terjadi dalam tiga atau empat tahun terakhir, bahkan di beberapa perguruan tinggi jumlahnya melampaui mahasiswa. Akan tetapi, saat kita melihat data setelah mereka tamat, jumlah arsitek pria justru sangat dominan. Maka muncul pertanyaan, ke mana perginya para arsitek perempuan?

Terdapat 5 arsitek perempuan—dan saya sendiri terjebak, menjadi satu-satunya narasumber pria—dalam diskusi tersebut. Alih-alih memberi banyak pandangan, saya memilih untuk lebih banyak mendengar, karena juga penasaran dengan pertanyaan tentang menghilangnya arsitek perempuan. Berikut adalah rangkuman dari diskusi yang ada dalam catatan saya.

Arsitek perempuan bicara tentang kesetaraan gender di dunia arsitektur | Foto: Gede Maha Putra

Selama ini kita mengenal ada dua kubu besar rumpun keilmuan, yaitu eksakta dan sosial. Ini berakar jauh hingga ke penjurusan pada saat kita di bangku Sekolah Menengah Atas dengan dua jurusan IPA dan IPS. Akibatnya, bidang desain ada di posisi liminal, ia bukan di eksakta dan juga bukan di sosial.

Sudah sejak awal 1980-an ada upaya untuk membuat satu rumpun besar ilmu desain tetapi belum berhasil. Karakter ilmu desain adalah menghasilkan sebuah rancangan/desain. Ini berbeda dengan penemuan kebenaran yang dapat dibuktikan dengan angka yang merupakan karakter ilmu eksakta yang mempelajari fenomena alam. Sementara dalam bidang ilmu sosial, yang menjadi fokus adalah perilaku masyarakat. Kedua bidang ilmu ini tidak bertanggung jawab dalam penciptaan.

Dalam bidang ilmu desain, seorang desainer dituntut pertama untuk mampu melakukan analisis terhadap persoalan, baik sosial maupun eksakta, lalu dari sana mengembangkan alternatif-alternatif yang harus terus diuji. Proses pengujian tidak pernah linier, seringkali bersifat random.

Setelah itu, alternatif-alternatif tersebut akan dipilih dan dikembangkan menjadi sebuah produk. Dari sini, seorang desainer tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan critical dan strategic thinking; tetapi juga design thinking. Tidak mengherankan jika arsitek identik dengan lembur karena analisis, pengembangan alternatif, proses penentuan dan pengembangan pilihan dari alternatif mensyaratkan proses yang panjang dan komitmen tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Bekerja long hour menjadi lekat dengan profesi arsitek. Ini bukan perkara gampang. Salah satu arsitek wanita paling terkenal, Zaha Hadid, menyebutkan dalam quote-nya yang legendaris, “If you want an easy life, don’t be an architect.”

Pekerjaan yang membutuhkan waktu dan komitmen panjang ini dalam beberapa hal bersingugngan dengan karakter wanita yang tidak ada dalam diri laki-laki. Setiap perempuan normal harus mengahadapi siklus bulanan bernama menstruasi. Selanjutnya, saat sudah berumah tangga, maka akan mengalami hamil dengan berbagai macam gejalanya.

Arsitek perempuan yang melaksanakan pameran di Uma Seminyak | Foto: Gede Maha Putra

Dan setelah melahirkan, wanita harus menyusui anaknya dan, dalam banyak kasus, menemani anak menjalani masa-masa awal kehidupannya di muka bumi. Hal ini pun membutuhkan komitmen yang tinggi. Proses yang tidak dialami pria ini banyak menyita waktu setiap perempuan. Pada saat harus bersingungan dengan dunia profesional di bidang arsitektur, terdapat potensi benturan yang tinggi jika hal ini tidak dikelola dengan baik.

Dalam beberapa kasus, seperti yang dialami salah satu narasumber, para perempuan ini kadang merasa iri dengan compatriot prianya yang tidak mengalami hal-hal yang mereka harus lalui sebagai seorang perempuan.

Kondisi berikutnya yang menjadi tantangan bagi lulusan arsitek perempuan untuk berkarier datang dari lingkungan kerja, baik di kantor maupun di proyek atau di lapangan. Sudah cukup lama dan menjadi pengetahuan umum jika kantor-kantor dan pekerjaan lapangan di bidang rancang bangun merupakan tempat yang didominasi pria.

Lingkungan di mana wanita menjadi minoritas bisa jadi cukup rawan mengundang potensi terjadinya pelecehan dalam berbagai tingkatan mulai dari catcalling hingga yang cukup berat. Bahkan, sebelum terjadinya tindakan tersebut pun sebenarnya lingkungan semacam itu sudah cukup mengintimidasi wanita untuk masuk ke dalamnya.

Kita mungkin masih ingat kejadian saat lima orang karyawan perempuan di kantor arsitek ternama Richard Meier menuntut agar sang arsitek mundur karena mereka merasa menjadi korban pelecehan. Ini bisa jadi hanya puncak dari gunung es yang lebih besar.

Untuk berani memasuki dunia semacam itu, wanita lulusan pendidikan arsitektur dituntut untuk memiliki mental, rasa percaya diri, dan kemampuan untuk menghindar yang kuat selain juga sudah dibekali dengan pengatahuan dan skill merancang yang baik. Bandingkan dengan arsitek pria di mana tantangan-tantangan semacam itu tidak mereka hadapi.

Diskusi terbuka tentang peran dan tantangan arsitek perempuan di dunia profesional | Foto: Gede Maha Putra

Lingkungan sosial, terutama yang berkaitan dengan adat di Bali, yang cukup mengikat juga terungkap dalam diskusi. Dari lima narasumber, tiga di antaranya menyebutkan bahwa mereka harus tetap menjalani kehidupan sosial dalam bentuk ‘ngayah’, baik di banjar ataupun di pura yang ada di lingkungannya. Kesibukan-kesibukan ini membuat para arsitek -erempuan narasumber mengatakan jika mereka tidak bisa melepaskan diri dari kalender Bali.

Kalender ini memuat informasi tentang hari-hari penting di mana ritual harus dijalani. Meskipun cukup menyita waktu, disebutkan jika kegiatan ini masih bisa diatur. Anggota masyarakat adat saat ini disebutkan cukup fleksibel dalam mensyaratkan seseorang untuk terjun dalam setiap kegiatan. Ada keluwesan dan kelonggaran di Masyarakat mengingat saat ini hampir semua wanita juga harus bekerja mencari nafkah.

Kelonggaran-kelonggaran ini membuat para narasumber menyebutkan jika hal ini tidak begitu menjadi hambatan bagi pengembangan karier mereka. Ditambah lagi jika kita melihat bahwa praktik berarsitektur melibatkan proses kontemplasi dalam membuat dan menentukan alternatif-alternatif. Kontemplasi ini bisa saja terjadi saat mereka sedang melakukan kegiatan adat.

Saat ini, isu tentang kesetaraan gender sudah bukan lagi barang baru. Upaya untuk menciptakan kesamaan dalam berbagai level ini harus diupayakan oleh semua pihak, termasuk mereka yang terlibat dalam dunia rancang bangun.

Menjadi tanggung jawab sosial masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi arsitek perempuan untuk dapat bekerja dan produktif setara dengan rekan prianya. Ini menjadi agenda penting jika dunia arsitektur ingin menjadi bagian yang memperjuangkan equality dalam bidang pekerjaannya—yang selama ini didominasi kaum pria.

Jika hal itu dapat terwujud, maka kita akan menyaksikan lebih banyak perempuan lulusan sekolah arsitektur yang bekerja menjadi arsitek profesional.[T]

Editor: Jaswanto

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Arsitektur Tempelan – Arsitektur Bali dalam Ruang Modern
Tags: arsitek perempuanarsitekturarsitektur bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Bahasa Isyarat Internasional: Wadah Inklusif Masyarakat Tuli dan Dengar

Next Post

Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails
Next Post
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali

Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co