26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arsitek Perempuan, ke Mana Perginya?

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
October 1, 2024
in Esai
Arsitek Perempuan, ke Mana Perginya?

Arsitek perempuan yang melaksanakan pameran di Uma Seminyak | Foto: Gede Maha Putra

DUNIA arsitektur di Bali saat ini sangat semarak dengan banyaknya proyek berbagai skala dibangun. Di tepian pegunungan Kintamani, sepanjang alur sungai di Sidemen, di kawasan padat Ubud menyebar hingga pelosok, dan jangan ditanya kawasan tepian pantai. Bangunan besar dan kecil dengan desain-desain unik dan menarik bertebaran bak jamur di musim hujan. Siapa yang merancang? Ada berapa arsitek perempuan yang terlibat dalam proses perwujudannya?

Sebuah diskusi menarik tersaji di Uma Seminyak dalam acara MBloc Design Week dengan tema “Arsitek Perempuan”. Pembicaraan ini muncul ke permukaan setelah melihat data jumlah arsitek perempuan yang berpraktik ternyata jauh di bawah lawan jenisnya. Ini menjadi semakin menarik jika kita melihat jumlah mahasiswi arsitektur di beberapa perguruan tinggi justru lebih dominan dibandingkan dengan mahasiswa.

Fenomena meningkatnya proporsi mahasiswi ini terjadi dalam tiga atau empat tahun terakhir, bahkan di beberapa perguruan tinggi jumlahnya melampaui mahasiswa. Akan tetapi, saat kita melihat data setelah mereka tamat, jumlah arsitek pria justru sangat dominan. Maka muncul pertanyaan, ke mana perginya para arsitek perempuan?

Terdapat 5 arsitek perempuan—dan saya sendiri terjebak, menjadi satu-satunya narasumber pria—dalam diskusi tersebut. Alih-alih memberi banyak pandangan, saya memilih untuk lebih banyak mendengar, karena juga penasaran dengan pertanyaan tentang menghilangnya arsitek perempuan. Berikut adalah rangkuman dari diskusi yang ada dalam catatan saya.

Arsitek perempuan bicara tentang kesetaraan gender di dunia arsitektur | Foto: Gede Maha Putra

Selama ini kita mengenal ada dua kubu besar rumpun keilmuan, yaitu eksakta dan sosial. Ini berakar jauh hingga ke penjurusan pada saat kita di bangku Sekolah Menengah Atas dengan dua jurusan IPA dan IPS. Akibatnya, bidang desain ada di posisi liminal, ia bukan di eksakta dan juga bukan di sosial.

Sudah sejak awal 1980-an ada upaya untuk membuat satu rumpun besar ilmu desain tetapi belum berhasil. Karakter ilmu desain adalah menghasilkan sebuah rancangan/desain. Ini berbeda dengan penemuan kebenaran yang dapat dibuktikan dengan angka yang merupakan karakter ilmu eksakta yang mempelajari fenomena alam. Sementara dalam bidang ilmu sosial, yang menjadi fokus adalah perilaku masyarakat. Kedua bidang ilmu ini tidak bertanggung jawab dalam penciptaan.

Dalam bidang ilmu desain, seorang desainer dituntut pertama untuk mampu melakukan analisis terhadap persoalan, baik sosial maupun eksakta, lalu dari sana mengembangkan alternatif-alternatif yang harus terus diuji. Proses pengujian tidak pernah linier, seringkali bersifat random.

Setelah itu, alternatif-alternatif tersebut akan dipilih dan dikembangkan menjadi sebuah produk. Dari sini, seorang desainer tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan critical dan strategic thinking; tetapi juga design thinking. Tidak mengherankan jika arsitek identik dengan lembur karena analisis, pengembangan alternatif, proses penentuan dan pengembangan pilihan dari alternatif mensyaratkan proses yang panjang dan komitmen tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Bekerja long hour menjadi lekat dengan profesi arsitek. Ini bukan perkara gampang. Salah satu arsitek wanita paling terkenal, Zaha Hadid, menyebutkan dalam quote-nya yang legendaris, “If you want an easy life, don’t be an architect.”

Pekerjaan yang membutuhkan waktu dan komitmen panjang ini dalam beberapa hal bersingugngan dengan karakter wanita yang tidak ada dalam diri laki-laki. Setiap perempuan normal harus mengahadapi siklus bulanan bernama menstruasi. Selanjutnya, saat sudah berumah tangga, maka akan mengalami hamil dengan berbagai macam gejalanya.

Arsitek perempuan yang melaksanakan pameran di Uma Seminyak | Foto: Gede Maha Putra

Dan setelah melahirkan, wanita harus menyusui anaknya dan, dalam banyak kasus, menemani anak menjalani masa-masa awal kehidupannya di muka bumi. Hal ini pun membutuhkan komitmen yang tinggi. Proses yang tidak dialami pria ini banyak menyita waktu setiap perempuan. Pada saat harus bersingungan dengan dunia profesional di bidang arsitektur, terdapat potensi benturan yang tinggi jika hal ini tidak dikelola dengan baik.

Dalam beberapa kasus, seperti yang dialami salah satu narasumber, para perempuan ini kadang merasa iri dengan compatriot prianya yang tidak mengalami hal-hal yang mereka harus lalui sebagai seorang perempuan.

Kondisi berikutnya yang menjadi tantangan bagi lulusan arsitek perempuan untuk berkarier datang dari lingkungan kerja, baik di kantor maupun di proyek atau di lapangan. Sudah cukup lama dan menjadi pengetahuan umum jika kantor-kantor dan pekerjaan lapangan di bidang rancang bangun merupakan tempat yang didominasi pria.

Lingkungan di mana wanita menjadi minoritas bisa jadi cukup rawan mengundang potensi terjadinya pelecehan dalam berbagai tingkatan mulai dari catcalling hingga yang cukup berat. Bahkan, sebelum terjadinya tindakan tersebut pun sebenarnya lingkungan semacam itu sudah cukup mengintimidasi wanita untuk masuk ke dalamnya.

Kita mungkin masih ingat kejadian saat lima orang karyawan perempuan di kantor arsitek ternama Richard Meier menuntut agar sang arsitek mundur karena mereka merasa menjadi korban pelecehan. Ini bisa jadi hanya puncak dari gunung es yang lebih besar.

Untuk berani memasuki dunia semacam itu, wanita lulusan pendidikan arsitektur dituntut untuk memiliki mental, rasa percaya diri, dan kemampuan untuk menghindar yang kuat selain juga sudah dibekali dengan pengatahuan dan skill merancang yang baik. Bandingkan dengan arsitek pria di mana tantangan-tantangan semacam itu tidak mereka hadapi.

Diskusi terbuka tentang peran dan tantangan arsitek perempuan di dunia profesional | Foto: Gede Maha Putra

Lingkungan sosial, terutama yang berkaitan dengan adat di Bali, yang cukup mengikat juga terungkap dalam diskusi. Dari lima narasumber, tiga di antaranya menyebutkan bahwa mereka harus tetap menjalani kehidupan sosial dalam bentuk ‘ngayah’, baik di banjar ataupun di pura yang ada di lingkungannya. Kesibukan-kesibukan ini membuat para arsitek -erempuan narasumber mengatakan jika mereka tidak bisa melepaskan diri dari kalender Bali.

Kalender ini memuat informasi tentang hari-hari penting di mana ritual harus dijalani. Meskipun cukup menyita waktu, disebutkan jika kegiatan ini masih bisa diatur. Anggota masyarakat adat saat ini disebutkan cukup fleksibel dalam mensyaratkan seseorang untuk terjun dalam setiap kegiatan. Ada keluwesan dan kelonggaran di Masyarakat mengingat saat ini hampir semua wanita juga harus bekerja mencari nafkah.

Kelonggaran-kelonggaran ini membuat para narasumber menyebutkan jika hal ini tidak begitu menjadi hambatan bagi pengembangan karier mereka. Ditambah lagi jika kita melihat bahwa praktik berarsitektur melibatkan proses kontemplasi dalam membuat dan menentukan alternatif-alternatif. Kontemplasi ini bisa saja terjadi saat mereka sedang melakukan kegiatan adat.

Saat ini, isu tentang kesetaraan gender sudah bukan lagi barang baru. Upaya untuk menciptakan kesamaan dalam berbagai level ini harus diupayakan oleh semua pihak, termasuk mereka yang terlibat dalam dunia rancang bangun.

Menjadi tanggung jawab sosial masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman bagi arsitek perempuan untuk dapat bekerja dan produktif setara dengan rekan prianya. Ini menjadi agenda penting jika dunia arsitektur ingin menjadi bagian yang memperjuangkan equality dalam bidang pekerjaannya—yang selama ini didominasi kaum pria.

Jika hal itu dapat terwujud, maka kita akan menyaksikan lebih banyak perempuan lulusan sekolah arsitektur yang bekerja menjadi arsitek profesional.[T]

Editor: Jaswanto

BACA artikel tentang ARSITEKTUR atau artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Limit Arsitektur dalam Menyongsong Abad Urban
Arsitektur Regeneratif dan Pembangunan Kapitalistik : Menuliskan Bali dan Arsitektur Desa Potato Seminyak
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Arsitektur Tempelan – Arsitektur Bali dalam Ruang Modern
Tags: arsitek perempuanarsitekturarsitektur bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Bahasa Isyarat Internasional: Wadah Inklusif Masyarakat Tuli dan Dengar

Next Post

Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

Read moreDetails

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails
Next Post
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali

Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co