2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 10, 2024
in Esai
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi

Salah satu bangunan di Singapura | Foto-foto: Gede Maha Putra

SINGAPURA memiliki luas wilayah yang relatif kecil,  bahkan yang paling kecil, jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Meski demikian, negara ini justru menjadi yang paling sejahtera secara ekonomi, paling siap secara infrastruktur, paling maju dari sisi pendidikan, serta memiliki pendapatan per-kapita paling tinggi di kawasan yang, secara tradisional, merupakan titik pertemuan perdagangan antara China dan Jepang di timur, dan India, Arab, serta Eropa di barat. Posisinya yang strategis inilah yang bisa dioptimalkan menjadi sumber pembangunan negara-kota ini.

Keuntungan dan keunggulan yang dimilikinya membuat Singapura menjadi magnet sejak masa prakolonial.

Penduduk Singapura merupakan campuran berbagai etnis di Asia dan kini juga etnis Eurasia. Kondisi ini serupa dengan kota-kota pelabuhan pada masa prakolonial hingga masa kolonial.

Pada masa itu, pelabuhan-pelabuhan menjadi kawasan metropolitan. Penguasa pribumi di pedalaman menjadi pemasok hasil pertanian sementara pengelolaan pelabuhan ditangani oleh etnis China yang sekaligus juga menjadi pemasok bahan dagangan dari kawasan Asia Timur.

Penduduk etnis India dan Arab memasok material dari Asia Barat hingga Eropa. Penduduk berbeda etnis ini menjakankan adat budaya dan agamanya masing-masing serta tinggal di kampung yang saling terpisah antara satu kelompok dengan yang lain. Di pelabuhan terjadi divisi pekerjaan yang membuat tata kelola pelabuhan dapat berjalan. Kepentingan ekonomi merupakan alat yang menyatukan kelompok yang berbeda ini. Ini adalah Plural society yang disebutkan oleh JS Furnival.

Kemajuan ekonomi yang diperoleh Singapura melalui cara kerja tersebut mampu secara pesat meningkatkan perekonomian negaranya. Lapangan pekerjaan yang kini tersedia melimpah di kota pelabuhan ini menarik minat orang dari negara lain, terutama negara tetangga, untuk datang mengadu peruntungan.

Data statistik menunjukkan bahwa lebih dari seperempat dari total 5,64 juta penduduk adalah pendatang. Artinya, satu dari setiap empat orang penduduk merupakan yang tidak lahir di negara tersebut. Tingginya aktivitas ekonomi membuat jumlah penduduk luar negara terus bertambah.

Tingkat pertumbuhan jumlah penduduk ada di angka 3,4% dari bulan Juni 2021 ke Juni 2022. Angka ini cukup jauh dari pertumbuhan penduduk dunia sebesar 1.19 % per tahun selama periode 2011-2021.

Jumlah penduduk tersebut mendiami pulau yang minim sumber daya alam. Laporan Singapore Food Statistik tahun 2021 menyebutkan hanya 1% lahan negara tersebut disiapkan untuk memproduksi makanan. Akibatnya, 90% bahan pangan harus diimpor.

Keterbatasan lahan nampaknya juga mempengaruhi strategi pembangunan fisik yang dilakukan termasuk upaya penyediaan permukiman.

Selama tiga hari berkeliling ke beberapa tempat, gedung-gedung kotak tinggi mendominasi pemandangan di luar jendela bus. Itulah rumah susun hingga apartemen di mana penduduk tinggal. Pemerintah sangat membatasi rumah tapak demi menghemat lahan.

Pembangunan gedung-gedung tinggi membutuhkan material-material beton dan tenaga kerja dalam jumlah besar. Keduanya juga dipenuhi oleh supply dari luar negara. Beton-beton struktural dibungkus dengan material lembaran-lembaran metal dan kaca berbagai ukuran sebagai kulit utama bangunan.

Salah satu gedung di Singapura | Foto: Gede Maha Putra

Bahan-bahan bangunan tersebut bukanlah yang ramah terhadap lingkungan dan sering dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan. Akan tetapi, kebutuhan ruang yang terus bertambah membuatnya terus dipakai. Untuk itu, bangun-bangunan harus dibuat tahan lama untuk bertahan ratusan tahun. Selain menghemat biaya konstruksi, ini juga bertujuan memperpanjang usia bangunan, mencegah bongkar-bangun yang akan semakin merusak lingkungan.

Proses konstruksi bukan satu-satunya faktor merusak lingkungan dalam dunia tantangan bangun. Justru operasional dan perawatan bangunan bisa menjadi penyumbang dampak buruk terbesar. Kebutuhan energi untuk menerangi ruangan, menurunkan suhu di dalam bangunan agar para pengguna gedung merasa dan, untuk mesin-mesin yang membantu menaikturunkan manusia dari lantai ke lantai bisa menyumbangkan dampak negatif yang sangat besar.

Hal ini mendorong pemerintah mendukung setiap pembangunan yang memberi ruang hidup yang memadai bagi tumbuhan dan hewan melalui pemberian insentif. Insentif diberikan jika pengembang mampu meyakinkan pemerintah bahwa aktivitas pembangunan fisik yang mereka lakukan mampu menekan penggunan energi semaksimal mungkin hingga mendekati nol bahkan surplus, mampu mengelola air hujan dan limbah di dalam wilayah propertynya dan hal positif lain.

Di National University of Singapore, para perancang dan kontraktor bekerja bahu membahu untuk membangun pengetahuan yang mampu mendukung upaya mengurangi penggunaan energi dalam proses konstruksi dan operasional bangunan sekaligus menjamin keberlanjutan  negara dengan keterbatasan luas wilayah ini. Mempelajari kembali pengetahuan nenek moyang dan menerapkanya dengan penyesuaian terhadap konteks hari ini menghasilkan bangunan yang hemat energi.

Salah satu gedung di Singapura | Foto: Gede Maha Putra

Bangunan-bangunan dibuat porous, tidak masif, sehingga angin dapat bergerak bebas di sebagian ruangan yang sengaja dirancang minim sekat. Atap dibuat lebar sehingga bayangannya menaungi permukaan bangunan sekaligus menghindari tempias hujan.

Dalam kondisi dimana sekat tidak terelakkan, pendingin ruangan diatur untuk bekerja dalam suhu 28 derajat. Pendinginan dibantu kipas sehingga suhu 28 derajat tersebut terasa sekitar 24 derajat saja. Strategi ini meringankan kerja mesin, mengurangi penggunaan daya, sekaligus memperpanjang usia pakainya.

Finishing bangunan diaplikasikan seperlunya. Sebagian besar plafond dibiarkan terbuka memperlihatkan jaringan utilitas pipa air dan kabel listrik. Selain menghemat bahan, ini juga bisa menjadi bahan ajar bagi mahasiswa arsitektur.

Tindakan dan intervensi strategi desain baru untuk menjadikan bangunannya ramah lingkungan tidak hanya terjadi di bagian interior tetapi juga eksterior. Pohon-pohon besar dan kecil mendominasi halaman. Sekilas nampak seperti hutan.

Rewilding, demikian penjelasan salah satu profesor arsitektur tentang konsep tata hijau kampus terkemuka di dunia ini. Rewilding kurang lebih memiliki makna memberikan kesempatan kepada pepohonan untuk tumbuh sesuai kodratnya. Seperti di hutan. Ini juga membuat species berbagai binatang hadir di kampus.

Serangga, mamalia, juga burung hidup berdampingan, beraktivitas bersama para mahasiswa. Ini sering juga disebut dengan istilah biophilia sebagaimana dicetuskan oleh Edward O. Wilson.

Biophilia sebagai strategi desain nampaknya cocok dengan kondisi Singapura dimana keterbatasan lahan harus berhadapan dengan tingginya intensitas pembangunan. Membiarkan unsur alam untuk turut hadir dalam bangunan bisa menjadi penyeimbang tumbuh pesatnya tiang-tiang beton vertikal.

Baik pemerintah maupun masyarakat sepertinya menyadari keterbatasan sumber daya yang mereka miliki. Hal ini memberi sedikit tekanan bagi arsitek, desainer dan pengembang untuk terus melakukan inovasi.

Sekolah-sekolah arsitektur tidak hanya menjadi penyumbang lulusan tetapi sekaligus berperan sebagai laboratorium uji coba temuan atau ide baru, menghasilkan penelitian tepat guna yang membantu terwujudnya visi bersama.

Hasil dari kesadaran  bersama  dengan dukungan kebijakan pemerintah dan sumbangan pemikiran serta hasil kerja perguruan tinggi nampak nyata. Dalam lebih dari satu dekade terakhir banyak bangunan-bangunan yang telah diwujudkan untuk bekerja dalam konsep biophilia. Ini tentu membantu menciptakan ruang hidup yang baik bagi penduduk serta lingkungan alamiah negara tetangga Indonesia ini.

Akan tetapi tantangan tidak hanya datang dari dalam tetapi juga dari luar. Impor bahan makanan yang sangat tinggi rentan gangguan masalah distribusi. Persoalan pada rantai pasok bisa mengakibatkan kekacauan.

Ruang hijau pada salah satu gedung di Singapura | Foto: Gede Maha Putra

Upaya untuk menanam edible food di taman serta mengembangkan pertanian vertikal kini diupayakan. Selain itu, ada persoalan lain yang muncul dari strategi arsitektural yang terlihat seragam. Meski saya merasakan kenyamanan, entah mengapa tidak terasa hal yang menyentuh ‘rasa’.

Ada rasa tidak terkoneksi secara emosional. Pernyataan ini tentu sangat personal dan cenderung bias karena latar belakang saya yang tumbuh dan berkembang di lingkungan dengan latar belakang ikatan budaya yang kental. [T]

Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Pendidikan Arsitektur Berbasis Kearifan Lokal Nusantara
Sekilas “Membaca” Arsitektur Kota Singaraja
Tags: arsitekturarsitektur kotaKotapendidikan arsitekturSingapura
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tiba-tiba Nikah!

Next Post

Seribu Mahasiswi Undiksha Menari Joged Bumbung Serentak, Bayangkan Betapa Hebohnya…

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Seribu Mahasiswi Undiksha Menari Joged Bumbung Serentak, Bayangkan Betapa Hebohnya…

Seribu Mahasiswi Undiksha Menari Joged Bumbung Serentak, Bayangkan Betapa Hebohnya...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co