22 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Asmarani Pamela Paganini by Asmarani Pamela Paganini
December 29, 2024
in Khas
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Tari Berugak Elen | Foto: theboleng

SUATU sore saya janjian dengan seorang teman bernama Irma Septiana di sebuah kedai kopi di Kawasan Udayana, Kota Mataram. Sedikit perkenalan soal Irma, ia adalah lulusan program studi seni, drama, tari, dan musik Universitas Nahdlatul Ulama, NTB, yang kini mengajar di SMKN 2 Lingsar.

Pertemuan ini awalnya hanya sebatas temu kangen kawan proyekan yang sudah lama tidak berjumpa. Seperti ritual nongkrong pada umumnya, saya membuka obrolan dengan menanyakan kabar dan beberapa aktivitasnya yang saya pantau lewat media sosial.

Irma memang tipikal lawan bicara yang asik, semua pertanyaan dijawab dengan penuh kehebohan. Responnya membuat saya ingin terus menerus memperpanjang obrolan.

Apa yang kemudian membuat perbincangan menjadi serius adalah ketika kami membahas tentang Tari Berugak Elen karyanya yang belakangan dipentaskan di mana-mana.

Sesungguhnya saya belum pernah menyaksikan secara langsung garapan koreografi ini. Akan tetapi, karena videonya kerap muncul dalam unggahan teman-teman saya di media sosial, maka sedikit banyak saya telah menyimak bagaimana wujud tarian tersebut.

Dari kumpulan video tadi, saya menyimpulkan bahwa Tari Berugak Elen merupakan sebuah tari hiburan menggunakan iringan lagu berjudul Berugak Elen yang dibawakan oleh sekelompok remaja perempuan.

Lagu Berugak Elen tergolong lagu sasak popular di Pulau Lombok. Lagu ini diciptakan oleh Hermanto yang selanjutnya banyak di-cover oleh pemusik lain dalam berbagai versi.

Salah satu cover yang banyak menyita telinga para pendengar adalah karya Antero yang dinyanyikan oleh Afria. Versi ini dipublikasikan di kanal You Tube Antero Musik Digital empat tahun lalu dan telah ditonton sebanyak 956 ribu kali.

Seperti lagu Sasak pada umumnya, karya cover yang satu ini dapat menstimulus pendengar untuk berjoget mengikuti irama lagu. Lantunan vokal yang mengayun-ayun, juga semakin menambah kenikmatan lagu. Mungkin itulah alasan mengapa salah seorang rekan kantor Irma memintanya untuk membuat garapan tari menggunakan lagu ini. Selain karena memang sudah banyak pula video-video tari dengan musik iringan Berugak Elen yang tersebar di platform You Tube.

Tari Berugak Elen | Foto: theboleng

Irma mengakui bahwa pada awalnya ia kurang berminat untuk menuruti permintaan rekannya tersebut, lantaran lagu ini bukanlah selera musiknya. Di samping itu, selama proses mempelajari seni tari semasa kuliah dulu, musik iringan tari yang dipakai hanya berupa komposisi musik tradisional atau perpaduan musik tradisional dan modern. Sedangkan kali ini, ia dihadapkan pada sebuah lagu.

Unsur lagu yang akhirnya menjadi pintu masuk Irma dalam mengeksplorasi gerak adalah lirik lagu. Lirik dari lagu Berugak Elen (terjemahan: berugak sejuk) menggunakan Bahasa Sasak yang merupakan bahasa daerah dari Suku Sasak, suku mayoritas di Pulau Lombok.

Dengan menghadirkan pola-pola sesenggak atau pantun khas Sasak, lagu Berugak Elen berisi ungkapan pujian serta perasaan cinta seorang laki-laki kepada perempuan dambaan hatinya. Muatan lirik lagu tersebut direinterpretasikan oleh Irma sebagai sesuatu yang dirasakan justru oleh pihak sebaliknya, sehingga gerak tari yang digunakan adalah gerak yang merepresentasikan sosok perempuan yang sedang kasmaran.

Pada aransemen gerak tari, Irma banyak dipengaruhi oleh tubuh penari sasak yang memiliki motif gerak dasar tersendiri. Motif gerak ini termuat dalam buku “Tari Gandrung Lombok” karya Dra. H. Sri Yaningsih, di antaranya Tapak Enggang—salah satu kaki (kanan atau kiri) berada di depan searah dengan miring telapak kaki tersebut dan kedua tumit kurang lebih berjarak satu genggam, Ngebah—mgerakan membuka  tangan ke samping kanan dan kiri, Ngintek—mmenggelengkan kepala ke kanan dan kiri, dan Bapang—posisi kaki tapak enggang, kemudian digerakkan bergantian ke depan, diikuti dengan gerakan tangan di depan antara wajah secara bergantian hingga lurus ke samping.

Motif dasar tari sasak tersebut juga dikombinasikan dengan unsur-unsur gerak melayu serta gerakan lainnya yang diperoleh dari hasil eksplorasi selama proses.

Komposisi koreografi Tari Berugak Elen bertumpu pada pola lantai yang variatif. Hal ini dilakukan oleh Irma karena tiga alasan.

Pertama, para penari yang akan menampilkan tarian ini berada pada level pemula, sehingga Irma cenderung memilih gerakan yang sederhana dan repetitif.

Kedua, lagu Berugak Elen adalah lagu yang monoton, maka pola lantai menjadi alternatif bagi Irma agar tarian tidak tampak membosankan.

Ketiga, penerapan ragam pola lantai berfungsi untuk menonjolkan setiap penari yang ada.

Maka dari itu, dalam alur tarian ini kita tidak akan menemukan banyak perubahan gerak, melainkan perubahan arah dan perpindahan penari.

Mereka yang berparas cantik menurut standar masyarakat umum sering kali ditempatkan di posisi sentral atau memimpin barisan dalam sebuah pementasan tari. Fenomena lain yang biasanya terjadi adalah barisan belakang akan diisi oleh penari-penari yang belum begitu mahir atau bahkan belum menghafal gerak tari.

Irma mencoba untuk menentang hal tersebut. Ia berpendapat bahwa pembiaran terhadap tindakan tadi malah akan melahirkan penari yang tidak percaya diri dan bergerak asal-asalan atau asal bergerak.

“Saya ingin mengedepankan bahwa tari itu soal estetika tubuh, bukan hanya soal wajah. Modal penting seorang penari terletak pada karakternya ketika berada dalam sebuah pertunjukan. Saya ingin semua penari itu punya tanggungjawab masing-masing, termasuk menghafal komposisi tari. Jangan sampai menggantungkan pikiran kita dengan teman. Dengan begitu, mereka menjadi penari yang mandiri dan percaya diri pada kemampuannya sendiri,” ujar Irma dengan intonasi yang meninggi, entah karena menggebu dalam bercerita atau berusaha menyaingi bising knalpot kendaraan yang baru saja melintas.

Tari Berugak Elen | Foto: theboleng

Apa yang menurut Irma juga sering terlewat dalam membentuk karakter penari ialah proses perkenalan pikiran dan tubuh terhadap konsep dan komposisi tarian. Proses ini nantinya akan berpengaruh terhadap presentasi dan penyampaian pesan tarian.

Bagaimana pikiran dan tubuh memproses sebuah koreografi tidaklah sama, itu dia mengapa kadang kala sebuah pergelaran tari terlihat tidak lebih dari sekadar atraksi gerak dan pameran kostum tanpa menyisakan apapun pada benak penonton. Belum lagi, ketika penari tidak menghafal secara utuh gerak dan pola lantai tarian. Pertunjukan bisa kacau bahkan jadi tertawaan para penonton yang membuat fokus penari buyar seketika.

Barangkali penari telah menghafal komposisi tari dalam pikirannya, tetapi belum tentu dengan tubuhnya. Maka, Irma menekankan kepada para penari untuk memahami pesan yang ingin disampaikan dan menghayati tiap gerak sebagai bentuk pengungkapan.  

“Jangan coba mencari perempuan manapun, ini perempuan adalah diri kamu sendiri. Kenali dirimu sendiri, perasaanmu, yang kamu tunjukkan lewat gerakan tari,” ucap Irma sambil menggerakkan kedua tangannya ke sana kemari memperagakan bagaimana Ia mengarahkan para penari untuk memahami maksud tarian.

Untuk memperkuat nuansa Sasak dalam tarian ini, Irma memilih kostum yang dapat mewakili identitas Suku Sasak. Irma yang juga bersuku Sasak mengamati keseharian orang-orang di lingkungan sekitarnya, terutama dalam hal berpakaian.

Salah satu ikon fesyen yang paling sering dikenakan oleh kaum perempuan adalah kereng (kain sarung) bermotif bebungaan. Ia kemudian mencari motif-motif kereng yang menarik untuk dipakai dalam pertunjukan dan cocok bagi perempuan remaja.

Sementara dalam pemilihan baju, Irma lebih memilih baju yang polos dan sederhana, lalu dibaluti selendang tenun Sasak. Menurutnya, masyarakat Sasak penuh dengan kesederhanaan dalam kesehariannya, terlebih tarian ini ingin mempertahankan kesan lugu dari sosok remaja perempuan.

Dari proses penggarapan hingga pementasan tarian ini, Irma memperoleh berbagai tanggapan. Salah satunya adalah kritik soal penggunaan lagu pop Sasak sebagai musik iringan tari dan Irma-pun tidak membantah. Tetapi, di lain sisi, Ia meyakini bahwa apa yang Ia lakukan bukanlah menjadikan lagu sebagai musik latar belaka, tetapi lagu sebagai petunjuk menuju eksplorasi gerak tubuh penari. [T]

Cakepung dari Karangasem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok
Surealisme Tari Bali
Cakepung, Seni Vokal Karangasem, Sejarahnya Berkait Erat dengan Suku Sasak Lombok
Tags: kesenian lombokkesenian sasakLombokmusikmusik sasakseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah

Next Post

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Asmarani Pamela Paganini

Asmarani Pamela Paganini

Lahir di Praya, Lombok Tengah. Musisi dan alumnus Program Magister Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Karya-karya musiknya, antara lain, Pulang (2023) dan Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi (2024). Saat ini, ia ikut mengelola media musik: Beatriff Collective dan Konser Lombok.

Related Posts

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails
Next Post
Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan
Panggung

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
Berguru ke Baduy Luar
Tualang

Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
Besar Cerita, Besar Berita
Esai

Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

by Angga Wijaya
May 21, 2026
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali
Khas

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
Hati-Hati Ada Proyek!
Esai

Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co