14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Asmarani Pamela Paganini by Asmarani Pamela Paganini
December 29, 2024
in Khas
Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Tari Berugak Elen | Foto: theboleng

SUATU sore saya janjian dengan seorang teman bernama Irma Septiana di sebuah kedai kopi di Kawasan Udayana, Kota Mataram. Sedikit perkenalan soal Irma, ia adalah lulusan program studi seni, drama, tari, dan musik Universitas Nahdlatul Ulama, NTB, yang kini mengajar di SMKN 2 Lingsar.

Pertemuan ini awalnya hanya sebatas temu kangen kawan proyekan yang sudah lama tidak berjumpa. Seperti ritual nongkrong pada umumnya, saya membuka obrolan dengan menanyakan kabar dan beberapa aktivitasnya yang saya pantau lewat media sosial.

Irma memang tipikal lawan bicara yang asik, semua pertanyaan dijawab dengan penuh kehebohan. Responnya membuat saya ingin terus menerus memperpanjang obrolan.

Apa yang kemudian membuat perbincangan menjadi serius adalah ketika kami membahas tentang Tari Berugak Elen karyanya yang belakangan dipentaskan di mana-mana.

Sesungguhnya saya belum pernah menyaksikan secara langsung garapan koreografi ini. Akan tetapi, karena videonya kerap muncul dalam unggahan teman-teman saya di media sosial, maka sedikit banyak saya telah menyimak bagaimana wujud tarian tersebut.

Dari kumpulan video tadi, saya menyimpulkan bahwa Tari Berugak Elen merupakan sebuah tari hiburan menggunakan iringan lagu berjudul Berugak Elen yang dibawakan oleh sekelompok remaja perempuan.

Lagu Berugak Elen tergolong lagu sasak popular di Pulau Lombok. Lagu ini diciptakan oleh Hermanto yang selanjutnya banyak di-cover oleh pemusik lain dalam berbagai versi.

Salah satu cover yang banyak menyita telinga para pendengar adalah karya Antero yang dinyanyikan oleh Afria. Versi ini dipublikasikan di kanal You Tube Antero Musik Digital empat tahun lalu dan telah ditonton sebanyak 956 ribu kali.

Seperti lagu Sasak pada umumnya, karya cover yang satu ini dapat menstimulus pendengar untuk berjoget mengikuti irama lagu. Lantunan vokal yang mengayun-ayun, juga semakin menambah kenikmatan lagu. Mungkin itulah alasan mengapa salah seorang rekan kantor Irma memintanya untuk membuat garapan tari menggunakan lagu ini. Selain karena memang sudah banyak pula video-video tari dengan musik iringan Berugak Elen yang tersebar di platform You Tube.

Tari Berugak Elen | Foto: theboleng

Irma mengakui bahwa pada awalnya ia kurang berminat untuk menuruti permintaan rekannya tersebut, lantaran lagu ini bukanlah selera musiknya. Di samping itu, selama proses mempelajari seni tari semasa kuliah dulu, musik iringan tari yang dipakai hanya berupa komposisi musik tradisional atau perpaduan musik tradisional dan modern. Sedangkan kali ini, ia dihadapkan pada sebuah lagu.

Unsur lagu yang akhirnya menjadi pintu masuk Irma dalam mengeksplorasi gerak adalah lirik lagu. Lirik dari lagu Berugak Elen (terjemahan: berugak sejuk) menggunakan Bahasa Sasak yang merupakan bahasa daerah dari Suku Sasak, suku mayoritas di Pulau Lombok.

Dengan menghadirkan pola-pola sesenggak atau pantun khas Sasak, lagu Berugak Elen berisi ungkapan pujian serta perasaan cinta seorang laki-laki kepada perempuan dambaan hatinya. Muatan lirik lagu tersebut direinterpretasikan oleh Irma sebagai sesuatu yang dirasakan justru oleh pihak sebaliknya, sehingga gerak tari yang digunakan adalah gerak yang merepresentasikan sosok perempuan yang sedang kasmaran.

Pada aransemen gerak tari, Irma banyak dipengaruhi oleh tubuh penari sasak yang memiliki motif gerak dasar tersendiri. Motif gerak ini termuat dalam buku “Tari Gandrung Lombok” karya Dra. H. Sri Yaningsih, di antaranya Tapak Enggang—salah satu kaki (kanan atau kiri) berada di depan searah dengan miring telapak kaki tersebut dan kedua tumit kurang lebih berjarak satu genggam, Ngebah—mgerakan membuka  tangan ke samping kanan dan kiri, Ngintek—mmenggelengkan kepala ke kanan dan kiri, dan Bapang—posisi kaki tapak enggang, kemudian digerakkan bergantian ke depan, diikuti dengan gerakan tangan di depan antara wajah secara bergantian hingga lurus ke samping.

Motif dasar tari sasak tersebut juga dikombinasikan dengan unsur-unsur gerak melayu serta gerakan lainnya yang diperoleh dari hasil eksplorasi selama proses.

Komposisi koreografi Tari Berugak Elen bertumpu pada pola lantai yang variatif. Hal ini dilakukan oleh Irma karena tiga alasan.

Pertama, para penari yang akan menampilkan tarian ini berada pada level pemula, sehingga Irma cenderung memilih gerakan yang sederhana dan repetitif.

Kedua, lagu Berugak Elen adalah lagu yang monoton, maka pola lantai menjadi alternatif bagi Irma agar tarian tidak tampak membosankan.

Ketiga, penerapan ragam pola lantai berfungsi untuk menonjolkan setiap penari yang ada.

Maka dari itu, dalam alur tarian ini kita tidak akan menemukan banyak perubahan gerak, melainkan perubahan arah dan perpindahan penari.

Mereka yang berparas cantik menurut standar masyarakat umum sering kali ditempatkan di posisi sentral atau memimpin barisan dalam sebuah pementasan tari. Fenomena lain yang biasanya terjadi adalah barisan belakang akan diisi oleh penari-penari yang belum begitu mahir atau bahkan belum menghafal gerak tari.

Irma mencoba untuk menentang hal tersebut. Ia berpendapat bahwa pembiaran terhadap tindakan tadi malah akan melahirkan penari yang tidak percaya diri dan bergerak asal-asalan atau asal bergerak.

“Saya ingin mengedepankan bahwa tari itu soal estetika tubuh, bukan hanya soal wajah. Modal penting seorang penari terletak pada karakternya ketika berada dalam sebuah pertunjukan. Saya ingin semua penari itu punya tanggungjawab masing-masing, termasuk menghafal komposisi tari. Jangan sampai menggantungkan pikiran kita dengan teman. Dengan begitu, mereka menjadi penari yang mandiri dan percaya diri pada kemampuannya sendiri,” ujar Irma dengan intonasi yang meninggi, entah karena menggebu dalam bercerita atau berusaha menyaingi bising knalpot kendaraan yang baru saja melintas.

Tari Berugak Elen | Foto: theboleng

Apa yang menurut Irma juga sering terlewat dalam membentuk karakter penari ialah proses perkenalan pikiran dan tubuh terhadap konsep dan komposisi tarian. Proses ini nantinya akan berpengaruh terhadap presentasi dan penyampaian pesan tarian.

Bagaimana pikiran dan tubuh memproses sebuah koreografi tidaklah sama, itu dia mengapa kadang kala sebuah pergelaran tari terlihat tidak lebih dari sekadar atraksi gerak dan pameran kostum tanpa menyisakan apapun pada benak penonton. Belum lagi, ketika penari tidak menghafal secara utuh gerak dan pola lantai tarian. Pertunjukan bisa kacau bahkan jadi tertawaan para penonton yang membuat fokus penari buyar seketika.

Barangkali penari telah menghafal komposisi tari dalam pikirannya, tetapi belum tentu dengan tubuhnya. Maka, Irma menekankan kepada para penari untuk memahami pesan yang ingin disampaikan dan menghayati tiap gerak sebagai bentuk pengungkapan.  

“Jangan coba mencari perempuan manapun, ini perempuan adalah diri kamu sendiri. Kenali dirimu sendiri, perasaanmu, yang kamu tunjukkan lewat gerakan tari,” ucap Irma sambil menggerakkan kedua tangannya ke sana kemari memperagakan bagaimana Ia mengarahkan para penari untuk memahami maksud tarian.

Untuk memperkuat nuansa Sasak dalam tarian ini, Irma memilih kostum yang dapat mewakili identitas Suku Sasak. Irma yang juga bersuku Sasak mengamati keseharian orang-orang di lingkungan sekitarnya, terutama dalam hal berpakaian.

Salah satu ikon fesyen yang paling sering dikenakan oleh kaum perempuan adalah kereng (kain sarung) bermotif bebungaan. Ia kemudian mencari motif-motif kereng yang menarik untuk dipakai dalam pertunjukan dan cocok bagi perempuan remaja.

Sementara dalam pemilihan baju, Irma lebih memilih baju yang polos dan sederhana, lalu dibaluti selendang tenun Sasak. Menurutnya, masyarakat Sasak penuh dengan kesederhanaan dalam kesehariannya, terlebih tarian ini ingin mempertahankan kesan lugu dari sosok remaja perempuan.

Dari proses penggarapan hingga pementasan tarian ini, Irma memperoleh berbagai tanggapan. Salah satunya adalah kritik soal penggunaan lagu pop Sasak sebagai musik iringan tari dan Irma-pun tidak membantah. Tetapi, di lain sisi, Ia meyakini bahwa apa yang Ia lakukan bukanlah menjadikan lagu sebagai musik latar belaka, tetapi lagu sebagai petunjuk menuju eksplorasi gerak tubuh penari. [T]

Cakepung dari Karangasem: Teater Bertutur, Akulturasi Budaya Bali, Jawa dan Lombok
Surealisme Tari Bali
Cakepung, Seni Vokal Karangasem, Sejarahnya Berkait Erat dengan Suku Sasak Lombok
Tags: kesenian lombokkesenian sasakLombokmusikmusik sasakseni tari
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Passompe’ dari Kala Teater: Sebuah Jejak Perjuangan Tanpa Akhir – Tanpa Kalah

Next Post

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Asmarani Pamela Paganini

Asmarani Pamela Paganini

Lahir di Praya, Lombok Tengah. Musisi dan alumnus Program Magister Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Karya-karya musiknya, antara lain, Pulang (2023) dan Usap Matamu dan Ciumlah Dingin Pagi (2024). Saat ini, ia ikut mengelola media musik: Beatriff Collective dan Konser Lombok.

Related Posts

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails
Next Post
Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co