14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 30, 2024
in Esai
Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Selagi badan masih muda, diri harus berani keluar dari zona nyaman!  Cari pekerjaan di luar dan gali pengalaman sebanyak – banyaknya.”

Kurang lebih seperti itu kata-kata nasihat seorang tetua banjar kepada para pemuda desa yang saya ingat beberapa tahun lalu ketika saya masih kecil. Sambil melihat pembuatan ogoh-ogoh di balai banjar, tetua itu memberi semacam motivasi agar anak-anak muda desa giat dalam bekerja dan tidak hanya fokus gradag-grudug (bermain-main).

Tidak lupa tetua itu juga mengingatkan anak muda desa akan pentingnya untuk belajar dan mengeruk pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal tersebut seakan menjadi bekal dalam ingatan untuk meningkatkan kualitas diri dan mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik.

Nasihat-nasihat tetua itu pun menjadi kenyataan. Fenomena anak muda keluar desa untuk pergi ke kota menjadi begitu masif di Bali . Bahkan muncul sebuah desas-desus, bernaung dan memilih bekerja di dalam desa dianggap sesuatu yang kuno serta ketinggalan zaman.

Anak-anak muda yang memilih tinggal di rumah orang tua dan bekerja di desa juga dipandang insan yang terlalu aman berada di zona nyaman. Pada akhirnya, banyak anak muda desa yang mulai memberanikan diri untuk keluar dari desa, baik untuk menuntut ilmu maupun mengadu nasib untuk bekerja.

Di samping bersandar pada stigma, anak-anak muda desa hari ini juga mesti menghadapi era disrupsi di mana harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Penghasilan dengan bekerja di desa atau hanya sekadar menjadi pegawai kontrak di lingkungan tempat tinggal, dipandang belum cukup untuk membangun rumah tangga serta memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Jangankan bermimpi mampu membeli rumah yang mewah, membeli sebidang tanah saja sudah menjadi pekerjaan berat untuk anak muda desa di era sekarang. Tidak salah apabila anak muda desa di Bali hari ini sangat semangat untuk keluar desa, berlayar dan bekerja dengan giat untuk menjemput sebanyak-banyaknya dollar.

Layaknya konsep Rwa Bhineda yang menjadi pedoman masyarakat Bali, di satu sisi fenomena ini sesungguhnya positif dalam pengembangan kompetensi anak muda desa untuk menjawab tantangan persaingan global di era disrupsi saat ini. Namun di sisi lain, fenomena tersebut terkadang juga membuat kondisi desa di Bali hari ini terasa semakin sepi.

Bukti kecil bisa dilihat dari kondisi banjar-banjar di beberapa desa, di mana intensitas aktivitas dan kuantitas anak-anak muda di lingkup sekaa teruna atau Karang Taruna Desa menjadi semakin menurun. Alasan masih bekerja, sedang menempuh perkuliahan, dan alasan lainnya bak kalimat klise yang rutin terlontar ketika ada jadwal kumpul antar pemuda banjar.

Melalui fenomena ini, pertanyaan kecil yang menggelitik pun sering muncul dalam sanubari. “Apakah anak desa hari ini, sudah mulai ogah balik ke desa ya?”

Apabila menoleh kebelakang, secara historis sebenarnya belum ada data yang konkret untuk menyatakan kapan fenomena ini dimulai. Asumsi atau hipotesa pertama yang bisa dihubungkan tentu sejak dimulainya era globalisasi sampai era revolusi industri 4.0 yang turut menyentuh sampai tingkatan desa.

Masifnya penggunaan teknologi dan informasi seakan menjadi tuntutan yang mesti dipenuhi oleh anak muda desa agar dianggap tidak ketinggalan zaman. Kepemilikan akan teknologi juga dipandang sebagai sesuatu yang wajib untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Pada awalnya, hadirnya teknologi dan masifnya penyebaran informasi menjadi sesuatu yang memudahkan pekerjaan dan aktivitas anak-anak muda desa. Namun seiring berjalannya waktu, teknologi ternyata juga mampu merongrong kebudayaan adiluhung yang ada dalam lingkup banjar atau desa.

Budaya kumpul-kumpul dan berdaya untuk desa pun secara perlahan mulai ditinggalkan. Terlebih bagi anak muda desa yang sudah terlanjur berada di luar desa, pada akhirnya lebih memilih untuk memprioritaskan urusan perkuliahan atau bekerja yang dianggap lebih memberikan hasil yang pasti.

Terlebih ketika muncul pengumuman untuk rapat antar pemuda, sebagian besar anak muda akan menjawab, “Via online saja brother, atau kalau mau rapat langsung lebih baik sekalian saat masa pengerupukan saja.”  

Dikaji dari sisi dampak dan akibat, fenomena ini sesungguhnya dapat mengarah ke sisi negatif apabila tidak mendapat perhatian khusus dari desa itu sendiri. Karakter apatis dan sikap skeptis bisa menjamur dalam diri anak desa apabila fenomena ini dibiarkan begitu saja apa adanya. Terlebih anak-anak muda tetap menjadi pionir dan pemegang tongkat estafet dalam melanjutkan adat dan tradisi yang ada di desa.

Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dari pihak-pihak yang sadar terutama pemerintah dalam usaha memanggil sesekali dan memberdayakan kembali anak – anak muda desa agar kembali aktif berdaya untuk desa.

Di beberapa desa dan lewat inisiasi beberapa komunitas, sebenarnya telah beberapa kali hadir ruang dan wadah pelatihan bagi anak muda desa untuk mengembangkan potensinya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan kewirausahaan, ekonomi, jurnalistik, dan lainnya untuk pemberdayaan anak muda di lingkup desa.

Namun kembali lagi, tidak intensnya program serta sifatnya yang insidental belum bisa menarik banyak anak muda desa untuk berkenan berdaya aktif di desanya. Ditambah lagi, anak muda yang sudah terlanjur keluar desa belum disediakan panggung khusus oleh pemerintah desa untuk dapat membagikan dan menerapkan ilmu yang diperolehnya dalam perkembangan desa.

Jadi ke depannya, sinergi antara pemerintah desa dan anak muda dalam mengembangkan desa sangat diperlukan. Di satu sisi, pemerintah desa bisa melakukan pendataan dan pemetaan jumlah anak di desa yang berkuliah atau bekerja sesuai passion yang ditekuninya. Lebih lanjut, pemerintah desa juga bisa menyediakan wadah pelatihan dan pendidikan yang mampu mengembangkan kompetensi anak-anak muda di desanya secara masif.

Pelatihan ini bisa disempurnakan dengan bersinergi bersama pihak eksternal untuk membuat wadah pelatihan yang intens dan berkelanjutan. Melalui langkah tersebut, barulah pemerintah desa bisa memanggil dan memberdayakan anak muda desanya yang berkuliah atau sudah bekerja di luar desa untuk berkenan berbagi ilmu, wawasan, dan pengalaman untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengan demikian, pertanyaan tantangan tentang anak desa ogah balik ke desa bisa ditepis, dijawab, dan dihadapi dengan sebaik-baiknya. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Kepemimpinan “Punyan”
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: desaorang desapemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Next Post

Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Drama "Putri Ayu": Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co