12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 30, 2024
in Esai
Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Selagi badan masih muda, diri harus berani keluar dari zona nyaman!  Cari pekerjaan di luar dan gali pengalaman sebanyak – banyaknya.”

Kurang lebih seperti itu kata-kata nasihat seorang tetua banjar kepada para pemuda desa yang saya ingat beberapa tahun lalu ketika saya masih kecil. Sambil melihat pembuatan ogoh-ogoh di balai banjar, tetua itu memberi semacam motivasi agar anak-anak muda desa giat dalam bekerja dan tidak hanya fokus gradag-grudug (bermain-main).

Tidak lupa tetua itu juga mengingatkan anak muda desa akan pentingnya untuk belajar dan mengeruk pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal tersebut seakan menjadi bekal dalam ingatan untuk meningkatkan kualitas diri dan mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik.

Nasihat-nasihat tetua itu pun menjadi kenyataan. Fenomena anak muda keluar desa untuk pergi ke kota menjadi begitu masif di Bali . Bahkan muncul sebuah desas-desus, bernaung dan memilih bekerja di dalam desa dianggap sesuatu yang kuno serta ketinggalan zaman.

Anak-anak muda yang memilih tinggal di rumah orang tua dan bekerja di desa juga dipandang insan yang terlalu aman berada di zona nyaman. Pada akhirnya, banyak anak muda desa yang mulai memberanikan diri untuk keluar dari desa, baik untuk menuntut ilmu maupun mengadu nasib untuk bekerja.

Di samping bersandar pada stigma, anak-anak muda desa hari ini juga mesti menghadapi era disrupsi di mana harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Penghasilan dengan bekerja di desa atau hanya sekadar menjadi pegawai kontrak di lingkungan tempat tinggal, dipandang belum cukup untuk membangun rumah tangga serta memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Jangankan bermimpi mampu membeli rumah yang mewah, membeli sebidang tanah saja sudah menjadi pekerjaan berat untuk anak muda desa di era sekarang. Tidak salah apabila anak muda desa di Bali hari ini sangat semangat untuk keluar desa, berlayar dan bekerja dengan giat untuk menjemput sebanyak-banyaknya dollar.

Layaknya konsep Rwa Bhineda yang menjadi pedoman masyarakat Bali, di satu sisi fenomena ini sesungguhnya positif dalam pengembangan kompetensi anak muda desa untuk menjawab tantangan persaingan global di era disrupsi saat ini. Namun di sisi lain, fenomena tersebut terkadang juga membuat kondisi desa di Bali hari ini terasa semakin sepi.

Bukti kecil bisa dilihat dari kondisi banjar-banjar di beberapa desa, di mana intensitas aktivitas dan kuantitas anak-anak muda di lingkup sekaa teruna atau Karang Taruna Desa menjadi semakin menurun. Alasan masih bekerja, sedang menempuh perkuliahan, dan alasan lainnya bak kalimat klise yang rutin terlontar ketika ada jadwal kumpul antar pemuda banjar.

Melalui fenomena ini, pertanyaan kecil yang menggelitik pun sering muncul dalam sanubari. “Apakah anak desa hari ini, sudah mulai ogah balik ke desa ya?”

Apabila menoleh kebelakang, secara historis sebenarnya belum ada data yang konkret untuk menyatakan kapan fenomena ini dimulai. Asumsi atau hipotesa pertama yang bisa dihubungkan tentu sejak dimulainya era globalisasi sampai era revolusi industri 4.0 yang turut menyentuh sampai tingkatan desa.

Masifnya penggunaan teknologi dan informasi seakan menjadi tuntutan yang mesti dipenuhi oleh anak muda desa agar dianggap tidak ketinggalan zaman. Kepemilikan akan teknologi juga dipandang sebagai sesuatu yang wajib untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Pada awalnya, hadirnya teknologi dan masifnya penyebaran informasi menjadi sesuatu yang memudahkan pekerjaan dan aktivitas anak-anak muda desa. Namun seiring berjalannya waktu, teknologi ternyata juga mampu merongrong kebudayaan adiluhung yang ada dalam lingkup banjar atau desa.

Budaya kumpul-kumpul dan berdaya untuk desa pun secara perlahan mulai ditinggalkan. Terlebih bagi anak muda desa yang sudah terlanjur berada di luar desa, pada akhirnya lebih memilih untuk memprioritaskan urusan perkuliahan atau bekerja yang dianggap lebih memberikan hasil yang pasti.

Terlebih ketika muncul pengumuman untuk rapat antar pemuda, sebagian besar anak muda akan menjawab, “Via online saja brother, atau kalau mau rapat langsung lebih baik sekalian saat masa pengerupukan saja.”  

Dikaji dari sisi dampak dan akibat, fenomena ini sesungguhnya dapat mengarah ke sisi negatif apabila tidak mendapat perhatian khusus dari desa itu sendiri. Karakter apatis dan sikap skeptis bisa menjamur dalam diri anak desa apabila fenomena ini dibiarkan begitu saja apa adanya. Terlebih anak-anak muda tetap menjadi pionir dan pemegang tongkat estafet dalam melanjutkan adat dan tradisi yang ada di desa.

Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dari pihak-pihak yang sadar terutama pemerintah dalam usaha memanggil sesekali dan memberdayakan kembali anak – anak muda desa agar kembali aktif berdaya untuk desa.

Di beberapa desa dan lewat inisiasi beberapa komunitas, sebenarnya telah beberapa kali hadir ruang dan wadah pelatihan bagi anak muda desa untuk mengembangkan potensinya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan kewirausahaan, ekonomi, jurnalistik, dan lainnya untuk pemberdayaan anak muda di lingkup desa.

Namun kembali lagi, tidak intensnya program serta sifatnya yang insidental belum bisa menarik banyak anak muda desa untuk berkenan berdaya aktif di desanya. Ditambah lagi, anak muda yang sudah terlanjur keluar desa belum disediakan panggung khusus oleh pemerintah desa untuk dapat membagikan dan menerapkan ilmu yang diperolehnya dalam perkembangan desa.

Jadi ke depannya, sinergi antara pemerintah desa dan anak muda dalam mengembangkan desa sangat diperlukan. Di satu sisi, pemerintah desa bisa melakukan pendataan dan pemetaan jumlah anak di desa yang berkuliah atau bekerja sesuai passion yang ditekuninya. Lebih lanjut, pemerintah desa juga bisa menyediakan wadah pelatihan dan pendidikan yang mampu mengembangkan kompetensi anak-anak muda di desanya secara masif.

Pelatihan ini bisa disempurnakan dengan bersinergi bersama pihak eksternal untuk membuat wadah pelatihan yang intens dan berkelanjutan. Melalui langkah tersebut, barulah pemerintah desa bisa memanggil dan memberdayakan anak muda desanya yang berkuliah atau sudah bekerja di luar desa untuk berkenan berbagi ilmu, wawasan, dan pengalaman untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengan demikian, pertanyaan tantangan tentang anak desa ogah balik ke desa bisa ditepis, dijawab, dan dihadapi dengan sebaik-baiknya. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Kepemimpinan “Punyan”
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: desaorang desapemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Next Post

Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Drama "Putri Ayu": Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co