2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 30, 2024
in Esai
Anak Desa Ogah Balik ke Desa?

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

“Selagi badan masih muda, diri harus berani keluar dari zona nyaman!  Cari pekerjaan di luar dan gali pengalaman sebanyak – banyaknya.”

Kurang lebih seperti itu kata-kata nasihat seorang tetua banjar kepada para pemuda desa yang saya ingat beberapa tahun lalu ketika saya masih kecil. Sambil melihat pembuatan ogoh-ogoh di balai banjar, tetua itu memberi semacam motivasi agar anak-anak muda desa giat dalam bekerja dan tidak hanya fokus gradag-grudug (bermain-main).

Tidak lupa tetua itu juga mengingatkan anak muda desa akan pentingnya untuk belajar dan mengeruk pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal tersebut seakan menjadi bekal dalam ingatan untuk meningkatkan kualitas diri dan mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik.

Nasihat-nasihat tetua itu pun menjadi kenyataan. Fenomena anak muda keluar desa untuk pergi ke kota menjadi begitu masif di Bali . Bahkan muncul sebuah desas-desus, bernaung dan memilih bekerja di dalam desa dianggap sesuatu yang kuno serta ketinggalan zaman.

Anak-anak muda yang memilih tinggal di rumah orang tua dan bekerja di desa juga dipandang insan yang terlalu aman berada di zona nyaman. Pada akhirnya, banyak anak muda desa yang mulai memberanikan diri untuk keluar dari desa, baik untuk menuntut ilmu maupun mengadu nasib untuk bekerja.

Di samping bersandar pada stigma, anak-anak muda desa hari ini juga mesti menghadapi era disrupsi di mana harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung tinggi. Penghasilan dengan bekerja di desa atau hanya sekadar menjadi pegawai kontrak di lingkungan tempat tinggal, dipandang belum cukup untuk membangun rumah tangga serta memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Jangankan bermimpi mampu membeli rumah yang mewah, membeli sebidang tanah saja sudah menjadi pekerjaan berat untuk anak muda desa di era sekarang. Tidak salah apabila anak muda desa di Bali hari ini sangat semangat untuk keluar desa, berlayar dan bekerja dengan giat untuk menjemput sebanyak-banyaknya dollar.

Layaknya konsep Rwa Bhineda yang menjadi pedoman masyarakat Bali, di satu sisi fenomena ini sesungguhnya positif dalam pengembangan kompetensi anak muda desa untuk menjawab tantangan persaingan global di era disrupsi saat ini. Namun di sisi lain, fenomena tersebut terkadang juga membuat kondisi desa di Bali hari ini terasa semakin sepi.

Bukti kecil bisa dilihat dari kondisi banjar-banjar di beberapa desa, di mana intensitas aktivitas dan kuantitas anak-anak muda di lingkup sekaa teruna atau Karang Taruna Desa menjadi semakin menurun. Alasan masih bekerja, sedang menempuh perkuliahan, dan alasan lainnya bak kalimat klise yang rutin terlontar ketika ada jadwal kumpul antar pemuda banjar.

Melalui fenomena ini, pertanyaan kecil yang menggelitik pun sering muncul dalam sanubari. “Apakah anak desa hari ini, sudah mulai ogah balik ke desa ya?”

Apabila menoleh kebelakang, secara historis sebenarnya belum ada data yang konkret untuk menyatakan kapan fenomena ini dimulai. Asumsi atau hipotesa pertama yang bisa dihubungkan tentu sejak dimulainya era globalisasi sampai era revolusi industri 4.0 yang turut menyentuh sampai tingkatan desa.

Masifnya penggunaan teknologi dan informasi seakan menjadi tuntutan yang mesti dipenuhi oleh anak muda desa agar dianggap tidak ketinggalan zaman. Kepemilikan akan teknologi juga dipandang sebagai sesuatu yang wajib untuk mampu beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Pada awalnya, hadirnya teknologi dan masifnya penyebaran informasi menjadi sesuatu yang memudahkan pekerjaan dan aktivitas anak-anak muda desa. Namun seiring berjalannya waktu, teknologi ternyata juga mampu merongrong kebudayaan adiluhung yang ada dalam lingkup banjar atau desa.

Budaya kumpul-kumpul dan berdaya untuk desa pun secara perlahan mulai ditinggalkan. Terlebih bagi anak muda desa yang sudah terlanjur berada di luar desa, pada akhirnya lebih memilih untuk memprioritaskan urusan perkuliahan atau bekerja yang dianggap lebih memberikan hasil yang pasti.

Terlebih ketika muncul pengumuman untuk rapat antar pemuda, sebagian besar anak muda akan menjawab, “Via online saja brother, atau kalau mau rapat langsung lebih baik sekalian saat masa pengerupukan saja.”  

Dikaji dari sisi dampak dan akibat, fenomena ini sesungguhnya dapat mengarah ke sisi negatif apabila tidak mendapat perhatian khusus dari desa itu sendiri. Karakter apatis dan sikap skeptis bisa menjamur dalam diri anak desa apabila fenomena ini dibiarkan begitu saja apa adanya. Terlebih anak-anak muda tetap menjadi pionir dan pemegang tongkat estafet dalam melanjutkan adat dan tradisi yang ada di desa.

Oleh karena itu, perlu adanya perhatian dari pihak-pihak yang sadar terutama pemerintah dalam usaha memanggil sesekali dan memberdayakan kembali anak – anak muda desa agar kembali aktif berdaya untuk desa.

Di beberapa desa dan lewat inisiasi beberapa komunitas, sebenarnya telah beberapa kali hadir ruang dan wadah pelatihan bagi anak muda desa untuk mengembangkan potensinya. Hal ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan kewirausahaan, ekonomi, jurnalistik, dan lainnya untuk pemberdayaan anak muda di lingkup desa.

Namun kembali lagi, tidak intensnya program serta sifatnya yang insidental belum bisa menarik banyak anak muda desa untuk berkenan berdaya aktif di desanya. Ditambah lagi, anak muda yang sudah terlanjur keluar desa belum disediakan panggung khusus oleh pemerintah desa untuk dapat membagikan dan menerapkan ilmu yang diperolehnya dalam perkembangan desa.

Jadi ke depannya, sinergi antara pemerintah desa dan anak muda dalam mengembangkan desa sangat diperlukan. Di satu sisi, pemerintah desa bisa melakukan pendataan dan pemetaan jumlah anak di desa yang berkuliah atau bekerja sesuai passion yang ditekuninya. Lebih lanjut, pemerintah desa juga bisa menyediakan wadah pelatihan dan pendidikan yang mampu mengembangkan kompetensi anak-anak muda di desanya secara masif.

Pelatihan ini bisa disempurnakan dengan bersinergi bersama pihak eksternal untuk membuat wadah pelatihan yang intens dan berkelanjutan. Melalui langkah tersebut, barulah pemerintah desa bisa memanggil dan memberdayakan anak muda desanya yang berkuliah atau sudah bekerja di luar desa untuk berkenan berbagi ilmu, wawasan, dan pengalaman untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Dengan demikian, pertanyaan tantangan tentang anak desa ogah balik ke desa bisa ditepis, dijawab, dan dihadapi dengan sebaik-baiknya. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Kepemimpinan “Punyan”
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?
Merenungi Ajian “Tri Samaya” Lewat Film “Sekawan Limo”
Menikmati Pasang-Surut Dinamika Hidup — Renungan dari Pantai Sanur
Bagaimana Siksa Kubur Versi Hindu?
“Melajah Kalah”
Tags: desaorang desapemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Berugak Elen: Menemukan Karakter Remaja Perempuan Sasak dalam Eksplorasi Gerak

Next Post

Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Drama “Putri Ayu”: Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Drama "Putri Ayu": Drama Inovatif dari UPMI Bali yang Mengejar Waktu di Denpasar Festival 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co