2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 8, 2024
in Esai
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

Gambar Sate Babi di Lapangan Lumintang, Denpasar sebagai Konsumsi FGD.

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Belakangan ini hujan turun tiada henti ya bu?”

Ibu Penjual Sate Babi: “Iya bu, dari pagi sampai malam jeggg hujan melulu.”

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Begini dah cuaca buruk, apa – apa susah untuk dikerjakan.”

Kurang lebih seperti itulah dialektika yang saya dengarkan di Kantin Lapangan Lumintang, Denpasar Sabtu pagi , di musim hujan. Sambil memegang sate babi di tangan setelah lari pagi, saya malah lebih menikmati obrolan ibu – ibu yang saling sahut – menyahut. Sampai – sampai, suara derasan air yang turun dari langit pun harus sungkem dengan suara ibu – ibu yang menggelegar tersebut.

Belakangan ini, hujan memang senantiasa mengiringi cuaca di Pulau Bali. Bukan satu atau dua daerah, seluruh kabupaten di Bali kompak memberitakan prakiraan cuaca demikian adanya. Sehingga tidak salah, apabila Ibu Dagang Sate mengatakan dari pagi sampai malam, hujan senantiasa turun bak tamu yang tidak bisa dihentikan.

Lebih daripada itu, saya sesungguhnya lebih menyoroti kalimat yang terlontar dari Ibu Dagang Tipat Cantok. Ia mengatakan bahwa hujan menjadi cermin dari cuaca buruk, sehingga orang-orang tidak bisa beraktivitas sebagaimana mestinya.

Sambil menyantap sate babi beserta tipat yang lenyoh (pulen), saya benar – benar merenungi kalimat refleksi dari Ibu Dagang Tipat Cantok tersebut. Meskipun terdengar biasa saja, kalimat yang terlontar semacam menjadi suatu klise dan dejavu bagi saya akhir – akhir ini.

Banyak Agenda Batal Atas Dalil ‘Hujan’

Meskipun hanya sekedar air yang turun dari langit, tidak bisa dipungkiri bahwa hujan memang menjadi tantangan dalam menjalankan aktivitas. Terlebih ketika hujan memiliki intensitas tinggi, serta diimbangi dengan durasi yang cukup lama. Untuk beberapa pihak, hal ini bahkan bisa dipandang sebagai ancaman karena dapat membatalkan beberapa agenda.

Sah-sah saja jika beberapa pihak berpikiran demikian. Namun yang menjadi ironi adalah, ketika semua pihak mengarahkan hujan dengan diksi ‘cuaca buruk’ dan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Ditambah lagi untuk beberapa kasus, hujan terkesan dipaksa menjadi dalil oleh beberapa oknum dalam menghindari suatu agenda.

“We Wa Hujan itu air! Kayak tidak punya jas hujan saja hujan dirimu! Aku beliin ya biar perlu.”

Inilah jawaban yang saya terima beberapa hari lalu dari seorang sahabat. Saking kesalnya karena beberapa agenda batal, saya pada akhirnya turut teracuni dan mencoba menggunakan dalil yang sama untuk dapat rebahan. Namun berkat kalimat nyelekit tersebut, cukup untuk menampar diri dan mungkin kita semua agar tetap semangat dalam menjalani hari. Toh habis hujan, biasanya akan ada pelangi. hehehehe

Cuaca Hujan di Indonesia Diidentikkan dengan Suasana Amegakure

Sebagai pecinta Meme, ada sisi menarik dari hujan yang turun di akhir tahun kali ini. Selain Bali, ternyata hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami musim hujan yang serupa. Hal inilah yang menjadikan anak Meme kemudian mengindektikkan Indonesia sebagai Amegakure.

Amegakure sendiri merupakan nama sebuah desa hujan di serial Naruto. Desa ini dikenal sebagai desa yang problematik dan menjadi tempat persembunyian para tokoh antagonis.

Hal inilah yang dikorelasikan juga dengan kondisi Indonesia di hari ini. Dimana akhir tahun, dipenuhi oleh beberapa isu dan kasus hukum yang mengiringi. Mulai dari Kasus Trio Gus yang mencengangkan, kasus oknum Anbu yang diduga menshuriken murid akademi dengan dalil tawuran antar ninja, sampai kasus lainnya.

Musim Hujan sudah Terprediksi

Musim hujan di akhir tahun sesungguhnya menjadi sesuatu yang telah terprediksi dari sejak awal. Bagaimana tidak? Indonesia dengan kondisi geografisnya memang dikenal hanya memiliki dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Musim Kemarau yang biasanya datang di awal sampai pertengahan Tahun, sementara Musim Hujan yang biasa datang intens datang setiap akhir tahun. Jadi daripada menghardik hujan, bukanlah lebih baik menyediakan payung?

Dari sisi budaya Bali sendiri yaitu Wariga, peralihan musim dari kemarau ke hujan sesungguhnya juga telah diperhitungkan dari sisi waktu. Hal ini oleh masyarakat Bali ditandai dengan datangnya Purnama Sasih Kalima di akhir tahun. Sasih tersebut menjadi penanda waktu dan ruang untuk Musim Hujan turun dengan harmoni. Sehingga sudah semestinya, hujan dipandang bukan semata – mata hanya sebagai cuaca buruk, melainkan sebagai bagian dari kuasa alam dengan segala anugerahnya.

Hujan itu Rahmat Tuhan!

Di musim hujan seperti sekarang, semacam hal lumrah apabila media cetak maupun online beberapa kali mengabarkan tentang adanya jalan tergenang atau banjir. Beberapa oknum pun pada akhirnya kembali menyalahkan hujan yang turun tiada henti. Tak lekang juga dari ingatan, ketika saya pernah jatuh 2 kali dari motor karena jalanan licin tergenang air hujan. Meskipun demikian, apakah bisa semata – mata kita menyalahkan hujan?

Opah di serial kartun Upin & Ipin pernah mengatakan, hujan adalah bagian dari rahmat Tuhan. Hadirnya banjir, jalan tergenang, maupun musibah lainnya bukanlah semata – mata karena air yang turun dari Bapa Akasa (langit). Justru berkat datangnya hujan, bisa menjadi pengingat oleh Hyang Maha Kuasa, agar umat manusia wajib menjaga dan memperhatikan alam beserta isinya.

Lebih lanjut, hujan juga menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Bisa dilihat ketika hujan tiba, pohon menjadi tumbuh subur dan bahagia, serta burung – burung berkicau dengan bebas dan merdunya. Anak – anak kecilpun bisa menari di bawah hujan dengan riangnya. Cerminan ini menjadi wujud kecil dari hadirnya hujan sebagai rahmat Yang Maha Kuasa.

Kembali ke Sate Babi

Lama saya menyelami tentang eksistensi hujan beserta segala klisenya, pikiran saya diarahkan kembali pada bau sate babi yang ada di hadapan. Konklusi sederhana pun muncul di sanubari, dimana hujan dengan segala hitam dan putihnya memang sewajarnya bisa menjadi bahan dialektika rutin focus group discussion (FGD) ibu-ibu kantin. Selesai menyantap tusukan sate yang terakhir, untaian kalimat lantang pun tiba-tiba muncul.

“Aduhh jeg hujan diributin, medagang dulu selegang. To lihat! Berkat hujan banyak pengunjung yang datang. Yuk siap-siap!” ujar Bapak pengebek sate sebagai penutup dialektika FGD ibu-ibu di Kantin Lumintang. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     
Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan
“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih
Tentang Hujan
Kehujanan Gara-Gara Pawang Hujan – Cerita Konyol Penuh Amanat
Tags: filosofihujanmusim hujan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bercermin Pada Sastra: Membaca Pesan Kakawin Nitisastra dan Sang Hyang Kamahayanikan

Next Post

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co