12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 8, 2024
in Esai
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

Gambar Sate Babi di Lapangan Lumintang, Denpasar sebagai Konsumsi FGD.

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Belakangan ini hujan turun tiada henti ya bu?”

Ibu Penjual Sate Babi: “Iya bu, dari pagi sampai malam jeggg hujan melulu.”

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Begini dah cuaca buruk, apa – apa susah untuk dikerjakan.”

Kurang lebih seperti itulah dialektika yang saya dengarkan di Kantin Lapangan Lumintang, Denpasar Sabtu pagi , di musim hujan. Sambil memegang sate babi di tangan setelah lari pagi, saya malah lebih menikmati obrolan ibu – ibu yang saling sahut – menyahut. Sampai – sampai, suara derasan air yang turun dari langit pun harus sungkem dengan suara ibu – ibu yang menggelegar tersebut.

Belakangan ini, hujan memang senantiasa mengiringi cuaca di Pulau Bali. Bukan satu atau dua daerah, seluruh kabupaten di Bali kompak memberitakan prakiraan cuaca demikian adanya. Sehingga tidak salah, apabila Ibu Dagang Sate mengatakan dari pagi sampai malam, hujan senantiasa turun bak tamu yang tidak bisa dihentikan.

Lebih daripada itu, saya sesungguhnya lebih menyoroti kalimat yang terlontar dari Ibu Dagang Tipat Cantok. Ia mengatakan bahwa hujan menjadi cermin dari cuaca buruk, sehingga orang-orang tidak bisa beraktivitas sebagaimana mestinya.

Sambil menyantap sate babi beserta tipat yang lenyoh (pulen), saya benar – benar merenungi kalimat refleksi dari Ibu Dagang Tipat Cantok tersebut. Meskipun terdengar biasa saja, kalimat yang terlontar semacam menjadi suatu klise dan dejavu bagi saya akhir – akhir ini.

Banyak Agenda Batal Atas Dalil ‘Hujan’

Meskipun hanya sekedar air yang turun dari langit, tidak bisa dipungkiri bahwa hujan memang menjadi tantangan dalam menjalankan aktivitas. Terlebih ketika hujan memiliki intensitas tinggi, serta diimbangi dengan durasi yang cukup lama. Untuk beberapa pihak, hal ini bahkan bisa dipandang sebagai ancaman karena dapat membatalkan beberapa agenda.

Sah-sah saja jika beberapa pihak berpikiran demikian. Namun yang menjadi ironi adalah, ketika semua pihak mengarahkan hujan dengan diksi ‘cuaca buruk’ dan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Ditambah lagi untuk beberapa kasus, hujan terkesan dipaksa menjadi dalil oleh beberapa oknum dalam menghindari suatu agenda.

“We Wa Hujan itu air! Kayak tidak punya jas hujan saja hujan dirimu! Aku beliin ya biar perlu.”

Inilah jawaban yang saya terima beberapa hari lalu dari seorang sahabat. Saking kesalnya karena beberapa agenda batal, saya pada akhirnya turut teracuni dan mencoba menggunakan dalil yang sama untuk dapat rebahan. Namun berkat kalimat nyelekit tersebut, cukup untuk menampar diri dan mungkin kita semua agar tetap semangat dalam menjalani hari. Toh habis hujan, biasanya akan ada pelangi. hehehehe

Cuaca Hujan di Indonesia Diidentikkan dengan Suasana Amegakure

Sebagai pecinta Meme, ada sisi menarik dari hujan yang turun di akhir tahun kali ini. Selain Bali, ternyata hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami musim hujan yang serupa. Hal inilah yang menjadikan anak Meme kemudian mengindektikkan Indonesia sebagai Amegakure.

Amegakure sendiri merupakan nama sebuah desa hujan di serial Naruto. Desa ini dikenal sebagai desa yang problematik dan menjadi tempat persembunyian para tokoh antagonis.

Hal inilah yang dikorelasikan juga dengan kondisi Indonesia di hari ini. Dimana akhir tahun, dipenuhi oleh beberapa isu dan kasus hukum yang mengiringi. Mulai dari Kasus Trio Gus yang mencengangkan, kasus oknum Anbu yang diduga menshuriken murid akademi dengan dalil tawuran antar ninja, sampai kasus lainnya.

Musim Hujan sudah Terprediksi

Musim hujan di akhir tahun sesungguhnya menjadi sesuatu yang telah terprediksi dari sejak awal. Bagaimana tidak? Indonesia dengan kondisi geografisnya memang dikenal hanya memiliki dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Musim Kemarau yang biasanya datang di awal sampai pertengahan Tahun, sementara Musim Hujan yang biasa datang intens datang setiap akhir tahun. Jadi daripada menghardik hujan, bukanlah lebih baik menyediakan payung?

Dari sisi budaya Bali sendiri yaitu Wariga, peralihan musim dari kemarau ke hujan sesungguhnya juga telah diperhitungkan dari sisi waktu. Hal ini oleh masyarakat Bali ditandai dengan datangnya Purnama Sasih Kalima di akhir tahun. Sasih tersebut menjadi penanda waktu dan ruang untuk Musim Hujan turun dengan harmoni. Sehingga sudah semestinya, hujan dipandang bukan semata – mata hanya sebagai cuaca buruk, melainkan sebagai bagian dari kuasa alam dengan segala anugerahnya.

Hujan itu Rahmat Tuhan!

Di musim hujan seperti sekarang, semacam hal lumrah apabila media cetak maupun online beberapa kali mengabarkan tentang adanya jalan tergenang atau banjir. Beberapa oknum pun pada akhirnya kembali menyalahkan hujan yang turun tiada henti. Tak lekang juga dari ingatan, ketika saya pernah jatuh 2 kali dari motor karena jalanan licin tergenang air hujan. Meskipun demikian, apakah bisa semata – mata kita menyalahkan hujan?

Opah di serial kartun Upin & Ipin pernah mengatakan, hujan adalah bagian dari rahmat Tuhan. Hadirnya banjir, jalan tergenang, maupun musibah lainnya bukanlah semata – mata karena air yang turun dari Bapa Akasa (langit). Justru berkat datangnya hujan, bisa menjadi pengingat oleh Hyang Maha Kuasa, agar umat manusia wajib menjaga dan memperhatikan alam beserta isinya.

Lebih lanjut, hujan juga menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Bisa dilihat ketika hujan tiba, pohon menjadi tumbuh subur dan bahagia, serta burung – burung berkicau dengan bebas dan merdunya. Anak – anak kecilpun bisa menari di bawah hujan dengan riangnya. Cerminan ini menjadi wujud kecil dari hadirnya hujan sebagai rahmat Yang Maha Kuasa.

Kembali ke Sate Babi

Lama saya menyelami tentang eksistensi hujan beserta segala klisenya, pikiran saya diarahkan kembali pada bau sate babi yang ada di hadapan. Konklusi sederhana pun muncul di sanubari, dimana hujan dengan segala hitam dan putihnya memang sewajarnya bisa menjadi bahan dialektika rutin focus group discussion (FGD) ibu-ibu kantin. Selesai menyantap tusukan sate yang terakhir, untaian kalimat lantang pun tiba-tiba muncul.

“Aduhh jeg hujan diributin, medagang dulu selegang. To lihat! Berkat hujan banyak pengunjung yang datang. Yuk siap-siap!” ujar Bapak pengebek sate sebagai penutup dialektika FGD ibu-ibu di Kantin Lumintang. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     
Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan
“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih
Tentang Hujan
Kehujanan Gara-Gara Pawang Hujan – Cerita Konyol Penuh Amanat
Tags: filosofihujanmusim hujan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bercermin Pada Sastra: Membaca Pesan Kakawin Nitisastra dan Sang Hyang Kamahayanikan

Next Post

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co