13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 8, 2024
in Esai
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

Gambar Sate Babi di Lapangan Lumintang, Denpasar sebagai Konsumsi FGD.

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Belakangan ini hujan turun tiada henti ya bu?”

Ibu Penjual Sate Babi: “Iya bu, dari pagi sampai malam jeggg hujan melulu.”

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Begini dah cuaca buruk, apa – apa susah untuk dikerjakan.”

Kurang lebih seperti itulah dialektika yang saya dengarkan di Kantin Lapangan Lumintang, Denpasar Sabtu pagi , di musim hujan. Sambil memegang sate babi di tangan setelah lari pagi, saya malah lebih menikmati obrolan ibu – ibu yang saling sahut – menyahut. Sampai – sampai, suara derasan air yang turun dari langit pun harus sungkem dengan suara ibu – ibu yang menggelegar tersebut.

Belakangan ini, hujan memang senantiasa mengiringi cuaca di Pulau Bali. Bukan satu atau dua daerah, seluruh kabupaten di Bali kompak memberitakan prakiraan cuaca demikian adanya. Sehingga tidak salah, apabila Ibu Dagang Sate mengatakan dari pagi sampai malam, hujan senantiasa turun bak tamu yang tidak bisa dihentikan.

Lebih daripada itu, saya sesungguhnya lebih menyoroti kalimat yang terlontar dari Ibu Dagang Tipat Cantok. Ia mengatakan bahwa hujan menjadi cermin dari cuaca buruk, sehingga orang-orang tidak bisa beraktivitas sebagaimana mestinya.

Sambil menyantap sate babi beserta tipat yang lenyoh (pulen), saya benar – benar merenungi kalimat refleksi dari Ibu Dagang Tipat Cantok tersebut. Meskipun terdengar biasa saja, kalimat yang terlontar semacam menjadi suatu klise dan dejavu bagi saya akhir – akhir ini.

Banyak Agenda Batal Atas Dalil ‘Hujan’

Meskipun hanya sekedar air yang turun dari langit, tidak bisa dipungkiri bahwa hujan memang menjadi tantangan dalam menjalankan aktivitas. Terlebih ketika hujan memiliki intensitas tinggi, serta diimbangi dengan durasi yang cukup lama. Untuk beberapa pihak, hal ini bahkan bisa dipandang sebagai ancaman karena dapat membatalkan beberapa agenda.

Sah-sah saja jika beberapa pihak berpikiran demikian. Namun yang menjadi ironi adalah, ketika semua pihak mengarahkan hujan dengan diksi ‘cuaca buruk’ dan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Ditambah lagi untuk beberapa kasus, hujan terkesan dipaksa menjadi dalil oleh beberapa oknum dalam menghindari suatu agenda.

“We Wa Hujan itu air! Kayak tidak punya jas hujan saja hujan dirimu! Aku beliin ya biar perlu.”

Inilah jawaban yang saya terima beberapa hari lalu dari seorang sahabat. Saking kesalnya karena beberapa agenda batal, saya pada akhirnya turut teracuni dan mencoba menggunakan dalil yang sama untuk dapat rebahan. Namun berkat kalimat nyelekit tersebut, cukup untuk menampar diri dan mungkin kita semua agar tetap semangat dalam menjalani hari. Toh habis hujan, biasanya akan ada pelangi. hehehehe

Cuaca Hujan di Indonesia Diidentikkan dengan Suasana Amegakure

Sebagai pecinta Meme, ada sisi menarik dari hujan yang turun di akhir tahun kali ini. Selain Bali, ternyata hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami musim hujan yang serupa. Hal inilah yang menjadikan anak Meme kemudian mengindektikkan Indonesia sebagai Amegakure.

Amegakure sendiri merupakan nama sebuah desa hujan di serial Naruto. Desa ini dikenal sebagai desa yang problematik dan menjadi tempat persembunyian para tokoh antagonis.

Hal inilah yang dikorelasikan juga dengan kondisi Indonesia di hari ini. Dimana akhir tahun, dipenuhi oleh beberapa isu dan kasus hukum yang mengiringi. Mulai dari Kasus Trio Gus yang mencengangkan, kasus oknum Anbu yang diduga menshuriken murid akademi dengan dalil tawuran antar ninja, sampai kasus lainnya.

Musim Hujan sudah Terprediksi

Musim hujan di akhir tahun sesungguhnya menjadi sesuatu yang telah terprediksi dari sejak awal. Bagaimana tidak? Indonesia dengan kondisi geografisnya memang dikenal hanya memiliki dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Musim Kemarau yang biasanya datang di awal sampai pertengahan Tahun, sementara Musim Hujan yang biasa datang intens datang setiap akhir tahun. Jadi daripada menghardik hujan, bukanlah lebih baik menyediakan payung?

Dari sisi budaya Bali sendiri yaitu Wariga, peralihan musim dari kemarau ke hujan sesungguhnya juga telah diperhitungkan dari sisi waktu. Hal ini oleh masyarakat Bali ditandai dengan datangnya Purnama Sasih Kalima di akhir tahun. Sasih tersebut menjadi penanda waktu dan ruang untuk Musim Hujan turun dengan harmoni. Sehingga sudah semestinya, hujan dipandang bukan semata – mata hanya sebagai cuaca buruk, melainkan sebagai bagian dari kuasa alam dengan segala anugerahnya.

Hujan itu Rahmat Tuhan!

Di musim hujan seperti sekarang, semacam hal lumrah apabila media cetak maupun online beberapa kali mengabarkan tentang adanya jalan tergenang atau banjir. Beberapa oknum pun pada akhirnya kembali menyalahkan hujan yang turun tiada henti. Tak lekang juga dari ingatan, ketika saya pernah jatuh 2 kali dari motor karena jalanan licin tergenang air hujan. Meskipun demikian, apakah bisa semata – mata kita menyalahkan hujan?

Opah di serial kartun Upin & Ipin pernah mengatakan, hujan adalah bagian dari rahmat Tuhan. Hadirnya banjir, jalan tergenang, maupun musibah lainnya bukanlah semata – mata karena air yang turun dari Bapa Akasa (langit). Justru berkat datangnya hujan, bisa menjadi pengingat oleh Hyang Maha Kuasa, agar umat manusia wajib menjaga dan memperhatikan alam beserta isinya.

Lebih lanjut, hujan juga menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Bisa dilihat ketika hujan tiba, pohon menjadi tumbuh subur dan bahagia, serta burung – burung berkicau dengan bebas dan merdunya. Anak – anak kecilpun bisa menari di bawah hujan dengan riangnya. Cerminan ini menjadi wujud kecil dari hadirnya hujan sebagai rahmat Yang Maha Kuasa.

Kembali ke Sate Babi

Lama saya menyelami tentang eksistensi hujan beserta segala klisenya, pikiran saya diarahkan kembali pada bau sate babi yang ada di hadapan. Konklusi sederhana pun muncul di sanubari, dimana hujan dengan segala hitam dan putihnya memang sewajarnya bisa menjadi bahan dialektika rutin focus group discussion (FGD) ibu-ibu kantin. Selesai menyantap tusukan sate yang terakhir, untaian kalimat lantang pun tiba-tiba muncul.

“Aduhh jeg hujan diributin, medagang dulu selegang. To lihat! Berkat hujan banyak pengunjung yang datang. Yuk siap-siap!” ujar Bapak pengebek sate sebagai penutup dialektika FGD ibu-ibu di Kantin Lumintang. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     
Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan
“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih
Tentang Hujan
Kehujanan Gara-Gara Pawang Hujan – Cerita Konyol Penuh Amanat
Tags: filosofihujanmusim hujan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bercermin Pada Sastra: Membaca Pesan Kakawin Nitisastra dan Sang Hyang Kamahayanikan

Next Post

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co