23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
December 8, 2024
in Esai
FGD Ibu-ibu Kantin: Hujan, Cuaca Buruk atau Berkah?

Gambar Sate Babi di Lapangan Lumintang, Denpasar sebagai Konsumsi FGD.

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Belakangan ini hujan turun tiada henti ya bu?”

Ibu Penjual Sate Babi: “Iya bu, dari pagi sampai malam jeggg hujan melulu.”

Ibu Penjual Tipat Cantok: “Begini dah cuaca buruk, apa – apa susah untuk dikerjakan.”

Kurang lebih seperti itulah dialektika yang saya dengarkan di Kantin Lapangan Lumintang, Denpasar Sabtu pagi , di musim hujan. Sambil memegang sate babi di tangan setelah lari pagi, saya malah lebih menikmati obrolan ibu – ibu yang saling sahut – menyahut. Sampai – sampai, suara derasan air yang turun dari langit pun harus sungkem dengan suara ibu – ibu yang menggelegar tersebut.

Belakangan ini, hujan memang senantiasa mengiringi cuaca di Pulau Bali. Bukan satu atau dua daerah, seluruh kabupaten di Bali kompak memberitakan prakiraan cuaca demikian adanya. Sehingga tidak salah, apabila Ibu Dagang Sate mengatakan dari pagi sampai malam, hujan senantiasa turun bak tamu yang tidak bisa dihentikan.

Lebih daripada itu, saya sesungguhnya lebih menyoroti kalimat yang terlontar dari Ibu Dagang Tipat Cantok. Ia mengatakan bahwa hujan menjadi cermin dari cuaca buruk, sehingga orang-orang tidak bisa beraktivitas sebagaimana mestinya.

Sambil menyantap sate babi beserta tipat yang lenyoh (pulen), saya benar – benar merenungi kalimat refleksi dari Ibu Dagang Tipat Cantok tersebut. Meskipun terdengar biasa saja, kalimat yang terlontar semacam menjadi suatu klise dan dejavu bagi saya akhir – akhir ini.

Banyak Agenda Batal Atas Dalil ‘Hujan’

Meskipun hanya sekedar air yang turun dari langit, tidak bisa dipungkiri bahwa hujan memang menjadi tantangan dalam menjalankan aktivitas. Terlebih ketika hujan memiliki intensitas tinggi, serta diimbangi dengan durasi yang cukup lama. Untuk beberapa pihak, hal ini bahkan bisa dipandang sebagai ancaman karena dapat membatalkan beberapa agenda.

Sah-sah saja jika beberapa pihak berpikiran demikian. Namun yang menjadi ironi adalah, ketika semua pihak mengarahkan hujan dengan diksi ‘cuaca buruk’ dan dipandang sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Ditambah lagi untuk beberapa kasus, hujan terkesan dipaksa menjadi dalil oleh beberapa oknum dalam menghindari suatu agenda.

“We Wa Hujan itu air! Kayak tidak punya jas hujan saja hujan dirimu! Aku beliin ya biar perlu.”

Inilah jawaban yang saya terima beberapa hari lalu dari seorang sahabat. Saking kesalnya karena beberapa agenda batal, saya pada akhirnya turut teracuni dan mencoba menggunakan dalil yang sama untuk dapat rebahan. Namun berkat kalimat nyelekit tersebut, cukup untuk menampar diri dan mungkin kita semua agar tetap semangat dalam menjalani hari. Toh habis hujan, biasanya akan ada pelangi. hehehehe

Cuaca Hujan di Indonesia Diidentikkan dengan Suasana Amegakure

Sebagai pecinta Meme, ada sisi menarik dari hujan yang turun di akhir tahun kali ini. Selain Bali, ternyata hampir seluruh wilayah Indonesia mengalami musim hujan yang serupa. Hal inilah yang menjadikan anak Meme kemudian mengindektikkan Indonesia sebagai Amegakure.

Amegakure sendiri merupakan nama sebuah desa hujan di serial Naruto. Desa ini dikenal sebagai desa yang problematik dan menjadi tempat persembunyian para tokoh antagonis.

Hal inilah yang dikorelasikan juga dengan kondisi Indonesia di hari ini. Dimana akhir tahun, dipenuhi oleh beberapa isu dan kasus hukum yang mengiringi. Mulai dari Kasus Trio Gus yang mencengangkan, kasus oknum Anbu yang diduga menshuriken murid akademi dengan dalil tawuran antar ninja, sampai kasus lainnya.

Musim Hujan sudah Terprediksi

Musim hujan di akhir tahun sesungguhnya menjadi sesuatu yang telah terprediksi dari sejak awal. Bagaimana tidak? Indonesia dengan kondisi geografisnya memang dikenal hanya memiliki dua musim, yaitu hujan dan kemarau. Musim Kemarau yang biasanya datang di awal sampai pertengahan Tahun, sementara Musim Hujan yang biasa datang intens datang setiap akhir tahun. Jadi daripada menghardik hujan, bukanlah lebih baik menyediakan payung?

Dari sisi budaya Bali sendiri yaitu Wariga, peralihan musim dari kemarau ke hujan sesungguhnya juga telah diperhitungkan dari sisi waktu. Hal ini oleh masyarakat Bali ditandai dengan datangnya Purnama Sasih Kalima di akhir tahun. Sasih tersebut menjadi penanda waktu dan ruang untuk Musim Hujan turun dengan harmoni. Sehingga sudah semestinya, hujan dipandang bukan semata – mata hanya sebagai cuaca buruk, melainkan sebagai bagian dari kuasa alam dengan segala anugerahnya.

Hujan itu Rahmat Tuhan!

Di musim hujan seperti sekarang, semacam hal lumrah apabila media cetak maupun online beberapa kali mengabarkan tentang adanya jalan tergenang atau banjir. Beberapa oknum pun pada akhirnya kembali menyalahkan hujan yang turun tiada henti. Tak lekang juga dari ingatan, ketika saya pernah jatuh 2 kali dari motor karena jalanan licin tergenang air hujan. Meskipun demikian, apakah bisa semata – mata kita menyalahkan hujan?

Opah di serial kartun Upin & Ipin pernah mengatakan, hujan adalah bagian dari rahmat Tuhan. Hadirnya banjir, jalan tergenang, maupun musibah lainnya bukanlah semata – mata karena air yang turun dari Bapa Akasa (langit). Justru berkat datangnya hujan, bisa menjadi pengingat oleh Hyang Maha Kuasa, agar umat manusia wajib menjaga dan memperhatikan alam beserta isinya.

Lebih lanjut, hujan juga menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup. Bisa dilihat ketika hujan tiba, pohon menjadi tumbuh subur dan bahagia, serta burung – burung berkicau dengan bebas dan merdunya. Anak – anak kecilpun bisa menari di bawah hujan dengan riangnya. Cerminan ini menjadi wujud kecil dari hadirnya hujan sebagai rahmat Yang Maha Kuasa.

Kembali ke Sate Babi

Lama saya menyelami tentang eksistensi hujan beserta segala klisenya, pikiran saya diarahkan kembali pada bau sate babi yang ada di hadapan. Konklusi sederhana pun muncul di sanubari, dimana hujan dengan segala hitam dan putihnya memang sewajarnya bisa menjadi bahan dialektika rutin focus group discussion (FGD) ibu-ibu kantin. Selesai menyantap tusukan sate yang terakhir, untaian kalimat lantang pun tiba-tiba muncul.

“Aduhh jeg hujan diributin, medagang dulu selegang. To lihat! Berkat hujan banyak pengunjung yang datang. Yuk siap-siap!” ujar Bapak pengebek sate sebagai penutup dialektika FGD ibu-ibu di Kantin Lumintang. [T]


BACA artikel lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     
Hujan, Panggung Basah, Kain Penari dan Penabuh pun “Belus” Hingga ke “Bagian Dalam” – Cerita PKB 2024 dari Duta Tabanan
“Tarian di Antara Hujan” | Catatan Ngayah ISI Denpasar pada Upacara Betara Turun Kabeh  di Pura Besakih
Tentang Hujan
Kehujanan Gara-Gara Pawang Hujan – Cerita Konyol Penuh Amanat
Tags: filosofihujanmusim hujan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bercermin Pada Sastra: Membaca Pesan Kakawin Nitisastra dan Sang Hyang Kamahayanikan

Next Post

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Perempuan, Kebebasan dan Pariwisata | Dari Talkshow “Hari Ibu” KCKB Buleleng yang Dihadiri Ni Luh Puspa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co