22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
December 4, 2024
in Khas
Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     

Mulang Pakelem di Pantai Samuh, Bualu Kuta Selatan Tilem Kalima, Sabtu (30/11/2024)

TILEM Sasih Kalima bertepatan dengan Sabtu Umanis Medangkungan, 30 November 2024, persis akhir pekan dan akhir bulan. Dalam konteks kearifan lokal sejumlah  desa adat di Gumi Delod Ceking, di wilayah Kuta Selatan, Badung, seperti Desa Adat  Kutuh, Kampial, Peminge, Jimbaran dan Pecatu  melaksanakan upacara Mendak Hujan (menjemput hujan).

Prosesi ritual Mendak Hujan di Desa Adat Kutuh dilaksanakan beberapa kali di sejumlah Pura mulai dari Pura Desa pada Tilem Sasih Kalima, Pura Puseh dan Pura Pengubengan  pada saat Kliwon setelah Tilem Sasih Kalima, Pura Dang Kahyangan Gunung Payung pada saat Purnama Kanem dan terakhir di Pura Segara Desa Adat Kutuh pada Tilem Sasih Kanem. Dengan demikian, ritual Mendak Hujan di Desa Adat Kutuh dimulai saat Tilem Sasih Kalima dan berakhir saat Tilem Sasih Kanem.

Saat Mendak Hujan pertama di Pura Desa Adat Kutuh, krama Desa menancapkan sanggah cucuk di pintu gerbang masing-masing rumah. Sanggah cucuk dihaturkan banten seperti pada umumnya saat Hari Galungan dilengkapi Kober Ganapati sebagai simbol untuk menolak energi negatif agar tidak masuk ke pekarangan rumah.

Sore hari, krama bersembahyang ke Pura Desa sekaligus nunas Nasi Tawur dan dua tirta : Tirta Caru dan Tirta ke Luhur.  Tirta Caru diperciki ke bawah saat ngelebar segehan disertai nasi tawur sampai ke abian. Sementara itu, Tirta ke Luhur diperciki ke Pelinggih-Pelinggih di masing-masing rumah dan diperciki pula ke masing-masing anggota keluarga setelah melaksanakan persembahyangan.

Tradisi Mendak Hujan bagi desa adat di Gumi Delod Ceking berbeda-beda antara desa yang satu dengan desa yang lain, walaupun secara geografi berdekatan dengan karakteristik yang nyaris sama.

Di Desa Adat Pecatu misalnya, upacara Mendak Hujan berlangsung setiap Tilem Sasih Kalima  dipusatkan di Pantai Labuan Sait, tempat krama desa adat  biasa melasti.

Sementara itu, di Desa Adat Jimbaran ritual Mendak Hujan pada Purnama Sasih Kalima berlangsung di Pura Muaya Pantai Jimbaran.  Desa Adat Kampial dan Desa Adat Peminge melaksanakan upacara Mendak Hujan bersama-sama dengan Desa Adat Kutuh pada Purnama Sasih Kanem di Pura Dang Kahyangan Gunung Payung.

Kearifan lokal berupa ritual Mendak Hujan di Gumi Delod Ceking yang kini diwariskan sebagai budaya telah menjadi tradisi secara turun-temurun dan tidak ada yang berani meninggalkan. Sebagai kearifan lokal yang telah  membudaya, tradisi ini mengandung sejumlah makna penting.

Pertama, ritual Mendak Hujan telah menerjadikan proses transformasi budaya melalui pewarisan dari generasi ke generasi. Secara implisit edukatif, leluhur desa adat di Gumi Delod Ceking pada umumnya telah memiliki pranata sosial religius dengan menjadi Pura sebagai sekolah kehidupan untuk mendidik mental spiritual umat-Nya.

Melalui cara itulah, mereka yang krisis air pada zamannya, berpasrah mengandalkan jatuhnya hujan dari langit. Hujan bagi mereka adalah lambang turunnya paica leluhur (rahmat Tuhan) yang diolah dari laut melalui proses tertentu menjadi awan lalu hujan. Singkatnya, lambang kesuburmakmuran mendekati kaum tani memulai ritus bercocok tanam di abian, dengan model tatakelola sawah tadah hujan. 

Kedua, banten utama yang digelar saat Mendak Hujan  berupa caru. Hakikat caru adalah upaya mengharmoniskan alam buana alit (mikrokosmos) dan buana agung (makrokosmos)  secara sekala (nyata) niskala (nirnyata) terkait perubahan musim dari kemarau ke musim hujan.

Peralihan musim sering ditandai dengan datangnya wabah dan kearifan lokal menangkalnya dengan ritual caru sakasidan (sesuai kemampuan). Itu pula tampaknya mendasari, Pemerintah Kabupaten Badung, melaksanakan upacara mulang pakelem persis saat Tilem Sasih Kalima Sabtu, 30 November 2024, dipusatkan di Pura Segara Samuh Desa Adat Bualu di Gumi Delod Ceking.

Ketiga, tradisi ritual Mendak Hujan adalah simpul budaya agraris dengan pekerjaan utama sebagai petani, peternak, dan nelayan. Tiga pekerjaan itu dilakoni sekaligus dengan alur waktu berbeda tak ubahnya model diversifikasi pertanian dengan sistem pertanian tumpang sari. Sekali panen, memetik beberapa hasil.

Di abian, para petani bercocok tanam. Tanaman adalah taman penghiburan bagi mereka lebih-lebih panen berlimpah, sungguh menyenangkan. Ibarat guru yang berhasil mendidik dan mengajar siswa dengan hasil terbaik, sungguh menyenangkan sebagai cikal-bakal mewujudkan ketenangan hidup.

Dengan menjadi peternak yang disebut pangangon, petani melengkapi tabungan. Zaman sebelum pariwisata booming, beternak tak ubahnya menabung untuk biaya sekolah bagi anak, tabungan  hari raya dan tabungan hari tua.

Sementara itu, dengan menjadi nelayan, petani melaut mencari sarining amerta di kedalaman sebagai metafora bahwa hidup tidak semata-mata heboh di permukaan, tetapi juga memaknai di kedalaman spiritual. Dengan demikian, terjadi perpaduan ritual dan spiritual sebagai relasi  antara bentuk, fungsi, dan makna dalam Kajian Budaya. Inti dari ketiga profesi itu adalah menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan hidup agar tidak sampai blencongan ‘kelaparan’ akibat paceklik yang tidak terduga dengan hujan turun yang tidak menentu. Lebih-lebih dengan iklim global yang tidak menentu, tidak mudah ditebak.

Walaupun demikian, krama Delod Ceking tempo doeloe adalah orang-orang yang tangguh dan mandiri menata kelangsungan hidupnya, dalam istilah Bali disebut bisa matakeh ‘cerdas bersiasat’ agar tidak sesat dan tidak sampai kelaparan.

Begitulah krama di Gumi Delod Ceking, memaknai turunnya hujan dengan ritual Mendak ‘penyambutan’ berharap hujan menyuburkan, bukan menghanyutkan lebih-lebih bagi Desa Adat Kutuh telah mengantisipasinya dengan tradisi ritual Ngempel serangkaian Upacara Ngusaba Desa pada Purnama Sasih Kapat.

Hujan adalah berkah bila sesuai dengan kebutuhan, tetapi menjadi musibah bila berlebih menyebabkan banjir. Atau sebaliknya, kekeringan bila hujan tiada turun menyapa bumi.  Krisis air pun tak terbantahkan. Namun, tradisi telah mendidik dan mengajarkan, krama Delod Ceking tampil dengan laku prihatin seraya memohon dengan tulus penuh seluruh. Walaupun terasa berat, mereka pasrah, tabah, dan tawakal. Itulah ciri ketangguhan mental baja bentukan alam batu kapur yang teguh kukuh.

Dalam kosmologi kewaktuan bagi manusia Bali di Gumi Delod Ceking, Prosesi Ritual Mendak Hujan adalah ritual lanjutan setelah Purnama Sasih Kapat yang sering disebut Purnama Kartika ditandai dengan mekarnya aneka bunga. Mekarnya bunga-bunga itu mengundang lebah berdatangan, sebuah metafora yang sering digunakan para kawi wiku dalam bersastra.

Kidung Warga Sari yang terkenal itu, mengalun di setiap desa dengan “…Kartika panedenging sari ….” Sungguh pencapaian yang luar biasa sebagai warisan tak benda yang anonim sebagai lambang semangat komunalitas dalam guyub beritual menuju spiritual : kesejatian hidup.

Semangat komunalitas dalam guyub ritual Mendak Hujan adalah ciri kehidupan agraris yang terorganisasi dalam berbagai sekaa : sekaa manyi, seka subak abian, sekaa numbeg, sekaa munuh. Keberadaan sekaa itu tiadalah berdaya bila hujan tak kunjung turun menemui cintainya di bumi.

Maka ritual Mendak Hujan pun digelar walaupun abian makin terdesak bahkan terdepak. Tradisi Mendak Hujan tidak terhapus oleh keangkuhan pariwisata yang penuh glamour. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Tradisi “Ngempel” dan  “Tajen Sabha Pangangon” di Desa Adat Kutuh      
Di Puncak Tegeh Kepah  
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: Desa Adat PecatuGumi Delod CekingHindu Balikuta selatanNusa Duaritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Next Post

Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang

Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co