14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
December 4, 2024
in Khas
Tradisi “Mendak Hujan” di Gumi Delod Ceking     

Mulang Pakelem di Pantai Samuh, Bualu Kuta Selatan Tilem Kalima, Sabtu (30/11/2024)

TILEM Sasih Kalima bertepatan dengan Sabtu Umanis Medangkungan, 30 November 2024, persis akhir pekan dan akhir bulan. Dalam konteks kearifan lokal sejumlah  desa adat di Gumi Delod Ceking, di wilayah Kuta Selatan, Badung, seperti Desa Adat  Kutuh, Kampial, Peminge, Jimbaran dan Pecatu  melaksanakan upacara Mendak Hujan (menjemput hujan).

Prosesi ritual Mendak Hujan di Desa Adat Kutuh dilaksanakan beberapa kali di sejumlah Pura mulai dari Pura Desa pada Tilem Sasih Kalima, Pura Puseh dan Pura Pengubengan  pada saat Kliwon setelah Tilem Sasih Kalima, Pura Dang Kahyangan Gunung Payung pada saat Purnama Kanem dan terakhir di Pura Segara Desa Adat Kutuh pada Tilem Sasih Kanem. Dengan demikian, ritual Mendak Hujan di Desa Adat Kutuh dimulai saat Tilem Sasih Kalima dan berakhir saat Tilem Sasih Kanem.

Saat Mendak Hujan pertama di Pura Desa Adat Kutuh, krama Desa menancapkan sanggah cucuk di pintu gerbang masing-masing rumah. Sanggah cucuk dihaturkan banten seperti pada umumnya saat Hari Galungan dilengkapi Kober Ganapati sebagai simbol untuk menolak energi negatif agar tidak masuk ke pekarangan rumah.

Sore hari, krama bersembahyang ke Pura Desa sekaligus nunas Nasi Tawur dan dua tirta : Tirta Caru dan Tirta ke Luhur.  Tirta Caru diperciki ke bawah saat ngelebar segehan disertai nasi tawur sampai ke abian. Sementara itu, Tirta ke Luhur diperciki ke Pelinggih-Pelinggih di masing-masing rumah dan diperciki pula ke masing-masing anggota keluarga setelah melaksanakan persembahyangan.

Tradisi Mendak Hujan bagi desa adat di Gumi Delod Ceking berbeda-beda antara desa yang satu dengan desa yang lain, walaupun secara geografi berdekatan dengan karakteristik yang nyaris sama.

Di Desa Adat Pecatu misalnya, upacara Mendak Hujan berlangsung setiap Tilem Sasih Kalima  dipusatkan di Pantai Labuan Sait, tempat krama desa adat  biasa melasti.

Sementara itu, di Desa Adat Jimbaran ritual Mendak Hujan pada Purnama Sasih Kalima berlangsung di Pura Muaya Pantai Jimbaran.  Desa Adat Kampial dan Desa Adat Peminge melaksanakan upacara Mendak Hujan bersama-sama dengan Desa Adat Kutuh pada Purnama Sasih Kanem di Pura Dang Kahyangan Gunung Payung.

Kearifan lokal berupa ritual Mendak Hujan di Gumi Delod Ceking yang kini diwariskan sebagai budaya telah menjadi tradisi secara turun-temurun dan tidak ada yang berani meninggalkan. Sebagai kearifan lokal yang telah  membudaya, tradisi ini mengandung sejumlah makna penting.

Pertama, ritual Mendak Hujan telah menerjadikan proses transformasi budaya melalui pewarisan dari generasi ke generasi. Secara implisit edukatif, leluhur desa adat di Gumi Delod Ceking pada umumnya telah memiliki pranata sosial religius dengan menjadi Pura sebagai sekolah kehidupan untuk mendidik mental spiritual umat-Nya.

Melalui cara itulah, mereka yang krisis air pada zamannya, berpasrah mengandalkan jatuhnya hujan dari langit. Hujan bagi mereka adalah lambang turunnya paica leluhur (rahmat Tuhan) yang diolah dari laut melalui proses tertentu menjadi awan lalu hujan. Singkatnya, lambang kesuburmakmuran mendekati kaum tani memulai ritus bercocok tanam di abian, dengan model tatakelola sawah tadah hujan. 

Kedua, banten utama yang digelar saat Mendak Hujan  berupa caru. Hakikat caru adalah upaya mengharmoniskan alam buana alit (mikrokosmos) dan buana agung (makrokosmos)  secara sekala (nyata) niskala (nirnyata) terkait perubahan musim dari kemarau ke musim hujan.

Peralihan musim sering ditandai dengan datangnya wabah dan kearifan lokal menangkalnya dengan ritual caru sakasidan (sesuai kemampuan). Itu pula tampaknya mendasari, Pemerintah Kabupaten Badung, melaksanakan upacara mulang pakelem persis saat Tilem Sasih Kalima Sabtu, 30 November 2024, dipusatkan di Pura Segara Samuh Desa Adat Bualu di Gumi Delod Ceking.

Ketiga, tradisi ritual Mendak Hujan adalah simpul budaya agraris dengan pekerjaan utama sebagai petani, peternak, dan nelayan. Tiga pekerjaan itu dilakoni sekaligus dengan alur waktu berbeda tak ubahnya model diversifikasi pertanian dengan sistem pertanian tumpang sari. Sekali panen, memetik beberapa hasil.

Di abian, para petani bercocok tanam. Tanaman adalah taman penghiburan bagi mereka lebih-lebih panen berlimpah, sungguh menyenangkan. Ibarat guru yang berhasil mendidik dan mengajar siswa dengan hasil terbaik, sungguh menyenangkan sebagai cikal-bakal mewujudkan ketenangan hidup.

Dengan menjadi peternak yang disebut pangangon, petani melengkapi tabungan. Zaman sebelum pariwisata booming, beternak tak ubahnya menabung untuk biaya sekolah bagi anak, tabungan  hari raya dan tabungan hari tua.

Sementara itu, dengan menjadi nelayan, petani melaut mencari sarining amerta di kedalaman sebagai metafora bahwa hidup tidak semata-mata heboh di permukaan, tetapi juga memaknai di kedalaman spiritual. Dengan demikian, terjadi perpaduan ritual dan spiritual sebagai relasi  antara bentuk, fungsi, dan makna dalam Kajian Budaya. Inti dari ketiga profesi itu adalah menjaga ketahanan pangan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan hidup agar tidak sampai blencongan ‘kelaparan’ akibat paceklik yang tidak terduga dengan hujan turun yang tidak menentu. Lebih-lebih dengan iklim global yang tidak menentu, tidak mudah ditebak.

Walaupun demikian, krama Delod Ceking tempo doeloe adalah orang-orang yang tangguh dan mandiri menata kelangsungan hidupnya, dalam istilah Bali disebut bisa matakeh ‘cerdas bersiasat’ agar tidak sesat dan tidak sampai kelaparan.

Begitulah krama di Gumi Delod Ceking, memaknai turunnya hujan dengan ritual Mendak ‘penyambutan’ berharap hujan menyuburkan, bukan menghanyutkan lebih-lebih bagi Desa Adat Kutuh telah mengantisipasinya dengan tradisi ritual Ngempel serangkaian Upacara Ngusaba Desa pada Purnama Sasih Kapat.

Hujan adalah berkah bila sesuai dengan kebutuhan, tetapi menjadi musibah bila berlebih menyebabkan banjir. Atau sebaliknya, kekeringan bila hujan tiada turun menyapa bumi.  Krisis air pun tak terbantahkan. Namun, tradisi telah mendidik dan mengajarkan, krama Delod Ceking tampil dengan laku prihatin seraya memohon dengan tulus penuh seluruh. Walaupun terasa berat, mereka pasrah, tabah, dan tawakal. Itulah ciri ketangguhan mental baja bentukan alam batu kapur yang teguh kukuh.

Dalam kosmologi kewaktuan bagi manusia Bali di Gumi Delod Ceking, Prosesi Ritual Mendak Hujan adalah ritual lanjutan setelah Purnama Sasih Kapat yang sering disebut Purnama Kartika ditandai dengan mekarnya aneka bunga. Mekarnya bunga-bunga itu mengundang lebah berdatangan, sebuah metafora yang sering digunakan para kawi wiku dalam bersastra.

Kidung Warga Sari yang terkenal itu, mengalun di setiap desa dengan “…Kartika panedenging sari ….” Sungguh pencapaian yang luar biasa sebagai warisan tak benda yang anonim sebagai lambang semangat komunalitas dalam guyub beritual menuju spiritual : kesejatian hidup.

Semangat komunalitas dalam guyub ritual Mendak Hujan adalah ciri kehidupan agraris yang terorganisasi dalam berbagai sekaa : sekaa manyi, seka subak abian, sekaa numbeg, sekaa munuh. Keberadaan sekaa itu tiadalah berdaya bila hujan tak kunjung turun menemui cintainya di bumi.

Maka ritual Mendak Hujan pun digelar walaupun abian makin terdesak bahkan terdepak. Tradisi Mendak Hujan tidak terhapus oleh keangkuhan pariwisata yang penuh glamour. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Tradisi “Ngempel” dan  “Tajen Sabha Pangangon” di Desa Adat Kutuh      
Di Puncak Tegeh Kepah  
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: Desa Adat PecatuGumi Delod CekingHindu Balikuta selatanNusa Duaritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menavigasi Keterkaitan antara Pariwisata dan Perdagangan Internasional dalam Era Globalisasi

Next Post

Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang

Mengintegrasikan Pertanian dan Pariwisata, Kurikulum Agrowisata Berkelanjutan untuk Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co