22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Puncak Tegeh Kepah  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 20, 2024
in Esai
Di Puncak Tegeh Kepah  

Di Puncak Tegeh Kepah ( Foto : I Nyoman Tingkat)

 PERJALANAN pulang pergi dari Desa Adat Kutuh ke Desa Adat Bualu untuk mabraya pada era sebelum 1980-an hanya satu jalan dan satu jalur, yaitu  Jalan Darmawangsa namanya, kini. Seingat saya, sebelumnya jalan ini tanpa nama. Yang ada petunjuk jarak ke Denpasar, 25 km. Kala itu, jalur Gumi Delod Ceking  ke Peken Badung di Denpasar hanya ada satu, dari Denpasar melalui Jalan Imam Bonjol – Jalan Raya Kuta – Tuban — Kedonganan – Jimbaran – Tegeh Sari – Tegeh Buhu sampai simpang Nirmala kini. Jalur lurus menuju Pecatu hingga Uluwatu, sedangkan ke kiri melewati Ungasan – Kutuh – Kampial–Bualu – Tanjung.

Puncak Tegeh Kepah adalah batas antara Desa Adat Kampial dan Desa Adat Bualu di wilayah Kuta Selatan.  Pada zaman Orde Baru, di Puncak Tegeh Kepah dibangun tempat suci 5 agama yang disebut Puja Mandala. Di Kawasan Puja Mandala berdiri Pura, Gereja Katolik, Geraja Kristen, Wihara, dan Masjid. Berdirinya Puja Mandala menjelang Orde Baru tumbang ketika Menteri Pariwisata,Pos, dan Telekomunikasi dijabat Joop  Ave sebagai lambang toleransi beragama yang diimani dan diamini para pemeluknya. Kini, Puja Mandala malah menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi para pelancong dari Jawa umumnya untuk mampir sekaligus bersembahyang sesuai dengan agama yang dianutnya. Di Puncak Tegeh Kepah ini mereka menemui Tuhannnya masing-masing dengan suntuk mohon keselamatan dalam  perjalanan selanjutnya.

Berdekatan dengan Puja Mandala, tepatnya di sebelah timur berdiri bak penampungan air.  Airnya itu untuk kawasan ITDC Nusa Dua. Dibangunnya  bak penampungan air itu melengkapi sumur peradaban tua, yang sudah ada sebelumnya  disebut suukan. Jika suukan adalah simbol peradaban kuno, bak menjadi simbol peradaban modern seiring dengan pengembangan kawasan Nusa Dua menjadi kawasan pariwisata elit sejak Orde Baru berkuasa, pada awal dekade 1970-an.

 Puncak Tegeh Kepah sebagaimana namanya mengacu pada dua makna. Pertama, Kepah berarti peralihan dari Desa Adat Kampial ke Desa Adat Bualu. Sebagai catatan, Desa Adat Bualu berdiri sekitar 1958 yang sebelumnya merupakan bagian dari Desa Adat Kampial. Itu pula sebabnya, setra Desa Adat Bualu menjadi satu dengan setra Desa Adat Kampial. Selain itu, Pura Penataran Desa Adat Kampial juga merupakan bagian ayah-ayahan dari Desa Adat Bualu. Namun, Desa Adat Bualu memunyai Pura Desa dan Pura Puseh tersendiri.

Kedua, Kepah berarti Pohon Kepuh atau pohon rangdu. Pohon Kepah biasanya  sebagai penanda desa dan tenget. Pohon besar itu kini masih ada dan di bawahnya berdiri Pura Tegal Penangsaran Desa Adat Bualu. Di sanalah tempat permakluman bila ada upacara ngaben/mengubur bagi yang meninggal di Desa Adat Bualu dengan menggunakan banten, minimal canang asebit sari. Di desa-desa adat di Bali, pohon besar adalah penanda desa yang berfungsi sebagai peneduh sekaligus sebagai ciri pusat desa dengan pasar desanya.

Di Puncak Tegeh Kepah, para pejalan kehidupan yang berjalan kaki tempo doeloe maentegan menarik nafas sejenak, melakukan pranayama. Pertama,menyaksikan kawasan Nusa Dua dan sekitarnya dengan nyiur melambai-lambai di arah timur. Ke situlah, arah yang dituju orang-orang dari desa Delod Ceking khususnya Kampial, Kutuh, Ungasan, dan Pecatu. Mereka maurup-urup melakukan barter alakadarnya membawa palawija dan palagantung selain gerang. Maurup-urup adalah strategi berkomunikasi berkearifan lokal dengan mengedepankan manyama braya yang lebih dikenal dengan tetawangan ’kenalan’ yang dirawat dan diwariskan ke anak cucu hingga kini. Dalam konteks kekinian, inilah yang disebut ekonomi kerakyatan.

Kedua, di Puncak Tegeh Kepah para pejalan kehidupan yang berjalan kaki berkilo-kilo jaraknya tanpa bersandal di tengah debu dan panas menyengat semangat tiadalah patah. Di kejauhan dari balik kawasan Nusa Dua yang kini berdiri hotel berbintang mewah tempat para pemimpin dunia mengambil keputusan tentang iklim global, air, ekonomi, dan lain-lain yang menyangkut politik global, di tempat inilah diputuskan. Nusa Dua Bali  menjadi tempat memutuskan kebijakan politik dunia yang menghasilkan piagam atau dokumen tertulis. Dalam arti luas, itulah sastra dunia sebagai pegangan para pemimpin dunia becermin. Pilihan yang tepat bila pujangga Jawa yang dikenal dengan Dang Hyang Dwijendra melahirkan karya sastra monumental di sini. Dari sini pula, para pemimpin dunia melaksanakan dharma wiweka untuk memilah dan memilih “ngepah” kebijakan yang memuliakan manusia, alam, dan lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan. Inilah yang disebut kontinuitas oleh Ki Hadjar Dewantara.

Ketiga, dari Puncak Tegeh Kepah, para pejalan kehidupan juga dapat menyaksikan Pulau Nusa Penida di kejauhan seakan berdiri di atas  laut biru yang damai. Penampakan Nusa Penida di kejauhan melengkapi Nusa Dua di kedekatan, tampak berhadap-hadapan. Lebih-lebih di antara  Nusa Dua (Nusa Darma dan Nusa Paninsula yang dulu disebut Nusa Gede)  terdapat Batu Capil seakan menjadi pintu gerbang tempat memanggil para nelayan dari Nusa Penida untuk mampir. Utusan dari Nusa Penida diyakini membawa dua kabar, berkah atau musibah. Dalam konteks inilah, maka di Gumi Delod Ceking menjelang peralihan musim dari Kemarau ke Hujan digelar upacara Nangluk Merana ‘upacara menangkal gering’ dalam perspektif agraris berbasis maritim. Dalam tradisi di Desa Adat Kutuh, prosesi Merana Nangluk itu disebut mamendak. Harapannya, petani dan nelayan selamat dari gering ‘wabah’ tanpa   paceklik dan terhindar dari situasi sayah ‘gagal panen’.

Keempat, tidak jauh dari Puncak Tegeh Kepah dulu berdiri Bioskop Glory sebagai tempat hiburan bagi kaula muda dengan layar tancap. Belakangan, bioskop berada di area Pasar Central dekat Tragia bersebelahan dengan lokasi SMP Negeri 4 Kuta Selatan. Jika Bioskop Glory berbasis layar tancap, bila hujan penonton bubar menyelamatkan diri masing-masing, disingkat misbar : gerimis bubar.  Berbeda dengan bioskop di Pasar Central berbasis gedung representatif, penonton bisa berlama-lama di dalam gedung tidak terpengaruh cuaca.

Begitulah Puncak Tegeh Kepah adalah puncak terusan dari Puncak Tegeh Buhu dan Puncak Tegeh Kaman. Sebagai puncak terusan, Puncak Tegeh Kepah adalah puncak terendah menuju turunan ke arah Nusa Dua. Namun demikian, keindahannya pun menawan dan sungguh inspiratif. Banyak kisah dan narasi terbangun dari sini lantaran inilah akses satu-satunya dari Bualu menuju desa-desa di Kawasan Bukit Badung, di Kaki Pulau Bali yang dulu dikenal dengan nama Gumi Delod Ceking. Dulu kawasan ini sulit nasi tetapi kaya narasi yang pantas dikenang dan dicatat sebagai pangeling-eling.

Pada mulanya,  Puncak Tegeh Kepah adalah kawasan bengang seperti di Tegeh Buhu yang sepi. Namun, kini Puncak Tegeh Kepah adalah jalur supermacet bin bising. Diperlukan kesadaran dan kebijaksanaan menyikapi sehingga terhindar dari silang wacana yang menyebabkan hubungan disharmoni. Sugi Tenten pada Rabu Pon Sungsang, Sugi Jawa pada Kamis Wage Sungsang , dan Sugi Bali pada Jumat Kliwon Sungsang  adalah alur waktu untuk merenung menyambut Galungan tiba dengan kesadaran untuk menemukan keindahan sebagaimana di Puncak Tegeh Kepah tempo doeloe.

 Selamat menyambut Hari Galungan dan Kuningan. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: desa adat bualudesa adat kutuhGumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Next Post

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co