2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Puncak Tegeh Kepah  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 20, 2024
in Esai
Di Puncak Tegeh Kepah  

Di Puncak Tegeh Kepah ( Foto : I Nyoman Tingkat)

 PERJALANAN pulang pergi dari Desa Adat Kutuh ke Desa Adat Bualu untuk mabraya pada era sebelum 1980-an hanya satu jalan dan satu jalur, yaitu  Jalan Darmawangsa namanya, kini. Seingat saya, sebelumnya jalan ini tanpa nama. Yang ada petunjuk jarak ke Denpasar, 25 km. Kala itu, jalur Gumi Delod Ceking  ke Peken Badung di Denpasar hanya ada satu, dari Denpasar melalui Jalan Imam Bonjol – Jalan Raya Kuta – Tuban — Kedonganan – Jimbaran – Tegeh Sari – Tegeh Buhu sampai simpang Nirmala kini. Jalur lurus menuju Pecatu hingga Uluwatu, sedangkan ke kiri melewati Ungasan – Kutuh – Kampial–Bualu – Tanjung.

Puncak Tegeh Kepah adalah batas antara Desa Adat Kampial dan Desa Adat Bualu di wilayah Kuta Selatan.  Pada zaman Orde Baru, di Puncak Tegeh Kepah dibangun tempat suci 5 agama yang disebut Puja Mandala. Di Kawasan Puja Mandala berdiri Pura, Gereja Katolik, Geraja Kristen, Wihara, dan Masjid. Berdirinya Puja Mandala menjelang Orde Baru tumbang ketika Menteri Pariwisata,Pos, dan Telekomunikasi dijabat Joop  Ave sebagai lambang toleransi beragama yang diimani dan diamini para pemeluknya. Kini, Puja Mandala malah menjadi objek wisata yang wajib dikunjungi para pelancong dari Jawa umumnya untuk mampir sekaligus bersembahyang sesuai dengan agama yang dianutnya. Di Puncak Tegeh Kepah ini mereka menemui Tuhannnya masing-masing dengan suntuk mohon keselamatan dalam  perjalanan selanjutnya.

Berdekatan dengan Puja Mandala, tepatnya di sebelah timur berdiri bak penampungan air.  Airnya itu untuk kawasan ITDC Nusa Dua. Dibangunnya  bak penampungan air itu melengkapi sumur peradaban tua, yang sudah ada sebelumnya  disebut suukan. Jika suukan adalah simbol peradaban kuno, bak menjadi simbol peradaban modern seiring dengan pengembangan kawasan Nusa Dua menjadi kawasan pariwisata elit sejak Orde Baru berkuasa, pada awal dekade 1970-an.

 Puncak Tegeh Kepah sebagaimana namanya mengacu pada dua makna. Pertama, Kepah berarti peralihan dari Desa Adat Kampial ke Desa Adat Bualu. Sebagai catatan, Desa Adat Bualu berdiri sekitar 1958 yang sebelumnya merupakan bagian dari Desa Adat Kampial. Itu pula sebabnya, setra Desa Adat Bualu menjadi satu dengan setra Desa Adat Kampial. Selain itu, Pura Penataran Desa Adat Kampial juga merupakan bagian ayah-ayahan dari Desa Adat Bualu. Namun, Desa Adat Bualu memunyai Pura Desa dan Pura Puseh tersendiri.

Kedua, Kepah berarti Pohon Kepuh atau pohon rangdu. Pohon Kepah biasanya  sebagai penanda desa dan tenget. Pohon besar itu kini masih ada dan di bawahnya berdiri Pura Tegal Penangsaran Desa Adat Bualu. Di sanalah tempat permakluman bila ada upacara ngaben/mengubur bagi yang meninggal di Desa Adat Bualu dengan menggunakan banten, minimal canang asebit sari. Di desa-desa adat di Bali, pohon besar adalah penanda desa yang berfungsi sebagai peneduh sekaligus sebagai ciri pusat desa dengan pasar desanya.

Di Puncak Tegeh Kepah, para pejalan kehidupan yang berjalan kaki tempo doeloe maentegan menarik nafas sejenak, melakukan pranayama. Pertama,menyaksikan kawasan Nusa Dua dan sekitarnya dengan nyiur melambai-lambai di arah timur. Ke situlah, arah yang dituju orang-orang dari desa Delod Ceking khususnya Kampial, Kutuh, Ungasan, dan Pecatu. Mereka maurup-urup melakukan barter alakadarnya membawa palawija dan palagantung selain gerang. Maurup-urup adalah strategi berkomunikasi berkearifan lokal dengan mengedepankan manyama braya yang lebih dikenal dengan tetawangan ’kenalan’ yang dirawat dan diwariskan ke anak cucu hingga kini. Dalam konteks kekinian, inilah yang disebut ekonomi kerakyatan.

Kedua, di Puncak Tegeh Kepah para pejalan kehidupan yang berjalan kaki berkilo-kilo jaraknya tanpa bersandal di tengah debu dan panas menyengat semangat tiadalah patah. Di kejauhan dari balik kawasan Nusa Dua yang kini berdiri hotel berbintang mewah tempat para pemimpin dunia mengambil keputusan tentang iklim global, air, ekonomi, dan lain-lain yang menyangkut politik global, di tempat inilah diputuskan. Nusa Dua Bali  menjadi tempat memutuskan kebijakan politik dunia yang menghasilkan piagam atau dokumen tertulis. Dalam arti luas, itulah sastra dunia sebagai pegangan para pemimpin dunia becermin. Pilihan yang tepat bila pujangga Jawa yang dikenal dengan Dang Hyang Dwijendra melahirkan karya sastra monumental di sini. Dari sini pula, para pemimpin dunia melaksanakan dharma wiweka untuk memilah dan memilih “ngepah” kebijakan yang memuliakan manusia, alam, dan lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan. Inilah yang disebut kontinuitas oleh Ki Hadjar Dewantara.

Ketiga, dari Puncak Tegeh Kepah, para pejalan kehidupan juga dapat menyaksikan Pulau Nusa Penida di kejauhan seakan berdiri di atas  laut biru yang damai. Penampakan Nusa Penida di kejauhan melengkapi Nusa Dua di kedekatan, tampak berhadap-hadapan. Lebih-lebih di antara  Nusa Dua (Nusa Darma dan Nusa Paninsula yang dulu disebut Nusa Gede)  terdapat Batu Capil seakan menjadi pintu gerbang tempat memanggil para nelayan dari Nusa Penida untuk mampir. Utusan dari Nusa Penida diyakini membawa dua kabar, berkah atau musibah. Dalam konteks inilah, maka di Gumi Delod Ceking menjelang peralihan musim dari Kemarau ke Hujan digelar upacara Nangluk Merana ‘upacara menangkal gering’ dalam perspektif agraris berbasis maritim. Dalam tradisi di Desa Adat Kutuh, prosesi Merana Nangluk itu disebut mamendak. Harapannya, petani dan nelayan selamat dari gering ‘wabah’ tanpa   paceklik dan terhindar dari situasi sayah ‘gagal panen’.

Keempat, tidak jauh dari Puncak Tegeh Kepah dulu berdiri Bioskop Glory sebagai tempat hiburan bagi kaula muda dengan layar tancap. Belakangan, bioskop berada di area Pasar Central dekat Tragia bersebelahan dengan lokasi SMP Negeri 4 Kuta Selatan. Jika Bioskop Glory berbasis layar tancap, bila hujan penonton bubar menyelamatkan diri masing-masing, disingkat misbar : gerimis bubar.  Berbeda dengan bioskop di Pasar Central berbasis gedung representatif, penonton bisa berlama-lama di dalam gedung tidak terpengaruh cuaca.

Begitulah Puncak Tegeh Kepah adalah puncak terusan dari Puncak Tegeh Buhu dan Puncak Tegeh Kaman. Sebagai puncak terusan, Puncak Tegeh Kepah adalah puncak terendah menuju turunan ke arah Nusa Dua. Namun demikian, keindahannya pun menawan dan sungguh inspiratif. Banyak kisah dan narasi terbangun dari sini lantaran inilah akses satu-satunya dari Bualu menuju desa-desa di Kawasan Bukit Badung, di Kaki Pulau Bali yang dulu dikenal dengan nama Gumi Delod Ceking. Dulu kawasan ini sulit nasi tetapi kaya narasi yang pantas dikenang dan dicatat sebagai pangeling-eling.

Pada mulanya,  Puncak Tegeh Kepah adalah kawasan bengang seperti di Tegeh Buhu yang sepi. Namun, kini Puncak Tegeh Kepah adalah jalur supermacet bin bising. Diperlukan kesadaran dan kebijaksanaan menyikapi sehingga terhindar dari silang wacana yang menyebabkan hubungan disharmoni. Sugi Tenten pada Rabu Pon Sungsang, Sugi Jawa pada Kamis Wage Sungsang , dan Sugi Bali pada Jumat Kliwon Sungsang  adalah alur waktu untuk merenung menyambut Galungan tiba dengan kesadaran untuk menemukan keindahan sebagaimana di Puncak Tegeh Kepah tempo doeloe.

 Selamat menyambut Hari Galungan dan Kuningan. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Rumput Laut Delod Ceking, Nasibmu Kini   
Di Puncak Tegeh Buhu  
Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
Tags: desa adat bualudesa adat kutuhGumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pesta Rilis “Lebih Dekat” Nosstress: Membawa Lagu ke Rumah-rumah Pendengar

Next Post

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Anugerah Kebudayaan Indonesia dan Para Teladan dalam Pemajuan Kebudayaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co