2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Puncak Tegeh Buhu  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 8, 2024
in Esai
Di Puncak Tegeh Buhu  

Puncak Tegeh Buhu saat pagi cuaca mendung (Foto : I Nyoman Tingkat)

PADA 14 September 2008, saya menulis jejak perjalanan berjudul “Di Puncak Pengkolan Goa Gong” dimuat Bali Post asuhan Umbu Landu Paranggi di Denpasar. Sebuah jejak perjalanan yang saya lewati hampir saban hari masuk sekolah karena itulah jalur terdekat dari rumah menuju sekolah kala itu, dari Desa Adat Kutuh menuju SMA Negeri 2 Kuta di Desa Adat Kedonganan, Kuta. Saat tulisan itu  dimuat bersamaan dengan HUT III SMA Negeri 2 Kuta.

Pada 3 September 2024, saya menulis jejak perjalanan berjudul “Di Puncak Tegeh Kaman” dimuat Tatkala.co. asuhan Adnyana Ole di Singaraja.  Sebuah jejak perjalanan yang juga saya lewati saban hari bila ke sekolah, dari Desa Adat Kutuh menuju SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Banjar Mumbul Desa Adat Bualu. Pada 3 September 2024 adalah HUT V SMA Negeri 2 Kuta Selatan. Namun karena Indonesia Africa Forum (IAF) digelar di ITDC Nusa Dua, HUT V SMA Negeri 2 Kuta Selatan diundur ke Jumat Umanis Waregadian, 6 September 2024. HUT V ini sesungguhnya HUT III secara luring. HUT I dan II digelar secara daring karena gering Pandemi Covid-19.

Entah kebetulan atau kebenaran, entahlah. Saya buka arsif ingatan, dua sekolah tempat saya menjalankan tugas sebagai guru membawa pengalaman serupa nyaris sama dalam bulan yang sama : September juga  dalam suasana HUT  kedua  Sekolah di dua Kecamatan yang berbeda. SMA Negeri 2 Kuta di Kecamatan Kuta, sedangkan SMA Negeri 2 Kuta Selatan di Kecamatan Kuta Selatan. Kini, ketika memasuki September 2024 adalah bulan ke-11 saya menjadi pelaksana tugas Kepala SMA Negeri 2 Kuta yang sebentar lagi akan merayakan HUT ke-19, pada 14 September 2024. Saya tidak tahu, apakah ini kebetulan atau kebenaran. Entahlah.

Pada 3 September 2024, ketika saya menulis “Di Puncak Tegeh Kaman”, tiba-tiba saja teringat dengan Puncak Tegeh Buhu, puncak menuju Jalan Uluwatu dari arah Denpasar di depan Garuda Wisnu Kencana (GWK)   yang pada mulanya superkontroversial. Ingatan itulah yang menggedor-gedor saya untuk menulis jejak perjalanan berjudul, “Di Puncak Tegeh Buhu”.

 Pada 1970-an, satu-satunya jalan Jalur Denpasar ke Gumi Delod Ceking adalah Jalan tembusan dari Jalan Imam Bonjol Denpasar ke Kuta masuk jalur Bandara Ngurah Rai melewati Banjar Kelan Tuban terus ke Desa Adat Kedonganan lalu Desa Adat Jimbaran  selanjutnya menuju  Puncak Tikungan Tegeh Sari di Kali Jimbaran terus ke Selatan hingga sampai di Puncak Tegeh Buhu. Dari Puncak Tegeh Buhu terus ke Selatan sampai di Persimpangan Nirmala kini lurus menuju Uluwatu. Bila belok kiri dari persimpangan Nirmala, pamedek akan diarahkan ke Desa Adat Ungasan, Kutuh, Kampial, Bualu, hingga Tanjung Benoa.

 Para pemedek dari seluruh dunia (termasuk Bali) yang tangkil ke Pura Uluwatu kala itu, itulah jalur satu-satunya yang dilalui. Sudah menjadi konvensi, setiap pemedek sampai di Puncak Tikungan Tegeh Sari rehat sejenak sambil menghaturkan Canang Asebit Sari. Tradisi ini dapat dimaknai sebagai permakluman sekaligus permohonan izin agar dilancarkan-Nya perjalanan  tangkil ngaturang sembah bakti ke Pura Uluwatu. Rehat sejenak ini juga kesempatan untuk melakukan Pranayama menarik napas kesadaran pangenteg bayu “menenangkan diri” setelah melalui perjalanan jauh bin melelahkan.

Menarik dicermati, para pamedek rehat di Puncak Pengkolan  Tegeh Sari yang dalam bahasa lokal di sebut di Kali.  Pertama, di Kali ada Pura Tegeh Sari menjadi penanda memasuki Gumi Delod Ceking sekaligus permohonan izin agar perjalanan Tirtayatra dilancarkan-Nya. Lagi pula, di Tegeh Sari cukup tersedia parkir dalam kapasitas terbatas, dengan pemandangan biru Pasih Jimbaran dan Bandara Ngurah Rai serta Suung Prapat yang menghijau. Ngulangunin pisan, apalagi sambil menikmati prasadam tipat be sudang saur sambel. Hmmm. Makan untuk menikmati rasa dan rasanya nikmat penuh syukur.

Kedua, Puncak Tegeh Buhu dilewati para pamedek yang tangkil ke Pura Uluwatu. Pun, orang-orang dari Gumi Delod Ceking akan melewatinya ketika ke Peken Jimbaran, ke Peken Kuta, atau ke Peken Payuk di Pasar Badung. Sungguh Puncak Tegeh Buhu menjadi saksi bisu penuh wibawa, karismatis. Mataksu sesuai dengan namanya. Tegeh Buhu adalah puncak kesunyian, puncak kesepian, puncak keheningan. Di Puncak keheningan, pemedek diuji kesabaran dan kesadarannya untuk mendengarkan suara hati yang secara geografis merupakan hamparan tanah berbatu sebagai karang bengang. Karang bengang adalah karang embang sebagai petunjuk jalan menuju Pura Uluwatu agar tetap di ulu hati dalam kesadaran Padma hrdaya.

Ketiga, Puncak Tegeh Buhu menawarkan panorama yang superindah kala pagi bila cuaca bagus. Langit biru tanpa awan sangat menawan. Gugusan gunung dari Gunung Batukaru hingga Gunung Agung menjadi lukisan Ilahi yang menakjubkan. Pasih Jimbaran yang membiru dan Prapat Suwung yang menghijau adalah paduan warna yang menyejukan bin mendamaikan. Pesawat terbang yang mendarat dan lepas landas di Bandara Ngurah Rai ibarat anak-anak Bali yang bermain layang-layang memuliakan Rare Angon berkearifan agraris. Sungguh anak-anak yang riang gembira dalam Merdeka Belajar. Bila malam Purnama, terang bulan dirayu para bintang bak artis menggoda pertapa. Sungguh godaan yang indah. Pertapa sejati pastilah dapat melewati godaan artis hedonis metropolitan.

Keempat, pada dekade 1980-an ketika Gubernur Bali dijabat Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Tegeh Buhu adalah jalur hijau dilarang membangun.  Sejak 1990-an, papan tulis jalur hijau itu sudah tiada. Kini Tegeh Buhu  bukanlah puncak kesepian, melainkan puncak kemacetan dengan kebisingan lebih-lebih siang hari terik matahari. Umpatan pun sering terdengar di tengah indisipliner pengguna jalan di Puncak Ketinggian Tegeh Buhu. Anehnya, wong sunantara ‘bule-bule’ makin binal dan liar melanggar karena mencontoh local boy sebagai parekan dalem. Ini adalah bagian produk gagal berguru menyambut kemajuan. Dari mana mulai perbaikan ?  Bahwa manusia sebagai buana alit adalah reprentasi dari buana agung, maka perbaikan dimulai dari kepala. “Perang dan damai bermulai dari pikiran. Pikiran itu di kepala”, demikianlah wejangan kaum bijaksana.

Begitulah, di Puncak  Tegeh  Buhu, setelah dulu lama kesepian tak dilirik orang, kini memperlihatkan wajah yang paradok. Kenangan sepi kini  tersisa hanya saat Hari Suci Nyepi dalam sehari. Itu pun kalau ada kesadaran kontemplatif. Jejak pencari keheningan dan penutur kejernihan kian terkontaminasi dengan wajah garang. Beton-beton kaku telah memerkosa Ibu Pertiwi di karang bengang, mengusir para pengangon bercapil klangsah. Menjauhkan anak-anak Delod Ceking dari permainan layang-layang yang membuat angan mereka melayang menuju langit biru kedamaian. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Desa Adat  Kutuh Sebagai Desa Pemancar 
Di Puncak Tegeh Kaman 
Sumur Peradaban Itu Bernama “Suukan”
Bak Inpres dan Cubang Air di Gumi Delod Ceking   
“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  
Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  

Tags: Gumi Delod Cekingkuta selatanNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Malajah Sambil Malali Ka Nusa Panida” : Menakar Kelayakan Buku “Ngetelang Getih Kaang Putih” sebagai Media Ajar Bahasa Bali

Next Post

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Suara Saking Bali dan Usaha Membumikan Sastra Bali Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co