2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 26, 2024
in Esai
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  

Foto penulis (tengah)

BATU-BATU di antara Pura Geger dan Pura Uluwatu di Gumi Delod Ceking adalah tebing yang dalam bahasa setempat disebut ngampan. Ada perbedaan status  kawasan ngampan yang menjadi wewidangan ‘wilayah’  Desa Adat di Gumi Delod Ceking. Di Desa Adat Peminge, misalnya di ngampan sudah berdiri sejumlah vila dan hotel milik investor.  Di Desa Adat Kutuh, ngampan adalah karang pemupon Desa Adat yang tereksplisit dalam Awig-Awig. Status hukumnya cukup kuat karena Awig-Awig diakui sebagai  dasar hukum yang mengatur kesejahteraan : Sukerta Tata  Parhyangan (kawasan suci), Sukerta Tata Pawongan (manusia), dan Sukerta Tata  Palemahan (lingkungan).

Di Desa Adat Ungasan, menurut I Ketut Marcin, mantan Bandesa Ungasan, ngampan di bawah pengelolaan Desa Adat. Di Desa Adat Pecatu, kata Wetra Adnyana dan I Nyoman Sudama,  kawasan ngampan sebagian menjadi Pelaba Pura dan sebagian telah beralih status ke investor.

Walaupun Kawasan ngampan sepanjang Pura Geger sampai Pura Uluwatu bertebing yang makin ke Barat makin tinggi dengan puncak ketinggian di Pura Ulawatu, keberadaan ngampan itu tidak semua tebing berbatu. Ada juga tanah di antara garis pantai sampai puncak tebing. Tanah-tanah ngampan itu sangat subur, mirip dengan di Batur. Di antara bebatuan, tomat tumbuh subur. Buktinya dulu sebelum 1990-an tanah ngampan itu  tempat petani menanam jagung. Jagungnya tumbuh subur dan buahnya besar-besar. Petani itu juga mendirikan pondok beratap daun jati kering  atau alang-alang yang dianyam  diperoleh dari  ngampan pula.  Pondok-pondok di ngampan itu sebagai tempat berteduh para petani sembari menjaga kebun dari gangguan binatang (landak dan kera).

Saya meyakini para petani itu tidak tahu bila Perjalanan Sang Maha Kawi Wiku, Dang Hyang Nirartha tempo doeloe telah membuat pondok sastra di sekitar Kawasan itu. Pondok Sastra adalah tempat berteduh untuk menyiapkan sarapan batin dalam meningkatkan jnana (spiritualitas), sedang pondok petani adalah tempat berteduh untuk memenuhi kebutuhan pangan secara jasmani. Kini, ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan makan siang gratis, kebijakan itu telah dilaksanakan para petani secara mandiri tanpa menunggu bantuan sosial dari pemerintah.  Kearifan petani yang berkecerdasan memproduksi makanan dengan nandur aneka tanaman pangan cepat panen dan belakangan ini juga menjadi program pemeritah. Kecerdasan petani menyiapkan pangan untuk memenuhi kebutuhannnya perlu terus didorong oleh pemerintah bila perlu didampingi dengan tenaga ahli. Mengedukasi petani dengan baik dan benar, tidak memanjakan dengan harap-harap cemas menunggu bansos pangan.

Kembali ke batu-batu di antara Pura Geger dan Pura Uluwatu. Ada batu kembar, batu mejan, batu makeprus, batu gong, batu buyar, batu cupit, batu madinding, batu pageh, batu matandal. Menyebut batu-batu itu tiba-tiba saya teringat puisi Sutardji  Chalzoum Bachri berjudul, “Batu”.

Dalam bait puisinya, Sutardji menyebut aneka batu : batu mawar/batu langit/batu duka/batu rindu/batu janun/batu bisu/ kaukah itu/teka/teki/yang/tak menepati janji ?…  Pada bait lain, batu juga digunakan sebagai metafora pemujaan, “… Kau tahu/batu risau/batu pukau/batu Kau-ku/batu sepi/batu ngilu/batu bisu/kaukah itu/teka/teki/yang/tak menepati janji ? …

 Jika melihat latar belakang Sutardji,  tampaknya budaya Melayu juga memuliakan batu. Ketika demam batu akik beberapa tahun lalu, banyak pemburu yang ingin mengoleksi aneka batu entah hanya sekadar untuk hobi atau dibawa ke aras yang lebih tinggi secara spirit karena batu konon ada jodohnya pula. Batu di tangan orang tepat bisa bertuah, batu tangan orang tak tepat bisa bernilai rongsokan. Memuliakan batu untuk keseimbangan artistik sangat perlu agar tidak  ada batu salah genah. Apalagi ada yang lempar batu sembunyi tangan. Hal yang tidak diharapkan.

 Jika Sutardji mengeja batu dalam puisi-puisinya, Pemangku Sonteng di Delod Ceking tempo doeloe juga mengeja batu dalam puja saa-nya. Pemangku berpuisi menyebut Bhatara-Bhatari yang berstana di batu-batu itu. Dari situlah muncul istilah bebaturan  sebagai tempat yang disucikan.  Penyebutan berulang  nama-nama tempat dengan aneka nama batu oleh Pemangku Sonteng, dapat dianalogikan dengan mantra Sulinggih yang memuja keagungan Sungai-Sungai di India, Gangga, Saraswati, dan Yamuna, misalnya.  Begitu sederhana Pemangku Sonteng melakukan pemujaan dengan olah vokal tanpa suara genta.  Orang Bali menyebutnya mantra papojolan ’mantra lugas’ membumi. Kini, seiring dengan pembinaan dan pelatihan kepemangkuan, puja mantra Pemangku Sonteng di Gumi Delod Ceking relatif  sama dan standar dengan genta.

Kembali ke batu-batu bertuah di antara Pura Geger dan Pura Ulawatu. Oleh karena bertuah, krama setempat menyucikan batu-batu itu dengan menghaturkan canang saat hari-hari tertentu (Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, dan hari Puja Wali di Pura yang dekat dengan Batu itu).  Seperti di Batu Kembar, umat memohon tirta segara untuk Puja Wali di Pura Gunung Payung pada Purnama Sasih Kaulu.

Di Batu Makeprus, nelayan memancing ikan dengan waspada dan eling sambil  menyepi kalau-kalau kail bertemu ikan. Swadharma sebagai bandega ‘nelayan’ adalah dharma pemujaan dengan kail dan umpan sebagai mantra untuk merayu ikan-ikan yang berkelana ke sana-ke mari di lubuk. Kearifan ini telah melahirkan peribahasa, lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang, sebagai bentuk pemuliaan kepada nelayan dan petani. Betapa indahnya.

Di Batu Mejan, orang-orang Desa Adat Kutuh tempo doeloe sebelum 1990-an menumpahkan harapan untuk bisa sekadar bertahan hidup mencari pakan ternak untuk sapi-sapinya sambil melaut. Melakukan dua pekerjaan sekaligus, bendega dan pengangon. Sambil menyelam minum air, sebuah kearifan Melayu berbasis agraris. Oleh karena di Batu Mejan, medannya terjal dan mesti menggunakan tangga, kehati-hatian menjadi keniscayaan. Keseimbangan dijaga sehingga bisa selamat dan tercapai tujuan.

Batu-batu bertuah di pesisir Desa Adat Kutuh adalah batu spirit yang pada awalnya tanpa pelinggih, belakangan dibuatkan Pelinggih seperti di Batu Cupit, Batu Medinding, dan Batu Pageh seiring dengan perubahan bentang ngampan karena dikelola dan dikomersialkan untuk kawasan pariwisata. Pelinggih-pelinggih itu menyimpan  jejak historis yang perlu dimuliakan oleh generasi yang akan datang berdasarkan semangat trisemaya : Atita, wartamana, nagata. Oleh karena berbentuk pelinggih, maka pujawali pun digelar. Dari tiada menjadi ada. Sebelumnya disebut Pura Tankaton (Pura tak tampak) menjadi Pura Katon (Pura yang tampak maujud).

 Begitulah batu-batu bertuah di Gumi Delod Ceking terutama yang berada di sepanjang pesisir dan tebing menyimpan pesan sebagai bentang alam yang menjadi benteng pertahanan moral spiritual sekaligus benteng pertahanan pangan berbasis maritim dan kini intens merayu turis berdatangan membawa dolar.  Daya eksotis tebing-tebing itu perlu dijaga dan dirawat agar makin memikat, bukan ditebang sembarangan. Saatnya, berguru ke Ngampan Delod Ceking tentang ketangguhan dan kesungguhan mengolah manik astagina dalam diri. Karang awake tandurin. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: Gumi Delod CekingNusa DuaPura Uluwatu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alexis de Tocqueville dan Tantangan Demokrasi: Mengapa Agama Sangat Penting bagi Masyarakat Demokratis?

Next Post

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co