23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 14, 2024
in Esai
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 

Pura Penataran di Desa Adat Kampial, Badung | Foto: Nyoman Tingkat

DESA Adat Kampial di wilayah Kuta Selatan, Badung, adalah salah satu desa di Gumi Delod Ceking yang tidak memiliki laut. Hal itu pernah dikeluhkan oleh Bandesa Adat Kampial, I Nyoman Sudiarta. Ia beralasan Gumi  Delod Ceking yang berpantai memiliki keistimewaan : kunjungan wisatawan kian membludak, pendapatan desanya makin moncer, sementara Kampial hanya menerima polusi dan macetnya.

Sungguh miris. Perlu kearifbijaksanaan antardesa bertetangga duduk bersama mencari solusi terbaik untuk harmonisasi antarhubungan. Prinsif salunglung sabaya antaka, paras-paros sarpa na ya dapat dijadikan pegangan. Saling rombo dalam menjaga kondusivitas desa yang bertetangga. Intinya selalu bergotong royong sebagaimana diinginkan Bung Karno ketika merumuskan lahirnya Pancasila.

Walaupun Desa Adat Kampial tidak memiliki laut, dua tinggalan leluhurnya tidak dapat dianggap enteng. Di antara desa  adat di Gumi Delod Ceking, hanya di Desa Adat Kampial terdapat Pura Ibu Tapa dan Pura Penataran. Pura Ibu Tapa di Kampial umumnya berbentuk gedong, konon tabu dipindahkan walaupun penyungsungnya sudah bermigrasi ke desa-desa di dataran rendah sekelilingnya yang kesuburannya lebih baik dari aspek agraris.

Berdasarkan penuturan tetua Kampial, diperkirakan Pura Ibu Tapa itu awalnya kuburan sebelum setra Kampial ada. Jika merujuk pada penuturan itu, Kampial termasuk Desa Adat Tua yang krama-nya memiliki tradisi penguburan dekat rumahnya. Hal itu menyebabkan keterikatan mereka pada wed (asal-muasal) tidak terlupakan, seperti mategul tanpa tali, menjadi keyakinan turun-temurun.

Itulah yang dilakoni oleh Ir.  I Wayan Wita, mantan Bandesa Bualu walaupun sudah berpisah desa adat dengan Kampial sejak awal 1960-an menjadi Desa Adat Bualu, keterikatannya dengan Kampial tidak pernah putus, apalagi harus nyungsung Pura Sadha di Kampial yang menurutnya berelasi dengan Pura Dang Kahyangan Sadha di Kapal Mengwi. 

Selain I Wayan Wita, banyak krama Desa Adat Bualu bahkan krama Desa Adat Jimbaran dan krama Desa Adat Kedonganan  juga  punya Pura Ibu Tapa di Kampial. Itu membuktikan, sejak dulu krama Desa Adat Kampial sudah bermigrasi ke dataran rendah, mungkin dengan pertimbangan ekonomi. Kita tahu, Desa Adat Kampial yang berdekatan dengan Desa Adat Kutuh, secara geografi kering dan tandus sehingga sulit untuk memperoleh makanan untuk bertahan hidup.

Kenyataan demikian juga mendorong banyak orang dari Gumi Delod Ceking bertransmigrasi  ke Sulawesi dan Sumatera pada zaman Orde  Lama dan Orde Baru. Program transmigrasi ini rada ironis, karena dua dekade setelah mereka bertransmigrasi, jumlah urban dari luar Bali ke Gumi Delod Ceking melebihi jumlah mereka yang bertransmigrasi. Paradoksal transmigrasi.

Kembali ke Pura Ibu Tapa. Penamaan Pura Ibu Tapa sangat khas  penuh wibawa. Dari penamaan itu, menegaskan makna pemuliaan pada ibu (perempuan) sangat kental melalui laku meneng (diam), hening (tanpa suara), merenung (introspeksi diri) untuk ketenangan, yang kalau disingkat menjadi neng ning nung nang. Itulah laku Tapa pada Ibu sebagai Pertiwi sumber mahahidup menghidupi semesta dan isinya. Neng ning nung nang serupa alunan gamelan yang harmonis dalam perbedaan. Maka Saban Galungan, di tengah hingar-bingar pariwisata,  krama wed Kampial yang bermigrasi ke beberapa desa di dataran  kembali menghadap  sungkem kepada Hyang Ibu Tapa. Hyang Ibu Tapa memanggil  kembali ke tanah natah kelahirannya.

Selain Pura Ibu Tapa, Desa Adat Kampial  juga satu-satunya desa di Gumi Delod Ceking yang  memiliki Pura Penataran. Penataran  sebagai Pura adalah benteng pertahanan spiritualitas dan religiusitas krama di Gumi Delod Ceking. Boleh jadi,  Pura Penataran Kampial adalah tempat penggemblengan calon pemimpin sekala (politik kekuasaan) dan pemimpin niskala (bagawanta) yang memberikan sepat siku-siku bagaimana kepemimpinan politik kekuasaan dijalankan dan bagaimana bagawanta terus-menerus menyadarkan dan menyalakan spirit untuk menerangi pemimpin dari kegelapan batin (awidya) menuju terang galang kangin (widya)  sebagaimana dilantunkan dalam gong lelambatan. Ngulangunin menyambut fajar tiba dengan suara burung riang gembira penuh semangat pagi. 

Menarik pula dicatat bahwa Desa Adat Bualu yang memisahkan diri dari Desa Adat Kampial pada awal 1960-an, sampai kini juga menjadi penyungsung Pura Penataran dan Pura Dalem Kahyangan dengan menggunakan kuburan (setra) bersama. Ketika pujawali di Pura Penataran saat Tilem Sasih Kalima, yang ngerombo bergiliran antara Desa Adat Bualu dan Desa Adat Kampial.

Suasana persatuan dan kesatuan antara dua desa adat terpatri melalui kekayaan batin yang dihidupkan dan dikembangkan melalui persembahyangan bersama di  Pura Penataran Desa Adat Kampial. Di sinilah peran pemimpin seyogyanya merawat nilai kebersamaan dalam ikatan batin mategul tanpa tali mewujudkan kesejahteraan lahir batin, sekala niskala.

Begitulah seyogyanya seorang pemimpin yang telah mendapat penggemblengan di Pura Penataran (Kampial), sudah selesai dengan dirinya. Ia menyatu dan berfokus untuk menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya, sebagaimana layaknya bunga kamboja yang menyatu dengan sarinya. Tidak berlebihan Sekar Jepun menjadi maskot Kabupaten Badung dalam Tari Sekar Jepun dan lagu Bali Bungan Jepun ciptaan D. Antoni.  Sarinyane neket ring bunga ibarat menyatunya pemimpin dengan rakyat.

Kini, ketika pelatihan (penataran) dilaksanakan dari hotel ke hotel dengan jaminan makanan bergizi dan tempat menginap yang mewah, adakah menyerap  inspirasi dari Pura penataran. Jangan-jangan penataran demi penataran dilakukan sekadar formalitas religius sepi spiritualitas hingga abai kualitas, seperti  demokrasi suriak siu, jaya suara minus laksana dan manacika.

Berbahagialah Desa Adat Kampial memiliki  Pura Penataran sebagai Perguruan Rohani tempat mengasah kepekaan cipta, rasa, dan karsa yang bermuara pada peradaban yang melahirkan kebudayaan. Dari Pura Penataranlah Sumber Daya Manusia Bali terus – menerus disepuh sehingga ketajamannya memuncak pada kecerdasan dengan semangat Wiweka Jaya Sadhu (arif bijaksana dalam memenangkan persaingan berlandaskan kebudayaan bangsa).  

Salam hangat dari Gumi Delod Ceking! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Gala Dinner, “Diplomasi Paon” Kelas Dunia  
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Tags: BadungDesa Adat KampialNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemeriahan Lomba  Agustusan dan Pergeseran dalam Inovasi | Opini Kecil dari Komentator Online

Next Post

Menghidupkan Kembali Gending Sanghyang Dedari: Upaya Repatriasi Budaya

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Menghidupkan Kembali Gending Sanghyang Dedari: Upaya Repatriasi Budaya

Menghidupkan Kembali Gending Sanghyang Dedari: Upaya Repatriasi Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co