22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 14, 2024
in Esai
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 

Pura Penataran di Desa Adat Kampial, Badung | Foto: Nyoman Tingkat

DESA Adat Kampial di wilayah Kuta Selatan, Badung, adalah salah satu desa di Gumi Delod Ceking yang tidak memiliki laut. Hal itu pernah dikeluhkan oleh Bandesa Adat Kampial, I Nyoman Sudiarta. Ia beralasan Gumi  Delod Ceking yang berpantai memiliki keistimewaan : kunjungan wisatawan kian membludak, pendapatan desanya makin moncer, sementara Kampial hanya menerima polusi dan macetnya.

Sungguh miris. Perlu kearifbijaksanaan antardesa bertetangga duduk bersama mencari solusi terbaik untuk harmonisasi antarhubungan. Prinsif salunglung sabaya antaka, paras-paros sarpa na ya dapat dijadikan pegangan. Saling rombo dalam menjaga kondusivitas desa yang bertetangga. Intinya selalu bergotong royong sebagaimana diinginkan Bung Karno ketika merumuskan lahirnya Pancasila.

Walaupun Desa Adat Kampial tidak memiliki laut, dua tinggalan leluhurnya tidak dapat dianggap enteng. Di antara desa  adat di Gumi Delod Ceking, hanya di Desa Adat Kampial terdapat Pura Ibu Tapa dan Pura Penataran. Pura Ibu Tapa di Kampial umumnya berbentuk gedong, konon tabu dipindahkan walaupun penyungsungnya sudah bermigrasi ke desa-desa di dataran rendah sekelilingnya yang kesuburannya lebih baik dari aspek agraris.

Berdasarkan penuturan tetua Kampial, diperkirakan Pura Ibu Tapa itu awalnya kuburan sebelum setra Kampial ada. Jika merujuk pada penuturan itu, Kampial termasuk Desa Adat Tua yang krama-nya memiliki tradisi penguburan dekat rumahnya. Hal itu menyebabkan keterikatan mereka pada wed (asal-muasal) tidak terlupakan, seperti mategul tanpa tali, menjadi keyakinan turun-temurun.

Itulah yang dilakoni oleh Ir.  I Wayan Wita, mantan Bandesa Bualu walaupun sudah berpisah desa adat dengan Kampial sejak awal 1960-an menjadi Desa Adat Bualu, keterikatannya dengan Kampial tidak pernah putus, apalagi harus nyungsung Pura Sadha di Kampial yang menurutnya berelasi dengan Pura Dang Kahyangan Sadha di Kapal Mengwi. 

Selain I Wayan Wita, banyak krama Desa Adat Bualu bahkan krama Desa Adat Jimbaran dan krama Desa Adat Kedonganan  juga  punya Pura Ibu Tapa di Kampial. Itu membuktikan, sejak dulu krama Desa Adat Kampial sudah bermigrasi ke dataran rendah, mungkin dengan pertimbangan ekonomi. Kita tahu, Desa Adat Kampial yang berdekatan dengan Desa Adat Kutuh, secara geografi kering dan tandus sehingga sulit untuk memperoleh makanan untuk bertahan hidup.

Kenyataan demikian juga mendorong banyak orang dari Gumi Delod Ceking bertransmigrasi  ke Sulawesi dan Sumatera pada zaman Orde  Lama dan Orde Baru. Program transmigrasi ini rada ironis, karena dua dekade setelah mereka bertransmigrasi, jumlah urban dari luar Bali ke Gumi Delod Ceking melebihi jumlah mereka yang bertransmigrasi. Paradoksal transmigrasi.

Kembali ke Pura Ibu Tapa. Penamaan Pura Ibu Tapa sangat khas  penuh wibawa. Dari penamaan itu, menegaskan makna pemuliaan pada ibu (perempuan) sangat kental melalui laku meneng (diam), hening (tanpa suara), merenung (introspeksi diri) untuk ketenangan, yang kalau disingkat menjadi neng ning nung nang. Itulah laku Tapa pada Ibu sebagai Pertiwi sumber mahahidup menghidupi semesta dan isinya. Neng ning nung nang serupa alunan gamelan yang harmonis dalam perbedaan. Maka Saban Galungan, di tengah hingar-bingar pariwisata,  krama wed Kampial yang bermigrasi ke beberapa desa di dataran  kembali menghadap  sungkem kepada Hyang Ibu Tapa. Hyang Ibu Tapa memanggil  kembali ke tanah natah kelahirannya.

Selain Pura Ibu Tapa, Desa Adat Kampial  juga satu-satunya desa di Gumi Delod Ceking yang  memiliki Pura Penataran. Penataran  sebagai Pura adalah benteng pertahanan spiritualitas dan religiusitas krama di Gumi Delod Ceking. Boleh jadi,  Pura Penataran Kampial adalah tempat penggemblengan calon pemimpin sekala (politik kekuasaan) dan pemimpin niskala (bagawanta) yang memberikan sepat siku-siku bagaimana kepemimpinan politik kekuasaan dijalankan dan bagaimana bagawanta terus-menerus menyadarkan dan menyalakan spirit untuk menerangi pemimpin dari kegelapan batin (awidya) menuju terang galang kangin (widya)  sebagaimana dilantunkan dalam gong lelambatan. Ngulangunin menyambut fajar tiba dengan suara burung riang gembira penuh semangat pagi. 

Menarik pula dicatat bahwa Desa Adat Bualu yang memisahkan diri dari Desa Adat Kampial pada awal 1960-an, sampai kini juga menjadi penyungsung Pura Penataran dan Pura Dalem Kahyangan dengan menggunakan kuburan (setra) bersama. Ketika pujawali di Pura Penataran saat Tilem Sasih Kalima, yang ngerombo bergiliran antara Desa Adat Bualu dan Desa Adat Kampial.

Suasana persatuan dan kesatuan antara dua desa adat terpatri melalui kekayaan batin yang dihidupkan dan dikembangkan melalui persembahyangan bersama di  Pura Penataran Desa Adat Kampial. Di sinilah peran pemimpin seyogyanya merawat nilai kebersamaan dalam ikatan batin mategul tanpa tali mewujudkan kesejahteraan lahir batin, sekala niskala.

Begitulah seyogyanya seorang pemimpin yang telah mendapat penggemblengan di Pura Penataran (Kampial), sudah selesai dengan dirinya. Ia menyatu dan berfokus untuk menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya, sebagaimana layaknya bunga kamboja yang menyatu dengan sarinya. Tidak berlebihan Sekar Jepun menjadi maskot Kabupaten Badung dalam Tari Sekar Jepun dan lagu Bali Bungan Jepun ciptaan D. Antoni.  Sarinyane neket ring bunga ibarat menyatunya pemimpin dengan rakyat.

Kini, ketika pelatihan (penataran) dilaksanakan dari hotel ke hotel dengan jaminan makanan bergizi dan tempat menginap yang mewah, adakah menyerap  inspirasi dari Pura penataran. Jangan-jangan penataran demi penataran dilakukan sekadar formalitas religius sepi spiritualitas hingga abai kualitas, seperti  demokrasi suriak siu, jaya suara minus laksana dan manacika.

Berbahagialah Desa Adat Kampial memiliki  Pura Penataran sebagai Perguruan Rohani tempat mengasah kepekaan cipta, rasa, dan karsa yang bermuara pada peradaban yang melahirkan kebudayaan. Dari Pura Penataranlah Sumber Daya Manusia Bali terus – menerus disepuh sehingga ketajamannya memuncak pada kecerdasan dengan semangat Wiweka Jaya Sadhu (arif bijaksana dalam memenangkan persaingan berlandaskan kebudayaan bangsa).  

Salam hangat dari Gumi Delod Ceking! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Gala Dinner, “Diplomasi Paon” Kelas Dunia  
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Tags: BadungDesa Adat KampialNusa Dua
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kemeriahan Lomba  Agustusan dan Pergeseran dalam Inovasi | Opini Kecil dari Komentator Online

Next Post

Menghidupkan Kembali Gending Sanghyang Dedari: Upaya Repatriasi Budaya

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menghidupkan Kembali Gending Sanghyang Dedari: Upaya Repatriasi Budaya

Menghidupkan Kembali Gending Sanghyang Dedari: Upaya Repatriasi Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co