24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kupu-Kupu di Dalam Buku”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 11, 2023
in Esai
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”

Ilustrasi diolah dari gambar di internet

PRESIDEN SOEHARTO telah mencanangkan Mei sebagai Bulan Buku pada 1995, saat menjelang 50 tahun Indonesia Merdeka, dengan menjadikan Hardiknas sebagai momentum. Soeharto juga sempat mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca dengan   Hari Aksara Internasional (8 September) sebagai momentum dan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. 

Dua puluh satu tahun kemudian pada 2016, ketika Mendikbud dijabat Anies Baswedan juga menetapkan Mei sebagai Bulan Pendidikan. Dengan semangat Hardiknas. Anies Baswedan juga mewariskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sampai kini masih dilakukan  sekolah-sekolah.  Semua program itu bertautan dengan buku yang kini bentuknya bisa berupa buku cetak atau buku digital.

Artinya, betapa pentingnya arti membaca buku bagi dunia Pendidikan dalam memajukan peradaban sebuah bangsa. Tidak berlebihan bila Taufiq Ismail menjuduli salah satu puisinya, “Kupu-Kupu di dalam Buku”, yang menjadi judul tulisan ini.

Apa makna di balik perayaan dan pencanangan itu ? Pertama, para pemimpin bangsa khawatir rendahnya budaya membaca buku ini, tidak saja dari kaum rakyat biasa tetapi juga dari kaum terdidiknya. Kekhawatiran itu terlihat dari suburnya budaya menerabas dan pencapaian serba instan.  Sering munculnya berita plagiat di kalangan kaum terpelajar Indonesia adalah bukti rendahnya budaya literasi. Tantangan itu makin nyata pada zaman digital kini dengan respon serbacepat dan  apresiasi yang sama untuk sebuah pencapaian dengan ungkapan : mantap, keren, top, sebagai bentuk pujian..

Kedua, para pemimpin Indonesia dari masa ke masa paham betul dan sadar bahwa membaca (buku dengan berbagai variannya) itu penting untuk merawat ingatan dan membangun peradaban. Kaum literat sering menganalogikan kekayaan berupa buku atau lontar sebagai Candi Pustaka yang perlu terus dirawat, dibina, dan dikembangkan untuk menyehatkan batin bangsa selain juga menyehatkan raga bangsa seirama dengan Indonesia Raya, “… bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”. Orde Baru menyimplifikasikannya dengan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Walaupun Gerakan itu telah dilakukan lebih dari dua dekade, bahkan emberionya jauh sebelum Indonesia Merdeka yang ditandai dengan berdiri Commisie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat) oleh Belanda pada 14 September 1908, persoalan literasi di negeri ini belum menunjukkan perbaikan secara signifikan yang akarnya dapat diurai dari dunia Pendidikan.

Selama ini, dunia Pendidikan (dalam arti luas) kaya dengan ritual yang spiritnya masih terus-menerus harus diperjuangkan agar substansinya makin nyata adanya.  Itu pula sebabnya, berbagai gerakan yang dicanangkan dengan biaya besar berhenti seketika setelah kegiatan secara serimonial ditutup pejabat. Ritual selalu ramai pada awalnya, setelahnya nyaris tak terdengar.

Tidak berlebihan, dalam konteks literasi temuan Lukman Ali (2000)  menunjukkan  tidak satu pun ditemukan SMU (kini : SMA) di Indonesia yang melaksanakan pembelajaran  Sastra dengan kewajiban membaca, menganalisis, dan mendiskusikan buku karya sastra di kelas. 

Pada 1996, empat tahun sebelum temuan Lukman Ali yang mengatakan nol buku bagi Indonesia terkait pembelajaran Sastra dibandingkan dengan 13 negara yang diteliti,  Taufiq Ismail telah menulis puisi berjudul, “Kupu-Kupu di dalam Buku”.  Puisi ini mencerminkan kegundahan pengarang tentang rendahnya budaya baca buku di negeri ini yang berbeda dengan negara-negara maju.

“Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil bertanya tentang kupu-kupu
pada mamanya, dan mamanya tak bisa menjawab keingitahuan putrinya, kemudian katanya, “Tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”. dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis dan ruang tunggu kereta
api negeri ini buku dibaca, di perpustakaan Perguruan, kota dan desa buku
dibaca, di tempat penjualan buku laris dibeli, dan ensiklopedia yang terpajang
di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.

Puisi itu mengingatkan kita untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat di mana saja (desa), kapan saja (kala) dengan cara apa saja (patra) walaupun sudah mengantongi ijazah yang disebut  STTB (Surat Tanda Tamat Belajar). Seyogyanya STTB menjadi Surat Tetap Terus Belajar. Dengan begitu, orangtua, guru, tokoh masyarakat sama-sama belajar dengan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Argumentasi dibangun dengan rujukan buku-buku/jurnal  bermutu dari hasil penelitian yang dapat dipercaya dengan dukungan data akurat.

Setelah  78 tahun Indonesia merdeka  angka melek aksara menunjukkan peningkatan signifikan, dari  2 persen penduduknya yang melek aksara pada awal kemerdekaan,  kini sudah menjadi 96 persen yang melek aksara (Ismunandar Kompas.id, 8/9/2022)  Dari persentase kenaikan angka melek huruf  ini membanggakan tetapi tampak bias gender yang bertentangan dengan semangat demokratisasi pendidikan untuk mencerdaskan bangsa. Bangsa yang cerdas menjadi hak bagi seluruh warga negara tanpa padang bulu dan menjadi kewajiban bagi negara untuk mengusahakan dan memperjuangkannya.

Pemerintah juga terus-menerus mengusahakan pengadaan buku di sekolah-sekolah, taman bacaan masyarakat  terus diberdayakan,  perpustakaan desa juga terus digalakkan. Sekolah dapat menggunakan dana BOS untuk pengadaan buku teks dan nonteks termasuk pengadaan buku digital, langganan koran dan majalah. 

Pemerintah desa juga dapat menggunakan dana desa untuk memerkaya koleksi perpustakaan desa. Gairah membaca buku di kalangan masyarakat desa dapat  bekerjasama dengan Tripusat Pendidikan dengan masing-masing pusat ada penggeraknya seperti layaknya sekolah penggerak.  Cara-cara aktif-produktif dan menyenangkan  diagendakan. Pendongeng bisa diundang untuk penguatan membaca buku. Lomba-lomba digelar secara berjenjang untuk melahirkan duta baca/duta literasi desa.

Duta literasi desa bisa dioptimalkan dengan mengadakan konferensi duta literasi daerah, regional, dan nasional. Mereka dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat lapisan bawah agar terhindar dari berita bohong. Fungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dapat dimulai dari sini. Dari desa. Ini perlu  langkah bersama sesuai dengan semangat Pengembangan Komunitas Berbasis Aset yang dilaksanakan di sekolah penggerak dengan Kurikulum Merdeka. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Tags: Literasiliterasi sekolahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Stroboscopic Effect”, Dramatisasi Objek Bergerak dalam Foto

Next Post

Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co