4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kupu-Kupu di Dalam Buku”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 11, 2023
in Esai
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”

Ilustrasi diolah dari gambar di internet

PRESIDEN SOEHARTO telah mencanangkan Mei sebagai Bulan Buku pada 1995, saat menjelang 50 tahun Indonesia Merdeka, dengan menjadikan Hardiknas sebagai momentum. Soeharto juga sempat mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca dengan   Hari Aksara Internasional (8 September) sebagai momentum dan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. 

Dua puluh satu tahun kemudian pada 2016, ketika Mendikbud dijabat Anies Baswedan juga menetapkan Mei sebagai Bulan Pendidikan. Dengan semangat Hardiknas. Anies Baswedan juga mewariskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sampai kini masih dilakukan  sekolah-sekolah.  Semua program itu bertautan dengan buku yang kini bentuknya bisa berupa buku cetak atau buku digital.

Artinya, betapa pentingnya arti membaca buku bagi dunia Pendidikan dalam memajukan peradaban sebuah bangsa. Tidak berlebihan bila Taufiq Ismail menjuduli salah satu puisinya, “Kupu-Kupu di dalam Buku”, yang menjadi judul tulisan ini.

Apa makna di balik perayaan dan pencanangan itu ? Pertama, para pemimpin bangsa khawatir rendahnya budaya membaca buku ini, tidak saja dari kaum rakyat biasa tetapi juga dari kaum terdidiknya. Kekhawatiran itu terlihat dari suburnya budaya menerabas dan pencapaian serba instan.  Sering munculnya berita plagiat di kalangan kaum terpelajar Indonesia adalah bukti rendahnya budaya literasi. Tantangan itu makin nyata pada zaman digital kini dengan respon serbacepat dan  apresiasi yang sama untuk sebuah pencapaian dengan ungkapan : mantap, keren, top, sebagai bentuk pujian..

Kedua, para pemimpin Indonesia dari masa ke masa paham betul dan sadar bahwa membaca (buku dengan berbagai variannya) itu penting untuk merawat ingatan dan membangun peradaban. Kaum literat sering menganalogikan kekayaan berupa buku atau lontar sebagai Candi Pustaka yang perlu terus dirawat, dibina, dan dikembangkan untuk menyehatkan batin bangsa selain juga menyehatkan raga bangsa seirama dengan Indonesia Raya, “… bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”. Orde Baru menyimplifikasikannya dengan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Walaupun Gerakan itu telah dilakukan lebih dari dua dekade, bahkan emberionya jauh sebelum Indonesia Merdeka yang ditandai dengan berdiri Commisie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat) oleh Belanda pada 14 September 1908, persoalan literasi di negeri ini belum menunjukkan perbaikan secara signifikan yang akarnya dapat diurai dari dunia Pendidikan.

Selama ini, dunia Pendidikan (dalam arti luas) kaya dengan ritual yang spiritnya masih terus-menerus harus diperjuangkan agar substansinya makin nyata adanya.  Itu pula sebabnya, berbagai gerakan yang dicanangkan dengan biaya besar berhenti seketika setelah kegiatan secara serimonial ditutup pejabat. Ritual selalu ramai pada awalnya, setelahnya nyaris tak terdengar.

Tidak berlebihan, dalam konteks literasi temuan Lukman Ali (2000)  menunjukkan  tidak satu pun ditemukan SMU (kini : SMA) di Indonesia yang melaksanakan pembelajaran  Sastra dengan kewajiban membaca, menganalisis, dan mendiskusikan buku karya sastra di kelas. 

Pada 1996, empat tahun sebelum temuan Lukman Ali yang mengatakan nol buku bagi Indonesia terkait pembelajaran Sastra dibandingkan dengan 13 negara yang diteliti,  Taufiq Ismail telah menulis puisi berjudul, “Kupu-Kupu di dalam Buku”.  Puisi ini mencerminkan kegundahan pengarang tentang rendahnya budaya baca buku di negeri ini yang berbeda dengan negara-negara maju.

“Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil bertanya tentang kupu-kupu
pada mamanya, dan mamanya tak bisa menjawab keingitahuan putrinya, kemudian katanya, “Tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”. dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis dan ruang tunggu kereta
api negeri ini buku dibaca, di perpustakaan Perguruan, kota dan desa buku
dibaca, di tempat penjualan buku laris dibeli, dan ensiklopedia yang terpajang
di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.

Puisi itu mengingatkan kita untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat di mana saja (desa), kapan saja (kala) dengan cara apa saja (patra) walaupun sudah mengantongi ijazah yang disebut  STTB (Surat Tanda Tamat Belajar). Seyogyanya STTB menjadi Surat Tetap Terus Belajar. Dengan begitu, orangtua, guru, tokoh masyarakat sama-sama belajar dengan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Argumentasi dibangun dengan rujukan buku-buku/jurnal  bermutu dari hasil penelitian yang dapat dipercaya dengan dukungan data akurat.

Setelah  78 tahun Indonesia merdeka  angka melek aksara menunjukkan peningkatan signifikan, dari  2 persen penduduknya yang melek aksara pada awal kemerdekaan,  kini sudah menjadi 96 persen yang melek aksara (Ismunandar Kompas.id, 8/9/2022)  Dari persentase kenaikan angka melek huruf  ini membanggakan tetapi tampak bias gender yang bertentangan dengan semangat demokratisasi pendidikan untuk mencerdaskan bangsa. Bangsa yang cerdas menjadi hak bagi seluruh warga negara tanpa padang bulu dan menjadi kewajiban bagi negara untuk mengusahakan dan memperjuangkannya.

Pemerintah juga terus-menerus mengusahakan pengadaan buku di sekolah-sekolah, taman bacaan masyarakat  terus diberdayakan,  perpustakaan desa juga terus digalakkan. Sekolah dapat menggunakan dana BOS untuk pengadaan buku teks dan nonteks termasuk pengadaan buku digital, langganan koran dan majalah. 

Pemerintah desa juga dapat menggunakan dana desa untuk memerkaya koleksi perpustakaan desa. Gairah membaca buku di kalangan masyarakat desa dapat  bekerjasama dengan Tripusat Pendidikan dengan masing-masing pusat ada penggeraknya seperti layaknya sekolah penggerak.  Cara-cara aktif-produktif dan menyenangkan  diagendakan. Pendongeng bisa diundang untuk penguatan membaca buku. Lomba-lomba digelar secara berjenjang untuk melahirkan duta baca/duta literasi desa.

Duta literasi desa bisa dioptimalkan dengan mengadakan konferensi duta literasi daerah, regional, dan nasional. Mereka dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat lapisan bawah agar terhindar dari berita bohong. Fungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dapat dimulai dari sini. Dari desa. Ini perlu  langkah bersama sesuai dengan semangat Pengembangan Komunitas Berbasis Aset yang dilaksanakan di sekolah penggerak dengan Kurikulum Merdeka. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Tags: Literasiliterasi sekolahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Stroboscopic Effect”, Dramatisasi Objek Bergerak dalam Foto

Next Post

Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co