4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 24, 2023
in Esai
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

Chairil Anwar dan Soekarno | Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

HUBUNGAN Bung Karno dengan Chairil Anwar adalah hubungan  tekstual, antara pencatat dan yang dicatat dengan Syahrir sebagai katalisator. Bung Karno dicatat dalam puisi-puisi Chairil Anwar yang menggelorakan semangat kemerdekaan dan  saling menguatkan berbekal kekuatan literasi bermutu kelas dunia. Keduanya menyelam dalam dunia pemikiran besar dunia, yang mengantarkannya menjadi orang besar di bidang masing-masing.

Bukti bahwa Chairil Anwar adalah pencatat ulung tersirat dalam puisi  berjudul “Catetan  Th. 1946”. Seperti juga mahasiswa mencatat ujaran dosen yang mengajar, Chairil tampaknya juga membuat catatan berdasarkan suasana kebatinan bangsanya pada 1946.  Pada bagian “Catetan Th. 1946”, Chairil Anwar antara lain menulis:

…
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
…
Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian
dari sandiwara sekarang
…
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
…
Kita memburu arti atau diseraphan kepada
lahir sempat
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
Asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorakan kering
Sedikit mau basah!

“Catetan  Th.1946” tampaknya catatan sejarah senyata-nyatanya kalau dihubungkan dengan situasi saat itu. Pada 1946 terjadi percobaan kudeta yang ingin menggulingkan Syahrir selaku Perdana Menteri dengan alasan terlalu kompromistis. Suasana itu menjadi atensi Bung Karno untuk menyelamatkan Sjahrir.

Latar belakang itu mengilhami Chairil Anwar untuk mencatatnya, yang baik dan yang jahat karena semuanya punya tempat. Ibarat cerita, tokoh protagonis dan antagonis mesti ditampilkan karena di situlah sesungguhnya elan perjuangan berdialektika menemukan keseimbangan.

Jika dicermati,  puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” dan “Krawang Bekasi” jelas pula kolaborasi pencatat/pewarta dengan yang diwartakan menjadi fokus: Bung Karno.

Suasana kebatinan nyata terasa benar. Oleh karena itu, ketika membaca sejarah bangsa, tidaklah tabu untuk  menyandingkan fakta sejarah dengan fiksi yang lahir dalam kurun waktu se-zaman.

Puisi sebagai karya sastra paling purba memunyai kepadatan diksi yang perlu kupasan kontekstual di tangan sejarawan dan sastrawan. Inilah yang disebut kolaborasi dalam  pembelajaran abad ke-21.

Demikian pula dengan puisi Krawang Bekasi yang dituduh sebagai plagiat, tetapi pembaca Indonesia yang membaca sejarah perjuangan bangsanya akan merasakan napas perjuangan dalam puisi tersebut.

Terlepas dari polemik terkait keberadaan Chairil Anwar yang hanya satu-dua puisi dinyatakan saduran, tidak sepantasnya Chairil ditenggelamkan namanya, sebagaimana ia tulis sendiri dalam “Catetan Th. 1946”. Semua harus dicatat.

Selain itu, keduanya juga seniman yang sederhana sebagaimana seniman Bali yang menjadikan seni sebagai ladang untuk pengabdian (ngayah)bagi nusa dan bangsa. Ketika menulis teks Proklamasi, misalnya, Bung Karno menuliskan di atas sobekan kertas dengan pena pinjaman.

“…seseorang memberikan buku catatan bergaris-garis biru seperti dipakai pada buku anak sekolah. Aku menyobeknya selembar dan dengan tanganku sendiri menuliskan kata-kata Proklamasi sepanjang garis-garis biru itu… bahkan aku tidak ingat lagi dari mana datangnya pena yang kupakai. Kukira aku meminjamnya dari seseorang”—Cindy Adam, 1982: 338.

Dari sejarah juga terbaca teks Proklamasi tulisan tangan Sukarno dipenuhi dengan coretan sebagai bukti bahwa pilihan diksi dalam Proklamasi yang kita kenal sekarang bukanlah proses sekali jadi.

Seperti juga seorang menulis karya sastra pada umumnya, selalu melalui proses seleksi kata untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Bung Karno menjadi konseptor, editor, sekaligus proklamator dari pernyataan kemerdekaan yang disebut Proklamasi.

Begitu pula Chairil Anwar dalam melahirkan puisi-puisinya. Tidaklah proses sekali jadi, tetapi melalui katarsis dan permenungan mendalam dengan seleksi ketat kata. Walaupun kemunculannya dengan mendobrak, tetap dengan identitas kemelayuannya yang kental dan sesekali menyelinap dalam puisinya. Inilah yang disebut Soekarno sebagai “berkepribadian dalam kebudayaan seturut dengan mantra trisaktinya”.

Proklamasi sebagai puncak kulminasi perjuangan bangsa Indonesia di tangan Sukarno adalah puisi mahabesar setelah puisi besar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dengan memerhatikan histori lahirnya Proklamasi jelaslah bahwa negeri ini dimerdekakan atas dasar semangat dan penuh kesederhanaan, jauh dari kemewahan.

Begitu pula saat pembacaan Proklamasi dengan sangat sederhana tanpa persiapan. Tiang bendera Merah Putih dibuat dari bambu runcing dengan potongan tidak rapi. Bendera  Merah Putih dijahit tangan oleh Fatmati dengan sangat sederhana.

Bahkan, sesaat setelah Proklamasi dibacakan, tidak ada syukuran resmi. Bung Karno merayakan syukuran dengan makan sate 50 tusuk dari pedagang di pinggir kali yang kotor.

Hal itu mencerminkan Bung Karno pemimpin yang  menyatu dengan rakyat yang dipimpin, sebagaimana filosofi Jawa, dalam Manungggaling Kaula Gusti sebagai representasi kepemimpinan ningrat merakyat ala Ki Hadjar Dewantara, atau blusukan ala Presiden Jokowi. Hubungan demikian rekat juga dicatat oleh Chairil Anwar dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”:

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
di panggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
1948

Puisi di atas mencitrakan ajakan Chairil Anwar membuat janji hati Kemerdekaan dengan Bung Karno sebagai representasi keterhubungan tidak saja kepada rakyat kebanyakan—sebagaimana pedagang sate tak berbaju—tetapi juga penyair urakan yang menggelandang demi bangsa yang dicintai.

Tidak pernah kita tahu bila Chairil Anwar bukan saudara dekat Syahrir, apakah Chairil Anwar berani menulis puisi seperti itu? Berani rapat di sisi Bung Karno dengan menjadikan diri api dan laut, sebuah idiom paradoks: api yang panas membakar dan laut yang mengalir dingin menghanyutkan bin membahayakan![T]

Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Ida, Siapa Dia Sebenarnya? | Tanggapan Atas Esai Pranita Dewi
Tags: Chairil AnwarPuisisastraSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin

Next Post

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co