24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 24, 2023
in Esai
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

Chairil Anwar dan Soekarno | Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

HUBUNGAN Bung Karno dengan Chairil Anwar adalah hubungan  tekstual, antara pencatat dan yang dicatat dengan Syahrir sebagai katalisator. Bung Karno dicatat dalam puisi-puisi Chairil Anwar yang menggelorakan semangat kemerdekaan dan  saling menguatkan berbekal kekuatan literasi bermutu kelas dunia. Keduanya menyelam dalam dunia pemikiran besar dunia, yang mengantarkannya menjadi orang besar di bidang masing-masing.

Bukti bahwa Chairil Anwar adalah pencatat ulung tersirat dalam puisi  berjudul “Catetan  Th. 1946”. Seperti juga mahasiswa mencatat ujaran dosen yang mengajar, Chairil tampaknya juga membuat catatan berdasarkan suasana kebatinan bangsanya pada 1946.  Pada bagian “Catetan Th. 1946”, Chairil Anwar antara lain menulis:

…
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
…
Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian
dari sandiwara sekarang
…
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
…
Kita memburu arti atau diseraphan kepada
lahir sempat
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
Asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorakan kering
Sedikit mau basah!

“Catetan  Th.1946” tampaknya catatan sejarah senyata-nyatanya kalau dihubungkan dengan situasi saat itu. Pada 1946 terjadi percobaan kudeta yang ingin menggulingkan Syahrir selaku Perdana Menteri dengan alasan terlalu kompromistis. Suasana itu menjadi atensi Bung Karno untuk menyelamatkan Sjahrir.

Latar belakang itu mengilhami Chairil Anwar untuk mencatatnya, yang baik dan yang jahat karena semuanya punya tempat. Ibarat cerita, tokoh protagonis dan antagonis mesti ditampilkan karena di situlah sesungguhnya elan perjuangan berdialektika menemukan keseimbangan.

Jika dicermati,  puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” dan “Krawang Bekasi” jelas pula kolaborasi pencatat/pewarta dengan yang diwartakan menjadi fokus: Bung Karno.

Suasana kebatinan nyata terasa benar. Oleh karena itu, ketika membaca sejarah bangsa, tidaklah tabu untuk  menyandingkan fakta sejarah dengan fiksi yang lahir dalam kurun waktu se-zaman.

Puisi sebagai karya sastra paling purba memunyai kepadatan diksi yang perlu kupasan kontekstual di tangan sejarawan dan sastrawan. Inilah yang disebut kolaborasi dalam  pembelajaran abad ke-21.

Demikian pula dengan puisi Krawang Bekasi yang dituduh sebagai plagiat, tetapi pembaca Indonesia yang membaca sejarah perjuangan bangsanya akan merasakan napas perjuangan dalam puisi tersebut.

Terlepas dari polemik terkait keberadaan Chairil Anwar yang hanya satu-dua puisi dinyatakan saduran, tidak sepantasnya Chairil ditenggelamkan namanya, sebagaimana ia tulis sendiri dalam “Catetan Th. 1946”. Semua harus dicatat.

Selain itu, keduanya juga seniman yang sederhana sebagaimana seniman Bali yang menjadikan seni sebagai ladang untuk pengabdian (ngayah)bagi nusa dan bangsa. Ketika menulis teks Proklamasi, misalnya, Bung Karno menuliskan di atas sobekan kertas dengan pena pinjaman.

“…seseorang memberikan buku catatan bergaris-garis biru seperti dipakai pada buku anak sekolah. Aku menyobeknya selembar dan dengan tanganku sendiri menuliskan kata-kata Proklamasi sepanjang garis-garis biru itu… bahkan aku tidak ingat lagi dari mana datangnya pena yang kupakai. Kukira aku meminjamnya dari seseorang”—Cindy Adam, 1982: 338.

Dari sejarah juga terbaca teks Proklamasi tulisan tangan Sukarno dipenuhi dengan coretan sebagai bukti bahwa pilihan diksi dalam Proklamasi yang kita kenal sekarang bukanlah proses sekali jadi.

Seperti juga seorang menulis karya sastra pada umumnya, selalu melalui proses seleksi kata untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Bung Karno menjadi konseptor, editor, sekaligus proklamator dari pernyataan kemerdekaan yang disebut Proklamasi.

Begitu pula Chairil Anwar dalam melahirkan puisi-puisinya. Tidaklah proses sekali jadi, tetapi melalui katarsis dan permenungan mendalam dengan seleksi ketat kata. Walaupun kemunculannya dengan mendobrak, tetap dengan identitas kemelayuannya yang kental dan sesekali menyelinap dalam puisinya. Inilah yang disebut Soekarno sebagai “berkepribadian dalam kebudayaan seturut dengan mantra trisaktinya”.

Proklamasi sebagai puncak kulminasi perjuangan bangsa Indonesia di tangan Sukarno adalah puisi mahabesar setelah puisi besar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dengan memerhatikan histori lahirnya Proklamasi jelaslah bahwa negeri ini dimerdekakan atas dasar semangat dan penuh kesederhanaan, jauh dari kemewahan.

Begitu pula saat pembacaan Proklamasi dengan sangat sederhana tanpa persiapan. Tiang bendera Merah Putih dibuat dari bambu runcing dengan potongan tidak rapi. Bendera  Merah Putih dijahit tangan oleh Fatmati dengan sangat sederhana.

Bahkan, sesaat setelah Proklamasi dibacakan, tidak ada syukuran resmi. Bung Karno merayakan syukuran dengan makan sate 50 tusuk dari pedagang di pinggir kali yang kotor.

Hal itu mencerminkan Bung Karno pemimpin yang  menyatu dengan rakyat yang dipimpin, sebagaimana filosofi Jawa, dalam Manungggaling Kaula Gusti sebagai representasi kepemimpinan ningrat merakyat ala Ki Hadjar Dewantara, atau blusukan ala Presiden Jokowi. Hubungan demikian rekat juga dicatat oleh Chairil Anwar dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”:

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
di panggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
1948

Puisi di atas mencitrakan ajakan Chairil Anwar membuat janji hati Kemerdekaan dengan Bung Karno sebagai representasi keterhubungan tidak saja kepada rakyat kebanyakan—sebagaimana pedagang sate tak berbaju—tetapi juga penyair urakan yang menggelandang demi bangsa yang dicintai.

Tidak pernah kita tahu bila Chairil Anwar bukan saudara dekat Syahrir, apakah Chairil Anwar berani menulis puisi seperti itu? Berani rapat di sisi Bung Karno dengan menjadikan diri api dan laut, sebuah idiom paradoks: api yang panas membakar dan laut yang mengalir dingin menghanyutkan bin membahayakan![T]

Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Ida, Siapa Dia Sebenarnya? | Tanggapan Atas Esai Pranita Dewi
Tags: Chairil AnwarPuisisastraSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin

Next Post

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co