3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 1, 2023
in Esai
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

“Gajah, kalau umurku panjang, aku akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya. (Panggilan kesayangan mama adalah Gajah, karena badannya memang gemuk).
“Ah, kalau umurmu  panjang, kamu bakal masuk penjara,” gurau mama.
“Tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga,” demikian katanya.

—Evawani Alissa Ch. Anwar  (1999: x)

KUTIPAN di atas adalah dialog Chairil Anwar dengan ibunya, Saleha. Dialog seorang pemuda vitalis penyair dengan orang tua.

Dialog refleksi Chairil yang meramalkan diri dengan dua kemungkinan berumur panjang atau berumur pendek dengan segala konsekuensinya.

Kedua kemungkinan itu berorientasi sama, yaitu memuliakan pendidikan melalui relasi kuasa guru-murid.

Dialog  Chairil itu benar-benar nyata adanya, kini. Usia Chairil yang pendek (27 tahun) dikenang oleh dunia pendidikan dengan melakukan tabur bunga dan mengapresiasi karya-karyanya, dari dulu hingga kini, entah sampai kapan.

Sementara itu, Mendikbud pertama RI Ki Hadjar Dewantara yang berusia relatif  panjang (69 tahun) menyediakan kesempatan baginya untuk menjadikan puisi-puisi Chairil sebagai bahan ajar dan itu berlangsung sejak Indonesia merdeka sampai kini—walaupun rezim datang silih berganti.

Nilai puisi Chairil dapat disejajarkan dengan Proklamasi yang dibacakan Bung Karno, sehingga terus berulang muncul dalam buku-buku pelajaran sekolah/kampus. Apresiasi dan pengkajian serius terhadap puisi Chairil juga terus hidup sepanjang zaman. Hal ini tidak terlepas dari sepak terjang Chairil sebagai saksi sejarah yang mencatat Bung Karno dan kawan-kawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Lahirnya puisi Persetujuan dengan Bung Karno dan Krawang Bekasi adalah contoh real kesaksian  dan keberhasilan Chairil  menangkap suasana kebatinan para tokoh bangsa  di lingkar utama kekuasaan.

Gairah nasionalisme Chairil terasah di Gedung Joang dengan empat mahaguru kemerdekaan, Sukarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, dan Ki Hadjar Dewantara. Di dalam puisi Krawang Bekasi, yang dijaga hanya  Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, minus Ki Hadjara Dewantara.

Sebagai seorang guru bangsa, Ki Hadjar Dewantara tampaknya lepas bebas merdeka tak “dipedulikan” muridnya, mengingat atau tidak. Namun, Chairil tampaknya menyiapkan api semangat untuk pendidikan yang memerdekakan, seperti tersurat dalam puisi “Diponegoro”. ..Bagimu negeri /menyediakan api.

Bahkan dalam puisi berjudul “Merdeka” ia tulis, Aku mau bebas dari segala/Merdeka/Juga dari Ida… Jelaslah, bahwa sampai seabad Chairil, relevansi puisinya masih aktual  dijadikan referensi bagi dunia pendidikan yang pada era Merdeka Belajar dan Kurikulum Merdeka yang digali dari pikiran bernas Ki Hadjar Dewantara.

Puisi-puisi Chairil yang mendobrak dengan diksi yang garang, menyemangati para pendiri bangsa memerdekakan bangsanya, berelasi dengan kegalauan R.A. Kartini yang mendobrak tradisi di kalangan bangsawan yang membelenggu kaum perempuan.

Baik Chairil maupun Kartini mewakili kaum muda pendobrak sebagai bangsawan pikiran yang menentang bangsawan oesoel—istilah “bangsawan oesoel” dan “bangsawan pikiran” diperkenalkan oleh  Abdul Rivai, seorang jurnalis berdarah guru dari Sumatera.

Yudi Latif (2021: 89) mengatakan, kemunculan bangsawan oesoel  telah ditakdirkan. Jika orang tua kita dari kalangan bangsawan, kita pun disebut bangsawan, sebagaimana kasta yang masih diwariskan di Bali kini. Sebaliknya, bangsawan pikiran terlahir dari prestasi dan kompetensi pengetahuan yang komprehensif.

R.A. Kartini dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang menentang adanya pewarisan bangsawan oesoel yang pengetahuannya tidak seberapa—bahkan nyaris sebagai katak di bawah tempurung (Latif, 2021: 89).

Itu pula sebabnya, R.A. Kartini dengan lantang memperjuangkan emansipasi wanita melalui korespondensi dengan Nona E.H. Zeehandelaar (18 Agustus 1899). Dalam korespondensinya itu, Kartini menentang adanya bangsawan oesoel, dengan memperkenalkan dua macam kebangsawanan, bangsawan jiwa dan bangsawan budi.

“Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan: bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut ‘keturunan bangsawan’ itu.” ( R.A. Kartini, 2018:11).

Korespondensi Kartini dengan kaum intelektual Belanda berlangsung secara intens selama 5 tahun (1899–1904) telah menyadarkannya untuk berpikir merdeka, melepaskan diri dari ikatan tradisi (belenggu adat) dengan menjunjung tinggi semboyan mulia: “kebebasan, kegembiraan”.

Kebebasan yang diperjuangkan  Kartini menohok bangsanya sendiri dan bangsa Belanda yang menjajahnya. Terhadap bangsanya sendiri, ia ingin bebas (merdeka) dari belenggu feodal yang menentang adanya bangsawan oesoel dan memperjuangkan bangsawan pikiran (bangsawan muda).

Gagasan Kartini di tengah hiruk-pikuk politik menjelang Pemilu 2024 layak diapresiasi untuk mencerdaskan dan mencerahkan anak negeri melalui pendidikan yang berkebudayaan.

Hal itu juga diperjuangkan Chairil Anwar melalui puisi-puisinya yang konsisten dikembangkan di dunia pendidikan dengan semangat merdeka belajar sebagaimana Kartini tak ingin dibelenggu oleh kaum feodal.

Dalam konteks kekinian, Kartini sesungguhnya sudah menentang politik dinasti. Politik kekuasaan bukanlah warisan, melainkan  harus diperjuangkan dan Kartini telah menjawab jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Di sinilah peran strategis bangsawan pikiran yang dikumandangkan kaum muda melalui gerakan literasi kebangsaan yang serius sungguh-sungguh mewujudkan kemerdekaan lahir batin.

Kartini menyadari betapa semua itu penting dalam pembibitan, pembobotan, dan pembudayaan melalui pendidikan yang memerdekakan.

Chairil Anwar menyiapkan konten yang tidak kalah hebatnya melalui puisi yang menggetarkan semangat kebangsaan yang menjadi masakan bergizi bagi Ki Hadjar Dewantara yang meninggalkan keningratannya untuk mencerdaskan rakyat.

Inilah pertarungan sejati antara bangsawan oesoel dan bangsawan pikiran yang dipelopori kaum muda. Sebuah renungan di tengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan semangat Merdeka Belajar. Semoga semua hidup berbahagia.[T]

Merayakan Chairil, Membincangkan Sastra dalam Pekan Sastra Saraswati 2023
Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi
Tags: Chairil AnwarPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Feature: Komunikasi Ekspresif dan Naratif dalam Menulis

Next Post

Mengelola Ketidaksempurnaan Menjadi Keindahan yang Bernilai

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Mengelola Ketidaksempurnaan Menjadi Keindahan yang Bernilai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co