2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 1, 2023
in Esai
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

“Gajah, kalau umurku panjang, aku akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya. (Panggilan kesayangan mama adalah Gajah, karena badannya memang gemuk).
“Ah, kalau umurmu  panjang, kamu bakal masuk penjara,” gurau mama.
“Tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga,” demikian katanya.

—Evawani Alissa Ch. Anwar  (1999: x)

KUTIPAN di atas adalah dialog Chairil Anwar dengan ibunya, Saleha. Dialog seorang pemuda vitalis penyair dengan orang tua.

Dialog refleksi Chairil yang meramalkan diri dengan dua kemungkinan berumur panjang atau berumur pendek dengan segala konsekuensinya.

Kedua kemungkinan itu berorientasi sama, yaitu memuliakan pendidikan melalui relasi kuasa guru-murid.

Dialog  Chairil itu benar-benar nyata adanya, kini. Usia Chairil yang pendek (27 tahun) dikenang oleh dunia pendidikan dengan melakukan tabur bunga dan mengapresiasi karya-karyanya, dari dulu hingga kini, entah sampai kapan.

Sementara itu, Mendikbud pertama RI Ki Hadjar Dewantara yang berusia relatif  panjang (69 tahun) menyediakan kesempatan baginya untuk menjadikan puisi-puisi Chairil sebagai bahan ajar dan itu berlangsung sejak Indonesia merdeka sampai kini—walaupun rezim datang silih berganti.

Nilai puisi Chairil dapat disejajarkan dengan Proklamasi yang dibacakan Bung Karno, sehingga terus berulang muncul dalam buku-buku pelajaran sekolah/kampus. Apresiasi dan pengkajian serius terhadap puisi Chairil juga terus hidup sepanjang zaman. Hal ini tidak terlepas dari sepak terjang Chairil sebagai saksi sejarah yang mencatat Bung Karno dan kawan-kawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Lahirnya puisi Persetujuan dengan Bung Karno dan Krawang Bekasi adalah contoh real kesaksian  dan keberhasilan Chairil  menangkap suasana kebatinan para tokoh bangsa  di lingkar utama kekuasaan.

Gairah nasionalisme Chairil terasah di Gedung Joang dengan empat mahaguru kemerdekaan, Sukarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, dan Ki Hadjar Dewantara. Di dalam puisi Krawang Bekasi, yang dijaga hanya  Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, minus Ki Hadjara Dewantara.

Sebagai seorang guru bangsa, Ki Hadjar Dewantara tampaknya lepas bebas merdeka tak “dipedulikan” muridnya, mengingat atau tidak. Namun, Chairil tampaknya menyiapkan api semangat untuk pendidikan yang memerdekakan, seperti tersurat dalam puisi “Diponegoro”. ..Bagimu negeri /menyediakan api.

Bahkan dalam puisi berjudul “Merdeka” ia tulis, Aku mau bebas dari segala/Merdeka/Juga dari Ida… Jelaslah, bahwa sampai seabad Chairil, relevansi puisinya masih aktual  dijadikan referensi bagi dunia pendidikan yang pada era Merdeka Belajar dan Kurikulum Merdeka yang digali dari pikiran bernas Ki Hadjar Dewantara.

Puisi-puisi Chairil yang mendobrak dengan diksi yang garang, menyemangati para pendiri bangsa memerdekakan bangsanya, berelasi dengan kegalauan R.A. Kartini yang mendobrak tradisi di kalangan bangsawan yang membelenggu kaum perempuan.

Baik Chairil maupun Kartini mewakili kaum muda pendobrak sebagai bangsawan pikiran yang menentang bangsawan oesoel—istilah “bangsawan oesoel” dan “bangsawan pikiran” diperkenalkan oleh  Abdul Rivai, seorang jurnalis berdarah guru dari Sumatera.

Yudi Latif (2021: 89) mengatakan, kemunculan bangsawan oesoel  telah ditakdirkan. Jika orang tua kita dari kalangan bangsawan, kita pun disebut bangsawan, sebagaimana kasta yang masih diwariskan di Bali kini. Sebaliknya, bangsawan pikiran terlahir dari prestasi dan kompetensi pengetahuan yang komprehensif.

R.A. Kartini dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang menentang adanya pewarisan bangsawan oesoel yang pengetahuannya tidak seberapa—bahkan nyaris sebagai katak di bawah tempurung (Latif, 2021: 89).

Itu pula sebabnya, R.A. Kartini dengan lantang memperjuangkan emansipasi wanita melalui korespondensi dengan Nona E.H. Zeehandelaar (18 Agustus 1899). Dalam korespondensinya itu, Kartini menentang adanya bangsawan oesoel, dengan memperkenalkan dua macam kebangsawanan, bangsawan jiwa dan bangsawan budi.

“Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan: bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut ‘keturunan bangsawan’ itu.” ( R.A. Kartini, 2018:11).

Korespondensi Kartini dengan kaum intelektual Belanda berlangsung secara intens selama 5 tahun (1899–1904) telah menyadarkannya untuk berpikir merdeka, melepaskan diri dari ikatan tradisi (belenggu adat) dengan menjunjung tinggi semboyan mulia: “kebebasan, kegembiraan”.

Kebebasan yang diperjuangkan  Kartini menohok bangsanya sendiri dan bangsa Belanda yang menjajahnya. Terhadap bangsanya sendiri, ia ingin bebas (merdeka) dari belenggu feodal yang menentang adanya bangsawan oesoel dan memperjuangkan bangsawan pikiran (bangsawan muda).

Gagasan Kartini di tengah hiruk-pikuk politik menjelang Pemilu 2024 layak diapresiasi untuk mencerdaskan dan mencerahkan anak negeri melalui pendidikan yang berkebudayaan.

Hal itu juga diperjuangkan Chairil Anwar melalui puisi-puisinya yang konsisten dikembangkan di dunia pendidikan dengan semangat merdeka belajar sebagaimana Kartini tak ingin dibelenggu oleh kaum feodal.

Dalam konteks kekinian, Kartini sesungguhnya sudah menentang politik dinasti. Politik kekuasaan bukanlah warisan, melainkan  harus diperjuangkan dan Kartini telah menjawab jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Di sinilah peran strategis bangsawan pikiran yang dikumandangkan kaum muda melalui gerakan literasi kebangsaan yang serius sungguh-sungguh mewujudkan kemerdekaan lahir batin.

Kartini menyadari betapa semua itu penting dalam pembibitan, pembobotan, dan pembudayaan melalui pendidikan yang memerdekakan.

Chairil Anwar menyiapkan konten yang tidak kalah hebatnya melalui puisi yang menggetarkan semangat kebangsaan yang menjadi masakan bergizi bagi Ki Hadjar Dewantara yang meninggalkan keningratannya untuk mencerdaskan rakyat.

Inilah pertarungan sejati antara bangsawan oesoel dan bangsawan pikiran yang dipelopori kaum muda. Sebuah renungan di tengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan semangat Merdeka Belajar. Semoga semua hidup berbahagia.[T]

Merayakan Chairil, Membincangkan Sastra dalam Pekan Sastra Saraswati 2023
Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi
Tags: Chairil AnwarPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Feature: Komunikasi Ekspresif dan Naratif dalam Menulis

Next Post

Mengelola Ketidaksempurnaan Menjadi Keindahan yang Bernilai

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Mengelola Ketidaksempurnaan Menjadi Keindahan yang Bernilai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co