22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 1, 2023
in Esai
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

“Gajah, kalau umurku panjang, aku akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,” katanya. (Panggilan kesayangan mama adalah Gajah, karena badannya memang gemuk).
“Ah, kalau umurmu  panjang, kamu bakal masuk penjara,” gurau mama.
“Tapi kalau umurku ditakdirkan pendek, anak-anak sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga,” demikian katanya.

—Evawani Alissa Ch. Anwar  (1999: x)

KUTIPAN di atas adalah dialog Chairil Anwar dengan ibunya, Saleha. Dialog seorang pemuda vitalis penyair dengan orang tua.

Dialog refleksi Chairil yang meramalkan diri dengan dua kemungkinan berumur panjang atau berumur pendek dengan segala konsekuensinya.

Kedua kemungkinan itu berorientasi sama, yaitu memuliakan pendidikan melalui relasi kuasa guru-murid.

Dialog  Chairil itu benar-benar nyata adanya, kini. Usia Chairil yang pendek (27 tahun) dikenang oleh dunia pendidikan dengan melakukan tabur bunga dan mengapresiasi karya-karyanya, dari dulu hingga kini, entah sampai kapan.

Sementara itu, Mendikbud pertama RI Ki Hadjar Dewantara yang berusia relatif  panjang (69 tahun) menyediakan kesempatan baginya untuk menjadikan puisi-puisi Chairil sebagai bahan ajar dan itu berlangsung sejak Indonesia merdeka sampai kini—walaupun rezim datang silih berganti.

Nilai puisi Chairil dapat disejajarkan dengan Proklamasi yang dibacakan Bung Karno, sehingga terus berulang muncul dalam buku-buku pelajaran sekolah/kampus. Apresiasi dan pengkajian serius terhadap puisi Chairil juga terus hidup sepanjang zaman. Hal ini tidak terlepas dari sepak terjang Chairil sebagai saksi sejarah yang mencatat Bung Karno dan kawan-kawan dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Lahirnya puisi Persetujuan dengan Bung Karno dan Krawang Bekasi adalah contoh real kesaksian  dan keberhasilan Chairil  menangkap suasana kebatinan para tokoh bangsa  di lingkar utama kekuasaan.

Gairah nasionalisme Chairil terasah di Gedung Joang dengan empat mahaguru kemerdekaan, Sukarno, Mohammad Hatta, Amir Syarifudin, dan Ki Hadjar Dewantara. Di dalam puisi Krawang Bekasi, yang dijaga hanya  Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, minus Ki Hadjara Dewantara.

Sebagai seorang guru bangsa, Ki Hadjar Dewantara tampaknya lepas bebas merdeka tak “dipedulikan” muridnya, mengingat atau tidak. Namun, Chairil tampaknya menyiapkan api semangat untuk pendidikan yang memerdekakan, seperti tersurat dalam puisi “Diponegoro”. ..Bagimu negeri /menyediakan api.

Bahkan dalam puisi berjudul “Merdeka” ia tulis, Aku mau bebas dari segala/Merdeka/Juga dari Ida… Jelaslah, bahwa sampai seabad Chairil, relevansi puisinya masih aktual  dijadikan referensi bagi dunia pendidikan yang pada era Merdeka Belajar dan Kurikulum Merdeka yang digali dari pikiran bernas Ki Hadjar Dewantara.

Puisi-puisi Chairil yang mendobrak dengan diksi yang garang, menyemangati para pendiri bangsa memerdekakan bangsanya, berelasi dengan kegalauan R.A. Kartini yang mendobrak tradisi di kalangan bangsawan yang membelenggu kaum perempuan.

Baik Chairil maupun Kartini mewakili kaum muda pendobrak sebagai bangsawan pikiran yang menentang bangsawan oesoel—istilah “bangsawan oesoel” dan “bangsawan pikiran” diperkenalkan oleh  Abdul Rivai, seorang jurnalis berdarah guru dari Sumatera.

Yudi Latif (2021: 89) mengatakan, kemunculan bangsawan oesoel  telah ditakdirkan. Jika orang tua kita dari kalangan bangsawan, kita pun disebut bangsawan, sebagaimana kasta yang masih diwariskan di Bali kini. Sebaliknya, bangsawan pikiran terlahir dari prestasi dan kompetensi pengetahuan yang komprehensif.

R.A. Kartini dalam bukunya Habis Gelap Terbitlah Terang menentang adanya pewarisan bangsawan oesoel yang pengetahuannya tidak seberapa—bahkan nyaris sebagai katak di bawah tempurung (Latif, 2021: 89).

Itu pula sebabnya, R.A. Kartini dengan lantang memperjuangkan emansipasi wanita melalui korespondensi dengan Nona E.H. Zeehandelaar (18 Agustus 1899). Dalam korespondensinya itu, Kartini menentang adanya bangsawan oesoel, dengan memperkenalkan dua macam kebangsawanan, bangsawan jiwa dan bangsawan budi.

“Bagi saya hanya dua macam kebangsawanan: bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Pada pikiran saya tidak ada yang lebih gila, lebih bodoh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut ‘keturunan bangsawan’ itu.” ( R.A. Kartini, 2018:11).

Korespondensi Kartini dengan kaum intelektual Belanda berlangsung secara intens selama 5 tahun (1899–1904) telah menyadarkannya untuk berpikir merdeka, melepaskan diri dari ikatan tradisi (belenggu adat) dengan menjunjung tinggi semboyan mulia: “kebebasan, kegembiraan”.

Kebebasan yang diperjuangkan  Kartini menohok bangsanya sendiri dan bangsa Belanda yang menjajahnya. Terhadap bangsanya sendiri, ia ingin bebas (merdeka) dari belenggu feodal yang menentang adanya bangsawan oesoel dan memperjuangkan bangsawan pikiran (bangsawan muda).

Gagasan Kartini di tengah hiruk-pikuk politik menjelang Pemilu 2024 layak diapresiasi untuk mencerdaskan dan mencerahkan anak negeri melalui pendidikan yang berkebudayaan.

Hal itu juga diperjuangkan Chairil Anwar melalui puisi-puisinya yang konsisten dikembangkan di dunia pendidikan dengan semangat merdeka belajar sebagaimana Kartini tak ingin dibelenggu oleh kaum feodal.

Dalam konteks kekinian, Kartini sesungguhnya sudah menentang politik dinasti. Politik kekuasaan bukanlah warisan, melainkan  harus diperjuangkan dan Kartini telah menjawab jauh sebelum Indonesia Merdeka.

Di sinilah peran strategis bangsawan pikiran yang dikumandangkan kaum muda melalui gerakan literasi kebangsaan yang serius sungguh-sungguh mewujudkan kemerdekaan lahir batin.

Kartini menyadari betapa semua itu penting dalam pembibitan, pembobotan, dan pembudayaan melalui pendidikan yang memerdekakan.

Chairil Anwar menyiapkan konten yang tidak kalah hebatnya melalui puisi yang menggetarkan semangat kebangsaan yang menjadi masakan bergizi bagi Ki Hadjar Dewantara yang meninggalkan keningratannya untuk mencerdaskan rakyat.

Inilah pertarungan sejati antara bangsawan oesoel dan bangsawan pikiran yang dipelopori kaum muda. Sebuah renungan di tengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan semangat Merdeka Belajar. Semoga semua hidup berbahagia.[T]

Merayakan Chairil, Membincangkan Sastra dalam Pekan Sastra Saraswati 2023
Gambaran Ringkas Sastra di Media Cetak dan Digital di Bali
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi
Tags: Chairil AnwarPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Feature: Komunikasi Ekspresif dan Naratif dalam Menulis

Next Post

Mengelola Ketidaksempurnaan Menjadi Keindahan yang Bernilai

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Mengelola Ketidaksempurnaan Menjadi Keindahan yang Bernilai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co