2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 5, 2023
in Esai
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno

Soekarno, Ki Hadjar Dewantara, dan Chairil Anwar | Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

KI HADJAR DEWANTARA awalnya menempuh Pendidikan di STOVIA Bandung yang mendidik calon dokter. Karena alasan sakit, ia berhenti di STOVIA dan menekuni dunia jurnalistik sambil menjadi aktivis pergerakan—selanjutnya terjun di lapangan pendidikan dan mendirikan Perguruan Tamansiswa di Yogyakarta, 3 Juli 1922, seabad silam.

Jika dilihat dari kelahirannya, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Tamansiswa dalam usia 33 tahun—saat itu Bung Karno berusia 21 tahun, dan Chairil Anwar belum lahir (26 Juli 1922). Menarik pula dicatat, hubungan Ki Hadjar Dewantara dengan Bung Karno dari segi nama, keduanya memiliki historis kemiripan.

Bung Karno dengan nama kecil Kusno dan Ki Hadjar Dewantara dengan nama kecil Suwardi Suryaningrat, keduanya dari trah raden. Kedua tokoh ningrat ini belakangan memilih merakyat dan melepaskan diri dari kungkungan feodalisme. Dalam hal kepemimpinan, keduanya mengadopsi kearifan Jawa, manunggaling kaula-Gusti, bersatunya rakyat dengan pemimpin.

Gairah mereka terhadap seni tiada tandingannya. Bung Karno dengan gaya meledak-ledak seperti Chairil Anwar dengan puisi mimbar yang meledak-ledak pula. Berbeda dengan Ki Hadjar Dewantara yang cenderung kalem, gaya Yogyakarta halus.

Gaya ungkapnya pun kalem tetapi menyengat, menusuk jantung pertahanan lawan lewat karya-karya jurnalistiknya. Sengatan itu makin kuat menyerang jantung pertahanan lawan (penjajah) melalui Perguruan Tamansiswa dengan menguatkan semangat nasionalisme di kalangan pelajar. Hal yang ditakuti penjajah.

Pada dekade 1920-an, baik Ki Hadjar Dewantara maupun Sukarno, mematangkan diri melalui organisasi yang didirikan. Sukarno mendirikan PNI pada 4 Juli 1927 lima tahun setelah berdirinya Perguruan Tamansiswa, 3 Juli 1922.

Pergerakan Sukarno melalui kendaraan PNI (Partai Nasional Indonesia) mengalami jatuh bangun tidak saja pada masa penjajahan, tetapi juga pada masa kemerdekaan dan berbuntut pembubaran pada  era Soeharto berkuasa.

Sedangan Ki Hadjar Dewantara melalui Perguruan Tamansiswa, yang juga mengobarkan semangat nasionalisme, bisa bertahan sejak berdiri hingga kini memasuki 100 tahun.

Begitulah bedanya, Soekarno memilih jalan politik yang penuh intrik, kawan menjadi lawan, tanpa disadari menikam dari belakang; tanpa etika untuk berebut panggung kekuasaan selama 5 tahun, begitu seterusnya dari pemilu ke pemilu.

Berbeda dengan Perguruan Tamansiswa yang bergerak di jalur pendidikan, walaupun akarnya tumbuh di hati dunia—sebagaimana Sanusi Pane melukiskan Ki Hadjar Dewantara dalam puisi Teratai—tampaknya tidak seksi diperebutkan karena investasinya untuk jangka panjang. Lagi pula, tidak menjanjikan kemewahan secara material.

Namun menjelang Pemilu 2024, capres memberikan harapan pada kaum guru untuk meningkatkan kesejahteraan lahir batinnya adalah kemewahan yang dinantikan sebagai  kenyataan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebuah janji kemerdekaan yang wajib dilunasi sebagaimana diniatkan Bung Karno.

Sukarno adalah seniman, arsitek, yang melukis masa depan bangsanya berdasarkan kekuatannya menyelam di hati nurani rakyat yang dipimpinnya. Kekuatan itu membuncah dan memuncak, mewujud dalam teks sakral Proklamasi, UUD 45, Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Hanya seniman sejati yang mampu menggali saripati budaya rakyat yang dipimpinnya dengan mahakarya puisi: Proklamasi yang dibaca dengan meledak-ledak menarik perhatian dunia bahkan menjadi inspirasi bagi negara-negara Asia–Afrika untuk merdeka.

Daya ledak Bung Karno diperhalus oleh Ki Hadjar Dewantara yang juga seniman dengan penampilan kalem dengan pendekatan didaktik-metodik—memanfaatkan seni budaya asli Indonesia dalam metode pembelajaran. Hal ini selaras dengan upaya mengembangkan cipta karsa dan rasa sebagai dasar pembentukan kebudayaan.

Begitulah, Ki Hadjar Dewantara menjadi penengah dari kegarangan pidato Bung Karno dan puisi Chairil Anwar. Bung Karno orator ulung dengan gaya meledak-ledak, yang terkenal dengan moto: “Merdeka atau mati!” Atau kalimat penyemangat dengan daya ledak menggugah, “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit, bila kau jatuh, jatuhmu di antara bintang-bintang”.

Begitu pula Proklamasi sebagai puisi mahabesar menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia untuk merdeka. Chairil Anwar tak mau kalah dan sangat garang melalui puisi-puisinya, seperti ungkapan “Aku ingin hidup seribu tahun lagi”. Chairil Anwar juga mendobrak kemerdekaan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang keluar dari cara-cara lama.

Berbeda dengan Ki Hadjar Dewantara yang moderat sekaligus pejuang untuk membangun jiwa bangsa melalui pendidikan untuk Indonesia Raya. Ia bangun Indonesia Raya dengan kelembutan filosofi kepemimpinan: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Bahkan lambang Kemendikbud Ristek pun hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang sampai kini diabadikan dan hari-hari ini dunia pendidikan gencar melaksanakan sosialisasi Kurikulum Merdeka dengan semangat Merdeka Belajar juga merupakan buah pikirannya.

Di tengah tensi politik yang kian menghangat menjelang Pemilu 2024, sinergi politikus, seniman, dan pendidik perlu diatensi. Nilai-nilai edukatif dikedepankan, nilai-nilai keindahan disemaikan, dan kekuasaan diraih dengan cita rasa politik penuh senyum dan kegembiraan sebagaimana layaknya orang berpesta ke pesta demokrasi.

Salam yang dikembangkan adalah khas salam perjuangan yang memperjuangkan kebahagiaan lahir batin bangsanya—sebagaimana diterapkan Ki Hadjar Dewantara. Salam dan Bahagia.[T]

Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Membaca Soekarno dari Sudut Kontrakan [1]
Membaca Soekarno dari Sudut Kontrakan [2] : Nasionalisme, Islamisme, Marxisme
Tags: Chairil AnwarKi Hadjar DewantaraSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menumbuhkan Jiwa-Jiwa Sattwika Adalah Kesadaran

Next Post

“I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”, Buku dari Prof. Dibia

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”, Buku dari Prof. Dibia

“I Ketut Maria Pahlawan Seni Kebyar Bali”, Buku dari Prof. Dibia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co