5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kemeriahan Lomba  Agustusan dan Pergeseran dalam Inovasi | Opini Kecil dari Komentator Online

I Kadek Susila Priangga by I Kadek Susila Priangga
August 14, 2024
in Esai
Kemeriahan Lomba  Agustusan dan Pergeseran dalam Inovasi | Opini Kecil dari Komentator Online

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

MERAYAKAN Hari Kemerdekaan adalah sebuah aktivitas untuk membangkitkan semangat juang dalam mengisi kemerdekaan. Persiapannya sampai memakan waktu yang panjang. Dari tingkat nasional, kabupaten, kecamatan, desa, hingga banjar, sampai antar rumah, ramai-ramai merayakan Hari Kemerdekaan.

Seiring perkembangan zaman, terjadi banyak perubahan dalam  perayaan-perayaan itu. Banyak faktor yang mempengaruhi. Dari padatnya lalu lintas, sampai hanya untuk tujuan viral di media sosial saja. Tentu saja, muncul pro dan kontra di masyarakat, apalagi dengan berkembangnya media sosial saat ini, mempercepat informasi tersebar luas.

Banyak berseliweran di media sosial, mulai dari protes terhadap tempat penyelenggaraan, situasi yang ditimbulkan seperti kemacetan, keributan sampai pada pengaruh terhadap anak-anak di bawah umur. Iya, banyak dampak memang yang timbul dari perayaan Hari Kemerdekaan yang sungguh meriah ini.

Komentator online nampaknya banyak job akhir-akhir ini. Belum lagi tetang upacara peringatan detik-detik proklamasi yang akan dilaksanakan di IKN, tentu akan melahirkan diskusi yang menarik untuk disimak dari perang komentar online di media sosial.

Pergeseran memang tak bisa terhindarkan, iya karena faktor-faktor lain yang mempengaruhi. Lalu lintas yang padat, membuat sebuah pergeseran rute gerak jalan, guna menghindari kemacetan parah yang barangkali akan timbul, tapi, ya begitulah, “Namanya di jalan kita gak tahu akan terjadi seperti apa”. Begitu kira-kira ucapan orang tua saya dulu ketika terjadi insiden di jalan.

Namun yang ingin ditekankan di tulisan ini, sebenarnya tentang lomba-lomba perayaan yang banyak beredar di media sosial. Dengan caption, lomba yang bisa dipakai untuk memeriahkan 17-an tahun ini. Tergelitik untuk menjadi komentator online, namun saya urungkan, karena  yang terjadi malah saling serang-menyerang antar kometator online yang begitu lincah menggunakan jari-jemari mengetik ucapan kata-kata bertekstur kasar.

Ada yang setuju, ada pula yang kurang setuju, seperti saya. Salah satu contohnya adalah sebuah lomba makan pisang. Kalau dulu ada lomba makan krupuk, nah sekarang muncul inovasi menjadi lomba makan pisang. Iya, terlihat menyenangkan dan simpel, pisang yang dikupas, digantung dengan seutas tali, kemudian ibu-ibu mulai mengisi tempat. Kemudian datanglah seorang panitia berlari membawa sekaleng susu kental manis, dicelupkanlah pisang itu ke susu.

Bisa di bayangkan, ibu-ibu berlomba memakan pisang dibaluri susu kental. Banyak orang tertawa, suasananya meriah, penuh tawa dan gemuruh semangat.

Namun apa yang dirasakan anak-anak yang berada di sana? Bengong, berpikir, apa yang mereka tertawakan?Llucunya di mana? Mungkin itu pertanyaan di benak mereka. Bahkan sampai rumah, dia akan bertanya pada orang tuanya, “Lomba makan pisang tadi kok banyak yang tertawa? Kenapa, Buk?”

Bahkan yang muncul bukan gelak tawa, namun rasa jijik yang muncul di kepala saya melihat mereka mempraktekkan adegan yang bukan untuk di konsumsi publik. Atau mungkin isi otak saya yang berpikir terllu jauh, atau bahkan serera humor saya yang terlalu rendah, sampai hal selucu itu untuk banyak orang di sana, bagi saya malah bertolak belakang.

Kadang saya marah terhadap diri saya, dan berusaha memaksakan untuk menerima kalau lomba itu lucu. Namun masih saja, belum bisa membengkokkan bayangan yang muncul untuk bisa menjadi lucu dan ikut tertawa bersama, itu menjijikkan, hanya itu yang memenuhi isi otak saya. Bahkan setelah saya putar berkali-kali. Apa yang salah dengan isi kepala saya?

Kemudian ada lomba memasukkan benda. Yang sering saya lihat, memasukan paku di botol, saya pikir juga begitu. Namun ternyata ada pergeseran sedikit, atau  banyak, entahlah. Lombanya begini, dilakukan oleh dua orang dewasa, laki dan perempuan.

Peserta laki digantungi terong di bagian depan menggantung di antara kaki, kemudian berlari menuju satu titik yang di sana telah menunggu seorang perempuan dengan botol kemasan juga menggantung di antara kaki. Permainannya simpel, memasukan terong itu ke otol kemasan.

Kalian bisa bayangkan gerakan mereka setelah bertemu dan mencoba memasukkan terong tersebut ke botol. Dan iya, reaksi penonton tertawa, sorak-sorai penonton gemuruh, di tengah-tengah anak kecil yang bengong menonton pertunjukan tak senonoh “bagi saya” di depan matanya. Tanpa reaksi sedikitpun, hanya ikut-ikutan bertepuk tangan.

Bukankah itu adegan yang menjijikkan? Apa hanya saya yang merasakan, karena pikiran saya yang terlalu jauh berselancar. huuuuh

Dan satu lagi, yang seakan sudah lumrah dilakukan, game memecahkan balon. Saya yakin sudah banyak orang yang tahu, sebuah balon diletakkan tepat di depan kemaluan wanita dewasa, kemudian berlari dari satu titik seorang laki-laki dewasa berusaha memecahkan balon tersebut dengan menabrak-nabrakkan bagain badan ke balon. Silakan dibayangkan, gerakan apa yang dilakukan. Kembali bagi saya, itu adegan yang kurang etis untuk dipertontonkan dan cenderung menjijikkan.

Kenapa balon harus ditempatkan di area itu? Masih banyak tempat yang bisa dimanfaatkan, punggung, kepala, kenapa harus menggiring pikiran ke arah adegan yang tak pantas diperlihatkan. Ah, kembali pikiran saya yang tertalu jauh berkelana, dan mungkin kebanyakan memikirkan dampak, bukan kemeriahan yang di timbulkan.

Namun tahun lalu, saya sempat tertawa melihat sebuah lomba di media sosial. Lomba yang simpel dan menarik bagi saya, lomba sangkar burung kalau tidak salah namanya. Terdapat sebuah kawat lengkung yang pakai oleh peserta yang nantinya harus dimasukkan ke cincin yang digantung dengan seutas tali. Yang saya suka dan memuat tertawa adalah ekspresi peserta ketika berusaha memasukkan lengkungan kawat ke cincin kawat yang menggantung. Belum lagi ada iringan musik yang seakan menyatu dengan gerakan peserta. Itu lucu sekali, dan sangat menghibur.

Tapi apa daya, lomba bukan hanya untuk menhibur saya, ada banyak orang dengan selera humor yang berbeda pula. Tapi marilah kita saring kembali, lomba yang masih layak dilakukan, etis dipertontokan, dan masih dapat menghibur tanpa membuat persepsi orang-orang meluas ke sana-kemari, membayangkan yang tidak-tidak dan menimbulkan dampak yang kurang baik bagi anak-anak kita. Mari bijak memilih lomba untuk memeriahkan perayaan hari kemerdekaan tahun ini. Merdeka. [T]

BACA artikel lain dari penulis SUSILA PRIANGGA

Bentuk Responsif Makna Kemerdekaan Perempuan : Tentang “Jadi Wanita” NonaRia
Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana
Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka
Tags: HUT Kemerdekaan RILombaPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Cane”, Karya Musik yang Mengeksplorasi “Patutan” atau “Modal System” pada Gamelan Saih Pitu

Next Post

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 

I Kadek Susila Priangga

I Kadek Susila Priangga

Lahir di Karangasem. Guru seni budaya di SMPN 3 Sukasada, Buleleng, Bali

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co