2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjadi Manusia Merdeka: Catatan dari Adikawya Kakawin Rāmāyana

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
August 17, 2023
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

DALAM LANSKAP sastra kawi, adikawya Kakawin Rāmāyana dinobatkan sebagai kakawin tertua, terpanjang, dan terindah dalam jenisnya (JJ.Ras, 2014: 61). Sebagai bagian dari karya sastra dunia, kakawin yang dalam tradisi Bali diyakini digubah oleh seseorang berkualitas Yogiswara ini berisi eksiklopedi pengetahuan tentang persoalan hidup secara menyeluruh, termasuk di dalamnya figur manusia ideal berjiwa mahardika.

Jiwa-jiwa mahardika idealnya tumbuh dan terbit di dalam relung-relung hati anak bangsa, di tengah-tengah kemerdekaan yang telah diraih melalui pengorbanan keringat bercampur darah oleh para pejuang pada zamannya. Jiwa mahardika menjadi harapan ideal untuk mengisi kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan kusuma bangsa, sebagaimana seremonialnya kita peringati saban 17 Agustus  setiap tahunnya.

Seorang penekun studi Linguistik Historis Komparatif, James T. Collins dalam bukunya Bahasa Sansekerta dan bahasa Melayu menyatakan bahwa kata mahardika inilah yang berevolusi menjadi kata merdeka. Hal ini juga dikonfirmasi oleh Mukunda Madhava Sarma dalam bukunya “Elements of Sanskrit in Indonesian” (1985).

Kata ‘maharrddhika’ yang berasal dari bahasa Sansekerta, dalam prasasti-prasasti berbahasa Melayu pada abad ke-7 semula bermakna ‘kuat’. Lebih lanjut dikatakannya, kata ‘maharddhika’ yang telah mengalami evolusi fonologis menjadi kata ‘mardika’ tersebut pada abad ke-17 mengalami perubahan makna menjadi ‘hamba atau abdi yang dibebaskan dari ikatan undang-undang sebagai abdi, sehingga dapat berdiri sendiri’. Kini kata ‘mardika’ dalam bahasa Indonesia mengalami tahapan perubahan bentuk menjadi kata ‘merdeka’ yang secara semantik bergayut erat dengan ranah politik modern dengan pemaknaan ‘bebas dari penghambaan dan penjajahan, berdiri sendiri (KBBI, 1989: 577).  

Kata mahardika dalam Kakawin Rāmāyana  disebutkan pada fragmen menghadapnya Wibhisana kepada Rāma. Wibhisana adalah adik Rawana yang telah menculik belahan jiwa Rāma yaitu Sita. Penculikan ini berujung pada perang besar yang melibatkan para dewa, raksasa, resi, bahkan pasukan kera. Di tengah-tengah situasi perang tersebut, Wibhisana berusaha menjalankan kewajiban sebagai adik untuk menyelamatkan kakaknya Rawana dari malapetaka yang akan menimpanya melalui nasihat-nasihat tentang kebenaran.

Wibhisana memang telah berulang kali mengingatkan kakak kesayangannya itu untuk meminta maaf kepada Sri Rāma (Santikangen-angen pangupasama, haywa tan wawarengo lara humadang, kweh arista hatikasta katakut, yapwa tan upasaman pati bhisama). Akan tetapi, Rawana tidak sedikitpun mengindahkan kata-kata Wibhisana. Malahan Wibhisana dikatakannya sebagai seorang penghianat yang nista dan tidak setia terhadap kakak yang sekaligus rajanya. Rawana bagaikan batu yang nirrasa. Ia tak mampu memilah kata-kata yang mengandung amerta  atau racun dalam hidupnya.

Wibhisana akhirnya diusir dari istana Alengka karena dianggap telah berkhianat kepada Rawana dan kerajaan. Saat itulah Wibhisana yang sejak semula telah melihat kebenaran menyala pada ujung-ujung panah ‘senjata’ dan manah ‘pikiran’ Rāma menghadap reinkarnasi Wisnu itu. Ada berita menarik yang disampaikan Hanoman mengenai kedatangan Wibhisana ke tempat Sri Rāma. Penggubah Kakawin Rāmāyana  yang prototipenya konon  diresepsi dari karya Bhatti Kawya tersebut menyatakan sebagai berikut.

“Prawara guna wibhisana ikana teka, huluna ri suku sang prabhu tan alang-alang, sahuripana maharddhika tuwi gunawan, nipuna ring aji sastra wenanga sarana”.

Teks berbahasa Jawa Kuna tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut:

“Sang Wibhisana yang bijaksana kini datang, bermaksud menghamba kepada Paduka Rāma dengan tulus hati. Dia sungguh adalah orang yang bijaksana dan berpikiran merdeka. Sangat memahami ajaran sastra agama. Oleh karenanya patut dijadikan sekutu (Agastia, 1998: 54-55).

Pada kutipan di atas, Wibhisana dinyatakan sebagai seseorang yang bijaksana (gunawan) dan berpikiran merdeka. Kata ‘mahardhika’ yang berarti ‘merdeka’ dalam teks Kakawin Rāmāyana  di atas memang tepat disandang oleh seorang Wibhisana.

Ia adalah sosok yang berani memperjuangkan kebenaran dengan berpihak kepada Rāma. Wibhisana tidak terikat pada wilayah kerajaan yang menjadi tempatnya hidup bersama anak dan istrinya selama ruang itu dipenuhi oleh ketidakbenaran. Sampai di sini mungkin Wibhisana memiliki perbedaan sikap dengan saudaranya Kumbakarna. Sang Kumbakarna dalam sejumlah tafsiran memang dianggap sebagai sosok yang patriotis. Sebab, keinginannya bertarung dan mati di medan pertempuran bukan semata-mata karena membela Rawana tetapi karena jiwa bela negaranya.

Dia turun ke medan laga dengan motivasi memperjuangkan wilayah kerajaannya yang diserang musuh. Dalam pengamatan Kumbakarna, seorang Rāma dan pasukannya adalah musuh yang hendak menghancurkan kerajaan.  Kehancuran kerajaan dan wilayahnya itulah yang hendak dibelanya dengan jiwa dan raganya.

Dari sikap-sikap yang diambil oleh kedua bersaudara itu, cerita Rāmāyana  yang bagi sebagian orang sederhana menjadi kompleks dan multitafsir. Yang menganggap cerita itu sederhana barangkali hanya mengetahui cerita Rāmāyana  lewat mendengar atau menonton bagian-bagian tertentu dari pementasan wayang.

Sementara itu, bagi sejumlah orang yang pernah membaca karya sastra Kakawin Rāmāyana  akan merasakan betapa kompleksnya cerita yang dibingkai dengan kepadatan metrum kakawin tersebut. Tidak banyak orang yang mampu membaca Kakawin Rāmāyana  dengan tuntas, meskipun kesucian pikiran menjadi pahala yang akan diraih ketika selesai membaca karya sastra yang sarat ajaran tentang kehidupan itu.

Ajaran itu terselip dalam dialog maupun salampah laku dan dilema-dilema para tokohnya. Dilema-dilema yang multitafsir selalu memeras keringat penafsiran para peminatnya, seperti dalam fragmen Dewi Kekayi yang menuntut agar Bharata menjadi raja Ayodya, fragmen peperangan Subali dan Sugriwa, fragmen Laksmana dalam menjaga Sita yang diakhiri dengan penyamaran Rawana menjadi pendeta dan yang lainnya.   

Khusus dalam konteks sikap Wibhisana dan Kumbakarna, entah demi kepentingan moral cerita atau sebab-sebab lainnya, dapat disimak bahwa Kumbakarna gugur di medan pertempuran. Sementara Wibhisana tetap hidup. Bahkan Rāma menyerahkan kerajaan Alengka yang semula diperintah oleh kakaknya kepada Wibhisana. Wibhisana tampaknya dijadikan figur oleh pengarang untuk memaknai jiwa yang mahardika ‘bebas’.

Dari sikap-sikap yang diambil oleh Wibhisana, ia sejatinya bukanlah seseorang yang tidak memiliki patriotisme. Wibhisana lebih memilih pendekatan dialogis untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan kepada Rawana sebagai pucuk pimpinan di kerajaan Alengka. Barangkali hanya dengan cara itu Wibhisana berharap dapat membalikkan kesadaran Rawana untuk mengurungkan niatnya berperang melawan Rāma. Dengan cara itu pula kerajaannya akan selamat.

Pendekatan dialogis yang dilakukannya ternyata tidak membuahkan hasil. Bahkan berujung pada pengusiran.  Wibhisana lalu menghadap Rāma yang menjadi tokoh sentral cerita. Meskipun reinkarnasi Wisnu, Rāma tetaplah manusia yang memiliki tubuh (darah dan daging) dan perasaan.

Sebagai manusia, Rāma dengan usaha keras terus berjalan dan membangun jembatan di atas laut dengan pasukan kera. Sebagai putra mahkota, Rāma rela tahtanya digantikan oleh adiknya sang Bharata. Sebagai seorang suami, tentu ia juga marah, sedih dan emosi ketika istrinya diculik oleh Rawana. Dari keseluruhan cerita, baik pihak yang menang dalam pertempuran maupun yang kalah, sama-sama merasakan penderitaan. Konon dunia memang tidak hanya menyediakan kesenangan, tetapi sekaligus duka lara dan kematian.  

Dalam adikawya tersebut, Rāma dijadikan simbol kebenaran. Dengan mengabdikan seluruh kemampuannya kepada Rāma, barangkali Wibhisana dapat dimaknai sebagai abdi pada kebenaran itu sendiri. Wibhisana tidak memihak kepada Rawana, walaupun secara genetis ia adalah saudaranya. Itu artinya, seorang Wibhisana tidak memiliki karakter nepotisme, sebagaimana menjadi trend di zaman ini. Sikap-sikap Wibhisana itu tentu menjadi anomali di wilayahnya sendiri. Terlebih di wilayah kerajaan yang penuh dengan kerakusan, nepotisme, bahkan mungkin korupsi yang dilakukan para raksasa.

Di dalam lingkungan seperti itu Ia menjadi sosok yang dibenci.  Namun demikian, kita yang hidup di dunia nyata dapat merasakan bahwa Wibhisana adalah seseorang yang berpikiran bebas ‘merdeka’. Dengan landasan keyakinan dan tekad yang bulat Ia memutuskan untuk berpihak pada kebenaran.

Situasi politik kerajaan yang carut marut dan ingin meraih segala keinginan termasuk cinta, harta, dan tahta dengan segala cara tak mampu mengikatnya.  Wibhisana memang bagaikan butir embun yang ada di dalam mahligai teratai. Ia tetap memancarkan kejernihannya, meskipun akarnya menancap pada lumpur dan batangnya hidup pada air yang tidak jarang bersahabat dengan ‘kekeruhan’.  [T]

  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
“Nglawang”: Sumber Sastra dan Realita
Dari Aliansi Subak sampai Proses Menjaga Kedaulatan Kerajaan Bali: Memandang Batur dari Jendela Sastra
IGB Sugriwa, Pengalir Mata Air Sastra ke Berbagai Telaga Zaman
Tags: HUT Kemerdekaan RIkakawinkawikemerdekaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Baru di Singaraja: Undiksha 2.975 Orang, STAHN Mpu Kuturan 1.115 Orang

Next Post

Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co