2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 18, 2023
in Esai
Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka

Ilustrasi diolah dari Canva

PADA TAHUN Pelajaran 2023/2024, Kurikulum Merdeka (sebelumnya disebut Kurikulum Prototipe) memasuki tahun ketiga yang pilot projeknya dimulai dari Program Sekolah Penggerak (PSP) pada Tahun Pelajaran 2021/2022.

Hakikat Kurikulum Merdeka adalah memberikan kebebasan kepada peserta didik agar terjadi proses transformasi pembelajaran  yang keluar dari belenggu dan penindasan. Disiplin belajar  diharapkan mulai dari kesadaran diri dan kesepakatan kelas secara bersama untuk memberikan rasa aman dan nyaman (student wellbeing) untuk mengembangkan kecerdasan berdimensi jamak sesuai dengan keunikan dan kehebatan peserta didik masing-masing.

Peserta didik merdeka belajar sesuai dengan kapasitas dirinya secara utuh menyeluruh mematangkan  jasmani dan rohani. Ki Hadjar Dewantara menyebutkan, pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak.

Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Inilah oleh ahli pedagog Barat disebut kognitif, afektif, dan psikomotor dalam dunia pendidikan (persekolahan) yang diimani hingga kini.

Implementasi Kurikulum Merdeka sejauh ini sangat ramai dan seru beritanya di media sosial. Keseruan itu perlu dicermati secara kritis karena media sosial sering menampilkan semangat virtualitas, yang hiperrealitas. Jangan sampai implementasi Kurikulum Merdeka tersesat di jalan yang benar. Apalagi selama dua tahun pelaksanaannya, belum ada evaluasi yang komprehensif terhadap sekolah pelaksana Kurikulum Merdeka.

Namun demikian, ada beberapa kabar baik  yang tampak menggembirakan. Pertama, Sekolah Pelaksana Kurikulum Merdeka telah melaksanakan Pameran Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P-5) dengan tema-tema terpilih sesuai potensi sekolah. Pameran  melibatkan berbagai pemangku kepentingan (orang tua siswa, komite, pengusaha, sekolah lain).

Siswa dan guru antarsekolah melaksanakan arisan kunjungan saat P-5 digelar. Saling mengunjungi antarsekolah dapat diformat dalam bentuk wisata edukasi. Siswa diberikan kemerdekaan berinteraksi dan berekspresi sambil berwirausaha dengan menginternalisasikan nilai-nilai sapta pesona dalam dunia pariwisata.

Guru dan siswa merdeka belajar bersama secara kolaboratif dari sekolah lain. Kesetaraan guru-murid antarsekolah dapat dimodifikasi untuk merancang pembelajaran yang  menyenangkan, inklusif, demokratis, dan toleransi.

Kedua, guru dibiasakan berefleksi seusai pembelajaran baik dengan siswa secara bersama-sama sebelum mengakhiri pelajaran maupun dengan sesama guru. Secara institusi, Kepala Sekolah dapat melaksanakan refleksi mingguan terjadwal antara guru dan tenaga kependidikan. Dimungkinkan juga guru berbagi praktik baik untuk berefleksi antarsekolah dalam kelompok MGMP Tingkat Kabupaten dan Provinsi—bahkan antar Provinsi secara daring. 

Dalam refleksi, para guru bisa menyampaikan permasalahan yang dihadapi untuk dicarikan solusi bersama. Guru dibiasakan berkolaborasi secara mutualistik saling memberi dan saling menerima kekuatan dan kelemahan masing-masing. Secara implisit, kebiasaan berefleksi dapat memperkuat profil pendidik Pancasila—karena hakikatnya guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Ketiga, dalam rapor siswa juga dicantumkan nilai kualitatif  P-5 pada akhir tahun pelajaran, yang belum pernah ada pada Kurikulum sebelumnya. Ada 7 projek yang dapat diselesaikan siswa selama 3 tahun di SMA (fase E dan F).

Fase belajar  mengikuti fase-fase perkembangan dalam teori  belajar  Jean Piaget. Inti dari teori belajar ini adalah kecerdasan berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kognitif peserta didik. Kematangan anak mengikuti irama perkembangan yang berbeda-beda dan bersifat unik. Semuanya hebat sesuai dengan keunikannya masing-masing.

Di balik respon positif pelaksanaan Kurikulum Merdeka itu, masih ada kontroversi di kalangan atas dan bawah. Di kalangan atas (ahli, pengamat) pendidikan, menilai Kurikulum Merdeka diberlakukan tanpa persiapan dan tergesa-gesa bin diam-diam sebagaimana diungkapkan Darmaningtyas.

Dalam konteks digitalisasi pendidikan untuk mendukung Kurikulum Mereka, Indonesia belum memiliki perencanaan. “Pemerintah belum memiliki konsep dan hanya fokus membuat aplikasi,”  sebagaimana diungkapkan Indra Charismiadji (Kompas, 9/6/2023). Jangan-jangan, ini strategi pemasaran sebagai mana penawaran marketplace  guru yang menuai kontroversial.

Di kalangan bawah,  terutama bagi pelaksana Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) mandiri di luar PSP menilai Kurikulum Merdeka membuat kasta baru sekolah di tengah wacana  demokratisasi dan kesetaraan pendidikan.

Tidak jauh berbeda dengan RSBI zaman SBY atau Sekolah Binaan Khusus (SBK) zaman Orde Baru. Yang berbeda adalah model rekrutmennya, antara penunjukan dari atas (top down) dan inisiatif dari bawah (bottom up).

Selain itu, muncul pula rasa was-was terkait keberlanjutan pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan aneka gerakan yang mengawali, seperti Program Sekolah Penggerak dan Program Guru Penggerak. Sejumlah guru mengkhawatirkan  program itu berhenti  bila rezim dan menteri berganti setelah Pemilu 2024.

Apakah kekhawatiran itu juga dirasakan oleh  Menteri Nadiem Makarim  sehingga PSP pun hanya dibuka sampai Angkatan ketiga pada 2023? Entahlah.  Selanjutnya, Kurikulum Merdeka diharapkan dilaksanakan secara mandiri mulai 2024 oleh semua sekolah.

Begitulah Kurikulum Merdeka diberlakukan di tengah masa pandemi Covid-19 dengan aneka tantangan. Tantangan terkait kebijakan Kemendikbud Ristek mengangkat 1 juta guru P3K yang belum kelar dan terus ditagih oleh sekolah akibat banyaknya guru pensiun sedangkan pembelajaran tidak boleh terputus.

Tantangan lainnya adalah berubahnya regulasi super cepat dan mendadak sehingga menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan guru dan dosen. Hal yang berkebalikan dengan tagihan  agar guru dan dosen ramah anak/mahasiswa dengan pembelajaran yang menyenangkan.

Regulasi yang berganti super cepat itu juga kontra-produktif dengan imbauan mengurangi beban administrasi guru/dosen. Nyatanya, beban administrasi sangat menyita waktu di tengah tuntutan cepat berubah dengan berlari kencang seakan dikejar macan yang menakutkan.

Inilah refleksi implementasi Kurikulum Merdeka memasuki tahun ketiga. Saatnya regulasi ramah guru agar sekolah ramah anak makin membuat siswa kasmaran belajar. Sadar bahwa hanya ada dua profesi di dunia ini, yaitu guru dan lain-lain.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 
Transformasi Perguruan Tinggi Melalui Kebijakan Kampus Merdeka Mandiri
Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru
Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Green Growth Journalism Training: Perlu Kolaborasi Untuk Pengarusutamaan Isu Lingkungan

Next Post

Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co