23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 18, 2023
in Esai
Refleksi Tiga Tahun Kurikulum Merdeka

Ilustrasi diolah dari Canva

PADA TAHUN Pelajaran 2023/2024, Kurikulum Merdeka (sebelumnya disebut Kurikulum Prototipe) memasuki tahun ketiga yang pilot projeknya dimulai dari Program Sekolah Penggerak (PSP) pada Tahun Pelajaran 2021/2022.

Hakikat Kurikulum Merdeka adalah memberikan kebebasan kepada peserta didik agar terjadi proses transformasi pembelajaran  yang keluar dari belenggu dan penindasan. Disiplin belajar  diharapkan mulai dari kesadaran diri dan kesepakatan kelas secara bersama untuk memberikan rasa aman dan nyaman (student wellbeing) untuk mengembangkan kecerdasan berdimensi jamak sesuai dengan keunikan dan kehebatan peserta didik masing-masing.

Peserta didik merdeka belajar sesuai dengan kapasitas dirinya secara utuh menyeluruh mematangkan  jasmani dan rohani. Ki Hadjar Dewantara menyebutkan, pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran, dan tubuh anak.

Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Inilah oleh ahli pedagog Barat disebut kognitif, afektif, dan psikomotor dalam dunia pendidikan (persekolahan) yang diimani hingga kini.

Implementasi Kurikulum Merdeka sejauh ini sangat ramai dan seru beritanya di media sosial. Keseruan itu perlu dicermati secara kritis karena media sosial sering menampilkan semangat virtualitas, yang hiperrealitas. Jangan sampai implementasi Kurikulum Merdeka tersesat di jalan yang benar. Apalagi selama dua tahun pelaksanaannya, belum ada evaluasi yang komprehensif terhadap sekolah pelaksana Kurikulum Merdeka.

Namun demikian, ada beberapa kabar baik  yang tampak menggembirakan. Pertama, Sekolah Pelaksana Kurikulum Merdeka telah melaksanakan Pameran Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P-5) dengan tema-tema terpilih sesuai potensi sekolah. Pameran  melibatkan berbagai pemangku kepentingan (orang tua siswa, komite, pengusaha, sekolah lain).

Siswa dan guru antarsekolah melaksanakan arisan kunjungan saat P-5 digelar. Saling mengunjungi antarsekolah dapat diformat dalam bentuk wisata edukasi. Siswa diberikan kemerdekaan berinteraksi dan berekspresi sambil berwirausaha dengan menginternalisasikan nilai-nilai sapta pesona dalam dunia pariwisata.

Guru dan siswa merdeka belajar bersama secara kolaboratif dari sekolah lain. Kesetaraan guru-murid antarsekolah dapat dimodifikasi untuk merancang pembelajaran yang  menyenangkan, inklusif, demokratis, dan toleransi.

Kedua, guru dibiasakan berefleksi seusai pembelajaran baik dengan siswa secara bersama-sama sebelum mengakhiri pelajaran maupun dengan sesama guru. Secara institusi, Kepala Sekolah dapat melaksanakan refleksi mingguan terjadwal antara guru dan tenaga kependidikan. Dimungkinkan juga guru berbagi praktik baik untuk berefleksi antarsekolah dalam kelompok MGMP Tingkat Kabupaten dan Provinsi—bahkan antar Provinsi secara daring. 

Dalam refleksi, para guru bisa menyampaikan permasalahan yang dihadapi untuk dicarikan solusi bersama. Guru dibiasakan berkolaborasi secara mutualistik saling memberi dan saling menerima kekuatan dan kelemahan masing-masing. Secara implisit, kebiasaan berefleksi dapat memperkuat profil pendidik Pancasila—karena hakikatnya guru adalah pembelajar sepanjang hayat.

Ketiga, dalam rapor siswa juga dicantumkan nilai kualitatif  P-5 pada akhir tahun pelajaran, yang belum pernah ada pada Kurikulum sebelumnya. Ada 7 projek yang dapat diselesaikan siswa selama 3 tahun di SMA (fase E dan F).

Fase belajar  mengikuti fase-fase perkembangan dalam teori  belajar  Jean Piaget. Inti dari teori belajar ini adalah kecerdasan berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kognitif peserta didik. Kematangan anak mengikuti irama perkembangan yang berbeda-beda dan bersifat unik. Semuanya hebat sesuai dengan keunikannya masing-masing.

Di balik respon positif pelaksanaan Kurikulum Merdeka itu, masih ada kontroversi di kalangan atas dan bawah. Di kalangan atas (ahli, pengamat) pendidikan, menilai Kurikulum Merdeka diberlakukan tanpa persiapan dan tergesa-gesa bin diam-diam sebagaimana diungkapkan Darmaningtyas.

Dalam konteks digitalisasi pendidikan untuk mendukung Kurikulum Mereka, Indonesia belum memiliki perencanaan. “Pemerintah belum memiliki konsep dan hanya fokus membuat aplikasi,”  sebagaimana diungkapkan Indra Charismiadji (Kompas, 9/6/2023). Jangan-jangan, ini strategi pemasaran sebagai mana penawaran marketplace  guru yang menuai kontroversial.

Di kalangan bawah,  terutama bagi pelaksana Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) mandiri di luar PSP menilai Kurikulum Merdeka membuat kasta baru sekolah di tengah wacana  demokratisasi dan kesetaraan pendidikan.

Tidak jauh berbeda dengan RSBI zaman SBY atau Sekolah Binaan Khusus (SBK) zaman Orde Baru. Yang berbeda adalah model rekrutmennya, antara penunjukan dari atas (top down) dan inisiatif dari bawah (bottom up).

Selain itu, muncul pula rasa was-was terkait keberlanjutan pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan aneka gerakan yang mengawali, seperti Program Sekolah Penggerak dan Program Guru Penggerak. Sejumlah guru mengkhawatirkan  program itu berhenti  bila rezim dan menteri berganti setelah Pemilu 2024.

Apakah kekhawatiran itu juga dirasakan oleh  Menteri Nadiem Makarim  sehingga PSP pun hanya dibuka sampai Angkatan ketiga pada 2023? Entahlah.  Selanjutnya, Kurikulum Merdeka diharapkan dilaksanakan secara mandiri mulai 2024 oleh semua sekolah.

Begitulah Kurikulum Merdeka diberlakukan di tengah masa pandemi Covid-19 dengan aneka tantangan. Tantangan terkait kebijakan Kemendikbud Ristek mengangkat 1 juta guru P3K yang belum kelar dan terus ditagih oleh sekolah akibat banyaknya guru pensiun sedangkan pembelajaran tidak boleh terputus.

Tantangan lainnya adalah berubahnya regulasi super cepat dan mendadak sehingga menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan guru dan dosen. Hal yang berkebalikan dengan tagihan  agar guru dan dosen ramah anak/mahasiswa dengan pembelajaran yang menyenangkan.

Regulasi yang berganti super cepat itu juga kontra-produktif dengan imbauan mengurangi beban administrasi guru/dosen. Nyatanya, beban administrasi sangat menyita waktu di tengah tuntutan cepat berubah dengan berlari kencang seakan dikejar macan yang menakutkan.

Inilah refleksi implementasi Kurikulum Merdeka memasuki tahun ketiga. Saatnya regulasi ramah guru agar sekolah ramah anak makin membuat siswa kasmaran belajar. Sadar bahwa hanya ada dua profesi di dunia ini, yaitu guru dan lain-lain.[T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 
Transformasi Perguruan Tinggi Melalui Kebijakan Kampus Merdeka Mandiri
Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru
Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikansekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Green Growth Journalism Training: Perlu Kolaborasi Untuk Pengarusutamaan Isu Lingkungan

Next Post

Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

Gaya Bebadungan: Seharusnya atau Tidak Sebagai Barometer Festival Seni Budaya di Kabupaten Badung?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co