15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 4, 2023
in Esai
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN (GSM) adalah salah satu strategi untuk meminimalisasi tiga dosa pendidikan sebagaimana dikhawatirkan Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim. Pada suatu kesempatan, Mas Menteri mengingatkan tiga dosa Pendidikan Indonesia: perundungan (bullying), radikalisme (kekerasan), dan intoleransi. Ketiga dosa ini perlu dicarikan solusinya melalui jenis, jalur, dan jenjang  pendidikan secara bersama.

Menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, jenis pendidikan mengacu pada pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Jenjang pendidikan mengacu pada pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan Tinggi. Jalur pendidikan meliputi jalur informal, formal, dan nonformal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

GSM sebagai salah satu antisipasi meluasnya tiga dosa pendidikan tidak bisa dibebankan secara sektoral melalui jalur pendidikan formal, khususnya sekolah. Makna sekolah pun diperluas sesuai kebutuhan dan senantiasa kontekstual dengan teks regulasi yang memayungi.

Tempat penyelenggaraan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itulah sesungguhnya sekolah dan tanggungjawabnya pun pada ketiga tempat itu. Membebani GSM semata-mata pada jalur pendidikan formal dengan guru sebagai penanggung jawab, selain kurang elok, juga mengabaikan partisipasi dan kontrol di lingkungan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itu. 

Sebagai sebuah gerakan,  GSM digagas sejak 2016 oleh pasangan suami istri dosen UGM, Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra, sepulang mereka dari Australia selesai menempuh doktoral.

Di Australia, kedua pasangan ini terinspirasi oleh  ketiga buah hatinya yang sangat mencintai sekolahnya karena tiga hal: Kurikulum yang lebih bagus, lebih menyenangkan, disesuaikan dengan kelebihan setiap anak.

Pengalaman demikian juga dituturkan oleh Ratih D. Adiputri (2019) ketika menyekolahkan anaknya, Nadia (5 tahun),  di sebuah TK di Finlandia. Di sana, anak TK diperlakukan bak raja oleh guru yang menyenangkan dan menyemangati.

Mereka mendambakan Pendidikan Indonesia dengan GSM yang berfokus pada pembelajaran berbasis aktivitas, berdiferensiasi, bermakna, dan edukatif fungsional selaras dengan semangat merdeka belajar. Sekolah menjadi taman hati yang membahagiakan bagi anak dengan senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif sehingga tidak ada  anak yang fobia sekolah.

Oleh karena itu, GSM  dimulai dari perubahan pola pikir kepala sekolah, guru, orangtua, dan para pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem pendidikan yang kondusif dan positif berfokus pada pengembangan karakter siswa.

Sebagai negara yang menganut budaya paternalistik, merekalah yang seharusnya menjadi teladan bagi peserta didik untuk membudayakan nilai karakter bangsa sebagaimana dirumuskan Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas, sebelum Kurikulum 2013 diberlakukan.

Nilai-nilai karakter itu adalah religius, jujur, toleransi,disiplin, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan,peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu belakangan lebih dikenal dengan Profil Pelajar Pancasila.

Dengan mengimani nilai-nila tersebut, GSM dapat memperkuat program sekolah ramah anak yang sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 dengan mengedepankan harkat dan martabat anak untuk tumbuh dan berkembang secara positif menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, GSM juga jawaban atas Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang penanggulangan kekerasan di sekolah, dan penguat Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang penguatan karakter. Secara eksplisit  Kurikulum 2013 juga memuat Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

Namun, sejauh ini tiga dosa pendidikan  masih mengintai bahkan tindak kekerasan dilakukan oleh orang-orang dekat yang seharusnya mengayomi. Tragedi pendidikan terjadi dari masa ke masa. Walaupun  persentasenya kecil, beritanya viral menggemparkan.

Berbagai strategi diupayakan dengan regulasi yang menghabiskan biaya besar, termasuk   pelatihan bagi  guru-guru. Namun, sesaat setelah kembali ke sekolah, guru tetap biasa-biasa saja, seperti lagu Dian Piesesha: Aku Masih Seperti yang Dulu.

Apa yang keliru?

Pertama, kompleksitas masalah pendidikan di Indonesia yang dikelola oleh berbagai Departemen (Depdikbud Ristek, Depag, Depdagri, Deparekraf) dengan aturan yang berbeda.  Belum lagi, kompleksitas dengan keanekaragaman budaya, suku, bahasa dan  geografi  selaras dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Perbedaan itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi berkah inspirasi bagi kemajuan, tetapi juga  dapat menjadi musibah bila salah kelola.

Kedua, sekolah sudah lama menjadi pusat aneka aktivitas bagi kementerian di luar Kemendikbud Ristek, sehingga beban pendidik makin berat. Belum lagi  adanya regulasi yang kurang sinkron antardepartemen, misalnya aturan BOS dibuat oleh  Kemendikbud Ristek, tetapi aturan penggunaannya berdasarkan aturan Kemendagri.

Ketiga, krisis keteladanan  di segala  bidang dibebankan pada dunia Pendidikan sebagai dampak budaya paternalistik. Pemimpin di berbagai level acapkali menggunakan skala ganda dalam kepemimpinannya. Ujungnya, membingungkan peserta didik yang bermula dari tidak  satunya  pikiran, perkataan, dan perbuatan  yang memicu disharmoni.

Mencermati hal itu, GSM perlu menjadi gerakan bersama di sekolah dengan landasan cinta. Cinta tulus seorang guru dalam mendidik dan mengajar akan melahirkan kreativitas tanpa batas (creativity), berdasarkan kesungguhan dan keikhlasan (integrity), dengan selalu berpegang teguh pada aturan (norm), dilandasi pikiran positif  (think), untuk mengapresiasi (appreciation) setiap  langkah pencapaian.

Guru yang bekerja dengan  CINTA  dapat menjadi pelita dalam kegelapan mengisi  lorong-lorong gelap jiwa muda di tengah benturan peradaban global.

Dengan landasan CINTA,  level GSM  dapat ditingkatkan menjadi Gerakan Sekolah Membahagiakan (GSM). Secara semantik, tentu saja menyenangkan dan membahagiakan berkonotasi positif.

Akan tetapi, kualitas makna kedua kata itu  jelas berbeda. Kata menyenangkan itu lebih menampakkan suasana di permukaan sedangkan  membahagiakan di aras kedalaman tervibrasi keluar.

Dalam teori linguistiknya, Chomsky menyenangkan itu mencerminkan surface structure “struktur permukaan” atau arti, sedangkan membahagiakan merepresentasikan deef structure “struktur batin” atau makna. Orang yang membahagiakan itu pasti menyenangkan, tetapi yang menyenangkan itu belum tentu membahagiakan.  

Begitulah GSM mestinya dimaknai. Siswa tak ubahnya itik yang berlumpur tetapi tetap bisa menggunakan daya wiweka (memilah dan memilih) makanan yang menyehatkan di antara lumpur. Seperti juga halnya teratai yang akar dan batangnya di lumpur, tetapi bunganya mekar tanpa ternoda.

Makna itu seiring dengan tradisi Hindu Bali menggunakan itik panggang (guling bebek) sebagai sesajen  persembahan kepada  Para Dewata  dilengkapi canang dengan bunga teratai yang terkenal sebagai  bunga berkelas dan sering ditembangkan  dalam kidung-kidung suci untuk mengantarkan roh ke alam nirwana.

Begitulah  GSM  seyogyanya meningkatkan kualitas siswa menjadi guna satwam (cerdas dan bijaksana) yang disimbolkan dengan itik mengalahkan guna rajas (agresif) yang disimbolkan dengan ayam dan guna tamas (kemalasan) yang disimbolikkan dengan babi.

Satwam, rajas, tamas itu dalam tradisi Hindu disebut triguna yang memengaruhi watak manusia. Pendidikan sebagai usaha sadar seharusnya terus-menerus mengusahakan terwujudnya guna satwam bagi peserta didik dengan membumikan GSM sehingga kasmaran belajar hingga kasmaran berbangsa (meminjam istilah Pranoto) dengan semangat belajar sepanjang hayat.[T]

“Sembari”, Sekolah Berbasis Riset dan Inovasi
Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak
Rumahku Sekolahku
Tags: Pendidikanpendidikan merdekasekolahSekolah Ramah Anak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Next Post

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co