25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 4, 2023
in Esai
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN (GSM) adalah salah satu strategi untuk meminimalisasi tiga dosa pendidikan sebagaimana dikhawatirkan Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim. Pada suatu kesempatan, Mas Menteri mengingatkan tiga dosa Pendidikan Indonesia: perundungan (bullying), radikalisme (kekerasan), dan intoleransi. Ketiga dosa ini perlu dicarikan solusinya melalui jenis, jalur, dan jenjang  pendidikan secara bersama.

Menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, jenis pendidikan mengacu pada pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Jenjang pendidikan mengacu pada pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan Tinggi. Jalur pendidikan meliputi jalur informal, formal, dan nonformal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

GSM sebagai salah satu antisipasi meluasnya tiga dosa pendidikan tidak bisa dibebankan secara sektoral melalui jalur pendidikan formal, khususnya sekolah. Makna sekolah pun diperluas sesuai kebutuhan dan senantiasa kontekstual dengan teks regulasi yang memayungi.

Tempat penyelenggaraan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itulah sesungguhnya sekolah dan tanggungjawabnya pun pada ketiga tempat itu. Membebani GSM semata-mata pada jalur pendidikan formal dengan guru sebagai penanggung jawab, selain kurang elok, juga mengabaikan partisipasi dan kontrol di lingkungan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itu. 

Sebagai sebuah gerakan,  GSM digagas sejak 2016 oleh pasangan suami istri dosen UGM, Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra, sepulang mereka dari Australia selesai menempuh doktoral.

Di Australia, kedua pasangan ini terinspirasi oleh  ketiga buah hatinya yang sangat mencintai sekolahnya karena tiga hal: Kurikulum yang lebih bagus, lebih menyenangkan, disesuaikan dengan kelebihan setiap anak.

Pengalaman demikian juga dituturkan oleh Ratih D. Adiputri (2019) ketika menyekolahkan anaknya, Nadia (5 tahun),  di sebuah TK di Finlandia. Di sana, anak TK diperlakukan bak raja oleh guru yang menyenangkan dan menyemangati.

Mereka mendambakan Pendidikan Indonesia dengan GSM yang berfokus pada pembelajaran berbasis aktivitas, berdiferensiasi, bermakna, dan edukatif fungsional selaras dengan semangat merdeka belajar. Sekolah menjadi taman hati yang membahagiakan bagi anak dengan senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif sehingga tidak ada  anak yang fobia sekolah.

Oleh karena itu, GSM  dimulai dari perubahan pola pikir kepala sekolah, guru, orangtua, dan para pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem pendidikan yang kondusif dan positif berfokus pada pengembangan karakter siswa.

Sebagai negara yang menganut budaya paternalistik, merekalah yang seharusnya menjadi teladan bagi peserta didik untuk membudayakan nilai karakter bangsa sebagaimana dirumuskan Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas, sebelum Kurikulum 2013 diberlakukan.

Nilai-nilai karakter itu adalah religius, jujur, toleransi,disiplin, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan,peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu belakangan lebih dikenal dengan Profil Pelajar Pancasila.

Dengan mengimani nilai-nila tersebut, GSM dapat memperkuat program sekolah ramah anak yang sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 dengan mengedepankan harkat dan martabat anak untuk tumbuh dan berkembang secara positif menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, GSM juga jawaban atas Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang penanggulangan kekerasan di sekolah, dan penguat Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang penguatan karakter. Secara eksplisit  Kurikulum 2013 juga memuat Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

Namun, sejauh ini tiga dosa pendidikan  masih mengintai bahkan tindak kekerasan dilakukan oleh orang-orang dekat yang seharusnya mengayomi. Tragedi pendidikan terjadi dari masa ke masa. Walaupun  persentasenya kecil, beritanya viral menggemparkan.

Berbagai strategi diupayakan dengan regulasi yang menghabiskan biaya besar, termasuk   pelatihan bagi  guru-guru. Namun, sesaat setelah kembali ke sekolah, guru tetap biasa-biasa saja, seperti lagu Dian Piesesha: Aku Masih Seperti yang Dulu.

Apa yang keliru?

Pertama, kompleksitas masalah pendidikan di Indonesia yang dikelola oleh berbagai Departemen (Depdikbud Ristek, Depag, Depdagri, Deparekraf) dengan aturan yang berbeda.  Belum lagi, kompleksitas dengan keanekaragaman budaya, suku, bahasa dan  geografi  selaras dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Perbedaan itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi berkah inspirasi bagi kemajuan, tetapi juga  dapat menjadi musibah bila salah kelola.

Kedua, sekolah sudah lama menjadi pusat aneka aktivitas bagi kementerian di luar Kemendikbud Ristek, sehingga beban pendidik makin berat. Belum lagi  adanya regulasi yang kurang sinkron antardepartemen, misalnya aturan BOS dibuat oleh  Kemendikbud Ristek, tetapi aturan penggunaannya berdasarkan aturan Kemendagri.

Ketiga, krisis keteladanan  di segala  bidang dibebankan pada dunia Pendidikan sebagai dampak budaya paternalistik. Pemimpin di berbagai level acapkali menggunakan skala ganda dalam kepemimpinannya. Ujungnya, membingungkan peserta didik yang bermula dari tidak  satunya  pikiran, perkataan, dan perbuatan  yang memicu disharmoni.

Mencermati hal itu, GSM perlu menjadi gerakan bersama di sekolah dengan landasan cinta. Cinta tulus seorang guru dalam mendidik dan mengajar akan melahirkan kreativitas tanpa batas (creativity), berdasarkan kesungguhan dan keikhlasan (integrity), dengan selalu berpegang teguh pada aturan (norm), dilandasi pikiran positif  (think), untuk mengapresiasi (appreciation) setiap  langkah pencapaian.

Guru yang bekerja dengan  CINTA  dapat menjadi pelita dalam kegelapan mengisi  lorong-lorong gelap jiwa muda di tengah benturan peradaban global.

Dengan landasan CINTA,  level GSM  dapat ditingkatkan menjadi Gerakan Sekolah Membahagiakan (GSM). Secara semantik, tentu saja menyenangkan dan membahagiakan berkonotasi positif.

Akan tetapi, kualitas makna kedua kata itu  jelas berbeda. Kata menyenangkan itu lebih menampakkan suasana di permukaan sedangkan  membahagiakan di aras kedalaman tervibrasi keluar.

Dalam teori linguistiknya, Chomsky menyenangkan itu mencerminkan surface structure “struktur permukaan” atau arti, sedangkan membahagiakan merepresentasikan deef structure “struktur batin” atau makna. Orang yang membahagiakan itu pasti menyenangkan, tetapi yang menyenangkan itu belum tentu membahagiakan.  

Begitulah GSM mestinya dimaknai. Siswa tak ubahnya itik yang berlumpur tetapi tetap bisa menggunakan daya wiweka (memilah dan memilih) makanan yang menyehatkan di antara lumpur. Seperti juga halnya teratai yang akar dan batangnya di lumpur, tetapi bunganya mekar tanpa ternoda.

Makna itu seiring dengan tradisi Hindu Bali menggunakan itik panggang (guling bebek) sebagai sesajen  persembahan kepada  Para Dewata  dilengkapi canang dengan bunga teratai yang terkenal sebagai  bunga berkelas dan sering ditembangkan  dalam kidung-kidung suci untuk mengantarkan roh ke alam nirwana.

Begitulah  GSM  seyogyanya meningkatkan kualitas siswa menjadi guna satwam (cerdas dan bijaksana) yang disimbolkan dengan itik mengalahkan guna rajas (agresif) yang disimbolkan dengan ayam dan guna tamas (kemalasan) yang disimbolikkan dengan babi.

Satwam, rajas, tamas itu dalam tradisi Hindu disebut triguna yang memengaruhi watak manusia. Pendidikan sebagai usaha sadar seharusnya terus-menerus mengusahakan terwujudnya guna satwam bagi peserta didik dengan membumikan GSM sehingga kasmaran belajar hingga kasmaran berbangsa (meminjam istilah Pranoto) dengan semangat belajar sepanjang hayat.[T]

“Sembari”, Sekolah Berbasis Riset dan Inovasi
Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak
Rumahku Sekolahku
Tags: Pendidikanpendidikan merdekasekolahSekolah Ramah Anak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Next Post

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co