4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 4, 2023
in Esai
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN (GSM) adalah salah satu strategi untuk meminimalisasi tiga dosa pendidikan sebagaimana dikhawatirkan Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim. Pada suatu kesempatan, Mas Menteri mengingatkan tiga dosa Pendidikan Indonesia: perundungan (bullying), radikalisme (kekerasan), dan intoleransi. Ketiga dosa ini perlu dicarikan solusinya melalui jenis, jalur, dan jenjang  pendidikan secara bersama.

Menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, jenis pendidikan mengacu pada pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Jenjang pendidikan mengacu pada pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan Tinggi. Jalur pendidikan meliputi jalur informal, formal, dan nonformal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

GSM sebagai salah satu antisipasi meluasnya tiga dosa pendidikan tidak bisa dibebankan secara sektoral melalui jalur pendidikan formal, khususnya sekolah. Makna sekolah pun diperluas sesuai kebutuhan dan senantiasa kontekstual dengan teks regulasi yang memayungi.

Tempat penyelenggaraan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itulah sesungguhnya sekolah dan tanggungjawabnya pun pada ketiga tempat itu. Membebani GSM semata-mata pada jalur pendidikan formal dengan guru sebagai penanggung jawab, selain kurang elok, juga mengabaikan partisipasi dan kontrol di lingkungan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itu. 

Sebagai sebuah gerakan,  GSM digagas sejak 2016 oleh pasangan suami istri dosen UGM, Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra, sepulang mereka dari Australia selesai menempuh doktoral.

Di Australia, kedua pasangan ini terinspirasi oleh  ketiga buah hatinya yang sangat mencintai sekolahnya karena tiga hal: Kurikulum yang lebih bagus, lebih menyenangkan, disesuaikan dengan kelebihan setiap anak.

Pengalaman demikian juga dituturkan oleh Ratih D. Adiputri (2019) ketika menyekolahkan anaknya, Nadia (5 tahun),  di sebuah TK di Finlandia. Di sana, anak TK diperlakukan bak raja oleh guru yang menyenangkan dan menyemangati.

Mereka mendambakan Pendidikan Indonesia dengan GSM yang berfokus pada pembelajaran berbasis aktivitas, berdiferensiasi, bermakna, dan edukatif fungsional selaras dengan semangat merdeka belajar. Sekolah menjadi taman hati yang membahagiakan bagi anak dengan senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif sehingga tidak ada  anak yang fobia sekolah.

Oleh karena itu, GSM  dimulai dari perubahan pola pikir kepala sekolah, guru, orangtua, dan para pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem pendidikan yang kondusif dan positif berfokus pada pengembangan karakter siswa.

Sebagai negara yang menganut budaya paternalistik, merekalah yang seharusnya menjadi teladan bagi peserta didik untuk membudayakan nilai karakter bangsa sebagaimana dirumuskan Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas, sebelum Kurikulum 2013 diberlakukan.

Nilai-nilai karakter itu adalah religius, jujur, toleransi,disiplin, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan,peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu belakangan lebih dikenal dengan Profil Pelajar Pancasila.

Dengan mengimani nilai-nila tersebut, GSM dapat memperkuat program sekolah ramah anak yang sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 dengan mengedepankan harkat dan martabat anak untuk tumbuh dan berkembang secara positif menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, GSM juga jawaban atas Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang penanggulangan kekerasan di sekolah, dan penguat Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang penguatan karakter. Secara eksplisit  Kurikulum 2013 juga memuat Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

Namun, sejauh ini tiga dosa pendidikan  masih mengintai bahkan tindak kekerasan dilakukan oleh orang-orang dekat yang seharusnya mengayomi. Tragedi pendidikan terjadi dari masa ke masa. Walaupun  persentasenya kecil, beritanya viral menggemparkan.

Berbagai strategi diupayakan dengan regulasi yang menghabiskan biaya besar, termasuk   pelatihan bagi  guru-guru. Namun, sesaat setelah kembali ke sekolah, guru tetap biasa-biasa saja, seperti lagu Dian Piesesha: Aku Masih Seperti yang Dulu.

Apa yang keliru?

Pertama, kompleksitas masalah pendidikan di Indonesia yang dikelola oleh berbagai Departemen (Depdikbud Ristek, Depag, Depdagri, Deparekraf) dengan aturan yang berbeda.  Belum lagi, kompleksitas dengan keanekaragaman budaya, suku, bahasa dan  geografi  selaras dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Perbedaan itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi berkah inspirasi bagi kemajuan, tetapi juga  dapat menjadi musibah bila salah kelola.

Kedua, sekolah sudah lama menjadi pusat aneka aktivitas bagi kementerian di luar Kemendikbud Ristek, sehingga beban pendidik makin berat. Belum lagi  adanya regulasi yang kurang sinkron antardepartemen, misalnya aturan BOS dibuat oleh  Kemendikbud Ristek, tetapi aturan penggunaannya berdasarkan aturan Kemendagri.

Ketiga, krisis keteladanan  di segala  bidang dibebankan pada dunia Pendidikan sebagai dampak budaya paternalistik. Pemimpin di berbagai level acapkali menggunakan skala ganda dalam kepemimpinannya. Ujungnya, membingungkan peserta didik yang bermula dari tidak  satunya  pikiran, perkataan, dan perbuatan  yang memicu disharmoni.

Mencermati hal itu, GSM perlu menjadi gerakan bersama di sekolah dengan landasan cinta. Cinta tulus seorang guru dalam mendidik dan mengajar akan melahirkan kreativitas tanpa batas (creativity), berdasarkan kesungguhan dan keikhlasan (integrity), dengan selalu berpegang teguh pada aturan (norm), dilandasi pikiran positif  (think), untuk mengapresiasi (appreciation) setiap  langkah pencapaian.

Guru yang bekerja dengan  CINTA  dapat menjadi pelita dalam kegelapan mengisi  lorong-lorong gelap jiwa muda di tengah benturan peradaban global.

Dengan landasan CINTA,  level GSM  dapat ditingkatkan menjadi Gerakan Sekolah Membahagiakan (GSM). Secara semantik, tentu saja menyenangkan dan membahagiakan berkonotasi positif.

Akan tetapi, kualitas makna kedua kata itu  jelas berbeda. Kata menyenangkan itu lebih menampakkan suasana di permukaan sedangkan  membahagiakan di aras kedalaman tervibrasi keluar.

Dalam teori linguistiknya, Chomsky menyenangkan itu mencerminkan surface structure “struktur permukaan” atau arti, sedangkan membahagiakan merepresentasikan deef structure “struktur batin” atau makna. Orang yang membahagiakan itu pasti menyenangkan, tetapi yang menyenangkan itu belum tentu membahagiakan.  

Begitulah GSM mestinya dimaknai. Siswa tak ubahnya itik yang berlumpur tetapi tetap bisa menggunakan daya wiweka (memilah dan memilih) makanan yang menyehatkan di antara lumpur. Seperti juga halnya teratai yang akar dan batangnya di lumpur, tetapi bunganya mekar tanpa ternoda.

Makna itu seiring dengan tradisi Hindu Bali menggunakan itik panggang (guling bebek) sebagai sesajen  persembahan kepada  Para Dewata  dilengkapi canang dengan bunga teratai yang terkenal sebagai  bunga berkelas dan sering ditembangkan  dalam kidung-kidung suci untuk mengantarkan roh ke alam nirwana.

Begitulah  GSM  seyogyanya meningkatkan kualitas siswa menjadi guna satwam (cerdas dan bijaksana) yang disimbolkan dengan itik mengalahkan guna rajas (agresif) yang disimbolkan dengan ayam dan guna tamas (kemalasan) yang disimbolikkan dengan babi.

Satwam, rajas, tamas itu dalam tradisi Hindu disebut triguna yang memengaruhi watak manusia. Pendidikan sebagai usaha sadar seharusnya terus-menerus mengusahakan terwujudnya guna satwam bagi peserta didik dengan membumikan GSM sehingga kasmaran belajar hingga kasmaran berbangsa (meminjam istilah Pranoto) dengan semangat belajar sepanjang hayat.[T]

“Sembari”, Sekolah Berbasis Riset dan Inovasi
Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak
Rumahku Sekolahku
Tags: Pendidikanpendidikan merdekasekolahSekolah Ramah Anak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Next Post

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co