4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 4, 2023
in Esai
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 

Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

GERAKAN SEKOLAH MENYENANGKAN (GSM) adalah salah satu strategi untuk meminimalisasi tiga dosa pendidikan sebagaimana dikhawatirkan Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim. Pada suatu kesempatan, Mas Menteri mengingatkan tiga dosa Pendidikan Indonesia: perundungan (bullying), radikalisme (kekerasan), dan intoleransi. Ketiga dosa ini perlu dicarikan solusinya melalui jenis, jalur, dan jenjang  pendidikan secara bersama.

Menurut UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, jenis pendidikan mengacu pada pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Jenjang pendidikan mengacu pada pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan Tinggi. Jalur pendidikan meliputi jalur informal, formal, dan nonformal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

GSM sebagai salah satu antisipasi meluasnya tiga dosa pendidikan tidak bisa dibebankan secara sektoral melalui jalur pendidikan formal, khususnya sekolah. Makna sekolah pun diperluas sesuai kebutuhan dan senantiasa kontekstual dengan teks regulasi yang memayungi.

Tempat penyelenggaraan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itulah sesungguhnya sekolah dan tanggungjawabnya pun pada ketiga tempat itu. Membebani GSM semata-mata pada jalur pendidikan formal dengan guru sebagai penanggung jawab, selain kurang elok, juga mengabaikan partisipasi dan kontrol di lingkungan jenis, jalur, dan jenjang pendidikan itu. 

Sebagai sebuah gerakan,  GSM digagas sejak 2016 oleh pasangan suami istri dosen UGM, Muhammad Nur Rizal dan Novi Poespita Candra, sepulang mereka dari Australia selesai menempuh doktoral.

Di Australia, kedua pasangan ini terinspirasi oleh  ketiga buah hatinya yang sangat mencintai sekolahnya karena tiga hal: Kurikulum yang lebih bagus, lebih menyenangkan, disesuaikan dengan kelebihan setiap anak.

Pengalaman demikian juga dituturkan oleh Ratih D. Adiputri (2019) ketika menyekolahkan anaknya, Nadia (5 tahun),  di sebuah TK di Finlandia. Di sana, anak TK diperlakukan bak raja oleh guru yang menyenangkan dan menyemangati.

Mereka mendambakan Pendidikan Indonesia dengan GSM yang berfokus pada pembelajaran berbasis aktivitas, berdiferensiasi, bermakna, dan edukatif fungsional selaras dengan semangat merdeka belajar. Sekolah menjadi taman hati yang membahagiakan bagi anak dengan senantiasa mengembangkan pikiran-pikiran positif sehingga tidak ada  anak yang fobia sekolah.

Oleh karena itu, GSM  dimulai dari perubahan pola pikir kepala sekolah, guru, orangtua, dan para pemangku kebijakan untuk membangun ekosistem pendidikan yang kondusif dan positif berfokus pada pengembangan karakter siswa.

Sebagai negara yang menganut budaya paternalistik, merekalah yang seharusnya menjadi teladan bagi peserta didik untuk membudayakan nilai karakter bangsa sebagaimana dirumuskan Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas, sebelum Kurikulum 2013 diberlakukan.

Nilai-nilai karakter itu adalah religius, jujur, toleransi,disiplin, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, cinta damai, peduli lingkungan,peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai itu belakangan lebih dikenal dengan Profil Pelajar Pancasila.

Dengan mengimani nilai-nila tersebut, GSM dapat memperkuat program sekolah ramah anak yang sudah diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2002 dengan mengedepankan harkat dan martabat anak untuk tumbuh dan berkembang secara positif menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Selain itu, GSM juga jawaban atas Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang penanggulangan kekerasan di sekolah, dan penguat Permendikbud Nomor 20 Tahun 2018 tentang penguatan karakter. Secara eksplisit  Kurikulum 2013 juga memuat Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.

Namun, sejauh ini tiga dosa pendidikan  masih mengintai bahkan tindak kekerasan dilakukan oleh orang-orang dekat yang seharusnya mengayomi. Tragedi pendidikan terjadi dari masa ke masa. Walaupun  persentasenya kecil, beritanya viral menggemparkan.

Berbagai strategi diupayakan dengan regulasi yang menghabiskan biaya besar, termasuk   pelatihan bagi  guru-guru. Namun, sesaat setelah kembali ke sekolah, guru tetap biasa-biasa saja, seperti lagu Dian Piesesha: Aku Masih Seperti yang Dulu.

Apa yang keliru?

Pertama, kompleksitas masalah pendidikan di Indonesia yang dikelola oleh berbagai Departemen (Depdikbud Ristek, Depag, Depdagri, Deparekraf) dengan aturan yang berbeda.  Belum lagi, kompleksitas dengan keanekaragaman budaya, suku, bahasa dan  geografi  selaras dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Perbedaan itu seperti pisau bermata dua, bisa menjadi berkah inspirasi bagi kemajuan, tetapi juga  dapat menjadi musibah bila salah kelola.

Kedua, sekolah sudah lama menjadi pusat aneka aktivitas bagi kementerian di luar Kemendikbud Ristek, sehingga beban pendidik makin berat. Belum lagi  adanya regulasi yang kurang sinkron antardepartemen, misalnya aturan BOS dibuat oleh  Kemendikbud Ristek, tetapi aturan penggunaannya berdasarkan aturan Kemendagri.

Ketiga, krisis keteladanan  di segala  bidang dibebankan pada dunia Pendidikan sebagai dampak budaya paternalistik. Pemimpin di berbagai level acapkali menggunakan skala ganda dalam kepemimpinannya. Ujungnya, membingungkan peserta didik yang bermula dari tidak  satunya  pikiran, perkataan, dan perbuatan  yang memicu disharmoni.

Mencermati hal itu, GSM perlu menjadi gerakan bersama di sekolah dengan landasan cinta. Cinta tulus seorang guru dalam mendidik dan mengajar akan melahirkan kreativitas tanpa batas (creativity), berdasarkan kesungguhan dan keikhlasan (integrity), dengan selalu berpegang teguh pada aturan (norm), dilandasi pikiran positif  (think), untuk mengapresiasi (appreciation) setiap  langkah pencapaian.

Guru yang bekerja dengan  CINTA  dapat menjadi pelita dalam kegelapan mengisi  lorong-lorong gelap jiwa muda di tengah benturan peradaban global.

Dengan landasan CINTA,  level GSM  dapat ditingkatkan menjadi Gerakan Sekolah Membahagiakan (GSM). Secara semantik, tentu saja menyenangkan dan membahagiakan berkonotasi positif.

Akan tetapi, kualitas makna kedua kata itu  jelas berbeda. Kata menyenangkan itu lebih menampakkan suasana di permukaan sedangkan  membahagiakan di aras kedalaman tervibrasi keluar.

Dalam teori linguistiknya, Chomsky menyenangkan itu mencerminkan surface structure “struktur permukaan” atau arti, sedangkan membahagiakan merepresentasikan deef structure “struktur batin” atau makna. Orang yang membahagiakan itu pasti menyenangkan, tetapi yang menyenangkan itu belum tentu membahagiakan.  

Begitulah GSM mestinya dimaknai. Siswa tak ubahnya itik yang berlumpur tetapi tetap bisa menggunakan daya wiweka (memilah dan memilih) makanan yang menyehatkan di antara lumpur. Seperti juga halnya teratai yang akar dan batangnya di lumpur, tetapi bunganya mekar tanpa ternoda.

Makna itu seiring dengan tradisi Hindu Bali menggunakan itik panggang (guling bebek) sebagai sesajen  persembahan kepada  Para Dewata  dilengkapi canang dengan bunga teratai yang terkenal sebagai  bunga berkelas dan sering ditembangkan  dalam kidung-kidung suci untuk mengantarkan roh ke alam nirwana.

Begitulah  GSM  seyogyanya meningkatkan kualitas siswa menjadi guna satwam (cerdas dan bijaksana) yang disimbolkan dengan itik mengalahkan guna rajas (agresif) yang disimbolkan dengan ayam dan guna tamas (kemalasan) yang disimbolikkan dengan babi.

Satwam, rajas, tamas itu dalam tradisi Hindu disebut triguna yang memengaruhi watak manusia. Pendidikan sebagai usaha sadar seharusnya terus-menerus mengusahakan terwujudnya guna satwam bagi peserta didik dengan membumikan GSM sehingga kasmaran belajar hingga kasmaran berbangsa (meminjam istilah Pranoto) dengan semangat belajar sepanjang hayat.[T]

“Sembari”, Sekolah Berbasis Riset dan Inovasi
Beramah Tamah dengan Sekolah Ramah Anak
Rumahku Sekolahku
Tags: Pendidikanpendidikan merdekasekolahSekolah Ramah Anak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan 81 Tahun Penyair Pelukis Frans Nadjira: Meriah dengan Diskusi dan Baca Puisi

Next Post

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails
Next Post
Kepopuleran Pengundang Leak Dalam Wayang Calonarang

Keajaiban Dalang Wayang Bali : Keterampilan Yang Tersembunyi dan Multidimensional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co