2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
September 24, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru

“Guru yang hebat tentu akan menghasilkan menghasilkan lulusan yang hebat”. Begitulah statemen sebuah jargon yang begitu sering terdengar dan membuat hati yang terdalam merasa tersentuh. Mencermati jargon itu, seolah nasib dan tanggung jawab terhadap pendidikan begitu berat harus ditanggung oleh para guru. Senada dengan hal itu, pakar pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Bali, Prof. Dantes, dalam suatu kesempatan workshop di Undiksha, Singaraja, pernah mengatakan,

“…Jauh lebih bagus guru yang baik ketimbang kurikulum yang baik. Karena, guru yang baik bisa menjadikan kurikulum yang kurang baik menjadi baik.”

Mengapa Pemerintah lewat Kemdikbud begitu runyam mengubah kurikulum? Rasa-rasanya benar statement ganti pemerintahan, ganti menteri, dan ganti kebijakan, ganti kurikulum. Atau betulkah ganti kurikulum untuk sebuah tuntutan zaman? Statemen seperti itu ada pembenarannya. Secara tak sadar, cara itu menjadikan kebijakan di bidang pendidikan hanya sepotong dan bukan menyentuh secara menyeluruh.

Kurikulum memang sangat urgen dalam sistem pendidikan. Pada konteks ini, mesti direnungkan secara mendalam statemen Prof Dantes itu. Prof Dantes selaku pakar pendidikan ingin menegaskan bahwa kualitas guru jauh lebih penting ketimbang bongkar pasang kurikulum.

Akan tetapi dalam konteks kekinian, masalah perubahan kurikulum adalah salah satu wacana paling strategis yang mampu dijangkau oleh pembaharuan pendidikan. Realitanya, sering perubahan kurikulum tidak diikuti oleh meningkatnya mutu guru dalam sebuah sistem pendidikan. Lantas apa yang terjadi? Kebijakan sering timpang dan hanya euphoria indah nan panjang secara beramai-ramai di ruang ruang-ruang publik pendidikan.

Habis kurikulum 1994, diterapkan KBK (2004). KBK pun harus pupus belum cukup seumur jagung, diganti dengan peluncuran KTSP. KTSP juga dirasa tidak terlalu ideal dan harus disubsitusi dengan “wajah” yang lebih baru: Kurikulum 2013. Tentu dibalik keunggulan yang ditawarkan oleh kurikulum 2013 pasti ada sisi kelemahannya. Kurtilas (kurikulum 2013) pun kini mesti kandas di tangan kurikulum merdeka. Inilah yang sering disebut rwa bhineda dalam masyarakat Bali. Tidak ada kelebihan tanpa kekurangan. Begitu juga sebaliknya.

Dua sisi ini nampaknya juga mesti ada dalam kurikulum baru, kurikulum merdeka dengan segenap pembaharuan yang ditawarkan. Salah satunya adalah muatan profil pelajar Pancasila dengan pembelajaran projeknya. Apabila sisi ini menjadi daya tawar dan pembeda dari kurikulum sebelumnya, itu artinya nasib kurikulum merdeka ini benar-benar ada di tangan guru selaku penggerak roda pendidikan benar-benar dapat diimplementasikan dan ada aksi nyata bagi peserta didik secara berkesinambungan. Bukan kinerja yang sederhana. Akan tetapi ini adalah komplek dan luar biasa.

Esensi setiap ditawarkannya kurikulum baru (kurikulum merdeka) adalah perubahan ke arah yang lebih baik, dengan harapan peningkatan mutu pendidikan, untuk pencerdasan anak bangsa. Pada tataran kebijakan, karena yang bekerja adalah para pakar pendidikan, birokrat, pemikir, praktisi pendidikan, sehingga ide tentang peningkatan kualitas pendidikan yang harus diaplikasikan lewat kurikulum “baru” dan harus sampai ke tangan guru-guru, tentu akan ada dijumpai sikap-sikap apriori.

Sepotong Catatan untuk Pendidikan Indonesia | Sebuah Refleksi Hari Pendidikan, 2 Mei 2022

Sudah menjadi budaya yang bersifat sistemik guru-guru menanggapinya dengan style pesimis akibat perubahan itu. Mereka sangat sulit berubah. Mereka tak menganut karakter evolusi. Bagi sebagian guru, perubahan adalah beban berat, karena mereka harus belajar, dan menyesuaikan diri lagi dengan kondisi yang baru.

Perubahan kurikulum memang perlu dilakukan. Perubahan atau revisi kurikulum yang akan diimplementasikan, kini tak tagi mengusung kata serentak di seluruh Indonesia, tetapi sekolahboleh memilih antara kata mau atau tidak. Namun, bagi satuan pendidikan yang sangat antusias dengan perubahan, bahkan sebelumnya kurikulu ini lounching, sudah mendahului menerapkan kurikulum merdeka di beberapa sekolah. Sehingga sekolah itu bisa dijadikan rujukan percontohan di beberapa daerah dan juga diujipublikkan dan ini bukanlah hal yang aneh atau mengada-ada.

Kendala/masalah terbesar jika kurikulum diubah atau direvisi dan harus diimplementasikan di sekolah, di ruang-ruang kelas, oleh guru ketika “harus” dijalankan. Guru selalu merasa tidak siap melakukan sesuatu yang baru dalam kinerja mereka. Selama ini guru-guru telah dijangkiti sifat-sifat “keinstanan”. Kemapanan secara finansial yang telah jadi tujuan, sangat sulit ditinggalkan.

Karena itu, guru-guru tidak mau ambil pusing dan ribet dengan perubahan kurikulum. Pada konteks ini, keterbukaan pandangan untuk mengubah paradigma dan cara kerja yang selama ini dianut, karena sudah basi, usang, lama, dan tak cocok dengan perkembangan tuntutan hidup sangat kecil. Guru bisa dikatakan “sombang” karena mereka merasa telah usai belajar. Berhenti mencari dan memberi informasi yang terbaru untuk peserta didiknya.

Perubahan kurikulum (implementasi kurikulum merdeka/IKM) perlu dilakukan dengan syarat harus didukung oleh kesanggupan, kesiapan, dan kesungguhan guru untuk mengoperasionalkannya. Jika tidak, maka perubahan itu hanya akan menjadikan pendidikan Cheos. Pendidikan kita hanya akan menghasilkan air mata kepedihan penuh beban, seperti yang pernah disampaikan oleh Shindunata dalam majalah Basis (2000). Guru-guru pada ribut, bingung dan akhirnya kembali kepada apa yang enak dan nyaman.

Guru mengeluhkan dan kebingungan setiap ide sehubungan dengan pembaharuan pendidikan. Ketika guru merasa apriori, apatis, dan pesimis atau hati mereka menolak, kondisi seperti itu lantas akan dimanfaatkan oleh virus LKS, yang disebarkan oleh penerbit-penerbit swasta. Bukan bahan ajar berstandar dari BNSP yang menakar dan menjamin mutu sesuai tuntutan kurikulum yang terkini. Jadi, seperti apa tuntutan LKS, itulah yang dikerjakan di kelas. Lalu di mana idealisme kurikulum merdeka pada konteks ini?

Pendidikan dan Medan Pertarungan Politik

Jika dikaji secara mendalam, sesungguhnya ikhtiar guru adalah ikhtiar yang selalu membelajarkan diri, memotivasi diri yang esensinya merupakan tuntutan profesi dan karier. Karena menurut Fuad Hasan (mantan Mendikbud, era 1990-an), “Pendidikan yang baik tidak memerlukan guru terlalu pintar, tetapi yang diperlukan hanya idealisme guru yang mampu menggerakkan ‘generator’ pemikiran para siswanya.”

Kini tahun ajaran baru 2022/2023, kurikulum merdekan siap diimplementasikan sebagai langkah pembenahan pendidikan. Bagaimanakah para guru meresponnya? Menyitir statemen ucapan yang disampaikan oleh pakar pendidikan, Prof Dantes seperti yang dipaparkan diawal tulisan ini, kini yang paling urgen, yang mesti dilakukan pemerintah adalah, pertama, tetap pada membina idealisme etos kerja, membangun motivasi guru.

Konsep ini mesti ditekankan dan dicanangkan untuk menerapkan kurikulum merdeka. Kurikulum apapun baiknya, sangat bergantung pada ikhtiar guru itu sendiri. Seperti halnya instrument musik, akan bisa dinikmati dengan merdu dan indah jika dimainkan oleh pemusik yang baik dan profesional. Demikian pula kiranya hubungan antara kurikulum dan guru.

Kedua, guru dan pemerintah mesti saling bergandengan tangan. Jangan ada anggapan guru adalah “buruh” dan pemerintah adalah “majikan”. Jangan ada perdebatan, ketidakcocokan, atau silang pendapat pemerintah dengan guru. Hal ini sering terjadi jika ada perubahan pendidikan (kurikulum). Guru-guru hanya menjadi objek dan tak mengerti maksud pemerintah.

Realita selama ini, pemerintah sering “ mengambinghitamkan” sekolah lewat guru-gurunya. Cara ini perlu diminimalisir. Jangan menyalahkan sekolah/guru. Di sini perlu dan pentingnya sinergi yang harmonis antara guru dan pengambil kebijakan. Dengan begitu, setiap kebijakan perubahan kurikulum akan mencapai tujuannya. Mimpi indah kita adalah diimplementasikannya kurikulum merdeka akan menjadi inspirasi baru dan diikuti perubahan ke arah yang lebih baik di tengah persoalan bangsa. [T]

Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Komang Adi Pranata: Menari Tak Harus Rumit, Kesederhanaan Bisa Pula Membentuk Keindahan

Next Post

Rumah Belajar Gebang di Desa Tembok: Literasi Anak-anak dari Buleleng Timur

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Rumah Belajar Gebang di Desa Tembok: Literasi Anak-anak dari Buleleng Timur

Rumah Belajar Gebang di Desa Tembok: Literasi Anak-anak dari Buleleng Timur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co