22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
September 24, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru

“Guru yang hebat tentu akan menghasilkan menghasilkan lulusan yang hebat”. Begitulah statemen sebuah jargon yang begitu sering terdengar dan membuat hati yang terdalam merasa tersentuh. Mencermati jargon itu, seolah nasib dan tanggung jawab terhadap pendidikan begitu berat harus ditanggung oleh para guru. Senada dengan hal itu, pakar pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Bali, Prof. Dantes, dalam suatu kesempatan workshop di Undiksha, Singaraja, pernah mengatakan,

“…Jauh lebih bagus guru yang baik ketimbang kurikulum yang baik. Karena, guru yang baik bisa menjadikan kurikulum yang kurang baik menjadi baik.”

Mengapa Pemerintah lewat Kemdikbud begitu runyam mengubah kurikulum? Rasa-rasanya benar statement ganti pemerintahan, ganti menteri, dan ganti kebijakan, ganti kurikulum. Atau betulkah ganti kurikulum untuk sebuah tuntutan zaman? Statemen seperti itu ada pembenarannya. Secara tak sadar, cara itu menjadikan kebijakan di bidang pendidikan hanya sepotong dan bukan menyentuh secara menyeluruh.

Kurikulum memang sangat urgen dalam sistem pendidikan. Pada konteks ini, mesti direnungkan secara mendalam statemen Prof Dantes itu. Prof Dantes selaku pakar pendidikan ingin menegaskan bahwa kualitas guru jauh lebih penting ketimbang bongkar pasang kurikulum.

Akan tetapi dalam konteks kekinian, masalah perubahan kurikulum adalah salah satu wacana paling strategis yang mampu dijangkau oleh pembaharuan pendidikan. Realitanya, sering perubahan kurikulum tidak diikuti oleh meningkatnya mutu guru dalam sebuah sistem pendidikan. Lantas apa yang terjadi? Kebijakan sering timpang dan hanya euphoria indah nan panjang secara beramai-ramai di ruang ruang-ruang publik pendidikan.

Habis kurikulum 1994, diterapkan KBK (2004). KBK pun harus pupus belum cukup seumur jagung, diganti dengan peluncuran KTSP. KTSP juga dirasa tidak terlalu ideal dan harus disubsitusi dengan “wajah” yang lebih baru: Kurikulum 2013. Tentu dibalik keunggulan yang ditawarkan oleh kurikulum 2013 pasti ada sisi kelemahannya. Kurtilas (kurikulum 2013) pun kini mesti kandas di tangan kurikulum merdeka. Inilah yang sering disebut rwa bhineda dalam masyarakat Bali. Tidak ada kelebihan tanpa kekurangan. Begitu juga sebaliknya.

Dua sisi ini nampaknya juga mesti ada dalam kurikulum baru, kurikulum merdeka dengan segenap pembaharuan yang ditawarkan. Salah satunya adalah muatan profil pelajar Pancasila dengan pembelajaran projeknya. Apabila sisi ini menjadi daya tawar dan pembeda dari kurikulum sebelumnya, itu artinya nasib kurikulum merdeka ini benar-benar ada di tangan guru selaku penggerak roda pendidikan benar-benar dapat diimplementasikan dan ada aksi nyata bagi peserta didik secara berkesinambungan. Bukan kinerja yang sederhana. Akan tetapi ini adalah komplek dan luar biasa.

Esensi setiap ditawarkannya kurikulum baru (kurikulum merdeka) adalah perubahan ke arah yang lebih baik, dengan harapan peningkatan mutu pendidikan, untuk pencerdasan anak bangsa. Pada tataran kebijakan, karena yang bekerja adalah para pakar pendidikan, birokrat, pemikir, praktisi pendidikan, sehingga ide tentang peningkatan kualitas pendidikan yang harus diaplikasikan lewat kurikulum “baru” dan harus sampai ke tangan guru-guru, tentu akan ada dijumpai sikap-sikap apriori.

Sepotong Catatan untuk Pendidikan Indonesia | Sebuah Refleksi Hari Pendidikan, 2 Mei 2022

Sudah menjadi budaya yang bersifat sistemik guru-guru menanggapinya dengan style pesimis akibat perubahan itu. Mereka sangat sulit berubah. Mereka tak menganut karakter evolusi. Bagi sebagian guru, perubahan adalah beban berat, karena mereka harus belajar, dan menyesuaikan diri lagi dengan kondisi yang baru.

Perubahan kurikulum memang perlu dilakukan. Perubahan atau revisi kurikulum yang akan diimplementasikan, kini tak tagi mengusung kata serentak di seluruh Indonesia, tetapi sekolahboleh memilih antara kata mau atau tidak. Namun, bagi satuan pendidikan yang sangat antusias dengan perubahan, bahkan sebelumnya kurikulu ini lounching, sudah mendahului menerapkan kurikulum merdeka di beberapa sekolah. Sehingga sekolah itu bisa dijadikan rujukan percontohan di beberapa daerah dan juga diujipublikkan dan ini bukanlah hal yang aneh atau mengada-ada.

Kendala/masalah terbesar jika kurikulum diubah atau direvisi dan harus diimplementasikan di sekolah, di ruang-ruang kelas, oleh guru ketika “harus” dijalankan. Guru selalu merasa tidak siap melakukan sesuatu yang baru dalam kinerja mereka. Selama ini guru-guru telah dijangkiti sifat-sifat “keinstanan”. Kemapanan secara finansial yang telah jadi tujuan, sangat sulit ditinggalkan.

Karena itu, guru-guru tidak mau ambil pusing dan ribet dengan perubahan kurikulum. Pada konteks ini, keterbukaan pandangan untuk mengubah paradigma dan cara kerja yang selama ini dianut, karena sudah basi, usang, lama, dan tak cocok dengan perkembangan tuntutan hidup sangat kecil. Guru bisa dikatakan “sombang” karena mereka merasa telah usai belajar. Berhenti mencari dan memberi informasi yang terbaru untuk peserta didiknya.

Perubahan kurikulum (implementasi kurikulum merdeka/IKM) perlu dilakukan dengan syarat harus didukung oleh kesanggupan, kesiapan, dan kesungguhan guru untuk mengoperasionalkannya. Jika tidak, maka perubahan itu hanya akan menjadikan pendidikan Cheos. Pendidikan kita hanya akan menghasilkan air mata kepedihan penuh beban, seperti yang pernah disampaikan oleh Shindunata dalam majalah Basis (2000). Guru-guru pada ribut, bingung dan akhirnya kembali kepada apa yang enak dan nyaman.

Guru mengeluhkan dan kebingungan setiap ide sehubungan dengan pembaharuan pendidikan. Ketika guru merasa apriori, apatis, dan pesimis atau hati mereka menolak, kondisi seperti itu lantas akan dimanfaatkan oleh virus LKS, yang disebarkan oleh penerbit-penerbit swasta. Bukan bahan ajar berstandar dari BNSP yang menakar dan menjamin mutu sesuai tuntutan kurikulum yang terkini. Jadi, seperti apa tuntutan LKS, itulah yang dikerjakan di kelas. Lalu di mana idealisme kurikulum merdeka pada konteks ini?

Pendidikan dan Medan Pertarungan Politik

Jika dikaji secara mendalam, sesungguhnya ikhtiar guru adalah ikhtiar yang selalu membelajarkan diri, memotivasi diri yang esensinya merupakan tuntutan profesi dan karier. Karena menurut Fuad Hasan (mantan Mendikbud, era 1990-an), “Pendidikan yang baik tidak memerlukan guru terlalu pintar, tetapi yang diperlukan hanya idealisme guru yang mampu menggerakkan ‘generator’ pemikiran para siswanya.”

Kini tahun ajaran baru 2022/2023, kurikulum merdekan siap diimplementasikan sebagai langkah pembenahan pendidikan. Bagaimanakah para guru meresponnya? Menyitir statemen ucapan yang disampaikan oleh pakar pendidikan, Prof Dantes seperti yang dipaparkan diawal tulisan ini, kini yang paling urgen, yang mesti dilakukan pemerintah adalah, pertama, tetap pada membina idealisme etos kerja, membangun motivasi guru.

Konsep ini mesti ditekankan dan dicanangkan untuk menerapkan kurikulum merdeka. Kurikulum apapun baiknya, sangat bergantung pada ikhtiar guru itu sendiri. Seperti halnya instrument musik, akan bisa dinikmati dengan merdu dan indah jika dimainkan oleh pemusik yang baik dan profesional. Demikian pula kiranya hubungan antara kurikulum dan guru.

Kedua, guru dan pemerintah mesti saling bergandengan tangan. Jangan ada anggapan guru adalah “buruh” dan pemerintah adalah “majikan”. Jangan ada perdebatan, ketidakcocokan, atau silang pendapat pemerintah dengan guru. Hal ini sering terjadi jika ada perubahan pendidikan (kurikulum). Guru-guru hanya menjadi objek dan tak mengerti maksud pemerintah.

Realita selama ini, pemerintah sering “ mengambinghitamkan” sekolah lewat guru-gurunya. Cara ini perlu diminimalisir. Jangan menyalahkan sekolah/guru. Di sini perlu dan pentingnya sinergi yang harmonis antara guru dan pengambil kebijakan. Dengan begitu, setiap kebijakan perubahan kurikulum akan mencapai tujuannya. Mimpi indah kita adalah diimplementasikannya kurikulum merdeka akan menjadi inspirasi baru dan diikuti perubahan ke arah yang lebih baik di tengah persoalan bangsa. [T]

Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

I Komang Adi Pranata: Menari Tak Harus Rumit, Kesederhanaan Bisa Pula Membentuk Keindahan

Next Post

Rumah Belajar Gebang di Desa Tembok: Literasi Anak-anak dari Buleleng Timur

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Rumah Belajar Gebang di Desa Tembok: Literasi Anak-anak dari Buleleng Timur

Rumah Belajar Gebang di Desa Tembok: Literasi Anak-anak dari Buleleng Timur

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co