22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Komang Adi Pranata: Menari Tak Harus Rumit, Kesederhanaan Bisa Pula Membentuk Keindahan

Rastiti Era by Rastiti Era
September 7, 2022
in Persona
I Komang Adi Pranata: Menari Tak Harus Rumit, Kesederhanaan Bisa Pula Membentuk Keindahan

Kegemaran bisa datang dari mana saja, lingkungan salah satunya. Bahkan mungkin saja kegemaran itu berawal dari sesuatu yang terlihat menyebalkan. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja dan pada hal apa saja, salah satunya di dunia seni tari. Menari tak hanya membutuhkan kelenturan tubuh, namun banyak aspek yang bisa membuat seseorang pandai menari seperti fokus, stamina, ketangkasan, dan masih banyak lagi.

Terlahir di lingkungan seniman membuat I Komang Adi Pranata, salah satu peserta Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022 terjun ke dunia seni tari sejak kecil. Walaupun sempat kabur dari sanggar, Komang Adi tetap kembali ke sana. Banyak hal menarik dari Komang Adi yang bisa dieksplorasi dan dipelajari oleh penari dan pelaku seni.

Komang Adi Pranata (selanjutnya akan ditulis Mang Adi) terlahir di keluarga yang berkecimpung di bidang seni, khususnya sang ayah yang berprofesi sebagai penari topeng. Masa kecilnya dihabiskan seperti anak laki-laki pada umumnya yang suka bermain, dan ia mengakui bahwa ia adalah anak bandel. Pada saat itu, dia diarahkan ke sanggar layaknya anak seumurannya yang sudah mulai belajar berkesenian.

Hal ini terkait dengan desa kelahirannya, yaitu Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar, yang sudah terkenal akan seniman dan karya seninya yang bahkan mendunia. Kebandelan itu tak hilang bahkan semakin menjadi saat dia sempat kabur dari sanggar dan tidak ingin melanjutkan proses berkeseniannya. Namun, setelah kejadian itu, Mang Adi merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya, yang membuatnya kembali ke sanggar dan bertemu teman-teman baru. Akhirnya, ia pun mantap mengambil jurusan seni saat kuliah di tingkat S1 dan S2 di ISI (Institur Seni Indonesia) Denpasar, Bali.

Komang Adi Pranata dalam presentasi workshop tari Kecak di Teges Kanginan

Tak hanya menekuni seni di kuliah secara formal, Mang Adi juga membentuk komunitas bernama Manubada Art Community bersama teman-temannya semasa kuliah yang tetap aktif berkesenian. Manubada Art Community telah menghasilkan berbagai garapan tari yang telah dipentaskan baik di Bali maupun luar Bali.

Tak hanya itu, Mang Adi juga aktif sebagai penari sekaligus koreografer untuk berbagai garapan tari. Hal ini tak lepas dari peran mendiang Bapak I Nyoman Sura, salah satu dosen ISI Denpasar yang menginspirasi Mang Adi untuk membuat garapan tari yang sederhana namun memberikan kesan yang kuat. Ini terlihat pula dari garapan tari Mang Adi yang tak banyak menggunakan properti namun menghasilkan gerakan-gerakan karismatik dari bagian tubuh seperti kepala, tangan, badan, sampai kaki seperti pada karya “Lampah” yang ia tampilkan pada tanggal 23 Juli 2022 dalam acara Temu Seni Tari Indonesia Bertutur 2022 yang diadakan oleh Kemendikbudristek melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan.

“Lampah” oleh Komang Adi Pranata dalam presentasi pertunjukan di Mandala Wisata, Bedulu

Setiap garapan tari yang dihasilkan oleh Mang Adi tak luput dari proses panjang sebelum garapan itu bisa dipentaskan. Sebelum mulai menggarap tarian, Mang Adi terbiasa melakukan riset atau observasi, baik mencari informasi melalui internet maupun terjun langsung ke lapangan. Terjun langsung ke lapangan menjadi hal yang menarik bagi Mang Adi mengingat ia bisa secara langsung berbaur dengan penduduk lokal serta berdiskusi terkait tarian yang akan digarap.

Dalam proses penggarapan tari ini, tak lupa Mang Adi selalu berpatokan dengan hari-hari baik menurut kepercayaan Hindu Bali seperti Purnama, Tilem, dan Kajeng Kliwon dibarengi dengan menghaturkan pejati dan sembahyang bersama. Proses ini adalah salah satu bagian penting dari proses penciptaan tari agar bisa berjalan lancar.

  • Baca artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Proses kreatif Mang Adi sebagai penari sekaligus koreografer tak luput dari masa-masa sulit seperti Pandemi Covid-19 yang telah menyebar sejak 2020 di Indonesia, khususnya Bali. Masa-masa sebelum pandemi adalah masa-masa serba cepat di mana semuanya tampak normal sampai akhirnya semua harus tinggal di rumah dan menghentikan kegiatan luar ruangan secara tiba-tiba.

    Masa-masa ini juga membuat beberapa pementasan Mang Adi gagal terselenggara sehingga mengganggu proses berkeseniannya. Namun begitu, Mang Adi mengungkapkan bahwa masa pandemi adalah masa di mana ia diberikan waktu untuk berhenti dan berpikir sejenak tentang apa yang telah ia lakukan dan apa yang akan ia lakukan untuk bertahan di masa yang sulit ini. Ia pun mulai menyebarkan proposal untuk garapan tarinya dan berhasil melewati pandemi dengan tetap berkesenian bersama komunitasnya.

    Komang Adi Pranata (tengah) dalam pertunjukan berjudul “Rooted”

    Terkait dengan lama waktu pembuatan garapan tari, Mang Adi mengatakan bahwa lama waktunya bergantung pada jenis garapan dan durasinya. Umumnya garapan tari berupa pesanan bisa diselesaikan dalam waktu beberapa bulan dan garapan untuk acara dan kepentingan pribadi bisa membutuhkan waktu kurang lebih 1-2 tahun. Hal ini tak lepas dari proses di mana ia mendapatkan banyak pelajaran dan hal-hal baru yang bisa membuat karyanya semakin bagus dari waktu ke waktu.

    Proses ini tentunya tak semua berjalan lancar, pasti ada luka dan masalah yang terjadi. Namun begitu, Mang Adi tetap konsisten berkarya karena ia bahagia dan menyukai apa yang ia kerjakan. Hal ini juga membuatnya tak cepat puas dengan karya yang telah ia hasilkan. Ia akan tetap mementaskannya saat dirasa ada yang kurang dan selalu menyerap energi baru untuk garapan-garapan tari di masa yang akan datang.[T]

  • Baca artikel lain tentang Temu Seni Tari Indonesia Bertutur
  • Tags: Indonesia Bertuturseni tariTemu Seni Tari
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    “Cobaan”

    Next Post

    Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru

    Rastiti Era

    Rastiti Era

    Biasa dipanggil Era, adalah penikmat teh, kopi, susu, dan buku. Mengulas buku melalui Podcast Sahabat Buku. Kini tercatat sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Undiksha. Punya hobi unik: berteman dengan siapa saja. Silakan hubungi di Instagram @rastiti_era.

    Related Posts

    Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

    by Made Adnyana Ole
    October 17, 2026
    0
    Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

    APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

    Read moreDetails

    Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

    by Wayan Jengki Sunarta
    October 9, 2026
    0
    Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

    APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

    Read moreDetails

    Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

    by Yohana Purnama Fajar
    September 2, 2026
    0
    Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

    “Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

    Read moreDetails

    Rumah Kata di Jalan Nangka

    by Angga Wijaya
    July 9, 2026
    0
    Rumah Kata di Jalan Nangka

    SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

    Read moreDetails

    Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

    by Jaswanto
    June 24, 2026
    0
    Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

    GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

    Read moreDetails

    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    by Dede Putra Wiguna
    June 2, 2026
    0
    Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

    SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

    Read moreDetails

    Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

    by Dede Putra Wiguna
    May 30, 2026
    0
    Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

    TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

    Read moreDetails

    Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

    by I Gede Made Surya Darma
    May 22, 2026
    0
    Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

    Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

    Read moreDetails

    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    by Nyoman Budarsana
    May 20, 2026
    0
    Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

    CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

    Read moreDetails

    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    by Dede Putra Wiguna
    May 4, 2026
    0
    Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

    DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

    Read moreDetails
    Next Post
    Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru

    Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
    Esai

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

    by I Ketut Suar Adnyana
    October 22, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

    Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

    by Tri Nugroho Adi
    October 22, 2026
    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
    Panggung

    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

    DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

    by Nyoman Budarsana
    October 22, 2026
    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
    Esai

    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

    by I Wayan Artika
    October 21, 2026
    Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
    Opini

    Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

    SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

    by I Made Pria Dharsana
    October 21, 2026
    Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
    Pendidikan

    Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

    ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

    by Nyoman Budarsana
    October 21, 2026
    Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
    Pariwisata

    Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

    DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

    by Nyoman Budarsana
    October 21, 2026
    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
    Ulas Buku

    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

    SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

    by Hartanto
    October 21, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

    DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

    by Chusmeru
    October 21, 2026
    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
    Esai

    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

    SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

    by Angga Wijaya
    October 20, 2026
    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
    Esai

    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

    BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

    by Luh Putu Anggreny
    October 20, 2026
    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
    Esai

    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

    Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

    by Wayan Gde Yudane
    October 19, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co