22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan dan Medan Pertarungan Politik

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
May 27, 2022
in Esai
Pendidikan dan Medan Pertarungan Politik

MUNGKIN judul esai ini terkesan berlebihan. Tapi demikianlah kenyataannya. Lihat saja apa yang terjadi di Sekolah Bali Mandara warisan Gubernur Made Mangku Pastika.

Sekolah yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin ini statusnya akan diubah menjadi sekolah reguler, sebagaimana SMA/SMK negeri yang lain di Bali. Banyak pertimbangannya, selain menyedot anggaran yang besar, analisa perbandingan persentase lulusan di PTN, dan capaian prestasi lulusan yang dianggap tidak jauh berbeda dengan SMA dan SMK lainnya.

Saya kurang tertarik membahas ini, karena terlalu teknikal melihat Pendidikan. Pendidikan tidak melulu berdimensi kuantitatif, sesuatu yang bisa diukur nilainya.

Jika kita hanya menganggap sekolah sebagai tempat mengukur atau melembagakan nilai, maka cibiran Ivan Illich dalam bukunya Deschooling Society menjadi relevan: sekolah memasukkan anak muda ke suatu dunia di mana segala sesuatunya dapat diukur, termasuk imajinasi dan diri mereka sendiri.

Padahal tak semua dimensi manusia bisa diukur. Maka dari itu, saya lebih tertarik melihatnya dalam sudut pandang budaya.

Tjokorda Gde Rake Sukawati: Presiden NIT dan Diplomat Kebudayaan Bali

Kemiskinan di Bali tidak hanya persoalan struktural semata, tapi juga budaya. Biasanya anak-anak yang hidup dalam keluarga miskin mengalami inferiority complex, perasaan yang menerima dirinya lebih rendah dari yang lainnya, merasa diri lebih lemah dan tidak mampu dari yang lainnya.

Perasaan ini menghasilkan sikap yang dalam terminologi Bali: metilesang rage. Semacam kesadaran akan kemampuan dan posisi sosial. Keadaan ini lalu dibathinkan. Tentu saja ini berdampak pada cara mereka bergaul, berkomunikasi, dan cara mereka melihat yang lainnya.

Jika ingin mengubah kehidupan ekonomi mereka melalui jalur pendidikan, salah satu yang dilakukan tentu saja memperbaiki sisi-sisi kulturalnya yang terbentuk sejak lahir yakni mengubah mentalitas rendah diri mereka agar menjadi lebih percaya diri. Ini bukan pekerjaan mudah.

Mungkin ini salah satu alasan mengapa siswa-siswi di Sekolah Bali Mandara mesti mendapat perlakuan khusus, diberikan makan, mendapat asrama, menggunakan pakaian seragam, dan fasilitas lainnya.

Perlakuan khusus bagi siswa miskin melalui sekolah khusus juga berdampak pada munculnya perasaan “senasib sepenanggungan” di antara mereka. Mereka merasa memiliki nasib yang sama dan berada pada perjuangan yang sama yakni keluar dari gerbang kemiskinan.

Perasaan “senasib-sepenanggungan” ini mungkin tidak didapatkan jika mereka dibaurkan dengan anak dari keluarga yang mampu. Dulu perasaan “senasib sepenanggungan” inilah yang melahirkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme.

Desa Adat, Agama dan Politik Bali

Secara kultural, membaurkan antara anak miskin dan anak dari keluarga mampu berdampak pada dua hal: pertama mempertajam inferiority complex dan kedua, munculnya kekerasan simbolik. Mereka dipaksa masuk ke dalam “habitus” (pinjam istilah Bourdieu), semacam skema atau struktur kognitif yang terbentuk di dalam relasinya dengan lingkungan sosialnya.

Habitus ini akan membentuk skema kognitif mereka, sehingga tidak jarang yang terjadi adalah anak miskin berlagak kaya sehingga membebani orang tua mereka. Jika tidak demikian, mereka akan menggunakan segala cara agar tampak seperti anak dari keluarga mampu.

Sekali lagi, ini analisa “kampungan” saya, boleh setuju, bisa juga tidak—ketidaksetujuan adalah sah di dalam ruang demokrasi. Namun yang pasti pembauran ini memiliki sisi-sisi kultural yang mesti dipertimbangkan.

Maka dari itu, saya sepakat dengan pandangan para ahli antropologi pendidikan bahwa proses pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia dalam rangka penciptaan budaya. Dalam konteks inilah ada keterkaitan antara pendidikan dan budaya. Pendidikan bisa dikatakan sebagai salah satu sarana pembudayaan—proses humanisasi, pemanusiaan manusia. Maka dari itu, ia tak melulu hanya bisa diukur secara kuantitatif.

Belum usai perdebatan seputar alasan rasional penyamaan status Sekolah Bali Mandara (SBM) dengan sekolah lainnya, malah muncul isu lain yakni sampradaya. Hal ini didasari atas rekaman digital beberapa aktivitas kelompok spiritual dilaksanakan di sekolah tersebut. Seolah-olah isu ini menjadi alasan pembenar bahwa SBM perlu disamakan statusnya dengan yang lain. Siapa yang menjadi korban atas sliweran isu ini?

Ya anak-anak miskin itu sendiri. Saya yakin mereka anak lugu yang tidak paham begituan. Jika benar dari mereka ada yang terpapar, itu bukan salah mereka, tapi salah pihak yang menjadikan mereka “obyek ideologisasi”. Jika ini benar, maka sekolah memang menjadi “medan pertarungan ideologi dan politik”. Dan korbannya bukanlah mereka yang bertarung, tapi siswa yang jadi obyek pertarungan mereka.

Saya barharap semua pihak lebih jernih dan tenang memahami persoalan ini. Tidak ada yang merasa paling benar argumentasinya. Apalagi mau menantang-nantang untuk adu argumentasi. Itu tak lebih dari pameran kepintaran saja dan terkesan egoistik. Sekalian saja adu tinju seperti tingkah para artis pemburu follower itu.

Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Sebagai manusia, Gubernur Bali saya yakin punya kepedulian dengan dunia pendidikan, apalagi beliau dibesarkan secara akademik dan politik oleh dunia pendidikan. Kebijakan Gubernur didasarkan pada argumentasi “keadilan” bagi seluruh warga miskin, sementara pihak yang kontra juga didasarkan pada argumentasi membela hak-hak siswa miskin dengan memberikan perlakuan khusus. Jadi kedua pihak sebenarnya punya kepedulian yang sama: membantu siswa miskin.

Jadi mari duduk bersama, musyawarah, dan saling mendengarkan. Kekuasaan jangan berlagak tuli, masyarakat juga jangan membisu. Kita sampaikan aspirasi secara intelek dan santun. Jangan jadikan sekolah sebagai medan pertarungan politik. Pendidikan adalah sarana pembudayaan, tempat memanusiakan manusia.

Kita tinggalkan kebiasaan buruk di dalam dunia politik Indonesia: yang satu sibuk mencari kesalahan, yang satu sibuk mencari alasan. Cuman gara-gara berbeda warna politik. Mari bersama mencari solusi! Terimakasih. [T]

Tags: PendidikanPolitikSMAN Bali Mandara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Singaraja, Kota Kecil yang Berusaha Menjadi Kota Romantis

Next Post

Perspektif “Sound and Sense” dalam Novel “Si Rarung” Karya Cok Sawitri

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Perspektif “Sound and Sense” dalam Novel “Si Rarung” Karya Cok Sawitri

Perspektif "Sound and Sense" dalam Novel “Si Rarung” Karya Cok Sawitri

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co