4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat, Agama dan Politik Bali

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
May 17, 2020
in Esai
Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

The debate wheter desa dinas and desa adat should be re-unified has not yet come to an end in Bali (Warren, 2007).

BALI punya cara unik dalam merespon wabah Covid-19, bahkan membuat Presiden menghadiahkan pujian. Upaya yang dilakukan tidak hanya bersifat sekala, tetapi juga niskala. Ini memang tidak aneh di Bali, karena pandangan dunia Bali tidak bisa dilepaskan dari konsep-konsep dual seperti sekala dan niskala. Upaya secara sekala dan niskala ini menunjukkan keterlibatan tiga unsur lembaga di Bali yakni pemerintah, desa adat dan lembaga keagamaan (PHDI). Apa yang menarik di sini? 

Karena kurang kerjaan, saya ingin membahas ini. Sejak awal saya setuju jika selama ini masyarakat Bali tidak pernah membedakan urusan sekular dan agama secara ketat. Maka sejak awal, saya dongkol mendengar pembedaan antara sakral dan profan yang dibuat oleh akademisi kampus. Definisi dibuat sebagai bentuk respon eksploitasi agama dan budaya di sektor pariwisata.

Senyatanya, masyarakat Bali tak pernah berpikir parsial. Mereka berpikir holistik, bahkan sinkretik, mirip kultur dan pandangan dunia Jawa. Tak heran jika urusan politik, agama, budaya dan adat (termasuk sakral-profan) bercampur menjadi satu: mirip seperti adonan lawar Bali yang jaen itu! Artinya cara berpikir Cartesian (demarkasi subyek-obyek) sebenarnya tak laku di sini.

Jika kita bahas dalam spectrum yang lebih luas, memang nasionalisme di Indonesia dan Negara Eropa berbeda karakternya. Nasionalisme di Eropa cenderung melihat nasionalisme berlawanan dengan agama. Nasionalisme dipahami sebagai bagian dari proses sekularisasi dan modernisasi, selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Nasionalisme di Indonesia berbeda, karena justru berhubungan dengan pelembagaan agama itu sendiri. Buktinya pasca kemerdekaan ada desakan memformilkan agama agar menjadi agama yang sah.

Bali pun sebenarnya mengalami hal yang sama. Brigitta (2011: 193) menyebutnya sebagai “spiritualized modernity”. Modernitas spiritual ini berbeda secara substansial dari konsep modernitas barat, yang didasarkan pada asumsi bahwa modernitas adalah hasil dari proses sekularisasi. Di Bali, para aktor politik justru semakin memanfaatkan adat dan agama untuk membuat tindakan dan pesan mereka di depan publik agar lebih meyakinkan. Artinya di Bali modernitas adalah proses terbalik yang beralih dari sekularisme Barat ke ide-ide politik yang berbasis adat dan agama.

Upaya sekularisasi sebenarnya pernah dilakukan oleh Belanda dengan membuat dua jenis desa yang kita kenal dengan nama desa adat dan dinas. Dua kategori ini terpisah pada urusan internal dan pemerintahan. Unit administrasi baru pada waktu itu belum disebut desa dinas tetapi “gouvernementdesa” (Brigitta, 2011; haga 1992: Hunger 1933). Bisa dikatakan Desa dinas saat itu menjadi sarana sekularisasi menyangkut urusan-urusan birokratis administratif.

Upaya membuka unit administrative ini juga sebagai bentuk perlindungan terhadap desa-desa asli yang dianggap memiliki keunikan dan kekuasaan secara otonom. Liefrinck pada akhir abad ke-19 memperkenalkan istilah ‘dorpsrepubliek’ atau republik desa. Meskipun sebenarnya, gambaran Liefrinck bukan tanpa kritik, karena di desa-desa tradisional Bali seolah-olah tidak ada dinamika, hierarki dan konflik. Artinya gambaran Liefrinck dan Korn dianggap terlalu meromantisir keberadaan desa di Bali.

Ketika Indonesia menjadi negara merdeka, sistem administrasinya mengikuti yang dirancang pemerintah kolonial.  Sistem yang didasarkan pada pembagian kehidupan sosial menjadi desa dinas dan desa adat, bahkan dikolaborasikan dan distandarisasi.  Dinas menjadi kurang lebih berdiri untuk administrasi negara (Warren 1993: 296). Sementara desa adat hadir seolah-olah menjadi penyeimbang kekuatan Negara.

Desa adat memiliki kekuasaan politik yang melekat. Saat rezim orde baru, awal 1990-an adat digunakan untuk pertama kalinya sebagai kekuatan protes terhadap proyek-proyek mega-pariwisata di sekitar tempat-tempat suci di mana pemerintah nasional telah memberikan izin kepada investor nasional dan transnasional (Brigitta, 2011; Warren 1998,  2007). Pengunaan kekuatan desa adat dalam melawan kekuatan investor juga tampak dalam penolakan terhadap rencana reklamasi di Teluk Benoa.

Pasca bom Bali, jargon Ajeg Bali memperkuat posisi desa adat dalam urusan menjaga wilayahnya dari ancaman eksternal. Bahkan polisi adat bernama Pecalang hadir melakukan sweeping dan sidak kependudukan. Perannya sebagai ‘jagabaya’ wilayah pun semakin kuat. Di sini, desa adat dianggap sebagai benteng terakhir budaya Bali. Karena sebagai benteng, maka harus dijaga dan dilindungi.

Cara berpikir ini sangat mempengaruhi pemimpin selanjutnya di Bali dalam merancang strategi politiknya. Bahkan jargon ajeg Bali pun tak luput dijadikan jualan politik untuk memenangkan pilkada. Hal ini sudah biasa di Bali, penggabungan antara urusan politik, agama, budaya dan adat. Sensibilitas masyarakat Bali terhadap identitas primordial dimanfaatkan dalam ranah politik. Sebut saja misalnya, ketika salah satu media mainstream memberikan label Ajeg Bali terhadap salah satu pasangan calon saat itu. Termasuk memainkan identitas klan sebagai kekuatan politik. Untuk kasus Bali, itu hal yang biasa. Bahkan desa adat selalu jadi isu politik. Menaikkan bantuan desa adat misalnya, menjadi penting diajukan.

Apa yang bisa kita baca dari pemetaan tersebut?

Ya memang urusan politik, agama dan adat di Bali memiliki korelasi yang kuat; sebagai kekuatan sekala dan niskala. Termasuk munculnya Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat, dan kebijakan ikutannya sampai adanya Dinas Pemajuan Desa Adat yang mengurusi adminitrasi bantuan hiba ke desa adat. Apakah ini salah satu upaya sekularisasi desa adat? Tidak juga!! Karena desa adat adalah kekuatan sekala (secara politis) dan niskala (adat dan agama) sekaligus. Sekali lagi: kekuatan sekala-niskala sekaligus!

Artinya siapapun pemimpin di Bali, pasti memperhitungkan Desa Adat sebagai kekuatan sekala dan niskala tersebut. Inilah mengapa, dalam urusan wabah Covid-19 pun Desa Adat ikut hadir di garda depan. Tugasnya apa? Ya sekala niskala itu; mendisiplinkan, mengawasi lalu lintas orang dan melaksanakan ritual keagamaan.

Ya ada dongkol dan protes tentu, karena dianggap terlalu membebani desa adat. Tapi siapa yang berani tanpa desa adat yang punya kekuatan sekala dan niskala itu? Apalagi para politisi? Maka kolaborasi pemerintah, desa adat, dan lembaga agama di Bali selalu menjadi penting, karena semua unsur terpenuhi: politik, adat, budaya dan agama. Lengkap sudah. Inilah karakteristik Bali. [T]

Tags: adatagamacovid 19desa adatPolitik
Share152TweetSendShareSend
Previous Post

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Next Post

“Basa Nosa”, Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
“Basa Nosa”, Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?

“Basa Nosa”, Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co