24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Adat, Agama dan Politik Bali

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
May 17, 2020
in Esai
Desa Adat jadi Panglima Perang Hadapi Corona

Ilustrasi tatkala.co/Nana Partha

The debate wheter desa dinas and desa adat should be re-unified has not yet come to an end in Bali (Warren, 2007).

BALI punya cara unik dalam merespon wabah Covid-19, bahkan membuat Presiden menghadiahkan pujian. Upaya yang dilakukan tidak hanya bersifat sekala, tetapi juga niskala. Ini memang tidak aneh di Bali, karena pandangan dunia Bali tidak bisa dilepaskan dari konsep-konsep dual seperti sekala dan niskala. Upaya secara sekala dan niskala ini menunjukkan keterlibatan tiga unsur lembaga di Bali yakni pemerintah, desa adat dan lembaga keagamaan (PHDI). Apa yang menarik di sini? 

Karena kurang kerjaan, saya ingin membahas ini. Sejak awal saya setuju jika selama ini masyarakat Bali tidak pernah membedakan urusan sekular dan agama secara ketat. Maka sejak awal, saya dongkol mendengar pembedaan antara sakral dan profan yang dibuat oleh akademisi kampus. Definisi dibuat sebagai bentuk respon eksploitasi agama dan budaya di sektor pariwisata.

Senyatanya, masyarakat Bali tak pernah berpikir parsial. Mereka berpikir holistik, bahkan sinkretik, mirip kultur dan pandangan dunia Jawa. Tak heran jika urusan politik, agama, budaya dan adat (termasuk sakral-profan) bercampur menjadi satu: mirip seperti adonan lawar Bali yang jaen itu! Artinya cara berpikir Cartesian (demarkasi subyek-obyek) sebenarnya tak laku di sini.

Jika kita bahas dalam spectrum yang lebih luas, memang nasionalisme di Indonesia dan Negara Eropa berbeda karakternya. Nasionalisme di Eropa cenderung melihat nasionalisme berlawanan dengan agama. Nasionalisme dipahami sebagai bagian dari proses sekularisasi dan modernisasi, selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan rasionalitas. Nasionalisme di Indonesia berbeda, karena justru berhubungan dengan pelembagaan agama itu sendiri. Buktinya pasca kemerdekaan ada desakan memformilkan agama agar menjadi agama yang sah.

Bali pun sebenarnya mengalami hal yang sama. Brigitta (2011: 193) menyebutnya sebagai “spiritualized modernity”. Modernitas spiritual ini berbeda secara substansial dari konsep modernitas barat, yang didasarkan pada asumsi bahwa modernitas adalah hasil dari proses sekularisasi. Di Bali, para aktor politik justru semakin memanfaatkan adat dan agama untuk membuat tindakan dan pesan mereka di depan publik agar lebih meyakinkan. Artinya di Bali modernitas adalah proses terbalik yang beralih dari sekularisme Barat ke ide-ide politik yang berbasis adat dan agama.

Upaya sekularisasi sebenarnya pernah dilakukan oleh Belanda dengan membuat dua jenis desa yang kita kenal dengan nama desa adat dan dinas. Dua kategori ini terpisah pada urusan internal dan pemerintahan. Unit administrasi baru pada waktu itu belum disebut desa dinas tetapi “gouvernementdesa” (Brigitta, 2011; haga 1992: Hunger 1933). Bisa dikatakan Desa dinas saat itu menjadi sarana sekularisasi menyangkut urusan-urusan birokratis administratif.

Upaya membuka unit administrative ini juga sebagai bentuk perlindungan terhadap desa-desa asli yang dianggap memiliki keunikan dan kekuasaan secara otonom. Liefrinck pada akhir abad ke-19 memperkenalkan istilah ‘dorpsrepubliek’ atau republik desa. Meskipun sebenarnya, gambaran Liefrinck bukan tanpa kritik, karena di desa-desa tradisional Bali seolah-olah tidak ada dinamika, hierarki dan konflik. Artinya gambaran Liefrinck dan Korn dianggap terlalu meromantisir keberadaan desa di Bali.

Ketika Indonesia menjadi negara merdeka, sistem administrasinya mengikuti yang dirancang pemerintah kolonial.  Sistem yang didasarkan pada pembagian kehidupan sosial menjadi desa dinas dan desa adat, bahkan dikolaborasikan dan distandarisasi.  Dinas menjadi kurang lebih berdiri untuk administrasi negara (Warren 1993: 296). Sementara desa adat hadir seolah-olah menjadi penyeimbang kekuatan Negara.

Desa adat memiliki kekuasaan politik yang melekat. Saat rezim orde baru, awal 1990-an adat digunakan untuk pertama kalinya sebagai kekuatan protes terhadap proyek-proyek mega-pariwisata di sekitar tempat-tempat suci di mana pemerintah nasional telah memberikan izin kepada investor nasional dan transnasional (Brigitta, 2011; Warren 1998,  2007). Pengunaan kekuatan desa adat dalam melawan kekuatan investor juga tampak dalam penolakan terhadap rencana reklamasi di Teluk Benoa.

Pasca bom Bali, jargon Ajeg Bali memperkuat posisi desa adat dalam urusan menjaga wilayahnya dari ancaman eksternal. Bahkan polisi adat bernama Pecalang hadir melakukan sweeping dan sidak kependudukan. Perannya sebagai ‘jagabaya’ wilayah pun semakin kuat. Di sini, desa adat dianggap sebagai benteng terakhir budaya Bali. Karena sebagai benteng, maka harus dijaga dan dilindungi.

Cara berpikir ini sangat mempengaruhi pemimpin selanjutnya di Bali dalam merancang strategi politiknya. Bahkan jargon ajeg Bali pun tak luput dijadikan jualan politik untuk memenangkan pilkada. Hal ini sudah biasa di Bali, penggabungan antara urusan politik, agama, budaya dan adat. Sensibilitas masyarakat Bali terhadap identitas primordial dimanfaatkan dalam ranah politik. Sebut saja misalnya, ketika salah satu media mainstream memberikan label Ajeg Bali terhadap salah satu pasangan calon saat itu. Termasuk memainkan identitas klan sebagai kekuatan politik. Untuk kasus Bali, itu hal yang biasa. Bahkan desa adat selalu jadi isu politik. Menaikkan bantuan desa adat misalnya, menjadi penting diajukan.

Apa yang bisa kita baca dari pemetaan tersebut?

Ya memang urusan politik, agama dan adat di Bali memiliki korelasi yang kuat; sebagai kekuatan sekala dan niskala. Termasuk munculnya Perda No. 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat, dan kebijakan ikutannya sampai adanya Dinas Pemajuan Desa Adat yang mengurusi adminitrasi bantuan hiba ke desa adat. Apakah ini salah satu upaya sekularisasi desa adat? Tidak juga!! Karena desa adat adalah kekuatan sekala (secara politis) dan niskala (adat dan agama) sekaligus. Sekali lagi: kekuatan sekala-niskala sekaligus!

Artinya siapapun pemimpin di Bali, pasti memperhitungkan Desa Adat sebagai kekuatan sekala dan niskala tersebut. Inilah mengapa, dalam urusan wabah Covid-19 pun Desa Adat ikut hadir di garda depan. Tugasnya apa? Ya sekala niskala itu; mendisiplinkan, mengawasi lalu lintas orang dan melaksanakan ritual keagamaan.

Ya ada dongkol dan protes tentu, karena dianggap terlalu membebani desa adat. Tapi siapa yang berani tanpa desa adat yang punya kekuatan sekala dan niskala itu? Apalagi para politisi? Maka kolaborasi pemerintah, desa adat, dan lembaga agama di Bali selalu menjadi penting, karena semua unsur terpenuhi: politik, adat, budaya dan agama. Lengkap sudah. Inilah karakteristik Bali. [T]

Tags: adatagamacovid 19desa adatPolitik
Share152TweetSendShareSend
Previous Post

Sakit Maag Lama dan Sulit Tidur, Bisa Jadi Psikosomatis

Next Post

“Basa Nosa”, Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Basa Nosa”, Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?

“Basa Nosa”, Bahasa Bali Dialek Nusa Penida yang Mirip Dialek Bali Aga?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co