10 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tjokorda Gde Rake Sukawati: Presiden NIT dan Diplomat Kebudayaan Bali

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
February 21, 2021
in Khas
Tjokorda Gde Rake Sukawati: Presiden NIT dan Diplomat Kebudayaan Bali

Tjokorda Gde Rake Sukawati {foto dari penulis diambil dari sumber-sumber sejarah]

TAK banyak generasi kini mengenal nama Tjokorda Gde Rake Sukawati. Dalam sejarah politik dan kebudayaan, nama ini sebenarnya sangat menggema. Ia adalah orang Bali pertama yang jadi “Presiden”. Tepatnya Presiden Negara Indonesia Timur (NIT). Ia juga generasi intelektual Bali yang berani berhadap-hadapan secara ideologis dengan agen zending di Bali.

Sebagai anggota Volksraad, Tjokorda Gde Rake Sukawati melakukan perjuangan parlementer pertama menentang gerakan zending. Dalam sejarah kebudayaan, ia adalah diplomat ulung yang membawa seni dan budaya Bali ke dunia internasional. Sebagai intelektual, beragam buku pernah ditulisnya. Ia pernah menulis tentang busana orang Bali dalam buku berjudul “How The Balinese Dress”.

Mari kita berkenalan sejenak dengan tokoh ini. Saya berupaya menuliskan sosoknya sebatas yang saya ketahui dari hasil wawancara dengan tokoh Ubud dan dokumen sejarah yang ada.  Sekali lagi, “sebatas yang saya ketahui”.

Tjokorda Gde Rake Sukawati adalah pangeran Puri Ubud yang lahir pada Minggu Umanis Wuku Menail, tanggal 15 Januari 1899. Ia adalah anak penguasa Ubud, Tjokorda Gede Sukawati. Sejak kecil, Tjokorda Gde Rake Sukawati dikenal bandel, khas kenakalan anak pada masanya. Meski dianggap nakal, ia adalah anak yang berprestasi. Setelah tamat sekolah di Gianyar, ia ingin melanjutkan studi di  Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren (Osvia). Ini merupakan sekolah pendidikan bagi pegawai-pegawai bumiputra pada jaman Belanda. .

Bersama saudaranya, Anak Agung Ngurah Asti, Tjok. Rake Sukawati sekolah di Probolinggo, Jawa Timur. Sejak saat itu, ia menggemari dunia luar, khususnya di bidang kesenian. Ia pecinta musik barat, belajar biola dan kecapi. Ia juga dikenal fasih berbahasa Jawa.

Di sini nampak perubahan Tjok Rake Sukawati: ia yang dibesarkan dalam kentalnya suasana tradisi, kini membuka diri pada dunia luar. Tapi, orang yang hidup dalam kultur Bali, selalu bisa mendialogkan perbedaan kultural. Ia punya genius sintesis.

Meski awalnya sang ayah enggan menyekolahkannya ke Jawa karena bandel, namun toh ia akhirnya sekolah di sana. Inilah titik awal karier seorang Tjokorda Gde Rake Sukawati. Andai saja ia benar-benar dilarang sekolah di Jawa saat itu, mungkin sejarah akan berubah.

Tamat sekolah di Jawa, ia pulang ke Ubud—menjadi seorang punggawa. Tak lama menjadi punggawa, ia diangkat jadi Volksraad, sejenis dewan pertimbangan bagi keseluruhan kepulauan Hindi-Belanda. Sejak di Volksraad ia mulai mulai melakukan perjuangan politik, tentunya dalam wilayah kebudayaan. Ia menanggapi gerakan-gerakan zending di Bali.

Sebagaimana diketahui, sejak ada pembaptisan awal orang Bali pada tahun 1931, menimbulkan kontroversi yang sangat keras. Kontroversi ini berbuah perdebatan sengit antara misionaris Protestan Hendrik Kraemer dengan para orientalis anggota pemerintah kolonial seperti Frederik David K Bosch, Roelof Goris dan Cornelis Lekkerkerker.

Sikap permusuhan diawali oleh Bosch yang menganggap bahwa penginjilan orang Bali sebagai percobaan yang tak pantas. Sikap permusuhan ini juga dilanjutkan oleh Goris yang menerbitkan sebuah buku berjudul” De strijd over Bali en de Zending: De waarde van Dr. Kraemer (1933).

Naskah buku ini diberi kata pengantar oleh Tjokorda Gde Rake Sukawati yang sejak tahun 1924 sudah melakukan penolakan terhadap kedatangan misionaris Katolik.

Saat itu memang ada kolaborasi antara orientalis dan tokoh lokal untuk melawan stigma buruk yang dibuat Kraemer tentang agama orang Bali. Goris bahkan cukup keras menyebut Kraemer sebagai “sok intelek”.

Tak hanya Goris, Tjokorda Gde Rake Sukawati juga menulis komentar terhadap stigma Kraemer terhadap agama Bali. Komentar tersebut diberi judul: Bali en Dr. Kraemer, Eenige opmerkingen omtrent de brochure,,De strijd over Bali en de zending.

Dalam buku ini, Tjokorda Gde Raka Sukawati menyebut kegagalan Kraemer dalam melihat religi orang Bali yang penuh prasangka buruk. Kraemer membuat penilaian tentang agama Bali dengan standar khas barat dan khususnya lagi standar Calvinis.

Di sini, argumentasi Tjokorda Gde Rake Sukawati cukup tajam dalam merespon pandangan-pandangan Kraemer. Kita bisa menyaksikan dialog intelektual bermutu dari putra Ubud ini. Polemik ini pun berbuah keputusan pemerintah yang melarang penginjilan di Bali.

Sikap kultural Tjokorda Gde Rake Sukawati dan pergaulannya dengan para orientalis, peneliti dan seniman luar, berpengaruh terhadap caranya memperkenalkan Bali ke dunia luar. Ia berhasil membujuk walter Spies, pelukis Jerman, untuk datang ke Bali ketika sedang ada projek di Solo. Ketika walter Spies di Bali, ia meminta kepada adiknya Tjokorda Gde Agung Sukawati untuk memberi akses dan akomodasi kepada Spies.

Di sini, kita bisa melihat kerjasama dan pembagian peran yang baik di antara dua pangeran Ubud. Yang satu berperan sebagai diplomat kebudayaan, satunya lagi memiliki akar tradisi yang kuat.

Misi kebudayaan Tjok Rake Sukawati terus berlanjut. Ia dipercaya mengemban misi kesenian dari Belaluan di Festival Pasar Gambir pada tahun 1929. Sukses pada festival gambir, ia kembali memimpin misi kesenian dalam Paris Colonial Exposition di Paris tahun 1931.

Misi kesenian di “Paris Expo” punya pengaruh luar biasa. Para maestro tari dan gamelan turut terlibat dalam lawatan seni tersebut. Mereka adalah Anak Agung Gde Mandra, I Ketut Rindha, Tjokorda Oka Tublen, Tjokorda Rai Sayan, Dewa Gde Raka, Tjokorda Anom, Jero Tjandra dan Ni Rimpeg. Selain maestro tari dan gamelan, ia juga mengajak pelukis, pematung dan pengrajin yang memamerkan keahlian mereka.

Dua penampilan yang memukau dunia barat saat itu yakni Calonarang dan Legong. Dua kesenian ini memang mewakili dua sisi kebudayaan Bali: lembut dan menghentak. Pementasan Calonarang bahkan sampai mempengaruhi dramawan dan ahli teater Eropa yakni Antonin Artaud—sampai melahirkan aliran pemikiran teater kontemporer di barat yang disebut Oriental and Occidental Theatre.

Pengaruh Artaud terhadap seni teater di dunia tentu tak perlu ditanyakan lagi, namun yang menarik adalah pengaruhnya terhadap pemikiran filsafat kontemporer. Banyak filsuf yang juga pemikirannya dipengaruhi oleh Artaud ini. Pementasan Calonarang tidak hanya berpengaruh terhadap revolusi pemikiran seni teater, melainkan juga filsafat. Artinya, Calonarang juga berpengaruh pada pemikiran filsafat barat. Di sini, keputusan Tjokorde Gde Rake Sukawati mementaskan Calonarang dan Legong sangat tepat. 

Sukses mengemban misi kesenian, membuat nama Tjokorde Gde Rake Sukawati terus bergema. Ia menjadi tokoh yang membangun diplomasi berbasis kebudayaan. Berkat gerakannya, seni dan budaya Bali hadir di panggung internasional. Ia juga mendirikan perkumpulan seni Pita Maha bersama adiknya Tjokorda Gde Agung Sukawati.

Duet dua pangeran Ubud ini sangat menarik: yang satu punya sayap yang kuat untuk menerbangkan seni dan budaya Bali ke dunia luar, satunya lagi punya akar yang kuat di Ubud.

Tak selesai mengemban misi kultural, nama Tjok Gde Rake Sukawati pun tak asing dalam sejarah politik di Indonesia. Ia terpilih sebagai Presiden Negara Indonesia Timur, hasil dari konferensi Denpasar. Perdana menterinya saat itu adalah Nadjamoedin Daeng Malewa. Pembentukan Negara Indonesia timur ini adalah dalam rangka Negara Republik Indonesia Serikat.

Memang saat itu ada perdebatan soal bentuk Negara antara Negara persatuan dan federalis, sampai muncul perjanjian Linggajati pada tahun 1946.

Dilema saat itu yakni apakah negosiasi dengan pihak belanda akan menemui jalan buntu dan harus berakhir dengan pertempuran antara kedua belah pihak, atau harus diupayakan kedaulatan secepatnya meskipun ada sesikit konsensi mengenai bentuk Negara.

 Berdasarkan semua kemungkinan yang ada, para pemimpin Indonesia, termasuk Soekarno memilih untuk menerima federasi, asal saja dengan itu proses menuju penyerahan kedaulatan tidak terlalu dihalangi. Sekali lagi, ini adalah bagian dari dinamika dan transisi politik menuju penyerahan kedaulatan. Meskipun kelak, Indonesia menjadi Negara persatuan.

Sejak jadi Presiden NIT, Tjokorda Rake Sukawati sangat intens melakukan kunjungan ke luar negeri. Ia seolah menjarit kembali hubungan internasional sejak Paris Expo. Saat itu, ia didampingi oleh Istri Prancis—ini menarik, mengapa ia memilih istri Prancis sebagai ibu negara. Memang banyak cerita yang belum ditulis ketika ia menjadi Presiden NIT. Padahal itu adalah bagian dari sejarah politik dan tata Negara di Indonesia.

Begitu penting posisi dan peran Tjokorda Gde Rake Sukawati di bidang politik dan dan diplomasi kebudayaan, termasuk pariwisata Bali, namun seiring peralihan generasi, namanya tak banyak banyak dikenal generasi sekarang. Buku-buku tentangnya pun tak banyak ditulis. [T]

Tags: balihistoryPuri UbudsejarahTjokorda Gde Rake SukawatiUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kultur Menanam, Kultur Siapa?

Next Post

MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop Optimalisasi E-Learning

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails
Next Post
MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop  Optimalisasi E-Learning

MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop Optimalisasi E-Learning

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti
Ulas Buku

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

by Emi Suy
October 8, 2026
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal
Esai

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru
Pameran

Pameran “EVOLUSI” Kawan Nusantara 2026: Warisan Nusantara yang Menemukan Bentuk Baru

KETIKA mengunjungi pameran ini, jangan kaget jika menemukan warisan budaya seperti tenun, batik, dan berbagai perhiasan yang beradaptasi dengan zaman,...

by Nyoman Budarsana
October 8, 2026
Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan
Kuliner

Belajar Mengenal Prancis dari Meja Makan

BAGI orang Indonesia, keju bukan makanan yang hadir setiap hari di meja makan. Karena itu, ketika dua belas peserta berkumpul...

by Rusdy Ulu
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co