6 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tjokorda Gde Rake Sukawati: Presiden NIT dan Diplomat Kebudayaan Bali

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
February 21, 2021
in Khas
Tjokorda Gde Rake Sukawati: Presiden NIT dan Diplomat Kebudayaan Bali

Tjokorda Gde Rake Sukawati {foto dari penulis diambil dari sumber-sumber sejarah]

TAK banyak generasi kini mengenal nama Tjokorda Gde Rake Sukawati. Dalam sejarah politik dan kebudayaan, nama ini sebenarnya sangat menggema. Ia adalah orang Bali pertama yang jadi “Presiden”. Tepatnya Presiden Negara Indonesia Timur (NIT). Ia juga generasi intelektual Bali yang berani berhadap-hadapan secara ideologis dengan agen zending di Bali.

Sebagai anggota Volksraad, Tjokorda Gde Rake Sukawati melakukan perjuangan parlementer pertama menentang gerakan zending. Dalam sejarah kebudayaan, ia adalah diplomat ulung yang membawa seni dan budaya Bali ke dunia internasional. Sebagai intelektual, beragam buku pernah ditulisnya. Ia pernah menulis tentang busana orang Bali dalam buku berjudul “How The Balinese Dress”.

Mari kita berkenalan sejenak dengan tokoh ini. Saya berupaya menuliskan sosoknya sebatas yang saya ketahui dari hasil wawancara dengan tokoh Ubud dan dokumen sejarah yang ada.  Sekali lagi, “sebatas yang saya ketahui”.

Tjokorda Gde Rake Sukawati adalah pangeran Puri Ubud yang lahir pada Minggu Umanis Wuku Menail, tanggal 15 Januari 1899. Ia adalah anak penguasa Ubud, Tjokorda Gede Sukawati. Sejak kecil, Tjokorda Gde Rake Sukawati dikenal bandel, khas kenakalan anak pada masanya. Meski dianggap nakal, ia adalah anak yang berprestasi. Setelah tamat sekolah di Gianyar, ia ingin melanjutkan studi di  Opleidings School Voor Inlandsche Ambtenaren (Osvia). Ini merupakan sekolah pendidikan bagi pegawai-pegawai bumiputra pada jaman Belanda. .

Bersama saudaranya, Anak Agung Ngurah Asti, Tjok. Rake Sukawati sekolah di Probolinggo, Jawa Timur. Sejak saat itu, ia menggemari dunia luar, khususnya di bidang kesenian. Ia pecinta musik barat, belajar biola dan kecapi. Ia juga dikenal fasih berbahasa Jawa.

Di sini nampak perubahan Tjok Rake Sukawati: ia yang dibesarkan dalam kentalnya suasana tradisi, kini membuka diri pada dunia luar. Tapi, orang yang hidup dalam kultur Bali, selalu bisa mendialogkan perbedaan kultural. Ia punya genius sintesis.

Meski awalnya sang ayah enggan menyekolahkannya ke Jawa karena bandel, namun toh ia akhirnya sekolah di sana. Inilah titik awal karier seorang Tjokorda Gde Rake Sukawati. Andai saja ia benar-benar dilarang sekolah di Jawa saat itu, mungkin sejarah akan berubah.

Tamat sekolah di Jawa, ia pulang ke Ubud—menjadi seorang punggawa. Tak lama menjadi punggawa, ia diangkat jadi Volksraad, sejenis dewan pertimbangan bagi keseluruhan kepulauan Hindi-Belanda. Sejak di Volksraad ia mulai mulai melakukan perjuangan politik, tentunya dalam wilayah kebudayaan. Ia menanggapi gerakan-gerakan zending di Bali.

Sebagaimana diketahui, sejak ada pembaptisan awal orang Bali pada tahun 1931, menimbulkan kontroversi yang sangat keras. Kontroversi ini berbuah perdebatan sengit antara misionaris Protestan Hendrik Kraemer dengan para orientalis anggota pemerintah kolonial seperti Frederik David K Bosch, Roelof Goris dan Cornelis Lekkerkerker.

Sikap permusuhan diawali oleh Bosch yang menganggap bahwa penginjilan orang Bali sebagai percobaan yang tak pantas. Sikap permusuhan ini juga dilanjutkan oleh Goris yang menerbitkan sebuah buku berjudul” De strijd over Bali en de Zending: De waarde van Dr. Kraemer (1933).

Naskah buku ini diberi kata pengantar oleh Tjokorda Gde Rake Sukawati yang sejak tahun 1924 sudah melakukan penolakan terhadap kedatangan misionaris Katolik.

Saat itu memang ada kolaborasi antara orientalis dan tokoh lokal untuk melawan stigma buruk yang dibuat Kraemer tentang agama orang Bali. Goris bahkan cukup keras menyebut Kraemer sebagai “sok intelek”.

Tak hanya Goris, Tjokorda Gde Rake Sukawati juga menulis komentar terhadap stigma Kraemer terhadap agama Bali. Komentar tersebut diberi judul: Bali en Dr. Kraemer, Eenige opmerkingen omtrent de brochure,,De strijd over Bali en de zending.

Dalam buku ini, Tjokorda Gde Raka Sukawati menyebut kegagalan Kraemer dalam melihat religi orang Bali yang penuh prasangka buruk. Kraemer membuat penilaian tentang agama Bali dengan standar khas barat dan khususnya lagi standar Calvinis.

Di sini, argumentasi Tjokorda Gde Rake Sukawati cukup tajam dalam merespon pandangan-pandangan Kraemer. Kita bisa menyaksikan dialog intelektual bermutu dari putra Ubud ini. Polemik ini pun berbuah keputusan pemerintah yang melarang penginjilan di Bali.

Sikap kultural Tjokorda Gde Rake Sukawati dan pergaulannya dengan para orientalis, peneliti dan seniman luar, berpengaruh terhadap caranya memperkenalkan Bali ke dunia luar. Ia berhasil membujuk walter Spies, pelukis Jerman, untuk datang ke Bali ketika sedang ada projek di Solo. Ketika walter Spies di Bali, ia meminta kepada adiknya Tjokorda Gde Agung Sukawati untuk memberi akses dan akomodasi kepada Spies.

Di sini, kita bisa melihat kerjasama dan pembagian peran yang baik di antara dua pangeran Ubud. Yang satu berperan sebagai diplomat kebudayaan, satunya lagi memiliki akar tradisi yang kuat.

Misi kebudayaan Tjok Rake Sukawati terus berlanjut. Ia dipercaya mengemban misi kesenian dari Belaluan di Festival Pasar Gambir pada tahun 1929. Sukses pada festival gambir, ia kembali memimpin misi kesenian dalam Paris Colonial Exposition di Paris tahun 1931.

Misi kesenian di “Paris Expo” punya pengaruh luar biasa. Para maestro tari dan gamelan turut terlibat dalam lawatan seni tersebut. Mereka adalah Anak Agung Gde Mandra, I Ketut Rindha, Tjokorda Oka Tublen, Tjokorda Rai Sayan, Dewa Gde Raka, Tjokorda Anom, Jero Tjandra dan Ni Rimpeg. Selain maestro tari dan gamelan, ia juga mengajak pelukis, pematung dan pengrajin yang memamerkan keahlian mereka.

Dua penampilan yang memukau dunia barat saat itu yakni Calonarang dan Legong. Dua kesenian ini memang mewakili dua sisi kebudayaan Bali: lembut dan menghentak. Pementasan Calonarang bahkan sampai mempengaruhi dramawan dan ahli teater Eropa yakni Antonin Artaud—sampai melahirkan aliran pemikiran teater kontemporer di barat yang disebut Oriental and Occidental Theatre.

Pengaruh Artaud terhadap seni teater di dunia tentu tak perlu ditanyakan lagi, namun yang menarik adalah pengaruhnya terhadap pemikiran filsafat kontemporer. Banyak filsuf yang juga pemikirannya dipengaruhi oleh Artaud ini. Pementasan Calonarang tidak hanya berpengaruh terhadap revolusi pemikiran seni teater, melainkan juga filsafat. Artinya, Calonarang juga berpengaruh pada pemikiran filsafat barat. Di sini, keputusan Tjokorde Gde Rake Sukawati mementaskan Calonarang dan Legong sangat tepat. 

Sukses mengemban misi kesenian, membuat nama Tjokorde Gde Rake Sukawati terus bergema. Ia menjadi tokoh yang membangun diplomasi berbasis kebudayaan. Berkat gerakannya, seni dan budaya Bali hadir di panggung internasional. Ia juga mendirikan perkumpulan seni Pita Maha bersama adiknya Tjokorda Gde Agung Sukawati.

Duet dua pangeran Ubud ini sangat menarik: yang satu punya sayap yang kuat untuk menerbangkan seni dan budaya Bali ke dunia luar, satunya lagi punya akar yang kuat di Ubud.

Tak selesai mengemban misi kultural, nama Tjok Gde Rake Sukawati pun tak asing dalam sejarah politik di Indonesia. Ia terpilih sebagai Presiden Negara Indonesia Timur, hasil dari konferensi Denpasar. Perdana menterinya saat itu adalah Nadjamoedin Daeng Malewa. Pembentukan Negara Indonesia timur ini adalah dalam rangka Negara Republik Indonesia Serikat.

Memang saat itu ada perdebatan soal bentuk Negara antara Negara persatuan dan federalis, sampai muncul perjanjian Linggajati pada tahun 1946.

Dilema saat itu yakni apakah negosiasi dengan pihak belanda akan menemui jalan buntu dan harus berakhir dengan pertempuran antara kedua belah pihak, atau harus diupayakan kedaulatan secepatnya meskipun ada sesikit konsensi mengenai bentuk Negara.

 Berdasarkan semua kemungkinan yang ada, para pemimpin Indonesia, termasuk Soekarno memilih untuk menerima federasi, asal saja dengan itu proses menuju penyerahan kedaulatan tidak terlalu dihalangi. Sekali lagi, ini adalah bagian dari dinamika dan transisi politik menuju penyerahan kedaulatan. Meskipun kelak, Indonesia menjadi Negara persatuan.

Sejak jadi Presiden NIT, Tjokorda Rake Sukawati sangat intens melakukan kunjungan ke luar negeri. Ia seolah menjarit kembali hubungan internasional sejak Paris Expo. Saat itu, ia didampingi oleh Istri Prancis—ini menarik, mengapa ia memilih istri Prancis sebagai ibu negara. Memang banyak cerita yang belum ditulis ketika ia menjadi Presiden NIT. Padahal itu adalah bagian dari sejarah politik dan tata Negara di Indonesia.

Begitu penting posisi dan peran Tjokorda Gde Rake Sukawati di bidang politik dan dan diplomasi kebudayaan, termasuk pariwisata Bali, namun seiring peralihan generasi, namanya tak banyak banyak dikenal generasi sekarang. Buku-buku tentangnya pun tak banyak ditulis. [T]

Tags: balihistoryPuri UbudsejarahTjokorda Gde Rake SukawatiUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kultur Menanam, Kultur Siapa?

Next Post

MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop Optimalisasi E-Learning

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails
Next Post
MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop  Optimalisasi E-Learning

MGMP Bahasa Bali SMA Kabupaten Buleleng Selenggarakan Workshop Optimalisasi E-Learning

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co