14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

I Gusti Agung Paramita by I Gusti Agung Paramita
March 12, 2019
in Opini
Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Foto ilustrasi: Widnyana Sudibya

“Ketika tubuh manusiawi dan bumi diasumsikan memiliki sifat-sifat kesamaan alami, keduanya harus dipahami sebagai berinteraksi dan tergantung. Misteri alam oleh karena itu harus menjadi misteri tubuh manusia, atau tubuh manusia menjadi mikrokosmos jagad raya, dan ini diperhitungkan untuk kosmogoni Tantra yang bertujuan untuk menjelaskan kelahiran jagad raya di dalam pengertian misteri kelahiran pengada manusiawi” — Narendra Nath Bhattacharyya

——

DALAM kebudayaan masyarakat agraris, perempuan menempati posisi yang sangat ‘mistik’. Hal itu bisa dilihat dari akar-akar teologi purba seperti pemujaan terhadap Tuhan feminim.

Dalam sejarah religi di India misalnya, pemujaan terhadap the Mother Goddes tidak pernah berhenti menjadi pemujaan yang penting. Pemujaan terhadap Tuhan feminim sangat identik dengan kesuburan. Bisa dikatakan, terjadi identifikasi antara bumi dan perempuan. Fungsi bumi dan perempuan pun dianggap sama: menyuburkan perempuan sama artinya menyuburkan bumi.

Bhattacharyya dalam bukunya The History of Indian Erotic Literature (1975) menjelaskan bahwa kesuburan ladang ketika dihubungkan dengan kesuburan perempuan telah memunculkan kepercayaan universal bahwa apapun yang ditanam oleh seorang perempuan hamil akan tumbuh dengan baik, sementara seorang perempuan mandul diperkirakan menyebabkan mandul.

Mitos primitif yang menghubungkan temuan pertanian dengan perempuan ditemukan di seluruh dunia. Para perempuan dari banyak suku di seluruh dunia dikenal secara periodik melucuti pakaian dan telanjang untuk kesuburan tanaman.

Adat istiadat ini, menurut Bahttacharyya, diikuti oleh masyarakat Yunani Kuno dalam sebuah upacara berhubungan dengan Demeter oleh kaum perempuan Flemish, para pendeta perempuan Inggris di era pra-Kristen dan dihubungkan dengan praktek-praktek Taois di Cina khususnya di dalam usaha menurunkan hujan. Adat istiadat yang sama tersebar luas di India, bahkan di Asia Tenggara.

M.C Ricklefs dkk (2013: 8-9) dalam buku A. New History of Southeast Asia secara gamblang menyebutkan, ada dua perhatian penting dalam kebudayaan primordial di Asia Tenggara yakni kesuburan dan perlindungan dari bahaya. Kesuburan selalu diidentikkan dengan pemujaan terhadap perempuan. M.C Ricklefs mengambil dua contoh komunitas masyarakat seperti etnis Bali dan Thai yang memercayai dewi padi sangat berhubungan dengan panen berlimpah.

Altar untuk menjamin kemampuan perempuan memiliki anak dibangun mengelilingi batu berbentuk seperti alat kelamin pria yang diasosiasikan dengan Dewa Siwa. Ada pula roh – seringkali perempuan – yang dipercaya menerima permohonan perempuan yang belum memiliki anak maupun yang sedang hamil.

Selain itu, salah satu ciri kebudayaan Asia Tenggara adalah pentingnya perempuan ‘spesialis’ dan paranormal. Di berbagai tempat di wilayah Asia Tenggara, paranormal yang terkenal adalah kaum perempuan. Memang tidak dipungkiri banyak pula paranormal pria, namun mereka cenderung homoseksual, bahkan transeksual yang terang-terangan mengidentifikasi diri sebagai perempuan.

Pada banyak kasus, makhluk halus itu sendiri adalah perempuan seperti ibu suci sebutan bagi etnis Vietnam dan Po Nagar yang merupakan dewi terpenting dalam etnis Cham. Ini artinya, dalan sejarah religi dunia, perempuan menempati posisi tertinggi. Namun demikian, dengan diperkenalkannya agama seperti Budha Theravada, Islam dan Kristen yang cenderung memberi peran subordinat pada perempuan dalam hirarki spiritual, muncul ketegangan akibat asosiasi tradisional kekuatan spiritual dengan perempuan (Ricklefs dkk, 2013: 8-9).

Dalam kasus Bali, khususnya di Desa Cempaga, sebelum masuknya istilah Pemangku di Desa Cempaga, segala bentuk ritual dipimpin oleh seorang Balian Desa yang dijabat oleh perempuan. Sebelum dilakukan upacara Nurunang Hyang untuk pemilihan Pemangku, Balian Desa pada waktu itu dijabat oleh Dadong Kajeng. Tapi saat ini ada perubahan, tidak ada lagi istilah Balian Desa, melainkan diganti dengan pemangku.

Sejurus dengan itu, pemimpin ritual pun tak lagi perempuan, namun digantikan oleh laki-laki, namun peran ritual yang diambil tetap sebagai perempuan (Utama, 2015). Sampai saat ini, pemangku di Cempaga adalah laki-laki yang berperan sebagai medium Tuhan feminim yang disebut Tapakan Sanghyang Giri Putri, sedangkan dewa maskulinnya adalah Ratu Bagus Tulak Senjata.

Dalam setiap ritual kesuburan, juga selalu melibatkan sebuah kesatuan seksual (persenggamaan). Festival-festival yang menandai berbagai operasi pertanian ditandai oleh upacara-upacara yang memperlihatkan persenggamaan. Lingga atau organ laki-laki adalah simbol tindakan penanaman, sementara Yoni atau organ perempuan mewakili Ibu Bumi (mother earth). Hubungan kesatuan seksual dengan pertanian bisa dikatakan universal. Mereka memiliki kepercayaan bahwa tindakan seksual membantu meningkatkan hasil panen.

Jadi bisa dikatakan, ritual-ritual pertanian yang bersandar pada asumsi bahwa produktivitas alam atau bumi bisa ditingkatkan dengan peniruan reproduksi manusia ini memunculkan upacara-upacara seks di seluruh dunia, termasuk pemujaan Lingga dan Yoni.

Ketika tubuh manusiawi dan bumi diasumsikan memiliki sifat-sifat kesamaan alami, keduanya harus dipahami sebagai berinteraksi dan tergantung. Misteri alam oleh karena itu harus menjadi misteri tubuh manusia, atau tubuh manusia menjadi mikrokosmos jagad raya, dan ini diperhitungkan untuk kosmogoni Tantra yang bertujuan untuk menjelaskan kelahiran jagad raya di dalam pengertian misteri kelahiran pengada manusiawi (Bhattacharyya, 1975: 19).

Figur penting kosmogoni Tantra adalah prinsip perempuan, sementara prinsip laki-laki hanya memiliki posisi sekunder. Pandangan dunia yang didominasi oleh perempuan ini sangat sejalan dengan pandangan Sankhya. Menurut prinsip ini prakrti material yang dipahami sebagai sebuah prinsip perempuan adalah sebab jagad raya dan purusa atau prinsip laki-laki tidak lain adalah penonton pasif.

Victor M. Vic dalam The Tantra (2003) menjelaskan bahwa prinsip perempuan memainkan peran penting di dalam teori penciptaan Tantrik–yang dipahami sebagai kekuatan primordial (purba), sebuah rahim (yoni), sebuah matriks sebab-akibat yang memuntahkan semua zat (matter) dan memberinya bentuk-bentuk, warna dan atribut-atribut lain yang disebut prakrti. Teks-teks Tantrik secara panjang lebar menjelaskan berbagai kemampuan, sifat-sifat dan moda-moda (cara) operasinya.

Teori tantrik percaya bahwa ketika Siva-Sakti berada di dalam sebuah kepadatan ekstrem dan keadaan kesadaran dalam, dan sebelum ia menginginkan Sakti menampakkan wujud dirinya, Sakti disebut Mula-Prakrti.

Teori ini selanjutnya menyatakan bahwa Sakti di dalam keadaan prakrti diberkati dengan tiga kekuatan, yang disebut guna: 1) Sattva (kesadaran); 2) Rajah (kemampuan berubah); 3) Tamas (statis). Lebih jauh, saat Sakti berada di dalam keadaan prakrti ketiga guna itu beristirahat di dalam sebuah keseimbangan dan oleh karena itu Sakti menjadi tidak aktif, tetap tidak terwujud, yang hanya menunjukkan kekuatannya sebagai prinsip kerja Siva.

Tetapi ketika keseimbangan dari ketiga guna itu terganggu oleh keinginan Siva untuk menampakkan wujud dirinya sendiri, yang menciptakan ketegangan di antara guna-guna itu, Sakti mengubah dirinya sendiri menjadi Maya, prinsip penciptaan, yang dengan demikian memunculkan tahap selanjutnya di dalam proses penciptaan. Menurut Victor M. Vic (2003) kesatuan Siwa dan Sakti dalam Tantra Hindu mengarah pada penciptaan sebuah dunia baru.

Kesatuan antara unsur feminim dan maskulin juga banyak ditemukan dalam setiap upacara ritual di Bali. Dalam kepercayaan penduduk Bali Mula di Terunyan misalnya, dikenal dengan dewa lokal bernama Ratu Sakti Pancering Jagat atau Da Tonta. Selain Ratu Sakti Pancering Jagat, yang juga dipuja adalah  Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar, yang tidak lain dari permaisuri Ratu Sakti Pancering Jagat (Danandjaya, 1989: 635).

Persenggamaan kosmik antara Ratu Sakti Pancering Jagat dan Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar dilakukan dengan medium kesenian yang dinamakan Barong Berutuk. Dalam penghujung tarian, ada prosesi metambak sebagai simbol kesatuan antara Bhatara Da Tonta dengan Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar. Perkawinan kosmik ini dianggap penting oleh masyarakat Terunyan karena sangat berhubungan dengan kesuburan alam semesta.

Tidak hanya di Terunyan, dalam konsep kosmologis di Bali pun selalu menunjukkan kecenderungan perkawinan kosmik seperti halnya pertiwi-akasa, dan segara giri. Begitu juga dalam pagelaran pementasan Calonarang, selalu menunjukkan klimaks perkawinan kosmik tersebut. Tujuan perkawinan kosmik ini pun adalah untuk kesuburan atau penciptaan dunia baru sebagaimana pandangan Victor M. Vic di atas.

Salah satu bentuk simbol kesuburan yang berlanjut hingga saat ini adalah Cili. Yang menarik dari penggunaan simbol Cili ini adalah adanya dua unsur yang bersifat dualitas yaitu laki-laki dan perempuan. Pertemuan kedua unur ini merupakan representasi dari konsep perkawinan kosmik yang berkembang pada masa pra sejarah dan berlanjut hingga saat ini. 

Dalam aktifitas pertanian lahan basah di Bali, Cili digunakan pada saat upacara mabiyukukung atau pada saat padi mulai bunting dan pada saat akan mengetam padi di sawah. Cili dalam hal ini adalah simbol perwujudan laki-laki dan perempuan yang dikawinkan sehingga menghasilkan panen yang diharapkan (Utama, 2015).

Berbagai macam upacara ritual untuk cita-cita kesuburan melalui proses perkawinan kosmik menunjukkan jika alam semesta menempati posisi yang aktif dalam proses produksi. Alam yang diidenfitikasi sebagai sosok perempuan secara aktif mampu membuahkan hasil yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Upaya menjaga kesuburan alam pun dilakukan dengan cara-cara yang puitis: ritual persenggamaan!

Hal ini sejalan dengan pandangan Bhattacharyya (1975) bahwa perempuan tidak hanya menjadi simbol generasi, tetapi produsen aktual kehidupan. Organ-organ dan atribut-atributnya dipahami sebagai yang diberkati dengan kekuatan generatif, dan dengan demikian mereka menjadi kehidupan yang menghasilkan simbol-simbol.

Pada fase-fase awal evolusi sosial, keibuan inilah yang menjaga ladang, ibu yang menghasilkan kehidupan dan menjadi tokoh sentral religi. Dalam upacara-upacara ritual di Bali, aroma aspek Sakti ini sangat menyengat baunya. Artinya, Sakti atau prinsip perempuan tetap diberikan posisi sebagai elemen aktif – bukan pasif, sebagai subyek bukan obyek. Namun kebudayaan modern dengan revolusi industri dan kemajuan teknologi pertanian cenderung mendegradasi posisi perempuan-alam bukan lagi sebagai subyek melainkan obyek pasif.

Pemikir eko-feminisme India, Vandana Shiva (2005:33) menjelaskan, sejak terjadinya revolusi industri dan teknologi, hukum-hukum alamiah dinegasikan. Proses alamiah untuk pembaharuan justru dianggap membebankan. Bibit produk industri dinilai lebih unggul sebagai bibit yang berasal dari alam dan kesuburan tanah. Hukum alamiah dan reproduksi kehidupan sekarang dilanggar oleh bentuk kehidupan rekayasa transgenik, yang dampaknya terhadap kehidupan belum diketahui dan tak terbayangkan.

Di sini ilmu pengetahuan dan teknologi modern yang berakar dari rasionalitas subyek, memposisikan alam-perempuan tidak lagi sebagai subyek aktif. Kesuburan alamiah tidak lagi diperlukan dan digantikan oleh rekayasa kesuburan untuk kecepatan produksi.

Menurut Vandana Shiva (2005:35), revolusi ilmiah telah menggulung  batas-batas kebodohan. Suatu tradisi pengetahuan yang memandang alam dan perempuan hanyalah sekadar sebagai sumber semata dan hukum alam sebagai kendala telah menciptakan kebodohan yang dilakukan manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kolonisasi terhadap alam mencerminkan pola terhadap kolonisasi terhadap tubuh perempuan.

Secara singkat dikatakan, revolusi industri dan kemajuan pengetahuan dan teknologi justru melahirkan monster dan teknik-teknik patriarki terhadap alam-perempuan. Pada titik ini, alam tidak lagi diperlakukan secara puitis dengan bungkusan mitos dan religi – melalui upaya perkawinan kosmik – untuk menghasilkan kesuburan.

Cara-cara yang dianggap rasional dengan tujuan kecepatan produksi-ekonomis dan kemajuan kehidupan justru mengancam kelangsungan ekologis. Sebut saja untuk kasus Bali, pola pembangunan kini menampakkan wajah-wajah patriarki. Pemerkosaaan terhadap ‘ibu pertiwi’ melalui alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman kian marak terjadi.

Depuitisasi alam dilakukan dengan dalih pencapaian pembangunan dan kesejahteraan sosial. Hal ini tentu sangat berbanding terbalik dengan kehidupan orang Bali yang kaya akan puisi-puisi religi yang lahir melalui rahim kebudayaan agraris. Melalui upacara ritual, kesadaran manusia Bali digedor untuk memaknai proses alamiah alam dan menyambut hasil alam dengan cara-cara yang puitis.

Sampai saat ini, bisa dikatakan ritual-ritual kesuburan seperti upacara Usaba Desa atau Usaba Nini masih dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di Bali – kendati lahan pertanian dan perkebunan makin terjepit. Hari Raya Galungan pun sebenarnya adalah sebuah ‘pesta’ agraris orang Bali – yang kemudian dimaknai secara lebih heroik: hari kemenangan dharma.

Politik Tubuh

Dalam kebudayaan agraris, label kesuburan dicantelkan pada perempuan. Sekali lagi, fungsi bumi dan perempuan dianggap paralel, sama-sama menjadi representasi dari kesuburan: perempuan yang menghasilkan anak seperti ladang yang menghasilkan buah. Dalam kebudayaan Bali, label kesuburan yang dilekatkan pada perempuan bisa dilihat dari tokoh yang bernama Men Brayut.

Brayut adalah seorang perempuan yang menyusui banyak anak. Bisa dikatakan, Brayut adalah konstruksi identitas masyarakat agraris yang mewakili simbol kesuburan dan kesejahteraan masyarakat. Brayut juga sering dipuja untuk memohon keturunan.

Namun sejak Orde Baru ketika program Keluarga Berencana (KB) sedang digalakkan, sosok Brayut mengalami stigmaisasi; dianggap mewakili kehidupan keluarga miskin yang kumuh. Pada masa itu keluarga Brayut adalah model keluarga yang harus dihindari jika ingin membentuk rumah tangga yang harmonis dan sejahtera (Utama, 2016).

Di sini tampak bahwa kekuasaan telah memberikan label atau identitas tertentu kepada tokoh Brayut. Artinya tokoh Brayut tidak lagi menjadi representasi kesuburan dalam arti luas, melainkan direduksi sebatas urusan keluarga dan tubuh perempuan yang harus dikontrol dan didisiplinkan demi cita-cita pengendalian populasi yang berdampak pada kesejahteraan sosio-ekonomi.

Melalui program keluarga berencana (dua anak saja cukup) negara melakukan upaya kontrol terhadap tubuh perempuan, termasuk kontrol terhadap kodrat kesuburan secara alamiah yang dimiliki perempuan. Sekali lagi: kekuasaan negara sudah sampai ke rahim perempuan!

Filsuf kontemporer Michel Foucault (1926-1984) dalam The History of Sexuality jilid I membeberkan bahwa memasuki akhir abad ke 18 muncul kebutuhan akan pengendalian populasi. Kebutuhan akan pengendalian populasi ini secara konkret berisi kebutuhan untuk mengontrol perkawinan, kelahiran bayi dan hidup tiap-tiap individu. Saat itu tumbuh minat besar akan studi mengenai manajemen perkawinan dan kelahiran dalam konteks demografi, di sini untuk pertama kalinya dalam sejarah ketika itu mulai diadakan proyek pengorganisasian populasi secara statistik. Foucault menyebut ini sebagai kesadaran-biopolitik.

Menurut Foucault jantung kontrol pupulasi ini adalah kontrol seksual. Kontrol seksual pada abad ke 18 ini adalah kontrol seksual yang tujuan utamanya adalah untuk pengendalian populasi dan pencetakan mutu penduduk demi menghasilkan sumber daya manusia yang sehat.

Di sini kontrol seksual diberlakukan untuk menghasilkan target-target politik semacam pencapaian kelangsungan penurunan penduduk serta tingkat harapan hidup yang tinggi pada penduduknya. Foucault melihat kontrol seksual di abad 18 bukan menghasilkan semacam diskualifikasi tubuh tapi sebaliknya ia melahirkan suatu intensifikasi atau maksimalisasi tubuh. Singkatnya: rasisme!

Pada titik ini, negara berkolaborasi dengan pengetahuan medis, turut andil dalam melakukan kontrol terhadap seksualitas masyarakat termasuk ritme kesuburan alamiah perempuan. Melalui program Keluarga Bencana, tubuh perempuan dan seksualitasnya didisiplinkan untuk mencapai target-target politik negara yang didasarkan atas asumsi-asumsi medis dan ekonomis. Di sini tubuh perempuan benar-benar diposisikan sebagai obyek melalui upaya politik tubuh. Ritme tubuh yang alamiah diinterpretasikan secara sistematis-medis.

Pengobyekan tubuh perempuan juga terjadi dalam praktik-praktik medis belakangan ini. Penanganan persalinan telah dikaitkan terhadap mekanisasi tubuh perempuan menjadi seperangkat bagian yang bisa difragmentasikan, dipuja-puja, dan bagian yang dapat dipindahkan dan diatur oleh para pakar profesional. Di sini seorang perempuan yang sedang hamil tidak banyak dilihat sebagai sumber regenerasi manusia, tapi hanyalah sebagai ‘bahan baku’ darimana produksinya – si bayi – dilahirkan. Dalam situasi demikian, bukan si ibu yang dipandang telah berjasa melahirkan anak tapi sang dokterlah (Shiva, 2005: 33).

Rahim perempuan pun telah direduksi menjadi sebuah wadah yang tak berdaya, dan kepasifan mereka telah direkayasa seiring dengan ketidaktahuan mereka. Ikatan organik langsung antara seorang perempuan dengan janin digantikan dengan pengetahuan yang ditengahi manusia dan mesin. Di sini tidak ada lagi hubungan emosional antara perempuan dan janin.

Perempuan bukan lagi menjadi sosok yang paling tahu keadaan janin termasuk tubuhnya, melainkan ia harus mengkonsultasikan diri kepada pakar-spesialis. Pada titik ini, kontrol seksual dan ritme kesuburan alamiah perempuan ini akan menghasilkan apa yang namanya histerisasi tubuh. Perempuan akan merasa terasing dengan tubuhnya sendiri. Ia merasa terlepas dengan tubuhnya sendiri.  

Melihat realitas ini, Anna Oakley mencibir dengan sinis: rahim perempuan merupakan wilayah yang diperebutkan oleh berbagai macam ideologi dan tindakan dari mereka yang tidak percaya bahwa perempuan mampu merawat diri mereka sendiri. Penaklukan rahim perempuan merupakan dominasi dari paradigma ilmiah fisikalis dan maskulinis, logika tertinggi, bukan semata penangan kehidupan, namun dari suatu pandangan dunia Cartesian, di mana perilaku tubuh dapat dijelaskan dan dikontrol secara bebas oleh pikiran.

Pada titik ini, eksploitasi tubuh perempuan dengan power knowledge yang berwajah patriarki akan terus terjadi. Mitos kelebihan penduduk pada negara-negara miskin hanya dijadikan pembenaran untuk meningkatkan pembangunan teknologi anti kesuburan (Mies, 2005: 201). Termasuk upaya kontrol kesuburan untuk cita-cita keluarga ideal yang diproyeksikan negara merupakan bentuk penegasian terhadap kerja alamiah (kesuburan) tubuh perempuan. Hal ini berbanding terbalik dengan pandangan hidup orang Bali yang justru berorientasi pada kesuburan baik secara mikro maupun makro. [T]

Tags: hinduPerempuanPolitikTubuh
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Next Post

Belajar Akuntansi, Tak Sekadar Menghitung “Uang Angin”, juga Belajar Kehidupan

I Gusti Agung Paramita

I Gusti Agung Paramita

Pengajar di FIAK Unhi Denpasar

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Akuntansi, Tak Sekadar Menghitung “Uang Angin”, juga Belajar Kehidupan

Belajar Akuntansi, Tak Sekadar Menghitung “Uang Angin", juga Belajar Kehidupan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co