14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Kurnia Effendi by Kurnia Effendi
December 3, 2022
in Esai
Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Kurnia Effendi dan Majalah Majas (Foto/croping: FB/Kurnia Effendi)

KOLEKSI JUDUL

SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika saya katakan tidak akan berubah. Cara itu tidak secara sengaja saya latih, atau merupakan jalan terakhir setelah gagal dengan cara yang lain. Sama sekali tidak. Itu adalah cara pertama yang kemudian menjadi – setelah tahu namanya: – proses kreatif.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika diwawancara redaktur majalah remaja, dan kepada saya dilontarkan pertanyaan: Bagaimana biasanya kamu menulis cerpen? – saya tidak perlu memikirkan jawaban. Saya mulai dari judul, demikian jawab saya spontan. Dan memang itulah yang terjadi. Sederhana, bukan? Bahkan mungkin banyak pula pengarang melakukan cara yang sama dengan saya. Atau dengan kata lain: tidak terlampau istimewa.

Dalam dompet saya suka tersimpan selipat kertas, yang saya tulisi beberapa judul, entah untuk cerpen atau cerber. Pada saat judul itu saya tuliskan, kadang-kadang belum terlintas kisah apa pun. Belum terpikir serangkai cerita, belum terbentang tuturan atau alur nasib seorang tokoh.

Sebuah frasa atau kelompok kata yang tiba-tiba melintas, memesona pikiran dan perasaan, segera saya ‘tangkap’, saya tulis atau saya ingat, selanjutnya menjadi ‘biji-biji’ yang tersimpan dalam ‘tanah gembur’ proses kreatif saya. Ada yang langsung tumbuh menjadi sosok cerita, banyak pula yang terus terlelap menunggu secercah cahaya gagasan yang kelak membangunkannya.

Mungkin ini menjadi semacam keberuntungan, bahwa saya menulis dari sisi yang – menurut saya – paling tepat. Mengapa? Karena judul adalah kata atau kalimat yang dibaca pertama kali oleh 99,99% pembaca. Untuk jenis bacaan apa pun.

Kadang-kadang, ketika seseorang mendapatkan sebuah majalah di ruang tunggu dokter, misalnya, secara highlight akan membuka lembar demi lembar untuk menemukan judul yang menarik minatnya sebelum membaca lebih jauh. Bahkan seandainya seseorang menulis sebuah novel, cerpen, atau artikel yang diawali dengan: Tanpa Judul; itu pun sebuah judul!

Apakah saya menyadari sejak awal bahwa judul itu penting? Ternyata tidak. Rasa penting itu muncul belakangan, setelah mencoba sedikit berteori. Sebuah karangan jenis prosa umumnya terdiri dari alinea yang berisi satu kalimat atau lebih. Alinea dikembangkan dari pokok pikiran. Sekumpulan pokok pikiran tentu ada induknya yang mengandung tema. Jadi tubuh karangan yang terdiri dari satu atau beberapa paragraf itu tentu memiliki pikiran utama.

Judul, boleh jadi adalah pikiran utama yang berkelebat di benak saya. Padahal bukan dimulai dengan memikirkan cerita. Mungkin ada ‘peri’ yang melontarkan judul itu dan menugasi saya untuk mengolahnya sebagai gagasan. Karena judul itu datangnya berkelebat, tentu saya menangkapnya dengan cara semacam refleks, impulsif, atau kebiasaan yang tidak diniatkan seperti ketika seseorang mencoba mendisiplinkan sesuatu. Tertangkaplah dia, begitu saja. Dan melekat.

Andaikata saya sangat percaya terhadap daya ingat, mungkin tidak perlu mencatat. Karena mencatat bukan perbuatan tabu, maka saya pun menyimpan beberapa judul yang melintas gegas itu dalam sesempit kertas. (Kini tertulis dalam file komputer atau tersimpan dalam flashdisk). Dan ternyata saya cukup senang dengan sesekali membaca koleksi judul-judul itu di kala senggang.

Misalnya, beberapa yang saya ingat: Segenggam Melati Kering, Aquarel buat Mama, Berjalan di Sekitar Ginza, Randu Rekah, Kincir Api, Menemani Ayah Merokok, Laras Panjang Senapan Cinta, Abu Jenazah Ayah, Tilas Cemeti di Punggung… Hampir semua yang saya ingat di atas, dimulai dari kelebat aksara khayali atau bunyi yang tertangkap hati.

Kadang-kadang ketika sedang bercakap-cakap dengan teman, lalu terangkai dari percakapan itu sebuah komposisi kata yang menarik, nah! Lalu seperti ada lampu menyala. Byar! Wah, ini asyik untuk judul! Dengan membaca koleksi judul itu, sering kali ada keberuntungan, yakni ketika terbayang sebuah kisah. Jadi judul itu menjadi sejenis password bagi saya untuk membuka pintu cerita yang tersimpan dalam rak-rak tak berwujud.

Melalui tuturan ini, hendak saya buka rahasia yang sesungguhnya tidak sulit ditiru. Seperti saya ungkap tadi, kadang-kadang saya tak punya cerita apa pun sebelumnya. Tetapi, justru sebuah judul sanggup menghamparkan kisah. Bahkan, secara agak tak terduga, ternyata judul itu pintar menghimpun cerita dengan ‘caranya’ sendiri .

Maka judul itu akhirnya – menurut saya – mendapat tugas sebagai penyimpan gagasan sebuah kisah, baik untuk karya prosa maupun puisi. Dengan mengingat sebuah judul, seolah-olah terurai jalan hidup seorang tokoh dengan pelbagai konflik di dalamnya. Saya kira, itulah yang umumnya terjadi pada riuh-rendah benak saya dalam proses menulis prosa atau karya sastra yang lain.

CURAH KISAH

SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire angan-angan. Saya akan menyampaikan semacam fragmen: mungkin segerumbul percakapan para tokoh, atau gambaran perilaku, bahkan semacam abstraksi hikayat, atau hal-hal yang menjadi tumpuan tema.

Mengapa demikian? Jika suatu ketika saya mau menulis, dan kebetulan lupa harus mulai dari mana, saya tinggal menelepon kawan yang sempat mendengarkan ‘petikan’ kisah saya di waktu lalu.

Pernah di suatu kesempatan makan malam dengan dua sahabat – Agni Amorita dan Andy Fuller – di kafé, saya menceritakan tentang perilaku seseorang yang sedang patah hati yang dipandang tak masuk akal oleh tokoh lainnya… Kadang-kadang saya  juga meminta pendapat mereka, sebagai respon jujur, apakah cerita itu cukup menarik.

Jadi jangan heran jika suatu saat nanti saya akan menanyakan pada Anda detail yang mungkin terlepas dari ingatan, karena Anda yang pernah saya curahi cerita.

Begitulah. Tak ada rasa cemas, andai gagasan itu kemudian dicuri sang pendengar yang kebetulan (dan biasanya) juga seorang pengarang. Jika memang diambil alih, saya akan turut gembira karena ternyata ide yang berasal dari kepala saya itu menarik juga dibuat cerpen oleh orang lain.

Tetapi, boleh jadi, cara kita bercerita berbeda. Contohnya, ketika mengobrol seusai acara diskusi buku di Pustaka Rumah Dunia, komunitas yang diasuh dan milik Gola Gong,  saya menceritakan cerpen yang saya tulis ketika masih SMP. Dalam cerpen saya yang berjudul “Pulau Timbul Tenggelam” itu, ada sebuah pulau yang penduduknya memiliki paru-paru sekaligus insang.

Mengapa demikian? Karena pulau tersebut secara alamiah akan tenggelam ke bawah laut selama enam bulan, dan enam bulan lainnya berada di atas permukaan air…

Beberapa hari kemudian, Ucu Agustin, pengarang yang pada waktu itu tergabung dalam obrolan, meminta izin untuk menjumput gagasan tentang manusia yang memiliki dua alat pernapasan itu. Tentu saja saya mengizinkan. Apa salahnya?

Seperti juga pengarang-pengarang lain, dalam menulis prosa, saya tidak membuat konsep terlebih dahulu. Langsung tulis saja. Bahkan sejak menggunakan mesin ketik konvensional (yang saya miliki dari Ibu sebagai hadiah ulang tahun ke-18).

Dulu, untuk menulis cerpen 8 halaman, kadang-kadang membutuhkan lebih dari seratus lembar kertas. Karena selalu ada suntingan atau perubahan setiap kali dibaca ulang. Namun kini ketika menggunakan komputer, jika salah ketik mudah dihapus. Mudah dipindah, digandakan, dan yang lebih terasa manfaatnya: dapat disimpan secara paperless.

Dengan kemampuan alat seperti itu, kebiasaan saya mengoleksi judul semakin terasa dimudahkan. Kini setiap bepergian, saya senantiasa membawa flashdisk, yang di dalamnya telah siap sekitar sepuluh file dengan masing-masing judul.

Lantas bagaimana cara saya bekerja? Duduk manis di depan laptop, membuka file pertama, misalnya: Puisi di Bangku Taman. Eh, baru lima paragraf mendadak buntu, segera saya buka filekedua: Mengapa Hiuma Berduka? Hei, itu fabel! Cerita buat anak-anak! Tak jadi soal.

Entah mengapa, ada saja yang secara otomatis mengubah setelan di rongga benak saya, bisa tiba-tiba muncul fantasi kanak-kanak, atau justru gagasan yang surealis. Demikian seterusnya.

Jadi, jika saya membekal sebuah flashdisc, untuk menyimpan calon naskah, bisa dibayangkan: ada berapa calon cerpen, puisi, novelet, di dalamnya? Tapi, berpuluh gagasan itu tak semua mengalir seperti sungai di musim hujan.

Kadang-kadang, oleh kesibukan pekerjaan formal yang menyerobot waktu-waktu pribadi, terutama saat ada event yang melampaui jam kerja, mau tidak mau ‘mereka’ harus bersabar menunggu disentuh. Tapi, menyimpan ‘mereka’ di dalam flashdisk atau laptop, tak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali serombongan virus jahat menghapusnya secara telengas.

Ayo lakukan seperti cara saya! Pasti mengasyikkan. Tapi kalau ada cara yang lebih mudah dan lebih nyaman, jangan lupa memberi tahu saya. Tak segan-segan saya bakal mengadopsinya. Karena, menurut seorang motivator bisnis bernama Tung Desem Waringin, meniru yang sudah bagus akan lebih baik sebagai jalan pintas menuju kemajuan. Jadi tak perlu repot-repot berangkat dari nol!

Ketika menulis, saya tidak perlu menyepi ke balik gunung atau menyelam ke dasar samudera. Karena saya bukan termasuk pengarang ‘menara gading’ atau seorang pertapa. Cukuplah saya menempati koridor yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang makan.

Sambil sesekali menonton televisi, atau membimbing anak-anak mengerjakan PR (waktu mereka masih SD dan SMP). Atau di meja kantor ketika jam kerja belum mulai (dahulu saya sering datang kepagian karena ada kewajiban mengantar anak-anak yang masuk sekolah jam tujuh).

Atau di sebuah warnet dekat hotel tempat menginap ketika sedang tugas keluar kota (kini hamper semua hotel memeberikan fasilitas wi-fi). Yang paling kerap terjadi, saya menulis antara pukul 22 sampai lewat tengah malam.

SELALU “YA”

DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerpen, nggak? Buat edisi Oktober, sepuluh hari selesai, ya?” Tentu saya jawab: “Ya.”

Saat menemui tamu vendor yang akan mengerjakan standarisasi showroom, ada SMS masuk. Dari Farick Ziat, redaksi majalah Gadis. “Bisa pesan cerpen tema Ramadan?” tulisnya. “Kapan harus jadi?” tanya saya. “Ditunggu Jumat,” jawabnya. Wow! Ini hari Selasa. Dan itu majalah remaja. Tapi saya jawab: “Oke, saya usahakan.”

Atau: “Punya cerpen Lebaran?” tulis Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka.  “Punya, dong. Kapan deadline?” tanya saya. “Hehe, punya stok kok tanya batas waktu… minggu depan, ya.” Mungkin Triwikromo di sana benar-benar tertawa. “Baik. Trims.”

Begitulah jawab saya. Ya! Mengapa tidak? Dengan ucapan ‘ya’, saya yakin ada semacam keajaiban yang bekerja ekstra di seluruh kepala saya. Ada stamina yang mengalahkan semua letih. Judul-judul berlintasan seperti meteor. Adrenalin terpompa ke segala arah.

Tapi, jangan keliru, tentu saya meneruskan pekerjaan dulu sampai selesai jam kantor. Kita harus profesional (wah, belagu ya?). Dengan ucapan ‘ya’, seluruh peri yang beterbangan di udara meniupkan pelbagai gagasan. Nah: “Percakapan Sepasang Peri…” Haha, apakah bagus kedengarannya sebagai judul?

Itulah stimulus yang datang dari luar. Setidaknya, istilah produktif tak hanya digenjot dari dalam diri sendiri. Ada saja yang kemudian meminta cerpen. Dan ada saja majalah atau surat kabar yang ternyata telah lama tidak kita jenguk dengan karya. Mungkin Femina, Lampung Post,Suara Karya, Koran Tempo, atau Media Indonesia … Ya.

Rupanya saya tidak melulu menulis untuk sastra koran. Semua lapisan pembaca saya coba kunjungi. Untuk majalah Story (sekarang sudah tutup) tentu harus cerita remaja. Untuk majalah Kartini, harus disesuaikan dengan usia pembacanya. Begitulah. Saya terus menyambar-nyambar ke pelbagai segmen pembaca. Tidak berdosa, kan? Justru enjoy, sepanjang kita mengamalkan karya cerpen yang baik. Apalagi anak saya sudah tiba usia remaja, saatnya memberi mereka bacaan yang tepat. Menurut saya, tentu.

Walaupun sudah menulis di Jurnal Prosa, Kompas, dan Horison, ternyata saya merasakan kenikmatan yang berbeda ketika mengirimkan naskah ke tabloid milik sebuah radio swasta di Jombang. Saya pikir, mereka yang ada di ujung pulau atau dikepung pegunungan, boleh juga membaca cerpen saya.

Redaksinya menelepon, meminta, dan saya harus menghargai harapan itu. Saya tidak pilih-pilih media, kecuali untuk kesesuaian gaya atau tema cerita. Yang ingin saya pertahankan adalah, bagaimana agar untuk setiap media saya tetap menulis dengan bagus. Kembali lagi: menurut ukuran saya, tentu.

Saya memiliki cara untuk membuat diri saya ‘malu’. Saya selalu membuat target di awal tahun. Misalnya tahun ini saya akan menulis 24 cerpen, 120 puisi, satu novel, 12 esai. Saya tulis dan saya kirim melalui SMS kepada para sahabat ketika tiba tanggal 1 Januari. Dan menjelang Desember, saya mulai menghitung atau mengukur prestasi. Apakah tercapai?

Apa pun hasilnya, saya kirim kembali melalui pesan pendek kepada sahabat yang pernah menerima informasi target di awal tahun. Itu menjadi alat untuk evaluasi diri. Mudah-mudahan para sahabat yang selalu menerima informasi itu tidak bosan. (Bukankah tinggal menekan tombol delete, pesan itu pun terhapus). Nah, seandainya luput terlampau jauh, tentu saya malu pada diri sendiri dan kembali mengejar di tahun berikutnya.

Jadilah perajin! Kata Zen Hae: kita ini hanya si tukang cerita. Boleh jadi demikian. Tetapi, seseorang yang telah memiliki keterampilan teknis seperti Seno Gumira, Arswendo, dan Putu Wijaya, tentu bisa menjadi perajin yang berkualitas. Mengapa? Karena wawasan mereka telah meluas, di samping memang sudah terlalu piawai dalam menangkap ilham.

Dengan kata lain, ilham itu tidak ditunggu. Tetapi dikejar! Kita jemput. Dulu, mungkin, seorang seniman dimaklumi saat melamun atau menyendiri. Jika ditanya, sedang apa? Jawabnya, mungkin: “Mencari ilham.” Wah, padahal Ilham sedang ke Surabaya dan entah kapan pulangnya….haha.

INDAHNYA PENGARUH

SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi perwira AURI. Ibu diam di rumah, mengelola rumah tangga. Dulu sesekali ibu ikut nyanyi lagu Jawa dengan sekelompok pemain karawitan.

Talenta merangkai cerita mungkin dipahat justru oleh kebiasaan nenek mendongeng. Saya memiliki koleksi dongeng (entah diambil dari bibliotik atau sekadar karangan nenek) yang cukup banyak, yang saya himpun melalui pendengaran saya.

Sejak kelas I SMP, seorang guru pelajaran bahasa Indonesia seperti mengetahui potensi saya. Mula-mula saya ditunjuk mewakili kelas dalam lomba deklamasi. Saya ingat, di panggung sekolah saya mendeklamasikan puisi karya Toto Sudarto Bahtiar yang berjudul “Pahlawan Tak Dikenal”.

Ketika duduk di kelas II, ada tugas mengubah puisi karya Asrul Sani, “Surat dari Ibu”, menjadi prosa. Lantas hasil tugas saya dibacakan di depan kelas, karena dianggap baik.

Kemudian saya mulai mengisi majalah dinding. Yang paling membanggakan adalah ketika karangan saya diambil sebagai bacaan pada lembar soal ujian bahasa Indonesia kelas II SMP, saat saya duduk di kelas III (waktu itu soal ujian masih belum dibuat secara seragam dan terpusat).

Mungkin saya menyesal, karena terlambat menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada guru yang sangat berjasa menemukan talenta menulis pada diri saya. Namanya Pak Susanto, murid penyair Piek Ardijanto Soeprijadi.

Cara hidupnya memang mencemaskan karena meniru gaya Chairil Anwar, sebagai sosok yang diidolakan. Beliau meninggal muda karena penyakit paru-paru, mungkin lantaran  menggemari begadang dan rokok. Satu di antara penemuannya adalah saya.

Dan orang kedua yang menemukan saya sebagai penulis publik adalah Belinda Gunawan, pada tahun 1978. Saat itu beliau menjadi redaktur fiksi majalah Gadis (kini sudah pensiun dari Femina Group), yang masih bersedia menuliskan kata pengantar untuk buku kumpulan cerpen remaja saya, Aura Negeri Cinta (2005).

Sejujurnya, saya tidak secara ajaib bisa menulis. Sebagaimana pengarang lain, saya pun gemar membaca. Novel anak-anak yang memukau saya ketika kelas V SD adalah Tabah Si Anak Laut karya Adam Hamzah.

Buku-buku yang menjadi bacaan saya kemudian adalah komik Jan Mintaraga (terutama ketika beralih membuat cerita silat), serial “Mat Pelor” Teguh Santosa, dan kisah-kisah silat Tiongkok karya Asmaraman Kho Ping Ho, yang terdiri dari berpuluh seri saling berkesinambungan.

Namun pemilik gaya bahasa yang terasa memengaruhi tulisan awal saya adalah Alistair MacLean (melalui Kuman Iblis dan Petualangan Nuklir di Laut Karibia), dan Paul I Wellman, melalui perjalanan Theodora dalam novel Wanita.

Ketika majalah Hai berkibar dengan redaktur Arswendo Atmowiloto, ada seorang pengarang yang cerpen dan novelnya terasa sangat inspiratif buat saya. Dia menggunakan nama samaran Katyusha.

Saya selalu terpesona dengan caranya bercerita. Tidak semua informasi dituliskan, namun saya sanggup membayangkan perasaan tokoh-tokohnya. Cerpennya tidak ‘cerewet’, menjaga emosi tetap tersembunyi, justru pecah di dada pembacanya, yang dalam hal ini adalah saya.

Ketika saya bertemu dengan Hirawati (nama aslinya) di kampus ITB (dia mengambil jurusan Geologi, sedangkan saya Seni Rupa), saya berterus terang kepadanya, bahwa banyak cerpennya yang melahirkan inspirasi buat cerpen-cerpen saya.

Misalnya: “Pendakian Terakhir” mengilhami “Kemilau Senja di Mandalawangi”, “Polong Saga Retak” mengilhami “Aquarel buat Mama”, dan cerpen saya “Tiga Ribu Kaki di Atas Bandung” memang menokohkan Katyusha.

Namun, sebagaimana pengarang lain yang kemudian menemukan jati dirinya, saya pun ingin menjadi diri sendiri. Dan hanya pembaca atau kritikus yang dapat menilainya secara lebih obyektif: apakah saya telah memiliki ciri tersendiri?

Betapa terpukaunya saya pada cerpen-cerpen dan novel-novel Budi Darma, tentu tidak ingin menjadi epigon. Dengan terus menulis, sembari mengasah kemampuan mengolah bahasa, saya mencoba berkembang tanpa merasa tegang. Justru sering bertukar pikiran dengan penulis lain, bersilaturahim, dan senantiasa menjalin komunikasi.

Biarkan pembaca yang menempatkan kita pada kursi sastrawan, atau sekadar ‘lesehan’ para tukang cerita. Bagi saya, mungkin tidak terlampau penting, setidaknya dibanding tujuan memberikan pencerahan.

SUMBER ILHAM DAN BUKU

SELALU terngiang ucapan Joni Ariadinata ketika meminta cerpen-cerpen saya untuk diterbitkan sebagai buku antologi pribadi. Buku? Wah, apakah sudah saatnya?

Itu tahun 2002. Namun, begitulah, pada tahun 2004, terealisasi 2 buku sekaligus: Senapan Cinta(Penerbit KataKita) dan  “Bercinta di Bawah Bulan” (Metafor Publishing). Lalu, di tahun 2005 menyusul 2 buah lagi: Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena Publishing House), Kincir Api (Gramedia Pustaka Utrama), dan sebuah novel remaja berjudul Selembut Lumut Gunung (Cipta Sekawan Media). Kini telah terbit 16 buku… satu tahun rata2 2 buku.  

Kadang-kadang saya tidak menyangka dengan momentum seperti itu. Mungkin karena banyak uluran tangan sahabat juga yang membuat buku-buku itu lalu menyebar sebagai pemberitaan maupun koleksi.  

Saya 20 tahun bekerja di perusahaan otomotif (ATPM) Suzuki Mobil. Sangat beruntung karena saya bertugas pada bagian standarisasi gerai Suzuki seluruh Indonesia yang mengawal pembangunan gedung showroom sejak gambar hingga peresmian.

Setidaknya, rata-rata tiga kali keluar kota dalam sebulan. Setidaknya berkali-kali mengunjungi wilayah-wilayah baru di pelbagai daerah. Saya membiasakan diri, sejak dari bandara sudah mengirim SMS kepada para sahabat sesama penulis (pengarang atau jurnalis). Dengan demikian, mereka dapat mengatur waktu untuk bertemu sekadar saling melepas rindu.  

Percaya atau tidak, saat saya keliling daerah, selalu berjumpa dengan tunas-tunas cerita baru. Tak hanya ketika melihat sunset di Pantai Pare-Pare, atau memandangi tamasya ikan di dasar Laut Bunaken melalui katamaran. Bahkan bertemu dengan kawan-kawan sastrawan, jurnalis, dan seniman di daerah, membuat hidup ini sangat berwarna.

Ternyata, ketika ide mampet, mengobrol dengan kawan-kawan itu seperti charging baterai dalam pikiran saya. Dari sanalah ilham mengalir. Tinggal: sempat atau tidak menuliskannya di antara waktu yang padat oleh kegiatan formal kantor? Maka jangan lupa: tulis dalam bentuk judul!  

Jadi, mohon jangan menolak jika sewaktu-waktu anda menerima telepon dari saya, hanya untuk sekadar makan malam di TIM, atau sama-sama menikmati sate kambing di Bukafe milik Mas Kiki di Duren Tiga. Tentu tak ketinggalan berusaha hadir pada acara-acara yang digelar Bentara Budaya, PDS HB Jassin, atau Teater Salihara. Entah kenapa, bertemu kawan-kawan sastrawan, baik belia maupun sepuh, otak saya jadi berbinar-binar.  

Tak lupa juga, selalu saya panas-panasi para kawan untuk terus menulis. Saya bagi alamat e-mail semua redaktur kepada teman sejawat. Pokoknya, ayo menulis! Agar dunia bacaan kita semakin ramai. Dan tentu akan melahirkan sejumlah buku-buku baru lagi. Jangan pikirkan kusala dulu. Yang penting batin kita puas. Yang penting tulisan kita tetap berkualitas dan diterima sebagai karya yang komunikatif.  

Dari satu buku (yang disiapkan demikian lama) ke buku yang lain, pada akhirnya mengalir saja. Itulah yang saya sebut momentum. Dan tak terhindarkan, itu semua atas bantuan campur tangan tulus orang lain. Maka sebaik-baik pengarang (sekali lagi menurut saya, tentu) adalah yang memiliki banyak jaringan, dan saling berkomunikasi secara tulus. [T]

Tags: CerpenKurnia Effendimenulisproses kreatifPuisisastrasastrawantips
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Kembali

Next Post

Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Kurnia Effendi

Kurnia Effendi

Adalah Redaktur Majalah Sastra dan Gaya Hidup "MAJAS". Menulis sejak remaja, dan kini dikenal sebagai sastrawan yang sangat produktif. Ia menulis pertama kali tahun 1978, melalui majalah Gadis, Aktuil dan surat kabar Sinar Harapan. Ia salah satu cerpenis paling gemilang di eranya karena kerap memenangi LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang, yang kala itu menjadi barometer kehandalan seorang pengarang remaja. Kini karya-karyanya tak terbilang jumlahnya dan telah dipublikasikan oleh berbagai penerbit nasional. Bukunya antara lain Senapan Cinta, Bercinta di Bawah Bulan, Aura Negeri Cinta, dan Kincir Api.

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co