3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Kurnia Effendi by Kurnia Effendi
December 3, 2022
in Esai
Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Kurnia Effendi dan Majalah Majas (Foto/croping: FB/Kurnia Effendi)

KOLEKSI JUDUL

SAMPAI saat ini, sampai saat menulis esai ini, saya masih membuat cerita pendek atau cerita panjang yang dimulai dengan judul. Mungkin belum berubah, karena agak berlebihan jika saya katakan tidak akan berubah. Cara itu tidak secara sengaja saya latih, atau merupakan jalan terakhir setelah gagal dengan cara yang lain. Sama sekali tidak. Itu adalah cara pertama yang kemudian menjadi – setelah tahu namanya: – proses kreatif.

Bertahun-tahun yang lalu, ketika diwawancara redaktur majalah remaja, dan kepada saya dilontarkan pertanyaan: Bagaimana biasanya kamu menulis cerpen? – saya tidak perlu memikirkan jawaban. Saya mulai dari judul, demikian jawab saya spontan. Dan memang itulah yang terjadi. Sederhana, bukan? Bahkan mungkin banyak pula pengarang melakukan cara yang sama dengan saya. Atau dengan kata lain: tidak terlampau istimewa.

Dalam dompet saya suka tersimpan selipat kertas, yang saya tulisi beberapa judul, entah untuk cerpen atau cerber. Pada saat judul itu saya tuliskan, kadang-kadang belum terlintas kisah apa pun. Belum terpikir serangkai cerita, belum terbentang tuturan atau alur nasib seorang tokoh.

Sebuah frasa atau kelompok kata yang tiba-tiba melintas, memesona pikiran dan perasaan, segera saya ‘tangkap’, saya tulis atau saya ingat, selanjutnya menjadi ‘biji-biji’ yang tersimpan dalam ‘tanah gembur’ proses kreatif saya. Ada yang langsung tumbuh menjadi sosok cerita, banyak pula yang terus terlelap menunggu secercah cahaya gagasan yang kelak membangunkannya.

Mungkin ini menjadi semacam keberuntungan, bahwa saya menulis dari sisi yang – menurut saya – paling tepat. Mengapa? Karena judul adalah kata atau kalimat yang dibaca pertama kali oleh 99,99% pembaca. Untuk jenis bacaan apa pun.

Kadang-kadang, ketika seseorang mendapatkan sebuah majalah di ruang tunggu dokter, misalnya, secara highlight akan membuka lembar demi lembar untuk menemukan judul yang menarik minatnya sebelum membaca lebih jauh. Bahkan seandainya seseorang menulis sebuah novel, cerpen, atau artikel yang diawali dengan: Tanpa Judul; itu pun sebuah judul!

Apakah saya menyadari sejak awal bahwa judul itu penting? Ternyata tidak. Rasa penting itu muncul belakangan, setelah mencoba sedikit berteori. Sebuah karangan jenis prosa umumnya terdiri dari alinea yang berisi satu kalimat atau lebih. Alinea dikembangkan dari pokok pikiran. Sekumpulan pokok pikiran tentu ada induknya yang mengandung tema. Jadi tubuh karangan yang terdiri dari satu atau beberapa paragraf itu tentu memiliki pikiran utama.

Judul, boleh jadi adalah pikiran utama yang berkelebat di benak saya. Padahal bukan dimulai dengan memikirkan cerita. Mungkin ada ‘peri’ yang melontarkan judul itu dan menugasi saya untuk mengolahnya sebagai gagasan. Karena judul itu datangnya berkelebat, tentu saya menangkapnya dengan cara semacam refleks, impulsif, atau kebiasaan yang tidak diniatkan seperti ketika seseorang mencoba mendisiplinkan sesuatu. Tertangkaplah dia, begitu saja. Dan melekat.

Andaikata saya sangat percaya terhadap daya ingat, mungkin tidak perlu mencatat. Karena mencatat bukan perbuatan tabu, maka saya pun menyimpan beberapa judul yang melintas gegas itu dalam sesempit kertas. (Kini tertulis dalam file komputer atau tersimpan dalam flashdisk). Dan ternyata saya cukup senang dengan sesekali membaca koleksi judul-judul itu di kala senggang.

Misalnya, beberapa yang saya ingat: Segenggam Melati Kering, Aquarel buat Mama, Berjalan di Sekitar Ginza, Randu Rekah, Kincir Api, Menemani Ayah Merokok, Laras Panjang Senapan Cinta, Abu Jenazah Ayah, Tilas Cemeti di Punggung… Hampir semua yang saya ingat di atas, dimulai dari kelebat aksara khayali atau bunyi yang tertangkap hati.

Kadang-kadang ketika sedang bercakap-cakap dengan teman, lalu terangkai dari percakapan itu sebuah komposisi kata yang menarik, nah! Lalu seperti ada lampu menyala. Byar! Wah, ini asyik untuk judul! Dengan membaca koleksi judul itu, sering kali ada keberuntungan, yakni ketika terbayang sebuah kisah. Jadi judul itu menjadi sejenis password bagi saya untuk membuka pintu cerita yang tersimpan dalam rak-rak tak berwujud.

Melalui tuturan ini, hendak saya buka rahasia yang sesungguhnya tidak sulit ditiru. Seperti saya ungkap tadi, kadang-kadang saya tak punya cerita apa pun sebelumnya. Tetapi, justru sebuah judul sanggup menghamparkan kisah. Bahkan, secara agak tak terduga, ternyata judul itu pintar menghimpun cerita dengan ‘caranya’ sendiri .

Maka judul itu akhirnya – menurut saya – mendapat tugas sebagai penyimpan gagasan sebuah kisah, baik untuk karya prosa maupun puisi. Dengan mengingat sebuah judul, seolah-olah terurai jalan hidup seorang tokoh dengan pelbagai konflik di dalamnya. Saya kira, itulah yang umumnya terjadi pada riuh-rendah benak saya dalam proses menulis prosa atau karya sastra yang lain.

CURAH KISAH

SEWAKTU-WAKTU, ketika sedang bersama saya, jangan heran jika saya curahi cerita. Biasanya, judul yang mengemban kandungan cerita itu tak cukup sabar tetap tersimpan dalan vestiaire angan-angan. Saya akan menyampaikan semacam fragmen: mungkin segerumbul percakapan para tokoh, atau gambaran perilaku, bahkan semacam abstraksi hikayat, atau hal-hal yang menjadi tumpuan tema.

Mengapa demikian? Jika suatu ketika saya mau menulis, dan kebetulan lupa harus mulai dari mana, saya tinggal menelepon kawan yang sempat mendengarkan ‘petikan’ kisah saya di waktu lalu.

Pernah di suatu kesempatan makan malam dengan dua sahabat – Agni Amorita dan Andy Fuller – di kafé, saya menceritakan tentang perilaku seseorang yang sedang patah hati yang dipandang tak masuk akal oleh tokoh lainnya… Kadang-kadang saya  juga meminta pendapat mereka, sebagai respon jujur, apakah cerita itu cukup menarik.

Jadi jangan heran jika suatu saat nanti saya akan menanyakan pada Anda detail yang mungkin terlepas dari ingatan, karena Anda yang pernah saya curahi cerita.

Begitulah. Tak ada rasa cemas, andai gagasan itu kemudian dicuri sang pendengar yang kebetulan (dan biasanya) juga seorang pengarang. Jika memang diambil alih, saya akan turut gembira karena ternyata ide yang berasal dari kepala saya itu menarik juga dibuat cerpen oleh orang lain.

Tetapi, boleh jadi, cara kita bercerita berbeda. Contohnya, ketika mengobrol seusai acara diskusi buku di Pustaka Rumah Dunia, komunitas yang diasuh dan milik Gola Gong,  saya menceritakan cerpen yang saya tulis ketika masih SMP. Dalam cerpen saya yang berjudul “Pulau Timbul Tenggelam” itu, ada sebuah pulau yang penduduknya memiliki paru-paru sekaligus insang.

Mengapa demikian? Karena pulau tersebut secara alamiah akan tenggelam ke bawah laut selama enam bulan, dan enam bulan lainnya berada di atas permukaan air…

Beberapa hari kemudian, Ucu Agustin, pengarang yang pada waktu itu tergabung dalam obrolan, meminta izin untuk menjumput gagasan tentang manusia yang memiliki dua alat pernapasan itu. Tentu saja saya mengizinkan. Apa salahnya?

Seperti juga pengarang-pengarang lain, dalam menulis prosa, saya tidak membuat konsep terlebih dahulu. Langsung tulis saja. Bahkan sejak menggunakan mesin ketik konvensional (yang saya miliki dari Ibu sebagai hadiah ulang tahun ke-18).

Dulu, untuk menulis cerpen 8 halaman, kadang-kadang membutuhkan lebih dari seratus lembar kertas. Karena selalu ada suntingan atau perubahan setiap kali dibaca ulang. Namun kini ketika menggunakan komputer, jika salah ketik mudah dihapus. Mudah dipindah, digandakan, dan yang lebih terasa manfaatnya: dapat disimpan secara paperless.

Dengan kemampuan alat seperti itu, kebiasaan saya mengoleksi judul semakin terasa dimudahkan. Kini setiap bepergian, saya senantiasa membawa flashdisk, yang di dalamnya telah siap sekitar sepuluh file dengan masing-masing judul.

Lantas bagaimana cara saya bekerja? Duduk manis di depan laptop, membuka file pertama, misalnya: Puisi di Bangku Taman. Eh, baru lima paragraf mendadak buntu, segera saya buka filekedua: Mengapa Hiuma Berduka? Hei, itu fabel! Cerita buat anak-anak! Tak jadi soal.

Entah mengapa, ada saja yang secara otomatis mengubah setelan di rongga benak saya, bisa tiba-tiba muncul fantasi kanak-kanak, atau justru gagasan yang surealis. Demikian seterusnya.

Jadi, jika saya membekal sebuah flashdisc, untuk menyimpan calon naskah, bisa dibayangkan: ada berapa calon cerpen, puisi, novelet, di dalamnya? Tapi, berpuluh gagasan itu tak semua mengalir seperti sungai di musim hujan.

Kadang-kadang, oleh kesibukan pekerjaan formal yang menyerobot waktu-waktu pribadi, terutama saat ada event yang melampaui jam kerja, mau tidak mau ‘mereka’ harus bersabar menunggu disentuh. Tapi, menyimpan ‘mereka’ di dalam flashdisk atau laptop, tak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali serombongan virus jahat menghapusnya secara telengas.

Ayo lakukan seperti cara saya! Pasti mengasyikkan. Tapi kalau ada cara yang lebih mudah dan lebih nyaman, jangan lupa memberi tahu saya. Tak segan-segan saya bakal mengadopsinya. Karena, menurut seorang motivator bisnis bernama Tung Desem Waringin, meniru yang sudah bagus akan lebih baik sebagai jalan pintas menuju kemajuan. Jadi tak perlu repot-repot berangkat dari nol!

Ketika menulis, saya tidak perlu menyepi ke balik gunung atau menyelam ke dasar samudera. Karena saya bukan termasuk pengarang ‘menara gading’ atau seorang pertapa. Cukuplah saya menempati koridor yang menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang makan.

Sambil sesekali menonton televisi, atau membimbing anak-anak mengerjakan PR (waktu mereka masih SD dan SMP). Atau di meja kantor ketika jam kerja belum mulai (dahulu saya sering datang kepagian karena ada kewajiban mengantar anak-anak yang masuk sekolah jam tujuh).

Atau di sebuah warnet dekat hotel tempat menginap ketika sedang tugas keluar kota (kini hamper semua hotel memeberikan fasilitas wi-fi). Yang paling kerap terjadi, saya menulis antara pukul 22 sampai lewat tengah malam.

SELALU “YA”

DI tengah rapat kantor, tiba-tiba telepon selular bergetar. “Halo.” Setengah berbisik. “Lagi sibuk?” suara di sana. “Lagi meeting, apa kabar?” Ujung-ujungnya: “Ada stok naskah cerpen, nggak? Buat edisi Oktober, sepuluh hari selesai, ya?” Tentu saya jawab: “Ya.”

Saat menemui tamu vendor yang akan mengerjakan standarisasi showroom, ada SMS masuk. Dari Farick Ziat, redaksi majalah Gadis. “Bisa pesan cerpen tema Ramadan?” tulisnya. “Kapan harus jadi?” tanya saya. “Ditunggu Jumat,” jawabnya. Wow! Ini hari Selasa. Dan itu majalah remaja. Tapi saya jawab: “Oke, saya usahakan.”

Atau: “Punya cerpen Lebaran?” tulis Triyanto Triwikromo dari Suara Merdeka.  “Punya, dong. Kapan deadline?” tanya saya. “Hehe, punya stok kok tanya batas waktu… minggu depan, ya.” Mungkin Triwikromo di sana benar-benar tertawa. “Baik. Trims.”

Begitulah jawab saya. Ya! Mengapa tidak? Dengan ucapan ‘ya’, saya yakin ada semacam keajaiban yang bekerja ekstra di seluruh kepala saya. Ada stamina yang mengalahkan semua letih. Judul-judul berlintasan seperti meteor. Adrenalin terpompa ke segala arah.

Tapi, jangan keliru, tentu saya meneruskan pekerjaan dulu sampai selesai jam kantor. Kita harus profesional (wah, belagu ya?). Dengan ucapan ‘ya’, seluruh peri yang beterbangan di udara meniupkan pelbagai gagasan. Nah: “Percakapan Sepasang Peri…” Haha, apakah bagus kedengarannya sebagai judul?

Itulah stimulus yang datang dari luar. Setidaknya, istilah produktif tak hanya digenjot dari dalam diri sendiri. Ada saja yang kemudian meminta cerpen. Dan ada saja majalah atau surat kabar yang ternyata telah lama tidak kita jenguk dengan karya. Mungkin Femina, Lampung Post,Suara Karya, Koran Tempo, atau Media Indonesia … Ya.

Rupanya saya tidak melulu menulis untuk sastra koran. Semua lapisan pembaca saya coba kunjungi. Untuk majalah Story (sekarang sudah tutup) tentu harus cerita remaja. Untuk majalah Kartini, harus disesuaikan dengan usia pembacanya. Begitulah. Saya terus menyambar-nyambar ke pelbagai segmen pembaca. Tidak berdosa, kan? Justru enjoy, sepanjang kita mengamalkan karya cerpen yang baik. Apalagi anak saya sudah tiba usia remaja, saatnya memberi mereka bacaan yang tepat. Menurut saya, tentu.

Walaupun sudah menulis di Jurnal Prosa, Kompas, dan Horison, ternyata saya merasakan kenikmatan yang berbeda ketika mengirimkan naskah ke tabloid milik sebuah radio swasta di Jombang. Saya pikir, mereka yang ada di ujung pulau atau dikepung pegunungan, boleh juga membaca cerpen saya.

Redaksinya menelepon, meminta, dan saya harus menghargai harapan itu. Saya tidak pilih-pilih media, kecuali untuk kesesuaian gaya atau tema cerita. Yang ingin saya pertahankan adalah, bagaimana agar untuk setiap media saya tetap menulis dengan bagus. Kembali lagi: menurut ukuran saya, tentu.

Saya memiliki cara untuk membuat diri saya ‘malu’. Saya selalu membuat target di awal tahun. Misalnya tahun ini saya akan menulis 24 cerpen, 120 puisi, satu novel, 12 esai. Saya tulis dan saya kirim melalui SMS kepada para sahabat ketika tiba tanggal 1 Januari. Dan menjelang Desember, saya mulai menghitung atau mengukur prestasi. Apakah tercapai?

Apa pun hasilnya, saya kirim kembali melalui pesan pendek kepada sahabat yang pernah menerima informasi target di awal tahun. Itu menjadi alat untuk evaluasi diri. Mudah-mudahan para sahabat yang selalu menerima informasi itu tidak bosan. (Bukankah tinggal menekan tombol delete, pesan itu pun terhapus). Nah, seandainya luput terlampau jauh, tentu saya malu pada diri sendiri dan kembali mengejar di tahun berikutnya.

Jadilah perajin! Kata Zen Hae: kita ini hanya si tukang cerita. Boleh jadi demikian. Tetapi, seseorang yang telah memiliki keterampilan teknis seperti Seno Gumira, Arswendo, dan Putu Wijaya, tentu bisa menjadi perajin yang berkualitas. Mengapa? Karena wawasan mereka telah meluas, di samping memang sudah terlalu piawai dalam menangkap ilham.

Dengan kata lain, ilham itu tidak ditunggu. Tetapi dikejar! Kita jemput. Dulu, mungkin, seorang seniman dimaklumi saat melamun atau menyendiri. Jika ditanya, sedang apa? Jawabnya, mungkin: “Mencari ilham.” Wah, padahal Ilham sedang ke Surabaya dan entah kapan pulangnya….haha.

INDAHNYA PENGARUH

SEJUJURNYA, saya tidak tiba-tiba pandai menulis. Dari jalur genetik, tidak satu pun di antara kedua orang tua memiliki profesi penulis. Ayah seorang guru olah raga yang menjadi perwira AURI. Ibu diam di rumah, mengelola rumah tangga. Dulu sesekali ibu ikut nyanyi lagu Jawa dengan sekelompok pemain karawitan.

Talenta merangkai cerita mungkin dipahat justru oleh kebiasaan nenek mendongeng. Saya memiliki koleksi dongeng (entah diambil dari bibliotik atau sekadar karangan nenek) yang cukup banyak, yang saya himpun melalui pendengaran saya.

Sejak kelas I SMP, seorang guru pelajaran bahasa Indonesia seperti mengetahui potensi saya. Mula-mula saya ditunjuk mewakili kelas dalam lomba deklamasi. Saya ingat, di panggung sekolah saya mendeklamasikan puisi karya Toto Sudarto Bahtiar yang berjudul “Pahlawan Tak Dikenal”.

Ketika duduk di kelas II, ada tugas mengubah puisi karya Asrul Sani, “Surat dari Ibu”, menjadi prosa. Lantas hasil tugas saya dibacakan di depan kelas, karena dianggap baik.

Kemudian saya mulai mengisi majalah dinding. Yang paling membanggakan adalah ketika karangan saya diambil sebagai bacaan pada lembar soal ujian bahasa Indonesia kelas II SMP, saat saya duduk di kelas III (waktu itu soal ujian masih belum dibuat secara seragam dan terpusat).

Mungkin saya menyesal, karena terlambat menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada guru yang sangat berjasa menemukan talenta menulis pada diri saya. Namanya Pak Susanto, murid penyair Piek Ardijanto Soeprijadi.

Cara hidupnya memang mencemaskan karena meniru gaya Chairil Anwar, sebagai sosok yang diidolakan. Beliau meninggal muda karena penyakit paru-paru, mungkin lantaran  menggemari begadang dan rokok. Satu di antara penemuannya adalah saya.

Dan orang kedua yang menemukan saya sebagai penulis publik adalah Belinda Gunawan, pada tahun 1978. Saat itu beliau menjadi redaktur fiksi majalah Gadis (kini sudah pensiun dari Femina Group), yang masih bersedia menuliskan kata pengantar untuk buku kumpulan cerpen remaja saya, Aura Negeri Cinta (2005).

Sejujurnya, saya tidak secara ajaib bisa menulis. Sebagaimana pengarang lain, saya pun gemar membaca. Novel anak-anak yang memukau saya ketika kelas V SD adalah Tabah Si Anak Laut karya Adam Hamzah.

Buku-buku yang menjadi bacaan saya kemudian adalah komik Jan Mintaraga (terutama ketika beralih membuat cerita silat), serial “Mat Pelor” Teguh Santosa, dan kisah-kisah silat Tiongkok karya Asmaraman Kho Ping Ho, yang terdiri dari berpuluh seri saling berkesinambungan.

Namun pemilik gaya bahasa yang terasa memengaruhi tulisan awal saya adalah Alistair MacLean (melalui Kuman Iblis dan Petualangan Nuklir di Laut Karibia), dan Paul I Wellman, melalui perjalanan Theodora dalam novel Wanita.

Ketika majalah Hai berkibar dengan redaktur Arswendo Atmowiloto, ada seorang pengarang yang cerpen dan novelnya terasa sangat inspiratif buat saya. Dia menggunakan nama samaran Katyusha.

Saya selalu terpesona dengan caranya bercerita. Tidak semua informasi dituliskan, namun saya sanggup membayangkan perasaan tokoh-tokohnya. Cerpennya tidak ‘cerewet’, menjaga emosi tetap tersembunyi, justru pecah di dada pembacanya, yang dalam hal ini adalah saya.

Ketika saya bertemu dengan Hirawati (nama aslinya) di kampus ITB (dia mengambil jurusan Geologi, sedangkan saya Seni Rupa), saya berterus terang kepadanya, bahwa banyak cerpennya yang melahirkan inspirasi buat cerpen-cerpen saya.

Misalnya: “Pendakian Terakhir” mengilhami “Kemilau Senja di Mandalawangi”, “Polong Saga Retak” mengilhami “Aquarel buat Mama”, dan cerpen saya “Tiga Ribu Kaki di Atas Bandung” memang menokohkan Katyusha.

Namun, sebagaimana pengarang lain yang kemudian menemukan jati dirinya, saya pun ingin menjadi diri sendiri. Dan hanya pembaca atau kritikus yang dapat menilainya secara lebih obyektif: apakah saya telah memiliki ciri tersendiri?

Betapa terpukaunya saya pada cerpen-cerpen dan novel-novel Budi Darma, tentu tidak ingin menjadi epigon. Dengan terus menulis, sembari mengasah kemampuan mengolah bahasa, saya mencoba berkembang tanpa merasa tegang. Justru sering bertukar pikiran dengan penulis lain, bersilaturahim, dan senantiasa menjalin komunikasi.

Biarkan pembaca yang menempatkan kita pada kursi sastrawan, atau sekadar ‘lesehan’ para tukang cerita. Bagi saya, mungkin tidak terlampau penting, setidaknya dibanding tujuan memberikan pencerahan.

SUMBER ILHAM DAN BUKU

SELALU terngiang ucapan Joni Ariadinata ketika meminta cerpen-cerpen saya untuk diterbitkan sebagai buku antologi pribadi. Buku? Wah, apakah sudah saatnya?

Itu tahun 2002. Namun, begitulah, pada tahun 2004, terealisasi 2 buku sekaligus: Senapan Cinta(Penerbit KataKita) dan  “Bercinta di Bawah Bulan” (Metafor Publishing). Lalu, di tahun 2005 menyusul 2 buah lagi: Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena Publishing House), Kincir Api (Gramedia Pustaka Utrama), dan sebuah novel remaja berjudul Selembut Lumut Gunung (Cipta Sekawan Media). Kini telah terbit 16 buku… satu tahun rata2 2 buku.  

Kadang-kadang saya tidak menyangka dengan momentum seperti itu. Mungkin karena banyak uluran tangan sahabat juga yang membuat buku-buku itu lalu menyebar sebagai pemberitaan maupun koleksi.  

Saya 20 tahun bekerja di perusahaan otomotif (ATPM) Suzuki Mobil. Sangat beruntung karena saya bertugas pada bagian standarisasi gerai Suzuki seluruh Indonesia yang mengawal pembangunan gedung showroom sejak gambar hingga peresmian.

Setidaknya, rata-rata tiga kali keluar kota dalam sebulan. Setidaknya berkali-kali mengunjungi wilayah-wilayah baru di pelbagai daerah. Saya membiasakan diri, sejak dari bandara sudah mengirim SMS kepada para sahabat sesama penulis (pengarang atau jurnalis). Dengan demikian, mereka dapat mengatur waktu untuk bertemu sekadar saling melepas rindu.  

Percaya atau tidak, saat saya keliling daerah, selalu berjumpa dengan tunas-tunas cerita baru. Tak hanya ketika melihat sunset di Pantai Pare-Pare, atau memandangi tamasya ikan di dasar Laut Bunaken melalui katamaran. Bahkan bertemu dengan kawan-kawan sastrawan, jurnalis, dan seniman di daerah, membuat hidup ini sangat berwarna.

Ternyata, ketika ide mampet, mengobrol dengan kawan-kawan itu seperti charging baterai dalam pikiran saya. Dari sanalah ilham mengalir. Tinggal: sempat atau tidak menuliskannya di antara waktu yang padat oleh kegiatan formal kantor? Maka jangan lupa: tulis dalam bentuk judul!  

Jadi, mohon jangan menolak jika sewaktu-waktu anda menerima telepon dari saya, hanya untuk sekadar makan malam di TIM, atau sama-sama menikmati sate kambing di Bukafe milik Mas Kiki di Duren Tiga. Tentu tak ketinggalan berusaha hadir pada acara-acara yang digelar Bentara Budaya, PDS HB Jassin, atau Teater Salihara. Entah kenapa, bertemu kawan-kawan sastrawan, baik belia maupun sepuh, otak saya jadi berbinar-binar.  

Tak lupa juga, selalu saya panas-panasi para kawan untuk terus menulis. Saya bagi alamat e-mail semua redaktur kepada teman sejawat. Pokoknya, ayo menulis! Agar dunia bacaan kita semakin ramai. Dan tentu akan melahirkan sejumlah buku-buku baru lagi. Jangan pikirkan kusala dulu. Yang penting batin kita puas. Yang penting tulisan kita tetap berkualitas dan diterima sebagai karya yang komunikatif.  

Dari satu buku (yang disiapkan demikian lama) ke buku yang lain, pada akhirnya mengalir saja. Itulah yang saya sebut momentum. Dan tak terhindarkan, itu semua atas bantuan campur tangan tulus orang lain. Maka sebaik-baik pengarang (sekali lagi menurut saya, tentu) adalah yang memiliki banyak jaringan, dan saling berkomunikasi secara tulus. [T]

Tags: CerpenKurnia Effendimenulisproses kreatifPuisisastrasastrawantips
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Kembali

Next Post

Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Kurnia Effendi

Kurnia Effendi

Adalah Redaktur Majalah Sastra dan Gaya Hidup "MAJAS". Menulis sejak remaja, dan kini dikenal sebagai sastrawan yang sangat produktif. Ia menulis pertama kali tahun 1978, melalui majalah Gadis, Aktuil dan surat kabar Sinar Harapan. Ia salah satu cerpenis paling gemilang di eranya karena kerap memenangi LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang, yang kala itu menjadi barometer kehandalan seorang pengarang remaja. Kini karya-karyanya tak terbilang jumlahnya dan telah dipublikasikan oleh berbagai penerbit nasional. Bukunya antara lain Senapan Cinta, Bercinta di Bawah Bulan, Aura Negeri Cinta, dan Kincir Api.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Perempuan, Kesuburan dan Politik Tubuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co