2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kembali

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
March 12, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Jangan pergi!

Itulah mantra ajaib bagi mereka yang tidak rela ditinggalkan. Entah apapun alasannya, pokoknya jangan pergi. Tidak terkecuali ketika Ni Karuni akan ditinggalkan oleh Sucita.

Oh iya perkenalkan, Ni Karuni adalah anak dari pasangan pendeta bernama Dukuh Pradnya dan Dyah Paramita, sedangkan Sucita adalah anak dari pasangan pendeta Rsi Metri dan Danti. Keduanya sama-sama saling mengikat. Bukan tali bukan rantai, yang mengikat adalah sejenis perasaan yang tidak perlu saya jelaskan lagi: Cinta.

Mereka awalnya bertemu dengan cara tidak sengaja. Di tepian sungai, Sucita sedang berusaha melepaskan jeratan lelah. Ni Karuni di hulu sungai mencari bunga, konon untuk dipersembahkan kepada ayahnya. Bunga itu nantinya untuk memuja Hyang saban hari.

Entah kesialan atau justru keberuntungan, Ni Karuni terpeleset karena salah mengira batu yang diinjaknya akan tetap seperti batu-batu lainnya tidak bergerak. Tidak, ia salah. Batu yang diinjaknya tidak dalam posisi bagus, maka terganggulah keseimbangannya dan Ni Karuni hampir tercebur ke sungai.

Karena sigap, ia bisa berkelid dan menyeimbangkan diri, juga tempat bunga yang ia bawa berhasil diselamatkan. Sayangnya hanya satu yang tidak bisa ia selamatkan dari kejadian itu, selendang yang dipakai untuk menutupi pundaknya, tiba-tiba tergelincir dari kulitnya yang halus itu lalu hanyut terbawa sungai. Ni Karuni mengejarnya.

Sucita melihat beberapa kuntum bunga hanyut, diikuti oleh selendang. Tanpa banyak berpikir diambilnya selendang itu. Maka bertemulah mereka berdua dan terlibat tanya jawab. Siapa nama, dari mana, siapa orang tua, kenapa bisa ada di sana.

Jangan membayangkan akan ada pertanyaan berapa nomor HP, apa nama IG, atau FB, atau WA. Pada masa itu, media sosial maya belum ada. Super singkat cerita, bertanyalah Ni Karuni kepada Sucita.

Ada empat pertanyaan yang ia ajukan. Begini: (1) Apakah bekal yang paling utama di dunia ini? (2) Siapa teman yang paling setia sampai mati? (3) Siapa musuh paling sakti? dan (4) Sakit apa yang paling berat?

Cerita itu membuat saya berpikir, memang wanita selalu punya cara untuk membuat kepala jadi pusing dengan pertanyaan-pertanyaan. Bagi para lelaki, silahkan dijawab. Ingat tidak boleh nyontek.

Sambil memikirkan jawabannya, dan sebelum melanjutkan cerita tentang Sucita dan Karuni, saya teringat lagi sebuah cerita yang juga melibatkan dialog antara wanita dan lelaki. Agar adil, cerita kali ini adalah pertanyaan tentang lelaki yang bertanya ini dan itu kepada seorang wanita. Tamtam nama lelaki itu, sedangkan Dyah Adnyaswari nama wanita cantik jelita yang juga cerdas.

Saking cerdasnya, Raja dari berbagai negara telah ditaklukkannya dengan pertanyaan juga jawaban. Tapi Tamtam berbeda. Ia mampu menyudutkan Dyah Adnyaswari dengan sebuah pertanyaan. Maka karena sulitnya pertanyaan Tamtam, pada suatu malam Dyah Adnyaswari datang diam-diam ke rumah Tamtam. Tamtam terkejut didatangi wanita yang menjadi pujaan banyak lelaki hebat.

“Apa sebabnya seorang gadis rela datang malam-malam ke rumah seorang pemuda tanpa gelar?” kata Tamtam dengan rendah hati.

Dyah Adnyaswari tersenyum manis dan menjawab, “Aku meniru kupu-kupu, datang karena digoda harum yang dibawa pecahan angin.”

“Tapi mengapa kepada hamba, pengembara yang bagai burung, tidak jelas dimana ia hinggap?”

“Burung kata Bli? Burung walet tidak kalah perihal sarang, ia membangunnya di ruang teduh, kan? O Bli Tamtam, anugerah mana lagi yang Bli ragukan dari para Dewa? Ketampanan dan kecerdasan tidakkah cukup?”

“Hati-hati Puan. Itulah pesan yang selalu hamba kenakan. Terlebih mendengar pujian dari seorang gadis yang matanya lebih dalam dari danau”.

“Jadi maksud Bli, aku sedang menggoda?”

“Hamba tidak berkata begitu. Hanya…”

“Hanya apa?” Adnyaswari mengerutkan dahi dan tersenyum simpul. 

“Hanya coba menerka, apa yang Puan sembunyikan di balik senyum itu”

Malam berlalu begitu saja. Pertanyaan Tamtam yang membuat Dyah Adnyaswari kebingungan, belum terpecahkan. Apa pertanyaannya? Ini pertanyaannya Tuan dan Puan “sane telas tunas titiang”.

Terjemahannya? Sabar saya masih berpikir. Kira-kira begini “yang habislah hamba inginkan”. Kata lainnya barangkali “isi sunyi itu apa?”. Jawabannya? Maaf saya belum tahu. Ilmu Cangak saya belum sampai di sana.

Mari kita biarkan pertanyaan itu dijawab sendiri-sendiri. Berbagai macam pertanyaan, baik jika diadakan terus menerus, sebab otak dibuatnya selalu berpikir. Keuntungannya, ya otak jadi terlatih memikir-mikirkan. So what? Ya, berpikir adalah salah satu ciri badan masih hidup.

Oh iya, sekarang ayo kita kembali kepada cerita tentang Sucita dan Ni Karuni. Setelah perkenalan itu, Sucita tidak bisa melupakan Ni Karuni. Maka ditemani sahabat karibnya yang bernama Subuddhi, Sucita datang ke rumah Ni Karuni bermaksud meminangnya. Kurang hebat apalagi si Sucita itu?

Dia langsung meminang broo. Menghadaplah Sucita Subuddhi kepada Dukuh Pradnya, ayah Ni Karuni. Terjadilah perkenalan tentang bibit, bebet, bobot. Setelahnya, tanpa cangcingcong, Sucita menyatakan maksud kedatangannya,.

“Hamba ingin meminang anak Ratu Pendeta!”

Dukuh Pradnya yang memang pradnyan itu tidak terkejut, malah jawabannya yang membuat terkejut, “Ayah tidak akan menghalangi, jika Ni Karuni mau, jag juang”.

Berbekal berbagai jurus merayu, Sucita datang menemui Ni Karuni.

“Berbahaya jika seorang ahli pengobatan, membiarkan pesakitan tidak diobati. Juga betapa teganya bunga Menuh yang tumbuh di pinggir sungai, membiarkan seekor kumbang menangisi sayapnya yang patah dan hanyut. Tidakkah begitu Ni Karuni?”, kata Sucita halus.

“Pesakitan bisa sakit karena salah sendiri, tidak tahu mana makanan mana racun. Kumbang si ahli bunga itu? Patah sayapnya karena mengganggu bunga anggrek bulan yang dirawat seekor kera. Apakah adil jika bunga Menuh yang Bli salahkan?” jawab Karuni ketus memalingkan wajah.

“Lebih tidak adil lagi, jika ada tuan rumah memalingkan wajah dari tamunya.”

“Dia bukan tamu, tapi musang berbulu domba.”

“Itu pasti musang salah pakaian.”

Karuni berusaha menahan tawa. Lalu ia jawab dengan halus, “Maaf Bli, saya salah, dia bukan musang, tapi Cangak”

Sampai di sana saya akhiri saja percakapan Karuni dan Sucita. Otoritas Ke-Cangak-an saya merasa diadili. Pada akhirnya mereka berdua saling suka satu sama lain.

.

CANGAK YANG LAIN:

  • Swastyastu, Nama Saya Cangak
  • Pemimpin dan Pandita
  • Aturan Mati
  • Muka Gua
  • Siapa yang Tahu?
  • Panduan Nyepi ala Cangak

.

Sebagai orang yang terpelajar, maka Sucita memutuskan untuk pergi mencari ilmu pada orang-orang pandai. Karena itulah mereka berdua dipisahkan sebentar. Ni Karuni yang bijaksana itu, juga ingin mengetahui seberapa besar keinginan Sucita untuk pergi. Lalu ia menulis surat. Begini isinya.

“Lihatlah Bli, sebuah lampu kehilangan nyalanya karena minyak tega meninggalkan api. Bunga Tunjung layu sebab telaga kehilangan air. Apalah guna sembahku kepada Hyang selama ini, jika ternyata tidak pernah didengar. Kita dipisah jarak begini sunyi. Kembali Bli, jangan pergi!”.

Ujian atas kesungguhan hati, bisa datang dari mana saja, dalam berbagai wujud. Tidak terkecuali bagi Sucita yang ingin pergi. Saya juga merasa begitu wahai sodara-sodara para ikan semuanya. Mungkin sama seperti kalian. Keinginan pergi, sama hebatnya dengan keinginan kembali.

Sekarang saya hanya ingin mengatakan nasihat seorang guru, katanya, “Sebuah keputusan akan benar, jika dijalani dengan benar.”

Sekarang pilihlah, mau pergi atau tetap di sini? [T]

Tags: cintarenungansastraSucita Sebudi
Share72TweetSendShareSend
Previous Post

Semua Adalah Rumah

Next Post

Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Tips Menulis dan Proses Kreatif Kurnia Effendi – Dari Koleksi Judul hingga Ilham & Buku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co