2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Semua Adalah Rumah

Jaswanto by Jaswanto
March 11, 2019
in Esai
Siapa Orang yang Paling Baik?

Menjelang Hari Nyepi kemarin, saya menikmati liburan di kota kelahiran sahabat saya di Bondowoso.

Bagaimana pun, bagi saya, liburan tetaplah liburan; bisa dinikmati di mana saja dan dimanfaatkan untuk apa saja, tanpa harus ada aturan-aturan baku maupun kebiasaan-kebiasaan umum lainnya.

Saya tidak ikut merayakan Nyepi—tentu saja, saya bukan termasuk umat Hindu. Saya hanya ingin liburan, di rumah sahabat saya, berkumpul dengan Mbak Titin, Cacak, Zia—gadis manis berumur tujuh tahun itu—, berbagi pengalaman dan belajar bersama di Kelas Inspirasi, dan bertemu teman-teman baru di sana, serta melakukan hal-hal yang biasa saya lakukan ketika berada di Bondowoso: bangun pagi, mandi di sungai, sarapan penganan, ngopi, ngobrol sampai menjelang tengah hari, lalu makan masakan Mbak Titin—ya, yang enak itu, kemudian jalan-jalan menikmati alam Desa Glingseran dan sekitarnya, termasuk—tentu saja—wisata Rengganis dan Arak-Arak.

Di Bondowoso, lebih tepatnya di Desa Glingseran, Kecamatan Wringin,beberapa kartu seluler kesulitan untuk mendapatkan jaringan. Kurang lebih lima hari, saya hampir tidak memegang telepon pintar sama sekali.

Namun, di sinilah, saya bisa melihat sisi lain dari kehidupan, dan menemukan bahwa tidak semuanya tentang orang-orang yang berjalan tergesa-gesa sambil menunduk, melihat layar gadget, dan tidak semuanya tentang keriuhan media sosial yang semakin memuakkan.

Tidak semua tentang fitnah-memfitnah, ujaran kebencian, kebohongan, saling telikung-menelikung, tak peduli kawan maupun lawan, dan kekonyolan-kekonyolan yang diumbar tanpa rasa malu dan malah diagung-agungkan.

Tidak semuanya tentang capres-cawapres, caleg, dan kehidupan yang terus disumpal hal-hal yang berbau politik praktis.

Di sini, semuanya tentang kedamaian, kekeluargaan, keharmonisan, dan kebahagiaan.

***

Dan, seperti yang sudah saya duga, saya menyukai kehidupan seperti ini, kehidupan orang-orang yang menikmati setiap detik yang mereka miliki, kehidupan orang-orang yang melewatkan hari yang cerah dengan duduk-duduk di teras rumah sambil membuat pernyik—wadah ikan yang terbuat dari anyaman bambu—, ditemani secangkir kopi, sambil nglinting tembakau hasil panen sendiri.

Kehidupan yang sangat sederhana, begitu minimalis. Tak kalah dengan kaum-kaum minimalis yang banyak bermunculan di Jepang—yang mulai banyak dibicarakan sejak tahun 2010.

Mereka tidak perlu harus membaca buku The Life-Canging Magic of Tidying Up karya Marie Kondo—yang melejit-laris dan ikut mendorong merebaknya tren hidup minimalis—untuk bisa memahami bagaimana seni hidup sederhana, minimalis. Juga tidak perlu harus tahu apa yang melatari munculnya seni hidup minimalis ala Fumio Sasaki—yang menuangkan pemikirannya tentang hidup minimalis dalam buku berjudul Goodbya, Tings: Hidup Minimalis ala Orang Jepang.

Alam telah mengajarkan mereka tentang segalanya. Mereka tidak pernah bicara bahwa “neraka adalah orang lain” seperti Sartre. Mereka belajar dari bau tanah, lumpur, langit, alam semesta yang membuka diri, dan daratan yang diam tak disapa. Mereka hidup dengan konsep dan ide yang tak baku dan formal, tapi keindahan yang bersahaja dan primitif punya arti yang hangat di situ: kehangatan matahari yang menembus pori-pori.

Tak juga dapat diabaikan ialah citra mereka sebagai pembawa pesan moral—dan moral adalah sebuah kata yang penting bagi kesadaran bangsa ini. Mungkin ini juga yang tak ditawarkan oleh orang-orang yang hidup di kota, yang hidupnya selalu saja tentang pragmatis, individualis, tergesa-gesa.

Di sini, bersama orang-orang desa, saya menemukaan tanah masa kanak, suara rendah burung-burung, vibrasi pohon sengon dan kadal-kadal yang ingin tak terlihat. Dan mungkin ini semua bisa jadi hanya sebuah metafora: kiasan untuk masa lampau yang tak bisa dilepaskan oleh siapa pun. Saya menyukai kehidupan ini.

***

Faktanya, kebahagiaan, kedamaian, atau apa pun itu, tak mungkin abadi. Dalam sebuah  perjalanan, lalu singgah sebentar, kemudian merasakan kenyamanan, tetap saja kau harus kembali, menjalani rutinitas dari kehidupanmu sebelumnya. Justru—seperti yang pernah dituliskan oleh Mumu Aloha—di situlah seninya bepergian, merasakan bahwa setiap pengalama dalam hidup ini tidak ada yang abadi.

Satu saat kau di sana, saat yang lain kau di tempat yang lain lagi, dan suatu hari nanti, entah akan ke mana lagi. Seperti hujan yang datang sebentar, membasahi bumi yang kering, dan meneduhkan hati yang panas. Seperti mimpi yang mampir dalam tidurmu. Seperti lagu yang sesaat membuai jiwa, untuk kemudian menjadi kenangan, mungkin untuk selamanya.

Namun, suasana ini, gelak tawa ini, esensi ini, orang-orang ini telah menyadarkan saya bahwa saya takkan pernah sendirian. Mungkin liburan kali ini saya kehilangan makna “pulang”, tapi bukankah saya tidak pernah pergi? Bagi saya, di negeri ini, di mana pun saya berada, semuanya adalah rumah.

Dan jika kau bertanya, daerah mana yang paling berkesan yang pernah saya singgahi? Sejujurnya, saya tidak pernah punya jawabannya. Semua daerah memiliki cerita yang berbeda-beda. Yang sama hanyalah rasa sakit ketika berpisah. Karena perpisahan, semanis apa pun itu, seindah apa pun itu, perpisahan tetaplah perpisahan. Ada cerita yang harus berubah menjadi kenangan.

Panjang umur, kebahagiaan. [T]

Tags: BondowosodesaJawa Timurkebahagiaankehidupanliburanrenungan
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Next Post

Kembali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Kembali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co