23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
March 11, 2019
in Esai
Si Pungguk Akhirnya Menemukan Buku Kritik Sastra Katrin Bandel

Bagai si pungguk merindukan beasiswa, eh merindukan bulan, eh merindukan buku, akhirnya buku yang dirindukan pungguk ketemu juga.

Dari dulu ingin sekali saya memiliki buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Ya, seperti pungguk meridukan buku.

Padahal, seperti pungguk buruk rupa, saya tak mengerti banyak soal kritik sastra. Maka isenglah saya mencari-cari bagaimana rupa dan wajah teks kritik sastra itu. Saya belajar sana-sini, sedikit-sedikit, tapi lama-lama perasaan ini menjalar ke sekujur tubuh sehingga niatan untuk mencari buku kritik sastra yang benar-benar bernas dan serius dan berani, terus menggebu.

Saya pun memcari buku Katrin Bandel lewat dunia maya. Karena ternyata buku itu sudah lama ada di dunia nyata, tapi dasar saya memang pungguk, ya, tahunya baru belakang-belakangan ini.

Pencarian di toko buku dunia maya-maya pun dilakukan. Dari sekian toko buku hanya dua toko buku yang menuliskan stok sisa 1. 

“Selamat siang, Mas,” pesan saya kirimkan ke salah satu narahubung toko buku tersebut, sembari mengirimkan link dagangannya. Sepuluh menit tidak dibalas, saya mulai tidak enak badan, mual, perut kembung dan perasaan buku diambil duluan oleh orang jahat* pun tumbuh.

*Jahat di sini merujuk pada kutipan Joseph Brodsky yang kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bunyinya begini, “Ada yang lebih jahat dari membakar buku, tidak membacanya!”. Nah, saya kan takut itu terjadi, saya pun mengirimkan pesan lagi. 

“Mas.., Haloo .. cek, Mas! Cek..”

“P”

“P” 

“P” 

“P” 

Kata teman saya, kalau kita mengirimkan pesan dengan hanya huruf P, itu semacam ketika kita menggunakan BBM, jadi secara tidak langsung itu akan menimbulkan getar pada HP. Entah benar atau salah, saya melakukannya siapa tau aji mumpung.

Entah HP Mas-nya getar atau merasa terganggu oleh chat yang seperti itu, dia pun membalasnya, “Wah kalau itu sudah habis dulu mas. Yang lain mau, Mas?”

Saya pun menjawab, “Tidak Mas, tyada yang bisa. Saya tak bisa bersanding dengan yang lain.”

“Okeee! Bye!” Mas-nya membalas ketus. 

Singkat cerita, suatu hari di Jogja diadakanlah sebuah Festival Literasi dan Pasar Buku. Karena hati kecil saya waktu itu mengatakan akan ada banyak buku bagus nan langka, saya pun berangkat ke sana.

Perjuangan naik kereta selama 12 jam pun terbayarkan ketika saya menemukan buku ini di tumpukan dan tak terlihat ada yang mencarinya, seketika itu saya mengambilnya. Berikut saya tuliskan kenapa buku ini ingin sekali saya miliki. 

KMTKI

Membaca buku ini kita akan dihadapkan pada persoalan kritik sastra yang dilakukan begitu menarik oleh Katrin Bandel kepada karya sastra Indonesia pra dan pascakolonial. Katrin Bandel, dari namanya kayaknya udah bandel dan suka banget mengkritik ya.

Katrin Bandel adalah seorang penulis yang berasal dari Jerman. Dia menyelesaikan doktor dalam sastra Indonesia pada tahun 2004 di Universitas Hamburg, Jerman dengan judul “Pengobatan dan Ilmu Gaib dalam Prosa Modern Indonesia”.

Buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel

Katrin adalah seorang Indonesianis. Karena merasa ikut memiliki sastra Indonesia kebanyakan penelitiannya menggunakan bahasa Indonesia ketimbang menggunakan bahasa Inggris.

Tujuannya tak lain agar orang Indonesia sendiri punya kesempatan untuk mengakses penelitian-penelitian sastra di Indonesia. Lah, kok saya tau? Eits, saya bukan balian, cuman baca beberapa sumber aja. 

Ada beberapa bab dalam buku Sastra Nasionalisme Pascakolonialitas karya Katrin Bandel. Seperti pada bab Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (KMTKI), Katrin mekritik penerbitan KMTKI dilakukan jelas dalam kerangka politik identitas.

Bagi Katrin sendiri penerbitan KMTKI ini dipahami sebagai bagian dari kebangkitan politik identitas etnis Tionghoa setelah runtuhnya Orde Baru. Hal tersebut terungkap dengan cukup eksplisit dalam antologi itu sendiri.

Dalam pengantar “Sekapur Sirih” dijelaskan bahwa “kepeloporan [Peranakan Tionghoa] dalam proses kebangsaan Indonesia melalui perkembangan Kesastraan Melayu Tionghoa selama ini kurang mendapat pengakuan. Penjelasan ini mengisyaratkan bahwa tujuan penerbitan adalah untuk menuntut agar sekian banyak karya yang selama ini dilupakan, diakui sebagai bagian dari sastra Indonesia.

Dalam bab yang sama Katrin juga mengkritik soal isi dari KMTKI ini, apalagi yang jilid 1. Meskipun antologinya berjudul Kesusastraan, apalagi jika mengarah kepada pengakuan sebagai karya yang bernilai “sastra”, antologi ini sudah melenceng karena di KMTKI jilid 1 terdapat dua teks yang jelas-jelas bukan karya sastra yaitu “kitab eja” yang tampaknya disusun sebagai bahan ajar anak-anak sekolah dasar dan juga informasi dan ulasan mengenai olahraga tinju.

Jadi, antologi ini pun dikritiknya sebagai antologi yang dipenuhi ketidaktegasan mengenai kriteria pemilihan karya. 

Laskar Pelangi

Pada bab Laskar Pelangi, dia mempertanyakan posisi Laskar Pelangi sebagai sebuah karya terjemahan atau sanduran. Hal ini karena pada versi bahasa Inggrisnya ada begitu banyak pembaruan yang dilakukan bahkan hingga melebihi 10 bab dari versi aslinya.

Sehingga, ada sedikit kerancuan jika karya tersebut dikatakan sebagai sebuah karya terjemahan karena selain ditambahkannya bab yang tak sedikit, hadirnya karakter baru juga membuat karya versi bahasa Inggris ini semakin jauh dari aslinya meskipun dari segi judul, versi bahasa Inggris diterjemahkan langsung menjadi The Rainbow Troops. Versi Inggris “diterjemahkan” Angie Kilbane. 

Andrea Hirata tidak hanya sekedar memposisikan diri sebagai penghibur tapi juga sebagai sejenis pembela keadilan. Namun dengan adanya eksotisasi penderitaan dalam beberapa contoh versi inggrisnya, juga informasi menyesatkan mengenai kebudayaan Indonesia, sistem pendidikan Indonesia dan sebagainya, lewat kritiknya Katrin mempertanyakan, apakah kita masih dapat percaya cita-cita luhur Andrea Hirata? 

Pada bab yang sama, membaca catatan kaki tentang pengakuan prestasi ke”internasionalan” Andrea Hirata membuat saya tertawa.

 “Hampir seratus tahun kita menanti adanya karya anak bangsa yang mendunia, tapi alhamdullilah hari ini semua terbukti setelah buku saya menjadi best seller dunia.”(metrotvnews.com, 12 Februari 2013).

Lucu saja, Andrea Hirata begitu pongah mengakui prestasi keinternasionalannya, apa dia tidak sadar Pramoedya Ananta Toer pernah mendapat nominasi nobel dan karyanya diterjemahkan dalam beberapa bahasa bin digunakan sebagai buku yang harus dibaca untuk belajar tentang Indonesia? 

Andrea Hirata kini memposisikan diri sebagai penulis Indonesia yang sukses di luar negeri. Namun, siapa sebetulnya yang menulis novel yang sukses di luar Indonesia tersebut? Apakah The Rainbow Troops merupakan karya Andrea Hirata sendiri? Ataukah itu kolaborasi antara dirinya dan Angie Kilbane?

Seksualitas dan Sastra Indonesia

Tak berhenti di sana, Katrin juga menyinggung Seksualitas dalam Sastra Indonesia. Salah satunya, kritiknya kepada Saman karya Ayu Utami yang bagi pembaca dikaitkan dengan feminisme, kebebasan seksual, dan kebaruan dalam dunia sastra Indonesia dikatakan olehnya adalah sebuah bentuk yang salah kaprah.

Bagi Katrin membaca Saman karya Ayu Utami tidak memberinya informasi apapun mengenai feminisme. Dia pun sangat menyayangkan jika ada orang yang menyamakan atau secara spontan menghubungkan feminisme dengan Ayu Utami, atau menyamakan feminisme dengan pembebasan seksual atau dengan seks bebas.

Definisi feminisme yang keliru tersebut cukup merugikan menurut pandangan Katrin karena menimbulkan kesan seakan-akan “maju” atau “terbelakang” nya seorang perempuan tergantung terutama pada perilaku seksualnya.

Hal ini dijelaskannya begitu runut hingga kritik mengarah ke tulisan Goenawan Mohamad (GM) yang berbicara soal Ayu Utami dan karyanya “The Body is Heard” yang cenderung politis.

Dalam tulisannya, GM mengatakan bahwa Ayu Utami pada rejim Orde Baru adalah salah satu dari sangat sedikit penulis Indonesia yang melawan kecenderungan umum apalagi Ayu Utami dikatakan memiliki bahasa yang khas.

Pernyataan GM yang seperti itu sempat dikritik oleh Katrin karena dipandang sebagai pernyataan yang sangat berlebihan. Karena bagi Katrin sendiri sebagian besar sastrawan pada rejim itu bersikap kritis, apalagi tahun-tahun terakhir rejim. Sastrawan pada masa itu justru mencari gaya dan cara penyampaian kritik yang berbeda (karena kebebasan berpendapat sangat terbatas) sehingga tidak menyampaikan protes dengan lantang. 

Lebih jauh Katrin juga mengkritik soal GM yang menghubungkan persoalan perlawan terhadap rejim Orde Baru dan persoalan bahasa Ayu Utami yang konon menjadi terobosan baru tersebut dengan keperempuanan.

Katrin mempertanyakan seperti apa bahasa terobosan baru yang khas? Yang begitu feminis? Yang menghadirkan tubuh dalam bahasa? Maka bagi Katrin sendiri semua itu hanya klaim yang cukup luar biasa. Yang sulit dipahami karena memakai kata atau ekspresi yang kurang lazim digunakan atau bahkan tidak pernah digunakan dalam bahasa Indonesia.

Maka, bagi Katrin, GM dalam tulisannya hanya menuliskan asumsi dan renungan abstrak yang tidak dipertanggungjawabkan lewat argumentasi dan bukti. 

Rekomendasi

Nah, itu sedikit bocoran dalam buku ini hehe. Masih buanyak hal seru lainnya yang kawan-kawan pasti dapat lewat buku ini. Saya merekomendasikan buku ini bagi kawan-kawan yang tertarik untuk tahu beberapa esai kritik sastra Katrin Bandel pra dan pascakolonial.

Buku ini juga mengajak kita untuk melihat celah-celah kecil gagasan yang diusung oleh beberapa karya sastra agar tak terbawa oleh arus sastra yang dipolitisi. Ya selain sebagai bacaan latihan belajar berpikir kritis kawan-kawan semua. Belajar sepanjang hayat toh? 

Sering-sering buka tatkala.co, di kolom RAK BUKU nanti kita bicara buku lebih lanjut, jika ada waktu hahaa. Paling tidak, sebulan sekali ya. Komen jika ada judul buku seru, siapa tau nanti ulasannya di Rak Buku. 

Dua tiga anjing menggonggong, share yang rajin dong. Terima kasih. [T]

Tags: BukukritiksastraSastra Indonesiatoko buku
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Obrolan Porno – Bacaan Orang Dewasa

Next Post

Semua Adalah Rumah

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Siapa Orang yang Paling Baik?

Semua Adalah Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co