13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 9, 2023
in Esai
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEJAK MERDEKA, Indonesia sudah 11 kali mengganti Kurikulum. Rerata Kurikulum di negeri ini berganti setiap 7 tahun. Ketika Kurikulum 2013 sedang suntuk diberlakukan,tiba-tiba Pandemi menghantam pada 2020 lalu muncul Kurikulum Prototife dan dikukuhkan menjadi Kurikum Merdeka pada 2021. Nyaris tiada kemantapan dinamis di kalangan guru dalam melaksanakan Kurikulum. Kegelisahan demi kegelisahan muncul sejak Pandemi Covid-19 di tengah wacana menghilangnya TPG dalam RUU Sisdiknas tahun lalu yang  kontroversial itu. Beritanya, kini nyaris tak terdengar. 

Kegelisahan lain adalah lambannya pemenuhan 1 juta guru P3K yang dijanjikan Mas Nadiem sejak menjabat sebagai Mendikbud Ristek. Kebijakan P3K diinisiasi untuk mengatasi kekurangan guru yang banyak pensiun. Kegelisahan berikutnya adalah berlikunya jalan guru  menjelang pensiun untuk meraih tiket jabatan fungsional Guru Utama dengan golongan ruang IV/d melalui Penetapan Angka Kredit (PAK) walaupun semua persyaratan telah dipenuhi. Untuk sampai lulus PAK Guru Utama, guru  wajib meneliti dan presentasi di hadapan dewan juri untuk mendapatkan predikat kelulusan (setara orasi ilmiah bagi jabatan guru besar di Perguruan Tinggi). Sebelum itu, guru wajib menulis buku dan mempublikasikan karya ilmiahnya di Jurnal terakreditasi dengan mengumpulkan angka kredit minimal 14 dari  unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif. 

Setelah itu, guru wajib mengikuti Uji Kompetensi Jabatan Fungsional (UKJF) untuk mendapatkan sertifikat kelulusan. Sampai  2023, tidak banyak guru yang berhasil lulus UKJF (kurang dari 100 orang guru di seluruh Indonesia). Mereka adalah guru Jenderal yang berjuang dengan semangat literasi di atas rata-rata setara dengan pencapaian jabatan Guru Besar (Profesor). Namun, di antara yang sedikit itu pun, jalan berliku menghadangnya. Tidak dengan sendirinya bisa naik ke jafung Guru Utama dengan Golongan Ruang IV/d.  Akar masalahnya bermula dari regulasi yang ‘’kurang ramah’’ guru. Inilah dilema guru di tengah semangat Merdeka Belajar dengan Kurikulum Merdeka.

Dalam suasana demikianlah Kurikulum Merdeka dijalankan dengan aneka tuntutan administrasi yang merepotkan guru. Namun, setiap kali Kurikulum baru diluncurkan, testimoni dari para guru yang beruntung mengikuti diklat selalu mengatakan Kurikulum terbaik pada zamannya. Oleh karena itu, Kurikulum di Indonesia cocok menggunakan pendekatan Desa, Kala, Patra, sebagaimana kearifan lokal Bali diinternalisasikan sejak dahulu hingga kini.

Kurikulum Merdeka adalah Kurikulum yang disesuaikan dengan desa (tempat), kala (waktu), patra (cara) zaman. Kurikulum apa pun namanya selalu mendapat tempat  (desa) di hati pendidik sebagai pelaksana utama di akar rumput. Desa diartikulasikan sebagai semua tempat (rumah, sekolah, alam semesta dengan segala isinya) adalah sekolah kehidupan dengan menjadikan setiap orang adalah guru.

Dalam pembelajaran di sekolah, guru dapat  berkolaborasi dengan para pakar dan  praktisi untuk menguatkan alur pencapaian tujuan pembelajaran agar peserta didik tidak tersesat di belantara informasi tanpa filter. Selain meneladani guru di sekolah, peserta didik juga diinspirasi oleh pakar dan praktisi sehingga pembelajaran berlangsung secara kontekstual.

Semua tempat termasuk alam beserta isinya adalah sekolah kehidupan dengan jurusan beragam. Di situ peserta didik bersekolah sesungguhnya, tidak terpisah oleh ruang kelas sebagaimana diformalkan selama bertahun-tahun.  Inilah semangat Merdeka Belajar dalam lokus desa (tempat) dengan kearifan Desa Mawacara.

Implikasinya dalam sekolah formal adalah penjabaran visi dan misi sekolah yang berbeda dengan keunikannya masing-masing.  Semua warga sekolah  mesti memahami visi misinya tanpa membanding-bandingkan dengan sekolah lain yang memang berbeda. Mereka mesti beradaptasi dan tunduk  dengan Desa Mawacara pangkalan  sekolahnya, yang visi-misinya disusun bersama. 

Kala (waktu) dalam konteks Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berbasis kesadaran historis dalam konsep Tri Semaya :  atita (dulu), wartamana (kini), dan  nagata (nanti). Titik-titik garis waktu kesejarahan tidak boleh putus dan harus linier dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  oleh seluruh warga negara sebagai peserta didik di sekolah kehidupan. Inilah yang disebut kontinuitas dalam Trikon Ki Hadjar  Dewantara.  Bung Karno menyebutnya  Jas Merah,“Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sebuah ajakan untuk menghargai waktu dengan menyadari dialektika sejarah.

Patra (cara, metode) dalam Kurikulum Merdeka mengacu pada pembelajaran menggunakan  metode eklektik sebagai kombinasi antara cara tradisional, modern, dan digital untuk mewahanai kebutuhan siswa secara optimal. Tidak ada satu pun metode terbaik dalam pembelajaran, karena semua metode tidak berdiri sendiri. Ini sejalan dengan teori aktor jaringan dalam sastra. Semua komponen penting, begitu juga dengan aneka metode, semuanya penting dan berkeunggulan, di samping punya kelemahan.

Tugas guru adalah menggabungkan keunggulan masing-masing metode dari yang tradisional, modern, dan digital untuk mencapai puncak prestasi. Prestasi yang diraih secara bermartabat   tidak dengan menjelek-jelekkan metode yang satu dengan yang lain. Begitu pula halnya dengan pembelajaran demokrasi hari ini, kemenangan diraih dengan memuliakan lawan (di-wongke). Kesadaran demikian adalah bagian dari proses transformasi budaya yang cerdas dengan pendekatan teknohumanistik untuk meningkatkan mutu lulusan berkarakter Profil Pelajar Pancasila.

Kurikulum Merdeka dengan pendekatan desa, kala, patra adalah Kurikulum ideal bagi Indonesia yang wilayahnya luas dengan beragam adat, agama, budaya, suku, flora fauna, struktur geogafis, dan keberagaman lainnya. Ketika penulis menjadi guru pamong mendampingi guru peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Papua misalnya,  ditemukan  sampai hari ini masih ada yang menggunakan KTSP (2006) padahal Kurikulum 2013 sudah diganti dengan Kurikulum Merdeka.

Guru ini mengatakan tidak pernah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). “Saya hanya fokus belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pasalnya, siswa  SMA di sekolah saya belum bisa membaca. Mereka mesti merdeka dari buta huruf untuk bisa membaca.  Merdeka Belajar model apa yang harus dijalankan?’, katanya retoris melalui zoom metting.

Inilah potret disparitas pendidikan Indonesia kini di tengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka mudah diucapkan tetapi jalan berliku menghadang seperti pejuang memerdekakan negeri ini. Diperlukan semangat kerja keras, cerdas, ikhlas menuntaskan  hingga merasuk ke rumah batin bangsanya, sebagaimana kerja nyata pahlawan bangsa. Selamat Hari Pahlawan 2023 : Semangat Pahlawan untuk Masa Depan Bangsa dalam Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan. Merdeka ! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 
Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spoil System, Perusak Transformasi  ASN

Next Post

Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co