24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 9, 2023
in Esai
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEJAK MERDEKA, Indonesia sudah 11 kali mengganti Kurikulum. Rerata Kurikulum di negeri ini berganti setiap 7 tahun. Ketika Kurikulum 2013 sedang suntuk diberlakukan,tiba-tiba Pandemi menghantam pada 2020 lalu muncul Kurikulum Prototife dan dikukuhkan menjadi Kurikum Merdeka pada 2021. Nyaris tiada kemantapan dinamis di kalangan guru dalam melaksanakan Kurikulum. Kegelisahan demi kegelisahan muncul sejak Pandemi Covid-19 di tengah wacana menghilangnya TPG dalam RUU Sisdiknas tahun lalu yang  kontroversial itu. Beritanya, kini nyaris tak terdengar. 

Kegelisahan lain adalah lambannya pemenuhan 1 juta guru P3K yang dijanjikan Mas Nadiem sejak menjabat sebagai Mendikbud Ristek. Kebijakan P3K diinisiasi untuk mengatasi kekurangan guru yang banyak pensiun. Kegelisahan berikutnya adalah berlikunya jalan guru  menjelang pensiun untuk meraih tiket jabatan fungsional Guru Utama dengan golongan ruang IV/d melalui Penetapan Angka Kredit (PAK) walaupun semua persyaratan telah dipenuhi. Untuk sampai lulus PAK Guru Utama, guru  wajib meneliti dan presentasi di hadapan dewan juri untuk mendapatkan predikat kelulusan (setara orasi ilmiah bagi jabatan guru besar di Perguruan Tinggi). Sebelum itu, guru wajib menulis buku dan mempublikasikan karya ilmiahnya di Jurnal terakreditasi dengan mengumpulkan angka kredit minimal 14 dari  unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif. 

Setelah itu, guru wajib mengikuti Uji Kompetensi Jabatan Fungsional (UKJF) untuk mendapatkan sertifikat kelulusan. Sampai  2023, tidak banyak guru yang berhasil lulus UKJF (kurang dari 100 orang guru di seluruh Indonesia). Mereka adalah guru Jenderal yang berjuang dengan semangat literasi di atas rata-rata setara dengan pencapaian jabatan Guru Besar (Profesor). Namun, di antara yang sedikit itu pun, jalan berliku menghadangnya. Tidak dengan sendirinya bisa naik ke jafung Guru Utama dengan Golongan Ruang IV/d.  Akar masalahnya bermula dari regulasi yang ‘’kurang ramah’’ guru. Inilah dilema guru di tengah semangat Merdeka Belajar dengan Kurikulum Merdeka.

Dalam suasana demikianlah Kurikulum Merdeka dijalankan dengan aneka tuntutan administrasi yang merepotkan guru. Namun, setiap kali Kurikulum baru diluncurkan, testimoni dari para guru yang beruntung mengikuti diklat selalu mengatakan Kurikulum terbaik pada zamannya. Oleh karena itu, Kurikulum di Indonesia cocok menggunakan pendekatan Desa, Kala, Patra, sebagaimana kearifan lokal Bali diinternalisasikan sejak dahulu hingga kini.

Kurikulum Merdeka adalah Kurikulum yang disesuaikan dengan desa (tempat), kala (waktu), patra (cara) zaman. Kurikulum apa pun namanya selalu mendapat tempat  (desa) di hati pendidik sebagai pelaksana utama di akar rumput. Desa diartikulasikan sebagai semua tempat (rumah, sekolah, alam semesta dengan segala isinya) adalah sekolah kehidupan dengan menjadikan setiap orang adalah guru.

Dalam pembelajaran di sekolah, guru dapat  berkolaborasi dengan para pakar dan  praktisi untuk menguatkan alur pencapaian tujuan pembelajaran agar peserta didik tidak tersesat di belantara informasi tanpa filter. Selain meneladani guru di sekolah, peserta didik juga diinspirasi oleh pakar dan praktisi sehingga pembelajaran berlangsung secara kontekstual.

Semua tempat termasuk alam beserta isinya adalah sekolah kehidupan dengan jurusan beragam. Di situ peserta didik bersekolah sesungguhnya, tidak terpisah oleh ruang kelas sebagaimana diformalkan selama bertahun-tahun.  Inilah semangat Merdeka Belajar dalam lokus desa (tempat) dengan kearifan Desa Mawacara.

Implikasinya dalam sekolah formal adalah penjabaran visi dan misi sekolah yang berbeda dengan keunikannya masing-masing.  Semua warga sekolah  mesti memahami visi misinya tanpa membanding-bandingkan dengan sekolah lain yang memang berbeda. Mereka mesti beradaptasi dan tunduk  dengan Desa Mawacara pangkalan  sekolahnya, yang visi-misinya disusun bersama. 

Kala (waktu) dalam konteks Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berbasis kesadaran historis dalam konsep Tri Semaya :  atita (dulu), wartamana (kini), dan  nagata (nanti). Titik-titik garis waktu kesejarahan tidak boleh putus dan harus linier dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  oleh seluruh warga negara sebagai peserta didik di sekolah kehidupan. Inilah yang disebut kontinuitas dalam Trikon Ki Hadjar  Dewantara.  Bung Karno menyebutnya  Jas Merah,“Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sebuah ajakan untuk menghargai waktu dengan menyadari dialektika sejarah.

Patra (cara, metode) dalam Kurikulum Merdeka mengacu pada pembelajaran menggunakan  metode eklektik sebagai kombinasi antara cara tradisional, modern, dan digital untuk mewahanai kebutuhan siswa secara optimal. Tidak ada satu pun metode terbaik dalam pembelajaran, karena semua metode tidak berdiri sendiri. Ini sejalan dengan teori aktor jaringan dalam sastra. Semua komponen penting, begitu juga dengan aneka metode, semuanya penting dan berkeunggulan, di samping punya kelemahan.

Tugas guru adalah menggabungkan keunggulan masing-masing metode dari yang tradisional, modern, dan digital untuk mencapai puncak prestasi. Prestasi yang diraih secara bermartabat   tidak dengan menjelek-jelekkan metode yang satu dengan yang lain. Begitu pula halnya dengan pembelajaran demokrasi hari ini, kemenangan diraih dengan memuliakan lawan (di-wongke). Kesadaran demikian adalah bagian dari proses transformasi budaya yang cerdas dengan pendekatan teknohumanistik untuk meningkatkan mutu lulusan berkarakter Profil Pelajar Pancasila.

Kurikulum Merdeka dengan pendekatan desa, kala, patra adalah Kurikulum ideal bagi Indonesia yang wilayahnya luas dengan beragam adat, agama, budaya, suku, flora fauna, struktur geogafis, dan keberagaman lainnya. Ketika penulis menjadi guru pamong mendampingi guru peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Papua misalnya,  ditemukan  sampai hari ini masih ada yang menggunakan KTSP (2006) padahal Kurikulum 2013 sudah diganti dengan Kurikulum Merdeka.

Guru ini mengatakan tidak pernah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). “Saya hanya fokus belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pasalnya, siswa  SMA di sekolah saya belum bisa membaca. Mereka mesti merdeka dari buta huruf untuk bisa membaca.  Merdeka Belajar model apa yang harus dijalankan?’, katanya retoris melalui zoom metting.

Inilah potret disparitas pendidikan Indonesia kini di tengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka mudah diucapkan tetapi jalan berliku menghadang seperti pejuang memerdekakan negeri ini. Diperlukan semangat kerja keras, cerdas, ikhlas menuntaskan  hingga merasuk ke rumah batin bangsanya, sebagaimana kerja nyata pahlawan bangsa. Selamat Hari Pahlawan 2023 : Semangat Pahlawan untuk Masa Depan Bangsa dalam Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan. Merdeka ! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 
Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spoil System, Perusak Transformasi  ASN

Next Post

Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co