2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
November 9, 2023
in Esai
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEJAK MERDEKA, Indonesia sudah 11 kali mengganti Kurikulum. Rerata Kurikulum di negeri ini berganti setiap 7 tahun. Ketika Kurikulum 2013 sedang suntuk diberlakukan,tiba-tiba Pandemi menghantam pada 2020 lalu muncul Kurikulum Prototife dan dikukuhkan menjadi Kurikum Merdeka pada 2021. Nyaris tiada kemantapan dinamis di kalangan guru dalam melaksanakan Kurikulum. Kegelisahan demi kegelisahan muncul sejak Pandemi Covid-19 di tengah wacana menghilangnya TPG dalam RUU Sisdiknas tahun lalu yang  kontroversial itu. Beritanya, kini nyaris tak terdengar. 

Kegelisahan lain adalah lambannya pemenuhan 1 juta guru P3K yang dijanjikan Mas Nadiem sejak menjabat sebagai Mendikbud Ristek. Kebijakan P3K diinisiasi untuk mengatasi kekurangan guru yang banyak pensiun. Kegelisahan berikutnya adalah berlikunya jalan guru  menjelang pensiun untuk meraih tiket jabatan fungsional Guru Utama dengan golongan ruang IV/d melalui Penetapan Angka Kredit (PAK) walaupun semua persyaratan telah dipenuhi. Untuk sampai lulus PAK Guru Utama, guru  wajib meneliti dan presentasi di hadapan dewan juri untuk mendapatkan predikat kelulusan (setara orasi ilmiah bagi jabatan guru besar di Perguruan Tinggi). Sebelum itu, guru wajib menulis buku dan mempublikasikan karya ilmiahnya di Jurnal terakreditasi dengan mengumpulkan angka kredit minimal 14 dari  unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif. 

Setelah itu, guru wajib mengikuti Uji Kompetensi Jabatan Fungsional (UKJF) untuk mendapatkan sertifikat kelulusan. Sampai  2023, tidak banyak guru yang berhasil lulus UKJF (kurang dari 100 orang guru di seluruh Indonesia). Mereka adalah guru Jenderal yang berjuang dengan semangat literasi di atas rata-rata setara dengan pencapaian jabatan Guru Besar (Profesor). Namun, di antara yang sedikit itu pun, jalan berliku menghadangnya. Tidak dengan sendirinya bisa naik ke jafung Guru Utama dengan Golongan Ruang IV/d.  Akar masalahnya bermula dari regulasi yang ‘’kurang ramah’’ guru. Inilah dilema guru di tengah semangat Merdeka Belajar dengan Kurikulum Merdeka.

Dalam suasana demikianlah Kurikulum Merdeka dijalankan dengan aneka tuntutan administrasi yang merepotkan guru. Namun, setiap kali Kurikulum baru diluncurkan, testimoni dari para guru yang beruntung mengikuti diklat selalu mengatakan Kurikulum terbaik pada zamannya. Oleh karena itu, Kurikulum di Indonesia cocok menggunakan pendekatan Desa, Kala, Patra, sebagaimana kearifan lokal Bali diinternalisasikan sejak dahulu hingga kini.

Kurikulum Merdeka adalah Kurikulum yang disesuaikan dengan desa (tempat), kala (waktu), patra (cara) zaman. Kurikulum apa pun namanya selalu mendapat tempat  (desa) di hati pendidik sebagai pelaksana utama di akar rumput. Desa diartikulasikan sebagai semua tempat (rumah, sekolah, alam semesta dengan segala isinya) adalah sekolah kehidupan dengan menjadikan setiap orang adalah guru.

Dalam pembelajaran di sekolah, guru dapat  berkolaborasi dengan para pakar dan  praktisi untuk menguatkan alur pencapaian tujuan pembelajaran agar peserta didik tidak tersesat di belantara informasi tanpa filter. Selain meneladani guru di sekolah, peserta didik juga diinspirasi oleh pakar dan praktisi sehingga pembelajaran berlangsung secara kontekstual.

Semua tempat termasuk alam beserta isinya adalah sekolah kehidupan dengan jurusan beragam. Di situ peserta didik bersekolah sesungguhnya, tidak terpisah oleh ruang kelas sebagaimana diformalkan selama bertahun-tahun.  Inilah semangat Merdeka Belajar dalam lokus desa (tempat) dengan kearifan Desa Mawacara.

Implikasinya dalam sekolah formal adalah penjabaran visi dan misi sekolah yang berbeda dengan keunikannya masing-masing.  Semua warga sekolah  mesti memahami visi misinya tanpa membanding-bandingkan dengan sekolah lain yang memang berbeda. Mereka mesti beradaptasi dan tunduk  dengan Desa Mawacara pangkalan  sekolahnya, yang visi-misinya disusun bersama. 

Kala (waktu) dalam konteks Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berbasis kesadaran historis dalam konsep Tri Semaya :  atita (dulu), wartamana (kini), dan  nagata (nanti). Titik-titik garis waktu kesejarahan tidak boleh putus dan harus linier dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara  oleh seluruh warga negara sebagai peserta didik di sekolah kehidupan. Inilah yang disebut kontinuitas dalam Trikon Ki Hadjar  Dewantara.  Bung Karno menyebutnya  Jas Merah,“Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sebuah ajakan untuk menghargai waktu dengan menyadari dialektika sejarah.

Patra (cara, metode) dalam Kurikulum Merdeka mengacu pada pembelajaran menggunakan  metode eklektik sebagai kombinasi antara cara tradisional, modern, dan digital untuk mewahanai kebutuhan siswa secara optimal. Tidak ada satu pun metode terbaik dalam pembelajaran, karena semua metode tidak berdiri sendiri. Ini sejalan dengan teori aktor jaringan dalam sastra. Semua komponen penting, begitu juga dengan aneka metode, semuanya penting dan berkeunggulan, di samping punya kelemahan.

Tugas guru adalah menggabungkan keunggulan masing-masing metode dari yang tradisional, modern, dan digital untuk mencapai puncak prestasi. Prestasi yang diraih secara bermartabat   tidak dengan menjelek-jelekkan metode yang satu dengan yang lain. Begitu pula halnya dengan pembelajaran demokrasi hari ini, kemenangan diraih dengan memuliakan lawan (di-wongke). Kesadaran demikian adalah bagian dari proses transformasi budaya yang cerdas dengan pendekatan teknohumanistik untuk meningkatkan mutu lulusan berkarakter Profil Pelajar Pancasila.

Kurikulum Merdeka dengan pendekatan desa, kala, patra adalah Kurikulum ideal bagi Indonesia yang wilayahnya luas dengan beragam adat, agama, budaya, suku, flora fauna, struktur geogafis, dan keberagaman lainnya. Ketika penulis menjadi guru pamong mendampingi guru peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Papua misalnya,  ditemukan  sampai hari ini masih ada yang menggunakan KTSP (2006) padahal Kurikulum 2013 sudah diganti dengan Kurikulum Merdeka.

Guru ini mengatakan tidak pernah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). “Saya hanya fokus belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pasalnya, siswa  SMA di sekolah saya belum bisa membaca. Mereka mesti merdeka dari buta huruf untuk bisa membaca.  Merdeka Belajar model apa yang harus dijalankan?’, katanya retoris melalui zoom metting.

Inilah potret disparitas pendidikan Indonesia kini di tengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka mudah diucapkan tetapi jalan berliku menghadang seperti pejuang memerdekakan negeri ini. Diperlukan semangat kerja keras, cerdas, ikhlas menuntaskan  hingga merasuk ke rumah batin bangsanya, sebagaimana kerja nyata pahlawan bangsa. Selamat Hari Pahlawan 2023 : Semangat Pahlawan untuk Masa Depan Bangsa dalam Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan. Merdeka ! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas
Membumikan Gerakan Sekolah Menyenangkan 
Tags: kurikulumkurikulum merdekaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Spoil System, Perusak Transformasi  ASN

Next Post

Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

Anak-Anak Pedawa dan Seni Melipat Kertas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co