2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 26, 2023
in Esai
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

Ilustrasi tatkala.co : Wiradinata

 “… Pengajaran harus bersifat kebangsaan…. Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali menjadi lawan kita …” (Ki Hadjar Dewantara).

DUNIA pendidikan kita kini sedang tidak baik-baik saja. Banyak kasus menimpa dunia pendidikan saat Program Merdeka Belajar gencar dilaksanakan. Di Bengkulu seorang guru bernama Zahraman (58) diketapel orangtua siswa karena  tidak terima anaknya ditegur merokok di sekolah. Akibatnya, sang guru buta permanen. Di Tangerang, siswa diculik gurunya.  Sebuah ironi di tengah kampanye Sekolah Aman dan ramah Anak. Mahasiswa senior membunuh yuniornya di Perguruan Tinggi ternama. Sungsangnya dunia pendidikan itu  masih bisa diperpanjang.

Kita menyayangkan tragedi demi tragedi menimpa dunia pendidikan, tempat yang ditasbihkan sebagai arena memanusiakan manusia. Setelah 78 Tahun Indonesia Merdeka,  pendidikan kita belum  naik kelas walaupun angka kelulusan terus naik 100%.

Secara statistik (2022) angka melek huruf  Indonesia Merdeka mencapai 96,35%, tetapi angka kesadaran aksara bermakna makin menurun. Indikatornya tiga dosa pendidikan (perundungan, intoleransi, radikalisme) masih terus mengintai. Makin banyaknya sampah komunikasi di media sosial yang ditebar oleh mereka yang melek huruf adalah indikator lain.  Sampah komunikasi   tidak tanggung-tanggung diproduksi  oleh publik figur yang  seharusnya diteladani.  Semua itu akan menjadi pelajaran bagi semua anak bangsa yang terkoneksi tanpa batas melalui media sosial.

Sri Edi Swasono (2016) menengerai hal itu sebagai gagalnya  pendidikan menjadi instrumen pembudayaan sejak Proklamasi Kemerdekaan. Baginya, Proklamasi adalah pernyataan kemerdekaan sekaligus pernyataan kebudayaan. Sebagai pernyataan kemerdekaan, Proklamasi  adalah permakluman kepada dunia Internasional bahwa Indonesia telah sampai pada titik kulminasi perjuangan bangsa yang diraih melalui pengorbanan pantang menyerah tak gentar lawannya seribu kali. Chairil Anwar mencatat  sebagai “luka dan bisa kubawa berlari. Berlari hingga hilang perih-peri”.

Pesan itu sebagai pernyataan sikap  betapa gigihnya semangat pendiri bangsa membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Mendobrak penjajah sampai ke depan pintu kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Inilah revolusi Indonesia sesungguhnya. Tugas selanjutnya adalah masuk ke ruang rumah (batin) bangsa untuk merawat cinta kasih melalui pendidikan.

Sebagai pernyataan kebudayaan, Proklamasi Kemerdekaan adalah dokumen budaya yang dihasilkan melalui cipta, rasa, karsa para pendiri bangsa setelah suntuk berkontemplasi menggali mutiara di bumi pertiwi Nusantara yang akarnya ditemukan jauh sebelum kedatangan penjajah. Kerja cerdas para penggali mutiara yang literat berkeadaban berhasil merumuskan Proklamasi  dan UUD 1945 dengan bernas. Kebernasannya mengalami pendangkalan semakin jauh dari babonnya, seiring dengan makin tuanya usia kemerdekaan. Makin jauh jarak waktu kita merdeka, nilai patriotisme makin samar-samar. Di sini berlaku  teori medan makna  yang diandaikan dengan melemparkan batu ke pusaran air. Pusaran keras dan kuat terasa dipusat batu jatuh, makin menjauh makin lemah bahkan nyaris tak terasa.

Melemahnya semangat nasionalisme menurut Sri Edi Swasono (2016) disebabkan oleh kekhilafan kita  dalam pembudayaan Pancasila dan pembudayaan semangat kemerdekaan melalui arah pendidikan nasional. Kurikulum sudah 11 kali berubah sejak Indonesia Merdeka. Pancasila sebagai mata pelajaran timbul tenggelam dalam struktur Kurikulum. Saat Orde Baru, Pancasila muncul dalam mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dari SD – SMA/SMK dan diperkuat dengan Penataran P-4 di bawah lembaga BP-7. Di Perguruan Tinggi,  mahasiswa OSPEK wajib mengikuti Penataran P-4 Pola 100 jam yang dikonversi menjadi 2 SKS mata kuliah Pancasila.   

Kini MPR mengembangkan pola sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). Sosialisasi umumnya bersifat musiman, musim reses yang difasilitasi oleh MPR. Jangkauannya terbatas dengan menggandeng  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

 Pembudayaan semangat Kemerdekaan melalui arah Pendidikan Nasional kini berhadapan dengan semakin menguatnya budaya materialistik, hedonis, instan, terburu-buru dengan mengorbankan proses. Hujan protes makin marak tanpa etika. Protes tanpa proses berpikir yang memanusiakan membuat kegaduhan. Saling caci dan saling hujat bertebaran di media sosial dilakukan oleh orang-orang dewasa berpendidikan tinggi. Tingginya pendidikan tidak berelasi dengan ahlak mulia bangsa yang berperadaban Pancasila. Taufiq Ismail (2000) dalam puisi berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia menuliskan, “… Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/Hukum tak tegak, doyong berderak-derak….”

 Setelah 78 Tahun Merdeka, sejarah mencatat kemajuan fisik pembangunan bergerak cepat di seluruh negeri. Namun, kita gagal mengubah pola pikir (mindset) untuk melaksanakan amanat Proklamasi sebagai produk kebudayaan (Sri Edi Swasono, 2016). Sejak 2011, Kemediknas berupaya membangkitkan kesadaran budaya melalui penguatan karakter bangsa dengan 18 nilai  yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,  demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,  menghargai prestasi, komunikatif/bersahabat,  cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

 Di dalam Kurikulum Merdeka, ke-18 nilai itu diterjemahkan ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan 6 indikator. Tujuannya jelas untuk kembali pada ajaran Ki Hadjar Dewantara seperti dikutip pada awal tulisan ini.

Begitulah negeri ini sudah 78 Tahun Merdeka lulus dari ujian kekerasan kolonial, lulus dari kekerasan G30S/PKI (1965), lulus dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 tetapi terasa belum mampu naik kelas. Indonesia Raya terus berhasil dikumandangkan tetapi pengamalannya masih perlu terus diperjuangkan.. “… Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya….”  Inilah  renungan 95 Tahun Sumpah Pemuda  yang mengusung tema, “Bersama Majukan Indonesia”.  Pantang api semangat dipadamkan! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Tags: PendidikanPolitiksekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being

Next Post

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” -- Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co