2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 26, 2023
in Esai
Lulus Tetapi Tidak Naik Kelas

Ilustrasi tatkala.co : Wiradinata

 “… Pengajaran harus bersifat kebangsaan…. Kalau pengajaran bagi anak-anak tidak berdasarkan kenasionalan, anak-anak tak mungkin mempunyai rasa cinta bangsa dan makin lama terpisah dari bangsanya, kemudian barangkali menjadi lawan kita …” (Ki Hadjar Dewantara).

DUNIA pendidikan kita kini sedang tidak baik-baik saja. Banyak kasus menimpa dunia pendidikan saat Program Merdeka Belajar gencar dilaksanakan. Di Bengkulu seorang guru bernama Zahraman (58) diketapel orangtua siswa karena  tidak terima anaknya ditegur merokok di sekolah. Akibatnya, sang guru buta permanen. Di Tangerang, siswa diculik gurunya.  Sebuah ironi di tengah kampanye Sekolah Aman dan ramah Anak. Mahasiswa senior membunuh yuniornya di Perguruan Tinggi ternama. Sungsangnya dunia pendidikan itu  masih bisa diperpanjang.

Kita menyayangkan tragedi demi tragedi menimpa dunia pendidikan, tempat yang ditasbihkan sebagai arena memanusiakan manusia. Setelah 78 Tahun Indonesia Merdeka,  pendidikan kita belum  naik kelas walaupun angka kelulusan terus naik 100%.

Secara statistik (2022) angka melek huruf  Indonesia Merdeka mencapai 96,35%, tetapi angka kesadaran aksara bermakna makin menurun. Indikatornya tiga dosa pendidikan (perundungan, intoleransi, radikalisme) masih terus mengintai. Makin banyaknya sampah komunikasi di media sosial yang ditebar oleh mereka yang melek huruf adalah indikator lain.  Sampah komunikasi   tidak tanggung-tanggung diproduksi  oleh publik figur yang  seharusnya diteladani.  Semua itu akan menjadi pelajaran bagi semua anak bangsa yang terkoneksi tanpa batas melalui media sosial.

Sri Edi Swasono (2016) menengerai hal itu sebagai gagalnya  pendidikan menjadi instrumen pembudayaan sejak Proklamasi Kemerdekaan. Baginya, Proklamasi adalah pernyataan kemerdekaan sekaligus pernyataan kebudayaan. Sebagai pernyataan kemerdekaan, Proklamasi  adalah permakluman kepada dunia Internasional bahwa Indonesia telah sampai pada titik kulminasi perjuangan bangsa yang diraih melalui pengorbanan pantang menyerah tak gentar lawannya seribu kali. Chairil Anwar mencatat  sebagai “luka dan bisa kubawa berlari. Berlari hingga hilang perih-peri”.

Pesan itu sebagai pernyataan sikap  betapa gigihnya semangat pendiri bangsa membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Mendobrak penjajah sampai ke depan pintu kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Inilah revolusi Indonesia sesungguhnya. Tugas selanjutnya adalah masuk ke ruang rumah (batin) bangsa untuk merawat cinta kasih melalui pendidikan.

Sebagai pernyataan kebudayaan, Proklamasi Kemerdekaan adalah dokumen budaya yang dihasilkan melalui cipta, rasa, karsa para pendiri bangsa setelah suntuk berkontemplasi menggali mutiara di bumi pertiwi Nusantara yang akarnya ditemukan jauh sebelum kedatangan penjajah. Kerja cerdas para penggali mutiara yang literat berkeadaban berhasil merumuskan Proklamasi  dan UUD 1945 dengan bernas. Kebernasannya mengalami pendangkalan semakin jauh dari babonnya, seiring dengan makin tuanya usia kemerdekaan. Makin jauh jarak waktu kita merdeka, nilai patriotisme makin samar-samar. Di sini berlaku  teori medan makna  yang diandaikan dengan melemparkan batu ke pusaran air. Pusaran keras dan kuat terasa dipusat batu jatuh, makin menjauh makin lemah bahkan nyaris tak terasa.

Melemahnya semangat nasionalisme menurut Sri Edi Swasono (2016) disebabkan oleh kekhilafan kita  dalam pembudayaan Pancasila dan pembudayaan semangat kemerdekaan melalui arah pendidikan nasional. Kurikulum sudah 11 kali berubah sejak Indonesia Merdeka. Pancasila sebagai mata pelajaran timbul tenggelam dalam struktur Kurikulum. Saat Orde Baru, Pancasila muncul dalam mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dari SD – SMA/SMK dan diperkuat dengan Penataran P-4 di bawah lembaga BP-7. Di Perguruan Tinggi,  mahasiswa OSPEK wajib mengikuti Penataran P-4 Pola 100 jam yang dikonversi menjadi 2 SKS mata kuliah Pancasila.   

Kini MPR mengembangkan pola sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). Sosialisasi umumnya bersifat musiman, musim reses yang difasilitasi oleh MPR. Jangkauannya terbatas dengan menggandeng  Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

 Pembudayaan semangat Kemerdekaan melalui arah Pendidikan Nasional kini berhadapan dengan semakin menguatnya budaya materialistik, hedonis, instan, terburu-buru dengan mengorbankan proses. Hujan protes makin marak tanpa etika. Protes tanpa proses berpikir yang memanusiakan membuat kegaduhan. Saling caci dan saling hujat bertebaran di media sosial dilakukan oleh orang-orang dewasa berpendidikan tinggi. Tingginya pendidikan tidak berelasi dengan ahlak mulia bangsa yang berperadaban Pancasila. Taufiq Ismail (2000) dalam puisi berjudul Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia menuliskan, “… Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak/Hukum tak tegak, doyong berderak-derak….”

 Setelah 78 Tahun Merdeka, sejarah mencatat kemajuan fisik pembangunan bergerak cepat di seluruh negeri. Namun, kita gagal mengubah pola pikir (mindset) untuk melaksanakan amanat Proklamasi sebagai produk kebudayaan (Sri Edi Swasono, 2016). Sejak 2011, Kemediknas berupaya membangkitkan kesadaran budaya melalui penguatan karakter bangsa dengan 18 nilai  yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,  demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air,  menghargai prestasi, komunikatif/bersahabat,  cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

 Di dalam Kurikulum Merdeka, ke-18 nilai itu diterjemahkan ke dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan 6 indikator. Tujuannya jelas untuk kembali pada ajaran Ki Hadjar Dewantara seperti dikutip pada awal tulisan ini.

Begitulah negeri ini sudah 78 Tahun Merdeka lulus dari ujian kekerasan kolonial, lulus dari kekerasan G30S/PKI (1965), lulus dari peristiwa kerusuhan Mei 1998 tetapi terasa belum mampu naik kelas. Indonesia Raya terus berhasil dikumandangkan tetapi pengamalannya masih perlu terus diperjuangkan.. “… Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya….”  Inilah  renungan 95 Tahun Sumpah Pemuda  yang mengusung tema, “Bersama Majukan Indonesia”.  Pantang api semangat dipadamkan! [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Tags: PendidikanPolitiksekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being

Next Post

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” — Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

“Batik Bisa Bicara Tentang Ekofeminisme” -- Membidik Suara Alam Yogyakarta untuk Dunia Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co