23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 29, 2023
in Esai
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co

BERKUMPULNYA para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, 17 tahun sebelum Indonesia merdeka tidak dapat dilepaskan dari tonggok perjuangan bangsa dengan berdirinya organisasi kebangsaan, Budi Oetomo yang menjadi cikal bakal Kebangkitan Nasional. Perlu waktu 20 tahun menuju Sumpah Pemuda, sejak Budi Oetomo lahir.

Sesuai dengan namanya, Budi Oetomo lebih mengedepankan keutamaan budi dalam perjuangan yang berelasi dengan politik etis Belanda, khususnya bidang edukasi yang didukung oleh kaum muda literat. Kaum muda yang membaca serius jiwa bangsanya  dengan menyelam sedalam-dalamnya merasakan ketertindasan dari kaum penjajajah. Mereka Bersatu padu dari berbagai daerah didasari persamaan senasib, sepenanggungan, sependeritaan, dan sefrekuensi dengan api semangat pantang menyerah. Benar-benar, jiwa raganya dipertaruhkan demi sebuah cita-cita : Indonesia Merdeka.

Indonesia merdeka adalah imajinasi kaum muda sejak munculnya kesadaran nasional 1908, yang sebelumnya bersifat kedaerahan dan mudah dipecah-belah kaum penjajah, dengan politik devide et empera. Kesadaran nasional lahir dari keseriusan berliterasi untuk menerangi lorong-lorong kegelapan jiwa dengan aksara bermakna melalui kesadaran akan Pendidikan.

Kesadaran itulah dikuasai Belanda sehingga berhasil menjajah Indonesia selama 3,5 abad dengan membatasi Pendidikan warga di daerah jajahannya. Strategi itu mengonfirmasi bahwa, untuk menghancurkan suatu bangsa dengan dua cara  : melakukan peperangan dan menghancurkan pendidikan. Keduanya berhasil dimainkan Belanda di daerah jajahannya. Dalam konteks ini, sungguh visioner rumusan tujuan negara dalam Mukadimah UUD’45 yaitu ikut menjaga perdamaian dunia dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berbicara mengenai imajinasi kemerdekaan kaum muda Indonesia masa kolonial, tidak dapat dilepaskan dari organisasi pergerakan dan alat komunikasi untuk menggerakkan. Sejurus dengan itu, Umbu Landu Paranggi menyebut Sumpah Pemuda sebagai puisi besar kebangsaan yang kelak mengantarkan Indonesia Merdeka.

Jika Budi Oetomo menyediakan keutamaan budi melalui jalan  edukasi merintis perjuangan kemerdekaan, maka Sumpah Pemuda menjadi era penggalangan pemuda dari berbagai daerah  untuk bersumpah menyatakan  ikrar (janji suci)  dengan  mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. 

Menarik  dicermati, bersatunya pemuda dari berbagai daerah yang mewakili organisasi daerah yang disebut Jong Java, Jong Slebes, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Sumatera, dan Jong-jong lain  dan notabena mereka berbeda latar belakang, suku, agama. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama : Indonesia Merdeka.

Jika sejak reformasi kita dengan semangat menggaungkan otonomi daerah, sesungguhnya kita kembali berimajinasi ke masa lalu, masa sebelum Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan. Bila hal ini tidak terkelola dengan baik, dikhawatirkan terjadi disintegrasi bangsa, sesuatu yang bertolak belakang dengan niat kaum muda daerah berikrar dalam semangat Sumpah Pemuda memerdekakan bangsanya dengan memilih bentuk negara NKRI.

Dalam konteks peringatan 95 Tahun Sumpah Pemuda dengan tema, “95 Tahun Sumpah Pemuda, Bersama Majukan Indonesia”, ada tiga makna penting yang perlu digarisbawahi, berkaitan dengan isi Sumpah Pemuda ketiga.

Pertama, dalam sejarah kelahiran Sastra Indonesia dengan medium Bahasa Indonesia, cikal bakalnya juga berawal dari bahasa daerah, yaitu Bahasa Melayu. Meramaikan Bulan Bahasa dengan sentuhan lokal tak ubahnya kembali ke kawitan, tanpa menonjolkan ego primordial ke daerahan, kesukuan, ras, dan agama.

Inilah momentum menguatkan jati diri dengan melihat asal-muasal secara jernih agar tidak tercerabut dari kearifan lokal  budaya setempat. Kita diajak mengartikulasikan budaya lokal  dengan mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai medium pengungkapan, sembari melestarikan bahasa daerah,sambil menguasai bahasa asing. Hal ini sejalan dengan profil Pelajar Pancasila khususnya dalam berkebhinekaan global. Intinya, kolaborasi antarbahasa untuk saling menguatkan dan saling mengembangkan dalam rangka meningkatkan kemajuan peradaban.

Kedua,kecenderungan Sastra Indonesia bermuatan lokal sejak reformasi 1998 seturut dengan otonomi daerah dimaknai  sebagai strategi merayakan perbedaan dengan konsep yang kaya makna dalam konteks kesetaraan dan demokratisasi. Hal ini selaras dengan pendidikan multikultural, untuk mewujudkan  harmonisasi hubungan lokal, nasional, dan global sejalan dengan Teori Konvergensi Ki Hadjar Dewantara. Di dalamnya juga terimplisit maksud menumbuhkan kesadaran di tengah perbedaan untuk membangun saling pengertian sehingga tumbuh kecintaan, pemahaman, penghayatan terhadap budaya daerah sebagai jembatan emas menuju persatuan dan kesatuan, sebagaimana ditunjukkan kaum muda saat mengucapkan Sumpah  Pemuda.

Ketiga, mengapresiasi kearifan lokal melalui Sastra Indonesia pada prinsifnya memberikan roh terhadap jiwa dan semangat Sumpah Pemuda yang terangkum dalam satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Ki Hadjar Dewantara dalam pidato pembukaan Kongres  Pendidikan Antar Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta (20 – 24 Juli 1949) menegaskan, satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa berasal dari tahun 1928, tersusul dengan pernjataan-kesatuan baru jaitu : satu bendera, satu lagu kebangsaan, dan satu lambang kenegaraan. Dua-dua pernyataan itulah yang secara singkat tepat bulat dapat kita persatukan dengan pernyataan : satu bangsa, satu kebudayaan.

Ketiga makna penting itu menyiratkan tema 95 Tahun Sumpah Pemuda, tanpa mempertentangkan dan memersalahkan perbedaan yang berasal dari berbagai elemen masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia.  Mereka datang dengan satu tujuan : membangun dan mewujudkan cita-cita Indonesia Raya.

Merayakan Sumpah Pemuda adalah merayakan perbedaan untuk membangun kekuatan budaya bangsa  sebagai ibadah dalam  memerkokoh jati diri. Menyelam di lautan perbedaan untuk menggali mutiara terpendam adalah strategi memuliakan kearifan lokal untuk membawa perahu Indonesia ke kancah pergaulan dunia. Selamat merayakan Hari Sumpah Pemuda, ke-95 : Bersama Majukan Indonesia. {T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Komunikasi dan Nasionalisme dalam Bingkai Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda, Inspirasi Kepemimpinan Visioner Bangsa
Memaknai Sumpah Pemuda: Sudahkan Pemuda Berjuang Untuk Permasalahan Lingkungan di Indonesia?
Tags: Bhineka Tunggal Ikasumpah pemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Next Post

“Sujud Bhakti Kepada-Mu”

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Orang Mau Bayar Mahal Untuk Memalsukan Diri

"Sujud Bhakti Kepada-Mu"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co