24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 29, 2023
in Esai
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co

BERKUMPULNYA para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, 17 tahun sebelum Indonesia merdeka tidak dapat dilepaskan dari tonggok perjuangan bangsa dengan berdirinya organisasi kebangsaan, Budi Oetomo yang menjadi cikal bakal Kebangkitan Nasional. Perlu waktu 20 tahun menuju Sumpah Pemuda, sejak Budi Oetomo lahir.

Sesuai dengan namanya, Budi Oetomo lebih mengedepankan keutamaan budi dalam perjuangan yang berelasi dengan politik etis Belanda, khususnya bidang edukasi yang didukung oleh kaum muda literat. Kaum muda yang membaca serius jiwa bangsanya  dengan menyelam sedalam-dalamnya merasakan ketertindasan dari kaum penjajajah. Mereka Bersatu padu dari berbagai daerah didasari persamaan senasib, sepenanggungan, sependeritaan, dan sefrekuensi dengan api semangat pantang menyerah. Benar-benar, jiwa raganya dipertaruhkan demi sebuah cita-cita : Indonesia Merdeka.

Indonesia merdeka adalah imajinasi kaum muda sejak munculnya kesadaran nasional 1908, yang sebelumnya bersifat kedaerahan dan mudah dipecah-belah kaum penjajah, dengan politik devide et empera. Kesadaran nasional lahir dari keseriusan berliterasi untuk menerangi lorong-lorong kegelapan jiwa dengan aksara bermakna melalui kesadaran akan Pendidikan.

Kesadaran itulah dikuasai Belanda sehingga berhasil menjajah Indonesia selama 3,5 abad dengan membatasi Pendidikan warga di daerah jajahannya. Strategi itu mengonfirmasi bahwa, untuk menghancurkan suatu bangsa dengan dua cara  : melakukan peperangan dan menghancurkan pendidikan. Keduanya berhasil dimainkan Belanda di daerah jajahannya. Dalam konteks ini, sungguh visioner rumusan tujuan negara dalam Mukadimah UUD’45 yaitu ikut menjaga perdamaian dunia dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berbicara mengenai imajinasi kemerdekaan kaum muda Indonesia masa kolonial, tidak dapat dilepaskan dari organisasi pergerakan dan alat komunikasi untuk menggerakkan. Sejurus dengan itu, Umbu Landu Paranggi menyebut Sumpah Pemuda sebagai puisi besar kebangsaan yang kelak mengantarkan Indonesia Merdeka.

Jika Budi Oetomo menyediakan keutamaan budi melalui jalan  edukasi merintis perjuangan kemerdekaan, maka Sumpah Pemuda menjadi era penggalangan pemuda dari berbagai daerah  untuk bersumpah menyatakan  ikrar (janji suci)  dengan  mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. 

Menarik  dicermati, bersatunya pemuda dari berbagai daerah yang mewakili organisasi daerah yang disebut Jong Java, Jong Slebes, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Sumatera, dan Jong-jong lain  dan notabena mereka berbeda latar belakang, suku, agama. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama : Indonesia Merdeka.

Jika sejak reformasi kita dengan semangat menggaungkan otonomi daerah, sesungguhnya kita kembali berimajinasi ke masa lalu, masa sebelum Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan. Bila hal ini tidak terkelola dengan baik, dikhawatirkan terjadi disintegrasi bangsa, sesuatu yang bertolak belakang dengan niat kaum muda daerah berikrar dalam semangat Sumpah Pemuda memerdekakan bangsanya dengan memilih bentuk negara NKRI.

Dalam konteks peringatan 95 Tahun Sumpah Pemuda dengan tema, “95 Tahun Sumpah Pemuda, Bersama Majukan Indonesia”, ada tiga makna penting yang perlu digarisbawahi, berkaitan dengan isi Sumpah Pemuda ketiga.

Pertama, dalam sejarah kelahiran Sastra Indonesia dengan medium Bahasa Indonesia, cikal bakalnya juga berawal dari bahasa daerah, yaitu Bahasa Melayu. Meramaikan Bulan Bahasa dengan sentuhan lokal tak ubahnya kembali ke kawitan, tanpa menonjolkan ego primordial ke daerahan, kesukuan, ras, dan agama.

Inilah momentum menguatkan jati diri dengan melihat asal-muasal secara jernih agar tidak tercerabut dari kearifan lokal  budaya setempat. Kita diajak mengartikulasikan budaya lokal  dengan mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai medium pengungkapan, sembari melestarikan bahasa daerah,sambil menguasai bahasa asing. Hal ini sejalan dengan profil Pelajar Pancasila khususnya dalam berkebhinekaan global. Intinya, kolaborasi antarbahasa untuk saling menguatkan dan saling mengembangkan dalam rangka meningkatkan kemajuan peradaban.

Kedua,kecenderungan Sastra Indonesia bermuatan lokal sejak reformasi 1998 seturut dengan otonomi daerah dimaknai  sebagai strategi merayakan perbedaan dengan konsep yang kaya makna dalam konteks kesetaraan dan demokratisasi. Hal ini selaras dengan pendidikan multikultural, untuk mewujudkan  harmonisasi hubungan lokal, nasional, dan global sejalan dengan Teori Konvergensi Ki Hadjar Dewantara. Di dalamnya juga terimplisit maksud menumbuhkan kesadaran di tengah perbedaan untuk membangun saling pengertian sehingga tumbuh kecintaan, pemahaman, penghayatan terhadap budaya daerah sebagai jembatan emas menuju persatuan dan kesatuan, sebagaimana ditunjukkan kaum muda saat mengucapkan Sumpah  Pemuda.

Ketiga, mengapresiasi kearifan lokal melalui Sastra Indonesia pada prinsifnya memberikan roh terhadap jiwa dan semangat Sumpah Pemuda yang terangkum dalam satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Ki Hadjar Dewantara dalam pidato pembukaan Kongres  Pendidikan Antar Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta (20 – 24 Juli 1949) menegaskan, satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa berasal dari tahun 1928, tersusul dengan pernjataan-kesatuan baru jaitu : satu bendera, satu lagu kebangsaan, dan satu lambang kenegaraan. Dua-dua pernyataan itulah yang secara singkat tepat bulat dapat kita persatukan dengan pernyataan : satu bangsa, satu kebudayaan.

Ketiga makna penting itu menyiratkan tema 95 Tahun Sumpah Pemuda, tanpa mempertentangkan dan memersalahkan perbedaan yang berasal dari berbagai elemen masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia.  Mereka datang dengan satu tujuan : membangun dan mewujudkan cita-cita Indonesia Raya.

Merayakan Sumpah Pemuda adalah merayakan perbedaan untuk membangun kekuatan budaya bangsa  sebagai ibadah dalam  memerkokoh jati diri. Menyelam di lautan perbedaan untuk menggali mutiara terpendam adalah strategi memuliakan kearifan lokal untuk membawa perahu Indonesia ke kancah pergaulan dunia. Selamat merayakan Hari Sumpah Pemuda, ke-95 : Bersama Majukan Indonesia. {T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Komunikasi dan Nasionalisme dalam Bingkai Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda, Inspirasi Kepemimpinan Visioner Bangsa
Memaknai Sumpah Pemuda: Sudahkan Pemuda Berjuang Untuk Permasalahan Lingkungan di Indonesia?
Tags: Bhineka Tunggal Ikasumpah pemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Next Post

“Sujud Bhakti Kepada-Mu”

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Orang Mau Bayar Mahal Untuk Memalsukan Diri

"Sujud Bhakti Kepada-Mu"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co