23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 29, 2023
in Esai
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co

BERKUMPULNYA para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, 17 tahun sebelum Indonesia merdeka tidak dapat dilepaskan dari tonggok perjuangan bangsa dengan berdirinya organisasi kebangsaan, Budi Oetomo yang menjadi cikal bakal Kebangkitan Nasional. Perlu waktu 20 tahun menuju Sumpah Pemuda, sejak Budi Oetomo lahir.

Sesuai dengan namanya, Budi Oetomo lebih mengedepankan keutamaan budi dalam perjuangan yang berelasi dengan politik etis Belanda, khususnya bidang edukasi yang didukung oleh kaum muda literat. Kaum muda yang membaca serius jiwa bangsanya  dengan menyelam sedalam-dalamnya merasakan ketertindasan dari kaum penjajajah. Mereka Bersatu padu dari berbagai daerah didasari persamaan senasib, sepenanggungan, sependeritaan, dan sefrekuensi dengan api semangat pantang menyerah. Benar-benar, jiwa raganya dipertaruhkan demi sebuah cita-cita : Indonesia Merdeka.

Indonesia merdeka adalah imajinasi kaum muda sejak munculnya kesadaran nasional 1908, yang sebelumnya bersifat kedaerahan dan mudah dipecah-belah kaum penjajah, dengan politik devide et empera. Kesadaran nasional lahir dari keseriusan berliterasi untuk menerangi lorong-lorong kegelapan jiwa dengan aksara bermakna melalui kesadaran akan Pendidikan.

Kesadaran itulah dikuasai Belanda sehingga berhasil menjajah Indonesia selama 3,5 abad dengan membatasi Pendidikan warga di daerah jajahannya. Strategi itu mengonfirmasi bahwa, untuk menghancurkan suatu bangsa dengan dua cara  : melakukan peperangan dan menghancurkan pendidikan. Keduanya berhasil dimainkan Belanda di daerah jajahannya. Dalam konteks ini, sungguh visioner rumusan tujuan negara dalam Mukadimah UUD’45 yaitu ikut menjaga perdamaian dunia dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berbicara mengenai imajinasi kemerdekaan kaum muda Indonesia masa kolonial, tidak dapat dilepaskan dari organisasi pergerakan dan alat komunikasi untuk menggerakkan. Sejurus dengan itu, Umbu Landu Paranggi menyebut Sumpah Pemuda sebagai puisi besar kebangsaan yang kelak mengantarkan Indonesia Merdeka.

Jika Budi Oetomo menyediakan keutamaan budi melalui jalan  edukasi merintis perjuangan kemerdekaan, maka Sumpah Pemuda menjadi era penggalangan pemuda dari berbagai daerah  untuk bersumpah menyatakan  ikrar (janji suci)  dengan  mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. 

Menarik  dicermati, bersatunya pemuda dari berbagai daerah yang mewakili organisasi daerah yang disebut Jong Java, Jong Slebes, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Sumatera, dan Jong-jong lain  dan notabena mereka berbeda latar belakang, suku, agama. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama : Indonesia Merdeka.

Jika sejak reformasi kita dengan semangat menggaungkan otonomi daerah, sesungguhnya kita kembali berimajinasi ke masa lalu, masa sebelum Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan. Bila hal ini tidak terkelola dengan baik, dikhawatirkan terjadi disintegrasi bangsa, sesuatu yang bertolak belakang dengan niat kaum muda daerah berikrar dalam semangat Sumpah Pemuda memerdekakan bangsanya dengan memilih bentuk negara NKRI.

Dalam konteks peringatan 95 Tahun Sumpah Pemuda dengan tema, “95 Tahun Sumpah Pemuda, Bersama Majukan Indonesia”, ada tiga makna penting yang perlu digarisbawahi, berkaitan dengan isi Sumpah Pemuda ketiga.

Pertama, dalam sejarah kelahiran Sastra Indonesia dengan medium Bahasa Indonesia, cikal bakalnya juga berawal dari bahasa daerah, yaitu Bahasa Melayu. Meramaikan Bulan Bahasa dengan sentuhan lokal tak ubahnya kembali ke kawitan, tanpa menonjolkan ego primordial ke daerahan, kesukuan, ras, dan agama.

Inilah momentum menguatkan jati diri dengan melihat asal-muasal secara jernih agar tidak tercerabut dari kearifan lokal  budaya setempat. Kita diajak mengartikulasikan budaya lokal  dengan mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai medium pengungkapan, sembari melestarikan bahasa daerah,sambil menguasai bahasa asing. Hal ini sejalan dengan profil Pelajar Pancasila khususnya dalam berkebhinekaan global. Intinya, kolaborasi antarbahasa untuk saling menguatkan dan saling mengembangkan dalam rangka meningkatkan kemajuan peradaban.

Kedua,kecenderungan Sastra Indonesia bermuatan lokal sejak reformasi 1998 seturut dengan otonomi daerah dimaknai  sebagai strategi merayakan perbedaan dengan konsep yang kaya makna dalam konteks kesetaraan dan demokratisasi. Hal ini selaras dengan pendidikan multikultural, untuk mewujudkan  harmonisasi hubungan lokal, nasional, dan global sejalan dengan Teori Konvergensi Ki Hadjar Dewantara. Di dalamnya juga terimplisit maksud menumbuhkan kesadaran di tengah perbedaan untuk membangun saling pengertian sehingga tumbuh kecintaan, pemahaman, penghayatan terhadap budaya daerah sebagai jembatan emas menuju persatuan dan kesatuan, sebagaimana ditunjukkan kaum muda saat mengucapkan Sumpah  Pemuda.

Ketiga, mengapresiasi kearifan lokal melalui Sastra Indonesia pada prinsifnya memberikan roh terhadap jiwa dan semangat Sumpah Pemuda yang terangkum dalam satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Ki Hadjar Dewantara dalam pidato pembukaan Kongres  Pendidikan Antar Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta (20 – 24 Juli 1949) menegaskan, satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa berasal dari tahun 1928, tersusul dengan pernjataan-kesatuan baru jaitu : satu bendera, satu lagu kebangsaan, dan satu lambang kenegaraan. Dua-dua pernyataan itulah yang secara singkat tepat bulat dapat kita persatukan dengan pernyataan : satu bangsa, satu kebudayaan.

Ketiga makna penting itu menyiratkan tema 95 Tahun Sumpah Pemuda, tanpa mempertentangkan dan memersalahkan perbedaan yang berasal dari berbagai elemen masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia.  Mereka datang dengan satu tujuan : membangun dan mewujudkan cita-cita Indonesia Raya.

Merayakan Sumpah Pemuda adalah merayakan perbedaan untuk membangun kekuatan budaya bangsa  sebagai ibadah dalam  memerkokoh jati diri. Menyelam di lautan perbedaan untuk menggali mutiara terpendam adalah strategi memuliakan kearifan lokal untuk membawa perahu Indonesia ke kancah pergaulan dunia. Selamat merayakan Hari Sumpah Pemuda, ke-95 : Bersama Majukan Indonesia. {T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Komunikasi dan Nasionalisme dalam Bingkai Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda, Inspirasi Kepemimpinan Visioner Bangsa
Memaknai Sumpah Pemuda: Sudahkan Pemuda Berjuang Untuk Permasalahan Lingkungan di Indonesia?
Tags: Bhineka Tunggal Ikasumpah pemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Next Post

“Sujud Bhakti Kepada-Mu”

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Orang Mau Bayar Mahal Untuk Memalsukan Diri

"Sujud Bhakti Kepada-Mu"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co