2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 29, 2023
in Esai
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan

Ilustrasi tatkala.co

BERKUMPULNYA para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia, 17 tahun sebelum Indonesia merdeka tidak dapat dilepaskan dari tonggok perjuangan bangsa dengan berdirinya organisasi kebangsaan, Budi Oetomo yang menjadi cikal bakal Kebangkitan Nasional. Perlu waktu 20 tahun menuju Sumpah Pemuda, sejak Budi Oetomo lahir.

Sesuai dengan namanya, Budi Oetomo lebih mengedepankan keutamaan budi dalam perjuangan yang berelasi dengan politik etis Belanda, khususnya bidang edukasi yang didukung oleh kaum muda literat. Kaum muda yang membaca serius jiwa bangsanya  dengan menyelam sedalam-dalamnya merasakan ketertindasan dari kaum penjajajah. Mereka Bersatu padu dari berbagai daerah didasari persamaan senasib, sepenanggungan, sependeritaan, dan sefrekuensi dengan api semangat pantang menyerah. Benar-benar, jiwa raganya dipertaruhkan demi sebuah cita-cita : Indonesia Merdeka.

Indonesia merdeka adalah imajinasi kaum muda sejak munculnya kesadaran nasional 1908, yang sebelumnya bersifat kedaerahan dan mudah dipecah-belah kaum penjajah, dengan politik devide et empera. Kesadaran nasional lahir dari keseriusan berliterasi untuk menerangi lorong-lorong kegelapan jiwa dengan aksara bermakna melalui kesadaran akan Pendidikan.

Kesadaran itulah dikuasai Belanda sehingga berhasil menjajah Indonesia selama 3,5 abad dengan membatasi Pendidikan warga di daerah jajahannya. Strategi itu mengonfirmasi bahwa, untuk menghancurkan suatu bangsa dengan dua cara  : melakukan peperangan dan menghancurkan pendidikan. Keduanya berhasil dimainkan Belanda di daerah jajahannya. Dalam konteks ini, sungguh visioner rumusan tujuan negara dalam Mukadimah UUD’45 yaitu ikut menjaga perdamaian dunia dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Berbicara mengenai imajinasi kemerdekaan kaum muda Indonesia masa kolonial, tidak dapat dilepaskan dari organisasi pergerakan dan alat komunikasi untuk menggerakkan. Sejurus dengan itu, Umbu Landu Paranggi menyebut Sumpah Pemuda sebagai puisi besar kebangsaan yang kelak mengantarkan Indonesia Merdeka.

Jika Budi Oetomo menyediakan keutamaan budi melalui jalan  edukasi merintis perjuangan kemerdekaan, maka Sumpah Pemuda menjadi era penggalangan pemuda dari berbagai daerah  untuk bersumpah menyatakan  ikrar (janji suci)  dengan  mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. 

Menarik  dicermati, bersatunya pemuda dari berbagai daerah yang mewakili organisasi daerah yang disebut Jong Java, Jong Slebes, Jong Ambon, Jong Minahasa, Jong Sumatera, dan Jong-jong lain  dan notabena mereka berbeda latar belakang, suku, agama. Mereka datang dengan satu tujuan yang sama : Indonesia Merdeka.

Jika sejak reformasi kita dengan semangat menggaungkan otonomi daerah, sesungguhnya kita kembali berimajinasi ke masa lalu, masa sebelum Boedi Oetomo yang bersifat kedaerahan. Bila hal ini tidak terkelola dengan baik, dikhawatirkan terjadi disintegrasi bangsa, sesuatu yang bertolak belakang dengan niat kaum muda daerah berikrar dalam semangat Sumpah Pemuda memerdekakan bangsanya dengan memilih bentuk negara NKRI.

Dalam konteks peringatan 95 Tahun Sumpah Pemuda dengan tema, “95 Tahun Sumpah Pemuda, Bersama Majukan Indonesia”, ada tiga makna penting yang perlu digarisbawahi, berkaitan dengan isi Sumpah Pemuda ketiga.

Pertama, dalam sejarah kelahiran Sastra Indonesia dengan medium Bahasa Indonesia, cikal bakalnya juga berawal dari bahasa daerah, yaitu Bahasa Melayu. Meramaikan Bulan Bahasa dengan sentuhan lokal tak ubahnya kembali ke kawitan, tanpa menonjolkan ego primordial ke daerahan, kesukuan, ras, dan agama.

Inilah momentum menguatkan jati diri dengan melihat asal-muasal secara jernih agar tidak tercerabut dari kearifan lokal  budaya setempat. Kita diajak mengartikulasikan budaya lokal  dengan mengutamakan Bahasa Indonesia sebagai medium pengungkapan, sembari melestarikan bahasa daerah,sambil menguasai bahasa asing. Hal ini sejalan dengan profil Pelajar Pancasila khususnya dalam berkebhinekaan global. Intinya, kolaborasi antarbahasa untuk saling menguatkan dan saling mengembangkan dalam rangka meningkatkan kemajuan peradaban.

Kedua,kecenderungan Sastra Indonesia bermuatan lokal sejak reformasi 1998 seturut dengan otonomi daerah dimaknai  sebagai strategi merayakan perbedaan dengan konsep yang kaya makna dalam konteks kesetaraan dan demokratisasi. Hal ini selaras dengan pendidikan multikultural, untuk mewujudkan  harmonisasi hubungan lokal, nasional, dan global sejalan dengan Teori Konvergensi Ki Hadjar Dewantara. Di dalamnya juga terimplisit maksud menumbuhkan kesadaran di tengah perbedaan untuk membangun saling pengertian sehingga tumbuh kecintaan, pemahaman, penghayatan terhadap budaya daerah sebagai jembatan emas menuju persatuan dan kesatuan, sebagaimana ditunjukkan kaum muda saat mengucapkan Sumpah  Pemuda.

Ketiga, mengapresiasi kearifan lokal melalui Sastra Indonesia pada prinsifnya memberikan roh terhadap jiwa dan semangat Sumpah Pemuda yang terangkum dalam satu tanah air, bangsa, dan bahasa. Ki Hadjar Dewantara dalam pidato pembukaan Kongres  Pendidikan Antar Indonesia yang berlangsung di Yogyakarta (20 – 24 Juli 1949) menegaskan, satu negara, satu bangsa, dan satu bahasa berasal dari tahun 1928, tersusul dengan pernjataan-kesatuan baru jaitu : satu bendera, satu lagu kebangsaan, dan satu lambang kenegaraan. Dua-dua pernyataan itulah yang secara singkat tepat bulat dapat kita persatukan dengan pernyataan : satu bangsa, satu kebudayaan.

Ketiga makna penting itu menyiratkan tema 95 Tahun Sumpah Pemuda, tanpa mempertentangkan dan memersalahkan perbedaan yang berasal dari berbagai elemen masyarakat yang tersebar di seluruh Indonesia.  Mereka datang dengan satu tujuan : membangun dan mewujudkan cita-cita Indonesia Raya.

Merayakan Sumpah Pemuda adalah merayakan perbedaan untuk membangun kekuatan budaya bangsa  sebagai ibadah dalam  memerkokoh jati diri. Menyelam di lautan perbedaan untuk menggali mutiara terpendam adalah strategi memuliakan kearifan lokal untuk membawa perahu Indonesia ke kancah pergaulan dunia. Selamat merayakan Hari Sumpah Pemuda, ke-95 : Bersama Majukan Indonesia. {T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Komunikasi dan Nasionalisme dalam Bingkai Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda, Inspirasi Kepemimpinan Visioner Bangsa
Memaknai Sumpah Pemuda: Sudahkan Pemuda Berjuang Untuk Permasalahan Lingkungan di Indonesia?
Tags: Bhineka Tunggal Ikasumpah pemuda
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yang Tersisa dari Karya Agung Danu Kerthi di Danau Batur (2): Bersatunya Air Suci dari Tiga Pulau di Danau Batur

Next Post

“Sujud Bhakti Kepada-Mu”

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Orang Mau Bayar Mahal Untuk Memalsukan Diri

"Sujud Bhakti Kepada-Mu"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co