23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 19, 2024
in Esai
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  

Ilustrasi tatkala.co

Setiap 20 Mei kita merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Pada 2024 adalah Harkitnas ke-116 dengan menjadikan organisasi Budi Utomo sebagai tonggak peringatan sesuai dengan tanggal berdirinya, 20 Mei 1908. Harkitnas tahun  ini bertema “Bangkit untuk Indonesia Emas”.

Aura Harkitnas ke-116 terasa istimewa paling tidak untuk tiga hal. Pertama, peringatan Harkitnas ini bersamaan dengan hajatan dunia dalam gelaran Forum Air Dunia (World Water Forum) ke-10 yang dilaksanakan di Nusa Dua Bali pada 18 – 25 Mei 2024. Forum Air Dunia  dilaksanakan setiap tiga tahun dan  pertama 1997 di  Maroko. Sifat air adalah mengalir dari hulu ke hilir. Hulunya adalah gunung dan hilirnya adalah laut. Maka keduanya (hulu dan hilir) harus dijaga dan dirawat agar seimbang sesuai konsep segara-giri.

Sifat perjuangan organisasi modern Budi Utomo juga mengalir dari kaum intelek berpendidikan modern ke rakyat yang ada diplosok miskin pendidikan. Aliran perjuangan mereka membakar semangat rakyat bergerak serentak memperjuangkan kemerdekaan. Andaikan air di gunung tersumbat karena manusia membuang sampah sembarangan, maka aliran air ke laut pun akan terhambat bahkan berpeluang mendatangkan petaka bagi semesta dan mahkluk hidup di sekitarnya. Begitu pula halnya, jika perjuangan kaum intelek terhambat oleh rakyat yang diperjuangkan, maka kemerdekaan pun makin jauh dari harapan. Oleh karena itu, Harkitnas dipandang sebagai aliran air perjuangan yang membersihkan tubuh bangsa menuju kemerdekaan lahir batin.

Kedua, Harkitnas 2024 juga dirayakan dalam suasana ritual Tumpek Uye (Tumpek Kandang) yang jatuh pada Sabtu Kliwon Uye, 18 Mei 2024. Hakikat Tumpek Uye dalam tradisi Bali adalah perayaan memuliakan binatang untuk membantu pekerjaan manusia. Pada zaman dahulu, ketika budaya agraris dominan, binatang terutama sapi dan kuda selain membantu petani dalam membajak dan sebagai alat transpotasi juga berfungsi sebagai tabungan untuk berjaga-jaga.

Setiap rumah di desa beternak untuk persiapan berbagai kebutuhan (sekolah anak, makanan sehari-hari, dan berbagai upacara yadnya). Petani beternak adalah  simbol kecerdasan diversifikasi pertanian, selain untuk memuliakan binatang yang telah membantu. Kebangkitan petani tidak melupakan binatang peliharaannya sebagai bagian dari balas jasa. Oleh karena itu, Tumpek Uye membangkitkan gairah petani selayaknya pejuang kebangkitan nasional pada zaman pra-kemerdekaan.

Ketiga, dunia mengakui adanya energi positip air yang secara universal akan menyejukkan. Dalam konteks ke-Bali-an diterjemahkan melalui  spirit ritual Segara Kerthi (memuliakan laut) sebagai kulkas raksasa. WWF yang digelar di Nusa Dua Bali pun memuliakan air dengan ritus pemujaan melibatkan sulinggih dan diikuti dengan melukat “mandi secara spirit” bersama para delegasi dari berbagai negara untuk mengembangkan budaya positip. Hakikat melukat adalah membersihkan badan fisik dengan air suci (tirta) dilaksanakan di Pulau Kura-Kura denpasar. 

Di dalam Manawa Dharma Sastra  disebutkan tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran, atman disucikan dengan tapa brata, budi disucikan dengan ilmu pengetahuan. Agama Air melebur semua perbedaan untuk membersihkan daki di badan. Joko Pinurbo memuisikan dengan singkat dan bernas : Äpa Agamamu ? Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu.

Hubungan Harkitnas, WWF, dan Kearifan lokal Bali tampak mutualistik saling menguatkan dan saling menduniakan (mengglobalkan). Harkitnas hadir dengan semangat nasionalisme (kebangsaan) yang memersatukan suku-suku bangsa yang berbeda melalui wadah NKRI dengan aneka perbedaan bersemboyankan, Bhineka Tunggal Ika.

Sementara itu. WWF hadir dengan semangat memuliakan air dan sumber-sumber air di dunia dengan kesadaran bahwa tubuh (buana alit) dominan adalah air. Kekurangan dan pencemaran air, selain membuat tubuh bangsa (buana agung) terganggu keseimbangannya, juga membuat disharmoni buana alit.  Oleh karena itu, pemuliaan air dengan ritus spirit menjadi wadah dialog para pemimpin dunia untuk mencairkan ketegangan di berbagai belahan dunia. Semoga Forum Air Dunia di Bali menjadi penyejuk seperti halnya tirta yang menyembuhkan bangun kemanusiaan umat sedunia.

Semoga Bali dengan kearifannya tentang air dan sumber-sumbernya tidak hanya dieksploitasi untuk kepentingan kapitalistik tetapi dijadikan inspirasi bagi dunia membahas air dengan aneka persoalannya.  Lebih-lebih hajatan WWF ke-10 ini menurut Detik Bali (17/5/2024)  dihadiri 12 Kepala Negara, 105 menteri, dengan 13.000 terdaftar secara resmi belum termasuk keluarga delegasi dan para  jurnalis dari 172 negara, maka spiritnya akan bergema ke seantero dunia. Aliran air pemikiran pemimpin dunia diharapkan semakin jernih dari Pulau Bali setelah delegasi melukat masal dengan sadar dituntun pendeta suci, selaras dengan tema  : “Äir untuk Kesejahteraan bersama”.

Momentum Tumpek Uye seyogyanya dapat mengendalikan sifat egois kebinatangan untuk tidak secara buas menguasai air dan sumber-sumbernya demi harmoni alam sekala niskala. Sebagai penyambung lidah kepentingan bangsa dan negara masing-masing delegasi WWF sudah sepantasnya melahirkan aliran air kedamaian untuk kesejahteraan bersama.

Lebih-lebih  saat rangkaian agenda WWF pada 22 Mei 2024 bertepatan dengan Purnama Sadha nemu gelang dengan Buda Wage Menail, semoga  menyempurnakan  pemikiran pemimpin dunia berdialog dengan air demi kesejahteraan lahir batin. Buda Wage Menail (Buda Cemeng Menail) dalam kepercayaan Hindu adalah pemujaan Bhatara Manik Galih yang menurunkan Sang Hyang Omkara Amerta untuk mewujudkan kesejahteraan, sedang Purnama Sadha  pemujaan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Chandra dengan nuansa keteduhan dan kesejukan.

Dari Bali kearifan lokal memancar menerangi para pemikir dunia membahas air berkesadaran waktu (sejarah) dengan konsep tri semaya : atita (dulu), nagata (yang akan datang) dan wartamana (kini). Konsep ini selaras dengan pembangunan berkesinambungan dan berkeseimbangan yang dalam trikon-nya Ki Hadjar Dewantara disebut kontinuitas. Semua itu untuk kepentingan bangsa dan Negara Indonesia dalam konteks pergaulan global.

Mengingat begitu pentingnya air, selama sepekan Bali menjadi sorotan dunia dalam Forum Air Dunia bersamaan dengan Kebangkitan Nasional tanpa melupakan kearifan lokal. Berpikir global, bertindak lokal dan inspiratif. Semoga Bali sebagai sebuah titik tidak tunduk pada huruf kapital dunia dalam politik air. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 
Tags: Hari Kebangkitan Nasionalharikitnaskearifan lokaltumpek uyeWorld Water Forum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujatan kepada Guru, Bentuk  Alpaka terhadap Guru Pengajian

Next Post

Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya

Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co