2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 19, 2024
in Esai
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  

Ilustrasi tatkala.co

Setiap 20 Mei kita merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Pada 2024 adalah Harkitnas ke-116 dengan menjadikan organisasi Budi Utomo sebagai tonggak peringatan sesuai dengan tanggal berdirinya, 20 Mei 1908. Harkitnas tahun  ini bertema “Bangkit untuk Indonesia Emas”.

Aura Harkitnas ke-116 terasa istimewa paling tidak untuk tiga hal. Pertama, peringatan Harkitnas ini bersamaan dengan hajatan dunia dalam gelaran Forum Air Dunia (World Water Forum) ke-10 yang dilaksanakan di Nusa Dua Bali pada 18 – 25 Mei 2024. Forum Air Dunia  dilaksanakan setiap tiga tahun dan  pertama 1997 di  Maroko. Sifat air adalah mengalir dari hulu ke hilir. Hulunya adalah gunung dan hilirnya adalah laut. Maka keduanya (hulu dan hilir) harus dijaga dan dirawat agar seimbang sesuai konsep segara-giri.

Sifat perjuangan organisasi modern Budi Utomo juga mengalir dari kaum intelek berpendidikan modern ke rakyat yang ada diplosok miskin pendidikan. Aliran perjuangan mereka membakar semangat rakyat bergerak serentak memperjuangkan kemerdekaan. Andaikan air di gunung tersumbat karena manusia membuang sampah sembarangan, maka aliran air ke laut pun akan terhambat bahkan berpeluang mendatangkan petaka bagi semesta dan mahkluk hidup di sekitarnya. Begitu pula halnya, jika perjuangan kaum intelek terhambat oleh rakyat yang diperjuangkan, maka kemerdekaan pun makin jauh dari harapan. Oleh karena itu, Harkitnas dipandang sebagai aliran air perjuangan yang membersihkan tubuh bangsa menuju kemerdekaan lahir batin.

Kedua, Harkitnas 2024 juga dirayakan dalam suasana ritual Tumpek Uye (Tumpek Kandang) yang jatuh pada Sabtu Kliwon Uye, 18 Mei 2024. Hakikat Tumpek Uye dalam tradisi Bali adalah perayaan memuliakan binatang untuk membantu pekerjaan manusia. Pada zaman dahulu, ketika budaya agraris dominan, binatang terutama sapi dan kuda selain membantu petani dalam membajak dan sebagai alat transpotasi juga berfungsi sebagai tabungan untuk berjaga-jaga.

Setiap rumah di desa beternak untuk persiapan berbagai kebutuhan (sekolah anak, makanan sehari-hari, dan berbagai upacara yadnya). Petani beternak adalah  simbol kecerdasan diversifikasi pertanian, selain untuk memuliakan binatang yang telah membantu. Kebangkitan petani tidak melupakan binatang peliharaannya sebagai bagian dari balas jasa. Oleh karena itu, Tumpek Uye membangkitkan gairah petani selayaknya pejuang kebangkitan nasional pada zaman pra-kemerdekaan.

Ketiga, dunia mengakui adanya energi positip air yang secara universal akan menyejukkan. Dalam konteks ke-Bali-an diterjemahkan melalui  spirit ritual Segara Kerthi (memuliakan laut) sebagai kulkas raksasa. WWF yang digelar di Nusa Dua Bali pun memuliakan air dengan ritus pemujaan melibatkan sulinggih dan diikuti dengan melukat “mandi secara spirit” bersama para delegasi dari berbagai negara untuk mengembangkan budaya positip. Hakikat melukat adalah membersihkan badan fisik dengan air suci (tirta) dilaksanakan di Pulau Kura-Kura denpasar. 

Di dalam Manawa Dharma Sastra  disebutkan tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kejujuran, atman disucikan dengan tapa brata, budi disucikan dengan ilmu pengetahuan. Agama Air melebur semua perbedaan untuk membersihkan daki di badan. Joko Pinurbo memuisikan dengan singkat dan bernas : Äpa Agamamu ? Agamaku adalah air yang membersihkan pertanyaanmu.

Hubungan Harkitnas, WWF, dan Kearifan lokal Bali tampak mutualistik saling menguatkan dan saling menduniakan (mengglobalkan). Harkitnas hadir dengan semangat nasionalisme (kebangsaan) yang memersatukan suku-suku bangsa yang berbeda melalui wadah NKRI dengan aneka perbedaan bersemboyankan, Bhineka Tunggal Ika.

Sementara itu. WWF hadir dengan semangat memuliakan air dan sumber-sumber air di dunia dengan kesadaran bahwa tubuh (buana alit) dominan adalah air. Kekurangan dan pencemaran air, selain membuat tubuh bangsa (buana agung) terganggu keseimbangannya, juga membuat disharmoni buana alit.  Oleh karena itu, pemuliaan air dengan ritus spirit menjadi wadah dialog para pemimpin dunia untuk mencairkan ketegangan di berbagai belahan dunia. Semoga Forum Air Dunia di Bali menjadi penyejuk seperti halnya tirta yang menyembuhkan bangun kemanusiaan umat sedunia.

Semoga Bali dengan kearifannya tentang air dan sumber-sumbernya tidak hanya dieksploitasi untuk kepentingan kapitalistik tetapi dijadikan inspirasi bagi dunia membahas air dengan aneka persoalannya.  Lebih-lebih hajatan WWF ke-10 ini menurut Detik Bali (17/5/2024)  dihadiri 12 Kepala Negara, 105 menteri, dengan 13.000 terdaftar secara resmi belum termasuk keluarga delegasi dan para  jurnalis dari 172 negara, maka spiritnya akan bergema ke seantero dunia. Aliran air pemikiran pemimpin dunia diharapkan semakin jernih dari Pulau Bali setelah delegasi melukat masal dengan sadar dituntun pendeta suci, selaras dengan tema  : “Äir untuk Kesejahteraan bersama”.

Momentum Tumpek Uye seyogyanya dapat mengendalikan sifat egois kebinatangan untuk tidak secara buas menguasai air dan sumber-sumbernya demi harmoni alam sekala niskala. Sebagai penyambung lidah kepentingan bangsa dan negara masing-masing delegasi WWF sudah sepantasnya melahirkan aliran air kedamaian untuk kesejahteraan bersama.

Lebih-lebih  saat rangkaian agenda WWF pada 22 Mei 2024 bertepatan dengan Purnama Sadha nemu gelang dengan Buda Wage Menail, semoga  menyempurnakan  pemikiran pemimpin dunia berdialog dengan air demi kesejahteraan lahir batin. Buda Wage Menail (Buda Cemeng Menail) dalam kepercayaan Hindu adalah pemujaan Bhatara Manik Galih yang menurunkan Sang Hyang Omkara Amerta untuk mewujudkan kesejahteraan, sedang Purnama Sadha  pemujaan kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Chandra dengan nuansa keteduhan dan kesejukan.

Dari Bali kearifan lokal memancar menerangi para pemikir dunia membahas air berkesadaran waktu (sejarah) dengan konsep tri semaya : atita (dulu), nagata (yang akan datang) dan wartamana (kini). Konsep ini selaras dengan pembangunan berkesinambungan dan berkeseimbangan yang dalam trikon-nya Ki Hadjar Dewantara disebut kontinuitas. Semua itu untuk kepentingan bangsa dan Negara Indonesia dalam konteks pergaulan global.

Mengingat begitu pentingnya air, selama sepekan Bali menjadi sorotan dunia dalam Forum Air Dunia bersamaan dengan Kebangkitan Nasional tanpa melupakan kearifan lokal. Berpikir global, bertindak lokal dan inspiratif. Semoga Bali sebagai sebuah titik tidak tunduk pada huruf kapital dunia dalam politik air. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 
Tags: Hari Kebangkitan Nasionalharikitnaskearifan lokaltumpek uyeWorld Water Forum
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hujatan kepada Guru, Bentuk  Alpaka terhadap Guru Pengajian

Next Post

Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya

Jatiluwih, Ritus Padi, dan Hal-Hal di Baliknya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co