2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 16, 2024
in Esai
Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

Foto ilustrasi: tatkala.co

MEI adalah bulan penuh pesona dalam khasanah gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada 2 Mei kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, dan 17 Mei Hari Buku Nasional, serta 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional. Jika menilik historisnya, ketiga peringatan hari besar itu saling terhubung dalam konteks perjuangan bangsa. Melalui bukulah, sejarah pendidikan dan sejarah kebangkitan nasional dicatat. Tanpa buku, jejak sejarah itu tidak terlacak. Sejarah berhutang budi pada budaya buku.

Walaupun Harbuknas baru dicetuskan pada 17 Mei 2002,  secara historis dapat dilacak dari sejarah berdirinya Balai Pustaka yang semula bernama Komisi untuk Bacaan Rakyat (Commisisie voor de Volslectuur) berdiri 15 Agustus 1908 dan pada 17 Mei 1917 berganti nama menjadi Balai Pustaka. Commisisie voor de Volslectuur berdiri sebagai bagian dari Politik Etis (politik balas budi) Belanda yang digagas Van Deventer dengan inti aktivitasnya irigasi, migrasi, dan edukasi. Tiga program prioritas itu dijadikan Belanda untuk melanggengkan kekuasaan di daerah jajahannya, Indonesia (dulu :Hindia Belanda).

Mengapa? Pertama, melalui irigasi, Belanda hendak menyiapkan pangan yang cukup bagi negeri jajahannya walaupun dengan penuh paksaan dan siksaan yang disebut kerja rodi bagi penduduk pribumi. Pangan itu dapat dihasilkan dengan irigasi yang baik di seluruh tanah jajahan Belanda yang sejak doeloe kala terkenal subur makmur. Sistem irigasi itu di Bali dikenal dengan nama subak yang kini mendunia dengan kearifan lokalnya.

Kedua, melalui program migrasi, Belanda memindahkan penduduk dari pulau yang padat ke pulau yang jarang penduduknya. Pemerataan penduduk antarpulau diniatkan untuk mengelola sumber daya pertanian (agraris) yang kaya raya di negeri ini. Selain itu, melalui migrasi, terimplisit pula maksud terjadi transformasi  budaya agraris yang lebih maju dan merata di seluruh tanah jajahannya untuk melanggengkan kekuasaan.

Ketiga, melalui edukasi, Belanda hendak mengontrol daerah jajahannya melalui pendidikan. Pendidikan dipandang strategis untuk melanggengkan kekuasaan. Oleh karena itu, seleksi penerimaan siswa sangat terbatas (golongan ningrat) dan diatur dengan regulasi yang menguntungkan penjajah. Itu pun untuk pemenuhan birokrat kelas rendah dengan akses kekuasaan terbatas. Dengan pembatasan itu, cengkraman Belanda makin menguat di tanah jajahannya.

Namun, sayang Belanda salah perhitungan. Sejumlah bangsawan Hindia Belanda yang berkesempatan bersekolah, ternyata membakar api semangat membela negerinya dan sadar bahwa penjajah Belanda tak seharusnya berkuasa dan menginjak-injak warga yang nota bena adalah pemilik sah.

Dari program edukasilah lahir kesadaran nasional dengan semangat literasi para tokoh pergerakan yang dimotori mahasiswa STOVIA melahirkan organisasi Budi Utomo  yang gagas oleh dr. Wahidin Soediro Husodo. Kemudian, organisasi ini dipimpin Soetomo  dengan sekretaris  Gondo Soewarno dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Tokoh-tokoh Budi Utomo dikenal sangat literat mengutamakan kesadaran budi dengan asupan bahan bacaan sebagai panduan. Kelahiran  Commisisie voor de Volslectuur tiga bulan setelah Budi Utomo berdiri seakan menyiapkan dapur bacaan dengan cita rasa gizi Belanda.

Maklumlah kala itu, bahan bacaan di bawah  sensor Belanda. Namun pembaca yang arif bijaksana, tidak saja membaca di permukaan sebagai bermain surfing di atas ombak berbuih putih, tetapi menyelam di kedalaman menemukan hakikat mutiara di balik bacaan. Itulah senjata pemungkas kaum pejuang literat yang berkat keberaksaraannya mampu menguasai ilmu pengetahuan yang tidak bisa diambil musuh.

Berubahnya,  Commisisie voor de Volslectuur menjadi Balai Pustaka pada 1917 menjadi babak baru mengindonesiakan perjuangan semakin nyata adanya. Kelak inilah menjadi cikal-bakal lahirnya Sastra Indonesia modern dengan Balai Pustaka sebagai tonggak kelahirannnya.  Lahirnya organisasi pergerakan politik yang memerdekakan diiringi dengan lahirnya lembaga pendidikan dan Balai Pustaka saling melengkapi,saling menyemangati serta saling mempersenjatai. Dalam konteks pembelajaran kini, inilah yang disebut kolaborasi.

Ketika literasi diformalkan sejak 2016 dengan gerakan terstruktur melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN)  dan  Gerakan Literasi Sekolah (GLS), hasilnya dibandingkan dengan tes PISA menunjukkan kemampuan literasi kita masih rendah. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk menyukseskan Gerakan Literasi  seperti pemilihan Duta Literasi, lomba literasi berjenjang dari tingkat sekolah hingga nasional,  Asesmen Nasional dengan fokus literasi dan numerasi.

Selempang “Duta Literasi” di dada juga makin marak dianugrahkan dengan harapan mengedukasi dan mempercepat gerakan. Begitulah gerakan kini selalu ramai di permukaan dan sesaat viral di media sosial, sebagai bahan pencitraan untuk mendapat pujian : keren, top, mantap, luar biasa !

Berbeda dengan saat masa perjuangan kebangsaan zaman kolonial. Mesti harus disadari bahwa suasana kebatinan yang melatarbelakangi pergerakan literasi zaman penjajah disatukan oleh  semangat memerdekakan bangsa dari penjajah, sedangkan gerakan literasi kini disatukan oleh semangat Merdeka Belajar dalam jaringan maya. Jaringan pergerakan zaman kolonial adalah jaringan faktual dengan semanagat patriotik.

Tantangan literasi yang dihadapi kini adalah budaya instan digital melalui lompatan teknologi supercepat dengan bahan bacaan yang melimpah. Banjirnya bahan bacaan di media sosial dapat membuat kohesi dan koherensi kebangsaan terganggu bila tidak dibarengi dengan kecerdasan literat. Memilih, memilah, dan mengolah informasi untuk kebermaknaan hidup yang guyub memanusiakan dan memberadabkan. Bersamaan dengan itu, budaya membaca buku kian tergerus. Toko-toko buku besar juga pasrah menyerah, tidak kembali modal.

Namun demikian, buku sebagaimana lontar sebagai bagian produk budaya mesti terus diproduksi dan  dirawat bersamaan dengan semangat digitalisasi. Jika tidak demikian, tonggak sejarah perbukuan dan perlontaran akan habis ditelan zaman digital.  Hari Buku Nasional setiap 17 Mei seyogyanya menjadi  momentum refleksi Gerakan Literasi Nasional. Ayo, membaca buku! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”
Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Tags: Hari Buku NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berebut Rekomendasi Menuju Pilgub Bali: Bagaimana Peluang Koster-Giri?

Next Post

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co