12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 16, 2024
in Esai
Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

Foto ilustrasi: tatkala.co

MEI adalah bulan penuh pesona dalam khasanah gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada 2 Mei kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, dan 17 Mei Hari Buku Nasional, serta 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional. Jika menilik historisnya, ketiga peringatan hari besar itu saling terhubung dalam konteks perjuangan bangsa. Melalui bukulah, sejarah pendidikan dan sejarah kebangkitan nasional dicatat. Tanpa buku, jejak sejarah itu tidak terlacak. Sejarah berhutang budi pada budaya buku.

Walaupun Harbuknas baru dicetuskan pada 17 Mei 2002,  secara historis dapat dilacak dari sejarah berdirinya Balai Pustaka yang semula bernama Komisi untuk Bacaan Rakyat (Commisisie voor de Volslectuur) berdiri 15 Agustus 1908 dan pada 17 Mei 1917 berganti nama menjadi Balai Pustaka. Commisisie voor de Volslectuur berdiri sebagai bagian dari Politik Etis (politik balas budi) Belanda yang digagas Van Deventer dengan inti aktivitasnya irigasi, migrasi, dan edukasi. Tiga program prioritas itu dijadikan Belanda untuk melanggengkan kekuasaan di daerah jajahannya, Indonesia (dulu :Hindia Belanda).

Mengapa? Pertama, melalui irigasi, Belanda hendak menyiapkan pangan yang cukup bagi negeri jajahannya walaupun dengan penuh paksaan dan siksaan yang disebut kerja rodi bagi penduduk pribumi. Pangan itu dapat dihasilkan dengan irigasi yang baik di seluruh tanah jajahan Belanda yang sejak doeloe kala terkenal subur makmur. Sistem irigasi itu di Bali dikenal dengan nama subak yang kini mendunia dengan kearifan lokalnya.

Kedua, melalui program migrasi, Belanda memindahkan penduduk dari pulau yang padat ke pulau yang jarang penduduknya. Pemerataan penduduk antarpulau diniatkan untuk mengelola sumber daya pertanian (agraris) yang kaya raya di negeri ini. Selain itu, melalui migrasi, terimplisit pula maksud terjadi transformasi  budaya agraris yang lebih maju dan merata di seluruh tanah jajahannya untuk melanggengkan kekuasaan.

Ketiga, melalui edukasi, Belanda hendak mengontrol daerah jajahannya melalui pendidikan. Pendidikan dipandang strategis untuk melanggengkan kekuasaan. Oleh karena itu, seleksi penerimaan siswa sangat terbatas (golongan ningrat) dan diatur dengan regulasi yang menguntungkan penjajah. Itu pun untuk pemenuhan birokrat kelas rendah dengan akses kekuasaan terbatas. Dengan pembatasan itu, cengkraman Belanda makin menguat di tanah jajahannya.

Namun, sayang Belanda salah perhitungan. Sejumlah bangsawan Hindia Belanda yang berkesempatan bersekolah, ternyata membakar api semangat membela negerinya dan sadar bahwa penjajah Belanda tak seharusnya berkuasa dan menginjak-injak warga yang nota bena adalah pemilik sah.

Dari program edukasilah lahir kesadaran nasional dengan semangat literasi para tokoh pergerakan yang dimotori mahasiswa STOVIA melahirkan organisasi Budi Utomo  yang gagas oleh dr. Wahidin Soediro Husodo. Kemudian, organisasi ini dipimpin Soetomo  dengan sekretaris  Gondo Soewarno dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Tokoh-tokoh Budi Utomo dikenal sangat literat mengutamakan kesadaran budi dengan asupan bahan bacaan sebagai panduan. Kelahiran  Commisisie voor de Volslectuur tiga bulan setelah Budi Utomo berdiri seakan menyiapkan dapur bacaan dengan cita rasa gizi Belanda.

Maklumlah kala itu, bahan bacaan di bawah  sensor Belanda. Namun pembaca yang arif bijaksana, tidak saja membaca di permukaan sebagai bermain surfing di atas ombak berbuih putih, tetapi menyelam di kedalaman menemukan hakikat mutiara di balik bacaan. Itulah senjata pemungkas kaum pejuang literat yang berkat keberaksaraannya mampu menguasai ilmu pengetahuan yang tidak bisa diambil musuh.

Berubahnya,  Commisisie voor de Volslectuur menjadi Balai Pustaka pada 1917 menjadi babak baru mengindonesiakan perjuangan semakin nyata adanya. Kelak inilah menjadi cikal-bakal lahirnya Sastra Indonesia modern dengan Balai Pustaka sebagai tonggak kelahirannnya.  Lahirnya organisasi pergerakan politik yang memerdekakan diiringi dengan lahirnya lembaga pendidikan dan Balai Pustaka saling melengkapi,saling menyemangati serta saling mempersenjatai. Dalam konteks pembelajaran kini, inilah yang disebut kolaborasi.

Ketika literasi diformalkan sejak 2016 dengan gerakan terstruktur melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN)  dan  Gerakan Literasi Sekolah (GLS), hasilnya dibandingkan dengan tes PISA menunjukkan kemampuan literasi kita masih rendah. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk menyukseskan Gerakan Literasi  seperti pemilihan Duta Literasi, lomba literasi berjenjang dari tingkat sekolah hingga nasional,  Asesmen Nasional dengan fokus literasi dan numerasi.

Selempang “Duta Literasi” di dada juga makin marak dianugrahkan dengan harapan mengedukasi dan mempercepat gerakan. Begitulah gerakan kini selalu ramai di permukaan dan sesaat viral di media sosial, sebagai bahan pencitraan untuk mendapat pujian : keren, top, mantap, luar biasa !

Berbeda dengan saat masa perjuangan kebangsaan zaman kolonial. Mesti harus disadari bahwa suasana kebatinan yang melatarbelakangi pergerakan literasi zaman penjajah disatukan oleh  semangat memerdekakan bangsa dari penjajah, sedangkan gerakan literasi kini disatukan oleh semangat Merdeka Belajar dalam jaringan maya. Jaringan pergerakan zaman kolonial adalah jaringan faktual dengan semanagat patriotik.

Tantangan literasi yang dihadapi kini adalah budaya instan digital melalui lompatan teknologi supercepat dengan bahan bacaan yang melimpah. Banjirnya bahan bacaan di media sosial dapat membuat kohesi dan koherensi kebangsaan terganggu bila tidak dibarengi dengan kecerdasan literat. Memilih, memilah, dan mengolah informasi untuk kebermaknaan hidup yang guyub memanusiakan dan memberadabkan. Bersamaan dengan itu, budaya membaca buku kian tergerus. Toko-toko buku besar juga pasrah menyerah, tidak kembali modal.

Namun demikian, buku sebagaimana lontar sebagai bagian produk budaya mesti terus diproduksi dan  dirawat bersamaan dengan semangat digitalisasi. Jika tidak demikian, tonggak sejarah perbukuan dan perlontaran akan habis ditelan zaman digital.  Hari Buku Nasional setiap 17 Mei seyogyanya menjadi  momentum refleksi Gerakan Literasi Nasional. Ayo, membaca buku! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”
Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Tags: Hari Buku NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berebut Rekomendasi Menuju Pilgub Bali: Bagaimana Peluang Koster-Giri?

Next Post

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co