23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 16, 2024
in Esai
Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

Foto ilustrasi: tatkala.co

MEI adalah bulan penuh pesona dalam khasanah gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada 2 Mei kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, dan 17 Mei Hari Buku Nasional, serta 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional. Jika menilik historisnya, ketiga peringatan hari besar itu saling terhubung dalam konteks perjuangan bangsa. Melalui bukulah, sejarah pendidikan dan sejarah kebangkitan nasional dicatat. Tanpa buku, jejak sejarah itu tidak terlacak. Sejarah berhutang budi pada budaya buku.

Walaupun Harbuknas baru dicetuskan pada 17 Mei 2002,  secara historis dapat dilacak dari sejarah berdirinya Balai Pustaka yang semula bernama Komisi untuk Bacaan Rakyat (Commisisie voor de Volslectuur) berdiri 15 Agustus 1908 dan pada 17 Mei 1917 berganti nama menjadi Balai Pustaka. Commisisie voor de Volslectuur berdiri sebagai bagian dari Politik Etis (politik balas budi) Belanda yang digagas Van Deventer dengan inti aktivitasnya irigasi, migrasi, dan edukasi. Tiga program prioritas itu dijadikan Belanda untuk melanggengkan kekuasaan di daerah jajahannya, Indonesia (dulu :Hindia Belanda).

Mengapa? Pertama, melalui irigasi, Belanda hendak menyiapkan pangan yang cukup bagi negeri jajahannya walaupun dengan penuh paksaan dan siksaan yang disebut kerja rodi bagi penduduk pribumi. Pangan itu dapat dihasilkan dengan irigasi yang baik di seluruh tanah jajahan Belanda yang sejak doeloe kala terkenal subur makmur. Sistem irigasi itu di Bali dikenal dengan nama subak yang kini mendunia dengan kearifan lokalnya.

Kedua, melalui program migrasi, Belanda memindahkan penduduk dari pulau yang padat ke pulau yang jarang penduduknya. Pemerataan penduduk antarpulau diniatkan untuk mengelola sumber daya pertanian (agraris) yang kaya raya di negeri ini. Selain itu, melalui migrasi, terimplisit pula maksud terjadi transformasi  budaya agraris yang lebih maju dan merata di seluruh tanah jajahannya untuk melanggengkan kekuasaan.

Ketiga, melalui edukasi, Belanda hendak mengontrol daerah jajahannya melalui pendidikan. Pendidikan dipandang strategis untuk melanggengkan kekuasaan. Oleh karena itu, seleksi penerimaan siswa sangat terbatas (golongan ningrat) dan diatur dengan regulasi yang menguntungkan penjajah. Itu pun untuk pemenuhan birokrat kelas rendah dengan akses kekuasaan terbatas. Dengan pembatasan itu, cengkraman Belanda makin menguat di tanah jajahannya.

Namun, sayang Belanda salah perhitungan. Sejumlah bangsawan Hindia Belanda yang berkesempatan bersekolah, ternyata membakar api semangat membela negerinya dan sadar bahwa penjajah Belanda tak seharusnya berkuasa dan menginjak-injak warga yang nota bena adalah pemilik sah.

Dari program edukasilah lahir kesadaran nasional dengan semangat literasi para tokoh pergerakan yang dimotori mahasiswa STOVIA melahirkan organisasi Budi Utomo  yang gagas oleh dr. Wahidin Soediro Husodo. Kemudian, organisasi ini dipimpin Soetomo  dengan sekretaris  Gondo Soewarno dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Tokoh-tokoh Budi Utomo dikenal sangat literat mengutamakan kesadaran budi dengan asupan bahan bacaan sebagai panduan. Kelahiran  Commisisie voor de Volslectuur tiga bulan setelah Budi Utomo berdiri seakan menyiapkan dapur bacaan dengan cita rasa gizi Belanda.

Maklumlah kala itu, bahan bacaan di bawah  sensor Belanda. Namun pembaca yang arif bijaksana, tidak saja membaca di permukaan sebagai bermain surfing di atas ombak berbuih putih, tetapi menyelam di kedalaman menemukan hakikat mutiara di balik bacaan. Itulah senjata pemungkas kaum pejuang literat yang berkat keberaksaraannya mampu menguasai ilmu pengetahuan yang tidak bisa diambil musuh.

Berubahnya,  Commisisie voor de Volslectuur menjadi Balai Pustaka pada 1917 menjadi babak baru mengindonesiakan perjuangan semakin nyata adanya. Kelak inilah menjadi cikal-bakal lahirnya Sastra Indonesia modern dengan Balai Pustaka sebagai tonggak kelahirannnya.  Lahirnya organisasi pergerakan politik yang memerdekakan diiringi dengan lahirnya lembaga pendidikan dan Balai Pustaka saling melengkapi,saling menyemangati serta saling mempersenjatai. Dalam konteks pembelajaran kini, inilah yang disebut kolaborasi.

Ketika literasi diformalkan sejak 2016 dengan gerakan terstruktur melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN)  dan  Gerakan Literasi Sekolah (GLS), hasilnya dibandingkan dengan tes PISA menunjukkan kemampuan literasi kita masih rendah. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk menyukseskan Gerakan Literasi  seperti pemilihan Duta Literasi, lomba literasi berjenjang dari tingkat sekolah hingga nasional,  Asesmen Nasional dengan fokus literasi dan numerasi.

Selempang “Duta Literasi” di dada juga makin marak dianugrahkan dengan harapan mengedukasi dan mempercepat gerakan. Begitulah gerakan kini selalu ramai di permukaan dan sesaat viral di media sosial, sebagai bahan pencitraan untuk mendapat pujian : keren, top, mantap, luar biasa !

Berbeda dengan saat masa perjuangan kebangsaan zaman kolonial. Mesti harus disadari bahwa suasana kebatinan yang melatarbelakangi pergerakan literasi zaman penjajah disatukan oleh  semangat memerdekakan bangsa dari penjajah, sedangkan gerakan literasi kini disatukan oleh semangat Merdeka Belajar dalam jaringan maya. Jaringan pergerakan zaman kolonial adalah jaringan faktual dengan semanagat patriotik.

Tantangan literasi yang dihadapi kini adalah budaya instan digital melalui lompatan teknologi supercepat dengan bahan bacaan yang melimpah. Banjirnya bahan bacaan di media sosial dapat membuat kohesi dan koherensi kebangsaan terganggu bila tidak dibarengi dengan kecerdasan literat. Memilih, memilah, dan mengolah informasi untuk kebermaknaan hidup yang guyub memanusiakan dan memberadabkan. Bersamaan dengan itu, budaya membaca buku kian tergerus. Toko-toko buku besar juga pasrah menyerah, tidak kembali modal.

Namun demikian, buku sebagaimana lontar sebagai bagian produk budaya mesti terus diproduksi dan  dirawat bersamaan dengan semangat digitalisasi. Jika tidak demikian, tonggak sejarah perbukuan dan perlontaran akan habis ditelan zaman digital.  Hari Buku Nasional setiap 17 Mei seyogyanya menjadi  momentum refleksi Gerakan Literasi Nasional. Ayo, membaca buku! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”
Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Tags: Hari Buku NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berebut Rekomendasi Menuju Pilgub Bali: Bagaimana Peluang Koster-Giri?

Next Post

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co