2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 18, 2024
in Esai
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

Pura Uluwatu | Foto: Didik Juliawan

GUMI Delod Ceking sejak zaman dulu dikenal sebagai pusat Perguruan Spiritual, sejak kedatangan  Dang Hyang Nirartha pada abad ke-16 yang melakukan Dharma Yatra di beberapa tempat antara lain di Goa Gong, Pura Geger, Pura Gunung Payung, Pura Batu Pageh, Pura Selonding,dan Uluwatu. Menariknya tempat-tempat tujuan Dharma Yatra di Gumi Delod Ceking adalah pesisir pantai dengan batu-batu tebing yang kukuh kokoh, dengan pandan pesisir berpudak wangi menyatu dengan tebing dan deburan ombak berbuih putih berpasir putih.

Bunga pudak yang wangi menjadi parfum alam mengharumkan tebing-tebing perkasa ibarat perjaka sedang mengundang  bidadari  yang sedang mandi di segara. Melaksanakan laku asuci laksana, anganyudaken papa mala klesa.  Airnya bersih lebih-lebih diterpa sinar mentari pagi, tampak indah nian. Tenang kala sore ketika jukung-jukung nelayan mendarat diterpa  sinar mentari berwarna jingga keperakan berserak. Sungguh menakjubkan. Membuat kalangwan. 

Suasana indah itu berhasil ditangkap oleh para seniman Pecatu melalui pentas Tari Kecak yang memukau bersatu dengan keindahan Sunset Uluwatu dengan deburan ombak membentur tebing-tebing berbatu karang. Batu karang itu ternyata menjadi sumber inspirasi  bagi seniman mengarang banyolan menghibur wisatawan. Maka alih kode dalam linguistik pun terjadilah, melalui pesan-pesan punakawan yang memukau.

Berbaurnya Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dalam konteks berkecak membuat decak kagum para penonton yang merasa dielus-elus hatinya. Tontonan yang memberikan tuntunan.  Tari  Kecak telah membuat perbedaan bahasa menjadi cair dalam pergaulan antarbangsa. Terkelolanya perbedaan dengan semangat merdeka berkesenian membuat kalangwan bagi wisatawan saat merayakan 79 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fenomena ini adalah wahana pendidikan yang tidak mendadak terjadinya. Sebab sampai berhasil pentas di stage bertaksu Kawasan luar Uluwatu adalah proses menjadi dalam Pendidikan. Proses yang memerlukan ketekunan dan kedisiplinan dengan konsentrasi penuh kontemplatif.

Begitulah Gumi Delod Ceking memikat Pertapa Jawa menyatu di Uluwatu. Secara etimologi, Ulu berarti Kepala dan Watu berarti Batu. Batu di posisi ketinggian, ibarat kepala manusia sebagai ulu. Karena posisi paling tinggi di antara hamparan batu tebing pantai Gumi Delod Ceking, maka stana Beliau yang kelak dikenal sebagai Pura Uluwatu menjadi Pura dengan Status Sad Kahyangan. 

Pura Uluwatu berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan, sedangkan Pura-Pura lain yang pernah disinggahi Dang Hyang Nirartha  di Gumi Delod Ceking berstatus sebagai Pura Dang Kahyangan, kecuali Pura Geger dengan status Pura Kahyangan Jagat. Dalam konteks ke-Bali-an, Pura adalah benteng pertahanan moral spiritual masyarakat pendukungnya. Dengan kalimat lain, Pura tak ubahnya  sekolah kehidupan untuk mendidik dan menggembleng  mental spiritual umat-Nya.

Berbicara masalah pendidikan di Gumi Delod Ceking adalah berbicara masalah keberlanjutan kebudayaan bagi para pendukungnya baik bagi krama wed (warga pribumi/asal) maupun krama tamiu dengan status pendatang (urban). Baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal sebagai bagian dari  kebudayaan tampaknya sudah mendapat perhatian pemerintah di Gumi Delod Ceking ditandai dengan berdirinya  tiga kampus besar berstatus negeri, yaitu Unud, PNB, Poltekpar Bali dan dua kampus swasta Stikom Bali dan Universitas Teknologi Indonesia (UTI). Terdapat  tiga SMA Negeri, dua SMK Negeri, lima SMP Negeri, sejumlah SMP, SMA, SMK Swasta dan puluhan SD negeri dan sejumlah SD swasta. TK/PAUD Negeri, dan puluhan TK/PAUD swasta. 

Dengan demikian, di Gumi Delod Ceking, Lembaga Pendidikan dapat dikatakan lengkap dari Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi. Namun, dari ketersediaan guru, sering masih bermasalah baik dari segi jumlah, kualitas, dan distribusinya sesuai dengan mata pelajaran dan bidang keahlian di SMK.

Berdirinya  sejumlah perguruan di Gumi Delod Ceking mengingatkan kita pada perjalanan Dharma yatra Dang Hyang Nirartha yang mendirikan Pondok Sastra di kawasan Nusa Dua dengan melahirkan karya sastra Anyang Nirartha. Konon dalam tapa semadinya, Beliau telah melihat kawasan Gumi Delod Ceking bertabur sinar cahaya.

Hal itu dapat diinterpretasikan sebagai sinar taksu ilmu pengetahuan (widya) di kedalaman budhi yang memancar keluar, sehingga menjadi galang apadang, sebagai antithesis dari kegelapan (awidya) di goa peteng. Begitu pula halnya, dengan berdirinya perguruan modern di Gumi Delod Ceking, diniatkan untuk memberantas kebodohan dan kemiskinan melalui jalan terang pendidikan. Imajinasi itu kelak memang benar-benar nyata adanya. Malam bertabur cahaya lampu listrik yang indah berkat ilmu pengetahuan modern (Ipteks) yang terus-menerus dikembangkan di Lembaga Pendidikan.

Ada sejumlah makna penting yang dapat ditarik dari Gumi Delod Ceking sebagai pusat perguruan. Pertama, secara historis adalah mengaktualisasikan ajaran sastra Sang Maha Kawi Wiku untuk bertimbang rasa dalam keseimbangan sekala niskala. Boleh jadi, hal itu sudah diaktualisasikan melalui Pura Penataran yang berada di Desa Adat Kampial dengan puluhan Pura Ibu Tapa. Kalau tesis ini benar, maka semangat trisemaya : atita, nagata, wartamana berjalan secara berkelanjutannya. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata Bung Karno.

Kedua, secara geografi, Gumi Delod Ceking adalah kaki Pulau Bali. Sebagai pusat saraf yang membuat warganya bisa kokoh berdiri pantang menyerah seperti batu karang, baat tuhu, tetap kokoh walau diterjang badai. Begitulah seharusnya, warga yang mendiami Gumi Delod Ceking, selalu berguru pada karang untuk merawat integritas memuliakan Kawasan melalui jalan Pendidikan. Mendidik adalah mendidik diri-sendiri tidak mendadak dan perlu proses yang minim protes.

Ketiga, secara ekonomi berdirinya Pusat Perguruan di Gumi Delod Ceking adalah strategi pemerataan dalam konteks merta masambehan. “Alam semesta menyediakan makanan yang cukup bagi seluruh umat-Nya, tetapi tidak cukup untuk seorang yang serakah,” demikian kata para bijaksana.  Dalam konteks inilah, merawat tanah sebagai ladang utama ekonomi produktif dapat dikembangkan melalui semangat berguru penuh integritas di Perguruan modern kini. “Tidak ada jalan pintas menuju kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya dapat diraih melalui pengalaman hidup”, kata Mahatma Gandhi.

Keempat, secara kultural, Gumi Delod Ceking adalah tempat persembunyian bahkan pembuangan orang-orang yang bermasalah tempo doeloe yang belakangan dikenal sebagai warga yang nyineb wangsa. Nyineb wangsa adalah strategi penyelamatan untuk bisa bertahan hidup. Itu pula tampaknya yang membuat kata sapaan untuk ayah bagi orang Delod Ceking adalah sama yaitu Nanang. Belakangan, sapaan Nanang kian  menghilang, bahkan ada yang tersinggung bila dipanggil Nanang. Belum Merdeka Belajar. Inilah produk gagal dari proses berguru. Duh, Dewa Ratu! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Gala Dinner, “Diplomasi Paon” Kelas Dunia  
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Tags: BadungDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa DuaPura Uluwatu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Folkfest 2024: Merayakan Kemerdekaan Berkarya di Hati Ubud

Next Post

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co