24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 18, 2024
in Esai
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

Pura Uluwatu | Foto: Didik Juliawan

GUMI Delod Ceking sejak zaman dulu dikenal sebagai pusat Perguruan Spiritual, sejak kedatangan  Dang Hyang Nirartha pada abad ke-16 yang melakukan Dharma Yatra di beberapa tempat antara lain di Goa Gong, Pura Geger, Pura Gunung Payung, Pura Batu Pageh, Pura Selonding,dan Uluwatu. Menariknya tempat-tempat tujuan Dharma Yatra di Gumi Delod Ceking adalah pesisir pantai dengan batu-batu tebing yang kukuh kokoh, dengan pandan pesisir berpudak wangi menyatu dengan tebing dan deburan ombak berbuih putih berpasir putih.

Bunga pudak yang wangi menjadi parfum alam mengharumkan tebing-tebing perkasa ibarat perjaka sedang mengundang  bidadari  yang sedang mandi di segara. Melaksanakan laku asuci laksana, anganyudaken papa mala klesa.  Airnya bersih lebih-lebih diterpa sinar mentari pagi, tampak indah nian. Tenang kala sore ketika jukung-jukung nelayan mendarat diterpa  sinar mentari berwarna jingga keperakan berserak. Sungguh menakjubkan. Membuat kalangwan. 

Suasana indah itu berhasil ditangkap oleh para seniman Pecatu melalui pentas Tari Kecak yang memukau bersatu dengan keindahan Sunset Uluwatu dengan deburan ombak membentur tebing-tebing berbatu karang. Batu karang itu ternyata menjadi sumber inspirasi  bagi seniman mengarang banyolan menghibur wisatawan. Maka alih kode dalam linguistik pun terjadilah, melalui pesan-pesan punakawan yang memukau.

Berbaurnya Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dalam konteks berkecak membuat decak kagum para penonton yang merasa dielus-elus hatinya. Tontonan yang memberikan tuntunan.  Tari  Kecak telah membuat perbedaan bahasa menjadi cair dalam pergaulan antarbangsa. Terkelolanya perbedaan dengan semangat merdeka berkesenian membuat kalangwan bagi wisatawan saat merayakan 79 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fenomena ini adalah wahana pendidikan yang tidak mendadak terjadinya. Sebab sampai berhasil pentas di stage bertaksu Kawasan luar Uluwatu adalah proses menjadi dalam Pendidikan. Proses yang memerlukan ketekunan dan kedisiplinan dengan konsentrasi penuh kontemplatif.

Begitulah Gumi Delod Ceking memikat Pertapa Jawa menyatu di Uluwatu. Secara etimologi, Ulu berarti Kepala dan Watu berarti Batu. Batu di posisi ketinggian, ibarat kepala manusia sebagai ulu. Karena posisi paling tinggi di antara hamparan batu tebing pantai Gumi Delod Ceking, maka stana Beliau yang kelak dikenal sebagai Pura Uluwatu menjadi Pura dengan Status Sad Kahyangan. 

Pura Uluwatu berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan, sedangkan Pura-Pura lain yang pernah disinggahi Dang Hyang Nirartha  di Gumi Delod Ceking berstatus sebagai Pura Dang Kahyangan, kecuali Pura Geger dengan status Pura Kahyangan Jagat. Dalam konteks ke-Bali-an, Pura adalah benteng pertahanan moral spiritual masyarakat pendukungnya. Dengan kalimat lain, Pura tak ubahnya  sekolah kehidupan untuk mendidik dan menggembleng  mental spiritual umat-Nya.

Berbicara masalah pendidikan di Gumi Delod Ceking adalah berbicara masalah keberlanjutan kebudayaan bagi para pendukungnya baik bagi krama wed (warga pribumi/asal) maupun krama tamiu dengan status pendatang (urban). Baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal sebagai bagian dari  kebudayaan tampaknya sudah mendapat perhatian pemerintah di Gumi Delod Ceking ditandai dengan berdirinya  tiga kampus besar berstatus negeri, yaitu Unud, PNB, Poltekpar Bali dan dua kampus swasta Stikom Bali dan Universitas Teknologi Indonesia (UTI). Terdapat  tiga SMA Negeri, dua SMK Negeri, lima SMP Negeri, sejumlah SMP, SMA, SMK Swasta dan puluhan SD negeri dan sejumlah SD swasta. TK/PAUD Negeri, dan puluhan TK/PAUD swasta. 

Dengan demikian, di Gumi Delod Ceking, Lembaga Pendidikan dapat dikatakan lengkap dari Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi. Namun, dari ketersediaan guru, sering masih bermasalah baik dari segi jumlah, kualitas, dan distribusinya sesuai dengan mata pelajaran dan bidang keahlian di SMK.

Berdirinya  sejumlah perguruan di Gumi Delod Ceking mengingatkan kita pada perjalanan Dharma yatra Dang Hyang Nirartha yang mendirikan Pondok Sastra di kawasan Nusa Dua dengan melahirkan karya sastra Anyang Nirartha. Konon dalam tapa semadinya, Beliau telah melihat kawasan Gumi Delod Ceking bertabur sinar cahaya.

Hal itu dapat diinterpretasikan sebagai sinar taksu ilmu pengetahuan (widya) di kedalaman budhi yang memancar keluar, sehingga menjadi galang apadang, sebagai antithesis dari kegelapan (awidya) di goa peteng. Begitu pula halnya, dengan berdirinya perguruan modern di Gumi Delod Ceking, diniatkan untuk memberantas kebodohan dan kemiskinan melalui jalan terang pendidikan. Imajinasi itu kelak memang benar-benar nyata adanya. Malam bertabur cahaya lampu listrik yang indah berkat ilmu pengetahuan modern (Ipteks) yang terus-menerus dikembangkan di Lembaga Pendidikan.

Ada sejumlah makna penting yang dapat ditarik dari Gumi Delod Ceking sebagai pusat perguruan. Pertama, secara historis adalah mengaktualisasikan ajaran sastra Sang Maha Kawi Wiku untuk bertimbang rasa dalam keseimbangan sekala niskala. Boleh jadi, hal itu sudah diaktualisasikan melalui Pura Penataran yang berada di Desa Adat Kampial dengan puluhan Pura Ibu Tapa. Kalau tesis ini benar, maka semangat trisemaya : atita, nagata, wartamana berjalan secara berkelanjutannya. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata Bung Karno.

Kedua, secara geografi, Gumi Delod Ceking adalah kaki Pulau Bali. Sebagai pusat saraf yang membuat warganya bisa kokoh berdiri pantang menyerah seperti batu karang, baat tuhu, tetap kokoh walau diterjang badai. Begitulah seharusnya, warga yang mendiami Gumi Delod Ceking, selalu berguru pada karang untuk merawat integritas memuliakan Kawasan melalui jalan Pendidikan. Mendidik adalah mendidik diri-sendiri tidak mendadak dan perlu proses yang minim protes.

Ketiga, secara ekonomi berdirinya Pusat Perguruan di Gumi Delod Ceking adalah strategi pemerataan dalam konteks merta masambehan. “Alam semesta menyediakan makanan yang cukup bagi seluruh umat-Nya, tetapi tidak cukup untuk seorang yang serakah,” demikian kata para bijaksana.  Dalam konteks inilah, merawat tanah sebagai ladang utama ekonomi produktif dapat dikembangkan melalui semangat berguru penuh integritas di Perguruan modern kini. “Tidak ada jalan pintas menuju kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya dapat diraih melalui pengalaman hidup”, kata Mahatma Gandhi.

Keempat, secara kultural, Gumi Delod Ceking adalah tempat persembunyian bahkan pembuangan orang-orang yang bermasalah tempo doeloe yang belakangan dikenal sebagai warga yang nyineb wangsa. Nyineb wangsa adalah strategi penyelamatan untuk bisa bertahan hidup. Itu pula tampaknya yang membuat kata sapaan untuk ayah bagi orang Delod Ceking adalah sama yaitu Nanang. Belakangan, sapaan Nanang kian  menghilang, bahkan ada yang tersinggung bila dipanggil Nanang. Belum Merdeka Belajar. Inilah produk gagal dari proses berguru. Duh, Dewa Ratu! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Gala Dinner, “Diplomasi Paon” Kelas Dunia  
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Tags: BadungDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa DuaPura Uluwatu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Folkfest 2024: Merayakan Kemerdekaan Berkarya di Hati Ubud

Next Post

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co