2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 21, 2024
in Esai
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

Pura Gunung Payung

PURA Gunung Payung di Gumi Delod Ceking, tepatnya terletak di Desa Adat Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Pura ini berstatus sebagai Pura Dang Kahyangan terletak di  batas Timur Desa Adat Kutuh, sedangkan batas Baratnya adalah  Pura Batu Pageh. Keduanya berstatus sebagai Pura Dang Kahyangan yang dipercaya sebagai pura tempat persinggahan Dang Hyang Nirartha dalam dharma yatranya di Gumi Delod Ceking.

Dalam buku sejarah Pura-Pura di Bali karya I Ketut Subandi, Pura Gunung Payung disebut Pura Bukit Tedung. Penamaan ini terkait dengan dharma yatra Dang Hyang Nirartha di Gumi Delod Ceking. Konon dalam pengembaraan-Nya, setiba di Gunung Payung, Beliau kehausan tiada air di atas batu karang yang kering kerontang. Maka ditancapkanlah tangkai payung dan keajaiban tiba-tiba muncul mengeluarkan air sebagai pelepas dahaga.

Krama Desa Adat Kutuh menyebut tempat sumber air yang keluar dari bebatuan itu  disebut kubung, ’danau karst’. Kini kubung itu disakralkan sebagai sumber tirta yang tidak pernah kering walaupun musim kemarau sekali pun. Menurut penuturan I Wayan Kitra, anak seorang pemangku Pura Gunung Payung, menyebutkan, pernah warga nunas tirta ketika terjadi masalah keributan antarpemuda desa bertetangga, tirtanya keruh ‘puek’, tidak seperti biasanya, bening. Fenomena ini dapat ditafsirkan sebagai respon alam Spiritual terhadap disharmoni yang terjadi di sekitarnya.

Dalam sejarahnya, upacara besar dengan Caru Panca Kelud pernah dilaksanakan di Pura Gunung Payung pada 1984 saat Purnama Sasih Kadasa, ketika Bandesa Adat Kutuh dijabat oleh I Ketut Subrata. Sejak itu, Pujawali Pura Gunung Payung dilaksanakan pada Purnama Sasih Kadasa padahal menurut Awig-Awig Desa Adat Kutuh Pujawali Pura Gunung Payung jatuh pada Purnama Sasih Kaulu. Sejak 2005, Pujawali dikembalikan ke Purnama Sasih Kaulu, saat Bandesa Adat Kutuh dijabat oleh I Wayan Litra  (almarhum).

Pada 2008 penataan dilakukan secara besar-besaran, mengikuti konsep trimandala : Utama Mandala, Madya Mandala, Nista Mandala. Saat penataan itu, sejumlah bangunan penunjang didirikan termasuk Bale Gong dan Bale Kulkul.

Sebelumnya, sekitar 1997 didirikan Padmasana atas petunjuk Ida Pedanda dari Geria Taman Sanur. Setelah penataan selesai, dilaksanakan upacara besar pada 2012 dan sejak itu, Pura Dang Kahyangan Gunung Payung mendapat bantuan dana Upacara Pujawali dari APBD Pemerintah Kabupaten Badung, saat Bupati Badung dijabat Anak Agung Gde Agung, S.H.

Sampai 2024,  dua kali musibah menimpa Pura Gunung Payung, pada 2013  setahun setelah karya besar itu, Bale Papelik roboh diterjang badai dan 2023  Meru Tumpang Tiga Pura Gunung Payung  terbakar dengan dugaan sumber api berasal dari api dupa setelah sembahyang.

 Di dalam Awig-Awig Desa Adat Kutuh, disebutkan Pura Gunung Payung termasuk Pura Pangibeh sisi timur, sedang sisi Baratnya adalah Pura Batu Pageh yang juga disungsung oleh Desa Adat Ungasan. Pura Pangibeh di Utara adalah Pura Melang Kaja dan Pangibeh Selatannya adalah Pura Penyarikan. Di Tenggara Desa Adat Kutuh terdapat Pura Pangibeh Melang Kelod, sedangkan di Timur Lautnya Pura Bangbang Beji, dengan pusatnya di Pura Pengubengan.

Di Barat Laut Desa terdapat Pura Pangibeh Dauh Margi.  Keberadaan Pura Pangibeh Desa Adat Kutuh ibarat padma buana yang mengelilingi Desa Adat Kutuh tak ubahnya benteng pertahanan penjaga sekala niskala Desa Adat Kutuh.

Selain memiliki Pura Pengibeh, Desa Adat Kutuh tentu saja memiliki Pura Kahyangan Tiga  (Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem,dan Pura Praja Pati di Ulu Setra), Pura Toyo Ning serta Pura Segara. Jika Desa Adat Kampial memiliki Pura Penataran dan sejumlah Pura Ibu Tapa sebagai ciri pemerlainnya, Desa Adat Kutuh memiliki Pura Pengibeh dan Pura Pengubengan sebagai ciri pemerlain. Hal ini unik karena konsep  Pura Pengibeh ini  tidak ditemukan di desa adat Delod Ceking lainnya.

Begitu juga Pura Pengubengan, di Gumi Delod Ceking hanya ada di Desa Adat Kutuh. Mirip dengan Desa Adat Kampial dengan Pura Penataran dan Kutuh dengan Pura Pengubengan mengingatkan saya pada keberadaan Pura Besakih yang memiliki Pura Penataran Agung dan Pura Pengubengan. Boleh jadi kedua desa adat itu mendekatkan diri dengan Besakih melalui mendirikan penyawangan  Pura Penataran dan Pura Pengubengan tempo doeloe ketika akses dan transportasi masih sulit.

Kembali ke Pura Gunung Payung sebagai Pura Dang Kahyangan. Walaupun secara geografi kewilayahan berada di Desa Adat Kutuh, tetapi penyungsung pangarep-nya  juga dari Desa Adat Kampial, Desa Adat Bualu, dan Desa Adat Peminge.  Ada dua tugas dari Desa Adat Kampial yaitu  ngaturang banten sesayut menjelang usai rangkaian Puja Wali yang jatuh setiap Purnama Kaulu dan ngaturang tabuh rah. Itu  dilakoni Desa Adat Kampial secara konvensional turun – temurun dari dulu hingga kini.

Desa Adat Bualu  biasanya ngaturang ayah masolah dari sekaa unen Jaba berupa Rangda dan Barong, sedangkan Desa Adat Peminge ngaturang ayah masolah dari sekaa unen Banjar Sawangan. Yang unik dari Sekaa Unen Sawangan, selain menampilkan Barong dan Rangda, juga diiringi  Tari Telek. Perlu juga  dicatat, Sekaa Unen  dari luar Desa Adat Kutuh, jika ngaturang ayah masolah serangkaian Pujawali selalu dimulai dari Sekaa Unen Banjar Pantigiri Kutuh sebagai tuan rumah yang berupa Rangda, Ratu Ayu Manik Sari dengan iringan Tari Legong.

Sebagai mana pujawali pada umumnya, puja wali di Pura Dang Kahyangan Gunung Payung  merepresentasikan menyatunya semangat ritual dan spiritual yang  selalu ditunggu-tunggu krama Desa Adat Kutuh karena selain melaksanakan persembahyangan mereka juga mendapat tontonan gratis di Madya Mandala yang luas dari sekaa unen yang ngaturang sesolahan. Munculnya festival-festival seni di berbagai Kawasan wisata kini juga terinspirasi dari semangat ngayah yang berlangsung di Pura dengan konsep persembahan kepada Hyang Widhi dengan segala manifestasinya.

Keberadaan sekaa unen di desa adat itu membuktikan bahwa Pura Gunung Payung (dan Pura pada umumnya) adalah lembaga pendidikan senyata-nayatanya dalam rangka mendidik dan mengajarkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada krama panyungsung-nya. sebagaimana Lembaga Pendidikan modern mengajarkannya.

Dalam konteks keberagamaan, bukan hanya di Pura  tempat mengaktualisasikan ajaran tatwa, susila, upacara melainkan juga di setiap jejak langkah kehidupan karena beragama adalah laku hidup dalam keseharian. Pura dan tempat suci pada umumnya adalah tempat penguatan dalam mengembangkan tatwa, Susila, upacara. Jika Pendidikan pada hakikatnya mendidik diri sendiri, maka Pura pada hakikatnya meru sarira dalam diri. Menempuh Pendidikan keluar untuk meningkatkan kualitas diri, begitu juga melakukan dharma yatra keluar juga untuk meningkatkan kualitas diri  terhubung dengan Sang Maha Kawi. Begitulah, Dang Hyang Niratha meningkatkan kualitas pencapaian hingga moksa di Pura Uluwatu. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: Desa Adat KampialDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa DuaPura Gunung Payung
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Buku yang Mengawali Cinta

Next Post

Kasino di Bali: Perjudian dengan Aroma Pariwisata

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Kasino di Bali: Perjudian dengan Aroma Pariwisata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co