2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku yang Mengawali Cinta

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 21, 2024
in Esai
Buku yang Mengawali Cinta

Buku " Catatan Pinggir"

SEBAGAI penikmat bacaan sejak usia muda, cukup mengherankan kalau buku pertama yang saya beli dari kantong sendiri adalah saat kuliah dulu. Itupun dengan mengorbankan bekal sebagai anak kost selama sepekan.

Buku Supernova, dengan anak judul Ksatria, Puteri dan Bintang jatuh yang ditulis Dewi Lestari (Dee) menjadi awal saya berani membeli buku. Saya tertarik membeli buku itu, karena ada pembahasan selama sebulan di rubrik sastra koran yang saya baca (Kompas dan Jawa Pos kalau tak salah ingat).

Banyak yang memuji buku itu dengan berbusa, tapi ada juga yang mengkritisinya dengan obyektif. Dan yang cukup romantis, buku itu saya berikan ke teman wanita yang memikat hati saya saat itu.

Dan buku berikutnya baru mampu  saya beli dengan sepenuh hati. Karena saat itu saya sudah mulai bekerja sebagai dokter jaga di klinik swasta di daerah Buleleng bagian barat. Buku kumpulan catatan pinggir tulisan Goenawan Mohamad (GM) begitu berkesan bagi saya. Saat buku itu dipinjam senior dokter dan tak kembali, saya membelinya lagi saat turun gunung ke kota  Denpasar.

Sejak mengenal tulisan GM itu, kecintaaan saya pada karya GM tak pernah surut hingga saat ini. Sampai hari ini, saya telah mengoleksi lima belasan buku tulisan GM.

Buku itu berisi kumpulan tulisan GM di majalah Tempo, yang khusus dibuatkan kolom yaitu Catatan Pinggir. Yang kalau dihitung sudah hampir melewati tiga dasa warsa GM  rutin mengisi kolom itu. Terhitung dari awal Tempo terbit.

Begitu banyak dan beragam tema yang ia angkat dalam tulisan itu. Dari yang berat mengenai Ideologi, agama, politik,  sastra, sampai yang agak ringan, seperti cerita tentang tokoh, dan peristiwa yang diceritakan dari sudut pandang GM, dan disandingkan dengan khasanah pengetahuan dan pemikiran yang ia miliki.

Tapi bagi saya sendiri, tulisan di buku itu mampu menjadi pintu masuk untuk membaca lebih jauh tentang tokoh, buku, tulisan yang menjadi tema dalam satu judul tulisan.

Saat ada kutipan Paulo Coelho disana, saya pasti segera memburu bukunya. Begitupun saat sebait tulisan Chairil Anwar dikutip, saya akan tergerak untuk mencari buku biografi tentang sang “binatang jalang” itu.

Dalam tulisan GM sering kita temukan petikan kata-kata indah penuh makna dari banyak penulis dalam dan luar negeri. Petikan puisi yang dicantumkan dalam tulisannya pun, bisa tersimpan di ingatan saya dalam waktu yang lama. Karena biasanya disertai penjelasan tentang latar belakang penulisan, suasana kebatinan penulis saat menulis puisi tersebut, maupun situasi sosial yang menyertai penulisan puisi itu.

Beberapa yang masih saya ingat , puisi Huesca ditulis oleh Jack Conford, penulis Inggris, sesaat sebelum kematiannya dalam perang saudara di Spanyol.

Kenanglah segala yang baik
Dan cintaku yang kekal

Kata-kata Daniel Ortega, presiden Nikaragua saat partainya Sandinista kalah dalam Pemilu saat itu. Benar-benar mewakili ide sosialisme yang tak lekang oleh waktu.

“Kami lahir miskin, tak menyesal kalau mati pun tetap miskin.Kami tak akan berselingkuh dengan kekuasaan. Dan kami telah memberikan pemilu yang bersih dan jujur untuk rakyat Nikaragua.”

 Tulisan tentang sebuah anomali kehidupan, ketika seorang pangeran kerajaan Mataram di abad 19 meninggalkan kekayaan dan istananya yang megah. Untuk menjadi rakyat biasa di pesisir utara Pulau Jawa. Tulisan ditutup dengan sebait puisi yang menyentuh.

Lihatlah tanganku di akar rumput
Lebih banyak yang bisa kusentuh
Dari yang mampu kau rengkuh

Cerita tentang tokoh, pernah mengupas kehidupan dan pilihan hidup Romo Mangunwijaya. Seorang humanis yang dengan program Kali Code-nya banyak membantu kaum marginal di pinggiran Yogyakarta. Yang mencengangkan, ternyata GM sangat mengagumi sosok Sutan Syahrir, lebih dibandingkan tokoh pahlawan lain yang lebih kita kenal semisal Bung Karno dan Bung Hatta.

Alasan yang dikemukakan, karena ia mengagumi sosok yang kalah dari Sutan Syahrir dan tetap menerima kekalahannya itu secara legawa tanpa dendam. Kalah yang dimaksud tentu saja kekalahan secara politik dari sosok Bung Karno.

Di tahun 60-an ia pernah ditanya wartawan, “Kalau sekarang Bapak dipanggil ke istana oleh Presiden, apakah Bapak bersedia?” Dengan senang hati, jawabnya. Karena Bung Karno adalah presiden saya. Sosok dengan jiwa besar dalam tubuhnya yang mungil.

Tentang sang penulis sendiri, barangkali tak ada yang perlu saya tambahkan lagi. Seorang sastrawan lintas generasi, budayawan yang kata-katanya masih banyak dikutip. Akun media sosialnya saja diikuti oleh  ribuan follower saya lihat. Ia seumuran dengan bapak saya. Ayahnya mati dieksekusi NICA saat zaman perjuangan.

Kakaknya seorang dokter yang aktif berorganisasi dan sempat menjadi Ketua IDI dalam waktu yang lama. Ia bersahabat dengan Salim Said, sejak pertama merintis majalah Tempo. Yang ironisnya, begitu Salim Said balik dari studinya di Amerika mereka berpisah. Saya lihat dalam situasi politik terkini sepertinya mereka bersimpangan.

Hubungannya dengan Romo Magnis Susseno, bagawan filsafat kita cukup unik. Mereka saling mengagumi, tapi tak mesti sejalan dalam sikap dan pemikiran. Tulisan Romo Magnis untuk pengantar buku GM saya rasa merupakan yang terbaik diantara penulis yang lain. Begitu jernih, memukau dan menimbulkan rasa ingin tahu yang mendesak untuk segera membaca buku itu secara keseluruhan.

Mereka pernah berseberangan dalam menyikapi sepak terjang Ahok saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, ini mungkin terkait dengan sikap Romo Magnis yang menghindari konfrontasi. Tetapi untuk situasi politik terkini, saya lihat mereka berada dalam satu gelombang pikiran yang sama.

Dan terakhir yang perlu kita teladani dari GM, adalah pilihan sikapnya. Itu menjiwai secara tersamar pemberitaan dan cara pandang secara umum majalah Tempo yang ia rintis dari awal. Sehingga saat orang berbicara tentang Tempo, mereka pasti tak melupakan sosok GM di belakangnya.

“Jurnalisme kami tak hendak mendesakkan sebuah kebenaran, sebatas mengetuk pintu untuk hadirnya,” kata GM tentang pilihan sikap yang diambil Tempo.

Dan ia bukanlah sosok yang anti kritik. Kritik itu adalah sebuah keniscayaan, karena tak ada yang abadi dalam sikap dan pemikiran seseorang, kita hari ini, belum tentu sama dengan kita seminggu yang akan datang. Jadi sampai saat ini pun ia  bersetia dengan sikapnya itu untuk tetap mengkritisi apapun, seperti diungkapkan dalam sebait puisinya, “dengan raung yang tak diserap karang”

Tak salah kalau seorang Nirwan Arsuka, redaktur budaya senior Kompas dulu, pernah menyandingkan GM dengan Pramoedya Ananta Toer, dalam hal menghasilkan karya sastra secara konsisten dengan kualitas yang nyaris tak pernah berkurang.

Akhirnya di usia yang hampir mendekati 80 tahun, selayaknya kita tetap berharap, panjang umur dan tetap berkarya guru bangsa.

Old Soldier Never die ! [T]

Menatap Perempuan Bali Secara Sekala dan Niskala dalam Leak Tegal Sirah
Tags: BukuDee LestariGoenawan Mohamad
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meisya Tiarani, Siswa SMAN 1 Singaraja, Juara Pencak Silat Porjar Bali 2024: Hasil Perjuangan Bertahap  

Next Post

Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co