23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku yang Mengawali Cinta

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
August 21, 2024
in Esai
Buku yang Mengawali Cinta

Buku " Catatan Pinggir"

SEBAGAI penikmat bacaan sejak usia muda, cukup mengherankan kalau buku pertama yang saya beli dari kantong sendiri adalah saat kuliah dulu. Itupun dengan mengorbankan bekal sebagai anak kost selama sepekan.

Buku Supernova, dengan anak judul Ksatria, Puteri dan Bintang jatuh yang ditulis Dewi Lestari (Dee) menjadi awal saya berani membeli buku. Saya tertarik membeli buku itu, karena ada pembahasan selama sebulan di rubrik sastra koran yang saya baca (Kompas dan Jawa Pos kalau tak salah ingat).

Banyak yang memuji buku itu dengan berbusa, tapi ada juga yang mengkritisinya dengan obyektif. Dan yang cukup romantis, buku itu saya berikan ke teman wanita yang memikat hati saya saat itu.

Dan buku berikutnya baru mampu  saya beli dengan sepenuh hati. Karena saat itu saya sudah mulai bekerja sebagai dokter jaga di klinik swasta di daerah Buleleng bagian barat. Buku kumpulan catatan pinggir tulisan Goenawan Mohamad (GM) begitu berkesan bagi saya. Saat buku itu dipinjam senior dokter dan tak kembali, saya membelinya lagi saat turun gunung ke kota  Denpasar.

Sejak mengenal tulisan GM itu, kecintaaan saya pada karya GM tak pernah surut hingga saat ini. Sampai hari ini, saya telah mengoleksi lima belasan buku tulisan GM.

Buku itu berisi kumpulan tulisan GM di majalah Tempo, yang khusus dibuatkan kolom yaitu Catatan Pinggir. Yang kalau dihitung sudah hampir melewati tiga dasa warsa GM  rutin mengisi kolom itu. Terhitung dari awal Tempo terbit.

Begitu banyak dan beragam tema yang ia angkat dalam tulisan itu. Dari yang berat mengenai Ideologi, agama, politik,  sastra, sampai yang agak ringan, seperti cerita tentang tokoh, dan peristiwa yang diceritakan dari sudut pandang GM, dan disandingkan dengan khasanah pengetahuan dan pemikiran yang ia miliki.

Tapi bagi saya sendiri, tulisan di buku itu mampu menjadi pintu masuk untuk membaca lebih jauh tentang tokoh, buku, tulisan yang menjadi tema dalam satu judul tulisan.

Saat ada kutipan Paulo Coelho disana, saya pasti segera memburu bukunya. Begitupun saat sebait tulisan Chairil Anwar dikutip, saya akan tergerak untuk mencari buku biografi tentang sang “binatang jalang” itu.

Dalam tulisan GM sering kita temukan petikan kata-kata indah penuh makna dari banyak penulis dalam dan luar negeri. Petikan puisi yang dicantumkan dalam tulisannya pun, bisa tersimpan di ingatan saya dalam waktu yang lama. Karena biasanya disertai penjelasan tentang latar belakang penulisan, suasana kebatinan penulis saat menulis puisi tersebut, maupun situasi sosial yang menyertai penulisan puisi itu.

Beberapa yang masih saya ingat , puisi Huesca ditulis oleh Jack Conford, penulis Inggris, sesaat sebelum kematiannya dalam perang saudara di Spanyol.

Kenanglah segala yang baik
Dan cintaku yang kekal

Kata-kata Daniel Ortega, presiden Nikaragua saat partainya Sandinista kalah dalam Pemilu saat itu. Benar-benar mewakili ide sosialisme yang tak lekang oleh waktu.

“Kami lahir miskin, tak menyesal kalau mati pun tetap miskin.Kami tak akan berselingkuh dengan kekuasaan. Dan kami telah memberikan pemilu yang bersih dan jujur untuk rakyat Nikaragua.”

 Tulisan tentang sebuah anomali kehidupan, ketika seorang pangeran kerajaan Mataram di abad 19 meninggalkan kekayaan dan istananya yang megah. Untuk menjadi rakyat biasa di pesisir utara Pulau Jawa. Tulisan ditutup dengan sebait puisi yang menyentuh.

Lihatlah tanganku di akar rumput
Lebih banyak yang bisa kusentuh
Dari yang mampu kau rengkuh

Cerita tentang tokoh, pernah mengupas kehidupan dan pilihan hidup Romo Mangunwijaya. Seorang humanis yang dengan program Kali Code-nya banyak membantu kaum marginal di pinggiran Yogyakarta. Yang mencengangkan, ternyata GM sangat mengagumi sosok Sutan Syahrir, lebih dibandingkan tokoh pahlawan lain yang lebih kita kenal semisal Bung Karno dan Bung Hatta.

Alasan yang dikemukakan, karena ia mengagumi sosok yang kalah dari Sutan Syahrir dan tetap menerima kekalahannya itu secara legawa tanpa dendam. Kalah yang dimaksud tentu saja kekalahan secara politik dari sosok Bung Karno.

Di tahun 60-an ia pernah ditanya wartawan, “Kalau sekarang Bapak dipanggil ke istana oleh Presiden, apakah Bapak bersedia?” Dengan senang hati, jawabnya. Karena Bung Karno adalah presiden saya. Sosok dengan jiwa besar dalam tubuhnya yang mungil.

Tentang sang penulis sendiri, barangkali tak ada yang perlu saya tambahkan lagi. Seorang sastrawan lintas generasi, budayawan yang kata-katanya masih banyak dikutip. Akun media sosialnya saja diikuti oleh  ribuan follower saya lihat. Ia seumuran dengan bapak saya. Ayahnya mati dieksekusi NICA saat zaman perjuangan.

Kakaknya seorang dokter yang aktif berorganisasi dan sempat menjadi Ketua IDI dalam waktu yang lama. Ia bersahabat dengan Salim Said, sejak pertama merintis majalah Tempo. Yang ironisnya, begitu Salim Said balik dari studinya di Amerika mereka berpisah. Saya lihat dalam situasi politik terkini sepertinya mereka bersimpangan.

Hubungannya dengan Romo Magnis Susseno, bagawan filsafat kita cukup unik. Mereka saling mengagumi, tapi tak mesti sejalan dalam sikap dan pemikiran. Tulisan Romo Magnis untuk pengantar buku GM saya rasa merupakan yang terbaik diantara penulis yang lain. Begitu jernih, memukau dan menimbulkan rasa ingin tahu yang mendesak untuk segera membaca buku itu secara keseluruhan.

Mereka pernah berseberangan dalam menyikapi sepak terjang Ahok saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, ini mungkin terkait dengan sikap Romo Magnis yang menghindari konfrontasi. Tetapi untuk situasi politik terkini, saya lihat mereka berada dalam satu gelombang pikiran yang sama.

Dan terakhir yang perlu kita teladani dari GM, adalah pilihan sikapnya. Itu menjiwai secara tersamar pemberitaan dan cara pandang secara umum majalah Tempo yang ia rintis dari awal. Sehingga saat orang berbicara tentang Tempo, mereka pasti tak melupakan sosok GM di belakangnya.

“Jurnalisme kami tak hendak mendesakkan sebuah kebenaran, sebatas mengetuk pintu untuk hadirnya,” kata GM tentang pilihan sikap yang diambil Tempo.

Dan ia bukanlah sosok yang anti kritik. Kritik itu adalah sebuah keniscayaan, karena tak ada yang abadi dalam sikap dan pemikiran seseorang, kita hari ini, belum tentu sama dengan kita seminggu yang akan datang. Jadi sampai saat ini pun ia  bersetia dengan sikapnya itu untuk tetap mengkritisi apapun, seperti diungkapkan dalam sebait puisinya, “dengan raung yang tak diserap karang”

Tak salah kalau seorang Nirwan Arsuka, redaktur budaya senior Kompas dulu, pernah menyandingkan GM dengan Pramoedya Ananta Toer, dalam hal menghasilkan karya sastra secara konsisten dengan kualitas yang nyaris tak pernah berkurang.

Akhirnya di usia yang hampir mendekati 80 tahun, selayaknya kita tetap berharap, panjang umur dan tetap berkarya guru bangsa.

Old Soldier Never die ! [T]

Menatap Perempuan Bali Secara Sekala dan Niskala dalam Leak Tegal Sirah
Tags: BukuDee LestariGoenawan Mohamad
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meisya Tiarani, Siswa SMAN 1 Singaraja, Juara Pencak Silat Porjar Bali 2024: Hasil Perjuangan Bertahap  

Next Post

Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co