3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menatap Perempuan Bali Secara Sekala dan Niskala dalam Leak Tegal Sirah

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
July 22, 2024
in Ulas Buku
Menatap Perempuan Bali Secara Sekala dan Niskala dalam Leak Tegal Sirah

Novel; Leak Tegal Sirah

SEJAK zaman kolonial hingga tulisan ini diketik, citra perempuan Bali dalam sastra Indonesia tak pernah mulia. Mereka kerap ditampilkan menjadi budak, pedagang yang merangsang, ibu rumah tangga tanpa pilihan, korban pemerkosaan, leak hingga manusia jadi-jadian. Citra perempuan Bali yang tak pernah tampil mulia itu bisa dilacak pada karya-karya pengarang laki-laki seperti Panji Tisna, Putu Wijaya, Aryantha Soethama dan yang terbaru sekaligus yang menjadi objek utama kajian artikel ini adalah Leak Tegal Sirah karya I Gusti Putu Bawa Samar Gantang.

Leak Tegal Sirah masuk dalam 10 besar nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2020. Berlatar politik 1965, Leak Tegal Sirah mengeksplorasi kekerasan yang dilakukan terhadap negara beserta unsur-unsur horor yang diambil dari pelbagai jenis leak—semacam hantu dan ilmu hitam di Bali. Ulak-alik beragam kekerasan, persoalan-persoalan yang dihadirkan serta timbul tenggelamnya leak Bali dalam beberapa bab menjadikan novel ini pintu masuk melihat Bali dari sudut pandang yang lain.

Ketika Bali cenderung digambarkan sebagai sebuah pulau yang indah, Leak Tegal Sirah melihatnya dari sudut yang lain.

Kecenderungan hal-hal yang dibicarakan dalam novel ini bukanlah sesuatu yang indah;yang kadang membuat hati hangat membacanya, tidak ada gambar-gambar mempesona tentang pulau Bali ala kartu pos di novel ini. Samar Gantang cenderung menampilkan sesuatu yang keras dan kasar—pembunuhan, penindasan, hingga pemerkosaan pada level yang paling brutal. Hal ini termasuk bagaimana ia menggambarkan perempuan dalam ceritanya. Perempuan ditatap sebagai sebuah objek yang direduksi kedalam bentuk dan citra yang tidak mulia.

Konsep tentang tatapan mata menggambarkan sebentuk kekuatan yang diasosiasikan dengan mata dan indera penglihatan. Ketika kita menatap seseorang atau sesuatu, kita tidak semata-mata ‘melihat’. Tatapan mata menyelidik dan menguasai. Ia menembus dan mengobjekkan tubuh. Dalam kacamata psikoanalitik, tatapan mata dikaitkan dengan empat konsep utama: scopofilia, voyeurisme, fetishisme, dan sadisme.

Scopofilia merujuk pada pengalaman kesenangan yang muncul akibat dari tindakan melihat. Voyeurisme menunjukkan rasa senang yang ditimbulkan dengan memandang tubuh orang lain, terutama pada saat tidak berbusana atau hendak melakukan hubungan seksual. Jika pada scopofilia semata-mata untuk mendapatkan kesenangan, tapi tidak dalam voyeurisme dimana melihatnya sebagai sebuah entitas yang bersifat seksual dan erotis.

Fetishisme menggambarkan kecenderungan merasakan dengan kuat (bahkan secara obsesif) yang menarik perhatian objek atau atribut-atribut badaniah yang dihubungkan dengan pasangan seks dan bukan tubuh aktualnya. Sedangkan sadisme dimana merujuk pada kecenderungan mendapatkan kesenangan dari pengamatan terhadap kepedihan orang lain.

Di sini, objek tatapan mata hanya puas sampai pada tingkatan mana ia tunduk pada kekerasan dan kekejaman (Calvaro, 2004). Merujuk pada teori tersebut, artikel ini mengeksplorasi bagaimana perempuan Bali ditatap dan kelindannya terhadap lahirnya identitas sosial.

Identitas seseorang dihasilkan melalui penampilan (performance) dan permainan peran (role-playing). Pengulangan memainkan babak penting dalam proses ini, karena dengan menampilkan tindakan-tindakan tertentu secara berulang individu memperoleh sebuah identitas koheren yang nyata. ‘Performa gender’, disebutkan Butler bergantung pada ‘praktik pengulangan rezim-rezim seksual yang bersifat mengendalikan’. Sebuah peran gender, oleh karenanya, tidak bersifat alami maupun opsional: pada kenyataannya peran gender terkonstruksi oleh pelbagai wacana kultural dan khususnya oleh bahasa (Calvaro, 2004).

Oleh karenanya, pengulangan-pengulangan peran gender dalam novel atau karya sastra dengan piranti bahasa secara tidak langsung semakin meneguhkan dominasi laki-laki dan memposisikan perempuan di bawah dominasi laki-laki. Kecenderungan perempuan Bali ditatap dalam karya sastra dibagi kedalam tiga bagian, sebagai berikut:

Perempuan Bali dalam Pusaran Politik, Modernisasi dan Tradisional 

Kecenderungan perempuan Bali ditampilkan kerap kali bersinggungan dengan isu politik, modernisasi dan tradisional. Dalam Leak Tegal Sirah, perempuan Bali tampil sebagai orang-orang yang dicap GERWANI—berafiliasi dengan politik kiri, satu bentuk dukungan politik yang dipandang sebagai biang kerok kekacauan sekaligus kotor pada rezim Soeharto.

Perempuan Bali yang tampil baik dengan cap GERWANI, maupun perempuan yang tidak berpolitik (netral) atau tidak tahu menahu soal politik dicap sebagai orang-orang yang tidak bertuhan yang dengan artian layak diperkosa, dibunuh, serta sesekali digambarkan menikmati seks bahkan hingga ketagihan memintanya lagi dan lagi. Hal tersebut menyebabkan setiap bab dalam novel ini dipenuhi simbah darah, sperma dan air mata. Seperti pada bagian ini:

Telanjang bulat di ranjang. Perempuan tak bertuhan itu pucat pasi ketika saya setubuhi sambil menempelkan pedang yang blepotan darah pada lehernya,” ucap Aji Grodog tengadah. Matanya terpejam. Bibirnya tersenyum lebar, membayangkan nikmat mangsa yang disetubuhinya ketakutan. (Hal.63).

Nang Njin … setubuhi saya …,” suara itu mengalun memanggil-manggil. Suara yang ia kenal, Luh Loling. (Hal. 134)

Mengangguk setuju. Kedelapannya tersenyum. Senyum penuh arti dan tatapan binal, nakal, birahi, sekalipun kedelapannya sudah terbilang nenek-nenek. (Hal.139).

Yang ketagihan menikmati seks ya perempuan. Perempuan hanya kerap ditatap sebagai objek voyeurisme dan sesekali sadisme. Mereka cenderung indah dilihat ketika telanjang bulat atau nikmat disetubuhi apalagi hingga perempuan atau istilah yang Samar Gantang kerap gunakan “mangsa”, hingga ketakutan. Perempuan atau mangsa ini kerap tidak bisa melawan atau menang melawan pemangsanya, jika pun menang yang dilawan adalah rasa takut dalam dirinya sendiri. Dari yang awalnya takut dengan pemangsa, menjadi tidak takut dan bisa jadi berakhir dengan ketagihan naik ranjang.  Sebagai berikut:

Bisikan, rabaan, ciuman Mas Asih membuat Siluh Durus perlahan hilang rasa takutnya. Hanyut, larut menikmati malam surga. Keduanya setiap malam berbulan madu. Siluh Durus jadi ketagihan naik Rajang berduaan. (Hal.89).

Dalam cerita Leak Tegal Sirah, ada satu kali perempuan menang dan dipilih sebagai kelian atau kepala desa. Namun hal ini bukan karena kemampuan perempuan bisa memimpin, bukan karena perempuan mempunyai suara dalam politik, tapi karena sudah tidak ada laki-laki. Sehingga, yang boleh memimpin hanyalah laki-laki, perempuan hanya ikut saja. Hal ini kian menjauhkan jarak dominasi antara laki-laki dan perempuan. Kalau toh boleh dan bisa perempuan memimpin, itu pun jika laki-laki sudah tidak ada lagi. Seperti dalam kutipan berikut ini:

Pertama, pemilihan kelian Banjar Tegal Sirah yang baru. Terpilih Siluh Jibrug jadi kelian Banjar Tegal Sirah yang baru. Terpilih Siluh Jibrug jadi kelian baru karena sudah tidak ada siapa-siapa atau laki-laki lagi di banjar itu. Ia menjadi satu-satunya kelian banjar perempuan yang ada di Kota Carik dan yang ada di Bali. (Hal.145).

Perempuan Bali dan Stigma Leak yang Tak Berkesudahan 

Hingga saat ini leak masih dipercaya oleh kebanyakan masyarakat Bali. Leak diidentikkan terhadap ilmu hitam sehingga dinilai bersifat buruk. Leak dipercaya dapat membuat seseorang berubah menjadi sesuatu; kera, babi, anjing, manusia jadi-jadian bahkan hingga berubah menjadi motor dan pesawat terbang. Namun, apapun perubahan wujudnya, leak kerap digambar atau sebermula leak adalah seorang perempuan. Seperti yang tampak dalam kutipan di bawah ini:

Tiba-tiba nongol seorang perempuan paruh baya. Perempuan itu membawa sanggah cukcuk atau tempat menaruh banten atau sesaji. Sanggah itu ditancapkan ke tanah. Lama berdiri komat kamit, merapal mantra. Rambutnya yang Panjang terurai ke depan menutupi wajah dan dadanya yang menjuntai. Telanjang dada. (Hal.31)

Dengan cepat kedelapan gadis jelita misterius yang bersalin rupa jadi leak jegeg itu memagur, mengunyah, mencabik-cabik kemaluan dan buah pelir ketiga mangsa mereka. (Hal.144).

Ketiganya mengamati dan tampak kasat mata bahwa yang jadi gegendu itu adalah Men Sidem, Men Semangah, Dadong Dongkang, Men Jangkrik, Biang Balang, Luh Capung.masing-masing berujud anjing dan kera. Siluh Semaluh, Kumpi Lemut, jadi bangkung atau induk babi. Selebihnya leak-leak lain berwujud bola api berbagai ukuran, beragam warna yang semuanya adalah perempuan krama Banjar Tegal Sirah. (Hal.165).

Perbuatan laki-laki, menjadikan perempuan sebagai objek dengan mudah menimbulkan pelecehan. Merujuk pada Baryadi dalam bukunya Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan; kekerasan tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan verbal simbolik—menggunakan bahasa atau kata-kata, dan nonverbal simbolik—menggunakan gambar, film, pertunjukan, dan lain-lain.

Pelabelan bahwa wanita dapat ngeleak pada dasarnya adalah pelecehan verbal simbolis. Di sisi lain, representasi bahwa perempuan bisa ngeleak dan menjelma dalam bentuk kera, rangga, celluluk, dll. itu adalah pelecehan non-verbal simbolis. Kedua kekerasan verbal ini dapat terjadi secara bersamaan. Pelecehan verbal dapat berupa kekerasan fisik dan psikis, seperti pengasingan dalam masyarakat terhadap perempuan yang diyakini mampu ngeleak.

Tuduhan ngeleak sejatinya tidak hanya disematkan pada perempuan melainkan juga laki-laki. Pada kisah Batur, tukang leaknya adalah lelaki yang justru dikalahkan oleh Ni Guru, seorang perempuan. Namun, alih-alih menciptakan novel dengan bumbu leak yang dilakukan laki-laki, novel Leak Tegal Sirah menggunakan karakter perempuan dan bahkan semua leak yang muncul adalah perempuan. Hal ini kian memanjangkan bentuk stereotip bahwa membicarakan leak sama dengan membicarakan perempuan yang menjadi penyebabnya.

Tidak mengherankan, pelabelan ini dilegitimasi oleh ideologi patriarki atau phallusentrisme yang masih mengakar kuat dalam masyarakat. Ideologi ini tidak terlihat karena ada di dalam pikiran manusia. Bahkan bisa juga bekerja secara tidak sadar (Takwin, 2003: 96-101). Kuasa tidak hanya direpresentasikan dalam bentuk kemampuan seseorang dalam menentukan tindakan seseorang melalui tekanan fisik, tetapi juga oleh bahasa yang bersifat ideologis dimana bahasa merupakan tempat bersemayamnya ideologi (Baryadi, 2012:20).

Perempuan Bali di Dapur dan di Atas Kasur 

Perempuan Bali seolah-olah diharapkan pintar di dapur dan ganas di kasur. Dalam cerita, semacam ada ketakwajaran jika laki-laki yang memasak, pergi ke pasar dan kerja-kerja domestik lainnya. Seperti dalam kutipan berikut ini:

Sepagi itu, anak-anak perempuan menyapu di pekarangan rumah hingga sempadan jalan. Sementara ibu-ibu pergi ke pasar. Para pria jelata nongkrong di warung kopi…(Hal.17)

Dalam tulisannya berjudul Human Fatherhood is a Social Invention, Mead mengemukakan pertama kali perdebatan nature versus nurture (alam versus budaya), yang menggali adanya kecenderungan pendefinisian perempuan secara alamiah dan laki-laki secara budaya. Implikasi dari pemahaman ini adalah bahwa perempuan secara alami memang ditakdirkan untuk mengasuh, memberi makan, melayani, sedangkan laki-laki didefinisikan aktif, pemberi nafkah, dan pencipta. Pendefinisian seperti ini dikonstruksikan oleh masyarakat patrialkal dan dianggap sebagai sesuatu yang alami. Sehingga serangkaian tugas domestik merupakan porsi perempuan, sedangkan porsi laki-laki adalah tugas publik. Konsekuensi dari hal tersebut adalah serangkaian tugas domestik yang telah menanti dan ini merupakan porsi perempuan, sedangkan porsi laki-laki adalah tugas-tugas publik. Ini menurut Mead adalah suatu pendefinisian yang telah dikonstruksikan oleh masyarakat patrialkal dan dianggap sebagai sesuatu yang alami.

Dalam Leak Tegal Sirah, Perempuan Bali juga ditatap dengan scopofilia merujuk pada pengalaman kesenangan yang muncul akibat dari tindakan melihat serta berhubungan dengan fetish tertentu—menyetubuhi orang sakit.

Luh Loling kondisinya kurang fit tapi terus dipaksa Nang Jin dan tak segan-segan menempelkan pedang pada leher Luh lolling. Dingin malam kelamin ngilu dan kesemutan, membuat Luh Loling hampir pingsan. Tubuhnya lunglai dan dingin. Namun Nang Jin tak peduli rintih kesakitan Luh Loling. Nikmat bagi Nang Jin, sengsara bagi Luh Loling. Gadis cantik hitam manis ini akhirnya diam dan tubuhnya kaku bagai batang pisang. (Hal.36).

Bibirnya terasa panas ketika kucium. Kelaminnya pun panas karena meriang. Tapi aku senang menyetubuhi gadis dalam keadaan sakit. Ada kenikmatan tersendiri,” bisiknya ke telinga Aning (Hal. 137).

Perempuan Bali tidak hanya dipandang rendah dalam skala, dunia nyata atau realitas namun juga dalam niskala, dunia gaib, dan fiksi. Di dunia nyata perempuan tidak bisa mengelak oleh hal-hal yang masih mengikatnya.  Begitupun stigma yang dilekatkan pada mereka sehingga ketika membicarakan leak atau hantu, sudah dengan otomatis akan menyebutkan bahwa perempuan saja yang bisa melakukannya. Sehingga tidak ada celah bagi perempuan selain harus menerima keadaan tersebut.

Karya sastra dimana satu kakinya bisa dilihat sebagai sebuah produk budaya—tak pelak melanggengkan stereotip dan kekerasan gender melalui simbol-simbol yang diproduksinya. Kita harus belajar membaca produk-produk budaya tersebut sebagai narasi—cerita-cerita yang sering kali tidak hanya mengekalkan stereotip-stereotip gender yang tidak pada tempatnya melainkan juga, pada saat bersamaan, mengundang kita untuk bertanya, mendedahnya sehingga terjawab dari mana stereotip-stereotip tersebut berasal, kepentingan-kepentingan siapa yang bekerja, bagaimana ia bersembunyi di balik simbol dan seterusnya dan seterusnya. [T]

Artikel ini pertamakali disiarkan di julisatrawan.com


  • Arivia, G. (2006). Feminisme. Penerbit Buku Kompas.
  • Atmadja, N. B. (2015). Deconstructing Gender Stereotypes in Leak. Jurnal Komunitas, 7 (1).
  • Bayardi, I.P. (2012). Bahasa, Kekuasaan, dan Kekerasan. Universitas Sanata Dharma.
  • Cavallaro, D. (2004). Teori Kritis dan Teori Budaya. Penerbit Niagara.
  • Darma Putra, I. N. (2007). Wanita Bali Tempoe Doeloe. Pustaka Larasan.
  • Gantang, I. G. P. B. S., Herliany, D. R., & Tera, I. (2020). Leak Tegal Sirah. Indonesia Tera.
  • Mencari “Karya Sastra” yang Menguntungkan Perempuan? (2003). Jurnal Perempuan, 30.
  • Oey-Gardiner, Mayling (editor). (1996). Perempuan Indonesia: Dulu dan kini (First edition. ed.). Gramedia Pustaka Utama.
  • Subono, N. I. (2001). Feminis laki-laki. Yayasan Jurnal Perempuan.
  • Takwin, B. (2003). Akar-Akar Ideologi. Jalasutra.
Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua
Semangat yang Tak Luntur, Merawat Tutur Leluhur
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Tags: apresiasi sastranovelPerempuan BaliSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Inveigh Rilis Debut Single “Nyala” untuk DSP: Menjaga Api Semangat di Tengah Krisis Paruh Baya

Next Post

Siap-siap, Ubud Village Jazz Festival 2024 Segera Dimulai

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails
Next Post
Siap-siap, Ubud Village Jazz Festival 2024 Segera Dimulai

Siap-siap, Ubud Village Jazz Festival 2024 Segera Dimulai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co