4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan

Jaswanto by Jaswanto
March 14, 2024
in Ulas Buku
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan

Sampul buku Indonesia dari Pinggir

1/

SAYA membaca catatan perjalanan Trinity di blog-nya. Juga buku kisah perjuangannya saat jalan-jalan, yang berjudul The Naked Traveler terbitan Bentang Pustaka tahun 2007. Saya juga menonton filmnya dengan judul yang sama—yang dibintangi Maudy Ayunda. Tapi entah, saya tidak tergerak sama sekali untuk melanjutkan atau mengikuti tulisan-tulisan Trinity. Saya mandek membaca The Naked Traveler, padahal, kabarnya, serinya berlanjut sampai berjilid-jilid—saya akui buku-buku Trinity memang laris.

Tapi mungkin karena gaya dan bahasa yang digunakan Trinity, atau mungkin malah hanya urusan selera saya saja. Trinity menggunakan bahasa yang sangat populer untuk mendeskripsikan atau menarasikan temuan-temuannya di banyak belahan dunia. Sedangkan saya tidak terlalu suka tiap hal yang terlalu populer! Mungkin karena itulah catatan-catatan Trinity tidak sampai membekas dan mendapat laci khusus di benak saya.

Maka belakangan saya berjumpa dengan Eric Weiner, si penggerutu yang keliling dunia untuk mencari negara paling bahagia. Eric melakukan misi yang ia ketahui dengan baik adalah misi yang menyenangkan, bukan misi bodoh anak lima tahun yang berputar-putar. Jadilah saya membaca kisah perjalanannya dalam buku The Geography of Bliss versi Indonesia tahun 2016.

Eric adalah penulis perjalanan yang dahsyat. Bukan hanya fokus kepada subtansi, tapi juga gayanya dalam menulis. Seperti kata Iqbal Aji Daryono, gaya tulisan orang itu “cerdas, tapi lentur, dengan ritme yang asyik, dan humor-humor tipis berkelas” yang membuat saya terbahak meski sudah berulang kali membacanya. Ia berkeliling dunia untuk mencari negara yang warganya paling bahagia, sembari menemui para pakar kebahagiaan, atau setidaknya orang-orang yang tampak mewakili hal tersebut, mengamati lanskap geografis maupun budaya yang membentuk kebahagiaan itu, dan sebagainya.

(Saya jatuh cinta kepada The Geography of Bliss, kepada Eric, dan saya ingin bisa menulis seperti dia. Meski belum bisa sampai hari ini—bahkan, sampai pada paragraf keempat dalam tulisan ini, saya gagal membuat Anda tertawa, atau setidaknya tersenyum tipis saja.)

Setelah membaca kisah seorang penggerutu yang berkeliling dunia mencari negara paling membahagiakan, saya tak membaca catatan perjalanan apa pun atau yang ditulis oleh siapa pun. Hingga saya menemukannya di majalah Tempo setahun yang lalu. Sebuah esai perjalanan berjudul “Benarkah Ada Mafia di Pulau Sisilia?”,  membuat saya kagum dan jatuh cinta. Penulisnya bernama Fatris Mf, seorang jurnalis lepas yang menulis perjalanan di banyak media.

Di internet saya melacaknya, dan berhenti di satu laman bernama DestinAsia Indonesia—di sini saya lumayan banyak menemukan tulisan Fatris. Dari laman tersebut pula yang membawa saya kepada satu nama lagi: Agustinus Wibowo, penulis perjalanan dan mantan jurnalis di Afghanistan.

Agustinus, penulis perjalanan yang tak hanya pandai menguliti akar perkara identitas dengan pendekatan antropologi dan sejarah yang telaten dan “ambisius”, melainkan juga menghadirkan kekayaan pengalaman personalnya yang sulit disaingi sebagai seorang penjelajah dan petualang. Begitu kata Iqbal Aji Daryono dalam tulisannya di buku Agustinus yang berjudul Kita dan Mereka. Ia, Agustinus, si penggali kedalaman seperti Jarred Diamond dan bertutur selincah Yuval Noah Harari itu.

Tapi ini bukan tentang Agustinus Wibowo atau tentang karya-karya yang dituliskannya—atau tentang Trinity, Eric, maupun Iqbal. Lupakan nama-nama itu. Ini tentang penulis perjalanan lainnya, yang juga teman Agustinus, Fatris Mf—yang tulisannya pertama kali saya jumpai dan baca di majalah Tempo itu.

Pada Oktober 2023, seorang teman pendiri sekaligus pemilik Penerbit Partikular, Juli Sastrawan, menerbitkan kumpulan catatan Fatris dengan judul “Indonesia dari Pinggir”. Dan inilah yang hendak kita bahas.

2/

Sebagaimana tertulis di sampul belakang buku tersebut, Indonesia dari Pinggir bagai jendela kecil yang mengajak kita bersama-sama melihat lebih dekat daerah-daerah yang jarang didengar keberadaannya, yang sama-samar bersuara, yang dianaktirikan pembangunan dan jauh dari Jakarta.

Indonesia dari Pinggir merupakan seri catatan perjalanan Fatris ke beberapa tempat dari timur hingga barat Indonesia. Beberapa tulisan dalam buku ini, dalam versi yang lebih pendek dan dengan judul yang berbeda pula, pernah diterbitkan di DestinAsia Indonesia—dan saya sudah membaca semuanya. Banyak tambahan, tentu saja. Tapi secara isi dan subtansi, tak berubah sama sekali.

Esai yang berjudul “Serat-Serat Sawu”,  misalnya, dalam versi lebih pendek di DestinAsia, saya rasa tulisan itu berjudul “Hikayat Para Pemburu Paus Lamalera”—dan lelucon dalam esai ini, tentang jurang yang kalau mobil jatuh, lima belas kali lagu Indonesia Raya belum sampai di dasarnya itu, juga muncul dalam esai berjudul “Nyanyian Tuhan di Larantuka”, yang menjadi esai pertama dalam buku Indonesia dari Pinggir.

Tak hanya itu saja, esai “Amis Darah dan Wangi Cendana” saya kira merupakan versi panjang dari esai “Kuda dan Identitas Kultural Sumba”. Dan “Cara Ambon Mencetak Penyanyi”, misalnya, tak lain dan tak bukan adalah versi pendek dari esai “Suara-Suara dari Ambon”. Sedangkan “Buru Baru”, sekadar menyebut satu esai lagi, tak akan salah jika saya mengatakan bahwa ini merupakan versi panjang dari esai “Pulau Buru, Antara Pram dan Emas”. Masih ada beberapa lagi sebenarnya, tapi sengaja tak saya sebutkan.

Dan beberapa tulisan dalam buku ini sebenarnya juga sudah diterbitkan di buku lain yang berjudul Lara Tawa Nusantara (2019), buku ketiga Fatris yang berisikan cerita perjalanannya dalam mengarungi tempat-tempat di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Lombok, dan Bali—baik di kota, pedalaman, maupun pesisirnya.

Saya memang belum membaca Lara Tawa Nusantara, tapi saya membaca beberapa resensi tentangnya. Dalam beberapa resensi yang saya baca, saya menemukan beberapa cerita yang sama dengan cerita yang ada di Indonesia dari Pinggir. Misalnya, tentang Suku Dayak di Kalimantan—yang mendapat stigma menakutkan dari orang Barat macam Carl Bock bahwa suku-suku yang mendiami pedalaman Kalimantan dan hidup di tepi sungai-sungai lebar itu pemenggal kepala.

Atau kisah tentang Kusasi, sosok orangutan yang pernah merangkul aktris Hollywood papan atas, Julia Roberts, di Camp Leakey di pedalaman Kalimantan Tengah dalam esai “Pertarungan Terakhir”. Juga mungkin, dalam Lara Tawa Nusantara, ada beberapa tulisan yang pernah diterbitkan di DestinAsia Indonesia—dalam versi yang lebih pendek, tentu saja.

Buku Indonesia dari Pinggir dibagi menjadi dua bab. Bab pertama berisi delapan esai; dan bab kedua berisi tujuh esai. Bab satu diberi tajuk “Membelakangi Timur”; sedangkan bab dua judul “Di Tengah Pusaran Angin” disematkan. Saya tak paham maksud penulis memberi judul demikian, tapi saya menduga bahwa itu berkaitan dengan isi tulisan di masing-masing bab. Misalnya, “Membelakangi Timur” karena isi tulisannya memang menyangkut perihal wilayah Timur Indonesia.

Namun, terlepas dari soal-soal di atas, buku ini bagi saya adalah teropong lain yang memperlihatkan kepada kita betapa banyak tempat—menjambret bahasa yang sering Fatris gunakan—yang seperti tak tergambar dalam peta, bahkan Google saja tidak mampu menerangkannya, karena saking tak berartinya bagi kita.

Dalam buku ini, banyak nama tempat yang asing dan terdengar aneh di telinga, seperti Kobror—pulau yang teronggok di tengah kungkungan Laut Aru (Arafura), kata Fatris, Dobo, Mamasa, dan nama-nama manusia yang terdengar tak kalah anehnya. Misalnya dalam esai “Tarian Kematian” yang membahas tentang Suku Dayak Tomun di Kalimantan, Anda akan menemukan lelaki yang bernama Kakap, Mesin, Ponten, Yamaha, Arab… “Orang-orang di sini tidak pernah pusing mencari nama untuk anaknya,” kata Kakap, sebagaimana dituliskan Fatris dalam esai tersebut.

Indonesia dari Pinggir, seperti buku atlas, membawa kita menjelajah Indonesia bagian Timur yang tak terbayangkan, dari wilayah Nusa Tenggara Timur, Larantuka, Sumba, Lembata, Ruteng, sampai ke Timor Timur; lalu melompat ke Ambon, Buru, Kobror, Kampung Bira, Mandar, Toraja, Mamasa, Wakatobi, sampai pedalaman hutan Kalimantan. Semua tempat yang disebutkan memiliki kisah, sejarah, dan budaya masing-masing. Tempat-tempat ini seperti bercerita dengan duka, tawa, dan ironinya. Ironi?

Jangan tertipu, meski ini buku tentang perjalanan, alih-alih mendapatkan gambaran tentang keindahan atau eksotisme sebuah pulau, misalnya, sebagaimana yang tergores dalam kanvas Hindia Molek, gambaran haru-biru orang Eropa tentang eksotisme Timur, Anda justru akan mendapat sesuatu di baliknya—sesuatu yang membuat kuduk berdiri, rasa simpati yang halus menelusup, keheranan, renungan, dan tawa yang getir.

Indonesia dari Pinggir bukan sakadar ensiklopedia nama-nama tempat, orang-orang, atau kebudayaan, apalagi brosur pariwisata. Lebih dari itu, ini adalah rekaman yang dalam tentang prilaku hidup manusia, seni-budaya, perubahan zaman, pergeseran nilai, hingga kepercayaan lokal—yang membuat yang muskil, yang keras, yang suci, dan juga yang kejam, dijalani.

Semua itu diramu dengan pendekatan antropologis-sosiologis, sejarah, dan pengalaman personal yang tak mungkin didapat oleh orang lain. Fatris menambahkannya dengan metafor-metafor, anekdot-anekdot, dan humor-humor gelap yang membuat Anda ngakak terbahak, sekaligus terbungkam menerima kenyataan bahwa masih banyak tempat yang tidak kecipratan sila kelima Pancasila—atau sekadar masuk radar pembangunan yang sering digaung-gaungkan.

Di Mamasa, misalnya, Fatris mencatat, infrastruktur seperti jalan raya adalah hal yang langka. Sepeda motor akan berjalan di pinggir-pinggir jurang yang setiap saat longsor, bahkan memasuki rimba dan tidak ada jalan yang layak sama sekali.

Tapi jangan salah, tulis Fatris lagi, di tempat destinasi andalan wisata Sulawesi Barat ini, jaringan 3G telah memenuhi tiap sudut ibu kota kabupaten bahkan sampai ke desa-desa gelap—mengalahkan jalan. Internet sepertinya lebih dulu memasuki Mamasa ketimbang jalan raya. “Berjalan kaki di tengah kota pun harus rela mengarungi lumpur yang meluap dari drainase yang nihil.”

Dan Timor Timur, atau Bumi Loro Sae dalam esai “Dua Sisi Timor”, adalah tragedi dan ironi yang lain. Esai yang memotret negara demokratis Timor Leste setelah merdeka, bebas menentukan nasibnya sendiri, dari Indonesia pada tahun 2002 itu, memberi gambaran baru kepada saya tentang wajah Indonesia yang lain. Timor Leste punya catatan sejarah yang buruk dengan negara yang kita bangga-banggakan ini. Catatan-catatan dan video tentang kejahatan perang, kekejaman—beredar di sana.

Indonesia, sekali lagi yang kita bangga-banggakan ini, yang dalam Preambule UUD-nya mengutuk praktik penjajahan, di mata Timor Leste justru adalah negeri penjajah dengan catatan yang sarkas—walaupun Pemerintah Indonesia tidak mengaku sebagai penjajah. Tapi bukankah Belanda, Inggris, Portugis, juga tidak pernah mengaku menjajah Indonesia?

Di bangku-bangku sekolah di Timor Lesta, tulis Fatris, sejarah kekerasan tersebut diajarkan dengan lebih detail. Dalam beberapa catatan perjuangan Timor Leste, Indonesia kerap disebut sebagai tiran, penjajah bengis dengan moncong senjata terarah ke mana saja. Dan semua itu, kepedihan panjang negeri mungil ini disimpan, dirawat dengan serius di Resistência Timorense Arquivo & Museu—museum terpenting di Dili. 

3/

Sampai di sini, saya pikir Fatris merupakan jelmaan wartawan sekaligus sastrawan—walaupun ia tidak memproduksi karya sastra. Pasalnya, catatan-catatan perjalanannya—di dalam buku ini maupun yang tersiar di berbagai media lainnya—selain mengandung unsur jurnalistik, juga bercitarasa seperti cerita pendek. Narasi-narasi Fatris mengalir tanpa putus. Akibatnya, saat membaca, saya urung berhenti.

Tak banyak penulis sebenarnya yang membuat saya semangat membaca. Tetapi, selain Mahfud Ikhwan tentu saja, Fatris berhasil membuat saya meluangkan waktu membaca lebih banyak dari biasanya. Indonesia dari Pinggir, bagi saya, adalah catatan perjalanan yang mengagumkan. Selain karena sudut pandangnya—Fatris lebih banyak menggunakan sudut pandang penduduk lokal, dan saya menyukai itu—dalam mendeskripsikan apa-apa yang ada, yang terjadi, dan bagaimana kini, juga cara berceritanya, pilihan katanya, humor-humor gelapnya, dan detail di setiap tulisannya, adalah berbagai hal yang menjadi alasan kekaguman itu.

Fatris tidak bermental kolonial sebagaimana, misalnya, meneer Henri Hubert van Kol waktu pelesiran ke Bali pada 1902—yang disebut-sebut sebagai turis pertama yang berkunjung ke Bali untuk tujuan pariwisata—yang kemudian menulis catatan perjalanan yang gemuk—setebal 826 halaman—yang berjudul Uit onze koloniën (From Our Colonies) itu—yang konon agak “kepleset”, penuh stereotip, dalam mendeskripsikan masyarakat yang ditemuinya. Dalam beberapa tulisan, Fatris justru membantah stereotip—walaupun kadang terlalu jujur, blak-blakan malah, saat menarasikan sosok yang ditemui atau tempat yang disinggahi.

Dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh Fatris di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, ia sukses membuat tulisan yang rapi dan luas dalam memotret kehidupan dan suasana Indonesia yang sebenarnya—yang tak tampak di layar-layar gawai atau di akun-akun media sosial. Jika dahulu Alfred Russel Wallace merangkum perjalanannya di Nusantara pada abad ke-19 dengan kacamata biologis dan geografis dalam Malay Archipelago, Fatris menjadi orang yang meneruskan dan memperluas perspektifnya dari jendela antropologi, sosilogi, dan histori.

Buku Indonesia dari Pinggir jelas ingin membedakan diri dengan kebanyakan buku catatan perjalanan lainnya, baik dari model brosur pariwisata negara dan/atau terutama yang dibuat oleh orang Eropa di zaman bahula. Sebagaimana dikatakan Fatris, catatan orang Eropa—si Indonesianis yang berkulit pucat—yang ditulis mulai abad ke-16 dan dinilai ikut mendorong kolonialisme itu, hanya melihat “Nusantara, Hindia Belanda, Indonesia” sebagai suatu yang eksotis “tanpa ada penderitaan yang dikandungnya.” Dan tentu karena itulah, Indonesia dari Pinggir ingin memperlihatkan bahwa, di tengah-tengah semburan slogan-slogan pariwisata yang telah dimulai sejak masa kolonial itu, penderitaan, lara, itu ada.

Indonesia dari Pinggir, saya pikir, menjadi sebuah memoar perjalanan yang, sekali lagi, mengagumkan, jika bukan yang sempurna, yang tidak hanya menyiratkan soal tempat-tempat yang memang sudah kadung populer, tetapi juga mencoba melihat permasalahan yang terjadi di baliknya sebagai olok-olok. Sindiran, kritikan, satire, humor, sinisme, dan uneg-uneg adalah hal yang akan sering Anda jumpai di lembar demi lembar, baik yang datang dari Fatris maupun orang-orang yang ia temui sepanjang perjalanan.

Akhirnya, bagi saya, buku ini adalah sebuah manifestasi dari kelucuan, kegalauan, ironi, dan suara-suara orang-orang yang tidak terekspos—orang-orang dari pinggir—di negeri ini, yang tak jarang dapat menyentil “kemanusiaan” dalam diri kita. Saya pikir demikian.[T]

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Sehat Ketawa ala Dokter Arya: Humoris, Kritis, dan Mencerahkan
Antologi Cerpen Singa Raja Berkisah: Cerpen Baik dan Cerpen Baik-Baik
Tags: catatan perjalananFatris MfIndonesia dari PinggirPenerbit PartikularUlas buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sahur Bersama di Masjid Jami’ Singaraja, Hal yang Ditunggu Saat Bulan Puasa

Next Post

Buleleng Terpilih untuk Terapkan Manajemen Talenta, Pengisian JPT Tanpa Seleksi Terbuka

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Buleleng Terpilih untuk Terapkan Manajemen Talenta, Pengisian JPT Tanpa Seleksi Terbuka

Buleleng Terpilih untuk Terapkan Manajemen Talenta, Pengisian JPT Tanpa Seleksi Terbuka

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co