3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
May 21, 2024
in Ulas Buku
Alusi dan Ihwal yang Belum Selesai dalam “Bolang dari Baon”

Judul: Bolang dari Baon
Penulis: Sigit Susanto
Kategori: Novel
Penerbit: JBS
Tahun Terbit: Feb 2024
Tebal: 188 hlm
Ukuran: 13×19 cm

“Pelajaran yang utama menjadi manusia bukan bagaimana membaca dan menulis […] Tapi bagaimana orang harus menyimpan rahasia rapat-rapat.” ucap seorang warga menasehati Bolang ketika ia belajar mengeja untuk pertama kali.

Bolang adalah karakter utama dalam novel Si Bolang dari Baon. Hidup di tengah krisis identitas—antara menjadi manusia atau memilih menjadi binatang, Bolang menjalani nasibnya sebagai satu karakter yang hidup di antara, yang saya pribadi lebih senang menyebutnya sebagai karakter yang ambivalen, untuk menggambarkan sikap atau perasaan alih-alih status eksistensial; antara setengah rusa-setengah kera, antara hutan dan desa, maupun antara binatang dan manusia. 

Si Bolang dari Baon bercerita soal makhluk setengah rusa setengah kera yang bertemu kemudian hidup dengan perempuan tua penjual kopi bernama Sariyah. Ia bertemu Sariyah di tengah hutan ketika Sariyah menjalani hari mengambil biji kopi basah.

Satu kali Sariyah kelelahan dan Bolang tampak kasihan melihatnya. Ia pun berniat untuk membantu, mengajak Sariyah untuk naik ke punggungnya dan kemudian mengantar Sariyah hingga tiba di desanya. 

Seperti kebanyakan warga desa pada umumnya, warga terkaget-kaget melihat wujud Bolang, kaget antara mengangggap ia sebagai keajaiban kecil yang akan menyelamatkan desa atau malah membawa kesialan.

Warga pun antara takut dan berani untuk mendekat, hingga kemudian Sariyah menjelaskan bahwa Bolang adalah makhluk baik-baik. Warga kemudian mendekat, mencoba memberinya rumput, mengelus bulunya dan sejak saat itu cerita Bolang dengan Sariyah, dengan warga, dimulai. 

Membaca Si Bolang dari Baon adalah juga melihat jika Sastra dengan S besar ini terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Beberapa dekade terakhir telah terlihat perubahan dalam bagaimana hubungan antara manusia dan hewan digambarkan dalam fiksi modern (Thompson, 2018).

Hadirnya karakter hewan dalam karya sastra memperlihatkan bahwa relasi manusia dengan hewan hadir dan bergerak dalam karya sastra. 

Binatang sudah tidak lagi menjadi simbol-simbol atau semacam karakter tempelan untuk mendukung cerita yang digambarkan dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan, tetapi sudah berubah menjadi karakter selayaknya manusia (Thompson, 2018).

Hal tersebut dapat kita lihat pula dalam Si Bolang dari Baon ketika ia memutuskan untuk tinggal bersama Sariyah, berjualan kopi, mengajari warga baca tulis, dan melakukan aktivitas layaknya manusia pada umumnya. 

Kecenderungan Sigit dalam Si Bolang dari Baon 

Sigit cenderung menggunakan cara bercerita “tell” ketimbang “show”. Teknik “show” dalam penulisan kreatif bagi hemat saya memberi pengalaman yang lebih imersif dan emosional bagi pembaca.

“Tell” berarti penulis langsung memberi tahu pembaca tentang perasaan, pikiran, atau kejadian, sementara “show” berarti penulis menggambarkan adegan secara detail sehingga pembaca bisa merasakan dan menyimpulkan informasi sendiri melalui tindakan, dialog, dan deskripsi sensoris, yang mengaktifkan imajinasi dan keterlibatan mereka. 

Narasi yang menggambarkan peristiwa secara mendetail dan konkret lebih efektif dalam membangun empati dan keterikatan emosional. Teknik ini juga memperkuat karakterisasi dan pengembangan plot dengan cara yang alami dan meyakinkan, membiarkan pembaca merasakan alur cerita secara lebih langsung.

Sebaliknya, teknik “tell” cenderung pasif dan dapat membuat narasi terasa datar dan membosankan, karena hanya memberikan informasi tanpa membiarkan pembaca merasakan atau menyaksikan peristiwa yang terjadi.

Oleh karena itu, dalam konteks penulisan kreatif, “show” tidak hanya meningkatkan kualitas narasi tetapi juga memperkaya pengalaman membaca secara keseluruhan.

Dalam Si Bolang dari Baon, kecenderungan Sigit bisa dilihat dari beberapa hal yang ia sampaikan secara “tell” seperti: deskripsi emosi secara langsung, penjelasan langsung tentang kepribadian atau sifat karakter, menguraikan peristiwa tanpa adegan yang hidup dan dialog yang terlalu ekspositori.

Saya tunjukkan dari beberapa bagian buku yang saya pilih acak:

“Ah, itu binatang yang ikut sendiri dari hutan jati. Mungkin dia kasihan melihat saya kepayahan, saat hujan turun lebat sekali. Tapi yang paling saya takuti, besok langganan-langganan kita lebih sibuk nonton binatang itu ketimbang belanja kopi.” Hal. 11. 

“Saya akan melakukannya dengan sepenuh hati dan meyakinkan siapa saja yang mendengarkan.” Hal. 84. 

Chekhov’s Gun

Chekhov’s gun adalah prinsip naratif yang dikemukakan oleh penulis dan dramawan Rusia, Anton Chekhov. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap elemen yang diperkenalkan dalam sebuah cerita harus memiliki fungsi dan relevansi terhadap alur cerita secara keseluruhan.

Chekhov menyampaikan ide ini dalam beberapa variasi, salah satunya yang terkenal adalah: “Jika dalam babak pertama ada senapan tergantung di dinding, maka pada babak kedua atau ketiga senapan itu harus meledak. Jika tidak akan meledak, maka tidak seharusnya digantung di sana.”

Prinsip ini mengajarkan bahwa elemen yang tidak relevan atau tidak berkontribusi pada perkembangan plot sebaiknya dihilangkan untuk menjaga kekompakan dan efisiensi narasi.

Dalam praktiknya, Chekhov’s gun ini secara tidak langsung mengingatkan penulis untuk menghindari detail atau objek yang tidak penting dan memastikan bahwa semua elemen cerita saling berkaitan dan mendukung tema utama, karakterisasi, atau perkembangan plot. Hal ini membantu menciptakan cerita yang lebih fokus dan terstruktur, di mana setiap detail memiliki makna dan tujuan, menghindari kebingungan dan memperkuat pengalaman keseluruhan bagi kita pembaca. 

Dalam Si Bolang dari Baon, nyaris kita pembaca hanya disuguhi oleh narasi tambahan, karakter tambahan, dan hal-hal yang semakin kita ikut melangkah bersama karakter, semakin banyak hal diberitahunya. Bagus kalau memang hal itu perlu dan berguna kedepannya, namun itu tak terjadi dalam novel ini.

Sigit seolah memberitahu kita banyak hal apa yang terjadi terhadap karakternya, bagaimana karakternya bertemu, dan seterusnya, namun pada akhirnya, apa yang disampaikannya di awal tidak tidak ada hubungannya untuk kepentingan penceritaan di akhir. 

Misalnya dalam bab “Buku yang Mendatangi Pembaca”, bab ini bercerita tentang buku-buku yang mendatangi pembaca, buku-buku yang tiba-tiba berjatuhan, jatuh di atas padi, nyangkut di pohon, dan seterusnya. Ada yang mendapatkan buku Sukreni Gadis Bali, ada yang mendapatkan buku Pegadaian dan seterusnya.

Sampai akhir cerita, tidak ada dampak dari bab ini. Ia tidak menunjukkan lebih dalam karakteristik Si Bolang, tidak pula mengembangkan plot cerita, dan buku-buku yang berjatuhan pun semisal Sukreni Gadis Bali, tidak ada penjelasan kenapa buku itu, tidak pula ada tujuan kenapa buku ini berjatuhan.

Sehingga bagi saya, ada atau tidak bab “Buku yang Mendatangi Pembaca” ini sebenarnya tidak akan mengubah apa-apa dalam Si Bolang dari Baon. 

Logika Bahasa 

“DESA BAON gelap di malam hari.” Ketika membaca kalimat pertama itu dalam Bab berjudul “Perpustakaan Keliling” apa yang kira-kira ada di pikiran kawan-kawan? Saya pikir sebagian dari kita akan menganggap hal itu wajar. Karena malam sudah pasti gelap? Kalau siang hari gelap karena mendung itu mungkin masih bisa kita terima secara logis. Tapi kalau malam hari bukankah memang sejatinya mesti gelap?

Hal semacam ini tampaknya Sigit tak perlu jelaskan atau tuliskan dalam karyanya, karena kita sebagai pembaca tanpa dikasih tau pun akan tau bahwa Desa Baon itu gelap di malam hari. Desa kamu gelap di malam hari. Desa saya gelap di malam hari. Desa kita gelap di malam hari. Beda hal kalau misal ada program pemerintah melalui program “Kampung Terang” untuk meningkatkan kualitas penerangan desa. Tapi karena ini desa kecil dengan masyarakat yang sebagian besar hidup dari bertani dan berdagang di pasar, apa yang sejatinya kita harapkan dari desa kecil di malam hari selain gelap itu sendiri? 

Meskipun tidak banyak, namun beberapa hal cukup berpengaruh pada pembacaan saya terhadap karya ini. Misalnya lagi apa yang ditulis Sigit di halaman 19: 

“Ibu-ibu harus berdiri menumbukkan lonjoran kayu berat ke dalam lubang lesung. Dan itu dilakukan berkali-kali sampai biji kopi benar-benar remuk sebesar pasir.” 

“Remuk sebesar pasir.” Saya merasa biji kopi ukurannya lebih besar dari pasir dan kalau pun kopi sudah digiling atau ditumbuk, ia takkan lagi “sebesar” pasir, mungkin lebih tepat “seukuran” atau “serupa pasir”? 

Alusi Mitologi; Serupa tapi Tak Sama 

Dulu karakter mengenai hewan atau hubungannya dengan manusia begitu mudah kita jumpai di dalam fabel atau dongeng-dongeng. Penggunaan karakter hewan dalam genre ini dibuat untuk mewakili tipe dan atribut manusia semisal rubah yang memiliki sikap licik, anjing untuk menggambarkan kesetiaan, atau merpati mewakili cinta, dan lain sebagainya (Bolongaro, 2010).

Ketika melihat sastra hari ini, hewan digambarkan dengan cara-cara yang begitu beragam, tidak hanya dilihat dari segi religius; hewan sebagai dewa atau sesuatu yang dipuja, melainkan juga teman yang mewujud serupa manusia. 

Sekilas kita bisa melihat karakter yang Sigit ciptakan itu unik; binatang itu separuh rusa, separuh kera, kedua kaki belakang tampak seperti rusa, tapi bagian kepala dan kaki depannya persis kepala dan tangan kera.

Sigit menghadirkan karakter dengan wujud bukan manusia, dengan tubuh setengah kera-rusa, namun memiliki perilaku-perilaku manusia dan bisa hidup berdampingan bersama manusia.

Membayangkan Bolang, kita sekilas untuk diajak membayangkan karakter-karakter hibrida dalam mitologi Yunani, macam Centaur, Chimera, Pegasus, yang juga adalah mahkluk setengah kuda-setengah manusia, atau yang memiliki kepala singa, tubuh kambing, dan ekor naga atau kuda bersayap dan seterusnya seterusnya. 

Si Bolang, karakter fiksi dengan tubuh setengah kera dan setengah rusa, mengingatkan kita pada makhluk-makhluk dalam mitologi Yunani, meskipun ada perbedaan mendasar dalam wujud dan asal-usulnya. Centaur, dengan tubuh setengah manusia dan setengah kuda, melambangkan ketegangan antara naluri primal dan kecerdasan manusia.

Sementara itu, Chimera, makhluk berwujud gabungan dari singa, kambing, dan naga, sering dianggap sebagai simbol kekacauan dan ancaman. Si Bolang, meski juga merupakan kombinasi dari dua spesies berbeda, membawa simbolisme yang unik; perpaduan kera dan rusa seolah merepresentasikan keseimbangan antara kecerdikan dan keanggunan, ketangkasan dan kelembutan.

Si Bolang digambarkan sebagai seseorang yang peduli akan literasi, ia mengajari warga cara menulis dan membaca. Bolang pun tampak jauh lebih pintar dari warga. Warga memanggilnya dengan Pak Bolang, karena selain jago baca tulis, namun juga jago berpidato. Konon, berapa warga yang mendengar pidatonya merinding dan sangat terkesan dengan apa yang ucapkan. Dengan demikian, meskipun memiliki kesamaan sebagai makhluk hibrida, Si Bolang berdiri sebagai entitas yang unik dengan mitos dan pesan tersendiri, memperkaya bacaan fiksi modern dengan nuansa mitologis yang baru.

Menulis dan menerjemahkan adalah dua hal yang berbeda. Sama halnya dengan membaca; membaca adalah satu hal, sedangkan mengerti bacaan adalah hal yang lain. Dalam Si Bolang dari Baon ini, saya merasa Sigit seolah terburu-buru, baik dari pengembangan plot, maupun dari pengerjaan novelnya. Ia seolah tampak sangat berbeda 360 derajat dari bagaimana ia berurusan dan sabarnya menghadapi teks-teks Kafka yang rumit sekaligus menawan yang pernah saya baca. 

Membaca Si Bolang dari Baon, terdapat beberapa aspek yang belum terselesaikan secara memuaskan, terutama dalam hal penggambaran emosi dan karakter. Deskripsi emosi seringkali disampaikan secara langsung tanpa melalui adegan yang hidup, sehingga pembaca kurang merasakan kedalaman perasaan tokoh-tokohnya.

Penjelasan tentang kepribadian atau sifat karakter juga cenderung terlalu eksplisit, tidak memberi ruang bagi pembaca untuk menyimpulkan sendiri melalui tindakan dan dialog. Peristiwa dalam cerita seringkali diuraikan secara naratif tanpa disertai adegan yang menggugah imajinasi, membuat alur terasa datar dan kurang dinamis.

Dialog-dialog dalam novel ini pun kadang terlalu ekspositori, lebih banyak menginformasikan daripada menunjukkan, sehingga mengurangi nuansa alami dan mendalam dalam interaksi antar tokoh. Semua ini menjadikan beberapa bagian cerita terasa kurang hidup dan kurang mampu mengundang keterlibatan emosional pembaca secara mendalam.

Namun, kalau kita melihat karakter Si Bolang, bagi saya karakter ini adalah salah satu hal yang unik yang bisa ditemukan dalam karya Sigit, meskipun pada akhirnya Si Bolang dieksekusi dengan sudut pandang yang umum dan tampak terburu-buru. [T]

  • Artikel ini dimuat pertama kali di julisastrawan.com
“Yang Menyublim di Sela Hujan”: Memandang Pendidikan dan Kehidupan di Tanah Papua
Lada dari Papa
Merayakan Kemurungan Bersama Sarah Monica
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: apresiasi sastraBukujual buku sastranovelSigit Susanto
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Simposium Hiu dan Pari: Butuh Ide Segar Untuk Konservasi Spesies Terancam Punah

Next Post

Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Sikap Raja dan Masyarakat Terhadap Air dalam Peradaban Bali Kuno

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co