24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Kemurungan Bersama Sarah Monica

Agus Manaji by Agus Manaji
April 29, 2024
in Ulas Buku
Merayakan Kemurungan Bersama Sarah Monica

Buku "Bangkitnya Kemurungan" karya Sarah Monica

“Manusia itu adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya.” — (Prof. N. Drijarkara)

MANUSIA mengalami berbagai peristiwa yang menyebabkannya merasakan beragam perasaanseperti bahagia, sedih, haru, dan cinta. Sebagai makhluk yang berbadan2, manusia hadir di tengah alam (realitas), dan dengan inderanya menghayati dirinya, duduk, berjalan, makan dan seterusnya.

Peradaban manusia dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya berusaha memastikan masa depan manusia yang lebih baik, mudah, nyaman dan membahagiakan. Kegagalan meraih tujuan atau harapan membuat manusia mengalami kesedihan kemurungan. Manusia adalah makhluk yang mampu menghadapi dirinya sendiri, menghayati kesedihan untuk mengambil hikmah. Terlebih manusia penyair macam Sarah Monica lewat buku puisi Bangkitnya Kemurungan.3  

Judul buku bergambar sesosok tubuh tanpa kepala, dengan dada gerowong, dan warna dominan hitam ini menyiratkan kemurungan. Nama penyair tertulis di pojok kanan atas, judul buku berada di bagian bawah, menegaskan keterpurukan.  Tulisan warna perak, tampak redup dalam latar hitam, seakan membiarkan gambaran sosok tadi “lebih bicara”: murung.

Umumnya “kemurungan” bermakna negative, kata ini senada dengan makna kejatuhan dan keterpurukan, tapi Sarah justru merangkai dan menyandingkan kata “bangkitnya” (berkesan positif). Apakah judul ini mewakili seluruh tema puisi dalam buku ini? Dalam Pengantar Penerbit kita membaca: “Namun Sarah memiliki perspektif berbeda. Ia merasa kemurungan itu satu titik yang mengurung subyek dalam nuansa kelabu, dan karena itu ia menyentuhnya dengan upaya-upaya personal untuk membangkitkannya, mewarnainya. Seolah ia sadari bahwa jauh di dasar kemurungan itu mengendap perasaaan-perasaan sedih, kecewa atau terlunta, sakit dan menderita; dan itu bukan lagi dalam lingkup personal namun pengalaman kolektif yang direfleksikan…”4

Bagaimana Penyair memaknai kemurungan? Mari, kita baca langsung lewat puisi-puisinya. Lima kali kata “kemurungan” muncul dalam buku ini, yakni pada puisi Penantian (hal. 6), Sepasang Mata (hal. 8), Kepergian (hal. 11), Berserah (hal 29-30) dan Malam Kudus (hal. 77 -78).

Puisi Penantian, sebentuk solilokui, menggugah  kesadaran bahwa kebahagiaan ruhani takkan terwujud tanpa proses perjuangan. Kegagalan dan kejatuhan semata bagian dari proses pendewasaan, serupa proses “peram” peragian anggur spiritual. Kata “anggur” tentulah lambang kepuasan dan kebahagiaan ruhani. Penyair berseru:

Kau tak akan mampu membuat sebotol anggur dari darah ketabahan
diperas dari harapan yang tak pernah runtuh
dari pahit kenangan yang membeku
dari mimpi-mimpi yang tercekik di cakrawala
dari doa-doa yang jatuh kala dipanjatkan….”.

Karena itu, Penyair harus senantiasa waspada, di antara masa lalu dan masa depan yang bergandengan tangan seraya meronda menyalakan kemurungan siang/ mengunci kesunyian malam. Sebab segala sesuatu di alam semesta sejatinya tidak mati, mereka penyaksi atas hidup: Batu-batu kian mendengar/ lirih rindu yang dibisikkan jejak kakiku saat berkelana. Demikian, hidup adalah penantian panjang atas keputusan takdir, meski risau telah mendarah daging dan rindu begitu memabukkan, dan meski sejauh kesabaran bernafas ujung jalan itu tetaplah lengang.

Pada puisi Sepasang Mata, lewat majas sinekdok pars pro toto, penyair menyapa “seseorang yang lebih tahu”: Wahai mata yang menyalakan kemurungan. Sekali lagi Penyair menggunakan frase “menyalakan kemurungan”. Menariknya, sapa ini diikuti baris-baris antithesis: aku menyaksikan binarmu/ redam oleh angan-angan/ sekarat dalam pemujaan/ merindukan apa yang telah tiada/ mendamba yang tak pernah ada. Penyair mendambakan “kebahagiaan” (yang dilahirkan para wali) dan “kebenaran” (yang berputar bersama bintang).

Penyair meraba “kesejatian” itu lewat kesaksian pendengaran:

Aku mendengarnya bangkit dan berkelana
meratapi warta dunia
memanggil-manggil dalam hening
kebahagiaan yang dilahirkan para Wali
kecintaan yang ditawarkan para Nabi
dan kebenaran yang berputar bersama bintang”.

Puisi Kepergian dengan anak judul “Kepada: I.D.K.P” menggambarkan kesadaran akan makna pengalaman dan tanggung jawab manusia di tengah alam semesta. Menggunakan kata ganti jamak “kita”, penyair berseru, Kita mengenal tiap gurat di pelipis kita/ pun pernah mencoba/ menanggung planet yang sekarat dalam buku jiwa. Penyair sadaralam luar dana lam dalam bertaut. Tubuh mengalami gurat di pelipis dan jiwa harus menanggung planet yang sekarat. Manusia dan  alam semesta Saling menafsir/ setiap air terjun peristiwa. “Kita” menyadari bahwa mimpi kian bercabang di setapak kita sementara aku berpacu kilat padahal perahumu tertambat erat. Di bait akhir, penyair berujar kepada sang kawan, Nyanyikanlah tiap kemurungan malam ini sebab sebagaimana tersebut akhir bait ketiga, kepergian adalah niscaya di perjalanan kita.

Puisi keempat dan kelima yang memuat kata “kemurungan” adalah puisi Berserah dan puisi Malam Kudus. Puisi “Berserah” di halaman 29-30, terdiri atas 7 bait 29 baris, dan tertulis “Depok, Januari 2014”. Sedang puisi “Malam Kudus” termuat di halaman 77-78, 6 bait 24 baris, bertuliskan “Bogor, 2017”. Kedua puisi ini sebetulnya “satu puisi”. Banyak kesamaan diksi dan frase pada dua puisi ini, dan tampaknya puisi Malam Kudus merupakan revisi dari puisi Berserah, lebih ringkas, diksinya lebih mengena.

Puisi Malam Kudus berhasil menampilkan dilema dan kesepian eksistensial manusia, bagaimana tarikan rasionalitas yang digelorakan ilmu pengetahuan dan dahaga ruhani seolah bertolak belakang. Penyair berseru, Dunia menyala/ dalam lorong-lorong kepalaku/ sedang hatiku berjalan/ di padang pasir kesunyian. Paradoks belum usai, di bait kedua, Penyair melanjutkan kesaksiannya: Betapa aku menjumpai duka/ pada tiap wajah kenikmatan/ tersingkap bagai malam di punggung senja. Dilemma inilah memaksa Penyair agar “Di malam-malam kudus/ aku mendaki bukit kemurungan/ bersama jiwa para pengembara”. Demikian, manusia berikhtiar memaknai momentum “saat ini” dan “di sini”, keluar dari kungkungan waktu “kemarin” dan “besok”, demi merasakan keabadian, Telah kularung masa lalu,/ harapan, dan segalanya palsu/ di lautan hampa./ aku pun tiada/ dalam samudera ada.

Berlainan dengan puisi-puisi murung ratapan, puisi-puisi Sarah sesungguhnya menggambarkan perjuangan pencarian jati diri anak manusia secara merdeka, di tengah hiruk-pikuk peradaban, di arus laju pesat kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, terombang ambing rayuan gaya hidup hedonis dan materialistis. Manusia terus berada di persimpangan untuk menentukan pilihan (dan beresiko). Ilmu pengetahuan membawa manusia pada kemudahan, namun nafsu serakah manusia ditambah watak ilmu pengetahuan modern yang sejatinya lahir dari sekularisme, perlahan menyeret manusia kepada kehampaan spiritual, kerusakan moral dan bencana ekologis. Cogito ergo sum, aku berpikir, maka aku ada. Manusia seolah tidak memerlukan agama dan Tuhan untuk mengada.

Fisuf Modern Islam Seyyed Hosein Nasr menggambarkan peradaban modern yang berkembang di barat (dan berulang di Negara-negara timur) maju sejak zaman renaissance adalah sebuah eksperimen yang telah mengalami kegagalan5. Hidup manusia seperti bumi kehilangan sumbu edar revolusi, kehilangan orientasi hidup, hampa.

Ignas Kleden telah merasakan kehampaan spiritual dalam masyarakat Indonesia pada awal decade tahun tujuh puluhan. Dalam Tjatatan Bulan Ini, esai ringkas pembuka majalah Budaja Djaja Nomor 50 tahun ke lima, Juli 1972, ia menulis: “Adakah sesungguhnya kita masih percaya kepada Tuhan? Dunia kita adalah dunia yang makin kecil, tetapi hidup yang bertumbuh di dalamnya mencakar langit dengan kekuatan-kekuatan berukuran besar. Rangsang-rangsang kita harus cukup mengguncangkan untuk dapat masuk kesadaran: perjalanan ke bulan, kompetisi produksi senjata, kriminalitas yang nekat dan sex terbuka… Kepuasan kita lebih ditakar dengan kwantitas, keindahan adalah ukuran matematis dan cinta –supaya mengesankan- harus menjadi barang dagangan dengan setumpuk uang sebagai harganya”.6 Menarik, Ignas juga menyebut “kepercayaan kepada Tuhan” sebagai “semacam puisi”.

“Kemurungan” Sarah Monica berbeda dengan “kemurungan” Cecep Syamsul Hari. Kemurungan Cecep dalam puisi-puisinya berada dalam ranah romantisme cinta penuhi isotopi perempuan, imaji-imaji perempuan.7 Kemurungan Cecep sampai taraf tertentu bahkan menjadi tujuan. Ada  nuansa erotisme, kadang transenden. Tiga kutipan puisi dari buku Efrosina8 berikut ini kiranya bisa menunjukkan kecenderungan tersebut:

…. Tubuhku kecut dan pasi,
hujan menyiram rambutku semalaman; seseorang bermuka
pucat bermahkota cahaya ke dalam cawan menuangkan cairan
merah bagai anggur, seperti darah: “Untuk kesehatan kita.” Kami
pun bersulang, aku bersulang, dengan murung.
(puisi “Efrosina”)

Menulis puisi pada sebuah malam yang sedih.
Seseorang bersenandung. Kemurungan riang berpendaran
menangkap cahaya ada tirai jendela.
(Puisi “Syair Kemurungan”)

……. Bangun dan peluklah Don Quixote
malang ini, pengembara penuh duka, jatuh cinta

berulangkali pada perempuan yang sama. Perempuan
yang sama. Orang Dewasa yang selalu takjub pada kemurungan
tak terduga.
(puisi “Molto Allegro”)

Sementara, kemurungan Sarah Monica adalah keresahan jiwa sebagai resiko kehidupan urban dan  pendidikan modern rasional yang mengabaikan aspek ruhani. Keresahan inilah yang menjadi tolakan energi untuk bangkit meronda memaknai (peristiwa, luka, dan takdir) kehidupan.

Menarik, terdapat18 kali penyebutan kata “takdir”, 17 kali penyebutan kata “Tuhan”, 19 kali penyebutan kata “cinta”, 10 kali penyebutan kata “kesunyian” dalam buku Sarah. Ini tentunya menggambarkan perhatian penyair akan aspek religiositas eksistensial puisi-puisi Sarah.

Nuansa murung dan resah sarat kebingungan ruhani banyak mewarnai puisi-puisi Sarah Monica periode tulis 2010 – 2017. Namun, puisi-puisi periode setelahnya, 2019 – 2022, menampakkan suasana lebih sumeleh. Agaknya, berkat perenungan meronda “mendaki bukit-bukit kemurungan”, Sarah kemudian menemukan solusi sumber ketenangan: Tuhan, cinta, keluarga, juga tradisi. Puisi Malam Kudus seolah menjadi tapal batas, titik balik keresahan menuju kepasrahan akan takdir Tuhan.

Puisi-puisi seperti puisi Dan Renungan Senantiasa Lahir, puisi Catatan Seorang Anak, puisi Ziarah, atau puisi Laylatul Qadar menunjukkan fase damai. Pada puisi Dan Renungan Senantiasa Lahir penyair menyadari keterbatasannya sebagai manusia: Bahasa kita terbatas membaca gerak semesta. Selanjutnya penyair berseru, Tuhan, telah terjerat hati meski jalan terentang jauh dan kita pun menanggung rindu.

Puisi Catatan Seorang Anak dengan tenang spontan menyampaikan udar rasa seorang anak di hadapan orang tuanya. Bagaimana kepergian petualangan seorang anak, meski demi mengejar cita-cita sekalipun, ternyata menyisakan ceruk rindu/ milik ayah-ibuku. Penyair telah keliru menilai keluarga sebagai penjara dari sumber segala tanya, dan akhirnya insyaf: perjalanan akan selalu/ memberi alasan berpulang/ dan makna diri/ membutuhkan akar/ untuk tumbuh dan berdiam.

Lewat puisi Ziarah Sarah menyalami diri sendiri, Salam pada pendendam/ jiwa kelam yang dihantam/ peristiwa demi peristiwa/ lembar-lembar luka. Hati damai sumeleh membuatnya tidak lagi memandang alam dari perspektif eksploitatif, alam menjadi sahabat dalam perjalanan menuju Tuhan, Alam berbicara/ di keheningan batin/ yang gemetar. Tak cuma itu penyair berikhtiar berdamai dengan sejarah, tradisi, dan warisan spiritualitas ulama pendahulu: Nalar kita mencoba/ menembus kerajaan sejarah/ dari kubur alim-ulama/ menyelami telaga doa/ yang terus menghilir ke muara takdir. Dan akhirnya, dalam puisi Laylatul Qadar penyair bisa berzikir dan menari bersama para sufi: Dengar, O, dengar! Nadi bumi bergetar/ oleh tarian memutar/ ruh-ruh para pemabuk abadi/ pertapa gila yang merindu.

Bangun puisi Sarah Monica kokoh, ditopang dengan diksi-diksinya yang bersih dan efektif, menunjukkan pondasi nalar penyair yang kuat. Puisi-puisi Sarah Monica dekat dengan perpuisian Faisal Kamandobat dalam soal struktur bangun dan pola susun larik, juga dalam gaya sunting larik (enjabemen). Kita simak petikan puisi Faisal Kamandobat berikut:

aku kehilangan peta
menuju tuhan
sudah lama aku tak bicara
dengan langit dan planet-planet
sudah lama aku tak bicara
dengan diriku sendiri9

Yang tertuang dalam puisi-puisi Sarah, boleh jadi sedikit banyak juga menghantui hati dan pikiran kita. Sebagai manusia, sebagaimana kutipan N Drijarkara di muka, Sarah Monica telah berhadapan dengan dirinya sendiri. Kita belajar pada Sarah memahami diri. Saya tutup pembacaan ringkas ini dengan kutipan berikut:

Selamat datang rahasia
merekahlah
agar kusingkap rupa ilahiah.
(puisi “Ziarah”)

 Muntilan Jogja, 27 April 2024

Bacaan:

1: Filsafat Manusia, Prof. Dr. N Drijarkara,Penerbit Jajasan Kanisius, tahun 1969, halaman 6

2: Filsafat Manusia, hal. 8.

3: Bangkitnya Kemurungan, Kumpulan Puisi Sarah Monica, Penerbit Framepublishing, cetakan I, Juli 2023

4: Bangkitnya Kemurungan, hal v

5 : Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hossein Nasr, penerbit pustaka, tahun 1983.

6 : majalah “Budaja Djaja” Nomor 50 tahun ke lima, Juli 1972, dalam “Tjatatan Bulan Ini”  halaman 386-387.

7 : Nafas Gunung, Suara dari Jawa Barat, antologi puisi Penyair Jawa Barat, serial Cakrawala Sastra Indonesia, Penerbit Logung Pustaka, Tahun 2004. Kata Penutup oleh Muh. Wan Anwar diantaranya mengulas kecenderungan “kemurungan” dalam puisi-puisi Cecep Syamsul Hari.

8 : Efrosina, Kumpulan Puisi Cecep Syamsul Hari, Orfeus Books, Cimahi 2002.

9 : Puisi Seperti Tuhan dalam buku Alangkah Tolol Patung Ini, Faisal Kamandobat, penerbit Olongia, tahun 2007.

Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis
Rendezvous: Puisi-puisi yang Melawan Keberserakan Kata-kata
Tags: buku puisiPuisiresensi bukuSarah Monica
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Love Robots” dari Antonius Kho, Ketika Manusia Dikuasai Robot

Next Post

Temukan “Basic Integrated Local Genius in Tourism”, Agus Muriawan Putra Menjadi Doktor Pariwisata ke-111 di Unud

Agus Manaji

Agus Manaji

Lahir di Bekasi, 16 Maret 1979. Tinggal di dusun Ngentak, Muntilan, Magelang. Guru Fisika SMK N 3 Yogyakarta. Antologi puisi tunggalnya Seperti Malam-malam Februari (penerbit Interlude, 2018). Puisinya dumuat Majalah Horison, jurnal Puisi, KR, Suara Merdeka, Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, dll.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Temukan “Basic Integrated Local Genius in Tourism”,  Agus Muriawan Putra Menjadi Doktor Pariwisata ke-111 di Unud

Temukan “Basic Integrated Local Genius in Tourism”, Agus Muriawan Putra Menjadi Doktor Pariwisata ke-111 di Unud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co