24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis

Chris Triwarseno by Chris Triwarseno
January 7, 2024
in Ulas Buku
Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis

Sampul buku Perkara-perkara Nyaris Puitis karya Hilmi Faiq

Judul buku: Perkara-perkara Nyaris Puitis
Penulis: Hilmi Faiq
Penerbit: gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Juli, 2023

NGELEM dan lem aibon, dua hal yang sangat identik. Perilaku menghisap lem dijadikan sebagai suatu trend di dalam lingkungan, khususnya anak-anak jalanan. Kondisi ini seperti sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar lingkungan remaja, terutama remaja yang pola pikirnya belum stabil. Mereka merasa tertantang, coba-coba, dan ujungnya ketergantungan. Hal ini kemudian menyebabkan ketagihan dan melakukan kembali perilaku (relapse) ngelem.

Lem aibon termasuk zat yang berbahaya dan sangat adiktif. Lem aibon dipilih sebagai pengganti obat atau media suntik, karena lebih mudah didapat dan lebih hemat biaya. Melalui karakter Bana di dalam puisi berjudul “Di Bawah Lindungan Tuhan” Hilmi Faiq setidaknya menggunakan zat adiktif itu dalam bangunan metaforanya :

…..
Dia tergeletak di bangku taman
plastik berisi lem aibon di tangan kanan.
Tidurnya tenang, setenang kuburan.
…..

(2019)

Lalu apa relevansinya Hilmi Faiq memvisualisasikan kaleng lem aibon di dalam cover buku sajaknya? Benarkah ini kacamatanya sebagai seorang wartawan dan penyair yang menyoroti fenomena yang tumbuh di masyarakat? Ini menjadi pertanyaan-pertanyaan yang cukup menarik.

Penyair lebih sering atau bahkan selalu memerankan diri sebagai pemberi tanda. Melalui gambar kaleng lem aibon yang terbuka-menguap dan di dalamnya berserakan barang-barang yang (seperti) sedang dalam pusaran banjir, Hilmi sedang melepaskan tanda-tanda yang ia susun agar ditangkap oleh pembaca. Sebut saja gambar-gambar seperti : sebatang pohon, ban mobil, payung, boneka, sandal jepit, jerigen, gadget, dan lainnya seolah “nyampah”  di dalam lem aibon.

Senada dengan yang disampaikan Saras Dewi, sastrawan dan pengajar filsafat di Universitas Indonesia. Di dalam catatan penutupnya, ia menyebutkan antologi sajak Perkara-perkara Nyaris Puitis ini membuatnya terpekur. Sejauh mana kita telah membaca tanda-tanda dalam hidup ini. Tanda memang perlu kepekaan kita. Ia tidak selalu gamblang. Membaca tanda membutuhkan ketenangan dan kesabaran untuk memahaminya.

Sajak-sajak Hilmi adalah pembelaan terhadap yang mungil, yang terbengkalai sehari-harinya. Sajak-sajaknya adalah irisan-irisan tentang Kota Jakarta dan orang-orangnya. Cara mereka bertahan hidup, perjuangan mereka, cinta mereka yang tumbuh seperti rumput liar di tengah impitan beton.

Tidak cukup hanya menggunakan visualisasi gambar saja, Hilmi juga menggunakan bahasa secara sadar untuk bermain-main dengan aspek bunyi, kalimat, dan makna. Perkara-perkara Nyaris Puitis, adalah sebuah judul yang sangat berhasil menjadi satu keutuhan kesepakatan makna yang sedang ia tawarkan melengkapi ilustrasi kaleng lem aibon.

Apakah pembaca harus membuat kesepakatan dengan penawarannya? Inilah asyiknya sajak. Sajak itu kebebasan. Penyair bebas menentukan aturan mainnya. Bagaimana penyair menawarkan kesepakatan itulah, justru ia sedang menentukan nilai-nilai maknanya. Dan pembaca tentu boleh menolak tawaran kesepakatan itu.

Di mana benang merah gambar kaleng lem aibon dengan judul buku Perkara-perkara Nyaris Puitis? Setidaknya kita perlu definisikan masing-masing, “Perkara-perkara”, “Nyaris”, dan “Puitis”.

“Perkara-perkara” adalah sejumlah masalah atau persoalan. “Nyaris” adalah hampir saja terjadi (terutama tentang sesuatu yang membahayakan). “Puitis” adalah bersifat puisi, seperti kata-kata yang digunakan dipilih dan disusun dengan cermat, terdengar indah, diucapkan dengan tekanan suara tertentu sehingga menimbulkan emosi.

Jadi arti rangkaian dalam judul tersebut adalah sejumlah persoalan-persoalan yang hampir atau telah terjadi dengan penanganan atau penyelesaian yang terdengar indah (tapi) menimbulkan emosi. Sepertinya ini mendekati kait-kelindan analogi visualisasi gambar dan judul buku antologi  Hilmi.

Citraan kompleksitas “perkara-perkara” terlihat di dalam barang-barang berserakan di dalam kaleng lem aibon. Ban – bisa jadi ini adalah representasi lonjakan jumlah kendaraan bermotor, kemacetan, dan polusi. Jerigen – bahan bakar yang langka dan harganya melambung. Pohon tumbang – tidak adanya ruang hijau kota, berganti hutan beton, dan tidak ada resapan air-banjir. Payung terbalik – tidak ada payung hukum dan keadilan yang tergadaikan. Boneka – tidak adanya perlindungan anak dan kekerasan terhadap anak. Sandal jepit – rakyat kecil, terpinggirkan, tergusur, dan hunian kumuh.

Mungkin itu baru beberapa  permasalahan saja yang dihadapi dalam tata kelola urban. Lantas di mana letak ke-“nyaris”-annya? Bisa saja Hilmi meminjam kata “nyaris” sebagai satir bahwa perkara-perkara itu (mungkin) “hampir” ditangani atau bahkan (bisa jadi) “diabaikan”.

Lihat saja satir di salah satu baris terakhir sajak berjudul “Di Bawah Lindungan Tuhan” berikut ini :

…..
membuat Bana lupa pada kelaparan
saat negara tidur-tiduran
…..

(2019)

Hilmi mengisyaratkan bahwa penguasa tidak hadir dalam “perkara-perkara” yang  “nyaris” tersebut. Penanganan-penanganannya kerap kali hanya citraan saja – kata-kata manis, obral janji-bual dan nirhasil. “Puitis” bukan? Tidak ada keberpihakan pada keadilan dan kebenaran. Menyakitkan!

*****

Mari kita menjelajah sajak-sajak Hilmi di buku “Perkara-perkara Nyaris Puitis”. Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Cetakan Pertama : Juli 2023. Kurang lebih terdiri dari 125 sajak dan terbagi dalam dua (semacam) bab, yaitu : Tuhan Tak Mati dan Yang Dekat Dekat. Buku dengan warna biru muda – meneduhkan, kontras dengan warna visualisasi gambarnya, dan pilihan jenis serta warna font memberi penegasan tersendiri atas pesan yang akan disampaikan.

Menurut Budi Darma di salah satu esainya yang berjudul “Sastra : Sebuah Catatan”, sastra sebenarnya pengungkapan masalah hidup, filsafat, dan ilmu jiwa. Sejurus dengan pengertian itu, Hilmi mengungkapkan sebuah permasalahan sosial yang cukup pelik. Kemiskinan, perilaku menyimpang, dan ketidakhadiran negara atas permasalahan tersebut. (Justru) Tuhan tidak terlewatkan – hadir dalam filsafat spiritual.

 Di dalam sajak di bawah ini, setidaknya Hilmi telah menafsirkan kegelisahannya melalui personifikasi tokoh utamanya. Bana, seorang (remaja) yang membebaskan kepahit-getiran hidupnya dengan menghirup lem aibon. Lem ini serupa hidangan lengkap pembunuh lapar – “empat sehat lima sempurna”. Ya slogan negara untuk mengkampanyekan hidup sehat rakyatnya. Puitis-ironis bukan?

Bana – representasi rakyat, sedang tertidur dengan tenang, tidurnya setenang kuburan. Kalimat pendukung ini terlihat melebih-lebihkan, tapi faktanya memang demikian efek (relapse) ngelem. Jika rakyat menggunakan lem aibon untuk mempercepat kantuk-menghilangkan rasa lapar. Mungkin tidak demikian bagi wakil rakyat – dewan yang terhormat, wakil Bana juga. Permainan Candy Crush dipilihnya, alih-alih (tidak) hanya untuk menghilangkan rasa kantuk, tetapi untuk menghasilkan cuan tambahan selain tunjangan sebagai anggota dewan. Yang besarannya berkali-lipat gaji pokoknya.

Permainan sajak Hilmi sangat tajam, menuliskan  “saat negara tidur-tiduran” untuk jutaan Bana (rakyat) yang dipaksa “tidur beneran”. Penyimpangan ngelem-nya dicap wakil rakyatnya sendiri sebagai masalah sosial. Fakta lainnya, memang wakil rakyat itu sedang “tidur-tiduran” – tidak tidur beneran. Tidur-tidur ayam di kursi saat sidang, main game online – tepatnya judi online, melihat pornografi-sesaat sebelum membuat pasal untuk undang-undang pornografi, dan aktivitas “tidur-tiduran” yang lain. Mari kita simak sajaknya berikut ini :

DI BAWAH LINDUNGAN TUHAN

Rambut Bana ikal
sedikit cokelat di ujungnya,
mirip untaian kawat karatan.

Entah berapa hari dia tidak mandi, tidak makan, kulitnya kusam.
Lalat-lalat senang hinggap dan terbang
pada betisnya yang seperti permukaan bulan.

Dia tergeletak di bangku taman
plastik berisi lem aibon di tangan kanan.
Tidurnya tenang, setenang kuburan.

Tiba-tiba hujan,
Begitulah cara Tuhan
membuat Bana lupa pada kelaparan
saat negara tidur-tiduran.

(2019)

Di sajak berikutnya yang berjudul “Pintu”, Hilmi sedang berbahasa, berkata-kata atau (mungkin) sedang menuliskan buku harian. Ini adalah proses kognitif, yaitu memperoleh pengetahuan di dalam kehidupan yang diperoleh melalui pengalaman. Melibatkan Indera, kesadaran, dan perasaan.

Di dalam sajak ini, Hilmi menggunakan banyak pengulangan “Aku” dan “Mu”. Setidaknya ada empat “Aku” – satu “ku” yang juga mewakili “Aku” dan ada tiga “Mu”. Ini menunjukkan sebuah keintiman interaksi-komunikasi dua arah antara “Aku” dan “Mu”. Ya setidaknya seperti sedang menulis buku harian yang penuh kesadaran dan menuliskannya dengan perasaan. Keluaran dari curhatan tersebut disebut kognisi.

Hilmi sedang mengajak kita menemukan “Mu” yang terus  saja dia ulang di dalam sajaknya. “Aku”-nya berusaha dengan sekuat tenaga, dengan segala daya upaya, dan dengan berteriak juga. Kegaduhan spiritualnya muncul ketika “Aku”-nya tidak (segera) menemukan “Mu”-nya.

Setelah keintiman yang intens akhirnya “Aku” menyadari bahwa “Mu”-nya lebih dekat dari urat leher “Aku” sendiri. Tentu saja ini bukan berarti otomatis menunjukkan posisi dan letak. Akan tetapi menunjukkan dekat maknawi, yaitu “kedekatan”. Kebahagiaan “Aku” setelah menemukan “Mu” dituliskan dalam tiga baris terakhir sajaknya :

…..
Belakangan baru kusadari
pintu-Mu cukup aku geser
ke kanan atau ke kiri.
…..
(2021)

Selain pengulangan “Aku” dan “Mu”, di sajak ini juga ditemukan pengulangan-pengulangan lain yang lebih bersifat penegasan, kesungguhan, dan merujuk pada kumpulan orang. Lihat saja pengulangan “dorong-dorong”, “tarik-tarik”, dan “hamba-hamba”. Ketiganya memberikan permainan kata dan pemaknaan penegasan-kesungguhan “Aku” dalam menemukan “Mu”.

Puisi dengan demikian juga merupakan sebuah kognisi yang menawarkan untuk diproses kembali oleh pembaca. Menghasilkan kognisi lain yang mungkin sama atau berbeda-beda. Pembaca sajak akan mengalami sebuah peristiwa sajak setelah membaca sajak itu. Dengan mengalami sajak, pembaca mendapatkan pengetahuan, mendapat kognisi yang berupa makna sajak yang sesuai untuknya. Mari kita simak sajak lengkapnya berikut ini :

PINTU

Aku membuka pintu-Mu.
Aku dorong-dorong sekuat usaha.
Aku tarik-tarik dengan segala upaya.
Tiada terbuka jua.

Aku berteriak memanggil-Mu
hingga terkadang lupa
dengan hamba-hamba.

Belakangan baru kusadari
pintu-Mu cukup aku geser
ke kanan atau ke kiri.

(2021)

Menurut Subagio Sastrowardoyo dalam Simphoni – Pustaka Jaya, Jakarta, Jakarta, 1971, hal.45, puisi adalah filsafat, sedangkan roman, cerita pendek, atau drama adalah ilmu jiwa. Melalui sajak berikutnya yang berjudul “Hujan Puisi di Kotaku”, Hilmi sedang berfilsafat  melalui simbol-simbol keyakinan dalam kesetaraan-berdampingan.

Ia dengan leluasa mendampingkan keteduhan “Istiqlal” dengan dentang lonceng “Katedral” untuk menjawab “gemuruh” keyakinan di dadanya. Rupanya Hilmi merasakan getaran-getaran dalam keteduhan sesungguhnya. Hati, jiwa, dan pikirannya berteduh di bawah naungan keyakinan hakiki. Baris keempat sajaknya – “aku berteduh di pojok Istiqlal” dipilih untuk mewakili penggambaran keyakinannya.

Keyakinan itu bertumbuh, serupa rerumputan yang juga tumbuh dengan intensitas hujan dari langit.  Demikian halnya keyakinan, menurut Hilmi akan bertumbuh dengan intensitas “hujan kata-kata” yang berasal dari “mimbar”. “Hujan kata-kata” mewakili derasnya ujaran, ajakan, dan anjuran. Sedangkan “mimbar” berasosiasi pada sesuatu yang khusus dan mempunyai kedudukan lebih tinggi. Kitab atau ulama bisa menjadi terjemahan atas “mimbar” yang dimaksudkan.

Rupanya Hilmi sedang mengungkapkan makna kesadaran, berupa ruang-renung toleransi keberagaman keyakinan. “diselingi bunyi lonceng dari Katedral”, baris terakhir bait pertama ini mempertegas bahwa keyakinan itu “diselingi” – mempunyai irisan-irisan lain. Irisan kemanusiaan, budaya, dan sosial yang (patut diperjuangkan) berdampingan.

Dan dua baris pada bait terakhir adalah penutup yang menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial tentang manusia dan toleransi keyakinan. “Segala gemuruh” – pertentangan atau keraguan yang (seringkali) terhijab “di dada” akan hilang. Ini hanya bisa terjadi jika “seiring kata amin Jemaah” – seiring manusia secara berjamaah mempunyai pemahaman dan pemaknaan keberagaman keyakinan yang memanusiakan manusia. Mari kita simak sajak berikut :

HUJAN PUISI DI KOTAKU

Di tengah hari,
tak ada mendung atau angin.
Tiba-tiba udara sejuk menggiring gigil.
Aku berteduh di pojok Istiqlal
menikmati hujan kata-kata dari mimbar
diselingi bunyi lonceng dari Katedral.

Segala gemuruh di dada
perlahan sirna seiring kata amin Jemaah.

(2022)

Sajak bukan (hanya) rekaman utuh suatu peristiwa. Peristiwa itulah yang diolah penyair dengan pendekatan puitika untuk mencapai tingkat kepadatan tertentu. Dipangkas, disederhanakan, dan disisakan bagian-bagian yang (dianggap) penting saja. Tetapi bagian yang tersisa ini masih harus tetap membawa keutuhan rekonstruksi peristiwanya.

Di sajak “Fragmen Kota”, Hilmi memotret kehidupan sosial urban dengan metafora yang kreatif-imajinatif . Sesuai judulnya, tentu saja ini hanya sebuah fragmen-cuplikan atau bagian peristiwa, bukan peristiwa utuh yang direkam. Berikut adalah sajaknya :

FRAGMEN KOTA

Di tengah malam yang sepi dan dingin
serombongan tikus berlarian dari gerobak sampah
setelah sesosok tubuh menghantam gang
menggaungkan suara dentam.

Setelah sekian saat, malam kembali sepi
seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tubuh itu tetap di sana sampai fajar tiba.

Di seberang sungai sekitar dua blok dari gang itu,
seorang bocah berambut ikal menunggu ibunya
sambil celingukan mencari sebelah kaus kaki yang entah di mana.
Dia harus menemukannya sebelum ibunya pulang dan marah-marah
karena kembali terlambat sekolah.

Sampai tengah hari,
anak itu tak ketemu kaus kakinya
tak ketemu ibunya.

(2022)

Pada bait pertama di atas, melalui “tengah malam”, “serombongan tikus berlarian”, dan “gerobak sampah” Hilmi mendeskripsikan sisi lain kehidupan kota. Citraan area kumuh, miskin dan luput dari perhatian. Hal yang jamak terjadi dan (mungkin) juga berada di sekitar masyarakat urban lainnya. Melalui “…sesosok tubuh menghantam gang”, ia memunculkan sesosok  yang tidak berdaya, berusaha bertahan melawan kerasnya kehidupan, dan (bahkan) mungkin mati dalam ketidakberdayaan yang memiskinkannya.

Tidak ada kepedulian sosial, meskipun potret kehidupannya yang telah “mati” pun “menggaungkan suara dentam” – terdengar dan terlihat nyata di tengah-tengah masyarakat. Kegetiran dan keterpinggiran sudah menjadi karibnya sendiri dari “malam kembali sepi” sampai “di sana sampai fajar tiba” – memang sudah biasa. Tidak pernah terjadi apa-apa. Siapa peduli? Tidak ada.

Di bait ketiga, Hilmi kembali menarasikan sebuah fragmen yang berkait-kelindan dengan ironi sebelumnya. Melalui “seorang bocah”, ia memotret kecemasan, ketakutan dan kehilangan. Bocah yang sedang “menunggu ibunya” – menunggu sebuah harapan, sumber kehidupan – tempat ia bergantung.

Dan fragmen kota itu ditutup dengan sebuah satir yang cukup berhasil. Bocah itu tidak menemukan “kaus kakinya” dan “ibunya”. Tidak ditemukan sebuah harapan, tidak ditemukan sumber kehidupan, dan tidak ditemukan tempat untuk bergantung. Harapan, sumber kehidupan, dan tempat bergantung itu telah mati. Orang-orang disekitar hatinya (telah) mati, tidak peduli, dan negara pun (telah) pura-pura mati. Jadi fragmen kota adalah visualisasi kematian kemanusiaam yang sesungguhnya.

Demikian sajak-sajak Hilmi memotret keadaan di sekitarnya dan zamannya untuk dijadikan bahan mentah perenungan. Dengan kejeliannya, bahan-bahan mentah itu diolah menjadi sajak-sajak yang tidak terikat (lagi) pada tempat dan zaman bahan mentah sebelumnya. Ini yang menjadikan sajaknya menjadi sajak yang baik.

Sajak yang baik, dengan kuat bisa menjadi stimulus berpikir meskipun pembacanya tidak tahu dan (bahkan) tidak pernah menyimpulkan apapun. Sajak yang baik membuat pembacanya tersenyum, tertawa, atau larut dalam kesedihan. Sajak yang baik juga dengan kuat merasakan perasaan yang tak terdefinisikan apa namanya dan bagaimana bentuknya. [T]

Tags: buku puisiChris TriwarsenoHilmi FaiqPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Wildlife Camp 2024: Ikhtiar Menebar Pengetahuan dan Menanam Kesadaran Konservasi Alam Liar di Bali

Next Post

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Chris Triwarseno

Chris Triwarseno

Alumnus Teknik Geodesi UGM, dan karyawan swasta yang tinggal di Ungaran. Penulis puisi, cerpen, resensi dan esai. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul : Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022). Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, resensi dan esai diterbitkan di beberapa media cetak dan media online, seperti : Jawa Pos, republika.id, mediaindonesia.com, Suara Merdeka, Kaltim Post, Lombok Post, sastramedia.com, pojoktim.com, kurungbuka.com, nongkrong.co, borobudurwriters.id, balipolitica.com, tatkala.co , dll

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co