2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 7, 2024
in Cerpen
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

“Aku mencintai Milan, lebih dari semua kota di Italia!”

Julia selalu meyakini perasaannya itu. Bukannya tanpa alasan, ia jatuh hati pada kota mode Eropa setelah Paris itu. Ironisnya, justru bukan karena ia doyan fesyen.

Julia berparas ayu. Kening cenderung lebar dengan mata yang besar, hidung mancung, dagu tirus panjang dengan tubuh semampai hampir 1.7 meter. Sesungguhnya ia sasaran fesyen yang sangat menggiurkan.

Faktanya, ia selalu berpakaian seadanya dan malas dandan. Tanpa itu, ia sudah begitu sempurna. Kulitnya halus, rambutnya hitam legam panjang terurai, namun jarang ditata.

“Hanya di pojok kota ini aku menemukan energi spirit Da Vinci. Terserah kalian mau bilang apa!” 

Itulah kalimat yang selalu ia lontarkan jika teman-teman satu apartemennya protes, saat ia mau mengisi waktu senggangnya, lagi-lagi ke kota Milan.

Saat ini ia sedang menyelesaikan studi manajemen bisnis di Inggris dan tinggal dengan beberapa mahasiswa Indonesia lain di sebuah apartemen di London. Tak lama lagi, kedua orang tuanya akan mewariskan perusahaan besar di tanah air. Sebagai anak tunggal, mau tak mau ia harus menyiapkan diri.

Tentu saja, pojok kota yang dimaksud adalah sebuah taman sederhana namun cantik tempat patung seniman masyur Leonardo da Vinci berdiri dikelilingi oleh empat orang muridnya-muridnya. Monumen yang terletak di Piazza della Scala dan diselesaikan tahun 1872 itu berada satu kompleks dengan katedral megah Duomo di Milano serta galeri fesyen dan pusat perbelanjaan galleria Vittorio Emanuele kedua.

Seorang mahasiswi manajemen memuja Leonardo da Vinci. Ini tema yang empuk untuk digoreng. Terutama buat teman-temannya yang usil.

“Kenapa lu gak sekalian ambil kuliah seni aja, Julia?” desak salah seorang teman sekampusnya, saat mereka ngobrol di kereta, ketika pulang kuliah.

“Neng, aku ini penikmat seni, bukan pelaku!” Ia memilih defensif.

“Tapi sampai segitunya?” Temannya yang dipanggil si Neng agak melotot memperhatikan wajah Julia yang tak begitu acuh.

“Emang kenapa?” Julia membuang wajah sembari merapikan syalnya yang tadi dihembuskan angin dingin bulan November. Salju telah menyelimuti kota-kota di Eropa. Meskipun akan diperkirakan takkan berlangsung lama akibat efek pemanasan global.

“Iya aneh aja, lu jauh-jauh ke Milan sendirian pula. Emang bisa segigih itu? Ngalah-ngalahin sutradara film aja!” Si Neng makin gusar, dahinya mengkerut. Bahasa tubuhnya menyiratkan ia sesungguhnya menyayangi Julia. Julia cuma tersenyum, lalu ada tawa yang ditahannya.

“Gak habis pikir gue. Tuh temen-temen pada gibahin lho!” Kening si Neng makin berkerut.

Julia makin geli dan menahan tawa sekuatnya.

Namun sejujurnya, itu bukanlah tawa geli. Itu tawa getir.

***

“Romi, aku cinta mati kepadamu dan membuatku jatuh hati pada kota Milan!”

Itulah misteri yang sesungguhnya. Yang tentu saja tak mau Julia ungkapkan. Kalau sampai teman-temannya yang usil-usil itu sampai tahu, tak kebayang deh bakal jadi bulan-bulanan kayak apa dia. Bayangin saja, cinta mati. Hari gini masih ada cinta mati? Romi pula namanya.

“Julia, singkatnya papa dan mamamu tak setuju. Sampai kapanpun, kamu tak boleh berhubungan dengan laki-laki kere itu!” Nada tinggi papanya terasa sangat meremehkan orang yang disinggungnya.

Mamanya yang lebih pengertian, cuma menunduk di sampingnya, di ruang keluarga yang sangat besar dan mewah itu.

“Apa salah Romi, Pa?” Julia melirik wajah papanya.

“Apa yang kamu harapkan dari seorang dokter umum yang bertugas di pedalaman?” Nada suaranya semakin tinggi, mamanya tampak makin gugup. Papanya melanjutkan.

“Carilah yang pantas, cari pasangan yang dapat menjaga dan melanjutkan bisnis Papa yang terpandang ini!” Julia tak gentar, ia terus menatap wajah papanya.

“Papa pikir aku pasti bahagia dengan semua aset-aset yang Papa kasi?”

“Maumu apa? Mau mati sia-sia di pedalaman Kalimantan?”

“Bagaimana kalau aku bahagia jika tinggal di pedalaman? Membantu orang-orang miskin yang tak berdaya?”

Lama menunggu, papanya tak memberi respon apa-apa.

Tiba-tiba Julia merasa menyesal telah jatuh cinta pada Romi. Jalan hidup memang penuh misteri dan membingungkan.             

***

Cinta di musim semi.

Saat itu, bulan-bulan pertama Julia kuliah di London. Saat liburan antar semester kebetulan lagi musim semi. Mereka memutuskan untuk berkunjung ke Italia. Mereka adalah sekelompok anak muda dengan gairah menikmati keindahan kota-kota dengan peradaban masa lampau yang adi luhung. Italia-lah pusatnya.

Hampir semua kota di Italia memiliki situs sejarah yang hebatnya tak ternilai. Meskipun harus diakui, jumlah turis yang begitu banyak telah membuat sejumlah kota tujuan wisata di Italia semakin kumuh. Roma misalnya, tak cuma semakin kumuh, kini bahkan semakin macet. 

Bagi Julia, kota Milan-lah yang telah membuat cintanya bersemi dan prahara menyanderanya kemudian.  Ia gadis yang sejak belia sangat menyukai seni dan sastra. Jika bukan karena harus melanjutkan bisnis keluarganya, mungkin ia akan memilih jurusan seni untuk melanjutkan studinya. Saat itu ia sedang mengamati dan selalu mengagumi patung Leonardo da Vinci. Tak sengaja ia bersenggolan dengan seorang lelaki muda.

“Oh sorry!” kata laki-laki itu sopan. Wajahnya persegi ditopang rahangnya yang kokoh namun tak terlalu menonjol. Ia tampak tampan memakai sweater dengan kerah kemeja yang menyembul keluar.

“Hmm, no matter.” balas Julia refleks. Mata mereka bertatapan, cukup lama, sampai laki-laki itu memecahkan keheningan.

“Orang Indonesia?”

Julia mengangguk, tersenyum dan gugup. Tiba-tiba laki-laki itu menjulurkan tangannya. Refleks Julia menyambut, mereka berjabatan.

“Romi!”

“Julia!”

Sesaat mereka tertegun. Tentu saja, Romi dan Julia. Seperti kisah dalam drama saja. Tidak adakah nama lain atau orang lain yang namanya bukan Romi atau bukan Julia? Keduanya membantin, hati mereka geli, lalu mengabaikan segala ide yang berkecamuk dalam pikiran mereka.

“Tinggal di sini?” Julia memulai percakapan.

“Oh nggak, saya ada konferensi saja. Cuma seminggu.”
”Konferensi?”

“Iya, saya dokter. Seminggu ini ikut konferensi tentang diabetes di sini!”

“Wah keren sekali!” kata Julia. Selain menyukai seni dan sastra, Julia memang sangat mengagumi profesi dokter.

“Kamu?” Pertanyaan Romi mengagetkan Julia.

“Oh ya, aku masih kuliah.”

“Pasti kuliah mode?” Romi menebak, Julia tersenyum geli.

“Kok bisa bilang gitu?”

Kini mereka telah duduk di bangku taman, persis di hadapan patung Leonardo da Vinci.

“Salah ya? Hehehe, cuma nebak saja.”

“Iya, kenapa nebaknya begitu?”

“Karena aku dokter. Dokter banyak memanfaatkan data fisik saat mendiagnosis pasien, hehehe!”

“Jadi, aku pasienmu?” Tawa mereka berderai.

Tawa itu membuat kaget beberapa burung merpati kota yang sedang bercengkrama di samping bangku yang mereka duduki, di siang musim semi yang hangat itu. Lalu terbang berputar sebelum kemudian hinggap pada sebuah dahan pohon cemara. Meninggalkan bulu-bulu halusnya yang rontok, diseret angin lalu jatuh di area taman yang dilapisi marmer. 

“Iya, fisikmu mestinya ideal buat urusan model dan fesyen!” kata Romi.

Sulit bagi Julia menaksir, apakah kata-kata lelaki yang baru dikenalnya itu ungkapan fakta ataukah rayuan gombal. Yang jelas, Romi mengutarakannya dengan sangat cerdik. Ia tak peduli, yang jelas ia begitu bahagia mendengarnya.

“Aku kuliah manajemen bisnis, tidak di sini, tapi di London!”

“Wah, hebat sekali!” Kali ini Romi yang memuji. Julia semakin bahagia.

“Kamu suka patung?” kata Romi.

Julia agak heran menemukan seorang dokter berada di taman itu.

“Ya, aku menyukai banyak seniman Italia. Leonardo da Vinci, sastrawan Dante Alighieri. Kamu sudah baca novel Dan Brown, Inferno? Itu terinspirasi dari buku tulisan Dante Alighieri, Divine Comedy.” 

Julia nyaris terlonjak, seakan meyakini telah menemukan jodohnya. Mereka telah ngobrol sejak hari menjelang siang dan tak disadari hari telah hampir gelap. Mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan sembari menikmati makan malam di salah satu cafe teras di galleria.

Cinta pada pandangan pertama, bukanlah sekadar dalil. Namun cinta yang diciptakan dengan mudah, sering kali harus diperjuangkan dengan sulit.

Tubuh Julia, lunglai di atas sofa ruang tamu apartemennya. Semua ingatan akan Romi, papanya dan teman-temannya telah menguras energinya di hari yang dingin itu. Berkali-kali dering telepon seluler diabaikannya, ia kehilangan gairah. Kisah asmaranya yang suram terasa begitu mengerikan, tubuhnya hampir menggigil. Satu per satu ingatan itu menjejali hati dan perasaannya. Berkali-kali ia telah menyesali pertemuannya dengan Romi di Milan ketika musim semi itu. Seandainya kesalahan itu tak terjadi.

Lalu, ingatan lain yang ikut meneror harinya yang kian membeku.

“Ayah si Romi itu, bukan main sombongnya!” kata papanya.

Saat itu mereka dalam satu mobil yang mengantarkan Julia ke bandara. Ia berusaha membela keluarga Romi, saat ibundanya yang duduk di sebelahnya membelai rambut hitamnya.

“Pa, ayahnya Romi kan cuma menjalankan aturan. Sebagai petugas pajak, ia harus melaksanakan ketentuan cukai import yang sudah ditetapkan!”

“Julia! Papa ini bukan pemain amatiran. Puluhan tahun sebagai importir, tidak pernah ada yang bikin susah macam begitu. Baru kali ini, ada manusia sombong yang mengusik bisnis Papa!” Seperti biasa, nada bicara papanya semakin menjulang.

“Lho, diusik bagaimana? Bukannya bisnis Papa jadi lebih safe dan tak perlu ambil risiko dengan bermain komisi?”

“Alah, kamu ini makin sok tahu saja. Romi dan keluarganya itu sudah meracuni otakmu!”

“Sudahlah, Pa, yang sabar. Ini putri kita mau berangkat ke Inggris, kok dikasi bekal ndak enak banget?” Mamanya berusaha meredam situasi.

Meskipun diliputi perdebatan panas, saat berpisah di bandara, papanya selalu memeluk dan memberinya ciuman hangat, putri semata wayangnya tersebut. 

Julia memutuskan, liburan musim dingin ini tak pulang ke Indonesia. Ia telah memberi kabar tersebut kepada mamanya. Ia ingin berkunjung ke kota Verona, kota lain di Italia utara. Baginya, kini selain Milan, Verona menjadi kota yang perlu ia didatangi.

“Apakah sejarah memang harus berulang?” Ia meratapi kisah asmaranya dengan Romi. Seakan tragedi yang dikisahkan dalam cerita Romeo and Juliet karya William Shakespeare harus ia alami. Ia tersenyum getir.

Kisah tragedi dalam drama, pada akhirnya dielu-elukan dan dipuja di seluruh dunia. Bahkan di kota Verona sendiri, sampai dibuatkan monumen untuk memuja Juliet, Casa di Giulietta. Sebuah rumah abad ke-13, yang sengaja dipilih karena kebetulan dimiliki oleh keluarga Dal Capello. Nama yang mirip dengan keluarga Juliet yaitu Capulet. Tentu saja ini dicocok-cocokkan semata. Sebuah rumah yang memiliki ciri ikonik sebuah balkon, tempat di mana dikisahkan kedua insan yang dilanda asmara tersebut berjanji sehidup semati.

Dan di bawahnya berdiri patung Juliet yang cantik berbahan perunggu.  Konon, sepasang kekasih jika berkunjung ke sana dan masing-masing meraba payudara Juliet, maka cinta mereka akan dilanggengkan dan hidupnya dibahagiakan.

Julia sengaja berjalan kaki dari stasiun kereta menuju Casa di Giulietta atau Juliet’s House. Menyusuri tepi sungai Adige yang membelah kota Verona. Dalam udara dingin yang begitu menusuk, ia ingin menyiksa tubuhnya yang tak bahagia. Memandang air sungai yang begitu jernih dan bersih, membuatnya teringat dengan cerita-cerita Romi. Sungai di pedalaman Kalimantan yang begitu bersih tak ada polusi maupun limbah. Membayangkan, betapa bahagianya tinggal bersama belahan jiwanya nun jauh di sana. Sehidup semati, melayani orang-orang papa di sana. Ataukah ia harus menyerahkan hidupnya di sungai Adige yang dingin atau bersama Romi  dibinasakan oleh penyakit malaria yang ganas seperti diucapkan papanya? Agar mereka tetap bisa bersama? Kedua kakinya terus melangkah.

Keyakinannya tak pernah goyah, Romi dan ayahnya adalah orang baik. Meski ibunya telah meninggal dan membiayai anak-anaknya sendiri, ayah Romi tak pernah mau berlaku curang sebagai petugas pajak. Meski kalau mau, dengan mudah ia bisa melakukannya. Ia memilih meminjam kredit yang kemudian dicicil untuk melunasinya.

Pagi itu masih sangat sepi. Ia mengamati balkon Juliet’s House dengan seksama, lalu menghampiri patung perunggu Juliet yang anggun. Dibantu seorang petugas, ia naik ke pondasi patung. Ia terus berbicara dalam hatinya.

“Biarlah kucoba mitos ini, kan kuraba payudara Juliet yang malang. Semoga keajaiban…”  Bisikan hatinya terhenti, saat tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara yang sangat dikenalinya.

“Julia, tunggu!” Romi mendekapnya dari belakang, memeluknya, mengajak masing-masing satu tangan mereka meraba payudara patung Juliet. Romi terus memeluknya, sementara Julia masih bingung dan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia nanar menatap Romi, kerongkongannya tercekat. Membuat suara tak mampu keluar dari mulutnya. Saat sekali lagi berusaha untuk berteriak, Romi memberi kode jari telunjuk di depan bibirnya agar Julia tetap diam. Lalu tangan kanan Romi melakukan gerakan isyarat mempersilakan, sementara tangan kirinya menempel pada dada.

Sedetik kemudian dari pintu pengunjung berjalan beriringan papa dan mamanya yang tampak begitu haru dan bahagia. Tak terbendung, Julia berhambur mendekati kedua orang tuanya, memeluknya, kemudian disusul Romi.

Beberapa petugas dan pengunjung lain tampak tersenyum dan tampak bahagia. Beberapa darinya berujar sambil tersenyum “Bene!”, yang lain berbisik “ Ciate felici!”

Mereka menepi. Julia masih terisak yang diikuti pula oleh mamanya. Romi membuka pembicaraan, “Julia, ayah sudah meninggal. Mohon maaf, aku sengaja tidak memberimu info. Kita pasti paham, situasi saat itu sangat sulit. Tapi sudah selesai, ayah sudah dikremasi.”

“Julia, Romi. Papa minta maaf sebesar-besarnya atas sikap Papa selama ini. Papa baru sadar saat ayah Romi meninggal. Romi datang ke rumah menyampaiakan pesan ayahnya saat mengalami keadaan kritis. Mendiang menitipkan permohonan maaf kepada Papa!”

Papanya berbicara terputus-putus, lalu tak mampu menahan tangisnya sambil melanjutkan, “Padahal papa yang salah. Ia orang yang sangat baik. Papa sangat menyesal atas semua yang telah terjadi!”

Hari beranjak siang. Semakin banyak pengunjung, entah itu pasangan muda-mudi, suami-istri bahkan keluarga, bergiliran menaiki pondasi patung demi bisa meraba payudara Juliet. “Spero che tu sia benedetto!” [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Sumi, Gadis yang Dihamili Lembu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis

Next Post

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co