23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 7, 2024
in Cerpen
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

“Aku mencintai Milan, lebih dari semua kota di Italia!”

Julia selalu meyakini perasaannya itu. Bukannya tanpa alasan, ia jatuh hati pada kota mode Eropa setelah Paris itu. Ironisnya, justru bukan karena ia doyan fesyen.

Julia berparas ayu. Kening cenderung lebar dengan mata yang besar, hidung mancung, dagu tirus panjang dengan tubuh semampai hampir 1.7 meter. Sesungguhnya ia sasaran fesyen yang sangat menggiurkan.

Faktanya, ia selalu berpakaian seadanya dan malas dandan. Tanpa itu, ia sudah begitu sempurna. Kulitnya halus, rambutnya hitam legam panjang terurai, namun jarang ditata.

“Hanya di pojok kota ini aku menemukan energi spirit Da Vinci. Terserah kalian mau bilang apa!” 

Itulah kalimat yang selalu ia lontarkan jika teman-teman satu apartemennya protes, saat ia mau mengisi waktu senggangnya, lagi-lagi ke kota Milan.

Saat ini ia sedang menyelesaikan studi manajemen bisnis di Inggris dan tinggal dengan beberapa mahasiswa Indonesia lain di sebuah apartemen di London. Tak lama lagi, kedua orang tuanya akan mewariskan perusahaan besar di tanah air. Sebagai anak tunggal, mau tak mau ia harus menyiapkan diri.

Tentu saja, pojok kota yang dimaksud adalah sebuah taman sederhana namun cantik tempat patung seniman masyur Leonardo da Vinci berdiri dikelilingi oleh empat orang muridnya-muridnya. Monumen yang terletak di Piazza della Scala dan diselesaikan tahun 1872 itu berada satu kompleks dengan katedral megah Duomo di Milano serta galeri fesyen dan pusat perbelanjaan galleria Vittorio Emanuele kedua.

Seorang mahasiswi manajemen memuja Leonardo da Vinci. Ini tema yang empuk untuk digoreng. Terutama buat teman-temannya yang usil.

“Kenapa lu gak sekalian ambil kuliah seni aja, Julia?” desak salah seorang teman sekampusnya, saat mereka ngobrol di kereta, ketika pulang kuliah.

“Neng, aku ini penikmat seni, bukan pelaku!” Ia memilih defensif.

“Tapi sampai segitunya?” Temannya yang dipanggil si Neng agak melotot memperhatikan wajah Julia yang tak begitu acuh.

“Emang kenapa?” Julia membuang wajah sembari merapikan syalnya yang tadi dihembuskan angin dingin bulan November. Salju telah menyelimuti kota-kota di Eropa. Meskipun akan diperkirakan takkan berlangsung lama akibat efek pemanasan global.

“Iya aneh aja, lu jauh-jauh ke Milan sendirian pula. Emang bisa segigih itu? Ngalah-ngalahin sutradara film aja!” Si Neng makin gusar, dahinya mengkerut. Bahasa tubuhnya menyiratkan ia sesungguhnya menyayangi Julia. Julia cuma tersenyum, lalu ada tawa yang ditahannya.

“Gak habis pikir gue. Tuh temen-temen pada gibahin lho!” Kening si Neng makin berkerut.

Julia makin geli dan menahan tawa sekuatnya.

Namun sejujurnya, itu bukanlah tawa geli. Itu tawa getir.

***

“Romi, aku cinta mati kepadamu dan membuatku jatuh hati pada kota Milan!”

Itulah misteri yang sesungguhnya. Yang tentu saja tak mau Julia ungkapkan. Kalau sampai teman-temannya yang usil-usil itu sampai tahu, tak kebayang deh bakal jadi bulan-bulanan kayak apa dia. Bayangin saja, cinta mati. Hari gini masih ada cinta mati? Romi pula namanya.

“Julia, singkatnya papa dan mamamu tak setuju. Sampai kapanpun, kamu tak boleh berhubungan dengan laki-laki kere itu!” Nada tinggi papanya terasa sangat meremehkan orang yang disinggungnya.

Mamanya yang lebih pengertian, cuma menunduk di sampingnya, di ruang keluarga yang sangat besar dan mewah itu.

“Apa salah Romi, Pa?” Julia melirik wajah papanya.

“Apa yang kamu harapkan dari seorang dokter umum yang bertugas di pedalaman?” Nada suaranya semakin tinggi, mamanya tampak makin gugup. Papanya melanjutkan.

“Carilah yang pantas, cari pasangan yang dapat menjaga dan melanjutkan bisnis Papa yang terpandang ini!” Julia tak gentar, ia terus menatap wajah papanya.

“Papa pikir aku pasti bahagia dengan semua aset-aset yang Papa kasi?”

“Maumu apa? Mau mati sia-sia di pedalaman Kalimantan?”

“Bagaimana kalau aku bahagia jika tinggal di pedalaman? Membantu orang-orang miskin yang tak berdaya?”

Lama menunggu, papanya tak memberi respon apa-apa.

Tiba-tiba Julia merasa menyesal telah jatuh cinta pada Romi. Jalan hidup memang penuh misteri dan membingungkan.             

***

Cinta di musim semi.

Saat itu, bulan-bulan pertama Julia kuliah di London. Saat liburan antar semester kebetulan lagi musim semi. Mereka memutuskan untuk berkunjung ke Italia. Mereka adalah sekelompok anak muda dengan gairah menikmati keindahan kota-kota dengan peradaban masa lampau yang adi luhung. Italia-lah pusatnya.

Hampir semua kota di Italia memiliki situs sejarah yang hebatnya tak ternilai. Meskipun harus diakui, jumlah turis yang begitu banyak telah membuat sejumlah kota tujuan wisata di Italia semakin kumuh. Roma misalnya, tak cuma semakin kumuh, kini bahkan semakin macet. 

Bagi Julia, kota Milan-lah yang telah membuat cintanya bersemi dan prahara menyanderanya kemudian.  Ia gadis yang sejak belia sangat menyukai seni dan sastra. Jika bukan karena harus melanjutkan bisnis keluarganya, mungkin ia akan memilih jurusan seni untuk melanjutkan studinya. Saat itu ia sedang mengamati dan selalu mengagumi patung Leonardo da Vinci. Tak sengaja ia bersenggolan dengan seorang lelaki muda.

“Oh sorry!” kata laki-laki itu sopan. Wajahnya persegi ditopang rahangnya yang kokoh namun tak terlalu menonjol. Ia tampak tampan memakai sweater dengan kerah kemeja yang menyembul keluar.

“Hmm, no matter.” balas Julia refleks. Mata mereka bertatapan, cukup lama, sampai laki-laki itu memecahkan keheningan.

“Orang Indonesia?”

Julia mengangguk, tersenyum dan gugup. Tiba-tiba laki-laki itu menjulurkan tangannya. Refleks Julia menyambut, mereka berjabatan.

“Romi!”

“Julia!”

Sesaat mereka tertegun. Tentu saja, Romi dan Julia. Seperti kisah dalam drama saja. Tidak adakah nama lain atau orang lain yang namanya bukan Romi atau bukan Julia? Keduanya membantin, hati mereka geli, lalu mengabaikan segala ide yang berkecamuk dalam pikiran mereka.

“Tinggal di sini?” Julia memulai percakapan.

“Oh nggak, saya ada konferensi saja. Cuma seminggu.”
”Konferensi?”

“Iya, saya dokter. Seminggu ini ikut konferensi tentang diabetes di sini!”

“Wah keren sekali!” kata Julia. Selain menyukai seni dan sastra, Julia memang sangat mengagumi profesi dokter.

“Kamu?” Pertanyaan Romi mengagetkan Julia.

“Oh ya, aku masih kuliah.”

“Pasti kuliah mode?” Romi menebak, Julia tersenyum geli.

“Kok bisa bilang gitu?”

Kini mereka telah duduk di bangku taman, persis di hadapan patung Leonardo da Vinci.

“Salah ya? Hehehe, cuma nebak saja.”

“Iya, kenapa nebaknya begitu?”

“Karena aku dokter. Dokter banyak memanfaatkan data fisik saat mendiagnosis pasien, hehehe!”

“Jadi, aku pasienmu?” Tawa mereka berderai.

Tawa itu membuat kaget beberapa burung merpati kota yang sedang bercengkrama di samping bangku yang mereka duduki, di siang musim semi yang hangat itu. Lalu terbang berputar sebelum kemudian hinggap pada sebuah dahan pohon cemara. Meninggalkan bulu-bulu halusnya yang rontok, diseret angin lalu jatuh di area taman yang dilapisi marmer. 

“Iya, fisikmu mestinya ideal buat urusan model dan fesyen!” kata Romi.

Sulit bagi Julia menaksir, apakah kata-kata lelaki yang baru dikenalnya itu ungkapan fakta ataukah rayuan gombal. Yang jelas, Romi mengutarakannya dengan sangat cerdik. Ia tak peduli, yang jelas ia begitu bahagia mendengarnya.

“Aku kuliah manajemen bisnis, tidak di sini, tapi di London!”

“Wah, hebat sekali!” Kali ini Romi yang memuji. Julia semakin bahagia.

“Kamu suka patung?” kata Romi.

Julia agak heran menemukan seorang dokter berada di taman itu.

“Ya, aku menyukai banyak seniman Italia. Leonardo da Vinci, sastrawan Dante Alighieri. Kamu sudah baca novel Dan Brown, Inferno? Itu terinspirasi dari buku tulisan Dante Alighieri, Divine Comedy.” 

Julia nyaris terlonjak, seakan meyakini telah menemukan jodohnya. Mereka telah ngobrol sejak hari menjelang siang dan tak disadari hari telah hampir gelap. Mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan sembari menikmati makan malam di salah satu cafe teras di galleria.

Cinta pada pandangan pertama, bukanlah sekadar dalil. Namun cinta yang diciptakan dengan mudah, sering kali harus diperjuangkan dengan sulit.

Tubuh Julia, lunglai di atas sofa ruang tamu apartemennya. Semua ingatan akan Romi, papanya dan teman-temannya telah menguras energinya di hari yang dingin itu. Berkali-kali dering telepon seluler diabaikannya, ia kehilangan gairah. Kisah asmaranya yang suram terasa begitu mengerikan, tubuhnya hampir menggigil. Satu per satu ingatan itu menjejali hati dan perasaannya. Berkali-kali ia telah menyesali pertemuannya dengan Romi di Milan ketika musim semi itu. Seandainya kesalahan itu tak terjadi.

Lalu, ingatan lain yang ikut meneror harinya yang kian membeku.

“Ayah si Romi itu, bukan main sombongnya!” kata papanya.

Saat itu mereka dalam satu mobil yang mengantarkan Julia ke bandara. Ia berusaha membela keluarga Romi, saat ibundanya yang duduk di sebelahnya membelai rambut hitamnya.

“Pa, ayahnya Romi kan cuma menjalankan aturan. Sebagai petugas pajak, ia harus melaksanakan ketentuan cukai import yang sudah ditetapkan!”

“Julia! Papa ini bukan pemain amatiran. Puluhan tahun sebagai importir, tidak pernah ada yang bikin susah macam begitu. Baru kali ini, ada manusia sombong yang mengusik bisnis Papa!” Seperti biasa, nada bicara papanya semakin menjulang.

“Lho, diusik bagaimana? Bukannya bisnis Papa jadi lebih safe dan tak perlu ambil risiko dengan bermain komisi?”

“Alah, kamu ini makin sok tahu saja. Romi dan keluarganya itu sudah meracuni otakmu!”

“Sudahlah, Pa, yang sabar. Ini putri kita mau berangkat ke Inggris, kok dikasi bekal ndak enak banget?” Mamanya berusaha meredam situasi.

Meskipun diliputi perdebatan panas, saat berpisah di bandara, papanya selalu memeluk dan memberinya ciuman hangat, putri semata wayangnya tersebut. 

Julia memutuskan, liburan musim dingin ini tak pulang ke Indonesia. Ia telah memberi kabar tersebut kepada mamanya. Ia ingin berkunjung ke kota Verona, kota lain di Italia utara. Baginya, kini selain Milan, Verona menjadi kota yang perlu ia didatangi.

“Apakah sejarah memang harus berulang?” Ia meratapi kisah asmaranya dengan Romi. Seakan tragedi yang dikisahkan dalam cerita Romeo and Juliet karya William Shakespeare harus ia alami. Ia tersenyum getir.

Kisah tragedi dalam drama, pada akhirnya dielu-elukan dan dipuja di seluruh dunia. Bahkan di kota Verona sendiri, sampai dibuatkan monumen untuk memuja Juliet, Casa di Giulietta. Sebuah rumah abad ke-13, yang sengaja dipilih karena kebetulan dimiliki oleh keluarga Dal Capello. Nama yang mirip dengan keluarga Juliet yaitu Capulet. Tentu saja ini dicocok-cocokkan semata. Sebuah rumah yang memiliki ciri ikonik sebuah balkon, tempat di mana dikisahkan kedua insan yang dilanda asmara tersebut berjanji sehidup semati.

Dan di bawahnya berdiri patung Juliet yang cantik berbahan perunggu.  Konon, sepasang kekasih jika berkunjung ke sana dan masing-masing meraba payudara Juliet, maka cinta mereka akan dilanggengkan dan hidupnya dibahagiakan.

Julia sengaja berjalan kaki dari stasiun kereta menuju Casa di Giulietta atau Juliet’s House. Menyusuri tepi sungai Adige yang membelah kota Verona. Dalam udara dingin yang begitu menusuk, ia ingin menyiksa tubuhnya yang tak bahagia. Memandang air sungai yang begitu jernih dan bersih, membuatnya teringat dengan cerita-cerita Romi. Sungai di pedalaman Kalimantan yang begitu bersih tak ada polusi maupun limbah. Membayangkan, betapa bahagianya tinggal bersama belahan jiwanya nun jauh di sana. Sehidup semati, melayani orang-orang papa di sana. Ataukah ia harus menyerahkan hidupnya di sungai Adige yang dingin atau bersama Romi  dibinasakan oleh penyakit malaria yang ganas seperti diucapkan papanya? Agar mereka tetap bisa bersama? Kedua kakinya terus melangkah.

Keyakinannya tak pernah goyah, Romi dan ayahnya adalah orang baik. Meski ibunya telah meninggal dan membiayai anak-anaknya sendiri, ayah Romi tak pernah mau berlaku curang sebagai petugas pajak. Meski kalau mau, dengan mudah ia bisa melakukannya. Ia memilih meminjam kredit yang kemudian dicicil untuk melunasinya.

Pagi itu masih sangat sepi. Ia mengamati balkon Juliet’s House dengan seksama, lalu menghampiri patung perunggu Juliet yang anggun. Dibantu seorang petugas, ia naik ke pondasi patung. Ia terus berbicara dalam hatinya.

“Biarlah kucoba mitos ini, kan kuraba payudara Juliet yang malang. Semoga keajaiban…”  Bisikan hatinya terhenti, saat tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara yang sangat dikenalinya.

“Julia, tunggu!” Romi mendekapnya dari belakang, memeluknya, mengajak masing-masing satu tangan mereka meraba payudara patung Juliet. Romi terus memeluknya, sementara Julia masih bingung dan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia nanar menatap Romi, kerongkongannya tercekat. Membuat suara tak mampu keluar dari mulutnya. Saat sekali lagi berusaha untuk berteriak, Romi memberi kode jari telunjuk di depan bibirnya agar Julia tetap diam. Lalu tangan kanan Romi melakukan gerakan isyarat mempersilakan, sementara tangan kirinya menempel pada dada.

Sedetik kemudian dari pintu pengunjung berjalan beriringan papa dan mamanya yang tampak begitu haru dan bahagia. Tak terbendung, Julia berhambur mendekati kedua orang tuanya, memeluknya, kemudian disusul Romi.

Beberapa petugas dan pengunjung lain tampak tersenyum dan tampak bahagia. Beberapa darinya berujar sambil tersenyum “Bene!”, yang lain berbisik “ Ciate felici!”

Mereka menepi. Julia masih terisak yang diikuti pula oleh mamanya. Romi membuka pembicaraan, “Julia, ayah sudah meninggal. Mohon maaf, aku sengaja tidak memberimu info. Kita pasti paham, situasi saat itu sangat sulit. Tapi sudah selesai, ayah sudah dikremasi.”

“Julia, Romi. Papa minta maaf sebesar-besarnya atas sikap Papa selama ini. Papa baru sadar saat ayah Romi meninggal. Romi datang ke rumah menyampaiakan pesan ayahnya saat mengalami keadaan kritis. Mendiang menitipkan permohonan maaf kepada Papa!”

Papanya berbicara terputus-putus, lalu tak mampu menahan tangisnya sambil melanjutkan, “Padahal papa yang salah. Ia orang yang sangat baik. Papa sangat menyesal atas semua yang telah terjadi!”

Hari beranjak siang. Semakin banyak pengunjung, entah itu pasangan muda-mudi, suami-istri bahkan keluarga, bergiliran menaiki pondasi patung demi bisa meraba payudara Juliet. “Spero che tu sia benedetto!” [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Sumi, Gadis yang Dihamili Lembu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis

Next Post

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co