14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
January 7, 2024
in Cerpen
Sedihku Berakhir di Verona | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co | Gus Pandit

“Aku mencintai Milan, lebih dari semua kota di Italia!”

Julia selalu meyakini perasaannya itu. Bukannya tanpa alasan, ia jatuh hati pada kota mode Eropa setelah Paris itu. Ironisnya, justru bukan karena ia doyan fesyen.

Julia berparas ayu. Kening cenderung lebar dengan mata yang besar, hidung mancung, dagu tirus panjang dengan tubuh semampai hampir 1.7 meter. Sesungguhnya ia sasaran fesyen yang sangat menggiurkan.

Faktanya, ia selalu berpakaian seadanya dan malas dandan. Tanpa itu, ia sudah begitu sempurna. Kulitnya halus, rambutnya hitam legam panjang terurai, namun jarang ditata.

“Hanya di pojok kota ini aku menemukan energi spirit Da Vinci. Terserah kalian mau bilang apa!” 

Itulah kalimat yang selalu ia lontarkan jika teman-teman satu apartemennya protes, saat ia mau mengisi waktu senggangnya, lagi-lagi ke kota Milan.

Saat ini ia sedang menyelesaikan studi manajemen bisnis di Inggris dan tinggal dengan beberapa mahasiswa Indonesia lain di sebuah apartemen di London. Tak lama lagi, kedua orang tuanya akan mewariskan perusahaan besar di tanah air. Sebagai anak tunggal, mau tak mau ia harus menyiapkan diri.

Tentu saja, pojok kota yang dimaksud adalah sebuah taman sederhana namun cantik tempat patung seniman masyur Leonardo da Vinci berdiri dikelilingi oleh empat orang muridnya-muridnya. Monumen yang terletak di Piazza della Scala dan diselesaikan tahun 1872 itu berada satu kompleks dengan katedral megah Duomo di Milano serta galeri fesyen dan pusat perbelanjaan galleria Vittorio Emanuele kedua.

Seorang mahasiswi manajemen memuja Leonardo da Vinci. Ini tema yang empuk untuk digoreng. Terutama buat teman-temannya yang usil.

“Kenapa lu gak sekalian ambil kuliah seni aja, Julia?” desak salah seorang teman sekampusnya, saat mereka ngobrol di kereta, ketika pulang kuliah.

“Neng, aku ini penikmat seni, bukan pelaku!” Ia memilih defensif.

“Tapi sampai segitunya?” Temannya yang dipanggil si Neng agak melotot memperhatikan wajah Julia yang tak begitu acuh.

“Emang kenapa?” Julia membuang wajah sembari merapikan syalnya yang tadi dihembuskan angin dingin bulan November. Salju telah menyelimuti kota-kota di Eropa. Meskipun akan diperkirakan takkan berlangsung lama akibat efek pemanasan global.

“Iya aneh aja, lu jauh-jauh ke Milan sendirian pula. Emang bisa segigih itu? Ngalah-ngalahin sutradara film aja!” Si Neng makin gusar, dahinya mengkerut. Bahasa tubuhnya menyiratkan ia sesungguhnya menyayangi Julia. Julia cuma tersenyum, lalu ada tawa yang ditahannya.

“Gak habis pikir gue. Tuh temen-temen pada gibahin lho!” Kening si Neng makin berkerut.

Julia makin geli dan menahan tawa sekuatnya.

Namun sejujurnya, itu bukanlah tawa geli. Itu tawa getir.

***

“Romi, aku cinta mati kepadamu dan membuatku jatuh hati pada kota Milan!”

Itulah misteri yang sesungguhnya. Yang tentu saja tak mau Julia ungkapkan. Kalau sampai teman-temannya yang usil-usil itu sampai tahu, tak kebayang deh bakal jadi bulan-bulanan kayak apa dia. Bayangin saja, cinta mati. Hari gini masih ada cinta mati? Romi pula namanya.

“Julia, singkatnya papa dan mamamu tak setuju. Sampai kapanpun, kamu tak boleh berhubungan dengan laki-laki kere itu!” Nada tinggi papanya terasa sangat meremehkan orang yang disinggungnya.

Mamanya yang lebih pengertian, cuma menunduk di sampingnya, di ruang keluarga yang sangat besar dan mewah itu.

“Apa salah Romi, Pa?” Julia melirik wajah papanya.

“Apa yang kamu harapkan dari seorang dokter umum yang bertugas di pedalaman?” Nada suaranya semakin tinggi, mamanya tampak makin gugup. Papanya melanjutkan.

“Carilah yang pantas, cari pasangan yang dapat menjaga dan melanjutkan bisnis Papa yang terpandang ini!” Julia tak gentar, ia terus menatap wajah papanya.

“Papa pikir aku pasti bahagia dengan semua aset-aset yang Papa kasi?”

“Maumu apa? Mau mati sia-sia di pedalaman Kalimantan?”

“Bagaimana kalau aku bahagia jika tinggal di pedalaman? Membantu orang-orang miskin yang tak berdaya?”

Lama menunggu, papanya tak memberi respon apa-apa.

Tiba-tiba Julia merasa menyesal telah jatuh cinta pada Romi. Jalan hidup memang penuh misteri dan membingungkan.             

***

Cinta di musim semi.

Saat itu, bulan-bulan pertama Julia kuliah di London. Saat liburan antar semester kebetulan lagi musim semi. Mereka memutuskan untuk berkunjung ke Italia. Mereka adalah sekelompok anak muda dengan gairah menikmati keindahan kota-kota dengan peradaban masa lampau yang adi luhung. Italia-lah pusatnya.

Hampir semua kota di Italia memiliki situs sejarah yang hebatnya tak ternilai. Meskipun harus diakui, jumlah turis yang begitu banyak telah membuat sejumlah kota tujuan wisata di Italia semakin kumuh. Roma misalnya, tak cuma semakin kumuh, kini bahkan semakin macet. 

Bagi Julia, kota Milan-lah yang telah membuat cintanya bersemi dan prahara menyanderanya kemudian.  Ia gadis yang sejak belia sangat menyukai seni dan sastra. Jika bukan karena harus melanjutkan bisnis keluarganya, mungkin ia akan memilih jurusan seni untuk melanjutkan studinya. Saat itu ia sedang mengamati dan selalu mengagumi patung Leonardo da Vinci. Tak sengaja ia bersenggolan dengan seorang lelaki muda.

“Oh sorry!” kata laki-laki itu sopan. Wajahnya persegi ditopang rahangnya yang kokoh namun tak terlalu menonjol. Ia tampak tampan memakai sweater dengan kerah kemeja yang menyembul keluar.

“Hmm, no matter.” balas Julia refleks. Mata mereka bertatapan, cukup lama, sampai laki-laki itu memecahkan keheningan.

“Orang Indonesia?”

Julia mengangguk, tersenyum dan gugup. Tiba-tiba laki-laki itu menjulurkan tangannya. Refleks Julia menyambut, mereka berjabatan.

“Romi!”

“Julia!”

Sesaat mereka tertegun. Tentu saja, Romi dan Julia. Seperti kisah dalam drama saja. Tidak adakah nama lain atau orang lain yang namanya bukan Romi atau bukan Julia? Keduanya membantin, hati mereka geli, lalu mengabaikan segala ide yang berkecamuk dalam pikiran mereka.

“Tinggal di sini?” Julia memulai percakapan.

“Oh nggak, saya ada konferensi saja. Cuma seminggu.”
”Konferensi?”

“Iya, saya dokter. Seminggu ini ikut konferensi tentang diabetes di sini!”

“Wah keren sekali!” kata Julia. Selain menyukai seni dan sastra, Julia memang sangat mengagumi profesi dokter.

“Kamu?” Pertanyaan Romi mengagetkan Julia.

“Oh ya, aku masih kuliah.”

“Pasti kuliah mode?” Romi menebak, Julia tersenyum geli.

“Kok bisa bilang gitu?”

Kini mereka telah duduk di bangku taman, persis di hadapan patung Leonardo da Vinci.

“Salah ya? Hehehe, cuma nebak saja.”

“Iya, kenapa nebaknya begitu?”

“Karena aku dokter. Dokter banyak memanfaatkan data fisik saat mendiagnosis pasien, hehehe!”

“Jadi, aku pasienmu?” Tawa mereka berderai.

Tawa itu membuat kaget beberapa burung merpati kota yang sedang bercengkrama di samping bangku yang mereka duduki, di siang musim semi yang hangat itu. Lalu terbang berputar sebelum kemudian hinggap pada sebuah dahan pohon cemara. Meninggalkan bulu-bulu halusnya yang rontok, diseret angin lalu jatuh di area taman yang dilapisi marmer. 

“Iya, fisikmu mestinya ideal buat urusan model dan fesyen!” kata Romi.

Sulit bagi Julia menaksir, apakah kata-kata lelaki yang baru dikenalnya itu ungkapan fakta ataukah rayuan gombal. Yang jelas, Romi mengutarakannya dengan sangat cerdik. Ia tak peduli, yang jelas ia begitu bahagia mendengarnya.

“Aku kuliah manajemen bisnis, tidak di sini, tapi di London!”

“Wah, hebat sekali!” Kali ini Romi yang memuji. Julia semakin bahagia.

“Kamu suka patung?” kata Romi.

Julia agak heran menemukan seorang dokter berada di taman itu.

“Ya, aku menyukai banyak seniman Italia. Leonardo da Vinci, sastrawan Dante Alighieri. Kamu sudah baca novel Dan Brown, Inferno? Itu terinspirasi dari buku tulisan Dante Alighieri, Divine Comedy.” 

Julia nyaris terlonjak, seakan meyakini telah menemukan jodohnya. Mereka telah ngobrol sejak hari menjelang siang dan tak disadari hari telah hampir gelap. Mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan sembari menikmati makan malam di salah satu cafe teras di galleria.

Cinta pada pandangan pertama, bukanlah sekadar dalil. Namun cinta yang diciptakan dengan mudah, sering kali harus diperjuangkan dengan sulit.

Tubuh Julia, lunglai di atas sofa ruang tamu apartemennya. Semua ingatan akan Romi, papanya dan teman-temannya telah menguras energinya di hari yang dingin itu. Berkali-kali dering telepon seluler diabaikannya, ia kehilangan gairah. Kisah asmaranya yang suram terasa begitu mengerikan, tubuhnya hampir menggigil. Satu per satu ingatan itu menjejali hati dan perasaannya. Berkali-kali ia telah menyesali pertemuannya dengan Romi di Milan ketika musim semi itu. Seandainya kesalahan itu tak terjadi.

Lalu, ingatan lain yang ikut meneror harinya yang kian membeku.

“Ayah si Romi itu, bukan main sombongnya!” kata papanya.

Saat itu mereka dalam satu mobil yang mengantarkan Julia ke bandara. Ia berusaha membela keluarga Romi, saat ibundanya yang duduk di sebelahnya membelai rambut hitamnya.

“Pa, ayahnya Romi kan cuma menjalankan aturan. Sebagai petugas pajak, ia harus melaksanakan ketentuan cukai import yang sudah ditetapkan!”

“Julia! Papa ini bukan pemain amatiran. Puluhan tahun sebagai importir, tidak pernah ada yang bikin susah macam begitu. Baru kali ini, ada manusia sombong yang mengusik bisnis Papa!” Seperti biasa, nada bicara papanya semakin menjulang.

“Lho, diusik bagaimana? Bukannya bisnis Papa jadi lebih safe dan tak perlu ambil risiko dengan bermain komisi?”

“Alah, kamu ini makin sok tahu saja. Romi dan keluarganya itu sudah meracuni otakmu!”

“Sudahlah, Pa, yang sabar. Ini putri kita mau berangkat ke Inggris, kok dikasi bekal ndak enak banget?” Mamanya berusaha meredam situasi.

Meskipun diliputi perdebatan panas, saat berpisah di bandara, papanya selalu memeluk dan memberinya ciuman hangat, putri semata wayangnya tersebut. 

Julia memutuskan, liburan musim dingin ini tak pulang ke Indonesia. Ia telah memberi kabar tersebut kepada mamanya. Ia ingin berkunjung ke kota Verona, kota lain di Italia utara. Baginya, kini selain Milan, Verona menjadi kota yang perlu ia didatangi.

“Apakah sejarah memang harus berulang?” Ia meratapi kisah asmaranya dengan Romi. Seakan tragedi yang dikisahkan dalam cerita Romeo and Juliet karya William Shakespeare harus ia alami. Ia tersenyum getir.

Kisah tragedi dalam drama, pada akhirnya dielu-elukan dan dipuja di seluruh dunia. Bahkan di kota Verona sendiri, sampai dibuatkan monumen untuk memuja Juliet, Casa di Giulietta. Sebuah rumah abad ke-13, yang sengaja dipilih karena kebetulan dimiliki oleh keluarga Dal Capello. Nama yang mirip dengan keluarga Juliet yaitu Capulet. Tentu saja ini dicocok-cocokkan semata. Sebuah rumah yang memiliki ciri ikonik sebuah balkon, tempat di mana dikisahkan kedua insan yang dilanda asmara tersebut berjanji sehidup semati.

Dan di bawahnya berdiri patung Juliet yang cantik berbahan perunggu.  Konon, sepasang kekasih jika berkunjung ke sana dan masing-masing meraba payudara Juliet, maka cinta mereka akan dilanggengkan dan hidupnya dibahagiakan.

Julia sengaja berjalan kaki dari stasiun kereta menuju Casa di Giulietta atau Juliet’s House. Menyusuri tepi sungai Adige yang membelah kota Verona. Dalam udara dingin yang begitu menusuk, ia ingin menyiksa tubuhnya yang tak bahagia. Memandang air sungai yang begitu jernih dan bersih, membuatnya teringat dengan cerita-cerita Romi. Sungai di pedalaman Kalimantan yang begitu bersih tak ada polusi maupun limbah. Membayangkan, betapa bahagianya tinggal bersama belahan jiwanya nun jauh di sana. Sehidup semati, melayani orang-orang papa di sana. Ataukah ia harus menyerahkan hidupnya di sungai Adige yang dingin atau bersama Romi  dibinasakan oleh penyakit malaria yang ganas seperti diucapkan papanya? Agar mereka tetap bisa bersama? Kedua kakinya terus melangkah.

Keyakinannya tak pernah goyah, Romi dan ayahnya adalah orang baik. Meski ibunya telah meninggal dan membiayai anak-anaknya sendiri, ayah Romi tak pernah mau berlaku curang sebagai petugas pajak. Meski kalau mau, dengan mudah ia bisa melakukannya. Ia memilih meminjam kredit yang kemudian dicicil untuk melunasinya.

Pagi itu masih sangat sepi. Ia mengamati balkon Juliet’s House dengan seksama, lalu menghampiri patung perunggu Juliet yang anggun. Dibantu seorang petugas, ia naik ke pondasi patung. Ia terus berbicara dalam hatinya.

“Biarlah kucoba mitos ini, kan kuraba payudara Juliet yang malang. Semoga keajaiban…”  Bisikan hatinya terhenti, saat tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara yang sangat dikenalinya.

“Julia, tunggu!” Romi mendekapnya dari belakang, memeluknya, mengajak masing-masing satu tangan mereka meraba payudara patung Juliet. Romi terus memeluknya, sementara Julia masih bingung dan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia nanar menatap Romi, kerongkongannya tercekat. Membuat suara tak mampu keluar dari mulutnya. Saat sekali lagi berusaha untuk berteriak, Romi memberi kode jari telunjuk di depan bibirnya agar Julia tetap diam. Lalu tangan kanan Romi melakukan gerakan isyarat mempersilakan, sementara tangan kirinya menempel pada dada.

Sedetik kemudian dari pintu pengunjung berjalan beriringan papa dan mamanya yang tampak begitu haru dan bahagia. Tak terbendung, Julia berhambur mendekati kedua orang tuanya, memeluknya, kemudian disusul Romi.

Beberapa petugas dan pengunjung lain tampak tersenyum dan tampak bahagia. Beberapa darinya berujar sambil tersenyum “Bene!”, yang lain berbisik “ Ciate felici!”

Mereka menepi. Julia masih terisak yang diikuti pula oleh mamanya. Romi membuka pembicaraan, “Julia, ayah sudah meninggal. Mohon maaf, aku sengaja tidak memberimu info. Kita pasti paham, situasi saat itu sangat sulit. Tapi sudah selesai, ayah sudah dikremasi.”

“Julia, Romi. Papa minta maaf sebesar-besarnya atas sikap Papa selama ini. Papa baru sadar saat ayah Romi meninggal. Romi datang ke rumah menyampaiakan pesan ayahnya saat mengalami keadaan kritis. Mendiang menitipkan permohonan maaf kepada Papa!”

Papanya berbicara terputus-putus, lalu tak mampu menahan tangisnya sambil melanjutkan, “Padahal papa yang salah. Ia orang yang sangat baik. Papa sangat menyesal atas semua yang telah terjadi!”

Hari beranjak siang. Semakin banyak pengunjung, entah itu pasangan muda-mudi, suami-istri bahkan keluarga, bergiliran menaiki pondasi patung demi bisa meraba payudara Juliet. “Spero che tu sia benedetto!” [T]

  • Klik BACA untuk melihat esai dan cerpen dari penulis DOKTER PUTU ARYA NUGRAHA
Sumi, Gadis yang Dihamili Lembu | Cerpen Putu Arya Nugraha
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Negara Tidak Hadir dalam Perkara-perkara Nyaris Puitis

Next Post

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Kata-Kata untuk Pemegang Tahta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co