2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
October 14, 2023
in Cerpen
Sebuah Tas Untuk Istri Dokter | Cerpen Putu Arya Nugraha

Ilustrasi tatkala.co

“Dok, saya ada satu permohonan. Ini sebuah tas untuk dokter. Mohon nanti diberikan      kepada istri dokter ya. Katakan saja sebuah hadiah dari seorang suami!”

Dokter Nugie terperanjat di atas kursinya saat wanita itu begitu saja menyerahkan sebuah bungkusan. Asisten dokter yang berdiri di sampingnya pun tampak kaget tak percaya. Dokter Nugie belum sempat berkata-kata apapun ketika wanita itu berbicara kembali.

“Sebetulnya saya ingin memberikan hadiah kepada dokter. Namun itu nanti, pasti akan memberi kesulitan kepada dokter. Istri dokter pasti akan bertanya, hadiah dari siapa, hadiah untuk apa?”

Doker Nugie masih terpana, bungkusan cukup besar dengan kemasan mewah dan beraroma wangi dipersembahkan di hadapannya, di atas meja di ruang praktenya, saat terdengar lagi suara wanita itu.

“Maka untuk menunjukkan perasaan saya kepada dokter, saya lakukan ini.    Terimakasih ya, Dok. Saya harus pulang sekarang!”

Situasi yang tak pernah Dokter Nugie bayangkan. Namun baru saja fakta itu berlalu. Sisanya kini perasaan bingung dan aneh. Pun kedua bola mata asistennya masih terbelalak saat wanita itu meninggalkan ruang praktek mereka.

Wanita itu memang beberapa kali mengantarkan ibu mertuanya untuk berobat ke praktek pribadi Dokter Nugie karena keluhan sesak nafasnya. Dokter spesialis paru yang terkenal ramah itu bertatapan dengan asistennya. Keduanya tersenyum saat asistennya menggodanya.

“Atau boleh buat saya aja ya, Dok, daripada dokter bingung? Hehehe!”   

Asisten setia itu mengetahui satu hal yang begitu penting tentang Dokter Nugie dan ia paham tak harus memperpanjang percakapannya dengan dokter flamboyan itu.

Saat dalam perjalanan pulang, Dokter Nugie berusaha mulai merajut benang merah dari semua hal yang telah dilaluinya yang berhubungan dengan wanita itu, untuk menemukan penjelasan masuk akal dari kejadian yang baru saja dialami di ruang prakteknya. Tak satu pun kejadian yang mengesankan.

Wanita itu beberapa kali mengantarkan ibu mertuanya berobat ke tempat prakteknya dan beberapa kali komunikasi whatsapp, ia pun meyakini ingatannya, cuma membahas masalah medis ibu mertuanya.

Dokter Nugie pun melirik bungkusan hadiah yang teronggok di jok depan di sampingnya. Ia berguman dalam hati.

“Hadiah dari seorang wanita yang sudah bersuami, yang disamarkan untuk istriku. Mmmm, itu urusannya sendiri, bukan masalahku!” 

Ia tersenyum tawar, genggaman jarinya menjadi lebih erat pada setir mobilnya, sebuah komedi yang hanya dirasakannya sendiri di malam yang kian larut itu, di atas roda yang terus berputar. Ia pun kembali membantin.

“Cinta, memang penghasut yang tak tampak.”

***

Sudah hampir tiga bulan berlalu, wanita itu kembali mengirimkan pesan whatsapp kepada Dokter Nugie.

“Pagi, Dok, saya Shinta. Ibu mertua saya, Ibu Retno semalam masuk rumah sakit.    Dokter IGD menyarankan opname dan saya sudah minta agar Dokter yang merawat!”

“Oh ya, sebentar sehabis laporan pagi, saya lihat Ibu ya!”

Kelebihan Dokter Nugie adalah ia selalu berusaha menjawab setiap pesan yang masuk ke telepon genggamnya. Lebih-lebih jika itu urusan medis yang ia yakini pasti disertai perasaan cemas dari pengirimnya.

Setidaknya ia pun sekarang tahu nama wanita pemberi hadiah itu, Shinta. Yang ia ingat wanita itu berkulit putih dan seingatnya juga sangat bersih. Penampilannya modis. Wangi. Yang pasti sudah bersuami. Ini data yang jauh lebih penting. Hal menarik darinya adalah, gaya bicaranya lugas, to the point.

Bagaimana ia bisa menata begitu sistematik dan geometris pikiran dan  perasaannya, rasio dan hatinya secara terpisah namun tetap menyatu dalam dirinya? Tak banyak wanita bisa demikian. Ini cenderung sifat laki-laki. Laki-laki bahkan bisa bercinta dengan perempuan yang tak dikenalnya. Jika pada wanita, umumnya terjadi hanya pada mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial.  

Dokter Nugie harus mengakui, tubuhnya mulai nervous saat mengikuti langkah kakinya menuju ruang perawatan Ibu Retno. Mulai terasa ada beban. Ia meyakini bakal tak cuma sebuah kunjungan pasien dan memberi konsultasi. Ia kembali membatin dan tak mau ambil pusing.

“Bukan urusanku, itu masalah dia sendiri!”

Ataukah, bukan lagi kemudian cuma urusan dan masalah wanita itu sendiri semata? Memang ada banyak masalah berkeliaran dalam hidup manusia. Namun persoalannya bukanlah itu.

Soalnya adalah orang memilih ikut arus masalah tersebut atau mengambil jalur aman? Terjun ke dalam pusaran masalah tentu saja memberi sebuah tantangan, keasyikan yang konon diperlukan membuat hidup lebih berenergi. Itulah kenapa orang-orang kadang perlu menyewa sebuah roller coaster atau jetski.

Ia terus berkata dalam hati, mulai menggoda dirinya sendiri.

“Jangan-jangan, jangan-jangan, bakal menjadi visite pasien yang tak lagi membosankan seperti biasanya?”

Didampingi suster, Dokter Nugie memasuki ruangan pavilium pasien rawat inap untuk memeriksa ibu Retno. Sebelum menemui pasiennya, mereka melewati ruang tamu dengan desain interior begitu mewah. Ia mendapati Ibu Retno terbaring setengah duduk didampingi Shinta, menantunya.

Menantunya yang sangat perhatian, namun telah terbagi hatinya. Baru kali ini Dokter Nugie memperhatikan wajah wanita itu.  Tak mudah baginya, bagaimana mengungkapkan paras wajah yang ia lihat, meski hanya di dalam hati saja. Itu paras cantik yang tak biasa. Bukan pula sekadar manis atau anggun saja.

Ia merasakan kecantikan yang mahal. Apakah karena keadaan ekonomi keluarganya yang kaya raya atau memang kelebihan fisik yang telah dibawanya dari kelahirannya?

“Selamat pagi, Bu Retno, ibu kelihatan cukup baik pagi ini. Ibu sudah sarapan?”

“Terimakasih, Dok. Saya merasa jauh lebih baik dibandingkan kemarin. Kemarin sore, tiba-tiba saya merasakan sangat sulit untuk bernafas. Saya sudah pasrah, saya pikir bakal putus saja nafas saya.”

Ibu Retno menjawab sambil tersenyum. Shinta  yang duduk di sebelah ibu mertuanya lalu menimpali.

“Porsi sarapannya tadi pagi juga bisa dihabiskan, Dok.”

“Oh ya? Bagus sekali Bu Retno. Asupan nutrisi yang cukup, selain membantu pemulihan, itu juga bisa menjadi petunjuk sakit yang ibu alami saat ini tidaklah      berat. Penyakit yang lebih berat biasanya menyebabkan pasien kehilangan selera   makan!”

Shinta dan Ibu Retno jelas tampak senang dengan penjelasan Dokter Nugie. Shinta kembali mengajukan pertanyaan.

“Kenapa ya, Dok, kemarin ibu saya kok tiba-tiba sesaknya kumat begitu rupa?”

Mengikuti tekanan bicaranya yang demikian kuat, pandangan matanya pun begitu intens menguasai sekujur tubuh Dokter Nugie.

Dokter Nugie memilih untuk fokus menjawab pertanyaan medis tersebut, meski ia masih jelas meyakini apa yang akan dipaparkannya, sudah berkali-kali ia pernah sampaikan kepada ibu dan menantunya itu.  

“Memang ada beberapa hal yang menyebabkan bronkitis kumat. Paling sering karena infeksi saluran nafas. Tapi bisa juga akibat lingkungan seperti debu, asap atau udara       dingin. Oh ya, dapat juga bulu binatang. Kadang akibat aktifitas fisik berlebih juga      dapat memicu kekumatan sesak nafas bronkitis. Bahkan kecemasan. Makanya Ibu       tidak boleh mandi terlalu malam atau menggunakan AC terlalu dingin!”

Ketika meninggalkan rumah sakit, Dokter Nugie menerima pesan whatsapp dari Shinta.

“Terima kasih ya, Dok, atas kunjungannya tadi. Oh ya, semoga istri dokter senang       dengan hadiahnya!”

Dokter Nugie tiba-tiba menyadari, betapa wanita itu dalam tiga bulan dapat bertahan. Tidak pernah menghubunginya kembali soal hadiah tas itu. Ia makin percaya, Shinta bukanlah wanita biasa, bukan wanita sembarangan. Meski fakta bahwa ia seorang wanita yang tak setia, tak bisa dipungkiri. Namun, sepertinya ia cukup puas dan tenang mencintai seseorang dengan cara demikian.

Saat mencintai seekor burung kita tak harus mengurungnya dalam sangkar.

Ketika mampir makan siang di warung makan langganannya, Dokter Nugie membalas pesan whatsapp itu. Sebetulnya ia merasa berat melakukannya.

“Ya Shinta, istri saya sangat suka. Terima kasih ya. Sepertinya kamu tahu, saya  jarang ngasi hadiah untuk istri saya!”

“Dok, panggil saja saya Shin ya, Shinta terlalu resmi, hehehe. Dokter sibuk sekali,   pasti nggak sempat membelikan istrinya hadiah.”

Dokter Nugie tak tahu mesti menjawab apa. Atau lebih tepatnya, ia menghindari terseret arus masalah. Namun yang membuatnya tertegun adalah bagaimana mungkin seorang wanita yang menyukainya, begitu santai membahas istri orang yang disukainya? Apakah sebuah sandiwara yang dilakoninya dengan sangat terpaksa?

Dokter Nugie saja merasa kikuk. Sangat sulit membayangkan jika ia berada pada posisi wanita malang tersebut. Apakah yang ia harapkan?

“Hahaha, sebetulnya saya sempat saja. Cuma saya gak yakin. Baiknya belikan hadiah  apa ya buat istri saya. Saya merasa kurang romantis atau kurang berbakat untuk urusan itu!”

“Dokter itu dokter paling romantis lho yang pernah saya tahu. Mungkin karena cara  Dokter memperlakukan pasien-pasiennya. Saya yakin, kesan romatis itu datang dari  situ!”

Tak mau masuk terlalu jauh ke dalam pusaran air yang dapat menenggelamkan dirinya, Dokter Nugie mengakhiri percakapan itu. Ia meyakini tak ada perubahan apa pun dalam hati maupun perasaannya. Baginya, Shinta masih tetap seorang menantu dari pasien yang ia rawat, Ibu Retno.

Sesaat pikirannya kembali ke pavilium ruang perawatan, meski ia tahu, namun ia seolah-olah berlagak tak menyadari, sesaat Shinta telah memiliki dirinya dari caranya memandang yang begitu lekat dan intens. Jauh lebih mendalam dibandingkan saat mereka bertatapan di ruang praktek ketika ia memberi hadiah. Saat itu Shinta sangat rasional.

Tadi pagi ia jelas lebih emosional. Dalam gaun santai yang tetap kelihatan sangat mahal, membalut tubuhnya yang ramping terawat. Dokter Nugie membantin.

“Bagaimanakah ini akan berakhir nanti?”

Masih dalam pikirannya, Dokter Nugie berpekulasi.

“Jangan-jangan Shinta menikmati jika sakit mertuanya kumat. Ahh!”   

***

Hampir enam bulan berlalu, pesan whatsapp itu akhirnya datang lagi.

“Selamat sore, Dok. Gimana kabarnya?”

Bagi Dokter Nugie, membalas chat konsultasi medis jauh lebih sepele ketimbang menanggapi pesan non medis dari wanita khusus seperti ini.

“Baik, terimakasih.”

“Dok, Sabtu besok kami bikin acara syukuran rumah baru kami. Mohon Dokter   sekeluarga hadir ya. Mohon diajak istri dan anak-anak Dokter.”

Kesulitan itu datang kembali. Bagaimanakah ini akan berakhir?

“Wah selamat. Semoga acaranya lancar ya!”

“Dokter bisa datang kan?”

Ketimbang bertanya, chat itu jelas sebuah permintaan. Dokter Nugie cukup lama tidak menjawab.

“Maaf ya, Dok, sebetulnya kehadiran Dokter akan sangat berarti untuk saya pribadi. Namun saya harus menghargai Dokter sudah berkeluarga. Seperti      saya juga.”

Dan cukup banyak susulan pesan teks wanita yang sedang kasmaran itu.

“Saya tidak pernah membayangkan Dokter Nugie akan tega mengecewakan seseorang. Meski kepada seorang wanita yang kacau seperti saya ini! Dokter nggak usah khawatir. Ini memang masalah saya saja sebenarnya. Saya tahu seperti apa dokter menilai saya!”

Narasinya mulai sentimental dan emosional. Dokter Nugie tak ingin ini berlarut-larut.

“Oh, rasanya Sabtu besok ini saya tidak ada kegiatan apa pun. Oke, kami bisa datang!” “Betapa sulit saya mencari kesempatan bertemu Dokter. Haruskah saya berharap ibu       mertua saya kumat sakitnya, demi bisa bertemu Dokter?”

Dokter Nugie memutuskan tidak memperpanjang percakapan itu, karena sudah mengatakan akan mau datang. Ia selalu mencemaskan segala kemungkinan masalah yang dapat terjadi jika mengikuti keinginan wanita itu.

Namun, Shinta terus mengirimkan pesan. “Tiba-tiba ada kesempatan baik ini. Kalau saja kita bisa pergi lebih jauh berdua. Eh maaf ya, Dok. Berhadapan dengan dokter saya selalu kacau!”

Dokter Nugie hanya memandang layar HP-nya.

“Tapi terima kasih banget Dokter bisa datang nanti. Saya sangat bahagia. Dokter akan menjadi milik saya nanti, meski sesaat, dalam keramaian!”

Shinta semakin terbuka dan terang-terangan. Beban hati Dokter Nugie makin berat. Syukurnya wanita itu mau berhenti mengirimkan pesan.

***

Dokter Nugie mengenakan kemeja hitam dipadukan dengan celana jeans tua serta sepatu kets yang sudah lama tak dipakainya. Ia memang tak begitu suka menghadiri acara pesta. Kurang pede hadir dalam keramaian, apalagi pesta-pesta berkelas.

Juga di sore itu. Ia merasa itu bukan tempatnya. Namun kali ini merupakan undangan khusus, atau lebih tepatnya pribadi. Bersama putra semata wayangnya, yang baru SMP kelas 2 mereka menuju garasi. Kaget ingat akan sesuatu, ia berhenti, kemudian berbalik masuk rumah dengan tergesa-gesa.

Dengan dahi sedikit berkerut, putranya hanya memandangi tingkah laku ayah tersayangnya. Tak berapa lama kemudian Dokter Nugie kembali membawa sebuah bungkusan. Tampak mewah dan beraroma wangi.

“Kado untuk yang punya acara!” Sambil melangkah, Dokter Nugie berbisik dan memeluk anandanya.

Putranya cuma tersenyum dan menggenggam tangan ayahnya yang melilit di lehernya. Lalu mereka melaju menuju kediaman Shinta.

Rumah baru itu begitu besar. Dibangun dengan bahan-bahan paling mahal dan berkelas. Desain eksteriornya menyerupai hotel berbintang. Tetamanan dengan rumput hijau tebal di sana-sini dengan lampu yang telah ditata begitu anggun. Serasi dengan bangunan rumah yang begitu kokoh dan megah.

Mereka diantar seorang pelayan menuju lokasi pesta di halaman samping. Dokter Nugie berusaha matimatian untuk bersikap biasa, namun jantungnya tetap terasa berdebar lebih cepat dan lambungnya mulai perih.

Saat berbelok dari halaman depan, dari kerumunan orang menerobos datang menyongsong seorang wanita berpenampilan anggun. Mengenakan yuki dress hitam, Shinta begitu bergairah menyambut Dokter Nugie. Seolah-olah tak ada tamu yang lain. Gaun mini yang dikenakannya membuat lengannya tampak bersih dan begitu halus. Make up di wajahnya tampak sekadarnya saja, namun kecantikannya terkesan mahal. Sama halnya dengan gaun yang dipakainya. Mudah ditebak pastilah busana bermerk dengan produksi terbatas.

“Halo Dokter, terimakasih ya sudah datang!”

Shinta menggenggam tangan kanan Dokter Nugie. Dokter itu menanggapinya dengan gugup dan menyadari kembali aroma wangi itu. Sepertinya parfum itu telah menyatu dengan tubuh wanita itu.

“Selamat ya Shinta. Pestanya meriah sekali!”

Seorang pria tampan bertubuh atletis mendekati mereka sambil melemparkan senyum ramah. Gesturnya tipikal orang yang rajin berlatih di pusat kebugaran. Lalu ia menyalami Dokter Nugie dan putranya.

“Pa, ini Dokter Nugie yang selama ini merawat ibu,”

“Oh, terima kasih ya, Dok. Kondisi Ibu sudah cukup baik saat ini. Beliau pun hadir, bersama keluarga besar di pojok taman sana!”

Tangan lelaki itu menunjuk ke bagian halaman yang dimaksud. Lalu ia melanjutkan.

“Dok, silakan nikmati ya. Saya izin menemani rekan-rekan saya dulu. Shin, ajak Dokter dinner ya!”

Lalu ia berlalu menuju ke sebuah kerumunan lain.

“Dok, kok istri Dokter nggak diajak?”

Kedua otot kelopak mata wanita itu sedikit menegang. Dokter Nugie cuma tersenyum. Ia merasa telah dapat menguasai perasaan dan suasana saat itu. Sementara putranya cuma memperhatikan keduanya.

Wajah Shinta semakin tegang saat Dokter Nugie menyerahkan bungkusan yang tentu saja sangat ia kenali. Hadiah yang hampir setahun lalu diberikannya kepada Dokter Nugie, yang disamarkan untuk istrinya.

“Maaf Shinta, istri saya sudah almarhum kira-kira lima tahun lalu. Saat itu kami bertugas di kota lain. Saya rasa, lebih baik hadiah ini saya kembalikan untukmu!”

Jelas sekali wanita itu tampak kaget. Terdiam beberapa saat. Lalu tak kuasa membendung air matanya, ia spontan memeluk putra Dokter Nugie yang hanya bisa tertunduk.

Shinta mulai menangis sesunggukan, meski ia berusaha menahannya. Ia terus menangis sambil memeluk dan menciumi bocah piatu itu.

“Ya, istri saya berpulang saat Juno baru kelas 3 SD.”

Suara Dokter Nugie bergetar, pandangan matanya lirih. Sangat jelas betapa ia begitu mencintai istrinya yang telah kembali ke sisi Sang Pencipta. Seakan orang di sekitarnya pun dapat merasakan vibrasi kesetiaannya yang tak bisa diragukan.

“Saya minta maaf Dokter, saya betul-betul tidak mengetahui kisah Dokter ini. Terima   kasih, Dokter telah mengajari saya tentang rasa kehilangan. Tentang mensyukuri apa      yang kita telah kita miliki. Bukan apa yang kita inginkan. Sekali lagi, saya mohon maaf sebesar-besarnya!”

Meski mulai berkurang, wanita itu masih terus menangis. Dokter Nugie mengusap-usap bahu wanita itu, seakan-akan seorang pasien, yang tiba-tiba telah menemukan penyembuhannya. [T]

  • BACA CERPEN-CERPEN LAIN
Pedang | Cerpen Mas Ruscitadewi
Pengemis Dalam Labirin | Cerpen Krisna Aji
Komang | Cerpen Putu Arya Nugraha
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sonhaji Abdullah | Bau Kita Garam dan Darah Yang Sama

Next Post

Kini Ada “Rumah Tanjung Bungkak” di Denpasar: Seni, Creative Hub, dan Socio-Commercial Enterprise

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Kini Ada “Rumah Tanjung Bungkak” di Denpasar: Seni, Creative Hub, dan Socio-Commercial Enterprise

Kini Ada “Rumah Tanjung Bungkak” di Denpasar: Seni, Creative Hub, dan Socio-Commercial Enterprise

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co