2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lada dari Papa

Fathia Inayatus Shalihah by Fathia Inayatus Shalihah
May 19, 2024
in Ulas Buku
Lada dari Papa

Novel "Di Tanah Lada"

Di Tanah Lada merupakan sebuah novel karangan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2015. Novel Di Tanah Lada menjadi pemenang juara dua pada sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 dan menjadi novel yang cukup dikenal oleh masyarakat.

Cerita dalam novel ini bertema kekerasan pada anak-anak dengan menggunakan latar kota metropolitan yang memiliki kesan dunia bebas dan keras.

Walaupun secara umum novel ini menceritakan tentang kekerasan pada anak (Child Abuse), namun novel Di Tanah Lada sebenarnya menceritakan tentang kepolosan cara berpikir anak kecil yang menjadi tidak percaya kepada adanya kebaikan dari seorang ayah di dunia ini, hal tersebut terjadi karena anak sering disakiti oleh ayahnya.

Novel ini juga bercerita tentang dua orang anak kecil yang tulus ingin hidup bahagia bersama di kehidupan yang lain setelah mengalami kehidupan buruk di kehidupannya sekarang, hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk bunuh diri.

Kisah dalam novel ini banyak terjadi di dunia nyata dan sering memakan banyak korban. Terutama di kota metropolitan Jakarta, keras dan liarnya persaingan hidup di ibukota menjadi faktor utama hal ini terjadi.

Pada dasarnya sebuah karya sastra diciptakan berdasarkan fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti kekerasan, kemiskinan, pengangguran, serta keterbelakangan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Endraswara (dalam Kadir, 2021: 173) bahwa pemicu lahirnya karya sastra adalah kehidupan sosial.

Sejalan dengan pendapat tersebut, sebuah karya sastra terutama novel biasanya ditulis dengan merefleksikan kehidupan sosial di sekitar penulis.

Dalam novel Di Tanah Lada anak-anak diperlakukan secara kasar oleh sang ayah yang seharusnya dapat menjadi pelindung bagi anak-anaknya. Salva adalah seorang anak perempuan yang sering mendapat perlakuan buruk dari sang papa, Salva kerap kali mendapat ucapan bahkan sang papa tidak segan-segan berlaku kasar terhadapnya.

Saat Salva berada di Rusun Nero, Salva bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama P, P hidup bersama dengan sang papa, tidak jauh berbeda dengan nasib Salva, Ia juga sering mendapat tindakan kasar dari sang papa. Sesuai dengan kodratnya, dunia anak-anak seharusnya diisi dengan hal yang indah, hal-hal yang dapat membuat anak merasa bahagia layaknya anak yang hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Hidup dengan mendapat kasih sayang dari orang tua, perhatian yang cukup, serta segala kebutuhannya dapat terpenuhi.

Kehidupan anak-anak malang, seperti Salva yang sejak kecil sudah dianggap ludah oleh sang papa dan hampir diberi nama saliva karena menganggap Salva tidak berguna, selalu memberikan kata-kata buruk yang tidak pantas didengar oleh seorang anak kecil, hingga puncaknya ketika papanya tega mengurung Salva yang sedang tertidur di dalam koper.

Kemudian terdapat kisah P, anak laki-laki yang tidak sengaja bertemu dan berteman dengan Salva yang memiliki kisah hampir sama dengan Salva yaitu dibesarkan oleh papa yang ternyata bukan papa kandungnya dan selalu mendapat perlakukan kasar dari sang papa berupa disiksa dengan kejam.

Kisah P sedikit lebih menyedihkan jika dibandingkan dengan Salva, karena P dibesarkan oleh orang tua angkat yang ternyata adalah suami dari kakak ibu kandungnya sendiri, dan hingga pada akhirnya P mengetahui bahwa orang tua kandungnya adalah dua orang yang sudah P anggap kakaknya sendiri, yang sudah mengajari dan mendampingi P selama di Rusun Nero.

Permasalahan hidup kedua anak tersebut yang menuntun mereka untuk melakukan bunuh diri, bunuh diri yang Salva dan P anggap sebagai jalan agar mereka dapat hidup bahagia di kehidupan yang lain.

Terlepas dari berbagai konflik dalam novel ini, novel karangan Ziggy Zezysyazeoviennazabrizkie ini memiliki sebuah keunikan yang dapat menjadi daya tarik bagi pembacanya. Salva, seorang anak berusia enam tahun yang pandai dalam berbahasa Indonesia, setiap Salva berbicara dengan orang lain pasti menggunakan bahasa baku sesuai ejaan bahasa Indonesia yang benar.

Oleh karena itu, bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa seorang anak kecil yang lugu dengan bahasa Indonesia baku, Ziggy seolah-olah mengajak para pembacanya merasa sensasi sedang mengobrol dengan seorang anak kecil.

Salva pandai berbahasa Indonesia dengan baik dan benar bukan tanpa alasan, pada saat ulang tahunnya yang ke tiga Salva diberi hadiah oleh kakeknya sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus tersebut selalu Salva bawa ke mana pun Ia pergi agar jika kesulitan mengetahui arti sebuah kata Ia dapat langsung mencarinya di kamus. Akan tetapi, yang disayangkan adalah kepandaiannya itu dianggap remeh dan tidak membanggakan sang ayah.

Kisah dalam novel ini tidak hanya menceritakan tentang penderitaan Salva saja, sang ibu juga merasakan penderitaan yang sama. Ibu Salva sering bertengkar, diperlakukan kasar, hingga dipaksa oleh papa Salva untuk menemaninya berjudi. Tidak jarang Salva menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar, tidak jarang Salva diberi uang oleh sang mama agar keluar rumah saat orang tuanya bertengkar.

Kekerasan rumah tangga sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia, KDRT dapat terjadi apabila budaya patriarki masih menjadi pedoman dalam realita sosial budaya Indonesia. Dalam novel Di Tanah Lada, kekerasan yang dilakukan oleh papa Salva terhadap mama Salva sesuai dengan pendapat ha. F. Nadia (Nurachmad, 2013: 100), kekerasan tersebut dapat berupa penyiksaan emosi, penyiksaan ekonomi yang membuat istri selalu bergantung secara ekonomi, dan ancaman akan siksaan.

Ziggy mengemas tindakan kekerasan rumah tangga ini dalam beberapa bentuk, seperti dalam bentuk verbal (Verbal Abuse) yaitu pada saat papa Salva menyalahkan mama Salva dan Salva karena selalu menghabiskan uang. “Papa balik berteriak lagi, “MASIH INGAT! KARENA KERJAAN DIA CUMA MALAS-MALASAN MENGHABISKAN UANGKU! COBA KAU DIDIK DIA UNTUK BEKERJA! BUKAN UNTUK JADI PEMALAS SEPERTIMU!”” (Hal 16).

Beberapa tindakan lain yaitu kekerasan nonverbal, yaitu pada saat papa dan mama Salva bertengkar karena Salva membawa P ke dalam kamar di Rusun Nero dan akhirnya papa Salva menyebut Salva sebagai jalang, setelah pertengkaran itu, tindakan KDRT pun terjadi. “ITU ANAK DIDIKANMU! DARI KECIL SUDAH JADI JALANG!”. Lalu mama tampaknya marah sekali sehingga badannya gemetaran. Dia melemparkan tas yang dia pegang ke arah papa. Tasnya mengenai kepala papa. Lalu papa menggeram keras-keras seperti monster. Dia menerjang mama dan mendorongnya sampai menabrak pintu. Kemudian, papa menampar mama.” (Hal 48)

Dalam cerita ini, anak dibuat takut dan trauma dengan perlakuan sang ayah yang selalu menyakitinya. Perlakuan-perlakuan yang dianggap sepele oleh orang tua ternyata sangat berpengaruh pada psikologis anak. Tindakan KDRT yang orang tua lakukan di depan anak dapat memberikan resiko kesehatan fisik maupun mental dalam jangka panjang, seperti pendapat Aghnis Fauziah bahwa anak yang menyaksikan KDRT akan mempelajari kekerasan dari lingkungannya tersebut, yaitu anak meyakini bahwa orang lain tidak bisa dipercaya, meyakini bahwa dunia tempat yang mengerikan dan tidak aman, meyakini bahwa laki-laki jahat, suka mengatur, dan kejam, serta meyakini bahwa perempuan lemah dan tidak berdaya.

Beberapa hal tersebut benar-benar terjadi pada Salva dan P. “Mama aku sama sekali nggak ingat aku. Berarti dia nggak sayang” (hal 154). Sesuai dengan pendapat sebelumnya, keyakinan kedua anak tersebut hilang sejak Salva dan P mendapat perlakuan buruk dari ibunya. Tidak hanya itu, Salva dan P menganggap semua papa di dunia ini jahat. “Ih, kok begitu sih?” Aku bergumam, sebal. “Kamu jangan jadi papa, dong. Nanti kamu jadi jahat.” (hal 160).

Salva dan P kompak untuk tidak mau menjadi mama dan papa karena mereka menganggap mama dan papa adalah orang yang buruk, jadi Salva dan P memutuskan untuk menjadi kakek dan nenek. Hal itu disebabkan karena kakek Salva, Kakek Kia, dan nenek Salva, Nenek Isma, mereka berdua dianggap orang-orang yang baik oleh Salva. 

Berdasarkan beberapa kejadian tindak kekerasan, baik kepada anak maupun dalam rumah tangga tersebut terjadi salah satunya disebabkan oleh faktor lingkungan tempat tinggalnya. Rusun Nero, sebuah rusun di pinggiran kota Kota Jakarta yang berdiri di pemukiman penduduk kumuh dengan segala kekacauannya. Rusun Nero menjadi tempat tinggal beberapa orang dengan latarbelakang buruk, di sekitar rusun terdapat sebuah kasino (tempat perjudi) yang menjadi surga bagi orang dengan kelas sosial rendah hingga menengah penggila judi. Tidak heran jika papa Salva memilih pindah ke Rusun Nero, karena papa Salva adalah seorang penjudi yang rela menghabiskan warisan dari kakek Kia hanya untuk berjudi. “Ya! Bagus, kan? Kau lihat gang kecil di samping rusun ini? kalau kita lewat sana, terus saja, bisa langsung tembus ke kasino! Lihat! Luar biasa, kan?”

Begitu pula dengan papa P, Ia adalah seorang yang hobi berjudi, keluar rusun hanya ketika di malam hari dan kembali saat pagi harinya. “Kalau di atas jam7, Papa pergi main judi. Jadi, rumah kosong.”

Faktor lingkungan dan ekonomi menjadi faktor pendukung terjadinya kekerasan pada anak maupun dalam rumah tangga. Hal ini sesuai dengan pendapat Soetjiningsih (2002), kekerasan anak dan rumah tangga dipicu oleh tuntutan ekonomi  yang semakin meningkat, pada akhirnya rasa kecewa dan marah orang tua dilimpahkan kepada anak karena kelemahan seorang anak yang dapat diperlakukan semena-mena oleh orang tua.

Jika dilihat dalam kisah pada novel Di Tanah Lada, kasus P adalah permasalahan yang kompleks terkait beberapa faktor yang dibahas sebelumnya. P menjadi korban kebencian sang papa, setiap melihat P pasti papa P merasa benci dan kesal karena ia menganggap P adalah beban hidupnya yang merepotkan. Padahal jika dilihat pada kenyataan sebenarnya, P adalah orang yang membiayai kebutuhan sang papa mulai dari membayar sewa kamar rusun hingga sang papa sering meminta uang pada P untuk judi, padahal P baru berusia sepuluh tahun. [T]

Merayakan Kemurungan Bersama Sarah Monica
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: novelresensi bukusastraUNYZiggy Zezysyazeoviennazabrizkie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene

Next Post

Bali, the Island of the Gods

Fathia Inayatus Shalihah

Fathia Inayatus Shalihah

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Bali, the Island of the Gods

Bali, the Island of the Gods

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co