3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lada dari Papa

Fathia Inayatus Shalihah by Fathia Inayatus Shalihah
May 19, 2024
in Ulas Buku
Lada dari Papa

Novel "Di Tanah Lada"

Di Tanah Lada merupakan sebuah novel karangan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2015. Novel Di Tanah Lada menjadi pemenang juara dua pada sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014 dan menjadi novel yang cukup dikenal oleh masyarakat.

Cerita dalam novel ini bertema kekerasan pada anak-anak dengan menggunakan latar kota metropolitan yang memiliki kesan dunia bebas dan keras.

Walaupun secara umum novel ini menceritakan tentang kekerasan pada anak (Child Abuse), namun novel Di Tanah Lada sebenarnya menceritakan tentang kepolosan cara berpikir anak kecil yang menjadi tidak percaya kepada adanya kebaikan dari seorang ayah di dunia ini, hal tersebut terjadi karena anak sering disakiti oleh ayahnya.

Novel ini juga bercerita tentang dua orang anak kecil yang tulus ingin hidup bahagia bersama di kehidupan yang lain setelah mengalami kehidupan buruk di kehidupannya sekarang, hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk bunuh diri.

Kisah dalam novel ini banyak terjadi di dunia nyata dan sering memakan banyak korban. Terutama di kota metropolitan Jakarta, keras dan liarnya persaingan hidup di ibukota menjadi faktor utama hal ini terjadi.

Pada dasarnya sebuah karya sastra diciptakan berdasarkan fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, seperti kekerasan, kemiskinan, pengangguran, serta keterbelakangan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Endraswara (dalam Kadir, 2021: 173) bahwa pemicu lahirnya karya sastra adalah kehidupan sosial.

Sejalan dengan pendapat tersebut, sebuah karya sastra terutama novel biasanya ditulis dengan merefleksikan kehidupan sosial di sekitar penulis.

Dalam novel Di Tanah Lada anak-anak diperlakukan secara kasar oleh sang ayah yang seharusnya dapat menjadi pelindung bagi anak-anaknya. Salva adalah seorang anak perempuan yang sering mendapat perlakuan buruk dari sang papa, Salva kerap kali mendapat ucapan bahkan sang papa tidak segan-segan berlaku kasar terhadapnya.

Saat Salva berada di Rusun Nero, Salva bertemu dengan seorang anak laki-laki bernama P, P hidup bersama dengan sang papa, tidak jauh berbeda dengan nasib Salva, Ia juga sering mendapat tindakan kasar dari sang papa. Sesuai dengan kodratnya, dunia anak-anak seharusnya diisi dengan hal yang indah, hal-hal yang dapat membuat anak merasa bahagia layaknya anak yang hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Hidup dengan mendapat kasih sayang dari orang tua, perhatian yang cukup, serta segala kebutuhannya dapat terpenuhi.

Kehidupan anak-anak malang, seperti Salva yang sejak kecil sudah dianggap ludah oleh sang papa dan hampir diberi nama saliva karena menganggap Salva tidak berguna, selalu memberikan kata-kata buruk yang tidak pantas didengar oleh seorang anak kecil, hingga puncaknya ketika papanya tega mengurung Salva yang sedang tertidur di dalam koper.

Kemudian terdapat kisah P, anak laki-laki yang tidak sengaja bertemu dan berteman dengan Salva yang memiliki kisah hampir sama dengan Salva yaitu dibesarkan oleh papa yang ternyata bukan papa kandungnya dan selalu mendapat perlakukan kasar dari sang papa berupa disiksa dengan kejam.

Kisah P sedikit lebih menyedihkan jika dibandingkan dengan Salva, karena P dibesarkan oleh orang tua angkat yang ternyata adalah suami dari kakak ibu kandungnya sendiri, dan hingga pada akhirnya P mengetahui bahwa orang tua kandungnya adalah dua orang yang sudah P anggap kakaknya sendiri, yang sudah mengajari dan mendampingi P selama di Rusun Nero.

Permasalahan hidup kedua anak tersebut yang menuntun mereka untuk melakukan bunuh diri, bunuh diri yang Salva dan P anggap sebagai jalan agar mereka dapat hidup bahagia di kehidupan yang lain.

Terlepas dari berbagai konflik dalam novel ini, novel karangan Ziggy Zezysyazeoviennazabrizkie ini memiliki sebuah keunikan yang dapat menjadi daya tarik bagi pembacanya. Salva, seorang anak berusia enam tahun yang pandai dalam berbahasa Indonesia, setiap Salva berbicara dengan orang lain pasti menggunakan bahasa baku sesuai ejaan bahasa Indonesia yang benar.

Oleh karena itu, bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa seorang anak kecil yang lugu dengan bahasa Indonesia baku, Ziggy seolah-olah mengajak para pembacanya merasa sensasi sedang mengobrol dengan seorang anak kecil.

Salva pandai berbahasa Indonesia dengan baik dan benar bukan tanpa alasan, pada saat ulang tahunnya yang ke tiga Salva diberi hadiah oleh kakeknya sebuah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus tersebut selalu Salva bawa ke mana pun Ia pergi agar jika kesulitan mengetahui arti sebuah kata Ia dapat langsung mencarinya di kamus. Akan tetapi, yang disayangkan adalah kepandaiannya itu dianggap remeh dan tidak membanggakan sang ayah.

Kisah dalam novel ini tidak hanya menceritakan tentang penderitaan Salva saja, sang ibu juga merasakan penderitaan yang sama. Ibu Salva sering bertengkar, diperlakukan kasar, hingga dipaksa oleh papa Salva untuk menemaninya berjudi. Tidak jarang Salva menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar, tidak jarang Salva diberi uang oleh sang mama agar keluar rumah saat orang tuanya bertengkar.

Kekerasan rumah tangga sudah menjadi hal yang biasa di Indonesia, KDRT dapat terjadi apabila budaya patriarki masih menjadi pedoman dalam realita sosial budaya Indonesia. Dalam novel Di Tanah Lada, kekerasan yang dilakukan oleh papa Salva terhadap mama Salva sesuai dengan pendapat ha. F. Nadia (Nurachmad, 2013: 100), kekerasan tersebut dapat berupa penyiksaan emosi, penyiksaan ekonomi yang membuat istri selalu bergantung secara ekonomi, dan ancaman akan siksaan.

Ziggy mengemas tindakan kekerasan rumah tangga ini dalam beberapa bentuk, seperti dalam bentuk verbal (Verbal Abuse) yaitu pada saat papa Salva menyalahkan mama Salva dan Salva karena selalu menghabiskan uang. “Papa balik berteriak lagi, “MASIH INGAT! KARENA KERJAAN DIA CUMA MALAS-MALASAN MENGHABISKAN UANGKU! COBA KAU DIDIK DIA UNTUK BEKERJA! BUKAN UNTUK JADI PEMALAS SEPERTIMU!”” (Hal 16).

Beberapa tindakan lain yaitu kekerasan nonverbal, yaitu pada saat papa dan mama Salva bertengkar karena Salva membawa P ke dalam kamar di Rusun Nero dan akhirnya papa Salva menyebut Salva sebagai jalang, setelah pertengkaran itu, tindakan KDRT pun terjadi. “ITU ANAK DIDIKANMU! DARI KECIL SUDAH JADI JALANG!”. Lalu mama tampaknya marah sekali sehingga badannya gemetaran. Dia melemparkan tas yang dia pegang ke arah papa. Tasnya mengenai kepala papa. Lalu papa menggeram keras-keras seperti monster. Dia menerjang mama dan mendorongnya sampai menabrak pintu. Kemudian, papa menampar mama.” (Hal 48)

Dalam cerita ini, anak dibuat takut dan trauma dengan perlakuan sang ayah yang selalu menyakitinya. Perlakuan-perlakuan yang dianggap sepele oleh orang tua ternyata sangat berpengaruh pada psikologis anak. Tindakan KDRT yang orang tua lakukan di depan anak dapat memberikan resiko kesehatan fisik maupun mental dalam jangka panjang, seperti pendapat Aghnis Fauziah bahwa anak yang menyaksikan KDRT akan mempelajari kekerasan dari lingkungannya tersebut, yaitu anak meyakini bahwa orang lain tidak bisa dipercaya, meyakini bahwa dunia tempat yang mengerikan dan tidak aman, meyakini bahwa laki-laki jahat, suka mengatur, dan kejam, serta meyakini bahwa perempuan lemah dan tidak berdaya.

Beberapa hal tersebut benar-benar terjadi pada Salva dan P. “Mama aku sama sekali nggak ingat aku. Berarti dia nggak sayang” (hal 154). Sesuai dengan pendapat sebelumnya, keyakinan kedua anak tersebut hilang sejak Salva dan P mendapat perlakuan buruk dari ibunya. Tidak hanya itu, Salva dan P menganggap semua papa di dunia ini jahat. “Ih, kok begitu sih?” Aku bergumam, sebal. “Kamu jangan jadi papa, dong. Nanti kamu jadi jahat.” (hal 160).

Salva dan P kompak untuk tidak mau menjadi mama dan papa karena mereka menganggap mama dan papa adalah orang yang buruk, jadi Salva dan P memutuskan untuk menjadi kakek dan nenek. Hal itu disebabkan karena kakek Salva, Kakek Kia, dan nenek Salva, Nenek Isma, mereka berdua dianggap orang-orang yang baik oleh Salva. 

Berdasarkan beberapa kejadian tindak kekerasan, baik kepada anak maupun dalam rumah tangga tersebut terjadi salah satunya disebabkan oleh faktor lingkungan tempat tinggalnya. Rusun Nero, sebuah rusun di pinggiran kota Kota Jakarta yang berdiri di pemukiman penduduk kumuh dengan segala kekacauannya. Rusun Nero menjadi tempat tinggal beberapa orang dengan latarbelakang buruk, di sekitar rusun terdapat sebuah kasino (tempat perjudi) yang menjadi surga bagi orang dengan kelas sosial rendah hingga menengah penggila judi. Tidak heran jika papa Salva memilih pindah ke Rusun Nero, karena papa Salva adalah seorang penjudi yang rela menghabiskan warisan dari kakek Kia hanya untuk berjudi. “Ya! Bagus, kan? Kau lihat gang kecil di samping rusun ini? kalau kita lewat sana, terus saja, bisa langsung tembus ke kasino! Lihat! Luar biasa, kan?”

Begitu pula dengan papa P, Ia adalah seorang yang hobi berjudi, keluar rusun hanya ketika di malam hari dan kembali saat pagi harinya. “Kalau di atas jam7, Papa pergi main judi. Jadi, rumah kosong.”

Faktor lingkungan dan ekonomi menjadi faktor pendukung terjadinya kekerasan pada anak maupun dalam rumah tangga. Hal ini sesuai dengan pendapat Soetjiningsih (2002), kekerasan anak dan rumah tangga dipicu oleh tuntutan ekonomi  yang semakin meningkat, pada akhirnya rasa kecewa dan marah orang tua dilimpahkan kepada anak karena kelemahan seorang anak yang dapat diperlakukan semena-mena oleh orang tua.

Jika dilihat dalam kisah pada novel Di Tanah Lada, kasus P adalah permasalahan yang kompleks terkait beberapa faktor yang dibahas sebelumnya. P menjadi korban kebencian sang papa, setiap melihat P pasti papa P merasa benci dan kesal karena ia menganggap P adalah beban hidupnya yang merepotkan. Padahal jika dilihat pada kenyataan sebenarnya, P adalah orang yang membiayai kebutuhan sang papa mulai dari membayar sewa kamar rusun hingga sang papa sering meminta uang pada P untuk judi, padahal P baru berusia sepuluh tahun. [T]

Merayakan Kemurungan Bersama Sarah Monica
Indonesia dari Pinggir: Memoar Perjalanan yang Mengagumkan
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: novelresensi bukusastraUNYZiggy Zezysyazeoviennazabrizkie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene

Next Post

Bali, the Island of the Gods

Fathia Inayatus Shalihah

Fathia Inayatus Shalihah

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Bali, the Island of the Gods

Bali, the Island of the Gods

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co