21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene

Amina Gaylene by Amina Gaylene
May 19, 2024
in Cerpen
Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

NAMAKU Sumbi. Aku dilahirkan dari keluarga kaya raya. Berhektar-hektar perkebunan tembakau dimiliki Abah. Rumah kami bak istana. Abah memiliki tiga rumah lain yang tak kalah besarnya. Karena kami begitu kaya raya, Abah sangat membatasi pergaulanku. Ia tak ingin aku bergaul dengan mereka yang disebutnya Rakyat Jelata.

Pernah kutanyakan apa sebabnya, Abah hanya mengatakan bahwa mereka memiliki penyakit menular. Jawaban itu selalu kusangsikan, karena jika penyakit yang Abah maksud adalah kemiskinan, rasa-rasanya itu tak mungkin menular.

Abah hanya mengizinkanku bergaul dengan anak teman-temannya. Namun bergaul dengan mereka benar-benar membuatku jengah. Mereka adalah orang-orang bodoh tukang pamer. Akhirnya pilihanku adalah menghabiskan waktu dengan membaca buku dan bermain dengan anjing kesayanganku, Tumang. Jika pertanyaanmu apakah aku tidak bergaul dengan teman sekolah, aku tidak disekolahkan di sekolah formal. Aku belajar di rumah bersama guru-guru yang Abah datangkan.

Peran Emak di keluarga kami adalah sebagai burung merpati. Setidaknya begitulah aku menyebutnya. Itu karena tugas Emak sebagai penyampai pesan Abah sambil sesekali membumbuinya agar terdengar dramatis. Aku dan Abah tidak pernah berbincang secara langsung. Mengenai apa alasannya, aku pun tak mengerti.

Seperti anak pada umumnya, aku penasaran terhadap banyak hal. Namun tidak ada yang dapat menjawab semua rasa penasaranku. Pernah sekali aku bertanya pada Emak, dan satu-satunya jawaban dia adalah ‘Hush, pamali’. Karenanya, sebagai tebusan Abah yang melarangku bergaul dengan sembarang orang, aku meminta untuk dibelikan banyak buku. Melalui buku, sedikit demi sedikit rasa penasaranku terjawab, walaupun pada akhirnya sering menimbulkan banyak pertanyaan yang lebih merepotkan. Tapi aku menikmatinya.

Namun bagaimanapun, tidak semua rasa penasaranku bisa terpuaskan dengan membaca. Untuk beberapa hal aku membutuhkan eskperimen, salah satunya adalah mencoba ritual berjalan di atas bara.

Di saat semua orang di desa yakin bahwa tradisi berjalan di atas bara dibantu oleh kekuatan supranatural, aku justru menemukan hasil penelitian fisikawan Bernard J. Leikind dan William J. McCarthy yang menjelaskan bahwa kemampuan kita berjalan di atasnya adalah fenomena fisika yang berkaitan dengan konduktivitas termal.

Sederhananya, setiap benda pada suhu yang sama memiliki besaran konduktivitas termal atau kemampuan mengantarkan energi yang berbeda. Dan bara kayu memiliki kemampuan menghantarkan energi yang rendah, dalam hal ini energi panas. Karenanya, orang yang berjalan di atasnya tidak terbakar.

Fisikawan ini memberi contoh konsep pada kasus yang lebih sederhana: memanggang kue. Saat tangan kita masuk ke dalam pemanggang di suhu panas yang tinggi, apakah kita terbakar? Tidak karena udara memiliki konduktivitas termal yang rendah. Beda hal saat kita menyentuh alat pemanggang, kita bahkan tidak akan tahan memegangnya lebih dari satu detik. Itu karena alumunium memiliki nilai konduktivitas termal yang tinggi.

Kemudian aku memutuskan untuk membuktikannya sendiri. Di saat orang lain berpuasa seminggu terlebih dahulu sebelum berjalan di atas bara api, aku justru memakan banyak sekali daging. Lalu bagaimana dengan mantra? Aku tidak merapalkannya.

Aku melakukan eksperimen ini di halaman belakang rumah, berharap tidak ada siapa pun yang melihat. Kayu terbakar sempurna, bara memelototi dan menciutkan keberanian. Aku sempat ragu, namun nyala bara yang kususun panjang tetap kuterjang. Aku begitu menikmati langkah demi langkah. Darah mengalih begitu cepatnya, jantungku berpacu kencang, dan aku berhasil melewatinya tanpa sedikit pun terluka. Aku sangat senang dan berjingkrak riang. Sesekali berteriak dan tertawa. Sialnya, ternyata Emak sejak awal kumulai eksprerimen ini memergokiku.

Ia lalu berlari ke arahku, menamparku berkali-kali. Sangat kencang. Alih-alih bara api, tamparan Emak-lah yang  justru menyakitiku. “Nyebut, Nak. Ya ampun. Abaaaah. Anak kita kerasukan.”

Setelah kejadian itu, Abah mendatangkan tiga orang pintar sekaligus. Aku berusaha menjelaskan bahwa apa yang kulakukan hanya kepentingan eskperimen belaka, namun tidak ada siapa pun yang percaya. Mereka sangat yakin aku kerasukan iblis.

Seingatku, beberapa bulan kemudian tatapan orang-orang menjadi berbeda padaku. Mereka begitu menelisik. Beberapa orang bahkan saling berbisik tepat di hadapanku. Gara-gara kehebohan itu pula, aku berhenti melakukan eksperimen-eksperimen mencolok hingga kondisi mereda.

Aku melakukan aktivitas sewajarnya. Belajar bersama guru, membaca, dan sesekali bermain bersama Tumang. Hingga terjadilah sesuatu yang kemudian mengubah hidupku selamanya.

Suatu hari, aku bermain lempar bola bersama Tumang di ladang tembakau Abah yang telah dipanen tapi belum

lagi ditanami. Berkali-kali ia datang dengan riang memberikan bola padaku, dan berkali-kai pula aku melemparnya.

Saat lemparan ke-25, Tumang lari kencang ke arah bola. Namun anjing itu tak kunjung kembali. Aku menghampirinya. Kudapati Tumang menemukan boneka kesayangannya yang telah lama hilang terkubur di tanah. Ekornya bergoyang, sesekali menggonggong kencang. Tumang tampak sangat senang. Namun cara Tumang melampiaskan rindunya cukup aneh: menyetubuhinya. Aku biarkan anjing itu berpuas-puas hingga usai.

Tumang adalah jenis anjing Beauceron atau ‘Anjing Gembala Prancis’. Postur tubuhnya yang kokoh, bulu tebalnya yang coklat kehitaman, dan gerakannya yang begitu beringas tampak menawan.

Saat aku memerhatikannya, aku merasakan keganjilan pada tubuhku. Tenggorokanku rasanya kering, nafasku saling memburu. Aku merasakan tubuhku bergetar dan mataku menyala. Aku merasakan hasrat dan luka di saat bersamaan. Aku tak tahan, aku lantas berlari pergi sambil kupegang erat-erat dadaku yang tak karuan.

Aku lemparkan tubuhku ke atas kasur. Mataku membelalak, melihat ke sana-sini, mencari jawaban atas apa yang terjadi. Ada persetujuan sekaligus pertentangan dalam hati.

Tak lama setelah aku mampu menguasai diri, Tumang masuk ke kamarku dengan boneka di gigitannya. Mata kami sempat bertemu dan berkelindan beberapa saat. Mataku seolah memohon padanya. Memohon untuk apa? Aku pun tidak tahu. Lebih tepatnya aku memilih untuk tidak mencari tahu. Sepertinya di kedalaman hati dan mataku sedang tumbuh sesuatu yang kotor.

Tak dinyana, Tumang membalas tatapanku dan mengunciku telak. Tepat di hadapanku, ia menjatuhkan bonekanya. Sejurus kemudian, Tumang kembali menyetubuhi boneka itu tanpa melepaskan tatapannya padaku. Diri yang berhasil kukuasai kembali lepas. Ia meraung, menari menyanyi menikmati kebebasannya.

Adegan setelah itu adalah aku menyerahkan diri pada Tumang, tak berdaya atas daya pikatnya yang kuat. Kami menghentikan waktu. Kami bergulat begitu hebatnya. Aku melolong, Tumang menjawabnya lebih keras.

Setelah itu, kapan pun dan di mana pun kesempatan datang, kami dibutakan nafsu dan bercinta begitu hebatnya seolah kiamat akan terjadi esok. Aku dan Tumang tak pernah kedatangan lelah. Kekuatan kami begitu besar seperti kali pertama bercinta.

Hingga suatu siang yang terik dan penuh dahaga, Pak Komar, guru matematika panggilan Abah memergoki perbuatanku dengan Tumang. Ia menghampiriku saat hampir terlelap usai bercinta. “Perbuatanmu hina sekali, Sumbi! Bagaimana orang-orang akan memandang Abah-mu setelah ini?”

Kagetku bukan kepalang. Aku terpojok, tak bisa mengelak. Aku bersujud dan memohon padanya agar ia tidak mengadukan apa pun pada siapa pun, walaupun aku tahu betul ia tidak akan mau begitu saja melakukannya. Dan benar saja, lintah darat itu menyanggupi untuk menjaga rahasia selama ia bisa turut menikmati tubuhku.

“Lagi pula, kenapa kamu harus memilih anjing yang begitu menjijikkan. Aku bisa memberikan yang kamu butuhkan, Sumbi. Bahkan lebih dari anjingmu itu.”

Gairahku pada Tumang bukanlah gairah kotor. Gairah ini bisa disebut… cinta? Sedangkan aku dengan Pak Komar, membayangkannya saja begitu menjijikanku. Tapi aku tak bisa apa.

Sejak saat itu, setiap Pak Komar selesai mengajariku matematika, ia langsung menodaiku. Bahkan sering kali ia langsung berbuat jahat tanpa memberiku rumus-rumus. Beberapa waktu ia datang di luar jadwal dengan alasan ingin memberiku pelajaran tambahan. Tapi nyatanya yang ia lakukan sangat bejat. Komar bajingan!

Kebejatan Pak Komar berlangsung sekitar satu tahun lamanya hingga aku mulai merasakan keganjilan pada tubuhku. Aku curiga bahwa aku sedang mengandung jabang bayi sejak aku merasakan pusing dan mual. Ditambah aku pun tak kunjung mendapat menstruasi.

Semakin lama perutku semakin mengembang. Aku memberi tahu Pak Komar perihal urusan ini. “Terus kamu mau apa? Mau aku mengawinimu?” Tentu saja aku tolak mentah-mentah. Aku tak sudi menghabiskan sesisa hidupku dengan laki-laki bejat macam dia. Yang kuharapkan adalah dia membantuku untuk menggugurkan bayi ini, atau sekurang-kurangnya, ia akan kapok dan tak lagi menyentuhku. Namun bajingan itu tetap saja berbuat bejat padaku walaupun kondisiku sedang tidak baik. Hingga akhirnya aku muntah ke wajahnya. Komar bejat, ia kemudian memukuli dan mengumpatiku.

Aku mengonsumsi banyak obat penggugur kandungan, namun alih-alih bayi ini gugur, justru kondisi aku-lah yang kian hari kian melemah. Jabang bayi ini nampaknya bersikeras untuk lahir dan menyesap kefanaan dunia.

Di samping kondisi tubuhku yang kian melemah, perutku pun kian membengkak. Sulit bagiku untuk menyembunyikannya lagi. Akhirnya aku mengaku pada Emak dan ia sangat histeris, pun sama dengan Abah.

Abah memanggilku, dan untuk pertama kalinya ia berbicara walau tak sedikit pun ia menatap ke arahku. Ia memelotot tajam ke langit-langit rumah, matanya begitu merah, giginya bergemelutuk, rahangnya menegang. “Anak tak tahu diuntung! Siapa orang yang berbuat hina denganmu?”

Aku tak pernah menyangka bicara dengan Abah bisa semenegangkan ini, hingga aku kesulitan menyusun kata dengan baik. Namun buru-buru aku menguasai diri dan menjelaskan semua. Menjelaskan bahwa selama ini aku dipaksa oleh Pak Komar. Aku tak pernah setuju dengan kelakuan bejatnya, namun ia terus memaksa dan mengancamku. Kutunjukkan pula memar-memar akibat pukulannya tempo hari. Tentu saja aku tak menceritakan perbuatanku dengan Tumang.

“Panggil Komar ke sini! Bocah tak tahu diuntung!” Suaranya begitu menggelegar. Emak dengan air mata yang masih bercucuran buru-buru pergi.

Sedatangnya Pak Komar, tanpa sedikit pun Abah memberi kesempatan bicara padanya, ia langsung menghantam wajah Pak Komar bertubi-tubi. Tiga batu akik yang Abah pakai nampaknya berhasil membuat hidung Pak Komar patah serta mengoyak kedua pelipisnya.

“Aku memberimu pekerjaan untuk membuat anakku pintar, bukan bunting. Bajingan!” Lalu Abah meludahi Pak  Komar.

Satu menit berlalu dan Pak Komar bergeming. Ia hanya menutupi wajahnya yang penuh darah sambil mengaduh. Sedangkan tangisan Emak kian pecah. Ia terduduk sambil memukuli dadanya. Tampaknya ia ingin memecahkan dada itu agar luka yang bersemayam di sana lekas keluar. Sedangkan aku terpatung melihat kejadian itu.

Tumang lalu datang. Kepalanya menyenduli kakiku sambil sesekali menjilatinya. Betapa di dunia yang penuh luka ini, Tumang selalu menjadi sosok yang berusaha untuk menghiburku, meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

Sejurus kemudian Pak Komar menuding Tumang, tangannya bergetar hebat menyiratkan sakit dan takut. “Anjing itu! Anjing menjijikkan itu yang selama ini berbuat kotor dengan Sumbi. Anjing itu pula yang membuntingi Sumbi. Bukan aku. Abah salah paham.”

“Tolol!” tanggapku tanpa ragu. “Berani-beraninya kamu menuduh Tumang yang tak bersalah atas kelakuan bejatmu padaku. Orang macam apa yang berpikir anjing bisa membuntingi manusia?”

“Anjing itu jelmaan iblis! Semua orang tahu bahwa kau sering kerasukan iblis, Sumbi.” Setelah itu matanya sedikit membelalak seolah menemukan sesuatu. Ia lalu menatap Abah dengan sesungging senyum picik, “Oh, aku tahu.

Kini semuanya kian jelas. Kau menjual putrimu pada iblis untuk mempertahankan kekayaanmu. Ya, begitulah kenyataannya. Kekayaanmu adalah…”

Abah tak mengizinkan Pak Komar menyelesaikan kalimatnya. Ia kembali menghajarnya tanpa ampun. Abah kemudian menarik golok di pinggangnya lalu menarik lidah Pak Komar, amarahnya begitu menyala. Ia hampir berhasil memotong lidah Pak Komar jika Emak tidak menghentikannya.

Pak Komar jatuh pingsan setelah tahu lidahnya akan dipangkas habis oleh Abah. Ia sempat mengejat dan berteriak. Namun kekuatannya sangat kecil. Yang besar dari Pak Komar adalah bualan dan rasa takutnya.

Melihatnya pingsan, Abah berteriak. Ia berkali-kali menendang Pak Komar. “Bangun kau Komar. Bicara lagi kau. Puaskan bualanmu sebelum kuhabisi kamu.” Di sela amarahnya, aku melihat sebulir air mata di sudut mata Abah. Hampir saja ia menetes, namun Abah menahannya.

Melihat pemandangan itu, ada sakit yang menyeruak di dalam hatiku. Seperti Emak, aku pun memukuli dada. Aku tak sanggup menahan air mataku. Abah kemudian menamparku lalu pergi. Tiga hari lamanya ia pergi berburu di hutan. Aku dan Emak, kami mengurung diri di kamar. Tak ada apa pun yang mampu menghiburku saat itu.

Sepulangnya Abah, belum saja ia sempat mengurusi hasil buruannya, ia dihampiri oleh Kang Jajang, pegawai Abah di kebun tembakau. Kang Jajang mengabarkan bahwa gosip mengenai aku dibuntingi oleh Tumang menyebar luas, bahkan hingga ke kampung sebelah.

Mendengar hal tersebut, Abah mengasah samurai yang ia miliki lalu bergegas dengan yakin ke rumah Pak Komar. Tak hanya lidahnya yang akan kupotong, tapi lehernya pun akan kupenggal, pikir Abah saat itu. Namun sesampainya di rumah Pak Komar, hanya kekosongan yang menyambut. Menurut tetangganya, Pak Komar sudah pindah sejak pagi hari kemarin, dan tidak ada yang tahu ke mana ia pindah.

Untuk melampiaskan amarahnya yang kadung memuncak, Abah lalu menebas apa pun yang ia dapati di bekas rumah Pak Komar. Kursi dan lemari terbelah, piring-priring yang ditinggalkan pecah, busa kasur berhamburan, hingga dinding pun koyak. Jika rumah itu dianugerahi nyawa, mungkin kini ia sedang bertarung dengan ajal.

Setelah amarahnya mereda, Abah pulang. Namun di tengah jalan Abah dihadang oleh warga yang menuntut penjelasan, “Kami tak ingin di desa kami ada yang bekerja sama dengan iblis. Bisa bawa sial.”

“Pantas saja kami tak kunjung kaya. Pasti kekayaan yang Tuhan turunkan untuk kami dihadang oleh iblis peliharaanmu dan dipindahkan ke sakumu, kan? Selama ini kau jijik pada kami yang kau sebut kaum melarat, kamulah yang menjijikan.”

Tanpa ragu mereka bicara sedang Abah menggenggam samurai. Abah bisa saja memotong lidah mereka, namun apa yang Abah lakukan justru sangat menyakitkanku. Ia melanjutkan perjalanannya ke rumah dengan meminta warga yang menghadang untuk mengikutinya. Sesampainya di rumah, Abah mengunci kamarku agar aku tak bisa keluar. Kemudian ia menyeret Tumang yang sedang tertidur tenang. Tumang mengkaing, Abah tak gentar.

Abah membawa Tumang ke halaman rumah, ke hadapan warga yang sedang berkumpul. Abah menggenggam Tumang di lehernya. Anjing sebesar Tumang tampak seringan busa di genggaman Abah. Aku mengintip di jendela dan hendak menghampiri, namun pintu kamar terkunci.

Setelah yakin semua warga memerhatikannya, Abah mengangkat Tumang tinggi-tinggi dengan tangan kanannya lalu memotong leher Tumang dengan tangan kirinya. Semua warga yang menyaksikan tak bernafas untuk beberapa waktu. Suasana menjadi sunyi seketika. Aku sontak histeris. Aku memecahkan kaca jendela namun bingkai besi menghalangi.

Aku berteriak dan menangis bukan main. Tatapan mata Tumang tampak sangat menderita saat dijemput ajal. Di kedalamannya, ia seolah meminta pertolongan padaku. Namun tak ada yang bisa kulakukan. Abah terus memotongnya hingga badan Tumang terjatuh karena terlepas dari kepalanya.

Dengan tubuh berlumur darah, Abah mengangkat kepala Tumang lebih tinggi lagi, meyakinkan seluruh warga agar jelas melihatnya. Sepanjang peristiwa itu, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Abah. Ia menjelaskan pada warga melalui adegan yang mengerikan. Kemudian Abah menjatuhkan kepala Tumang begitu saja, masuk dan mengunci pintu, meninggalkan warga yang berkumpul dalam ketegangan.

Tak lama kemudian warga kembali riuh. Namun tampaknya, apa yang Abah lakukan berhasil meyakinkan mereka bahwa Abah sama sekali tidak bekerja sama dengan iblis dan Tumang hanyalah anjing biasa.

Sayangnya keyakinan itu hanya sementara, beberapa orang kembali membuat kabar burung, salah satunya adalah bahwa sebelum Abah membunuh Tumang, ia telah memindahkan iblis di dalamnya ke hewan atau benda lain, sehingga ketika dibunuh, ia menjadi anjing biasa. Mereka juga masih meyakini bahwa aku mengandung anak titisan iblis.

Abah yakin penyebar konspirasi itu adalah antek-antek Pak Komar. Namun dalam hematku, penyebar gosip itu bisa siapa saja, mengingat sebagai orang kaya yang angkuh, pasti banyak yang membenci Abah lalu mereka memanfaatkan celah ini untuk menjatuhkannya.

Semakin menyebar luas, semakin aneh pula ceritanya. Namun tak ada lagi yang bisa kulakukan. Emak juga memilih diam, begitu pula Abah. Sedangkan jabang bayi ini, mengingat ia begitu bersikeras, mau tak mau aku melahirkannya. [T]

BACA cerpen lain di tatkala.co

Isaac Mengerti, Mereka Perempuan Tanpa Rahim dan Air Susu | Cerpen Krisnaldo Triguswinri
Semalam Bersama Alien | Cerpen Putu Arya Nugraha
Mors Vincit Omnia | Cerpen Kiki Sulistyo
Tags: Cerpencerpen tentang cinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rusdy Ulu | Sihir Pagi

Next Post

Lada dari Papa

Amina Gaylene

Amina Gaylene

Penulis lepas asal Cianjur Jawa Barat yang menulis cerpen, puisi, artikel, serta naskah teater. Selain menulis, Amina Gaylene aktif dalam berteater. Instagram: @amina_gy

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Lada dari Papa

Lada dari Papa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co